Disclaimer: Gundam SEED beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.

Warning: AU, OOC, office life, mainly Asucaga pairing.

Prolog


"Kereta tujuan Stasiun Kaguya segera tiba di jalur 3 Stasiun Heliopolis Timur. Kami ulangi…"

Sayup-sayup terdengar pengumuman yang membuat seorang gadis muda tersadar dari rasa kantuk akibat kelelahan. Dilepasnya salah satu ujung earphone yang menutup telinganya agar dapat memastikan pengumuman yang sama. Tentu saja untuk mencegah dirinya mengalami kejadian salah naik kereta.

Rambut pirang sebahu tersibak oleh ujung earphone yang kini meluncur ke depan kerah bajunya. Tak berselang lama, rambut sang gadis berterbangan lembut seiring gerakan kereta bawah tanah yang melambat sampai berhenti di jalur tempatnya mengantre.

Pintu kereta terbuka, disusul gerakan sebagian penumpang yang melangkah keluar dari dalam kereta. Setelahnya dari sisi luar kereta, penumpang dalam jumlah jauh lebih banyak bergegas masuk memenuhi ruangan gerbong kereta. Tak terkecuali sang gadis berambut pirang.

Gadis itu memantapkan posisi berdirinya di dalam gerbong. Sesaat kemudian, ia tersentak menyadari dirinya masih mengalungi name tag tanda pengenal khas pekerja kantoran yang berhias foto wajah dan tulisan namanya, Cagalli Yula Athha. Buru-buru dilepasnya kalung name tag tersebut dan disimpannya di dalam tas kerja.

"Konyol sekali kalau sampai ada orang asing yang membacanya," pikir Cagalli.

Sejenak ia menghela nafas, memandangi terowongan stasiun yang segera berganti dengan pemandangan hitam pekat berlampu, khas terowongan kereta bawah tanah. Entah mana yang lebih konyol, identitasnya terpampang di hadapan orang asing, atau informasi yang diterimanya sore tadi di kantor.

Seperti kebanyakan kaum urban yang berusia 25 tahun, Cagalli menjalani masa produktifnya sebagai pekerja kantoran. Hari ini genap tiga bulan ia mengisi posisi Copywriter di sebuah perusahaan startup bernama Haro Green yang bergelut di industri F&B (makanan dan minuman). Tepatnya di ranah makanan sehat.

Ya, hari ini adalah hari penentuan di mana status probation-nya berakhir. Dengan kata lain, perusahaan berhak menentukan apakah Cagalli layak melanjutkan pekerjaannya di Haro Green atau terpaksa menyudahinya. Semua dinilai dari kinerjanya selama tiga bulan pertama.

Cagalli mempererat genggaman pada handle khusus penumpang kereta yang membantunya menjaga keseimbangan berdiri. Pikirannya menerawang. Terlintas kejadian sore tadi saat Martin DaCosta, HR Manager merangkap Personal Assistant bosnya, memanggil ke ruangan HR.

.

Hati Cagalli berdegup kencang seraya kakinya melangkah memasuki ruangan. Bagaimana tidak, pekerjaan ini adalah pekerjaan formal pertama dalam hidupnya. Entah harus bagaimana dirinya kalau sampai tidak berlanjut. Kembali membantu bibinya? Atau bersiap menghadapi ocehan sang ayah yang selalu memintanya pulang ke Onogoro, kampung halamannya?

Pasalnya setelah lulus kuliah sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi, Cagalli menyibukkan diri dengan membantu mengelola butik milik Caridad Yamato, bibi dari pihak ibunya. Sang bibi tidak pernah meminta, namun Cagalli sendiri yang menawarkan bantuan sebagai bentuk balas budi. Sudah beberapa tahun Cagalli menumpang tinggal di rumah Caridad yang berlokasi di Kaguya, sebuah kota satelit di sisi kota Heliopolis.

Sebelum ini Cagalli mengenyam pendidikan tinggi di Heliopolis, ibukota negara ORB. Hampir 2.000 kilometer jaraknya dari Onogoro. Sebenarnya Cagalli berasal dari keluarga berada. Ayahnya adalah seorang juragan perkebunan. Hanya saja Cagalli memilih untuk menumpang di rumah Caridad daripada menyewa apartemen di Heliopolis dengan alasan penghematan dan kekeluargaan. Memang ayahnya selalu menanamkan prinsip hidup hemat padanya.

.

DaCosta memberi isyarat pada Cagalli untuk menduduki sebuah kursi kosong di hadapannya. Dengan sigap Cagalli mengikuti arahan. Sensasi empuk khas kursi kantor membuat kondisi hati Cagalli sedikit lebih tenang.

"Cagalli, kau tahu kan, kenapa aku memanggilmu ke sini?" DaCosta membuka pembicaraan.

Memang sudah adat di kantor masa kini untuk saling memanggil dengan nama depan. Walaupun Cagalli sejujurnya masih sering lupa nama depan DaCosta.

"Iya. Ini tentang akhir masa probation-ku, kan?" tembak Cagalli yang mencoba terdengar percaya diri meski kecemasan masih terasa dari nada bicaranya.

"Benar sekali. Jadi, berdasarkan masukan dari Marketing Director Mwu La Fllaga dan dengan persetujuan dari MD (Managing Director) Andrew Waltfeld, di sini aku menyampaikan bahwa kau mendapat penilaian yang baik sehingga bisa melanjutkan posisimu sebagai Copywriter di Haro Green. Berkas kontrakmu yang baru sudah kusiapkan. Selamat, Cagalli!"

DaCosta mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Cagalli. Wajah sumringah Cagalli langsung terpancar diiringi gerakan tangan yang spontan menyambut uluran tangan DaCosta.

"Tapi," DaCosta menyela momen tersebut sembari mengisyaratkan pada Cagalli untuk tetap duduk.

"Tapi?" ulang Cagalli dengan harap-harap cemas.

"Masa kontrak kantor kita di gedung ini sudah habis. Mulai minggu depan kita akan pindah lokasi ke Heliopolis Central. Aku harap kamu tidak keberatan. Silakan bersiap untuk pindahan, ya."

Tidak dipungkiri, Cagalli agak kaget mendengar kabar ini. Padahal ia suka lokasi kantor saat ini yang terbilang strategis, bisa dijangkau cukup dengan lima menit berjalan kaki dari Stasiun Heliopolis Timur. Padahal ia suka makanan kantin di gedung ini. Padahal ia suka gedung kantor kecil yang hanya tiga lantai ini sehingga tak perlu repot setiap kali keluar masuk. Dan lagi, Heliopolis Central…

"Tenang saja. Sebagai pegawai tetap, kamu akan mendapatkan tunjangan transportasi. Aku tahu kok, Heliopolis Central membuat perjalananmu jadi lebih jauh dan mahal."

Lanjutan kalimat DaCosta seolah menjawab kekhawatiran Cagalli. Lagipula mau tidak mau, suka tidak suka, tetap saja Cagalli harus menjalaninya. Kalau dia masih mau bekerja di Haro Green.

.

Kereta perlahan berhenti, memberi waktu untuk penumpang yang akan turun di stasiun posisi kereta saat ini. Masih ada tiga stasiun lagi yang harus dilalui untuk mencapai Stasiun Kaguya. Untungnya, penumpang wanita yang duduk tepat di depan Cagalli beranjak keluar kereta sehingga Cagalli bisa duduk menggantikannya.

Selagi duduk bersandar, sekali lagi Cagalli menghela nafas. Mata indahnya yang berwarna amber kini terpejam di bawah alis yang mengernyit.

"Adaptasi macam apa lagi yang harus kuhadapi minggu depan?" batinnya.

.

.

"Senang mendengar bahwa kau sudah tiba di Heliopolis. Oke, nikmatilah kota ini. Sampai jumpa minggu depan!"

Pria berkulit coklat dengan perawakan tegap mengakhiri sambungan telepon. Masih terpampang nama lawan bicaranya sampai sesaat sebelum ia menekan ikon telepon merah di layar smartphone miliknya.

AZ, demikian sang pria tegap menyimpan kontak lawan bicaranya tadi.

Seorang wanita cantik berambut hitam panjang memasuki ruangan MD tanpa permisi, namun juga tanpa diprotes oleh sang pemilik ruang yang masih sibuk dengan smartphone di genggamannya. Meski jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.

"Siapa, Andy?" tanya sang wanita cantik. Tentu merujuk pada lawan bicara sang MD di telepon tadi.

"Nanti juga kau tahu, Aisha."


A/N

Huaa udah belasan tahun nggak bikin fanfic. Baru kali ini juga berani posting online.

Maaf kalo gaje, berusaha pake bahasa sebaku mungkin. Pilih tema kantoran biar lingkupnya lebih paham *uhuk tua uhuk*

Yah tiap kantor beda sih. Kalo ke depannya ada salah fungsi jabatan harap maklum :')

Oh iya di sini Cagalli dan Kira sepupuan aja ya biar agak beda hahaha.

Makasih udah baca debut FFn saya!