Disclaimer: Gundam SEED (dan GSD) beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.

Warning: AU, OOC, office life ribet, mainly Asucaga pairing.

Chapter 2


Cagalli menengok ke kanan dan kiri setibanya di ujung koridor. Cukup lega dirinya mendapati si pemuda sombong berkacamata hitam sudah hilang dari pandangan. Pasti orang itu sudah masuk ke salah satu kantor di lantai 23. Atau mungkin sedang berada di toilet, yang terpampang penunjuk arahnya di ujung belokan kedua. Entahlah, Cagalli tidak mau ambil pusing.

Kini ia bergegas mencari pintu masuk Haro Green yang baru. Perpindahan barang para pegawai dipercayakan pada DaCosta dan anak buahnya di akhir pekan lalu, sehingga Cagalli belum tahu persis di mana letak pintu kantornya.

Ternyata tidak sulit menemukan apa yang dicarinya. Terlihat satu pintu yang dibiarkan terbuka di koridor sayap kanan. Masuk akal, mengingat sidik jari para pegawai belum didaftarkan untuk membuka sensor pintu merangkap mesin pencatat absensi yang baru.

Memasuki bagian depan kantor Haro Green, kehadiran Cagalli disambut oleh sebuah meja resepsionis. Logo perusahaan terpampang dalam ukuran besar di permukaan depan. Rupanya bukan meja resepsionis semata yang menyambutnya. Dari balik meja tampak seorang gadis berparas manis dalam balutan setelan warna pink. Gadis itu berambut pirang, sama seperti dirinya.

"Selamat pagi. Ah, kau pasti Cagalli! Namaku Stellar Loussier, senang bertemu denganmu," sang gadis resepsionis memperkenalkan diri tanpa diminta. Jelas ia telah menghafal semua foto dalam database pegawai. Gestur bersalaman muncul dari tangan mungilnya.

"Cagalli Yula Athha, senang berkenalan. Oh, maaf tanganku basah," secara refleks Cagalli melepas tangan Stellar dari genggamannya. Bisa-bisa tangannya membuat tangan Stellar ikut basah kalau mereka berjabat tangan lebih erat. Rasa tidak enak muncul dalam hati Cagalli. Terlebih karena Stellar segera berbalik badan.

"Ini, silakan. Maaf tidak ada yang besar, tapi kurasa lumayan untuk mengeringkan tubuhmu. Jangan sampai sakit, oke?"

Sehelai saputangan handuk berukuran sedang terulur dari kedua tangan Stellar. Rupanya ia tadi mencari saputangan dari balik meja resepsionis. Sejujurnya Cagalli takjub mendapati ada yang peduli padanya dalam situasi seperti ini. Lebih dari itu, ia takjub karena perusahaan tempat kerjanya kini mempekerjakan seorang resepsionis. Memang sebelumnya Haro Green berkantor di lokasi tanpa area resepsionis dengan jumlah karyawan tidak seberapa banyak.

"Terima kasih, Stellar. Kupinjam dulu. Nanti akan kukembalikan setelah dicuci," ujar Cagalli sambil tersenyum. Kedua tangannya meraih uluran saputangan Stellar.

"Baik, Cagalli. Ngomong-ngomong, sudah hampir jam sembilan. Meja kerjamu di sebelah sana, ya," kali ini tangan Stellar menunjuk ke arah sebuah jalan masuk di sebelah kiri meja resepsionis.

.

Langkah Cagalli mencapai titik di mana segala perlengkapan yang ia kenali sebagai miliknya berada. Ruang kerjanya adalah sebuah ruangan luas dengan beberapa meja besar panjang. Seluruh pegawai di bawah tingkat direksi bekerja bersisian tanpa sekat, yang memungkinkan mereka bertatap muka satu sama lain. Betul-betul khas perusahaan startup. Aroma cat dan plitur masih berseliweran terbawa hembusan udara pendingin ruangan, pertanda tempat ini terhitung baru selesai dibenahi.

"Cagalli! Ya Tuhan, kau habis kehujanan? Ke mana payung polkadot-mu yang lucu itu?" rentetan pertanyaan muncul dari gadis berambut coklat melenting yang duduk tepat di sebelah area kerja Cagalli.

"Haha. Ya begitulah, Milli," sang gadis yang masih kebasahan menjawab sekenanya.

"Ganti bajumu dengan ini! Tak apa-apa, buatmu saja. Ada banyak, kok," ujar si pemilik rambut melenting. Dengan sigap ia mengambil sebuah t-shirt berwarna mentereng dari tumpukan serupa di balik laptopnya.

Miriallia, atau yang akrab disapa Milli, bekerja sebagai Social Media Officer di Haro Green. Campaign dan event menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Tidak heran kalau dirinya menyimpan setumpuk t-shirt sisa event. Hanya sebagian pegawai yang rela membawa pulang t-shirt tersebut karena warnanya yang kurang ramah di mata.

"Thanks, Milli. Kau memang yang terbaik. Walaupun kadang absurd," goda Cagalli sambil meringis, yang langsung dibalas dengan ekspresi meringis juga oleh Miriallia.

"Selamat pagi, nona-nona. Kutunggu kalian di Meeting Room A lima menit lagi, ya," suara DaCosta muncul tiba-tiba, turut membuyarkan obrolan singkat antara kedua wanita muda.

Sebagian meja kerja memang sudah kosong ditinggalkan penghuninya ke ruang meeting. Cagalli tidak punya banyak waktu. Setengah berlari ia menuju toilet untuk mengeringkan diri dan berganti pakaian.

.

Jajaran direksi beserta pegawai duduk mengelilingi meja panjang di dalam Meeting Room A, ruang meeting berkapasitas paling besar di kantor baru Haro Green. Tersedia sebaris kursi tambahan yang berhimpitan dengan dinding di tiap sisi ruangan, untuk menampung mereka yang tidak kebagian tempat. Termasuk di antaranya Cagalli dan Miriallia. Keduanya tergolong paling akhir memasuki ruangan.

Monday Meeting dibuka dengan sambutan dari MD Andrew Waltfeld. Sungguh Andrew adalah seseorang yang berbakat menguasai audiens lewat tutur katanya yang menyenangkan. Bisa dilihat dari reaksi para pegawai yang sesekali tertawa ringan menanggapinya. Semenarik apapun sambutannya, kali ini pikiran Cagalli sedang tidak bisa fokus menangkap isi pembicaraan Andrew.

Mungkin dirinya terlalu risih dengan rasa dingin yang merembes dari celana basahnya. Belum lagi risih karena penampilan ajaibnya. T-shirt mencolok serta rambut hasil blow dry dengan jari di bawah pengering tangan toilet membuat Cagalli merasa kikuk saat membandingkan dirinya dengan semua orang di sekitar yang tampil smart casual. Rasanya sia-sia penampilan rapi yang telah disiapkannya sebelum berangkat dari Kaguya.

Kegagalan memfokuskan pikiran membuat pandangan mata ambernya menyapu ke sekeliling ruang, memperhatikan satu persatu peserta meeting yang hadir. Stellar tidak ada, pastinya harus menjaga posnya di meja resepsionis. Butuh beberapa saat sampai Cagalli menyadari keberadaan dua orang yang tampak asing di sebelah Andrew.

"?!"

Satu tangan Cagalli menutupi mulutnya yang memekik tanpa suara, sementara satu tangan lainnya mencengkram lengan Miriallia yang kebingungan di sampingnya.

Seakan kebetulan, kedua tamu spesial sang pimpinan Haro Green mulai diperkenalkan. Dimulai dari seorang pria berambut hitam panjang yang duduk persis di sebelah Andrew. Meski bermahkotakan rambut panjang bervolume, pria tersebut tidak tampak gemulai. Malah ia mengeluarkan aura berwibawa sedemikian rupa.

"Semuanya, perkenalkan Gilbert Dullindal, investor baru kita. Mungkin sebagian dari kalian sudah sering mendengar namanya. Keterlibatannya sudah banyak berperan bagi kemajuan iklim startup di Heliopolis… Bukan, di seluruh penjuru negeri ORB!" seru Andrew.

Gilbert Dullindal melambaikan tangan selama beberapa detik, diiringi tepuk tangan dari seluruh peserta meeting.

"Suatu kehormatan, Andrew dan team," ucap Dullindal singkat. Sang MD membalasnya dengan senyum sopan sebelum melanjutkan sesi perkenalan.

"Selanjutnya juga kuperkenalkan, Athrun Zala. Mulai hari ini bergabung dengan kita sebagai Senior Copywriter," terang Andrew. Sosok pemuda berambut biru di samping Dullindal mengangguk perlahan.

Meski tanpa dilengkapi kacamata hitam, tidak salah lagi, pemuda yang baru saja diperkenalkan Andrew sebagai Athrun Zala adalah pemuda yang tadi membuat Cagalli kesal setengah mati saat berada di dalam lift.

"Athrun adalah seorang Magister Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Minerva di ZAFT. Dia lanjut bekerja di sana dan baru saja kembali ke ORB. Kalian tahu campaign restoran Donald Kebab yang viral secara global? Yup, itu adalah hasil ide briliannya saat bekerja di ZAFT!" lanjut Andrew berapi-api. Mungkin juga untuk lebih meyakinkan sang investor.

Sementara seisi ruangan kembali riuh bertepuk tangan, Cagalli hanya diam memelototi mata emerald Athrun dengan tatapan tidak suka bercampur kaget. Bukan karena urusan lift saja. Nyatanya ada cukup banyak alasan bagi Cagalli untuk melancarkan aksinya, begitu dirinya mengetahui identitas si pemuda.

"Bagaimana mungkin Athrun Zala yang itu…? Ah paling-paling dia dipekerjakan di sini karena koneksi!" duganya dalam hati.

Sesungguhnya Cagalli bukan tipikal orang yang biasa berpikir buruk tentang orang lain. Hanya saja yang satu ini adalah kasus spesial.

Di luar status Athrun yang digadang-gadang sebagai pekerja brilian dari ZAFT, negara adidaya paling terkenal di dunia, Cagalli juga tahu betul sepotong sejarah milik seorang Athrun Zala.

Athrun berasal dari keluarga kaya nan terpandang. Ibunya, Lenore Zala, adalah seorang pakar kuliner terkenal yang memiliki program sendiri di televisi. Sedangkan ayah Athrun, Patrick Zala, menggeluti beragam bisnis sebagai pengusaha sukses sebelum akhirnya bermanuver ke kancah politik.

Dulu sekali keluarga Zala pernah tinggal di Onogoro selama setahun untuk urusan bisnis. Saat itu Athrun bersekolah di institusi yang sama dengan Cagalli. Mereka sekelas saat kelas 6 SD. Pembawaan yang cool dan berprestasi membuat banyak anak perempuan di sekolah jatuh hati padanya. Tak terkecuali sang putri juragan perkebunan.

Athrun adalah cinta pertama Cagalli, walau saat itu mereka nyaris tidak pernah saling bicara. Sayangnya, sampai hari upacara kelulusan tidak ada ungkapan kekaguman yang berhasil terucap.

"Persetan dengan cinta monyet. Sekarang bagaimana mungkin dia yang seumuran denganku bisa memiliki posisi lebih tinggi? Memang sih, aku cukup lama membantu Bibi, tapi kan si kepala biru juga perlu waktu untuk kuliah S2 dan memulai karir. Lantas? Apa karena privilege? Standar universitas top luar negeri? Kenapa juga Haro Green perlu Senior Copywriter? Kenapa harus dia?"

Pertanyaan demi pertanyaan berkelebat di kepala Cagalli seolah tiada habisnya. Tanpa disadari, sesekali jemarinya bergerak menggaruk dahi hingga membuat kusut bagian-bagian rambut yang masih bertekstur kasar akibat terguyur hujan. Sebuah ketidaksengajaan yang cukup menarik perhatian Athrun dan Andrew.

Menyadari sorot mata amber yang menghujam, Athrun balas menatap tajam pada Cagalli dari balik kerah turtleneck-nya. Sementara Andrew seolah mendapat pencerahan untuk lanjutan sesi perkenalan hari ini.

"Oh, benar! Athrun, biar kuperkenalkan. Nona yang menyilaukan di sana adalah Cagalli, Copywriter berbakat kita yang baru menyelesaikan probation-nya. Kalian berdua akan bekerja sebagai satu team. Bersiaplah, aku berharap banyak pada kalian!"


A/N

Ups, maaf masih belum banyak muncul si masnya. Bahas coworkers dulu.

Tapi background doi mulai dikupas hehehe.

Next chapter beneran mulai banyak interaksi antara Cagalli dan Athrun.

Jadi jangan bosen dulu ya. Makasih udah baca!

Trivia:

Nulisnya sambil bayangin si Ath songong lulusan Amrik.

Untung bukan S3 Marketing H*rv*rd ( ̄∀ ̄)

Thanks for the reviews! JusticeRouge, longliveasucaga, LaNiinaViola, mhlynda, sheyrasirre, Panda Nai