Naruto

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Remake from novel Venus by Phoebe

.

.

.

Perjodohan Terakhir, Saatnya Memilih

Pagi yang membuat Kakashi merasa lesu. Ia tidak akan ke kantor hari ini dan Sai pasti sudah mengurusnya. Kepalanya agak pusing karena banyak hal yang mengganggunya. Dimulai dari Yamanaka Ino dan Kliennya, Rin yang sudah menolaknya bahkan sebelum Kakashi menyatakan lamarannya, sampai berita yang mungkin sudah merebak luas di kalangan masyarakat. Pilihannya untuk tidak segera pulang sepertinya adalah pilihan yang sangat tepat. Kakashi beruntung Sai adalah pengacara yang baik juga sahabat dan sepupu yang baik selama dirinya berada di London karena Sai tidak pernah membiarkan Kakashi kewalahan dalam hal apapun. Sai membuka pintu kamarnya dan menatap Kakashi yang masih duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya. Sesekali ia menggeleng dan tersenyum melihat Kakashi yang sudah sangat sering seperti ini. Mengesankan jika ia masih terkejut saat sepupunya itu pulang semalam.

"Kau sudah baikan?" Tanya Sai lalu kembali duduk ke meja makan.

Dengan malas Kakashi keluar kamar yang di tumpangnya dan duduk di dekat Sai lalu meminum air putih yang ada di hadapannya dengan brutal. Itu gelas Sai, tapi Sai tidak protes, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kemakluman.

"Kau mabuk semalam! Sudah ingat?"

Kakashi menyeringai. "Tentu saja! Aku di tolak semalam sebelum aku menyampaikan lamaran. Sudah sewajarnya aku mabuk."

"Kapan kau akan berhenti membuat skandal? Kau bahkan lebih terkenal di bandingkan artis internasional. Pejabat seharusnya menjadi panutan!"

"Sudahlah, aku sedang tidak butuh ceramah. Semuanya sudah kau urus? Bagaimana?"

"Kali ini kelihatannya sulit. Pihak kantor bisa saja mengeluarkanmu jika skandal ini tidak selesai dengan mudah!"

"Tapi kau bisa menyelesaikannya kan? Wanita itu minta apa?"

"Tentu saja yang itu sama sekali tidak sulit, semuanya sudah selesai. Tapi kabar seperti ini bisa menjadi pembicaraan selama berbulan-bulan. Beberapa waktu lalu kau di maafkan karena itu yang pertama tercium oleh media dan mungkin kau tidak salah sepenuhnya. Tapi kali ini berbeda, keledai bodoh saja tidak akan masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sekarang cobalah untuk menyelesaikannya, atau dalam beberapa bulan kedepan kau akan di kembalikan ke Jepang dan usahamu untuk menjabat posisi yang lebih tinggi di Tokyo akan sia-sia."

"Oh, tentu saja! Ini karena Yamanaka Ino. Gadis gila itu baru dua kali menangani kasus-kasusku tapi selalu melibatkan media! Sebelum dia menjadi pengacara semua masalahku bisa selesai tanpa skandal kan?" Kakashi berdecak.

"Lalu apa yang harus ku lakukan?"

"Menikahlah!"

"Apa? Bukankah sudah ku katakan kalau aku sudah di tolak! Aku harus menikah dengan siapa?"

"Menikah dengan siapa saja, dan skandal akan lenyap. Kau ingat Russel Graig kan? Skandal bahwa dirinya memperkosa artis itu hilang begitu saja saat masyarakat luas tahu kalau ia sudah menikah, semua orang bahkan melupakan kasusnya begitu saja dan dirinya bisa hidup dengan tenang sampai sekarang! Lagi pula sampai kapan kau akan menolak perjodohan yang di adakan Ayahku?"

Kakashi termenung. Walau bagaimanapun dia tetap tidak akan menikah dengan orang yang sembarangan. Tapi siapa calon yang tepat? Dia tidak mungkin ikut perjodohan begitu saja, Skandal kali ini benar- benar membuatnya jadi serba sulit.

"Kau punya ide? Wanita mana yang harus kunikahi?"

Sai tersenyum dengan sangat misterius. "Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Demi kebaikanmu, berusahalah untuk kali ini. Berjanjilah, apapun yang terjadi kau tidak akan menyerah begitu saja!"

"Maksudmu?"

"Aku menyerahkan calon istriku kepadamu."

Kali ini Kakashi tidak berkomentar. Keningnya berkerut tajam. Sejak kapan Sai punya calon istri? Dan lagi-lagi ia tidak mengetahui apa-apa, kelihatanya Kakashi sangat banyak ketinggalan beberapa waktu belakangan ini. Sai memiliki kekasih, Kakashi mengetahuinya dengan baik tapi bukankah Sai dan wanita itu baru bertemu beberapa minggu sejak jatuh cinta pada pandangan pertama mereka terjadi. Matsuri, wanita Asia dan masih sangat muda, meskipun Matsuri cukup cantik dan menarik Kakashi tidak mungkin menikahi mahasiswi tahun kedua.

"Aku di jodohkan!" Ujar Sai berusaha menjawab keheranan Kakashi. "Dengan putri salah seorang kerabat Ayah. Tapi dengan berbagai cara aku sudah berhasil membujuk Ayah untuk menggantikan diriku denganmu."

"Katakan padaku, seperti apa dia? Apakah dia cantik? Tubuhnya bagaimana?"

"Sudahlah, Kau pasti akan menyukainya, percayalah!" Jawab Sai.

Kakashi menelan ludahnya. Seperti apa wanita itu? Sai bilang Kakashi pasti akan menyukainya dan seharusnya ia percaya kalau Sai sangat hapal dengan seleranya. Sai tidak mungkin membohonginya.

.

.

.

Different Person, Different Feeling

Yamanaka Ino memandangi surat kabar dengan senyum pahit. Bagaimana mungkin sebanyak itu wartawan yang meliput berita tentang Diplomat playboy itu, tidak ada satupun yang memuat beritanya kecuali siaran langsung saat ia menampar Laki-laki itu di restoran. Ia ingin sekali melihat berita itu, tapi sayangnya Sakura yang merupakan teman se-flat nya tidak sempat merekam tayangannya karena Sibuk terperangah heran saat menonton televisi. Lagi- lagi Hatake Kakashi melakukan hal yang sama, ia menarik semua berita tentang skandalnya. Tapi percuma karena meskipun hanya segelintir orang, yang menyaksikan siaran langsung itu, semuanya akan segera menyebar lewat angin seperti sebelumnya. Hatake Kakashi beruntung memiliki Sai yang juga memiliki nama belakang Hatake sebagai pengacaranya, laki-laki itu bertindak sangat cepat dan sangat menguntungkan Kliennya. Sebenarnya Ino, merasa sangat terkesan dengan laki-laki itu dan dirinya merasa sangat tertarik. Perpaduan Jepang dan Eropa membuat wajah Sai berseri-seri dan sangat sulit untuk di lupakan terlebih saat dirinya tahu kalau Sai dan dirinya sudah di jodohkan. Pemikiran kolot yang menguntungkan, Ino seperti

mendapatkan durian runtuh karena dirinya akan di nikahi oleh senior yang sangat di kaguminya sewaktu kuliah.

"Kau sudah berjanji pada Ibu untuk menikah dengan laki-laki itu kan?" Konohamaru menyapanya.

Adik laki-lakinya itu adalah satu-satunya saudara yang menemani Ibunya di rumah sedangkan Ino hanya datang sesekali karena Districk Lake terlalu jauh dari jangkauan kerjanya. Pedesaan yang indah ini sudah menjadi tempat dimana Ino tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya keluarga Yamanaka karena semua saudaranya adalah laki-laki. Dua orang kakak dan satu adik, Konohamaru. Dan sekarang, atau lebih tepatnya beberapa saat lagi akan menjadi tempatnya bertemu dengan calon suaminya yang sudah begitu lama di kaguminya.

"Berjanjilah, kali ini Kakak akan menikah! Ibu sudah sakit-sakitan dan sangat ingin melihatmu memakai gaun pengantin. Kakak selalu memanipulasi semua perjodohan yang diadakan sehingga semua laki-laki itu menolakmu. Meskipun Ibu tidak tahu tapi aku tahu kalau Kakak selalu pura- pura menerima dan mengusahakan agar semua laki-laki yang di jodohkan denganmu menolak, sesuai dengan keinginanmu. Ibu akan sangat kecewa kalau dia tahu."

"Kau tenang saja. Kali ini aku tidak akan mengecewakannya!"

Bunyi mesin mobil menderu dan berhenti di depan rumahnya yang bergaya khas pedesaan. Jantung Ino tiba-tiba berdetak kencang. Dia mungkin memang akan menikah di usia muda dan semoga akan bahagia. Demi Ibunya, Ino akan berhenti bersikap egois dan menjadi anak penurut kali ini. Ini adalah Perjodohan pertama yang di jalaninya semenjak Ayahnya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Ino sangat tahu kalau Ibunya menaruh harapan yang sangat besar terhadap perjodohan kali ini, dan Ino akan menerimanya. Dia bukanlah gadis yang pandai bergaul untuk menemukan kekasih seperti teman- temannya yang lain. Selama di flat ia bahkan terlalu sering menghabiskan malam sendirian karena Sakura selalu pergi bersama pacarnya. Sejak di lahirkan Ino memang bukan seorang yang pandai untuk bersenang-senang. Ia lebih di kenal karena kekakuannya dan ketajaman bahasanya.

"Kakak tidak ingin mengintip dulu?" goda Konohamaru.

Ino menggeleng. Ia berlari cepat menuju kamar untuk memberikan penampilan terbaik dan itu pasti akan memakan banyak waktu. Lebih baik ia sedikit menahan diri untuk melihat calon suaminya. Ia sudah tau seperti apa wajahnya, yang ingin di ketahuinya apakah Sai akan menerimanya dengan baik atau tidak.

.

.

.

Must Be The Sexiest Woman Ever

Sebuah rumah sederhana di pedesaan Districk Lake, bagi Kakashi pemandangan kali ini cukup menarik. Meskipun wanita di pedesaan Eropa tidak semanis wanita-wanita desa di Asia, tapi rata-rata mereka semua masih memiliki keindahan fisik yang luar biasa. Memikirkan kalau dirinya akan menikah dengan seorang gadis desa, Kakashi menjadi sangat berbinar-binar dan juga sangat antusias. Tapi sejak kapan dirinya memiliki perasaan yang seperti ini? Bukankah dia tidak ingin menikah jika bukan karena di desak oleh keluarganya. Kakashi tidak akan merencanakan lamarannya untuk Rin tempo hari jika menuruti kata hatinya. Sekarang desakannya juga bertambah dan sepertinya pilihan untuk segera menikah tidak bisa di elakkan lagi. Tapi walau bagaimanapun mustahil bagi Kakashi untuk berhenti, dia tidak akan berhenti menjalankan hobinya. Seorang istri dari desa seharusnya tidak akan bisa banyak membantah tentang hal ini.

"Paman, bagaimana orangnya?" Kakasi berbisik kepada pamannya sambil membawa tas yang berisi pakaian mereka. "Dia cantik tidak?"

"Tentu saja!"

"Tapi tidak terlalu gemuk kan? Tidak terlalu kurus juga kan?"

Pamannya berdehem. "Berhentilah, apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Ayo masuk!"

Kakashi mengulum senyum penasarannya. Seorang wanita tua berwajah Eropa dengan sedikit aksen Asia bersama anak laki-lakinya yang kelihatannya tidak asing menyambut mereka dengan bahagia. Nyonya Meredith adalah seorang wanita keturunan Jepang dan putranya, Konohamaru meskipun berwajah sangat Eropa memiliki rambut dan bola mata yang berwarna gelap seperti Ibunya. Anak itu terlihat seperti seorang laki-laki Meksiko yang berkulit putih bersih, melihat wajahnya mengingatkan Kakashi pada seseorang. Tapi entahlah, dia sama sekali tidak ingin mengingat- ingat, yang jelas siapa yang akan menjadi tunangannya lebih menarik perhatian di bandingkan apapun sekarang.

Jarak yang jauh membuat Kakashi dan pamannya harus menginap disini paling tidak untuk semalam. Nyonya Meredith sudah menyiapkan sebuah kamar sederhana yang hangat untuk menentang angin musim gugur yang berhembus di luar. Setelah mengemasi barang-barangnya, Kakashi dan

pamannya turun memenuhi undangan makan siang. Hanya ada tiga orang anggota keluarga, tapi rumah ini memiliki banyak kamar. Ketiganya sekarang sedang berkumpul di ruang makan dan seorang gadis yang sedang membantu Ibunya dengan ceria itu membuat Kakashi terperangah. Yamanaka Ino? Kakashi mematung tak menyangka, Yamanaka Ino untuk pertama kalinya terlihat lebih menarik. Ia menggunakan sebuah jeans ketat dan kamisol tanpa lengan dengan bahan yang kelihatannya tebal berwarna violet. Dua pakaian yang membalut tubuhnya secara serasi, berbeda dengan sikap maskulin yang di tampilkannya selama ini.

"Kalian sudah datang? Silahkan duduk!"

Kakashi tersenyum kepada nyonya Meredith, ia dan pamannya kemudian duduk di meja makan dengan sangat bersahaja dan Ino duduk di hadapannya. Tidak sekalipun Kakashi memalingkan pandangannya dari Yamanaka Ino dan dirinya dapat melihat kalau Ino mengalami keterkejutan yang sama. Wajahnya yang ceria tadi tiba-tiba saja berubah menjadi wajah kaku seperti yang sering Kakashi lihat. Seandainya bukan dirinya yang duduk disini, seandainya Sai yang datang, Kakashi yakin kalau gadis itu akan terus berusaha untuk terlihat manis sepanjang hari. Sepanjang waktu-waktu di meja makan Kakashi tidak bisa menghindar untuk memperhatikan tubuh Ino. Kamisol itu benar-benar membuatnya tampak menggairahkan. 34DD, Kakashi menebak ukuran branya, Menakjubkan. Penglihatannya sama sekali tidak salah saat melihat Ino untuk pertama kalinya meskipun pada saat itu Kakashi tidak bisa memperhatikan gadis itu berlama-lama. Kakashi tiba-tiba menyentuh pipinya, Semua tamparan Ino masih bisa di rasakan dengan sangat jelas.

"Hiruka dan Kenta dimana? Mereka tidak ikut makan?" Paman Hatake bertanya kepada siapa-saja yang bersedia menjawabnya. Perhatian Kakashi sempat beralih sementara.

"Mereka tidak bisa datang, Hiruka dan Kenta tidak bisa meninggalkan kedainya karena sekarang sedang sangat ramai." Jawab nyonya Meredith.

Paman Hatake menyenggol Kakashi yang masih memandangi Ino tanpa henti sambil terus melahap makanannya.

"Lihat, Anak ini! Nyonya, sepertinya dia terus memperhatikan putrimu! Dia pasti sedang sangat tertarik."

"Benarkah?" Nyonya Meredith terlihat sangat antusias. "Kalau begitu syukurlah. Ino selalu di tolak setiap kali melakukan perjodohan. Entah apa yang terjadi dengan semua laki-laki itu!"

Kakashi mendehem setelah menelan makanan yang dikunyahnya. "Di tolak? Kurasa aku tahu sebabnya, dia terlihat sangat kaku!"

"Oh, tidak. Mungkin karena dia sedang tegang sekarang! Dia berjanji akan menikah melalui perjodohan kali ini bila kau tidak menolaknya. Tidak, dia mengatakan janji yang sama setiap kali perjodohan di adakan. Sayangnya seperti yang ku katakan kalau pada akhirnya semua laki-laki menjauhinya. Kau menyukai putriku?"

"Ibu!" Ino mendesah.

Melihat itu, Kakashi menyunggingkan sebuah senyum tipis di sudut bibirnya. Hanya sesaat karena berikutnya Kakashi berakting kebingungan. "Apakah aku harus memberi jawaban sekarang?"

"Tidak, tentu saja tidak! Kau bisa menjawabnya nanti setelah kau pulang ke London. Kalau kau memutuskan untuk menerima atau menolak, katakan saja pada pamanmu. Kalau kau menerimanya tentu aku akan sangat bersyukur sekali dan semuanya tetap akan aku serahkan kepada kalian berdua."

"Ibu, hentikan!" Ino mendesah lagi. Ia mungkin merasa malu dengan ucapan Ibunya. Setelah nyonya Meredith diam gadis itu dan adiknya Konohamaru saling pandang penuh makna. Mungkin Ino sudah menginjak kaki adiknya di bawah meja karena pemuda itu ikut menertawainya.

.

.

.

Godaan Pertama

"Aku hampir kena serangan jantung saat dia mengatakan kalau kau sangat kaku!" Nyonya Meredith mengomentari putrinya yang membantunya di bagian belakang rumah.

"Dia sangat tampan dan seorang diplomat, dia sangat cocok denganmu!"

"Bukankah seharusnya Hatake Sai yang datang? Kenapa harus dirinya?"

"Kau ini bodoh? Kau masih menginginkan pengacara itu untuk datang? Ayahnya bahkan menganggap kau sangat berharga untuk di pasangkan dengan putranya. Dia menggantinya dengan laki-laki yang lebih baik. Seharusnya kau berterima kasih!"

Ino mendengus pelan. Lebih baik? Inilah akibatnya bila Ibunya tidak suka nonton TV dan terlibat dengan dunia luar, semua orang di Inggris saat ini sedang berbisik-bisik tentang betapa bajingannya seorang Hatake Kakashi.

Dengan wajah tampan dan karir yang gemilang itu, dia sudah menjadi penggoda yang cukup sukses untuk menghabisi entah berapa orang perempuan di atas ranjangnya setiap malam. Sayang sekali hanya sedikit yang menuntut keadilan dari Kakashi. Ino sangat ingin membuka mulut tentang semua ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Ia tidak akan membuat Ibunya khawatir karena Hatake Kakashi pasti menolak, atau Ino akan membuat Hatake Kakashi menolak perjodohan ini.

"Dia cukup tampan, kan? Dan yang paling penting laki-laki itu menyukaimu!"

"Benarkah? Semua laki-laki yang datang juga bersikap seperti itu pada awalnya!"

"Itu karena kau sangat egois. Alasan mereka semua sama saat menolak, kau terlihat sangat kaku dan kata-katamu itu sangat kejam. Berusahalah menjadi wanita yang dia inginkan dan menikahlah!" Nyonya Meredith kemudian menyerahkan dua tumpukan selimut kepada Ino dengan hati-hati. "Kau antarkan ke kamar mereka sana!"

Ino lagi-lagi mendesah. Dengan malas dirinya mengantarkan kedua selimut itu ke lantai dua, mungkin ia akan membawa selimut itu ke kamarnya dulu untuk mengganti pakaian meskipun itu harus membuatnya bolak-balik. Jadi wanita yang di inginkan Hatake Kakashi? Apa dirinya harus membuka pakaiannya di depan laki-laki itu? Ibunya juga akan segera kena serangan Jantung kalau dia mengetahui seperti apa wanita yang diinginkan Kakashi. Ino menggenggam selimut erat. Begitu menaiki tangga, genggamannya mengendor saat melihat Kakashi keluar dari kamar tamu, ia sudah berganti pakaian dan mungkin akan menyusul pamannya ke halaman. Yang bisa Ino lakukan sekarang hanya pura-pura tidak tahu dan berjalan lurus menuju kamarnya, barulah ia akan kembali lagi untuk mengantarkan selimut. Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, kenapa ia gugup seperti sekarang, karena Kakashi sedang memandanginya dan menghalangi jalannya sebisa mungkin. Ino menghela nafas lalu memandang Kakashi dengan kesal.

"Tidak bisa minggir?" Ino berkata dengan nada sinis meskipun suaranya tidak selantang yang biasa di lakukannya terhadap Kakashi.

"Kebetulan sekali, Aku ingin menemuimu!"

"Untuk apa? Kau tidak boleh terlalu berharap! Aku tidak akan menikah denganmu apapun yang terjadi. Jadi lakukan apa yang ku katakan, Tolak perjodohan ini dan menyingkir dari hadapanku sekarang! Aku harus segera ke kamarku!"

Kakashi memandang ke belakang sekilas, pintu yang berada di ujung itu ternyata milik Ino? Tapi melihat selimut yang Ino bawa, Kakashi menduga

kalau seharusnya selimut itu di bawa ke kamar tamu. Ino hanya berusaha menghindar dan tidak ingin melihat wajahnya, Kakashi bisa merasakannya. "Selimut itu, harusnya kau bawa ke kamarku kan?"

"Tidak, ini untukku sendiri!" Ino segera menutup mulutnya. Kenapa ia mengatakan hal seperti itu? Seharusnya ia memberikan selimut itu kepada Kakashi agar tidak perlu masuk ke kamar tamu dan meletakkannya sendiri di tempat tidur laki-laki itu.

"Untukmu sendiri? Kau kekurangan selimut?"

"Tentu saja, musim dingin akan segera tiba dan aku sudah mulai merasa kedinginan. Aku butuh tambahan selimut!"

Lagi-lagi Ino berbohong. Bukan orang yang pandai berbohong karena kegugupannya sangat terlihat jelas. Ino menunduk saat melihat Kakashi tersenyum padanya, Senyuman yang sudah membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Sejak kapan ia menjadi bodoh saat berhadapan dengan orang ini?

"Kalau begitu biarkan aku menghangatkanmu!" Kakashi beraksi cepat. Karena sesaat kemudian Ino sudah di tarik ke dalam kamar dan merasakan bunyi pintu tertutup di belakangnya. Gadis itu menggenggam selimut yang di bawanya semakin erat, tidak lama karena selimut itu segera terjatuh ke lantai ketika menyadari Hatake Kakashi sudah memandangi setiap inci tubuhnya. Ia bergerak selangkah demi selangkah mendekati Ino tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun, ia sedang berusaha mempertahankan diri dengan memasang wajah tergalaknya.

Ino mulai merasa terintimidasi meskipun ia terus berusaha menantang dan memandang wajah Kakashi dengan pandangan tidak suka. Perlahan-lahan ia mundur dan berusaha menjaga jarak. "Kau sedang apa?"

"Lihat dirimu! Ternyata kau sangat cantik. Kau berdandan seperti ini untukku?"

"Kalau aku tahu yang datang adalah kau, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini!"

"Jadi, kau berdandan seperti ini demi Sai?" Kakashi tertawa, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Harusnya kau tidak menggunakan camisole dengan bahu selebar ini." Ia menyentuh pundak Ino dengan satu jarinya sehingga Ino mundur selangkah lagi dan membuatnya jatuh ke tempat tidur. Gadis itu terpekik kecil saat Kakashi sudah merangkak di atas tubuhnya dan menyentuh dadanya "Tapi aku suka tali yang ini,"

"Kau mau memakai camisole? Aku punya banyak!"

Kakashi tertawa lagi. Ino masih berusaha mengejek dalam situasi segenting ini. "Kau punya banyak? Menarik! Bagaimana kalau tali ini ku buka?" sebelah tangan Kakashi terangkat menarik ikatan camisole satu demi satu dan berhenti ketika Ino menepis tangannya.

"Kau mau bersikap kurang ajar padaku?"

"Lalu kenapa tidak teriak? Kau menyukainya kan? Katakan saja!" pandangan mata Kakashi semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Ino yang bergerak karena menelan ludah, pandangannya kemudian turun ke camisole yang sudah terbuka sebagian dan memamerkan payudara Ino lebih banyak lagi. "Kau sangat pandai menuntut kan? Kalau di tempat tidur, sekuat apa tuntutanmu?" Kakashi menarik tangan Ino yang menghalangi pandanganya dan menekannya kuat ke atas ranjang. Ia kemudian menarik tali camisole yang ketiga dan keempat dengan giginya. Menggairahkan sekali dan sekarang dirinya sangat terangsang. Tapi bunyi pintu terbuka membuat Kakashi menarik dirinya dari ranjang dan berdiri menghadap pamannya dengan nafas tergengah-engah. Ino juga melakukan hal yang sama, ia berdiri dan menghadap dinding untuk mengikat kembali ikatan camisolenya yang di lepaskan oleh Kakashi.

"Kalian berdua sedang apa?" Paman Hatake menatap Kakashi dan Ino bergantian dengan sangat heran. Tidak ada seorangpun yang menjawab hingga Ino berbalik dengan pakaiannya yang sudah kembali utuh lalu mengambil selimut yang berserakan di lantai.

"Aku mengantarkan selimut, Paman!" Meskipun Ino berusaha untuk tampak biasa tapi dari suaranya barusan Paman Hatake bisa merasakan kegugupanya yang luar biasa. "Tapi selimutnya terjatuh, aku akan menggantinya. Permisi!"

Paman Hatake tersenyum kecil dan membiarkan Ino keluar dari kamar itu. Ia memandang Kakashi lagi dan menutup pintu. "Kau mau melakukan apa? Bagaimana kalau aku tidak datang tadi?"

"Aku hanya bermain-main sedikit. Tenanglah paman, aku tidak akan melakukan apa-apa!"

"Tidak melakukan apa-apa? Kau nyaris menelanjanginya!"

"Paman, dia menyukainya! Dia tidak berteriak kan?"

Paman Hatake memukul kepala Kakashi keras sehingga laki-laki itu mengaduh. "Dia wanita terhormat. Mana mungkin dia akan berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Ibunya bisa kena serangan Jantung kalau mengetahui kelakuanmu ini!"

.

.

.

To be continued

A/N :

Untuk perbedaan umur Kakashi - Ino sekitar 7 tahunan ya

Si playboy insaf ngga ya? Hehehehe.. harus wajib baca terus ya biar tahu

Special Thanks for : Ziziultimate, sasuino22, Alfira Putri, gekanna87, Kyudo YI, guest 1 and guest 2.

Makasih bngett atas review kalian... huhuhu seneng bangett rasanya masih ada yang minat sama ff pair Yamanaka Ino. Jangan bosen bosen sama barbie kita ya.. sedih liat makin sedikit yang bikin ff Ino.. pokoknya kita Inoshipper jangan patah semangat ya..

Bye bye. See you next Chapter

Yellow5