Doragon No Otou ~ san
Disclaimer
Naruto Shippuden ( Masashi Khisimoto) X Highschool DxD ( Ichie Ishibumi)
Genre : Comedy, Supernatural , Action
Pair : -
Summary :
Author Note : Ada sedikit perubahan pada fanfic ini : 1. Perubahan genre, 2. Perubahan summary, 3. Visualisasi karater Albion Versi Humanoid bisa melihat Alice dengan pakaian pasukan kerajaanya di Anime SAO Alicization dengan perombakan kostumnya berwarna putih garis-garis biru dan rambutnya berwarna putih, nanti author usahakan mencarikan di Pinterest untuk memudahkan memvisualisainya. 4. Visualisasi Naruto yang berumur antara 25-30 tahun seperti ayahnya Minato dengan whisker tipis dan pakaian khas kantor atau guru, kemeja putih celana hitam.
Untuk tanda baca yang kemarin hilang di pertengahan cerita author mohon maaf itu kesalahan teknis ketika upload sebelum publish.
Terima kasih kepada reader yang berkenan membaca dan mereview fanfic ini. Mohon masukan dan sarannya untuk kemajuan fanfic ini. Salam Fanfiction Indonesia. Untuk gabung grup WA bisa PM ke akun ini atau taruh kontak WA di review.
"Bla...Bla" = Berbicara
'Bla...Bla' = Batin
Chapter 2 : Apakah sekolah lagi adalah pilihan terbaik ?
Dulu dirinya sangat membenci yang namanya sekolah/akademi. Namun sepertinya Tuhan mengutuknya untuk tidak jauh dari yang namanya akademi/sekolah. Dan sekarang dirinya menjadi salah satu guru di akademi terbaik di kota tersebut. Akademi kuoh.
TING
"Naru ~ kun, aku kangen". Naruto membaca pesan yang dikirim salah satu rekan guru mengajarnya di Akademi Kuoh, Hase mesum, begitu dia memanggilnya. Naruto merasa bersalah pernah memberikan perhatian lebih kepada Hasegawa-sensei dan sekarang dirinya kena imbasnya. Hasegawa-sensei selalu menempel dan menggodanya. Jangan lupakan tatapan sensei-sensei Akademi Kuoh lainnya yang menatapnya dengan pandangan membunuh.
TING
TING
TING
TING
Belasan chat masuk ke handphone canggih yang dimiliki Naruto dengan pengantar pesan yang sama sebelumnya. Mata Naruto melotot dan hidungnya mulai mengeluarkan darah (Nosebleed). Bukan main-main lagi, Hasegawa-sensei bukan hanya mengirimkan pesan bernada menggoda lagi, tetapi mengirimkan foto-foto syurnya ke Handphone Naruto. Foto Hasegawa lagi memakai bikini, fotonya lagi mandi, dan belasan foto-foto syur lainnya.
...
Jauh di seberang sana, di salah satu ruang guru Akademi Kuoh, Hasegawa-sensei mencoba untuk menahan tawanya. Baginya, menjadi kesenangan tersendiri menggoda rekan gurunya itu. Naruto sensei, satu-satunya guru di Akademi Kuoh, yang tidak terjebak pesonanya dia.
"Hase-chan ada apa?". Tearju sensei melihat rekan gurunya senyum-senyum sendiri.
"Tidak ada apa-apa Tear-chan, hanya merasa senang saja hari ini". Hasegawa memasukan Handphone canggihnya ke saku rok gurunya.
"bukannya kau ada jam saat ini Tear-chan"
"Oh God...aku lupa, aku duluan Hase-chan". sang sensei pirang langsung bergegas keluar ruang guru, dirinya lupa kalau ada jam mengajar pagi.
BRUKK
"Awww"
Hasegawa-sensei geleng-geleng kepala dengan kecerobohan salah satu rekan gurunya."Pasti Tear-chan jatuh lagi".
'Hmm Naru-kun, aku tak sabar'. Hasegawa melenggang pergi dari ruang guru.
...
Seperti dipagi-pagi sebelumnya, Naruto berjalan menyusuri jalanan Kota Kuoh yang yang tidak terlalu padat. Bukannya apa, dirinya bisa saja membeli mobil sekelas Lamborgini atau ferrari untuk dipakai pergi ke Sekolah, toh uang yang selama ini dia dapat dari pekerjannya tidak habis dipakai 7 turunan. Lalu mengapa kamu bekerja? masih terngiang-ngiang pertanyaan Azazel waktu itu.
"Ya, mengapa aku bekerja?". Bibirnya ikut menggumamkan pertanyaan yang sama.
"Naruto-sensei"
"Eh Sitri-san, aku tak melihatmu".
Lamunannya membuat dirinya tak sadar ternyata salah satu siswanya ada di depannya, terlebih lagi dia adalah Ketua OSIS Akademi Kouh.
"Sensei tidak ada jam mengajar pagi?". Souna ikut berjalan di samping senseinya tersebut. Dan well Naruto tidak mempermasalahkannya, toh dia muridnya dan ini bukan pertama kalinya buat mereka berdua. Yang jadi masalah adalah tatapan orang-orang yang berjalan di sekitarnya, tatapan iri yang membuatnya risih.
"Nope, bagaimana denganmu Souna, ini sudah lewat jam untuk siswa masuk kelas?". Memiringkan kepalanya ke samping melihat sala satu murid didikannya. Seperti biasa Souna denga roman muka non ekpresif.
"Sensei pikun? Aku ini OSIS".
Ah ding, Naruto lupa kalau Souna adalah OSIS, terlebih lagi jabatan yang dia pegang adalah ketua OSIS di Kuoh Akademi, OSIS punya banyak keiistimewaan, dan ini salah satuya. tapi nada pedas dari mulut salah satu muridnya membuat Naruto ingin melakban mulut Souna. Melihat bibir tipis Souna entah kenapa Naruto ingin merasakannya.
'Uhhh, dia muridmu bego, apa yang kau pikirkan'. Naruto mencoba menahan nafsunya.
"Sensei hentikan tatapan mesummu atau kucolok matamu". Souna ini cenayang atau apa, dia selalu bisa menebak apa yang dia pikirkan atau ketika pikirannya berubah haluan menuju "mesum".
"Hei...a...aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu" Naruto mengelak.
"Hoohhh". Bukan lagi wajah non ekspresif yang muncul tapi seringai jahil di wajah Souna. Sepertinya Souna mula lagi deh.
"Lalu mengapa kata-katamu bisa terbata-bata begitu".
"Hei siapa yang terbata-bata, mulutku kemasukan semut, ya semut. Naruto mencoba mengelak dengan alasan konyol yang dibuat buatnya.
"Bodo amat, sensei mesum"
"Weeek"
Souna menjulurkan lidahnya sembari berlalu meninggalkan senseinya dalam keadaann dongkol. Bocah kampret. Ndak naga, ndka iblis bahkan manusia, selalu saja membuatnya kesal dengan makhluk bergender perempuan.
Meliha Souna menjauh, Naruto jadi ingat bagaimana pertemuannya dengan Souna di perpustakaan terbesar di Kota Kuoh. Bukan pertemuan istimewa sebenarnya, hanya pertemuan biasa antar sesama penggemar buku, pertemuan yang tak disengaja. Padahal dulu dirinya anti dengan yang namanya buku.
Dari pertemuan pertama tersebut berlanjut dengan diskusi. Naruto juga tahu Souna iblis dan dunia iblis, dirinya berasalan pernah menjalin kontrak dengan bangsa iblis. Dirinya dan Souna sering mendiskusikan banyak hal, mulai dari kehidupan manusia, tentang iblis hingga tatik perang. Dan Souna akui, pengetahuan yang dimiliki Naruto berbanding terbalik dengan umurnya, sudah bukan menjadi rahasia, kadang-kadang Souna meminta saran kepada Naruto. Sampai saat ini mereka selalu punya waktu khusus berdua di perpustakaan kota Kuoh. Bahkan peerage Souna tidak ada yang tahu.
"Naruto kia perlu bicara".
"Oh shiitt. Masalah barupun muncul. Monsternya para naga muncul di depannya. Ibarat pohon pisang, mati satu tumbuh seribu, menghilang 1 betina muncul betina-betina lainnya.
"Maaf siapa ya'. Naruto purapura bego.
Sepertiya dia harus minta izin hari ini untuk tidak mengajar.
...
"Couggh".
Darah kental keluar dari mulut Vali. Tubuh telanjang dadanya dibuat bertekuk lutut didepan musuh yang menjadi lawan sparringnya. Albion dengan bentuk Humanoid Full Armored putih garis-garis biru. Jangan lupa sayap mekanik putih yang biasanya bertengger di pundak Vali kini bertengger di pundak sang lawan. Jadi inikah yang selama ini dirasakan musuh-musuhnya?.
"Saa...bagaimana rasanya berhadapan dengan kekuatan sendiri?". Albion menyeringai kejam.
"Cih... ini baru permulan, jangan s..."
WHUSS
BLARR
Vali tidak diberikan kesempatan bicara. Vali terpaksa backroll jika tidak ingin kepalanya terbelah menjadi 2 oleh pedang Albion. Tebasan pedang besar putih mengkilat Albion hanya bertemu tanah, menciptakan sebuah kubangan besar berukuran 50 centimeter.
"Upsss tanganku terpeleset"
"Hey kau mau membunuhku"
"Oh ayolah itu tak mungkin bisa membunuhmu". Albion berkilah, pedang besarnya kembali dia sandarkan di bahunya. Pedang besar kelas berat dengan jenis pedang seperti pedang Shinobigatana.
Medan tempat mereka berlatih hampir tidak berbentuk. Ruang dimensi yang awalnya seperti gorong-gorong disulap seperti replika Kota Kuoh kini hanya tinggal puing-puing. Lubang-lubang besar tercipta dimana-mana. Jual beli serangan yang sebelumnya terjadi antara Demonic power milik Vali dengan kekuatan sejati "Divine Dividing" lah yang menjadi penyebabnya.
"Hari ini cukup sampai disini Lucifer". Albion berbalik meninggalkan Vali yang masih bertekuk lutut. Kekuatan iblisnya benar-benar terkuras habis. Pertarungan yang awal-awalnya seimbang berubah jadi "pemburuan". Vali bersyukur dirinya bisa bertahan sampai 10 menit dengan kekuatan iblisnya. Tapi dirinya tahu, benar-benar tahu, 10 menit tersebut hanya main-main bagi Albion. Ya dirinya hanya mainan.
Serangan gila-gilaan dari Albion membuat dirinya harus menguras pikiran dan tenaganya. Menghindar, memblock, menangkis, memukul adalah pelajaran-pelajaran dasar yang didapatkannya lagi. Katakan, arogansinya dulu membuatnya lupa akan hal itu. Vali hanya tahu menghajar, memburu dan membagi.
"Ah satu lagi Lucifer"
"Selama kau tidak menerima dirimu sepenuhnya, jangan harap kau bisa mengunakan kekuatan sejatiku". Dimensi tempat mereka berlatih seketika berubah jadi gorong-gorong lagi. Albion menghilang dibalik kegelapan gorong-gorong.
"Kekuatan sejatimu?, apa maksudmu?". Vali merasa Albion sudah sepenuhnya memberikan kekuatannya kepadanya. Kekuataan gila-gilaan dari mode terlarang sudah membuktikan itu.
"Bukannya [mode terlarang] adalah level tertinggi dari Sacred Gear?"
"Heh jangan salah,itu hanya 2/5 dari kekuatan ku saja". Suara berat khas naga menyahut dari kegelapan.
Seingat Albion terakhir kali dia menggunakan kekuatannya fullnya buat mengecilkan tempat tinggal rivalnya si tete gede Ddraig, Pulau Agares di Underworld yang sekarang. Yahhh cerita lama salah satu bagian dari Great War. Andai saja bukan karena permintaan orang yang dipanggil ayah, mana mau dia melatih inangnya.
"Aku mau tidur, pergi sana".
Vali ditendang keluar paksa dari dimensi tempatnya baru saja berlatih.
"Kau sudah bangun Vali-nyaan"
"Ku kira kau mati-nyaan, aku hampir saja menjilat seluruh tubuhmu-nyaan, supaya ka bangun-nyaan". Vali terbangun dengan Kuroka yang mengelus-elus ekornya di tubuh Vali
...
Perpustakaan Kota Kuoh
Setelah kejadian dirinya di seret salah satu dari sekian anaknya, Sang Naga Penghancur Ophis. Naruto malah berakhir di Perpustakaan Kota Kuoh. Naruto tak habis pikir dengan kelakuan yang dia anggap "anak-anaknya", umur mereka bahkan ada yang mencapai ribuan tahun, tetapi kelakuan masih seperti anak-anak kecil berusia 6 tahun.
"Hufffttt...capeknya". Naruto menyandarkan kepalanya di salah satu meja di perpustakaan tersebut. Yahh Naruto baru saja menyelesaikan sedikit "Pertengkaran kecil" antara anak ke-2 nya dengan anak ke-3 nya, meskipun selisih umur mereka tak terpaut jauh. Alasannya cuma perebutan rumah.
"Aku tak tahu kapan mereka bisa dewasa?". Naruto masih bermonolog ria dengan cucuran air mata ala anime. Hilang sudah kesan wibawanya.
"Ma dia kenapa?". Seorang anak kecil menunjuk ke arah Naruto
"Huss biarkan saja". Ibu itu membawa anaknya pergi.
"Sensei, kau hobi membolos ya?".
Naruto menengok kesamping, terlihat sesosok perempuan dengan kacamata persegi dan baju casual biasa yang dipakai remaja, baju kaos dan rok ukuran selutut. "Tidak".
"Lalu kenapa aku tidak melihat sensei tadi pagi di akademi?". Souna memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot dan mengambil posisi duduk di sebelah Naruto. Jangan lupakan tatapan tajam matanya seolah-olah menyuruhnya berbagi tempat duduk. Padahal kursi di depan Naruto masih kosong.
Naruto menggeser posisi duduknya ke dekat jendela perpustakaan tersebut. "Ada sedikit urusan tadi pagi, aku sudah meminta izin ke kepala sekolah lewat Tear-Chan".
"Tear-Chan?".
"Ah..Maksudnya Tear sensei, ha.. ". Naruto tertawa kikuk. Bagamana bisa dia bisa salah menyebut nama rekan seprofesinya di depan sang murid.
"Hmmm". Souna masih fokus dengan buku yang sedang dibacanya, meskipun ada nada kesal terdengar dari suaranya.
"Ah..lalu bagaimana dengan kamu Souna, kurasa kamu masih sibuk seperti biasa?". Naruto mencoba membahas topik tentang Souna dan kesehariannya.
"Biasa saja...Dan sensei jangan mengalihkan pembicaraan, Jadi sejauh mana hubunganmu dengan Tearju sensei?"
DONG
Seperti di skak mat, Naruto dibuat mati kutu. Kalau sudah begini jalan satu-satunya yahh menceritakan yang sebenarnya kepada muridnya tersebut. Toh juga hubungannya dengan Tear-chan eh Tearju-sensei bukan hubungan terlarang. Mungkin kalau diminta menceritakan pengalaman dengan Hasegawa sensei, Naruto berpikir dua kali untuk menceritakannya.
"Dan jangan berbohong"
"Iya..iya...cerewet"
Meskipun Souna sedang fokus ke buku yang sedang dibacanya. Tetapi telinganya sudah siap sedia mendengarkan. "Sebenarnya..."
"Sebenarnya apa sensei?". Souna semakin dibuat penasaran oleh senseinya.
Tiba-tiba Naruto memajukan wajahnya ke arah Souna. Sontak Souna yang melirik dari ekor matanya benar-benar shock. 'A.. sensei-nya akan menciumnya?'. Tidak kuat menahan debaran di hatinya dan wajah sensei-nya yang semakin mendekat, Souna hanya mampu menutup mata.
10 MENIT SEBELUMNYA
Di mata Tsubaki, beberapa minggu ini Kaicho yang dia damba-dambakan, ehhem maksudnya yang dia hormati bertingkah sedikit aneh. Katakanlah seperti remaja normal yang sedang jatuh cinta. Beberapa kali dia memergokinya sedang senyum-senyum sendiri. Bahkan pernah suatu kali, Tsubaki tidak sengaja menemukan buku yang dibaca Souna. Lebih tepatnya Novel "Kisah Cinta Guru dan Murid".
Untuk mengantisipasi Kaicho tercintanya berada di jalur yang salah. Sudah menjadi tugasnya membuat Kaichonya di jalur yang lurus. Kaicho yang serius, stoic dan tentu saja disipilin. "Yoshhh hari ini pasti terungkap siapa hama yang membuat Kaicho seperti itu".
"Jadi Fuku-Kaicho apa yang kita lakukan disini?". Momo melirik-lirik sekitarnya.
"Bukannya ini Perpustakaan Kota Kuoh".
"Ya Fuku-Kaicho, kenapa harus kesini?, Bukannya perpustakaan Kuoh Akademi lebih besar dan komplit". Reya setuju dengan Momo, kenapa mereka harus capek-capek ke Perpustakaan Kuoh.
"Ikut aku". Kacamata Tsubaki berkilat seketika. Tsubaki berjalan ke arah rak-rak buku diikuti Reya dan Momo. "Apa kalian tidak merasa aneh dengan sikap Kaicho minggu-minggu ini?. Tsubaki masih membelakangi mereka berdua. Matanya masih fokus melihat-lihat ke deretan kursi-kursi perpustakaan, mencari sosok yang diikutinya selama ini.
"Maksudnya?"
"Apa ini berhubungan dengan Kaicho yang senyum-senyum sendiri, Fuku-Kaicho?". Ya Momo sama seperti Tsubaki, beberapa kali memergoki Kaichonya senyum-senyum aneh sendiri.
"Ya kau tepat Momo, misi kita kali ini untuk membasmi hama yang membuat Kaicho menjadi seperti itu"
"Menjadi Stalker?, Fuku Kaicho bukannya ini tindakan terlarang?". Celetuk Reya
"Bukan, isi misi negara, jika kita tak mengembalikan Kaicho seperti semula, dunia akan kacau". Tsubaki masih fokus mencari diantara deretan meja. Matanya fokus ke bangku dekat jendela."Itu mereka, tidak salah lagi itu Kaicho dan..."
Melupakan tentang misi negara aneh yang dikatakan Tsubaki. Reya dan Momo juga ikut melihat sosok yang menjadi target mata-mata mereka dari balik rak-rak buku perpustakaan Kota Kuoh.
"Naruto sensei". Seketika mereka bertiga shock melihat di deretan bangku tersebut. Ternyata yang selama ini membuat Souna bertingkah seperti remaja pada usianya adalah Naruto sensei.
"Tunggu...tunggu ... apa yang sensei lakukan itu". Tsubaki terbata-bata melihat adegan dimana Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Souna. Sementara Reya dan Momo mukanya mulai merah menahan malu melihat adegan tersebut.
"Harus dihentikan,,,itu pelecehan seksual...Souna-KU bisa ternodai". Tsubaki mengepal tangan erat. Penekanan kata "KU" bahwa tidak ada yang boleh menyentuh Souna miliknya. Siapapun itu, termasuk Naruto-sensei sekalipun. "Hei..hei Tsubaki chan mau kemana?".
"Mau melindungi Souna-KU".
...
Naruto semakin mendekat wajahnya ke Souna. Sementara Souna sudah kehilangan fokusya. Buku yang dibacanya terlepas dari tangannya, teronggok diatas meja. Nafasnya naik turun, bahkan aroma mulut senseinya tercium di hidungnya. "Lemon".
"Sebenarnya...aku mencintaimu Souna"
BUSHHH
Seketika wajah Souna memerah langsung. Senseinya meyatakan cinta kepadanya. Sesuatu yang ingin didengar-dengarnya, tetapi kenapa secepat ini. Tiba-tiba keluar asap dari kepala Souna, tak kuat menahan debaran jantungnya.
"Souna kau tidak apa-apa". Naruto khawatir tiba-tiba muridnya menjadi seperti orang linglung.
"Se...se...sensei...a...a..ku". Souna berkata terbata-terbata.
BRUGHHH
Souna jatuh pingsan dengan muka memerah merona.
"Aku hanya ...". Perkataan Naruto berhenti, pasalnya Souna tiba-tiba jatuh ke bahunya."...hanya bercanda". Sepertinya iya pingsan. Naruto hanya tersenyum melihat Souna. Naruto mencoba mengelus kepala yang ditumbuhi rambut sepundak milik Souna.
"Pasal 28 UU Perlindungan Anak, Anda melakukan pelecehan Seksual". Tsubaki yang sebelumnya mengintip tiba-tiba sudah ada di depan Naruto, lengkap degan Souna yang sudah berbaring di pundak Naruto. "Sensei".
"Mampus aku". Batin Naruto merasa dirinya kepergok berbuat mesum. Padahal dia hanya bercanda saja.
"Tsubaki Chan itu bukan yang seperti kau bayangkan"
"Pelecehan tetap pelecehan sensei". Tegas Tsubaki. Sementara orang dibelakangnya Momo dan Reya mengangguk-angguk tanda setuju.
"Aku akan melaporkannya ke Dewan Kehorm...".
"Fuku Kaichoooooo...".Teriakan muncul dari pintu masuk ruang perpustakaan tersebut. Perkataan Tsubaki terhenti oleh teriakan seseorang yang bisa diindikasikan itu sebagai suara cowok.
"Saji apa yang kau lakukan disini?"
"Hah...hah...Seharusnya aku yang bertanya begitu". Balas Saji masih dengan nafas ngos-ngosannya. Saji berlari kesana kemari hanya untuk mencari keberadaan Fuku Kaicho dan Kaichonya.
"Lalu dimana Kaicho?"
"Itu di depanmu". Reya yang menyahut. Saji melihat di depannya. Souna berbaring di pundak cowok. Ikemen lagi. Tanpa sadar kalau cowok itu adalah gurunya.
"Hei apa yang kau lakukan pada Kaicho-Ku". Saji menunjuk nunjuk orang di depannya. Bagaimana bisa orang itu membuat Souna Kaicho tercintanya bersandar di pundaknya?Apa dia menggunakan obat tidur? Sihir?.
PLETAK
Kepala saji dipukul oleh Tsubaki menggunakan buku yang ada di meja yang dibaca Souna sebelumnya. "Saji aku sudah mengurus itu, jadi apa tujuanmu kesini?".
Ah ya Saji baru ingat. Buchou dari Occult Kenkyu Bu memintanya untuk memberi tahu Souna-kaicho bahwa utusan gereja sudah datang. Dan utusan tersebut ingin bertemu dengan penguasa Kota Kuoh, yakni Souna dan Rias. "Ano... Rias Senpai meminta Kaicho untuk datang sekarang ke Ruang Penelitian Ilmu Ghaib". Bisik Saji ke telinga Fuku Kaicho
"Hmm". Tsubaki juga menerima informasi itu beberapa hari lalu. Tetapi karena dirinya fokus dalam upaya melindungi (baca : Stalking) Kaicho tercintanya, dia jadi lupa informasi kedatangan utusan gereja.
"Ok..Kita kesana...Reya, Momo..bantu bawa Kaicho... kita kesana". Tsubaki beranjak dari tempatnya.
"Ah ya Sensei...urusan kita belum selesai". Mereka berempat pergi meninggalkan Naruto yang masih dalam keadaan "cengo".
"Ah sial kenapa aku selalu berakhir sial jika bertemu perempuan". Naruto mengucek rambutnya frustasi. Ah apa ini kutukan dari Kami-Sama karena dia pernah bercinta dengan naga. Hei itu wajar, lelaki juga butuh pelampiasan nafsu. Tetapi dengan siapa kamu bercinta, itu yang tidak wajar.
"Eh bukannya dia harus bertemu Issei hari ini"
Naruto baru ingat ada janji dengan Issei hari ini. Janji sesama lelaki. Katanya dia akan menunjukkan sesuatu yang wow. Oh ya Issei dari sekian iblis yang pernah melakukan kontrak dengan Naruto dari Occult Kenkyu Bu. Sekalian Naruto juga mau melihat Ddraig yang ada pada bocah itu.
"Sepertinya Issei di sekolah".
Occult Kenkyu Bu
Ruang penelitian ilmu ghaib tinggal hanya lantainya saja. Bangunan khas eropa 2 lantai itu hancur karena pertarungan peerage Rias dan utusan gereja. Taman disekitarnya membentuk lubang-lubang besar akibat serangan dari sihir milik utusan Gereja, Irina Shidou. Beruntung Souna dan beberapa peeragenya sudah datang untuk mengamankan situasi sehingga siswa-siswi Kuoh Akademi tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut. Tetapi ketegangan masih terjadi.
"Bisakah kita bicarakan ini baik-baik?". Souna memulai pembicaaraan, mencoba negosiasi dengan pihak gereja.
"Tidak ada lagi pembicaraan...IBLIS"
Penekanan kata "iblis" yang di ucapkan Xenovia menandakan tidak ada negosiasi lagi diantara mereka. Sementara posisi Irina sudah menyiapkan lingkaran sihir di belakang Xenovia. Di pihak iblis Souna sebagai garda terdepan iblis mewakili Rias yang sedang mengurus anggotanya. "Jadi sekarang apa yang kalian inginkan?"
"Serahkan gadis iblis itu". Tunjuk Xenovia ke arah Asia.
"Kalau kami menolak menyerahkannya?"
"Membusuk di Neraka sana".
Xenovia menerjang ke arah Souna. Durandal miliknya tepat diarahkan ke kepala Souna. Berniat menghancurkan kepala sang penerus Klan Sitri.
"Shield"
Lingkaran sihir yang diciptakan Souna melindungi kepalanya dari Pedang Durrandal Souna. Telat beberapa detik saja, kepalanya pasti sudah pecah jadi daging cincang. Daging cincang kesukaan Naruto. 'Ah sial kenapa aku malah memikirkan Naruto-sensei sih'.
KRAK
KRAK
Retakan mulai muncul di sihir pertahanan Souna. Xenovia semakin menekan pedang Durrandalnya, berniat membunuh Souna. Durrandal meresponnya dengan mengeluarkan aura sucinya yang gila-gilaan. Bahkan beberapa peerage Souna jatuh berlutut menahan aura gila-gilaan pedang tersebut.
CTARRR
BLARRR
"Kaichoooo"
"Souna"
Rias dan peerage Souna panik. Serangan pedang Durrandal Xenovia tepat mengenai Souna. Ledakan besar tercipta. kepulan asap tebal terbentuk di tempat Souna berdiri sebelumnya.
"Brengsek...aku tak akan memaafkanmu jika Kaicho terlu..."
Saji tak bisa menahan emosinya. Saji yang awalnya tak berkutik menahan kekuatan Durrandal, mencoba melawan ketakutan demi Kaicho tercintanya dia nekat maju. Emosi sudah menguasai pikirannnya. "..ka"
Kepulan asap menghilang, namun yang tersisa hanya Xenovia disana dengan pedang Durrandal, dan lubang..lubang besar tercipta. 'Dimana Souna-Kaicho?', batin mereka.
"Merepotkan"
Atensi mereka semua teralihkan ke belakang Rias. Sesosok orang dengan pakaian kantor berdiri gagah. Menggendong ala pengantin, seseorang yang mereka tahu itu adalah Souna. "Naruto sensei", teriak mereka.
"Ah ini Akademi Kuoh kan?Kenapa kalian membuatnya seperti taman bermain". Mereka hanya bisa sweatdrop'Taman bermain apanya'?".
"Sensei..be..berat"
"Eh Issei kenapa kau dibawah"
"Kau menginjakku sensei". Rintih Issei kesakitan. Sudah menerima pukulan pedang Durrandal karena gagal menggunakan Dress Break, sensei yang entah dimana datangnya dengan seenak udelnya menginjak perutnya. "Ah...maaf-maaf Issei".
Naruto menurunkan Souna dari gendongannya. Souna menahan malunya, baru saja dia menerima pernyataan cinta (palsu) senseinya, sekarang dia di gendong ala-ala pengantin. Ketika dirinya hampir ditebas pedang Durrandal, entah darimana senseinya datang dan tiba-tiba dia sudah ada dibelakang.
"Brengsek...jangan mengabaikanku".
WHUSS
Xenovia yang merasa terabaikan karena kedatangan seseorang entah siapa itu yang mengganggu aksinya dan menolong iblis yang notabene menjadi musuhnya. Artinya, orang tersebut adalah musuhnya juga.
SLASH
Sebelum pedang Durrandal Xenovia menebas Naruto, dengan secepat kilat Naruto sudah berada di belakang Irina. Irina yang kaget mencoba meraih pedang Excalibur Ruler miliknya. Namun terlambat, Naruto sudah mencengkram tangannya.
"Ughhh"
"Irina". Teriak Xenovia. Musuh yang awalnya ada di depannya tiba-tiba sudah berada di belakang Irina.
"Bergerak atau temanmu mati". Ancam Naruto, tangannya semakin erat mencengkram tangan Irina.
WHUSS
TRANK
Xenovia tidak peduli dengan ancaman musuhnya. Xenovia terus melancarkan serangan dengan mengayunkan pedang Durrandalnya ke arah Naruto yang menjadikan Irina sebagai tameng hidup. "Jangan mengancamku brengsek".
"Aww...kau, kata-katamu sungguh kasar nak"
"Diam brengsek"
"Ckckck"
TRANK
TRANK
TRANK
Adu pedang terjadi antara Xenovia yang menggunakan Durrandal dengan Naruto yang "meminjam" Excalibur Ruler milik Irina. Tebasan-tebasan gila Xenovia dengan mudahnya ditangkis Naruto. Seakan-akan Xenovia hanya seorang anak kecil yang mengayunkan bokken kepada atlet pro Kenjutsu.
Xenovia tidak segan-segan menggunakan kekuatannya. Sementara entah bagaimana, Irina tidak sadar mengalungkan tangannya ke leher Naruto. Tangan kanan Naruto yang sibuk menangkis setiap ayunan pedang Xenovia dengan pedang Excalibur Ruler. Sementara tangan kirinya memegang pinggang Irina supaya tidak jatuh.
"Durrandal ; Wave of Desctruction"
Dari jarak sekian meter, gelombang mana dengan destruktif tinggi mengarah ke Naruto dan Irina. Mencoba memusnahkan mereka berdua. Xenovia yang sudah dikuasai emosinya tidak peduli jika serangannya bisa menghilangkan nyawa rekannya.
"Ruler : Shield Of Freya"
Sepersekian meter serangan dari Xenovia, Naruto mengubah Excalibur Ruler menjadi sebuah tameng untuk melindunginya. BLARRR
"Naruto-sensei bisa menggunakannya". Keterkejutan mereka alami termasuk Irina dan Xenovia. Siapa orang itu, bagaimana bisa dia menggunakan Excalibur Ruler dengan begitu mudahnya?.
Tameng yang digunakan Naruto tiba-tiba melebur menjadi pasir. "Hmmm...replika memang tak sekuat aslinya".
Irina dan Xenovia kembali dibuat shock. Orang itu mampu menggunakan Ruler, menjadikannya sebuah tameng kuat dengan kualitas super dan sekarang, orang itu tahu bahwa pedang Excalibur Ruler cuma replika.
"Jadi sekarang dimana Excalibur yang asli...". Tangan kanan Naruto yang sudah terbebas dari pedang Excalibur Ruler dengan entengnya malah memegang dagu Irina yang masih dalam pelukannya. "...Ojou-chan?".
Irina sudah kehilangan fokusnya. Ini baru pertama kali dia dipeluk laki-laki. Otot perut Naruto terasa sekali karena menyentuh tubuhnya. Dia tidak sadar jika orang tersebut adalah musuhnya. Sementara Souna yang melihat itu panas dingin.
"A...a...ak...ku"
CRING
"Lama tak bertemu ternyata membuatmu menjadi pemuda mesum..Naruto". Seorang perempuan dengan pakaian khas biarawati tiba-tiba muncul di belakang Naruto. Sabit merah terjulur di tangannya dengan mata sabit tepat mengarah ke leher Naruto.
"Yoo...lama tak jumpa Onee-san tetek gede".
To Be Continued
Tebak siapa perempuan tersebut
Clue
sabit
2. bukan dari Anime DxD
3. Karakter Orisinil bukan buatan saya
Follow Me On :
Instagram : romijuniawan06
Facebook : Romi Juniawan
Twitter : romijuniawan06
Whatapp : 087758868903
