Malam Bersalju

.

.

.

"Haaah ..."

Aku merebahkan kepala dengan malas di meja kerjaku. Jam makan siang sudah bergulir beberapa menit, tapi rasanya aku tidak berselera. Tidak jika kepalaku masih penuh dengan satu hal ini.

"Bos? Nggak makan siang?"

Suara kecil itu menyapa di sisiku. Ternyata Liz, yang kini menatapku bertanya-tanya dari balik kacamatanya.

"Nanti, deh," sahutku sekenanya. "Haaah ... Kira-kira ... hadiah apa ya, yang nggak akan terlupakan?"

"Hadiah tak terlupakan?"

Sebenarnya aku hanya bicara kepada diriku sendiri. Namun, Liz tampaknya menanggapi keluh kesahku dengan serius.

"Dulu, di SMA, seorang anak laki-laki yang kusukai pernah memberikan lembar kerjanya padaku."

Aku mengerjapkan mata. "Hah?"

"Katanya, kalau aku berhasil mengerjakannya dengan baik, dia akan mengajakku pergi berkencan di akhir pekan."

Jelas sekali, ada sesuatu yang sangat salah pada cerita Liz. Namun, pegawaiku yang satu itu tampaknya sedang bertualang ke negeri fantasi penuh bunga dan gula-gula. Kelihatan sekali dari ekspresi dan sorot matanya yang penuh binar menyilaukan.

"Dia perhatian sekali." Sampai di sini, aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya. "Dia memikirkan pentingnya pendidikan bagiku. Dia pasti ingin agar aku lebih banyak belajar, demi masa depan yang cerah."

Oh, oke. Meski tetap tidak mengerti bagaimana otak Liz bekerja, paling tidak aku bisa paham ceritanya.

"Lalu ... kamu benar-benar mengerjakan lembar kerjanya?" kutanyakan satu hal yang sudah jelas jawabannya.

"Tentu saja!" Liz menyahut dengan semangat. "Sayang sekali, aku terlalu bodoh untuk menjawab soal-soal itu dengan benar. Tapi nggak apa-apa. Aku mengerti maksud baiknya."

Liz tersenyum padaku. Kubalas dengan satu senyuman pula, yang kuharap tidak kelihatan canggungnya.

"Walaupun setelah itu kami nggak pernah bicara lagi, tapi aku cukup bahagia bisa bicara dengannya. Bagiku, itu adalah hadiah tak terlupakan."

"O-Oh ... Begitu ..."

Sepertinya aku sudah berdiskusi dengan orang yang salah. Ingin rasanya kukatakan pada Liz, bahwa anak laki-laki itu hanya memanfaatkannya. Namun, kata-kataku menguap ketika melihat senyum bahagianya saat mengenang peristiwa itu.

Aku tak mungkin menyakiti perasaan Liz, bukan?

Akhirnya, sampai Liz pamit duluan untuk makan siang, aku masih galau sendiri. Kuputuskan untuk memesan makan siang saja melalui jasa pesan antar daring. Sembari melanjutkan memeras otak untuk rencana besarku tiga hari lagi.

Waktunya sudah tidak banyak.

"Aaah ... Andai bisa sesederhana itu, ya~" gumamku. "Liz sudah bahagia walau cuma bicara dengan orang yang disukainya."

Aku terdiam. Kata-kataku sendiri terngiang setelah itu.

Sesuatu yang disukai.

Benar juga. Bukankah seseorang akan bahagia jika bisa mendapatkan sesuatu yang disukainya? Apalagi jika itu adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkannya.

Perlahan, kubiarkan senyum mengembang di bibirku. Aku tahu hadiah apa yang harus kuberikan untuknya.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Otome game "Mr. Love: Queen's Choice/Dream Date" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Elex©

Fanfiction "Malam Bersalju" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

Canon-based. AR. Adaptasi bebas dari "Snowy Night Date" (Lucien) dan event spesial ulang tahun MC (Player). Untuk ulang tahun Lucien dan MC.

WARNING! Spoiler alert bagi yang belum membuka Date tersebut di atas.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Aku ingat, Lucien pernah bilang, ada sebuah buku yang sangat diinginkannya. Namun, buku itu sangat sulit untuk didapatkan. Sebuah buku klasik yang sekarang sudah tidak dicetak lagi.

Demi menemukan sebuah buku itulah, aku merelakan malam Mingguku habis untuk keluar masuk toko-toko buku. Rasanya sudah semua toko buku di Loveland aku jelajahi. Dari toko buku besar, sampai kios-kios buku kecil yang nyaris tak terjamah. Namun, pencarianku berakhir seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Apa memang tidak ada, ya ...?

Lagi pula, Lucien saja tidak bisa menemukannya. Apalagi aku. Padahal dia pasti tahu lebih banyak tempat untuk mencari buku-buku langka. Dia juga punya banyak kenalan yang bisa membantunya mencari.

Tanpa terasa, ternyata aku sudah mencari sampai hampir keluar kota. Aku baru sadar ketika tiba di jalanan yang tidak terlalu familier. Jalanan itu cukup sepi. Bangunannya pun jarang-jarang.

Aku sudah ragu, apakah sebaiknya meneruskan perjalanan atau pulang saja. Ketika itulah, mataku tertumbuk kepada sebuah toko buku terpencil, yang hampir-hampir tidak terlihat seperti toko buku. Untung saja ada papan namanya.

Etude Bookstore.

Walau agak ragu, akhirnya kumasuki juga toko buku itu. Sudah pergi sejauh ini, kepalang tanggung. Toko buku itu ternyata sangat bersih dan tertata rapi, tidak seperti dugaanku semula. Pemiliknya seorang nenek yang ramah, dibantu cucu perempuannya.

Sambil melayaniku bersama cucunya—karena tampaknya tidak ada pembeli lain—beliau bercerita satu-dua hal. Tentang sejarah singkat tokonya yang sudah puluhan tahun berdiri. Tentang koleksi buku-bukunya yang cukup lengkap, dari buku-buku klasik sampai novel populer keluaran terbaru. Tentang dirinya sendiri yang sangat suka membaca buku kumpulan syair.

"Ketemu!"

Seruan lega dari sang cucu perempuan, memutus pembicaraanku dengan nenek pemilik toko yang baik hati. Gadis berkacamata dengan rambut hitam berkucir dua itu bergegas turun dari tangga yang harus digunakannya demi mencari buku di rak teratas.

Dengan gesit, sang gadis berbaju biru-kuning serta memakai topi rajut berwarna senada itu, melompat dari anak tangga terakhir. Lantas mendekatiku setengah berlari.

"Ini 'kan, Kak, bukunya?"

Kuterima buku bersampul tebal yang masih tersegel itu dengan gembira. Desainnya sederhana saja, dengan warna broken white dan tulisan berwarna hitam dan emas. Namun, buku itu benar-benar tampak elegan.

"Terima kasih!" ucapku sembari memberikan satu senyum termanis.

"Nenek tidak menyangka, gadis manis sepertimu ternyata menggemari buku klasik seperti ini."

Aku tersentak kecil mendengar kata-kata itu. "Oh, bukan. Ini bukan untukku."

"Wah, hadiah untuk seseorang, ya?" cucu sang nenek bertanya.

"Iya, ini untuk hadiah ulang tahun."

"Kalau begitu," gadis itu menatapku berbinar-binar, "mau dibungkuskan sekalian?"

"Waah, boleh. Terima kasih."

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Hari Senin yang kutunggu akhirnya datang, setelah hari Minggu terasa seperti berlari. Kesibukanku yang di luar kebiasaan pada hari sebelumnya, ternyata sangat menguras tenaga, sehingga aku nyaris tertidur seharian. Bahkan aku sampai harus melewatkan ajakan karaoke bareng dari Kiki dan yang lain.

Aku harus menebusnya pada mereka nanti.

Yang terpenting, hari ini. Sepulang dari kantor, aku membersihkan diriku sebentar di rumah, lantas bersiap untuk pergi lagi. Udara musim dingin membuatku harus memakai baju hangat dan syal. Namun, masih cukup manis untuk pertemuan spesial hari ini.

Lucien datang lebih awal daripada waktu yang dijanjikan, seperti biasa. Aku tersenyum, lalu melambai padanya dari kejauhan, sembari memeluk buku berbungkus kertas kado krem keemasan.

Harga buku itu cukup mahal. Kurasa aku harus puasa belanja dan makan-makan di restoran sampai beberapa waktu. Namun, itu bukan masalah besar. Asalkan Lucien senang, itu sangat sepadan.

Bukankah dia pun selama ini selalu ingin membuatku tersenyum? Aku juga ingin bisa membuatnya bahagia. Terlebih di hari yang istimewa baginya ini.

Pemikiran itu membuatku tidak sabar. Aku melupakan keadaan sekitar dan berlari menghampiri Lucien. Akibatnya, aku terjerembab ke dalam salju yang menumpuk. Rasa dingin segera menusukku. Namun, yang terpikirkan olehku hanyalah betapa aku telah mempermalukan diriku sendiri di hadapannya.

Ketika aku hendak berusaha bangkit dengan susah payah—salju tebal ini sangat mengganggu—mendadak kurasakan tubuhku terangkat. Tahu-tahu kehangatan menyelimutiku. Dan ketika aku menyadarinya, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam gendongan Lucien.

Dia tersenyum. Matanya menatapku dengan tawa kecil tersembunyi.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Bagaimanapun, aku tetap merasakan nada khawatir di dalam ucapannya. Aku hanya mengangguk pelan, sementara Lucien membiarkanku bersandar ke dadanya. Kupejamkan mata. Saat itulah, aku baru menyadari tubuhku yang gemetar karena dingin. Jantungku juga masih berdebar-debar karena kaget.

"Tidak apa-apa. Aku ada di sini."

Lucien berbisik lembut di telingaku. Seketika itu juga, hatiku terasa tenang. Kupererat peganganku pada kado yang sejak tadi kudekap erat di dada. Aku sudah susah payah mendapatkan benda ini dan tak ingin sampai kehilangannya.

"Berada di dalam pelukanmu seperti ini ... membuatku merasa aman."

Pipiku memanas akibat kata-kataku sendiri. Aku tak ingin Lucien melihatnya. Karena itu, aku makin menenggelamkan diri di dalam pelukan hangat itu.

"Kalau begitu, biarkan aku memelukmu sebentar lagi."

Rasanya ucapan Lucien makin memerahkan wajahku. Bahkan sampai dia akhirnya berjalan, masih sambil tetap membopongku.

"Lucien, turunkan aku," pintaku kemudian. "Aku bisa jalan sendiri."

"Tidak apa-apa."

Aku tahu, dia takkan kesulitan membawa tubuhku yang mungil ini sembari berjalan. Tapi ini memalukan. Aku tidak tahan membayangkan orang-orang yang melihat kami dengan tatapan aneh.

"Aku berat, 'kan," kataku lagi.

"Sama sekali tidak. Ringan sekali, kok."

Lagi-lagi pipiku memanas. Setelah itu, aku tidak lagi membantahnya. Kubiarkan dia membopongku sampai ke tempat mobilnya diparkir. Kemudian diantarnya aku kembali ke apartemen.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

'Kecelakaan' kecil—akibat kebodohanku sendiri—itu membuat semua rencanaku berantakan. Dan, sekarang, di sinilah kami. Apartemen kecilku yang hangat dan nyaman.

Aku bergelung di sofa, masih merasa dingin. Lucien sedang menyeduh jahe untukku di dapur. Ketika sosoknya muncul di ruang tengah tempatku berada sekarang, aku langsung mengeluh.

"Minum ini."

Lucien menyodorkan cangkir itu ke hadapanku. Dengan ogah-ogahan, aku membetulkan posisi dudukku. Cangkir berisi wedang jahe itu berpindah ke tanganku. Aroma khas seketika mengisi indra penciumanku.

"Ini pedas, dan rasanya aneh," rengekku. "Aku nggak suka."

"Siapa suruh lari-lari di tengah salju tebal," Lucien menyahut tanpa ampun.

Aku cuma bisa cemberut. Masih kupandangi saja cangkir di tanganku beserta isinya.

"Minumlah, agar tubuhmu hangat."

Aku merajuk, "Nggak mau."

Lucien menghela napas samar. Namun, kemudian dia tersenyum. Aku memperhatikannya yang berbalik menuju dapur sekali lagi, lalu segera kembali tak lama kemudian. Ternyata dia membawa cokelat di tangannya.

"Sekarang sudah mau minum?" tanyanya dengan nada membujuk.

Aku menyerah. Lucien sudah memberi perhatian padaku sampai seperti ini, bahkan membuatkan minuman jahe segala. Dia hanya tidak ingin aku jatuh sakit karena kedinginan. Dan lagi, semuanya berakar dari kesalahanku sendiri.

Berpikir begitu, kuteguk jahe di dalam cangkir kecil itu cepat-cepat. Kehangatan langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Memang, rasanya sangat nyaman. Tapi aku tetap tidak suka sensasi di dalam mulutku ini.

Kuulurkan tangan kepada Lucien, meminta cokelat itu. Namun, dia bergeming.

"Buka mulutmu," katanya tiba-tiba.

Senyumnya terbit. Aku mematung satu-dua detik, baru kemudian menuruti permintaan Lucien. Kubiarkan dia memasukkan sepotong cokelat ke dalam mulutku. Rasa manis yang kusukai segera menawarkan rasa getir di rongga mulutku.

"Sudah mendingan?" Lucien masih tersenyum.

Aku hanya mengangguk, masih menikmati cokelat yang lumer di mulutku sepenuh hati. Kurebut sisa cokelat di tangan Lucien ketika dia tidak waspada. Dia terkejut, tetapi kemudian hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

"Kenapa tadi kamu lari seperti itu?" kata Lucien kemudian, nadanya sedikit memprotes. "Bahaya, 'kan."

Aku tersentak. Baru teringat hal yang sangat penting. Kuletakkan cokelat itu begitu saja di pangkuanku, lantas cepat-cepat mengambil bungkusan kado dari dalam tas.

"Aku ingin segera memberikan ini."

Kusodorkan bungkusan itu ke hadapan Lucien. Dia tampak kaget, lalu menerimanya.

"Untukku?" tanyanya memastikan.

"Iya!" Aku mengangguk penuh semangat. "Kado untukmu. Selamat ulang tahun."

"Apa?" Di luar dugaanku, Lucien tampak bingung. "Hari ini ... hari ulang tahunku?"

Keningku berkerut seketika. "Kamu nggak ingat ulang tahunmu sendiri?"

Lucien menatap kado di tangannya. Dia berpikir sebentar, sebelum akhirnya menatapku.

"Dari mana kamu tahu ini hari ulang tahunku?" dia bertanya.

"Oh, aku mencari di internet," jawabku. "Karena itulah, aku mengajakmu bertemu hari ini. Setelah mempersiapkan semuanya."

Lucien masih menatapku. Dia juga masih tersenyum. Namun, aku bisa mengenali kilat jenaka di matanya.

"Data yang beredar di internet itu salah," katanya tiba-tiba. "Ulang tahunku yang sebenarnya adalah tanggal 15 November."

Informasi ini sungguh tak terduga bagiku. Tak pernah sedikit pun terlintas, bahwa ternyata tanggal ultahnya yang kudapatkan itu keliru.

"Ha-Haah?" Aku kehilangan kata-kata sejenak. "Yaah ... Berarti aku telat, dong ..."

Tak bisa kucegah kekecewaan yang meluber keluar, tergambar jelas lewat nada suaraku.

"Maafkan aku," ucapku penuh penyesalan. "Aku yang seenaknya ingin merayakan hari ulang tahunmu. Aku sudah mengajakmu ketemuan tanpa memastikan padamu dulu."

Lucien tersenyum tipis. Maklum.

"Kenapa minta maaf?" sahutnya lembut. "Aku senang kok, diberi kejutan seperti ini."

"Tapi ... ini 'kan bukan hari ulang tahunmu."

"Tanggalnya tidak penting. Kita anggap saja, ulang tahunku hari ini. Lagi pula, sekarang kamu satu-satunya orang yang tahu hari ulang tahunku yang sebenarnya."

"Baiklah. Tapi tahun depan, kita pasti akan merayakan hari ulang tahunmu sama-sama. Janji, ya?"

"Oke."

Lucien tersenyum. Sepasang iris mata violet nan kelam itu terasa menghanyutkan ketika kutatap. Ada sesuatu yang tidak dapat kupahami di dalam sorot matanya yang lembut dan dalam itu.

"Omong-omong, apa isi kadonya? Boleh kubuka sekarang?"

Lucien membolak-balik bungkusan kado itu, mengamatinya sebentar dengan penuh minat. Lantas dibukanya kertas pembungkus dengan hati-hati, lapis demi lapis. Ketika akhirnya menemukan apa yang ada di dalamnya, matanya sedikit membulat.

"Wow ... Ini, 'kan ..."

Aku merasa senang melihat reaksinya. Tidak mudah untuk membuat seorang Lucien benar-benar kaget.

"Aku sudah lama sekali mencari buku ini. Ternyata kamu ingat." Lucien tersenyum. "Di mana kamu menemukannya?"

"Ada, deh~"

Lucien memperhatikan buku di tangannya. Ekspresinya saat ini sulit diungkapkan dengan kata-kata. Entah kenapa, aku jadi berdebar-debar melihatnya.

"Jangan-jangan karena ini, ya ... akhir pekan kemarin kamu sibuk seharian?" katanya tiba-tiba. "Apa kamu susah payah ke sana kemari, demi mencari buku ini?"

"Ah ... Nggak segitunya, kok. Biasa saja."

Aku harus berbohong, tentu saja. Jangan sampai dia malah merasa tidak enak padaku. Itu akan merusak semuanya. Hanya sedetik berselang, aku langsung sadar siapa yang kuhadapi. Kalau Lucien, pasti bisa mengetahui kebohonganku dalam sekejap, 'kan?

Lucien kembali menatapku. Aku berani bersumpah, sepasang mata itu goyah. Layaknya danau yang tampak hitam di malam hari, lantas ketenangannya terusik oleh kerikil kecil yang dilemparkan ke dalamnya. Membuat riak kecil yang meluas, terus meluas, sebelum akhirnya hilang.

"Kenapa ... kamu melakukannya sampai sejauh itu?"

Aku tersentak. Nada suara Lucien barusan adalah sesuatu yang baru bagiku. Bergetar, walaupun samar. Mengapa dia tampak begitu emosional? Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?

"Lucien? Ada apa?" aku bertanya ragu. "Kamu nggak suka?"

Kulihat Lucien tersentak samar. Dia menatapku, dan dalam sekejap, ketenangannya kembali. Dia kembali menjadi Lucien yang biasanya.

"Tidak, bukan begitu. Aku sangat menyukainya." Satu senyum hangat dipersembahkannya untukku seorang. "Ini hadiah ulang tahun pertama yang pernah kuterima."

Eh?

Apa katanya?

'Hadiah ulang tahun pertama' ... Apa maksudnya? Lucien tidak pernah mendapatkan hadiah ulang tahun sebelumnya? Atau tidak pernah merayakan ulang tahun? Lalu ... bagaimana dengan keluarganya? Teman-temannya? Rekan kerjanya?

Oh, tidak.

Apakah aku tanpa sadar sudah menyentuh hal yang sensitif? Apakah niatku untuk merayakan ulang tahunnya, malah membuat Lucien mengingat hal-entah-apa yang tidak menyenangkan?

"Omong-omong," suara Lucien membuyarkan lamunanku, "apa saja yang sudah kamu siapkan untuk perayaan ulang tahunku?"

"Mmm ..."

Aku terkekeh malu-malu. Sebenarnya waktuku tersita untuk mencari kado. Setelah itu malah tepar sendiri karena kelelahan.

"Maaf ... Aku belum sempat menyiapkan apa-apa selain kado. Bahkan kue ulang tahun juga belum."

"Kan ada aku," Lucien berkata menenangkan. "Soal kue, serahkan saja padaku."

"Eh? Tapi ... masa' harus kamu yang menyiapkannya sendiri—"

"Tidak masalah, kok."

Sebelum aku bisa protes lagi, Lucien sudah sibuk dengan ponselnya. Aku jadi merasa bersalah. Dia yang mau kuberi kejutan ulang tahun, kenapa jadi dia yang harus repot? Lagi pula, malam sudah menjelang. Dia mau memesan kue dari mana kalau mendadak begini?

Aku memandang keluar jendela, bermaksud sedikit mengalihkan pikiranku. Tirainya yang berwarna persik itu hanya sedikit terbuka, tetapi aku masih bisa melihat pemandangan di luar dengan cukup jelas. Di antara kegelapan dan temaram lampu penerangan, tampak bola-bola putih kecil berjatuhan dari langit. Tampak ringan dan jarang-jarang.

"Oh! Salju!"

Tanpa sadar, aku berseru gembira seperti anak kecil. Lucien tertarik untuk menoleh, tepat ketika aku pun memandang ke arahnya. Mata kami bertemu sejenak, dan dia tersenyum. Aku terpana. Rasa-rasanya, itu adalah senyum paling tulus, paling apa adanya yang pernah kulihat dari Lucien.

"Mau melihatnya?" dia bertanya sambil menyimpan ponselnya kembali.

"Mau, mau!"

Lucien tertawa kecil. "Kalau begitu, kita buka tirainya."

Aku ikut tertawa. Kupikir dia akan melarang, mengingat baru beberapa menit yang lalu, aku masih meringkuk kedinginan di sofa.

Dalam waktu singkat, aku sudah melompat ke dekat jendela kaca. Agak terlalu antusias. Rasanya pipiku kram karena terlalu banyak tersenyum hari ini. Namun, aku tetap tersenyum. Hanya hal sesederhana ini, ternyata bisa membuat seseorang merasa bahagia.

Misterius sekali, ya ...

Tepat pada saat itulah, sebentuk kehangatan tiba-tiba merengkuhku dari arah belakang. Butuh beberapa detik, barulah aku sadar, itu adalah Lucien yang memelukku dengan hangat. Jantungku serasa hendak melompat keluar dari tempatnya.

"L-Lucien? Apa yang kaulakukan?!"

Aku yakin sekali, wajahku saat ini pasti merah padam. Bukannya menjauh, Lucien malah memelukku makin erat, makin dalam. Dagunya bertumpu di puncak kepalaku. Dia begitu dekat.

"Aku tidak mau kamu kedinginan lagi," katanya. "Diamlah. Kita nikmati saljunya."

Kuturuti pinta itu. Kunikmati indahnya salju putih berlatar hitamnya malam. Kunikmati pula kehangatan yang kurasakan hingga ke dalam hati.

"O ... Oh, ya!" Tiba-tiba sesuatu terlintas di benakku. "Apa kamu punya permohonan?"

"Permohonan?"

Sebenarnya aku hanya ingin sedikit mengalihkan hatiku yang kelewat senang. Membujuk jantungku agar debarannya yang tak karuan ini sedikit mereda.

"Ya!" Di sini aku terdiam sejenak, mendadak teringat sesuatu yang lain. "Seharusnya permohonan itu dibuat setelah meniup lilin di kue ulang tahun. Tapi ... karena kuenya belum ada ... buat saja permohonannya sekarang. Nggak apa-apa, 'kan?"

"Hmm ... Boleh juga."

Bisa kubayangkan Lucien sedang tersenyum di belakangku. Kalau dia punya permohonan, aku juga ingin mendengarnya. Aku ingin menjadi seseorang yang membantu mewujudkannya.

"Kalau begitu, permohonanku ..." Dia berhenti sejenak. "Aku ... tidak ingin serakah. Aku hanya berharap, bisa merasakan lagi saat-saat seperti ini bersamamu. Di sini."

Lagi-lagi, ucapannya membuat jantungku kembali berdebar-debar. Samar-samar, aku bisa merasakan, kata-kata 'di sini' sesungguhnya bermakna lebih dalam.

"Tahun depan, dan tahun depannya lagi. Dan juga tahun-tahun berikutnya ... Selalu ... Aku akan membuat permohonan yang sama lagi. Agar bisa merayakan ulang tahunku bersamamu. Seperti hari ini."

Suara Lucien makin tenggelam ke dalam bisikan. Namun, aku dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Permohonannya dari lubuk hati terdalam. Harapannya yang sangat sederhana.

Jika itu bisa membuatmu bahagia, maka aku pasti akan mewujudkannya untukmu ... Lucien ...

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Ponselku berdering, tepat ketika diriku sedang menyelesaikan sentuhan terakhir pada riasanku. Cepat-cepat kuraih benda berwarna merah muda itu dari tepi meja rias. Nama 'Lucien' terpampang di layarnya. Segera kujawab panggilan itu.

"Apa kamu sudah siap?"

Dari seberang sambungan, suara Lucien menyapa pendengaran sebelum aku sempat berkata-kata. Kulirik bayangan diriku di cermin. Kurasa dandanan natural ini sudah cukup cantik, cocok dengan gaun krem yang kukenakan. Ditambah aksesoris sederhana, seperti kalung dan anting.

Tidak perlu berlebihan, justru tampak lebih baik untukku.

"Ya, aku siap."

Aku beranjak, lantas mengambil sling bag hitam milikku yang sudah siap di atas ranjang.

"Aku akan segera ke sana."

Kujawab ucapan Lucien dengan satu kata spontan, "Baiklah."

Tak butuh waktu lama, Lucien—tetangga sebelahku itu—sudah muncul di depan pintu. Kami segera berangkat, dengan mobil yang dikendarai oleh Lucien sendiri. Aku duduk diam di sampingnya, sedikit tegang.

"Untunglah, salju tidak lama turun."

Kata-kata Lucien memancing pipiku terasa panas lagi. Teringat bagaimana dia memelukku sementara kami melihat salju turun beberapa jam lalu.

Tak lama setelah itu, sama mendadaknya dengan pelukan hangatnya, dia telah mengajakku pergi berdua malam ini. Dia bilang, sebenarnya dia mendapatkan promo khusus di sebuah restoran, dan sudah ingin mengajakku pergi sejak tadi siang. Hanya saja, belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya.

Tanpa pikir panjang, tentu saja, kuterima ajakannya.

Dan di sinilah kami sekarang. Wow, restoran ini lebih mewah daripada yang kukira. Sebuah restoran kelas atas bergaya klasik. Kalau tidak ingat Lucien mendapatkan promo khusus dari koleganya seperti yang dia bilang, sudah kuajak dia pulang detik ini juga.

Kira-kira semahal apa harga hidangan di tempat ini, ya?

Kugelengkan kepala, mencoba mengusir pemikiran tak penting yang hanya merusak suasana. Ternyata kami mendapatkan tempat duduk di dekat jendela kaca. Segera saja kulayangkan pandang keluar sana. Ke angkasa malam yang kuharap dipenuhi bintang-bintang.

"Oh ... Turun salju lagi," kataku spontan.

Bisa kulihat bayangan samar diriku sendiri yang tampak berbinar-binar melalui kaca jendela.

"Kamu benar-benar suka salju, ya?" Lucien berkomentar.

Aku tersenyum kepadanya. "Habisnya indah."

"Tidak seindah dirimu."

"A ... Apa, sih."

Pelayan datang tak lama setelah itu membawakan daftar menu. Aku pusing membaca jenis makanan beserta harganya yang tertera di situ.

"Kenapa diam?" tanya Lucien. "Mau pesan apa?"

"Uuh ... Aku bingung." Aku terdiam sejenak. "Karena ini sudah malam, lebih baik jangan makanan yang terlalu berat. Salad saja mungkin, ya ...?"

Harusnya itu tidak akan terlalu mahal, 'kan?

"Kalau begitu, aku akan memesan yang sama."

Setelah bicara seperti itu, Lucien memesan seperti apa yang kuinginkan, ditambah minuman. Tapi dia juga menambahkan makanan penutup. Saat aku ingin protes, dia hanya berkata, itu bukan makanan berat.

"Kamu akan menyukainya," katanya dengan nada membujuk.

Aku bersungut-sungut. Lantas menyahut dengan merendahkan suara, "Apa ini tidak terlalu mahal?"

Lucien tertawa kecil. "Sudahlah, nikmati saja makanannya. Tidak usah memikirkan soal harga."

Aku menghela napas. "Untung saja kamu dapat promo khusus."

Segera setelah aku mengucapkan kalimat itu, entah kenapa Lucien mengalihkan pandang. Sejak kapan dia jadi suka memandangi salju dari balik jendela kaca sepertiku? Detik berganti, dan aku pun menyadari sesuatu.

"Lucien~!" Aku nyaris berseru memprotes, tetapi masih ingat untuk merendahkan suara. "Kamu membohongiku?!"

"Kalau aku jujur, mana mau kamu kuajak keluar selarut ini?"

Dia menatapku kembali dengan sorot meminta maaf. Benar, dengan alasan 'Midnight Promo' itu dia bisa beralasan bahwa waktu promosinya sangat terbatas. Jadi, aku tidak akan protes walau diajak makan di restoran, di jam yang tidak lazim. Namun, aku lebih ingin memarahinya yang rela menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengajakku makan.

"Sayang uangnya, 'kan," kataku, masih memprotes.

"Reservasinya sudah telanjur kubayar. Kamu mau menyia-nyiakan uangku?"

"Uuh ..." Aku mati kutu seketika. "Padahal kamu bisa mengajakku ke Spring Teahouse saja seperti biasa. Di situ harganya jauh lebih terjangkau. Tempatnya juga nyaman."

"Kita bisa ke sana kapan saja, tapi hari ini spesial."

"Spesial?" Ulangku sembari mengangkat sebelah alis. "Memangnya ada apa hari ini?"

Lucien hanya tersenyum. Ia lalu meletakkan ujung jari telunjuk di bibirnya.

"Sst ... Tunggu sebentar," katanya kemudian.

Lucien diam. Aku juga diam, setengahnya karena bingung. Tak lama kemudian, terdengar dentang yang cukup mengagetkanku. Ternyata itu adalah suara jam kuno yang ada di restoran ini. Berdentang dua belas kali, memecah keheningan malam.

"Selamat ulang tahun."

Lucien mengucapkan tiga kata itu, tepat setelah dentang jam berhenti. Aku tertegun, tak mampu berkata-kata.

Astaga.

Tanggal berapa ini? Aku ... sama sekali tidak ingat. Namun, ternyata, Lucien mengingatnya.

"Silly girl," katanya sembari menatapku lembut. "Kamu terlalu sibuk memikirkan ulang tahunku, sampai melupakan ulang tahunmu sendiri."

Bisa kurasakan mataku memanas. Tenggorokanku pun tercekat. Bagaimana ini ...? Rasanya aku ingin menangis.

Sebelum aku bisa menguasai diri kembali, Lucien sudah memberiku kejutan lain. Dia menyodorkan sebuah kotak hitam ke hadapanku. Ukurannya kecil saja, seperti kotak perhiasan. Aku tahu merknya, dari sebuah brand ternama.

"Hadiahmu," katanya singkat. "Bukalah."

Aku masih tak mampu berkata-kata. Bahkan sampai tanganku bergerak membuka kotak itu. Di dalamnya, kutemukan sebuah bros, berhiaskan sebuah batu mulia berwarna hijau tua.

"Oh, Lucien ... Ini ... indah sekali ..."

"Kamu suka?"

"Suka banget!" Ucapanku langsung terhenti. "Tapi ... ini pasti mahal, 'kan?"

Aku menatap Lucien. Dia langsung menghela napas.

"Sudah kubilang, tidak perlu mengkhawatirkan soal uang. Kamu mulai menyakiti perasaanku."

Aku tersentak kecil. Benar juga. Hal itu tidak terpikirkan olehku.

"Maaf," kataku menyesal.

"Aku hanya bercanda." Lucien tersenyum. "Biar kupasangkan di gaunmu."

Tak perlu waktu lama, bros itu sudah terpasang di sisi kiri atas gaunku.

"Bagus banget," pujiku terkagum-kagum. "Kebetulan, warnanya juga pas dengan warna gaunku."

"Aku senang kamu menyukainya."

"Terima kasih. Omong-omong, ini batu apa? Warnanya cantik sekali."

"Nephrite jade." Lucien diam sejenak. "Permata yang sering disebut sebagai Guardian Stone."

"Guardian Stone?" ulangku. "Seperti jimat pelindung?"

"Cocok, 'kan, untuk seseorang yang bisa jatuh sendiri ketika memutuskan untuk berlari-lari di atas salju tebal."

Lucien mengerlingku dengan kilatan jahil di matanya. Aku hanya bisa bersungut-sungut. Harus banget ya, dia mengungkit soal itu terus?

"Nephrite jade biasanya diberikan dengan harapan akan melindungi orang terkasih."

Pipiku sontak memanas lagi. Saat ini, Lucien menatapku teramat lembut.

"Dengan begitu," dia masih melanjutkan, "kamu akan tetap aman, meskipun aku nanti tidak berada di sisimu."

Entah mengapa, satu debaran kecil menguat di dalam dadaku. Saat mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba Lucien terasa jauh. Seolah-olah dia bisa hilang begitu saja dari hadapanku.

Perasaan apa ini?

Aku ... takut. Tiba-tiba saja aku takut akan kehilangan dia.

"Hei, ada apa?"

Suara Lucien kembali menyentakku ke alam nyata. Tatapannya sedikit khawatir. Apa yang kupikirkan? Dia ada di sini, di depan mataku. Dia yang selalu bisa menghiburku. Dia yang selalu ada saat kubutuhkan.

Dia adalah Lucien yang selalu bisa kuandalkan.

"Tidak apa-apa." Aku menggeleng pelan. "Aku hanya ... sangat bahagia. Hari ini kita bisa bersama-sama. Merayakan ulang tahunmu, lalu ulang tahunku. Dan kamu memberiku hadiah ini. Rasanya luar biasa. Terima kasih banyak ... Lucien."

"Sama-sama. Kamu juga telah memberiku hadiah yang sangat berharga."

Sekali lagi, senyum lembutnya memenuhi cakrawala pandanganku. Aku pun memberikan satu senyuman terindah, hanya untuknya.

Tidak ada seorang pun yang tahu, apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan malam bersalju ini, aku tidak tahu, akan berakhir seperti apa. Mungkin esok hari akan tetap bersalju. Mungkin akan datang badai. Atau mungkin mentari yang akan menyapa, mencairkan salju yang menumpuk di pagi hari dengan kehangatannya.

Kulepaskan pandang keluar jendela. Sudut mataku menangkap Lucien pun ikut menatap ke arah yang sama. Seperti ini pun tidak apa-apa, bukan? Menikmati 'saat ini', tanpa mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi.

Entah badai ataukah cahaya matahari pagi yang menanti. Apa pun itu, kami bisa menghadapinya.

Bersama.

.

.

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii~ ( ´ ▽ ` )ノ *tengok kiri-kanan*

Ini fanfic pertamaku di fandom Mr. Love. Buat yang belum kenal diriku, salam kenal, yaah ... 😆😊💕

Semoga kalian menikmati cerita ini, yang pada dasarnya adalah pelampiasan kebucinanku *ehm!* terhadap Lucien. Si ganteng yang belum lama ini berulang tahun~ uwu *plak*

Dan seperti yang kalian lihat, kisah ini mengambil ide dari "Snowy Night Date" Lucien, dipadukan dengan ultah MC. Oya, bros nefrit itu idenya dari Moments dari Lucien, pas hari ultah kita (Player). Namun, adegannya nggak sama persis, begitu juga dialognya. Dan juga, ada beberapa scene tambahan.

So, how do you like it? 😉✨

Oh ya, masih ada Extra sedikit di bawah. Dan sampai jumpa di karya-karya berikutnya. Ciao~ 😆💕

.

Regards,

kurohimeNoir

03.12.2020


.

.

Extra

.

.

.

Aku melompat turun dari tempat tidurku, dengan sedikit ingatan akan malam sebelumnya yang bagaikan mimpi. Suara bel pintu depanlah yang barusan membangunkanku dari mimpi indah yang terus berlanjut, mengabadikan malam terindah bersama Lucien menyambut hari jadiku.

Mataku mengerling sejenak ke arah jendela. Ke arah tirai yang tertembus cahaya matahari pagi. Ah, rupanya alam memilih untuk mencairkan semua bekas salju pagi ini.

Setengah berlari, aku bergegas membuka pintu apartemenku. Wajah yang muncul dari baliknya tepat seperti yang kuharapkan, membuat diriku tak bisa menahan senyuman.

"Kamu tidak kelihatan terkejut melihatku."

Suara lembut Lucien melengkapi senyumnya yang tak pernah gagal membuatku merasa hangat dan tenang. Senyum yang hampir terasa seperti bagian dari mimpi, sampai aku merasa ingin meraih Lucien untuk memastikan memang benar dia ada di depanku. Bukan bunga tidur ataupun ilusi.

"Apa? Jangan-jangan kamu memang sedang menungguku?"

Demikian Lucien bertanya. Matanya menatapku dalam-dalam. Sorot yang kuat sekaligus penuh misteri, seolah mampu menyeret siapa pun terbenam di dalamnya.

"Aku juga menunggu-nunggu untuk menemuimu," katanya lagi. "Ini kan hari yang sangat penting bagimu. Kuharap aku tidak terlambat. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan 'selamat ulang tahun' untukmu."

Aku tertawa. "Kamu kan sudah menjadi orang pertama yang mengucapkan 'selamat ulang tahun' padaku semalam."

"Aku ingin jadi yang pertama juga ketika Putri Tidur baru membuka mata di pagi hari."

Aku tertawa lagi. Lantas menatapnya sambil memikirkan satu ide jahil di benakku.

"Kalau begitu, aku juga ingin minta hadiah lagi."

"Hm? Boleh."

"Bukan barang, tapi permintaan yang nggak boleh ditolak."

"Permintaan egois di hari ulang tahun. Oke ... Apa itu? Katakan."

"Nyanyikan lagu 'Happy Birthday' untukku."

"Apa?"

Lucien hampir tertawa. Ia tampak ragu, tetapi hanya sebentar. Kulihat ia terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedang mengingat-ingat nada lagu yang kupinta, barangkali?

"Aku tidak pernah bernyanyi untuk siapa pun, tapi ... baiklah, akan kulakukan untukmu. Lagi pula, kamu yang berulang tahun hari ini," kata Lucien akhirnya. "Dan kurasa, aku hanya akan melakukan ini untukmu."

Aku menatap Lucien dengan perasaan antusias yang membuncah.

"Jangan tertawa kalau suaraku fals."

Lucien menambahkan satu kalimat itu, sebelum benar-benar bersiap untuk menyanyi. Ia berdeham beberapa kali, kemudian menarik napas dalam-dalam. Sementara aku sudah penasaran setengah mati, seperti apa seorang Lucien saat bernyanyi.

.

Happy birthday to you

Happy birthday to you

Happy birthday, happy birthday

Happy birthday to you

.

Suara lembutnya memenuhi pendengaran, hati, dan pikiranku. Aku benar-benar tersenyum lebar selama Lucien bernyanyi untukku. Hanya untukku. Bahkan sampai lagu itu selesai, aku masih tersenyum.

Aku agak terkejut ketika Lucien tiba-tiba mengulurkan tangan, lantas mengusap atas kepalaku. Dia menatapku lebih dalam daripada sebelumnya. Lebih dekat. Membuatku merasa seolah tertarik ke dalam jurang tanpa dasar. Agak menakutkan, tetapi di saat bersamaan, aku membiarkan diriku tetap jatuh di dalam pesonanya.

"Kenapa diam saja?" tanyanya, setengah berbisik.

Aku mengalihkan pandang. Merasakan betapa pipiku jauh lebih panas daripada yang sudah-sudah. Namun, Lucien tetap tidak menjaga jarak. Begitu pula diriku, yang tidak lantas memutuskan untuk menjauh.

"Silly girl. Apa kamu ... merasa malu? Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatmu."

Aku kembali menatapnya perlahan. Senyumnya masih sama lembutnya, begitu pula tatapan matanya.

"Kamu tidak percaya?" Dia kembali mendekat kepadaku, kemudian berbisik lembut di telingaku, "Hari ini, hanya ada dirimu di mataku. Dan aku ingin, kamu juga hanya melihatku, tidak ada lagi yang lain."

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Namun, kemudian, kudengar suara tawa kecil Lucien. Rasanya sudah lebih jauh dari pendengaranku. Karena itulah, kuberanikan untuk membuka mata kembali. Kulihat Lucien sudah mundur satu-dua langkah. Matanya berkilat jenaka saat menatapku.

Dia mempermainkan aku lagi!

"Aku harap, hidupmu akan bahagia." Senyum tulusnya kembali tak lama kemudian. "Kamu tahu? Tak peduli berapa tahun pun berlalu, kamu akan tetap menjadi gadis termanis di dalam hidupku."

Astaga.

Mau sampai mana Lucien terus membuatku berdebar-debar seperti ini? Aku yakin seribu persen, merahnya wajahku pasti sudah mengalahkan kepiting rebus sekarang.

"Hei ... Sejak tadi kamu tidak bicara sepatah kata pun?"

Aku menatapnya, sedikit cemberut. Laki-laki ini benar-benar sangat suka menggodaku, ya?

"Aku lapar."

Akhirnya hanya dua kata itu yang kuucapkan dengan nada merajuk. Tapi benar kok, aku memang lapar. Tawa lepas Lucien pun mengisi ruang tengahku setelah itu. Curang sekali. Dia tak pernah membiarkanku kesal berlama-lama kepadanya.

"Mau makan kue ulang tahunku yang semalam?" tawarnya. "Masih ada sisa banyak."

"Yang benar saja!" protesku. "Masa' pagi-pagi makan kue?"

Lucien berpikir sebentar. "Kalau begitu ... kubuatkan omelet. Mau?"

Aku tersenyum. Tanpa menjawab lagi, kugamit tangannya. Lucien menurut saja saat aku menggelandangnya menuju dapur.

"Lucien, kamu datang ke sini pagi-pagi sekali. Sudah sarapan?"

"Belum."

"Ya sudah, kita sarapan sama-sama."

"Oke."

.

.

.

TAMAT