Disclaimer: Gundam SEED beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.

Warning: AU, office life, mainly Asucaga pairing.

Chapter 1


"Pipipipipiii-"

Alarm pagi yang cukup mengganggu pendengaran seketika terhenti saat Cagalli menggeser layar smartphone-nya. Sang gadis pirang menguap sambil meregangkan kedua lengan. Pandangannya menerawang ke arah tirai jendela yang terlihat tidak seterang saat ia bangun pagi biasanya.

"CAGALLI, BANGUN! AYO AYO AYO!"

Belum sempat Cagalli mengatupkan mulutnya, sesosok pemuda berambut coklat sudah menyergap masuk ke kamarnya.

"Kiraaa, kenapa…? Oh iya!" baru kini sang gadis tersadar.

Mulai hari ini dirinya harus bangun setengah jam lebih awal. Untunglah Kira menyanggupi permintaan tolongnya untuk membangunkan. Karena itu pula Cagalli sengaja tidak mengunci pintu kamar saat tidur semalam.

Kira Yamato, sepupu sebaya Cagalli, adalah putra semata wayang dari Caridad Yamato. Pekerjaan Kira sebagai seorang freelance graphic designer dengan jadwal kerja fleksibel membuatnya seringkali tidak tidur sampai matahari terbit. Orang yang tepat untuk dimintai tolong di pagi hari. Kedua orangtua Kira juga pasti sudah bangun pada saat itu, hanya saja Cagalli sungkan untuk minta tolong pada mereka.

"Thank you, Kira!"

Cagalli setengah berteriak karena Kira sudah keburu menutup pintu meninggalkan kamarnya. Kini saatnya ia bersiap ke kantor seperti biasa. Hal yang tidak biasa hanyalah, mulai hari ini dirinya akan berkantor di lokasi baru yang sedikit lebih jauh dibandingkan lokasi kantor sebelumnya. Untuk itu Cagalli mengantisipasi dengan bangun lebih pagi.

.

Aroma roti panggang beserta telur mata sapi menggoda indera penciuman saat Cagalli mencapai ruang makan. Terlihat Caridad dan suaminya, Haruma Yamato sudah duduk rapi bersebelahan di balik meja makan.

"Ayo sarapan dulu." Caridad mengulurkan piring berisi menu sarapan Cagalli. Sang copywriter muda segera menarik kursi dan menerima piring dari tangan bibinya.

"Terima kasih, Bibi, Paman. Maaf ya jadi lebih pagi," ujarnya sopan.

Memang sudah menjadi kebiasaan di kediaman keluarga Yamato untuk duduk sarapan bersama. Walaupun hal itu tidak berlaku untuk Kira yang memilih untuk sarapan di siang hari setelah bangun dari tidur paginya.

"Tidak masalah. Malah bagus, kan? Paman jadi punya lebih banyak waktu untuk menyiapkan materi kuliah di kampus," Haruma terkekeh ramah. Ayah dari Kira ini adalah seorang dosen sastra di sebuah universitas swasta yang terletak di Kaguya.

Cagalli membalas dengan senyum. Kebaikan dari keluarga Yamato selalu menjadi mood booster baginya di pagi hari. Meski di hari yang menyebalkan sekalipun.

.

Stasiun Heliopolis Central ramai dengan pekerja berpakaian necis dan fashionable yang berjalan cepat di segala penjuru. Kawasan ini memang terkenal sebagai distrik bisnis bergengsi di Heliopolis. Meski hanya berjarak dua stasiun dari Stasiun Heliopolis Timur, baru kali ini Cagalli menginjakkan kakinya di sini. Tidak pernah terbersit di benaknya bahwa ia akan merasakan pengalaman bekerja di kawasan elit. Entah investor macam apa yang berhasil digaet oleh Haro Green sampai bisa berkantor di sana.

Betapa kagetnya Cagalli usai menaiki eskalator sampai lantai ground stasiun. Di luar hujan turun begitu deras.

"Sial," gumamnya pelan. Musim hujan sudah dimulai, sedangkan Cagalli lupa mengemasi payungnya yang masih dijemur di teras belakang rumah bibinya.

Rambut pirang sebahu Cagalli seakan menempel satu sama lain, terbebani oleh air hujan deras yang ditembus oleh pemiliknya. Memang tidak ada jalan lain. Sebelumnya sudah sepuluh menit Cagalli menunggu di teras stasiun, namun hujan tak kunjung reda. Waktu menunjukkan pukul 08.40, sementara Cagalli harus menghadiri Monday Meeting yang akan dimulai pukul 09.00 pagi ini. Perlu sepuluh menit berjalan kaki normal dari stasiun untuk mencapai gedung kantornya yang baru. Naik taksi di Heliopolis Central tentu bukan opsi yang baik untuk kondisi dompet.

Barisan gedung-gedung pencakar langit telah dilaluinya dengan berlari. Cagalli berhenti sembari berteduh di teras sebuah gedung bertuliskan Archangel Building. Diperiksanya lagi aplikasi peta digital di smartphone-nya. Tidak salah lagi, inilah lokasi baru kantor Haro Green. Dirinya sempat tertegun, lagi-lagi tidak menyangka gadis asal daerah sepertinya bisa berada di sini. Tentu Archangel Building tak kalah megah dibanding semua gedung lain di sekitar. Ada setidaknya lima puluh lantai. Atau mungkin enam puluh.

Cagalli bergegas menjalani pemeriksaan keamanan dan memasuki gedung. Beruntung area resepsionis gedung sedang sepi, karena dirinya harus menukar kartu identitas untuk dapat meminjam visitor card. DaCosta sudah memberi arahan seperti itu supaya Cagalli bisa menaiki lift menuju lantai 23 tempat Haro Green berada. Nantinya semua pegawai akan diberikan name tag baru yang juga berfungsi sebagai kartu akses lift.

Gerbang menuju lift sudah berhasil dilewati. Terlihat sekurangnya enam pasang pintu lift di hadapan Cagalli. Dirinya bergegas memencet tombol lift terdekat yang pintunya langsung terbuka. Sampai sini rasanya ia sudah cukup paham; masuk lift, tap kartu ke permukaan alat sensor, lalu tekan tombol nomor lantai. Anehnya tidak ada tombol lantai 23.

Dengan panik Cagalli mengurutkan kembali deretan angka yang tertera di sisi pintu lift seraya menahan tombol pembuka pintu. Untungnya tidak ada orang lain di dalam lift.

"Lift keparat. Kenapa cuma ada sampai lantai 20?" rutuk Cagalli dalam hati.

Tanpa pikir panjang, sang gadis yang masih basah kuyup segera keluar dari lift tempatnya berada dan berpindah ke lift sebelahnya yang kebetulan sedang terbuka. Emosi dan rasa heran begitu bergejolak dalam pikiran, sampai-sampai dirinya berjalan dengan tidak fokus. Hampir saja Cagalli menabrak seseorang yang ternyata ada di dalam lift kedua. Pemuda berambut biru yang mengenakan baju hijau kerah turtleneck dan juga kacamata hitam, sekalipun di hari hujan.

"Lantai berapa?" tanya singkat meluncur dari mulut si pemuda.

"Dua puluh tiga," balas Cagalli tak kalah singkat.

Dengan sigap si pemuda mengarahkan visitor card-nya sendiri ke hadapan alat sensor lift. Jemarinya menekan tombol lantai 23, yang untungnya ada pada lift tersebut, tanpa menekan tombol nomor lantai lainnya. Dalam situasi ini Cagalli merasa tertolong namun juga merasa janggal.

"Mungkin dia baru akan menuju lantai kantornya setelah aku keluar. Haaah, orang kota dan privasi anehnya," batin Cagalli. Bagaimanapun, ia merasa harus berterima kasih pada si 'kacamata hitam'.

"Te-"

"Tadi kau memasuki lift untuk Low Zone, sedangkan lantai 23 berada di Mid Zone. Ada penandanya kan, di bagian luar lift?" ujar si pemuda dengan nada dingin. Ucapan terima kasih dari Cagalli terpotong begitu saja.

"Kampungan."

Sepatah kata pamungkas dari sang pemilik rambut biru sontak membuat Cagalli naik pitam. Seolah belum cukup kelelahannya selepas berlari hujan-hujanan, apa masih perlu mendengar cibiran seperti ini?

"Apa katamu?!"

Reaksi sang gadis muda lagi-lagi harus terpotong, kali ini oleh bunyi khas lift yang sudah mencapai lantai 23. Alih-alih Cagalli, justru si pemudalah yang lebih dahulu melangkahkan kakinya keluar lift tanpa berkata lagi.

Cagalli mengikuti langkah si pemuda meninggalkan lift dengan menjaga jarak tertentu. Sengaja ia lambatkan ritme jalannya sampai si pemuda menghilang di belokan koridor. Suara hatinya masih berkecamuk.

"Apa-apaan ini? Dia lihat waktu aku sedang kebingungan? Kantornya ada di lantai yang sama denganku? Memangnya siapa sih, dia?"


A/N

Siapa hayoo? *digetok*

Maaf ya kemunculan si pemuda you-know-who masih diirit-irit. Nantinya banyak kok hehehe. Makasih udah baca. Sampai jumpa di chapter berikutnya!