Disclaimer: Gundam SEED (dan GSD) beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.
Warning: AU, OOC, office life ribet, mainly Asucaga pairing.
Chapter 6
"Baik, aku mengerti. Tidak, Ibu tidak perlu datang. Semua baik-baik saja. Nanti kita bicarakan lagi. Biar aku saja yang mengunjungi Ibu dan Ayah, saat jadwal kita cocok. Tolong sampaikan pada Ayah. Iya. Sampai jumpa."
Athrun menghela nafas sesaat setelah menutup sambungan telepon. Bagian bawah sweater turtleneck hijaunya sedikit tersibak ketika tangannya menelusupkan smartphone ke dalam saku celana.
Sekembalinya ke ruangan kantor, terlihat para rekan kerjanya sudah berkumpul mengelilingi meja tempat hidangan disajikan. Dekorasi sudah terpasang rapi. Office party pasti akan segera dimulai. Athrun mengecek jam tangannya yang bernilai setara sebuah mobil baru di negeri ORB. Benar saja, sudah kurang dua menit dari jam enam sore.
Sejujurnya ia tak begitu berminat untuk mengikuti acara tersebut. Tapi apa boleh buat, MD Andrew mengharapkan seluruh pegawai Haro Green untuk hadir. Athrun pikir mungkin sudah jalannya untuk berbaur dengan orang-orang di kantor barunya. Tidak apa-apa. Toh orangtuanya baru saja membatalkan janji temu dengan dirinya.
.
Acara dibuka dengan sambutan yang cukup meriah dari Andrew. Melihat interaksi Andrew dengan para pegawainya seharian ini cukup membuat Athrun kagum. Bukan hanya piawai dalam menjalankan perusahaan, sang MD juga jelas memiliki skill yang tinggi dalam bersosialisasi. Suatu skill yang belum Athrun miliki.
Setelah sambutan dan sesi foto bersama usai, dimulailah sesi menyantap hidangan. Terasa aneh bagi Athrun, melihat bagaimana para rekannya berebut makanan. Terutama pizza dan donat. Menempuh pendidikan di ZAFT membuatnya sudah bosan akan kedua opsi makanan itu. Maka pilihan sang Senior Copywriter jatuh pada menu salad dan burger sehat yang menjadi produk andalan Haro Green. Lagipula untuk bisa memasarkan, sudah semestinya ia mengenal produk dari sudut pandang konsumen, bukan?
.
Perut sudah terisi. Kali ini Athrun menjatuhkan pilihan minumannya pada jus kotak. Mungkin semestinya ia memilih sampanye untuk mempererat bonding dengan bosnya, atau mungkin bir supaya bisa bercengkrama lebih akrab dengan para pegawai yang lain. Namun dirinya ingat masih harus mengemudikan mobil untuk pulang.
Sebenarnya Athrun bukanlah orang yang mudah mabuk. Hanya saja kebiasaan overthinking membuatnya berandai-andai, bagaimana jika dirinya mabuk sampai mengakibatkan kecelakaan terkait DUI (driving under influence). Sesuatu yang sangat tidak ia harapkan untuk terjadi di hari pertama kerja.
"Kau gila, Milli. Mana bisa aku pulang baik-baik naik kereta kalau aku menyentuh alkohol sekarang."
Athrun menengok ke arah sumber suara. Terlihat rekan sejawatnya terlibat percakapan dengan gadis berambut coklat melenting yang baru saja mempertanyakan soal sampanye.
Senyum tipis tiba-tiba tersungging di bibir Athrun. Rupanya tidak hanya dirinya yang overthinking, bukan, berhati-hati dalam menentukan keputusan supaya bisa pulang kantor dengan selamat.
Sesaat kemudian terdengar panggilan dari Andrew pada kedua gadis di hadapan Athrun. Seakan refleks, sang pemuda berambut biru turut melangkah mendekati sang MD dan melihat apa yang ditunjuknya. Sepiring fruit cake yang sekilas tampak asing. Anehnya, Athrun merasa sudah pernah melihatnya. Rasanya dulu sekali ibunya pernah membuat kue yang sama. Dulu saat keluarga Zala tinggal di Onogoro. Saat mendapat kiriman buah hasil perkebunan milik Tuan Athha.
"Bagaimana, Cagalli? Persis seperti yang di kampung halamanmu Onogoro, kan?" tanya Andrew dengan diiringi tawa menggelegar.
Athrun tersentak.
"Onogoro?"
Sebuah pertanyaan repetisi meluncur dari mulut Athrun tanpa permisi. Kini beberapa pasang mata berbalik menatapnya.
Interupsi dari sang pemuda bukan tanpa alasan. Sebuah pemahaman merasuki benaknya. Matanya kemudian memindai rupa sang Copywriter dari atas sampai bawah, dalam tempo yang amat singkat.
Rambut pirang yang masih agak berantakan akibat terguyur hujan. Sepasang mata amber. Tubuh langsing seolah tertelan t-shirt oranye menyala. Sepatu loafer yang bagian dasarnya cukup ternoda oleh lumpur kering.
Banyak hal yang berbeda. Namun secara keseluruhan, Athrun yakin pernah mengenal gadis itu sebelumnya. Lagipula nama itu bukanlah nama yang umum ditemui.
"Kau, Cagalli… Yula Athha?" dengan terbata Athrun mencoba memastikan.
"Uh-huh. Memangnya kau belum lihat… Ah iya, kita belum pernah saling berkirim email," jawab Cagalli profesional. Nama lengkap pengirim biasanya akan terpampang pada salam penutup dan juga kolom alamat email.
Sebenarnya Cagalli memahami situasi bahwa Athrun terlambat mengingatnya sebagai teman sekelas saat bersekolah di Onogoro. Hanya saja dirinya ingin sedikit bermain-main.
"Maksudku, apa benar kau Cagalli Yula Athha yang itu? Tapi sudahlah. Kau juga sudah mengiyakan," ujar Athrun. Jelas ia berusaha menutupi rasa penasarannya.
Cagalli yang dulu dikenal oleh Athrun adalah gadis kecil tomboy dengan tubuh agak berisi. Meski tomboy, sepatunya selalu mengkilap setiap kali tiba di sekolah. Perlengkapan sekolah yang dibawanya pun tergolong mahal.
Predikat sebagai putri tunggal Uzumi Nara Athha, juragan perkebunan terkemuka di Onogoro, membuat sang gadis kecil selalu dibuntuti oleh seorang wanita pengasuh dan seorang supir setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Athrun ingat betul bagaimana dirinya dulu merasa agak kasihan melihat Cagalli kecil terkekang oleh 'pasukan' utusan Tuan Athha. Padahal sang gadis kecil terlihat tidak suka diperlakukan layaknya tuan putri.
Diam-diam Athrun kecil memang sering memperhatikan Cagalli kecil. Bukan karena menaruh hati, tapi karena tiga alasan khusus. Pertama, mereka bersaing memperebutkan posisi juara kelas. Kedua, orangtua mereka terlibat urusan bisnis pada saat itu. Ketiga, Athrun merasa cukup senasib.
Status keluarga mereka masing-masing membuat sebagian guru dan teman sekelas bersikap segan pada mereka. Padahal saat itu mereka bersekolah di SD swasta kelas atas, yang mana murid-murid lain pun berasal dari keluarga berada. Yah, walaupun disegani, tak jarang juga Athrun kecil menangkap gelagat aneh dari murid-murid perempuan kepada dirinya.
"Memangnya," untuk kedua kalinya suara Cagalli memotong sesi nostalgia di kepala Athrun.
"Apa pendapatmu tentang diriku yang sekarang?" goda Cagalli, seakan tahu ke mana arah pikiran Athrun sejak semenit yang lalu.
Athrun terdiam. Sesaat kemudian ia menemukan jawaban yang tepat untuk menjaga image-nya.
"Well, setidaknya aku tahu kau tidak bodoh."
.
.
.
Bulan purnama menampakkan rupanya di sela gedung-gedung pencakar langit. Pemandangan malam metropolitan terpampang jelas dari luar jendela kantor Haro Green.
Sedangkan di dalam ruangan kantor, suasana beranjak sepi. Sebagian hadirin pesta sudah pulang. Sebagian lain yang masih tersisa terlihat sibuk mengumpulkan sampah. Waktu memang telah menunjukkan pukul 21.30. Pesta telah usai.
Setelahnya mereka berpamitan satu sama lain. Tampak Andrew berjalan meninggalkan kantor beriringan dengan beberapa pegawai. Suara selorohnya bergema di koridor meski terdengar makin jauh.
Tak berselang lama, seseorang menepuk bahu Cagalli. Ternyata Miriallia dengan wajah yang memerah. Entah berapa banyak minuman yang telah ditenggaknya.
"Aku pulang duluan. Maaf ya, aku harus buru-buru. Dearka mulai sewot karena terlalu lama menunggu. Kau pulangnya bagaimana?" Miriallia masih sempat memikirkan Cagalli, meski ekspresi campur aduk antara senang dan panik terpampang di wajah merahnya.
"Ah, iya duluan saja. Kau buru-buru, kan? Aku sebentar lagi juga pulang. Kereta masih beroperasi kok, sampai tengah malam. Pokoknya aman," jawab Cagalli meyakinkan teman kantor kesayangannya. Lengkap dengan gestur mengacungkan jempol.
"Oke kalau begitu. Byeeee!" Miriallia melambaikan tangan sebelum akhirnya melesat menuju lift.
.
Seorang diri Cagalli berjalan menyusuri koridor yang mengarah pada lift. Ssigh sudah pulang sejak lama karena ada urusan. Stellar dan DaCosta masih sibuk mengembalikan kondisi kantor seperti semula. Sedangkan yang lain, entahlah. Athrun yang tadi sempat berinteraksi dengannya pun, kini Cagalli tak tahu keberadaannya. Mungkin sudah pulang lebih awal dari dirinya.
Lift mencapai lantai dasar. Tujuan pertama sang gadis pirang begitu keluar dari lift adalah meja resepsionis gedung. Saatnya mengambil kembali kartu identitasnya dengan cara mengembalikan visitor card. Besok ia tidak memerlukan visitor card lagi, berhubung DaCosta telah memberinya name tag merangkap access card baru untuk naik turun lift di Archangel Building.
Setelah menyimpan kartu identitasnya dalam dompet, Cagalli meneruskan langkahnya ke arah pintu keluar gedung. Selanjutnya ia akan berjalan sepuluh menit menuju Stasiun Heliopolis Central.
Suasana di luar lobby gedung ternyata malah membuat langkah Cagalli terhenti. Mata ambernya menangkap pemandangan yang asing. Area sekitar Archangel Building tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang mungkin baru pulang kerja lembur. Seperti kontras, jalan raya di luar area tersebut selalu ramai tanpa kenal waktu. Kemudian Cagalli menatap ke atas. Bulan purnama bersinar lemah di ketinggian, seakan rela mengalah pada terangnya lampu kota.
Begitu menundukkan kembali pandangannya ke level ground, Cagalli tersentak. Sisi samping sebuah sedan mewah berwarna marun metalik tiba-tiba sudah terpampang di hadapannya. Hanya semeter dari tempatnya berdiri. Sedan yang sudah dinaikinya dua kali hari ini.
"Apa pula ini?" batin Cagalli.
Jendela mobil perlahan turun, menampakkan sosok pemuda di balik kemudi yang berada di sisi berlawanan. Jelas itu adalah Athrun, meski warna biru rambutnya tersamar oleh gelap malam.
"Ayo naik," ucap sang pemuda singkat.
"Hah?" Cagalli masih terheran.
"Kau mau ikut, tidak?" Athrun menjelaskan tawarannya. Suaranya terdengar lebih keras kali ini.
"Apakah tinggal di ZAFT membuatmu terobsesi untuk menculik orang?" alih-alih menjawab, Cagalli justru membalas tawaran Athrun dengan pertanyaan sinis.
"Apanya yang menculik? Ayo kuantar ke stasiun! Ini sudah malam. Tapi hanya kali ini saja kuantar ya, jangan berharap untuk seterusnya!"
Rentetan kata-kata Athrun membuat Cagalli menghela nafas. Sang gadis pirang sudah terlalu lelah untuk berdebat. Lagipula tumpangan gratis sampai stasiun sepertinya tidak buruk untuk menyimpan energi. Perjalanan pulang ke Kaguya masih panjang.
"Haaah… Kenapa tiba-tiba kau jadi cerewet, sih? Ya sudah, aku ikut. Terserah kau lah," jawab Cagalli pasrah. Tangannya meraih handle pintu mobil.
A/N
Semoga tulisan di chapter ini nggak bingungin ya,
berhubung point of view kayak ganti-ganti ^^;
Padahal cerita ini seluruhnya sudut pandang orang ketiga hehehe.
Terima kasih udah setia baca sampe sini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
