Naruto
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Remake from novel Venus by Phoebe
.
.
.
Yamanaka Ino . Wanita yang mendekati kata sempurna. Cantik, berpendidikan, cerdas, dan yang paling penting ia memiliki tubuh seperti gitar spanyol yang banyak diirikan para wanita di luar sana. Hanya satu yang membuat para laki-laki menghindarinya, kata-katanya yang sangat kejam yang tidak pandang bulu.
Hatake Kakashi. Pria berwajah Asia yang ketampanannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Sayangnya ia selalu menggunakan ketampanannya untuk hal yang salah. Setidaknya itulah yang di doktrin otak Ino. Sehingga sebisa mungkin Ino harus menjauhi lelaki bejat itu.
.
.
.
Jepang, As Beginning
Kakashi menguap beberapa kali sambil menggosok-gosok hidungnya yang tersumbat. Ini hari pertamanya bangun pagi semenjak dirinya berkuliah di Tokyo University, terlalu pagi untuk mengingatkannya mengamankan Konan dari peloncoan teman-temanya sebagai mahasiswa baru. Ini adalah tahun terakhirnya dan tahun pertama Konan di kampus. Sebagai seorang sahabat, mustahil bagi Kakashi menolak permintaan sahabatnya sekaligus senpainya Uzumaki Nagato untuk menjaga pacarnya yang temperamental dan selalu nyasar itu. Meskipun selama lebih dari tiga tahun Konan sudah mendapatkan perawatan Intensif tentang Alzheimernya, Kakashi meragukan kalau Konan sudah berubah. Demi Tuhan dia tidak takut kalau terjadi apa-apa pada gadis itu, Kakashi lebih takut bila Konan yang melukai orang lain seperti yang seringkali di lakukannya di sekolah.
Kakashi melirik Swiss Army-nya, sudah yang kedelapan kali dan Nagato baru saja datang lengkap dengan topi dan kacamata hitamnya untuk mengantar Konan ke kampus. Sebagai selebriti terkenal, Nagato atau yang sering disapa Pein mungkin sedang berusaha menyamar. Tapi bagi Kakashi, Pein malah lebih terlihat sangat mencolok, kacamata berbingkai tebal dan jaket lusuh rasanya cukup bisa untuk membuatnya terlihat berbeda seperti yang di lakukanya dulu untuk bisa masuk ke sekolah asrama dan mengejar-ngejar Konan pujaan hatinya itu.
"Bagus sekali! Aku tidur sangat sedikit semalam dan harus bangun pagi karena menunggu kalian." Kakashi menggerutu, Pein dan Konan datang dengan sangat terlambat daripada waktu yang mereka janjikan. Ia menguap sekali lagi, dan membayangkan kembali apa yang sudah di lakukannya tadi malam. Bercinta dengan pacar baru setidaknya bisa membuatnya lebih semangat belajar. Hiburan yang baru di lakukanya beberapa tahun belakangan saat ia menyadari betapa banyak gadis-gadis di kampus yang menyukainya. Di asrama, Kakashi tidak pernah melihat perempuan lain selain Konan dan Kakak perempuanya, Hatake Kirei yang merupakan guru di asrama itu.
"Maaf, Aku harus menghindari beberapa orang wartawan untuk membuat Konan aman!" Pein berusaha membela diri, sebelah tanganya masih menggandeng erat Konan sejak mereka keluar dari dalam mobil dan sekarang berakhir di salah satu tangga kampus dimana Kakashi duduk dengan tenangnya.
"Memangnya kenapa kalau Konan dilihat wartawan? Kau takut kalau semua wartawan cidera karenanya?"
"Jangan sampai aku memukulmu Hatake! "Konan mengerang.
Pein tertawa ringan, dia sangat hapal kalau Kakshi dan Konan adalah rival yang seringkali berdebat dan bahkan beberapa kali dengan brutal Konan melukai Kakashi. Tapi hanya Kakashi yang paling paham dengan Konan bila di bandingkan dengan dirinya.
"Aku hanya ingin merahasiakanya beberapa waktu lagi sampai Aku siap untuk mengumumkan siapa wanita yang paling ku cintai di depan publik!"
Sekarang Giliran Kakashi yang tertawa. Ia sama sekali tidak bermaksud mengejek, tapi perutnya selalu terasa seperti di gelitik setiap kali ada seseorang yang mengatakan kata cinta. Baginya cinta itu masih sangat misterius dan belum di temukan olehnya sekarang, atau mungkin oleh siapapun di dunia. Semua wanita yang di kencaninya selalu mengatakan bahwa mereka mencintai Kakashi, tapi Kakashi tau kalau semuanya hanya kagum terhadapnya, menyukainya karena ia cerdas, tampan dan sangat di kenal. Ya, mereka semua hanya mengagumi atau menyukai seseorang, lalu mencari-cari nama yang tepat untuk menyebut perasaan yang mereka rasakan itu hingga pada akhirnya cinta terpilih menjadi kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.
.
.
.
PLAKKK
Bunyi tamparan itu sangat nyaring membuat telinga Kakashi berdenging, senyumnya memudar berganti dengan keheranan dengan apa yang sudah terjadi padanya barusan. Baginya, di tampar oleh perempuan bukanlah hal yang asing, tapi di tampar oleh orang yang tidak di kenalnya membuatnya benar-benar shock. Ia memandangi seorang gadis yang berdiri di hadapannya, rambut pirang lurusnya yang di ikat ponytail dengan pony menyamping yang sedikit menyembunyikan sebagian mata aquamarinenya yang cantik. Wajahnya sangat berbeda dengan wanita-wanita asia pada umumnya. Dia lebih tinggi di bandingkan dengan wanita Jepang manapun yang pernah Kakashi temui. Tapi melihat wajahnya, Kakashi ragu kalau gadis itu bahkan sudah berusia delapan belas tahun. Untuk apa dia datang ke Kampus ini dan menampar Kakashi? Ini pertemuan pertamanya, dan Kakashi belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.
"Hei Nona! Kau salah orang?" Kakashi bertanya dengan nada biasa, ia masih bisa bersabar.
" Hatake Kakashi! Itu kau kan?"
Mata Kakashi membesar. Gadis ini tau siapa namanya?
"Mahasiswa Ilmu Politik semester sembilan. Dua puluh tujuh pacar dalam setengah tahun? Mengencani hampir dua puluh lima perempuan di Tokyo University termasuk mahasiswa dan dosen. Kau fikir kau ini siapa?"
"Apa maksudmu, dan kenapa kau menamparku?"
"Hei Tuan! Kau baru saja memutuskan hubungan dengan Tayuya kemarin sore, dan semalam kau sudah tidur dengan perempuan lain. Dimana tanggung jawabmu? Tayuya sedang mengandung anakmu dan sekarang dia sekarat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri!"
Tayuya, itu masalahnya? Kakashi tergelak sinis. Memangnya kenapa ia harus berbuat seperti itu, Kakashi tidak melakukanya secara paksa, wanita itu yang memintanya dan dia tidak mungkin menolak. Hanya laki-laki bodoh yang akan menolak, dan perlu di ingat bahwa Kakashi tidak akan melakukan seks tanpa izin dan kesukarelaan dari pihak lawan dalam hal ini adalah pasanganya. Lagi pula Kakashi bukan orang pertama yang melakukan itu kepada Tayuya kan?
"Lalu kau mau aku melakukan apa? Aku harus menemuinya dan mengatakan kalau aku akan bertanggung jawab?"
"Yang perlu kau lakukan adalah pergi ke laut dan tenggelamkan dirimu sendiri. Laki-laki sepertimu lebih pantas mati!" Gadis itu mendengus keras. Dengan langkah penuh amarah dia menjauh dan meninggalkan Kakashi yang masih terperangah.
Anak itu! Kakashi menggeram. Ia mengumpulkan tenaga untuk berteriak. "Hei Nona! Kau ingin aku mati? Kau yang nantinya akan mati jika tidak bisa bersamaku!"
.
.
.
London, delapan tahun kemudian
Harusnya makan malam kali ini berlangsung sangat romantis. Kakahi sudah mengatur semuanya dengan maksimal dan malam ini seharusnya ia melamar seorang gadis Jepang yang merupakan rekan kerjanya di kedutaan besar Jepang di London. Meskipun bukan seorang wanita yang Kakashi cintai, tapi Rin adalah wanita yang sempurna dan membuatnya sangat bergairah. Rin juga wanita yang sangat ideal untuk menjadi istri Kakashi karena wanita itu bukan tipe yang pencemburu. Ia mengetahui kebiasaan buruk Kakashi dan selalu memahaminya, berasal dari keluarga baik-baik dan pasti akan di sukai keluarganya. Tapi sekarang semuanya tinggal rencana karena saat ini Kakashi hanya bisa merasakan nyeri di pipi kananya karena Yamanaka Ino menamparnya tepat di depan Rin. Ini sudah yang kedua kali dalam kurun waktu setahun terakhir dan kali ini sangat mengesankan, mereka bahkan di potret beberapa orang wartawan.
"Diplomat brengsek!" Cacinya. "Kapan kau akan berhenti melakukan hal ini kepada perempuan? Kau sudah menyengsarakan banyak wanita!"
Kakashi mengerang. Lagi? Baru sekitar dua bulan yang lalu ia terbebas dari skandal dengan seorang perempuan yang merupakan putri seorang pengusaha besar dan juga artis kenamaan di London. Pada saat itu ia merasa akan segera berangkat ke surga setelah terbebas dari Yamanaka Ino. Wanita ini, Tidak bisa di pungkiri sangat menarik. Meskipun gayanya sedikit maskulin dan keras, Yamanaka Ino memiliki tubuh yang sangat menarik bagi laki-laki manapun yang memperhatikannya, apalagi yang hidung belang seperti Kakashi. Kakashi seringkali berfikir yang tidak-tidak setiap kali bertemu dengan pengacara muda itu, Tapi kekejaman kata-katanya membuat Kakashi melupakan semua minatnya.
"Kali ini siapa? Aku akan menyelesaikanya!" Bentak Kakashi. "Kau tidak perlu melakukan hal seganas ini, Bukankah kau seorang pengacara?"
Ino menggigit bibirnya geram. Sebagai seorang pengacara, akan lebih baik bila menyerang seseorang dengan kata-kata saja di pengadilan nanti. Tapi untuk Hatake Kakashi, semuanya adalah pengecualian. Walau bagaimanapun Ino yakin kalau dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyerang. Jika tidak sekarang, pada akhirnya Ino hanya akan gigit jari karena kasus yang berkaitan dengan Diplomat muda itu tidak akan pernah sampai kepengadilan begitu saja. Semuanya akan selesai dengan damai dan wanita-wanita bodoh itu selalu bersedia memaafkanya entah dengan cara apa. Yamanaka Ino selalu medapatkan apa yang dirinya mau.
"Kau akan terima suratnya di apartemenmu!" Kata Ino akhirnya dan pergi meninggalkan Hatake Kakashi dengan membawa kekesalannya.
Kakashi masih mengelus pipinya beberapa kali sambil memandangi kepergian Yamanaka Ino dengan perasaan kesal. Tenaganya sangat luar biasa untuk seorang perempuan. Kalau saja Yamanaka Ino dan dirinya tidak bertemu dengan cara seperti ini, Kakashi yakin dirinya akan sangat menyukai gadis itu. Sebagai pengacara fresh graduate yang di kenal kejam, seharusnya juga semakin menabah sisi menarik dari Ino jika saja Ino tidak bermasalah dengannya.
"Kau tidak apa-apa?" Rin menyapanya.
Kakashi mengusahakan senyumnya yang tebaik. Meskipun Rin adalah orang yang paling mengerti dengan keberadaanya dan segala tingkah lakunya, ia tidak ingin Rin merasa kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Persahabatanya dengan wanita ini di mulai sejak ia di tugaskan di London lima tahun silam. Sebagai lulusan terbaik dengan cumlaude di Tokyo University memberikan jalan bagi Kakashi untuk melanjutkan magister dimana saja yang pada akhirnya mengantarkanya pada jalan ini, menjadi diplomat muda yang tampan dan di cintai banyak wanita. Ini bukan salahnya kan? Tapi mungkin hanya Rin -dan Yamanaka Ino tentunya- yang terlihat tidak begitu tertarik pada keunggulanya. Tidak, Rin yang seperti itu, kadang-kadang adakalanya Rin tidak begitu tertarik meskipun ia dan Kakashi sering bersenang-senang sedangkan Yamanaka Ino sepertinya lebih dari sekedar tidak tertarik, wanita itu sangat memusuhinya.
"Fine, Tenanglah, ini hal yang biasa!" Jawab Kakashi sambil memandang beberapa orang Security restoran mengusir wartawan yang terus berusaha memotretnya dari jendela kaca. Kakashi mendesah, besok pagi namanya akan menjadi topik pembicaraan hangat di surat kabar pagi dan mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari apartement untuk beberapa hari. Ia harus menghubungi Sai. Pengacaranya itu harus segera menyelesaikan semua kekacauan ini dengan anggun seperti biasanya.
"Oh, Ya! Apa yang ingin kau bicarakan tadi?" Rin bertanya lagi.
"Oh, tidak. Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu saja." Kakashi berdehem berusaha menyembunyikan kekikukanya. Ini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan lamaranya karena Rin pasti tidak menginginkan lamaran yang seburuk ini.
"Selamat ulang tahun!"
Rin Tersenyum. "Kau memang laki-laki yang romantis. Sayang semuanya terjadi seperti ini tapi kau cukup membuatku gembira. Aku juga punya kabar baik untuk dirimu!"
"Benarkah? Apa?"
"Aku akan segera menikah."
Senyum Kakashi tiba-tiba memudar. Rin akan menikah dan meninggalkannya? Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia bersyukur Yamanaka Ino datang tadi, setidaknya Ino menghindarkannya dari sesuatu yang lebih memalukan daripada berdebat dengan pengacara kejam itu. Rin akan menikah dan Kakashi baru mengetahuinya? Diam-diam ia melirik ke jari manis Rin dan disana memang sudah melingkar sebuah cincin perak yang indah. Rin akan menikah dengan siapa? Dia tidak perlu tahu dan tidak ingin tahu.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" Tanya Rin
"Kau akan meninggalkanku? Kita tidak bisa bersama lagi? Bersenang-senang bersama, menghabiskan malam bersama!"
"Kenapa semuanya harus berakhir? Aku menikah untuk menyenangkan kedua orang tuaku tapi aku tidak akan bisa meninggalkan kesenanganku sendiri. Kita masih bisa memiliki Affair yang menyenangkan, kan?"
Kakashi lagi-lagi berusaha tersenyum. Itu artinya Rin masih tertarik kepadanya meskipun hanya untuk bersenang-senang. Baiklah, Rin yang meminta dan Kakashi akan melakukanya. Dia akan membuat Rin senang hingga Kakashi merasa bosan dan menemukan perempuan baru. Lagipula apa yang sedang di khawatirkanya? Semua wanita menginginkanya kan? Tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pesona Hatake Kakashi dengan ketampanan dan hartanya yang melimpah. Dengan kebahagiaan seperti ini Kakashi merasa ingin terus hidup selamanya dan tidak pernah menikah. Ia tidak pernah menyukai satu wanita dalam satu waktu, jadi tidak menikah adalah pilihan yang baik. Tuhanpun sepertinya tidak mengizinkan Kakashi untuk menikah karena satu-satunya perempuan yang di anggap pantas menjadi istrinya sudah di ikat oleh orang lain. Bukan masalah, hal seperti ini tidak akan jadi masalah selagi dunia masih terus memproduksi makhluk bernama perempuan.
.
.
.
.
Hello...
I'm back with remake ff
Storynya tuh menurutku bangus jadi pengen remake ke versi Naruto yang tentu saja dengan favorite chara Yamanaka Ino. Semakin sedikit aja yang bikin ff chast Ino.. sedihh deh
Novel karya Phoebe authornim
