Ini buruk, payah, kacau, dan kata-kata lainnya yang juga mengumpat dengan pesimis, menjadi matahari redup milik Tokuda Shuusei seorang.
Dua anak panah sudah memelesat mengincar kesempurnaan, tetapi dua-duanya juga meleset yang secara kompak mengenai dinding kayu. Shuusei menghela napas. Untuk sekarang cukup sampai di sini, ia pikir, lalu merapikan busur serta hakama-nya. Perkataan senior mengenai turnamen musim dingin terngiang-ngiang. Secara tidak langsung seolah-olah memperingati Shuusei kemampuannya belumlah pandai, tetapi ia sadar berlatih dengan jiwa-raga yang berkabut sangatlah bodoh.
"Apa yang kupikirkan, sih?"
Tanpa Shuusei sadari pula, ia sudah terlalu banyak mengembuskan napasnya sebagai sesuatu yang berat dan hanya menyusahkan. Tiba-tiba Shuusei merasa dihantam dengan keras. Pandangannya agak berkunang-kunang, tetapi ia yakin mengenali kacamata bulat itu.
"Sore, Tokuda-san. Maaf, tadi aku tidak sengaja menabrakmu." Sekilas adik kelasnya itu menundukkan kepala. Tengkuk yang kikuk sejak pikirannya tegang Shuusei pegang. Senyumannya pun bukanlah garis yang langsung melengkung dan menjadi satu, melainkan putus-putus yang dipaksa menyambung agar satu.
"Nakajima ternyata. Aku juga minta maaf, karena tidak menyadari kehadiranmu."
"Ti-tidak apa-apa, kok! Lagi pula aku hanya ingin memberikan ini. Sampai jumpa, Tokuda-san."
Sebotol teh disodorkan pada Shuusei yang menerimanya dengan heran. Pada akhirnya hanya teriakan Shuusei yang terekam oleh epilog musim gugur, agar Atsushi jangan berlari-lari atau ia jatuh. Likuidnya yang hijau membasahi tenggorokan Shuusei, sambil ia berjalan menuju kelas di lantai dua. Pintu digeser memperlihatkan ruangan yang bisunya lembut. Masih tersisa Izumi Kyouka yang baru saja menyelesaikan tugas, sementara Shimazaki Touson bermain ponsel.
"Latihanmu sudah selesai? Tumben cepat." Pandangan Touson dialihkan dari gawai yang menampilkan kepadatan artikel. Menilik jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore, dan Shuusei biasanya latihan sampai senja memeluk lutut untuk terbenam, komentar Touson tentu masuk akal. Namun, pandangan Shuusei tampak kacau. Mungkin di matanya Touson bukanlah Touson. Lalu siapa?
"Shuusei? Shimazaki bicara padamu, lho. Dijawab, dong."
"O-oh ... terima kasih. Teh-nya enak." Benda yang dimaksud Shuusei perlihatkan pada Kyouka yang mendecih sebal, sembari memalingkan wajahnya asalkan tidak menemukan Shuusei dan kebodohannya. Iseng-iseng Touson mencolek merah di pipi Kyouka. Sebagai balasannya Kyouka menyentil kening Touson, juga pelototannya diam-diam mengancam Touson agar tak berani-beraninya mengatakannya.
"Bukan itu yang kita bicarakan. Shimazaki tadi bilang, tumben kau selesai latihan lebih cepat."
"Uhm ... pikiranku sedang kacau. Ayo ke stasiun. Nanti ketinggalan kereta."
Tas langsung disampirkan ke bahu. Perjalanan mereka dalam melewati koridor sangat canggung, membuat Kyouka yang berjalan di paling belakang berhenti dadakan. Baik Shuusei maupun Touson memandanginya penasaran, dan memang bukan sebuah keheranan yang tersirat, karena tatapan Kyouka yang selalu mengobarkan jengkel kepada Shuusei sangat biasa.
"Ceritakan apa yang membuat pikiranmu kacau. Masalahnya kau sudah begitu sejak pagi."
Tepat di pagi hari ketika ingar bingar stasiun menjadi lagu yang mengalun cepat, itu adalah kali pertamanya Kyouka mendapati Shuusei tidak menyeret-nyeret Touson untuk latihan pagi. Kabar Touson bahkan dijawab dengan nada bingung. Buktinya sekarang mereka canggung, sementara memang Shuusei seolah-olah masih terjebak dalam sesuatu.
"Apa tidak apa-apa aku menceritakannya?" Pertanyaan yang khusus ditunjukkan kepada Touson itu adalah yang paling membingungkan untuk hari ini. Anggukan Touson beri sebagai persetujuan yang jelas. Bahkan diamnya seolah-olah mengejek Shuusei super aneh.
"Meskipun yang kuceritakan adalah mimpi?"
Jingga terasa meredup dan bayangan jendela pulang pada kegelapan. Mimpi hanyalah kenyataan di dalam tidur yang buruk ataupun baik. Ketenangan Shuusei yang bergerak konstan pun seharusnya tidak membuat ia limbung begini, tetapi baik Shuusei maupun Kyouka, tiada satu pun yang berpikiran untuk mencelanya lagi.
Dream is Dream If You Think is Dream
Disclaimer: DMM.
Warning: kemungkinan OOC tinggi, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event BSR dengan tema "UAS.".
"... mimpi apa?" tanya Kyouka yang rasa-rasanya ikut-ikutan aneh. Baru terbayangkan
"Aku bermimpi Shimazaki dilecehkan di kereta. Memang benar itu tidak nyata, tetapi rasanya mengerikan, bukan? Apalagi di dalam mimpi itu tubuhku mati rasa."
Cerita itu sebenar-benarnya tidak pernah sebatas "dilecehkan di kereta", tetapi bersambung dan hanya bersambung yang ketika Shuusei "terbangun" pun, mimpi buruk tersebut seolah-olah akan merindukan Shuusei. Pada gerbong yang penuh Shuusei sesekali terseret arus. Matanya benar-benar senang, mendapati Touson ternyata berdiri menghadap pintu otomatis. Suara Shuusei pun yakin ia telah menyiapkan sapaan hangat, juga menyesal bersama Shuusei.
Jika di dalam mimpi itu Shuusei satu kali menyapa Touson, ia pasti lebih lega dan rasa bersalah tidak akan menyesal, sebab sudah terlahir.
Tidak akan ada Touson yang berdiri dengan kaki yang malu menahan bebannya sendiri, karena bokongnya diremas secara bergantian bahkan ditampar sampai bergoyang. Pemandangan yang menyembul dan keras di bawah sana, menyebabkan Shuusei ikut canggung bukan main. Tonjolannya dielus-elus. Sesekali dimanjakan melalui tekanan. Barulah menyelusup masuk ke dalam celana–
"Katamu hanya mimpi, 'kan? Kau sendiri sudah melihat bahwa Shimazaki baik-baik saja." Mata Shuusei yang lebar dan terhempas tanpa henti itu tampak seolah-olah ia melihat Touson dilecehkan secara langsung, membuat Kyouka tak bisa berkata banyak-banyak. Shuusei mengangguk lemah. Pucatnya tetap saja pucat; kehabisan cara untuk membohongi diri sendiri.
"Y-ya ... untuk Shimazaki aku minta maaf. Bukan maksudku memimpikanmu yang aneh-a–"
"Shuusei benar-benar aneh. Padahal mimpi tidak bisa dikendalikan, tetapi minta maaf kayak be–", "Maaf! Saking seramnya kau sampai menangis, ya? Maaf ..." potong Shuusei panik. Sebelah bahu Touson dipegang oleh kelembutan dari tangan Shuusei. Air matanya diseka dengan hati-hati agar Touson tak semakin rapuh. Lama-kelamaan pandangan Kyouka-lah yang sayu. Langkahnya berjalan duluan, berinisiatif mengajak mereka pergi.
"Mau mampir sebentar ke minimarket? Tidak belajar sehari tidak membuat kita mati, kok."
Ujian akhir semester sudah memiliki batang hidung yang samar. Lima hari lagi dirinya tiba untuk menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang. Tanggung jawab Shuusei jelas-jelas banyak. Latihan demi menyukseskan turnamen panahan musim dingin, berkutat dengan timbunan materi yang secara nonstop menenggelamkan kepalanya dalam lelah–semua itu mungkin dapat sedikit diringankan, jika sudah menikmati hangatnya kuah mi instan.
"Apa kau tidak lapar?" Segelas mi instan di tangan Touson hanya dipegang tanpa minat. Sebenar-benarnya selain Shuusei di pagi hari, Kyouka pun merasa Touson seperti kejanggalan yang lebih tak tersentuh lagi.
"Kurang."
"Wajahmu pucat. Merasa demam atau apa?" Mendengar kekhawatiran Kyouka, punggung tangan Shuusei langsung bergerak untuk mengecek kening Touson. Keterkejutan dari Shuusei seolah-olah mengindikasikan, ia masih belum seutuhnya melihat Touson.
"Kayaknya aku duluan, deh. Sampai jumpa. Maaf tidak bisa lama-lama." Baru saja tiba di minimarket yang hanya memerlukan lima menit berjalan kaki, Touson malah pamit dengan meninggalkan wajah kusut untuk keduanya. Shuusei ikut berdiri. Mata Shuusei yang tak biasa saat menemukan Touson sayup-sayup menyakiti Shuusei juga.
"Kuantar sampai rumah."
"Kita beda stasiun. Entar Shuusei pucat kayak mayat, terus orang-orang takut padamu dan mengira kamu bangkit dari kuburan."
"Jangan bercanda, Shimazaki. Itu tidak lucu!"
"Memang tidak lucu. Lagian Shuusei susah banget dibikin ketawa."
Ternyata Touson tidak bisa memperbaiki apa-apa. Mi instan yang dihadiahkan kepadanya ini Touson bawa berjalan-jalan tanpa arah. Pemandangan di mana obrolan dipermanis dengan crepes di tangan, balon terbang yang membuat seorang bocah merengek, harum roti baru dipanggang, atau es krim tiga rasa yang didiskon lima belas persen–tiada satu pun yang mengantar Touson pada stasiun, dan mungkin ia semakin jauh dari–
"M-maaf! Saya tidak sengaja. Sungguh." Bocah yang lebih kusam, dibandingkan bocah yang menangisi perginya balon merah itu, menabrak punggung Touson lumayan keras. Touson terpikirkan untuk memberikan mi instannya yang langsung diterima dengan senyuman lebar. Di tangannya sebuah makanan yang sederhana pun seperti memancarkan cahaya harta karun.
"Benaran untukku?"
"Tentu. Dihabiskan, ya."
"Terima kasih banyak, Kak! Karena Kakak orang baik, pasti segalanya akan dipermudah."
Dipuji sebagai orang baik terdengar asing bagi Touson, dan ia lebih mengasihani tangannya yang pegal, daripada berpikir membuang-buang makanan sangat tercela, atau berprinsip harus menghargai uang. Hitamnya tinta mulai mengambang di kejauhan. Touson bergerak lagi entahlah harus ke mana. Namun, ia ingin mencoba pergi dari kota ini, tetapi tetap berada di sini; membingungkan, bukan?
Jika anak yang tadi tahu, akankah ia menarik kekagumannya yang jernih? Menjadi mengatakan sebaliknya bahwa Touson tidak tulus? Ia selalu merangkai dan memikirkan hal-hal seperti itu dengan senang hati. Namun, ketika Touson dipaksa mengakui ia melakukannya untuk melarikan diri, mendadak Touson merasa dia ini mungkin ... kesepian.
Ia tidak bisa menceritakan tentang bocah yang seolah-olah merekahkan bunga matahari pada bibirnya itu, juga pemikiran-pemikirannya sendiri, terutama untuk mengganggu Shuusei yang merupakan favorit Touson.
Kyouka, kah, Tayama Katai, Kunikida Doppo, bahkan meskipun dia adalah Shuusei yang memiliki duka dari Touson, ia tidak bisa menganggap mereka teman, apalagi menceritakan ketakutannya yang mendadak terhadap kereta. Bahwa mimpi Shuusei bukanlah semata-mata mimpi di malam yang dingin, melainkan Shuusei benar jika Touson ... ada om-om yang memang melecehkannya.
"Selamat datang dan selamat berbelanja."
Saking kacaunya pikiran Touson, langkahnya kembali pada minimarket yang sudah ia kunjungi bersama Kyouka dan Shuusei. Dering ponsel datang dari saku celana, tepat setelah pintu otomatis merapatkan jarak. Touson mengangkat panggilan masuk tersebut. Suara ibunya samar sekali, walaupun di tempatnya berdiri sunyi menyebar di mana-mana.
"Di mana kamu? Sekarang sudah malam, lho. Apa ada tugas kelompok dadakan? Atau kau sedang bermain? Bentar lagi ujian akhir semester. Jika kau bermain sebaiknya segera pulang."
"Tenang saja, Bu. Hari ini aku akan menginap di rumah Katai, sekalian belajar bersama Kunikida juga."
"Shuusei tidak bersamamu?"
"... tidak."
"Belajar yang benar, ya. Nilaimu sangat penting untuk penguruan tinggi nanti."
Sambungan diputus oleh ibu. Nilainya memang penting dan Touson tahu itu, tetapi sehari ini saja, ia ingin bertahan dengan berbohong. Tanpa membeli apa-apa Touson meninggalkan minimarket. Tubuh depannya tidak sengaja menabrak seseorang, tetapi pundaknya sampai ditahan menyebabkan Touson mati kutu. Dia tahu apa yang akan dialaminya. Touson juga sadar, mulai sekarang kesendirian tak bisa ke mana-mana lagi, tetapi Touson pikir ... dia pikir ...
"Ah ... kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bagaimana ka–"
Pulpen yang Touson hunuskan ditahan dengan mudah. Tak ketinggalan pergelangan tangannya ditahan paksa yang dari sanalah menciptakan drama picisan, mengakibatkan Touson terlihat seperti anak yang membandel dengan mencoba-coba membantah jam malam. Tubuhnya tidak berarti apa-apa, ataupun kesakitan walau menabrak pintu mobil. Ia gagal melawan balik.
Ia memang tidak akan melukai siapa pun, atau pergi dari sini tetapi masih di kota ini yang artinya, hanya pikirannya yang membawa Touson. Di dalam kesendirian yang muram sekaligus benar-benar seorang diri ini, Touson masih mencoba merasai Shuusei. Dengan kepala yang bersandar pada jendela Touson memanggilnya Shuusei, Shuusei, hanya Shuusei ... padahal ia ingin minta maaf, tetapi ia juga yang merasa mulai melupakan Shuusei.
"Untuk hari ini kita bermain di sini. Hanya di kereta tentu tidak menyenangkan, bukan?"
Tempat itu hanyalah hotel murahan berlantai satu, asalkan memiliki ranjang, asbak, dan sedikit ruang. Tangan Touson terus ditarik paksa, sampai tiba pada kamar yang mereka sewa. Ketika langit-langit berdebu kusam melihat punggungnya justru menabrak lantai, lalu bibirnya ditabrak bibir yang lain yang menelan Touson; menenggelamkannya dalam rasa panas yang melelehkan tangan, kaki, kepala ... sementara hatinya makin nyala walaupun untuk meredup redup.
Shuusei pasti menyuruhnya bergerak. Melawan orang ini, karena Touson-lah yang paling tahu hatinya begitu takut, tetapi ia juga yang paling memahami rasanya kebebasan yang mulai tenggelam.
Oleh karenanya Touson ingin meminta maaf. Dia tak mampu mewujudkan keinginan sederhana tersebut dengan sederhana. Bahkan meskipun Shuusei percaya Touson mampu, sebab Touson adalah sahabatnya, tiada yang sesederhana itu bagi Touson.
(Hatinya tidak akan menjadi kaki atau tangannya. Memiliki perasaan yang kuat untuk pulang dan terlepas pun apa artinya? Ketakutan ini lebih ingin membelenggu diri sendiri daripada melawan diri sendiri.).
"Aku yakin kau menginginkan ini juga! Sebenarnya kau menungguku, 'kan? Dasar bocah SMA mesum." Seragam Touson dibuka paksa. Kancing-kancingnya terlempar, menggelinding, mengecup dinginnya lantai. Touson resah ketika lidah itu menjilati tubuhnya dengan basah yang menjijikan sekaligus egois. Hanya ada dirinya sendiri pada setiap cumbuan yang ia taruh pada tubuh Touson.
Padahal karena orang ini Touson takut menaiki kereta, menyebabkan ia tidak bisa lagi. Pagi hari ketika berangkat, dan merasakan pijakannya seperti gelombang yang, Touson nyaris ambruk. Kulitnya panas-dingin. Ia berjalan ke sekolah dengan kaki yang seolah-olah tiada. Jangan sampai Shuusei menemaninya, lantas melihat Touson begitu menyedihkan dari awal tanpa akhir.
"Semua ini tidak terlalu buruk sebenarnya. Kita sama-sama nikmat, kok. Keputusanmu untuk tak melapor pada polisi sudah tepat."
Bukan juga begitu. Setelah semua yang ia lakukan, bahkan ia tidak terpuaskan sehingga mengatai Touson mesum, seolah-olah ia menikmati. Membuat Touson menangis lagi, tetapi tiada tangan Shuusei yang lembut dan memeluk satu per satu air matanya, selain tamparan yang mengenai pipi. Menggugurkan hati Touson yang ternyata selalu sangat rapuh.
Polisi tidak akan menyembuhkan hatinya. Mungkin jika Touson melapor, teman-temannya menjadi tahu Touson pernah dilecehkan. Memandang hina Touson yang harga dirinya dijatuhkan setiap saat, oleh kepahitan ini. Ia membuat ibu dan ayahnya menghabiskan hari-hari mereka yang sudah tua, dengan seumur hidup menanggung malu. Apalagi segala-galanya hanya bertambah parah. Bisa saja Shuusei …
Shuusei …
Bagaimana dengan Shuusei? Sebenarnya ia sudah tahu, tetapi berpura-pura bodoh saking syoknya. Katakanlah Shuusei tahu Touson diperkosa, Shuusei akan … Shuusei akan … Shuusei mungkin akan benar-benar berhenti melihat Touson.
Ketika ritsleting diturunkan, lalu pak tua itu melakukan hal serupa dengan celananya, dan tepat di depan matanya batang yang panjang, bukan hanya kebebasan Touson yang direnggut, tetapi pula kemanusiaannya.
Sekarang dia bukan lagi manusia. Mungkin benda, sampah, atau entahlah, tetapi yang pasti Touson hanya berharga untuk dibuang.
Pertama-tama memainkan sekalian melonggarkannya dengan jemari yang dilumuri lubrikan. Benda itu lantas memaksa masuk ke dalam lubang yang tetap saja sempit. Touson merasa bagian dalan tubuhnya dicabik-cabik. Dicabuli sampai ke hatinya yang menjadi nikmat, mungkin karena di sekeliling Touson pun sudah berkabut. Tidak jelas lagi yang manakah dirinya. Apa yang terjadi padanya? Namun, ia tahu matanya terus menangis dan meminta air mata agar sedikit ingat, ia hidup.
"Mereka jahat padamu, bukan? Tunjukkan saja bahwa kau sedih, Shimazaki."
"Dipukul sama orang tuamu pasti sakit. Air matamu sampai menggenang begitu."
"Kadang menyakitkan melihatmu tidak bisa menangis, tetapi pasti ada saatnya, Shimazaki."
Bahkan jika Touson harus menangis untuk melepaskan semua luka yang dipaksa tertidur di sudut ingatannya, tentu ia tidak akan memilih cara seperti ini. Lebih baik tidak pernah menangis, jika pertama-tama harus ada yang selama-lamanya tak bisa ia katakan: luka terbesarnya. Membuat kata-kata yang selalu menolong ekspresi Touson yang bisu … meninggalkannya, ia tak mau itu.
Tahu begini Touson akan membiarkan "aku mencintaimu" itu mencapainya …
Pagi harinya ketika langit meninggalkan hitam dan kembali merengkuh biru, Touson masih berada di kamar murahan ini dalam posisi telentang. Tubuhnya telanjang bulat. Penuh dengan kissmark sampai sundutan rokok, sedangkan pria kantoran tersebut tengah melahap burger.
Burger yang lain dilemparkan pada Touson, tetapi dibiarkan tergeletak begitu saja tanpa Touson ingin menyentuhnya. Perut dan lidahnya kehilangan hasrat merasai sejak kemarin. Apa artinya mual, lapar, ia tak tahu lagi semenjak terlalu banyak mereguk sperma. Sekarang mungkin jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Touson sadar ia harus ke sekolah. Mulai mementingkan ujian akhir semester, tetapi kenapa pula ia masih dipaksa mengingat itu?
Dipaksa mengingatnya. Ditekan dari segala sisi. Namun tetap Touson merasa semuanya sia-sia sehingga hampa-lah yang tertinggal.
"Sini. Pinjam tanganmu."
Semuanya adalah paksaan dan hanya paksaan. Enggan pun tangan kanan Touson harus merasai panasnya rokok. Entah itu pertama kali disiksa atau sudah berkali-kali, kesedihan yang tertinggal di kepala memang jarang turun, walaupun kini tidak bisa turun lagi.
"Dengan begini kau tidak perlu ke sekolah, 'kan? Tangan kayak begitu mana bisa dipakai menulis. Meski jika kau memaksa pergi ..."
Pemandangan di mana Touson meratapi bekas sundutan di kedua telapak tangannya tahu-tahu roboh, digantikan oleh tubuhnya yang gemetar yang terjatuh. Selanjutnya Touson mendengar gema tawa yang menggebu-gebu puas. Sudah selesai, ia pikir. Ternyata dibuang bisa se-melegakan ini. Ia tak perlu mati lagi. Berpikir bahwa Shimazaki Touson mati, karena pikiran-pikirannya kosong sekali membuatnya selalu bingung, ini di mana?
Drttt ... drttt ...
Kemudian gawainya bergetar. Tanpa pikir panjang Touson mengira Shuusei mengkhawatirkannya. Memang Touson akan bilang ia tak apa-apa, tetapi mungkin benar selama Shuusei yang me–
"TOUSON! BERANI-BERANINYA KAU MEMBOHONGI IBU. KATAI BILANG KAU TIDAK MENGINAP DI RUMAHNYA. SEBENARNYA APA YANG KAU LAKUKAN, SIH?! KABUR SAMA CEWEK? PIKIRKAN UJIAN AKHIR SEMESTERMU, DASAR A–"
Ah. Touson mematikan panggilannya entah ia sengaja, atau benar telunjuknya terpeleset. Nada dering kembali berdengung. Kini giliran ayahnya yang menelepon. Ia ingin mendengarkan suara, tetapi tetap tidak bisa menganggapnya sebagai Shuusei. Bayang-bayang ketakutan terlalu pekat setiap terpikirkan, bagaimana jika Shuusei sadar?
"Pulang, Touson. Kau membuat ibu dan ayah kecewa padamu. Katakan di mana lokasimu. Jangan berpikir untuk kabur lagi, kecuali kau mau ayah ha–"
Hajar saja. Pasti jauh lebih baik, daripada diculik pria asing dan dijadikan pelampiasan. Pukulan dari ayahnya mungkin akan membersihkan Touson. Jika memar sampai pecut rotan menyelubungi tubuhnya, kenajisan ini setidaknya bisa tertutupi.
"Shimazaki. Ini Shuusei. Beritahu aku kau di mana. Kita bicarakan semuanya, ya?"
"Shuusei ..."
"Semua akan baik-baik saja. Makanya–", "Enggak. Tidak ada yang baik-baik saja, dan aku kurang tahu diriku berada di mana. Lagi pula aku mau sendirian dulu." Cara Touson menginterupsinya membuat Shuusei merinding. Kurang dari satu menit sambungan dipupuskan sepihak oleh Touson. Gawainya benar-benar dimatikan agar Touson tidak perlu mendengar siapa pun yang mencarinya.
Rasa takutnya untuk menaiki kereta sudah tidak berarti apa-apa. Ingatlah bahwa ia sudah kehilangan kemanusiaannya, semenjak tubuh telanjangnya menghibur orang lain, sehingga bukan miliknya lagi. Di sepanjang perjalanan, orang-orang melihatnya sebagai keanehan yang berjalan dan memaksa menjadi manusia. Touson sampai berkali-kali menabrak sesuatu. Keningnya agak luka. Lengannya tergores, tetapi setidaknya ia tiba di stasiun dengan selamat.
"Perhatian ... perhatian ... bagi yang akan menaiki kereta jurusan X, harap segera naik. Pintu segera ditutup. Perhatian ... perhatian ..."
Gerbong masih padat. Kursi yang sesak dari ujung ke ujung membuat Touson berdiri. Bagaimanakah Touson akan melihat dunianya setelah ini? Harus apa dirinya sesampainya di rumah, besok atau besoknya lagi? Ia sendiri kurang tahu-menahu karena di sini gelap. Matahari yang berlari bersama kereta di seberang sana, ibu-ibu yang menggendong bayinya, pemuda berkaus merah jambu ... semuanya hitam bagi mata Touson.
Tatapan yang orang-orang taruh pada Touson masih janggal. Rasa-rasanya pula ia dapat mendengar suara-suara timbul, hilang, hilang, dan terus hilang. Sewaktu pendengaran Touson kembali ditemukan suara, yang justru ia tangkap bukanlah hibuk stasiun tempat lautan manusia berlalu-lalang, tetapi sepasang ibu-ibu yang sejenak memandangi lalu membicarakannya.
"Dengar-dengar dia pergi sama om-om, ya? Parah banget."
Ada pula yang berkata:
"Katanya dilecehkan, sih. Cuma masa iya? Dia laki-laki soalnya. Jangan-jangan cari perhatian doang."
Atau jika tidak:
"Pasti dia yang sebenarnya melecehkan orang, tetapi pura-pura jadi korban. Parah banget. Dikira bakal ada yang percaya dia apa?"
Dua anak muda yang melintas tepat di depan Touson itu bahkan menjadikannya candaan:
"Bakalan bangun enggak, ya, kalau dia diraba sama om-om? Kalau bangun artinya dia gay, dong, hahaha ... cocok udah."
Kamera dalam sebuah ponsel yang apa adanya diam-diam memang merekam persanggamaan mereka. Persiapan agar Touson tidak berani-beraninya melapor, atau disebar dan ia menjadi santapan umum. Mungkinkah pak tua melanggar janji? Touson bahkan tak percaya dirinya sendiri bisa kembali. Kenapa harus kenaifannya yang berpikir bahwa janji keduanya pasti dijaga baik-baik?
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi.
Telunjuk Touson hanya bergerak untuk menekan gagang telepon yang hijau. Berkali-kali. Mengulang-ulang suara operator yang menjenuhkan. Giginya menggeletuk marah. Ia menekan layar gawainya telalu keras hingga terpeleset dari tangan. Kerusakannya tidak terselamatkan, di mana berusaha menyalakannya pun masih kegelapan total yang terpampang, meskipun sekilas sekadar layarnya yang retak.
"Hey. Aku pinjam handphone-mu, dong. Keadaannya darurat."
Macam kerasukan Touson menghentikan siapa pun yang lewat dengan serta-merta menyodorkan tangannya. Berpapasan secara kebetulan yang terlalu banyak dan biasa pun menjadi mengerikan. Tentu terasa wajar bagi orang-orang asing untuk mengabaikan Touson, tetapi mereka yang sebenarnya ketakutan, bingung, bertanya-tanya ... semua itu memancarkan mata yang merah, dan tubuh mereka adalah bayangan panjang yang siap menerkamnya.
"O-oi! Apa yang kau lakukan dengan sembarangan merebut handphone-ku?!" Sejenak Touson melotot pada siswa yang gawainya ia rebut secara paksa itu. Menghubungi nomor yang sekali lihat pun Touson langsung hafal. Melakukan hal yang sama berulang-ulang, tetapi tetap nihil membuatnya teramat marah.
"Handphone-mu enggak berguna banget. Mending dibuang saja."
Se-ringan itu bagi Touson untuk menjatuhkan gawai yang sudah ia renggut, bahkan dengan tega hati menginjak-injaknya sampai remuk redam. Kerah baju Touson ditarik. Tinju sudah mengepal yang siap menghantam Touson agar mampus, tetapi ketika dilihatnya siswa tersebut berhenti karena dihentikan sosok yang terlampau familier, Touson dapat melihat cahaya yang juga mulai dinodai malam, apabila semakin mendekati Touson.
"Perihal ganti ruginya bisa dibahas nanti, 'kan? Kumohon."
"Huh? Jangan bilang kau teman si orang gila ini. Lupakan saja. Berurusan lagi dengan temanmu itu lebih terkutuk buatku."
Malah Shuusei yang wajahnya diludahi, tetapi ia sekadar membersihkan penghinaan tersebut dengan tenang, seolah-olah menghapus debu semata. Menanggung cela yang seharusnya hanya mencela Touson itu. Bahkan kecaman tersebut Shuusei jaga, seakan-akan ia menerima hadiah dari natal yang datang lebih cepat, agar Touson dapat memiliki tahun baru; segala-galanya yang baru.
"Untunglah aku menemukanmu. Pasti kau telah melewati banyak hal, ya, Shimazaki." Tidak ada seragam musim gugur yang melekat pada tubuhnya, melainkan pakaian sailor yang dipadukan dengan rok biru dongker. Itu tak pernah tak menyakitkan. Kendatipun Touson tahu ada yang aneh dari tatapan orang-orang, bukan yang sebenarnya yang ia lihat entah kenapa.
Shuusei mengulurkan tangannya kepada Touson seorang. Langsung memberikan pelukan yang Shuusei pikir, untuk pertama kalinya ia tahu rasanya membutuhkan air mata.
Pertama-tama senyumannya akan bertahan dalam tangisannya, sampai nantinya hanya isakan yang tersisa yang merasai Touson. Pada akhirnya Shuusei bukanlah apa-apa. Betapa kecilnya ia di hadapan Touson yang membuatnya tiada mampu menyentuh seluruh diri Touson. Di mana jika Shuusei melakukannya satu per satu, rasa-rasanya Touson telanjur menjelma abu.
"Shuusei ... aku ..."
"Ceritakan pelan-pelan. Meski sekarang kau enggan, pasti kutunggu sampai kau siap."
Agar lebih tenang Touson didudukkan pada kursi para penunggu, sementara Shuusei membelikan air minum. Saat ia kembali, keengganan Tosuon untuk mendiami kenyataan masih menyelimuti. Selanjutnya mereka sama-sama memintal hening. Shuusei akan menemani Touson, meskipun Touson hanya memiliki lelah untuk ditunjukkan.
"Shuusei ... apa kau ... melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Videonya ... videonya tersebar, bukan? Habisnya orang-orang membicarakanku. Mereka mulai berpikir macam-macam tentangku, padahal semuanya salah."
"Tarik napas dan embuskanlah pelan-pelan. Kau kacau se–", "Aku akan tinggal kelas. Ibu sama ayah pun sudah marah besar. Bisa jadi aku dikeluarkan dari sekolah. Waktu kita benar-benar tinggal sedikit, ya." Telapak tangan Touson sangat kaku sekaligus muram. Bekas-bekas luka yang tak Shuusei pahami menyebar di sana, tetapi karena Touson memperlihatkannya yang artinya ia percaya, Shuusei pun menggenggamnya sambil gemetar.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Kau harus segera diobati."
"Sudah tidak sakit, kok. Rasanya sejak Shuusei mencari dan menemukanku, aku tidak merasakan sakit lagi."
Demi Touson yang padahal melukai sosok-sosok di sekelilingnya, Shuusei rela bolos dan berputus asa, dalam mencari Touson yang semakin samar. Tampaknya air mata Shuusei sesungguhnya direnggut oleh Touson. Sejak mimpi buruk semakin digenggam padahal Touson telah menangis sangat banyak. Semestinya ia mengeluarkan darah. Bukan lagi tenggelam dalam air, tetapi sesak dalam kehidupannya yang belajar mencekik hidupnya sendiri.
Namun, detik ini juga tepat di hadapan Shuusei, mata Touson betul-betul menangis; mencucurkan segalanya yang sudah campur aduk.
Serpihan apa pun bisa utuh jika di samping Shuusei. Karena Touson menangis lagi ia pun masih hidup. Berhenti membayangkan seluruh dirinya yang diselimuti lebam dan gelap, menjadikan apa pun yang Touson lihat hanya hitam, seolah-olah ia memang mati walaupun belum.
"Mana bisa begitu! Sahabatmu bahkan tidak tahu kau menghilang. Bukankah itu menyakitkan? Bukankah itu membuatmu ke–" Kantong mata Shuusei disentil. Selama beberapa saat pula Shuusei mengaduh kesakitan. Kesulitan membuka netra kanannya, dan merasai Touson sengaja agar Shuusei jangan melihatnya lagi. Mengapa Touson masih saja menyebalkan? Padahal Shuusei ... kapan dia pernah bilang akan meninggalkan Touson? Anak ini memang lebih mengesalkan apabila diam, daripada ketika blak-blakan.
"Gara-gara memikirkanku Shuusei kurang tidur. Ya ampun. Kenapa kau baik sekali, sih?"
"Wajar saja, 'kan? Apalagi aku sahabatmu sejak kecil."
"Hmm ... iya, ya. Kalau Shuusei tak mengenalku, kau juga tidak akan menolongku. Masuk akal sekali. Apa artinya membantu seseorang yang tak kau kenal? Buang-buang waktu iya. Tetapi kenapa–" Giliran Shuusei yang menjentik Touson, tetapi di kening dan bukan untuk balas dendam. Ia mengusap bagian yang mengeluh sakit.
"Anak kecil yang kau beri mi instan itu yang memberitahuku, bahwa kau pergi ke stasiun."
"Oh. Itu. Daripada tanganku pegal, kuberikan saja padanya. Dia salah kira. Toh, aku tidak benar-benar ingin menolongnya juga."
"Khas Shimazaki banget. Hanya kau yang bisa melakukan itu."
Tetapi bukan air mata yang ternyata mempertahankan senyumannya, ketika Shuusei sungguh-sungguh memeluk suara Touson dengan tawanya yang berderai. Touson tenang dan menangis bukan karena ia telah tabah, atau luka-lukanya sudah kuat menopang dirinya sendiri. Touson terlihat tenang, sebab ia adalah Shimazaki Touson yang tak pernah pandai mengekspresikan dirinya, di mana bagi Shuusei mengetahui itu lebih dari cukup.
Cukup mengetahuinya saja, dan karena itu adalah kelemahan yang indah, Shuusei akan membantunya berdiri untuk menghadapi dunia yang tidak melulu indah ataupun malang.
"Mimpi burukku pada akhirnya nyata, bukan?" Sesaat Touson yakin netranya kesakitan lalu membelalak. Gelengan pelan diberikan. Kalau begitu jadinya Shuusei akan terbakar dalam kepedihan. Padahal sudah baik ia hanya menganggapnya mimpi.
"Mimpi, ya, mimpi. Karena kata Shuusei kau bermimpi, berarti kau bermimpi."
"Katakan padaku, Shimazaki. Jika kita benar-benar tidak saling mengenal, apakah kau mau mengenalku?"
"Lihat dulu kita bertemu atau tidak. Kalau enggak bertemu, aku mana bisa mengenalmu?"
"Anggaplah kita bertemu. Kira-kira kau akan bagaimana?"
"Mau, kok. Berteman dengan Shuusei sangat menyenangkan. Justru karena kau orangnya membosankan, tetapi bisa membuatku betah, makanya terasa menyenangkan." Sudah dua kali Shuusei memeluk Touson. Suara-suara itu pun sudah lama menghilang, bahkan sebenarnya belum ada yang tahu Touson dimainkan om-om. Hanya halusinasi-halusinasi untuk memberitahu Touson mungkin butuh bersandar.
"Begitu pun aku. Makanya entah kau tengah bermimpi buruk atau baik, aku ingin mengenalmu dan tak melewatkan satu pun. Menerimanya dan tidak kabur lagi, Shimazaki. Maaf."
Pemandangan di mana Touson dilecehkan tidak akan semata-mata selesai dengan cerita yang bercerita, dan dilaporkan ke polisi pun belum tentu semuanya baik. Itu adalah aib yang lebih baik menyendiri, daripada terbuka untuk sekadar menerima luka yang jauh. Memang tiada adil, sederhana, ataupun keseimbangan di dunia ini. Namun, Shuusei harap Touson tetap bisa mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri sebagai rumah.
Suatu hari nanti seseorang akan pulang pada Touson, tetapi bukan bibir, tangan, kaki atau telinga yang akan dikecupnya, melainkan ia mencari bagaimanakah Touson melewati harinya?
Luka apa yang ia miliki, karena dirinya tak pernah sempurna? Sukacita apa yang ia tumbuhkan? Sebab ketidaksempurnaannya pula yang membuat Touson merasai kebahagiaan yang datang untuk pergi dan datang lagi; tidak sempurna seperti dirinya, sehingga mengalami pertemuan serta perpisahan.
(Anehnya lagi Shuusei dapat merasakan kepulangan itu. Ia bisa sejak menemukan Touson kebingungan, dan merasa genggamannya hanya milik Touson.).
Tamat.
A/N: dan akhirnya aku publish hari ini. jujur aja malu bangettt. cuma karena fandomnya sepi g akan banyak yang baca juga, mungkin itu bisa bikin pede. lagian sayang juga udah bikin 4k.
Buat inspirasi, ini aku terinspirasi abis liat doujin ShuuTou di mana touson emang dilecehkan di kereta. emang sih gak gimana2 banget, tapi buatku itu bagus dan ya ... bisa dibilang aku lanjutin doujin, meski omongannya gak akan sama persis, tapi yang pasti di doujin itu shuusei ada ngomong "yume". aku juga gak bikin adegan rape yang gimana banget. aku sebenernya lebih pengen menekankan gimana perasaan korban pelecehan seksual. mereka yang gak lapor karena takut ketahuan sama org2 terdekat. mikirin gimana orang tuanya, dan kalo ada seseorang yang mereka sukai, jelas itu makin berat (aku kasih hint kecil doang sih soal romance ShuuTou). awal2 mau bikin endingnya shuusei tetep anggap touson yg dilecehkan di kereta itu cuma mimpi, tapi aku pengen sesuatu yang lebih lembut. jadi meski shuusei gak bener2 tau touson knp, dia bisa ngerasain dan ya ... bersimpati sama touson.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat aja. mari bertemu di fic ShuuTou lainnya. sama kalo kalian tanya apa peran uas di sini, bisa dibilang cuma tempelan dan biar touson makin stres doang meski itu ga berapa pengaruh sama plot.
