Disclaimer: Gundam SEED (dan GSD) beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.
Warning: AU, OOC, office life ribet, mainly Asucaga pairing.
Chapter 3
Tepat pukul 10.30 pagi, Monday Meeting usai diadakan. Memang tidak banyak yang perlu dibahas, mengingat sedang tak ada event besar atau semacamnya yang perlu digarap dalam waktu dekat.
Sebagian besar pegawai diperbolehkan kembali ke area kerjanya. Hanya jajaran direksi beserta investor Dullindal dan sejumlah pegawai berkepentingan yang masih tinggal di Meeting Room A. Termasuk di antaranya seorang Athrun Zala.
.
"Fuaaah… Chair sweet chair," plesetan sebuah ungkapan terkenal meluncur dari mulut Cagalli. Tubuh langsingnya menghempas sebuah kursi ergonomis yang menjadi hak miliknya selama jam kerja. Bantal maskot Haro Green yang menyangga pinggang turut menambah kenyamanan yang dirasa.
Lega sekali dirinya 'dilepaskan' dari meeting lebih awal. Udara area kerjanya, yang notabene berada di ruangan luas, jelas lebih hangat dibandingkan udara di ruang meeting yang terkepung hawa pendingin udara. Begini lebih nyaman. Meskipun celananya kini sudah cukup kering.
"Senang ya, Miss Orange," Miriallia terkekeh melihat tingkah tetangga mejanya yang mirip anak kecil dalam balutan t-shirt oranye mentereng.
"Setidaknya di sini aku bisa lebih produktif dibanding di ruangan tadi," kilah sang Copywriter. Pipinya menggembung tanpa disadari.
"Produktif? Katamu belum ada brief baru dari Mwu?" tanya Miriallia memastikan. Sungguh gadis ini adalah pendengar dan pengingat yang baik.
"Betul, aku masih menunggu email dari Mwu. Sementara aku akan mengerjakan yang bisa kulakukan," balas Cagalli sembari menggerakkan mouse ke segala arah untuk mengaktifkan laptopnya dari keadaan sleep.
.
Jam di sudut monitor laptop menunjukkan pukul 11.58, pertanda waktu makan siang sudah menjelang. Sedari tadi Cagalli menyibukkan diri mencari referensi dari konten yang berseliweran di platform sosial Orbstagram. Nuraninya bosan namun pasrah. Barangkali Mwu, sang Marketing Director, lupa mengiriminya email karena terlalu sibuk dengan meeting.
Jumlah pegawai Haro Green yang tidak seberapa banyak membuat beberapa fungsi jabatan seolah menghilang. Selama ini Cagalli reporting langsung pada Mwu yang membawahi Divisi Marketing. Tidak ada atasan perantara seperti Marketing Manager. Status sebelumnya sebagai pegawai probation pun membuat dirinya belum aktif diikutsertakan dalam meeting divisi. Semua brief tugas didapatnya langsung dari Mwu.
Derap langkah mendekat yang beradu dengan permukaan lantai kayu memecah kesunyian kantor di hari Senin.
"Hei! Kalian makan di mana setelah ini? Aku dapat info tempat makan yang oke. Mau ikut? Stellar juga akan bergabung," suara pria muda yang familiar menghampiri area kerja Cagalli dan Milli.
Ssigh Argyle, pemilik suara tersebut, bekerja sebagai UI/UX Designer yang merancang tampilan aplikasi pemesanan produk Haro Green. Usia sebaya membuat pemuda berkacamata ini cukup akrab dengan kedua gadis yang diajaknya makan siang.
"Ikut, ikut!" sahut Milli bersemangat. Cagalli mengangguk tanda setuju. Perihal makan siang sungguh belum terpikirkan olehnya. Kini perutnya mulai terasa lapar.
"Kuzzey, kau juga ayo ikut!" seru Ssigh akrab pada seorang pemuda berambut belah tengah yang duduk di samping Milli.
Entah untuk keberapa kalinya Cagalli terkejut, saat mengenali nama pemuda tersebut sebagai salah satu nama yang selalu menjadi penerima emailnya. Sebenarnya cukup wajar jika Cagalli baru tahu. Keberadaan Kuzzey yang pendiam memang seringkali kurang terasa.
"No, thanks. Aku bawa bekal," jawab Kuzzey singkat. Kesibukannya di posisi Graphic Designer membuat pikirannya masih melekat pada software desain yang sedang digeluti.
"Oke. Yuk, ladies! Sudah saatnya," sesaat Ssigh menoleh ke arah jam dinding di seberang ruangan, memastikan dirinya dan teman-temannya tidak akan mendapat masalah terkait waktu keluar kantor.
Dompet dan smartphone sudah aman dalam genggaman. Bersiap meninggalkan kantor, Cagalli berdiri sembari menelusupkan tangannya yang bebas ke sisi belakang monitor laptop, berniat menangkupkan gawainya itu menyerupai gerakan cangkang kerang yang menutup. Jika saja tidak ada interupsi tanpa permisi.
"Cagalli, ikut aku. Meeting Room D."
Spontan pandangan semua mata di sekitar tertuju pada pemuda berambut biru yang baru kembali dari meeting panjangnya. Mencoba mengistirahatkan tangan, Athrun meletakkan laptop dan buku catatannya di area kerja yang berada tepat di hadapan area Cagalli.
"Excuse me?" reaksi sang gadis pirang. Dirinya tak habis pikir.
"Kau tidak lihat aku hampir pergi makan siang? Dan lagi… Kenapa di situ?" lanjut Cagalli, tak kuasa membayangkan betapa terganggu dirinya jika wajah Athrun terlihat di balik laptopnya lima hari dalam seminggu. Tak ayal, memang itulah yang kemungkinan akan terjadi.
"Bukankah waktu istirahatmu sudah cukup panjang semenjak tadi? Lagipula tempatku memang di sini. Tanyakan padanya kalau tidak percaya," jelas Athrun. Mata indahnya kini melirik dengan maksud menunjuk pada Miriallia.
"Eh, oh iya betul, Athrun sempat menyimpan tasnya di situ sesaat sebelum kau datang. Umm… Kalau begitu kami makan siang duluan, ya. Kabari kalau nanti kalian mau menyusul," jawab Miriallia kikuk. Tangannya menepuk bahu Ssigh, memberi isyarat untuk segera berangkat. Kernyitan alis singkat pertanda maaf sempat diarahkannya pada Cagalli yang terjebak situasi.
Tampak punggung kedua temannya perlahan menjauh. Kekesalan Cagalli menjadi lebih tak terbendung. Terlebih karena sang Senior Copywriter sembarangan menilai tanpa tahu inisiatif yang dilakukannya selama menunggu email dari Mwu.
"Apa maumu?" pertanyaan setengah membentak terlontar dari bibir mungilnya.
"Kau, bawa laptopmu, ikut aku. Ada yang perlu kita bahas," ucap Athrun tanpa basa-basi. Dengan segera sang pemuda mengangkat kembali laptop dan buku catatannya, kemudian berlalu menuju ruang meeting berukuran paling kecil di Haro Green.
Tak ada pilihan lain. Dengan langkah gontai Cagalli memboyong laptop beserta mouse-nya menuju Meeting Room D.
.
Hembusan udara dari pendingin kembali menyerang saat Cagalli memasuki ruang meeting berukuran 3 meter x 3 meter yang terletak di sudut kantor. Untunglah kali ini celananya sudah benar-benar kering.
Sementara Athrun yang duduk berhadapan dengan Cagalli tampak tidak terganggu oleh hawa dingin. Mungkin berkat sweater berkerah turtleneck yang dikenakannya. Atau karena dirinya turut memancarkan aura dingin yang menusuk.
"Jam 1 nanti Mwu dan Murrue akan meeting untuk menawarkan kerjasama dengan Dominion Space. Mwu ingin kita secepatnya memikirkan ide campaign yang juga menguntungkan tempat itu," ujar Athrun menjelaskan.
Meski belum pernah mengunjungi, Cagalli tahu betul tempat yang dimaksud oleh Athrun. Dominion Space adalah sebuah lokasi di Heliopolis yang sedang naik daun sebagai tempat anak muda menyelenggarakan kegiatan. Tentu banyak gerai makanan yang tersedia di sana.
"Ah, dua sejoli itu," gumam Cagalli, seolah tidak fokus pada penjelasan Athrun. Mwu memang diisukan dekat dengan si cantik Murrue, BD (Business Development) yang bertanggung jawab atas strategi pengembangan usaha, utamanya yang terkait kerjasama dengan pihak luar.
Brief mendadak tentu membuat Cagalli cukup gusar. Beruntung dirinya sudah lebih dulu menemukan referensi konten campaign, sehingga ia dapat melakoni diskusi dengan baik bersama sang partner kerja. Sekalipun dalam kepungan udara dingin di siang hari yang masih terus diguyur hujan.
A/N
Waduh saya bingung mana aja kata serapan yang udah dinaturalisasi dan mana aja yang mesti dibikin italic. #kumenangis
Nah kan makin nambah porsi Cagalli bareng Athrun (●´∀`●) berkembang teruus.
Makasih buat yang masih setia ngikutin kisah mereka!
Trivia:
Nama perusahaan Haro Green itu modifan nama suatu startup Jakarta.
Memang itu yang jadi inspirasi hehehe. Bukan kantor saya kok.
