Disclaimer: Gundam SEED (dan GSD) beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.
Warning: AU, OOC, office life ribet, mainly Asucaga pairing.
Chapter 4
Email hasil diskusi sukses dikirimkan pada Mwu, tepat lima belas menit sebelum meeting dengan Dominion Space dimulai. Athrun menutup laptop. Suara mengatup pelan terdengar dari bagian monitor laptopnya yang beradu dengan bagian keyboard. Seolah tak mau kalah, perut Cagalli mengeluarkan suara bergemuruh.
"Perut sialan," umpatnya dalam hati. Rasa malu menjalari wajah Cagalli, menampakkan semburat kemerahan di pipi. Apa boleh buat, setengah hari Senin yang melelahkan membuat rasa lapar tak lagi dapat diajak berkompromi.
"Kutunggu kau lima menit lagi di resepsionis kantor," ucap Athrun sembari bangkit dari kursinya dan bergerak menjauh. Jemarinya meraih gagang pintu, bersiap keluar dari Meeting Room D.
"Hah?" ungkapan keheranan terlontar dari mulut sang gadis berbaju oranye. "Apa lagi?"
"Kutraktir," suara sang pemuda terputus seiring dirinya menghilang di balik pintu.
.
Aspal jalanan Heliopolis Central berkilau terbasahi air hujan di bawah temaram langit mendung. Tak pernah terbayangkan oleh Cagalli, siang ini dirinya akan membelah kawasan elit dari dalam sedan marun metalik mewah, yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Hei, kau tidak sedang menculikku, kan?" tanya Cagalli memastikan. Sedikit kekhawatiran muncul dalam benaknya.
Mulanya sang Copywriter hanya mengekor partnernya menuju lantai basement. Pikirnya mereka akan makan siang di kantin, yang menurut papan penunjuk arah, berada di sana. Ternyata perkiraan itu meleset. Mereka berjalan sampai area parkir mobil di lantai yang sama.
Alih-alih merespon pertanyaan cemas dari gadis pirang di sebelahnya, Athrun di posisi kemudi membuang muka ke sisi lain. Entah untuk memperhatikan kaca spion samping atau sekedar melengos. Tak berselang lama, jarinya menjentik tuas lampu sen, diikuti gerak kedua tangan pada setir. Mobil berbelok dan segera menepi ke lobby sebuah kafe yang terlihat mahal.
Tampaknya mereka telah tiba di tujuan. Perjalanan singkat yang hanya berkisar lima menit dari Archangel Building diakhiri dengan aksi Athrun mempercayakan tunggangan mewahnya pada petugas valet parking. Awas dengan situasi, Cagalli mengikuti Athrun turun dari mobil, berjalan menuju bagian dalam kafe.
.
Seperempat jam telah berlalu sejak makanan dan minuman yang dipesan oleh kedua copywriter Haro Green lengkap tersaji. Atau tepatnya, makanan dan minuman yang dipesan oleh Athrun, mengingat Cagalli hanya meniru apapun pesanan Athrun. Hal itu Cagalli lakukan karena sejengkel apapun dirinya pada pemuda di hadapannya, tetap saja ia merasa tak enak makan minum dari uang milik orang lain. Apalagi harga-harga yang tertera di menu kafe ini jelas tidak masuk kategori ramah kantong.
Cagalli menyeruput lagi lemon tea hangat yang masih tersisa setengah cangkir. Minuman tersebut disajikan panas mengepul di awal, sehingga kehangatan teh bisa awet sampai cukup lama. Tiap tegukan membawa rasa nyaman yang terpancar pada wajah polos Cagalli. Masuk akal, mengingat dirinya lelah kedinginan sejak pagi. Tanpa ia sadari, Athrun memperhatikan tingkah lakunya.
"Kau benar-benar sekampungan itukah, sampai tidak pernah merasakan lemon tea?" pertanyaan ofensif keluar begitu saja dari mulut Athrun. Meski kata-katanya tergolong kasar, ekspresi datar tetap menggelayuti wajah tampannya.
"Jangan sembarangan, ya! Ini minuman favoritku sejak kecil," tangkis Cagalli. Untung saja air teh tidak menyembur keluar dari mulutnya. Sekilas dirinya teringat kantin sekolah SD, tempatnya pertama kali mengenal kenikmatan lemon tea hangat di hari hujan. Tempat di mana dulu ia dengan sukarela memperhatikan Athrun dari jauh.
"Ah, benar!" di benak Cagalli tercetus sesuatu.
"Hei Athrun, apa kau mengenalku? Maksudku, sebelum hari ini?" kali ini pertanyaan konfirmasi terlontar dari bibir Cagalli yang berselimut basuhan air teh dan sisa lip balm.
Sang pemilik rambut biru terdiam sejenak, menghadapi pertanyaan mendadak yang terkesan out of topic dari gadis pirang di hadapannya. Jemari di tangan kanannya bergantian mengetuk permukaan meja kafe dalam ritme cepat, seolah ada piano tak kasat mata di sana.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Baiklah," sahut Cagalli, tak tahu harus merasa sedih atau apa atas jawaban Athrun.
Sejujurnya Cagalli sudah memprediksi jawaban tersebut. Di sisi lain, ia penasaran apakah penampilannya berubah sedrastis itu sejak lulus dari Sekolah Dasar. Atau mungkin saja, sejak awal, Athrun kecil memang tidak pernah mengingat keberadaannya sebagai teman sekelas.
Cagalli mengambil nafas.
"Pertanyaan kedua..."
Belum sempat diajukan, kata-kata pertanyaan harus tertahan oleh gerakan tangan Athrun dalam gestur menginterupsi.
"Kita ke sini bukan untuk sesi interogasi," kalimat sedingin es kembali meluncur dari mulut Athrun. "Cepat habiskan minumanmu, lalu kita kembali ke kantor."
"Ini masih jam 1 lewat 40, kok! Masih ada waktu," tawar Cagalli. Mata ambernya melirik jarum-jarum jam pada jam tangan branded milik Athrun, yang rupanya cukup menyembul dari balik lengan sweater hijau.
Selayaknya perusahaan masa kini, Haro Green memberi kompensasi waktu bagi pegawai yang kesempatan makan siangnya terlewat akibat kewajiban kerja. Jangankan kompensasi, sesaat keluar kantor untuk membeli snack, atau untuk refreshing di jam kerja pun tak masalah. Selama pekerjaan beres dan pegawai siap hadir saat atasan mencari.
Athrun memeriksa jam tangannya. Benar saja, masih ada dua puluh menit menuju akhir kompensasi waktu istirahat. Sadar jam tangannya sejak tadi diperhatikan oleh Cagalli, Athrun menyembunyikannya dengan cara menyilangkan kedua lengan di depan dada.
"Oke, go ahead," kini Athrun mempersilakan Cagalli bertanya.
"Aku tahu kita seumuran. Nah, bagaimana bisa kau mencapai posisimu di usia sekarang? Bukankah untuk menempuh S2 saja butuh waktu?" tanya Cagalli blak-blakan. Sudah kepalang dianggap kampungan, ia tak akan peduli kalau sampai mendapat cap kepo dari lawan bicaranya.
Sang pemuda menghela nafas. Meski sudah menyebut kata "interogasi", sesungguhnya dirinya tak menyangka pertanyaan Cagalli betul-betul akan mengorek latar belakangnya.
"Fast track. Aku menempuh pendidikan S1 dan S2 yang dipadatkan dalam satu program, sehingga bisa lulus semuanya lebih awal. Setelah itu langsung bekerja," terang Athrun. Nada bicaranya cukup menyiratkan kebanggaan akan diri sendiri. Sungguh seorang Zala sejati.
"Ooo," mulut Cagalli membulat. Sekarang ia paham apa yang bisa dicapai oleh orang lain selama rentang waktu dirinya membantu mengelola butik bibinya. Ternyata bukan semata karena privilege.
Masih ada satu hal lagi yang ingin Cagalli ketahui, yakni mengapa perusahaan harus merekrut Athrun padahal sudah ada dirinya. Tapi rasanya lebih baik pertanyaan itu ia tujukan pada orang lain. Entah siapa.
Athrun mengangkat cangkirnya, menyesapi teh lemon yang tersisa di dalam sampai habis. Untuk beberapa saat kepalanya menengadah, membuat rambutnya yang sedikit panjang jatuh menyentuh bagian belakang bahunya.
Tak lama berselang, postur duduknya kembali tegak. Mata emeraldnya menatap lurus menuju pandangan Cagalli.
"Karena kau begitu ingin tahu, biar kuberitahu satu hal lagi," giliran sang Zala muda yang angkat bicara. "Tentang komitmen Andrew, yang dikatakannya untuk meyakinkan Dullindal."
Seketika Cagalli meletakkan serbet yang sedang digunakannya untuk mengelap mulut. Mata ambernya berkilat, menatap balik pada Athrun yang berinisiatif membaginya sebuah 'rahasia'.
Tentu bagi Cagalli hal ini terasa seperti rahasia, mengingat dirinya keluar dari Meeting Room A lebih awal dibanding Athrun.
"Coba jelaskan," pinta Cagalli.
"Seperti yang sudah kau dengar darinya, Andrew mengharapkan kita berdua bisa bekerjasama sebagai team. Itu demi mencapai target marketing. Karena semakin Haro Green berkembang, semakin besar pula tekanan dari para investor dan perusahaan partner," Athrun memulai penjelasannya.
Cagalli mengangguk pertanda paham. Ia teringat cerita Miriallia, bahwa sebelum dirinya datang mengisi posisi Copywriter in house, Haro Green hanya mengandalkan jasa freelancer untuk pekerjaan copywriting. Direkrutnya Cagalli dan Athrun jelas merupakan tanda keseriusan perusahaan dalam mengejar target.
"Mulai sekarang Andrew menetapkan sistem reward and punishment yang ketat. Itu artinya, jika teamwork kita sukses, Andrew siap menaikkan jabatan. Dia menjanjikan posisi Marketing Manager. Tawaran ini juga berlaku untukmu," lanjut Athrun.
"Benarkah?!" reaksi kaget Cagalli tidak kalah mengejutkan bagi orang lain. Pengunjung kafe di meja sebelah sampai menengok ke arahnya. Namun gadis itu tak peduli. Posisi dan gaji yang lebih bergengsi rasanya lebih penting untuk ia pikirkan.
"Ya. Tapi, jika ada di antara kita yang gagal mencapai target atau sampai merugikan perusahaan, Andrew tidak akan segan menendang orang itu dari Haro Green."
Athrun mengambil jeda sesaat. Entah disengaja atau tidak, wajahnya sedikit mendekat ke wajah Cagalli. Sorot matanya berubah menajam.
"Kau tahu, pekerjaanmu merupakan bagian dari tanggung jawabku sebagai Senior Copywriter. Tak akan kubiarkan kau merusak reputasiku. Kalau sampai kau mengacau, bersiaplah, akan kuhabisi karirmu lebih dulu!"
A/N
Gelud! Gelud! Satu chapter gelud! xD
Maaf OTPnya sementara diadu dulu. Mereka ga berantem sih, cuma sama-sama keras.
Eh ini udah masuk power harassment ya? *tutup muka*
Tenang aja, Cagalli kuat kok!
Fast track kuliahan Ilmu Komunikasi beneran ada kan ya? Anak komunikasi, maafin saya yaa kalo salah.
Terima kasih masih rela baca fic geje ini. See you in the next chapter!
Trivia:
Sebagian besar lokasi terinspirasi dari berbagai tempat di Jakarta.
Tepatnya sekitaran JakSel yang ga selatan-selatan amat xD
