Disclaimer : Hypnosis Mic adalah milik King Records dan Evil Line Records. Saya selaku author hanya memakai chara ke dalam fanfiction sebagai hiburan.
Judul : Aku Benci Hujan
Genre : Family, Friendship, Soft
Rate : T
Malam itu hujan dingin menerpa, Sasara yang hampir basah kuyup berhasil masuk ke rumah kosan Rosho. Sambil mengacak-acak rambutnya yang basah terkena tetesan air hujan. Kedua tangannya ia usap ke lengan untuk mendapatkan kehangatan sembari berjalan menuju ruang kos partner-nya.
Sasara yang setiap 3 hari berkunjung tak segan-segan membuka pintu. Tak terkunci, tapi dia berpikir itu bukan Rosho. Tidak lupa Sasara melepas kedua sepatu dan menggantinya dengan sandal ruangan. Masuk ke ruang utama dan dugaannya benar, Rei yang datang duluan duduk bersilah sembari menengak secangkir sake juga menunggu kedatangan sang pemilik kosan.
"Oh.. Rei datang juga nih?"
"Dek Sasara, ahaha iya nih,"
Sapaan singkat diantara mereka berdua. Meskipun mereka sudah menjadi "teman" dalam satu divisi, tapi bagi Sasara rasa canggung itu masih ada. Pelawak berambut hijau itu menutupi rasa canggung tersebut dengan senyum palsu.
Hening. Sasara yang membenci keheningan itu memaksakan diri untuk memulai percakapan.
"Bagaimana dengan bisnis tipu-menipumu itu?" sembari Sasara menyiapkan puding kesukaan Rosho untuk diletakkan di atas meja.
"Yah begitulah.." jawab Rei singkat membuat Sasara makin canggung.
"Palingan juga rugi kan,"
"Kok dek Sasara bisa berpikir begitu?"
"Nebak aja,"
"Oh.."
Segitu saja percakapan random yang dilakukan Sasara. Tidak mengalir seperti saat dirinya berbicara dengan Rosho yang dibalas respon cepat plus ngegas. Hujan yang sedari tadi masih turun tiba-tiba saja mengedor jendela pintu luar. Sepertinya Rosho lupa untuk mengunci erat pintu tersebut sehingga udara dari luar masuk menerbangkan gorden beserta cipratan air hujan menetes ke lantai.
"Ish.." Sasara yang membenci hal itu bergegas menghampiri. Dia melihat hujan tak kunjung reda, justru semakin deras. Wajah muram dari mata sipit Sasara itu nampak jelas di mata Rei. Ekspresi Ketidaksukaan Sasara dipertegas kala dia mendumel berbisik pelan karena air hujan yang terciprat jatuh ke bajunya ketika sedang berusaha menutup jendela.
"Dek Sasara benci hujan ya?"
Pertanyaan tanpa basa basi itu terlontar dari mulut Rei. Sasara tidak langsung merespon. Butuh beberapa detik kemudian setelah dia berhasil menutup jendela.
"Tentu saja. Aku benci hujan," jawab Sasara sembari menatap hujan yang menetes jatuh ke kaca jendela.
"Hee.. Kalau begitu dek Sasara membenciku dong?"
Sasara bingung dengan ucapan Rei. "Kenapa?"
Rei menuangkan botol sake lalu menuangkannya ke cangkir dan menegak hingga habis, baru kemudian dia menjawab pertanyaan balik dari Sasara.
"Karena aku suka hujan. Bisa dibilang aku seperti hujan," jawaban om berjenggot ini semakin tak dimengerti oleh Sasara.
"Apa-apaan itu.." balas Sasara mengernyitkan dahi.
Rei meletakkan cangkir miliknya. "Jadi.. Apa kau membenciku juga?"
Sasara tak langsung menjawab. Seketika dia menunduk. Seperti ada yang dia pikirkan namun tak bisa dia sampaikan. Karena Sasara masih tidak mengerti kalimat Rei. Tidak mau menyakiti perasaan orang lain, dia berpikir untuk berkata bohong.
"Ahaha tentu saja-"
/ckrek
Belum Sasara menyelesaikan jawabannya, terdengar suara pintu masuk terbuka. Siapa yang masuk selain pemilik rumah, Rosho. Bukannya melanjutkan perkataannya, Sasara bergerak melangkah menuju suara pintu tersebut.
"Rosho, selamat dataang~ " sumringah pria bermata garis ini melengkung di tiap sudut.
"Oh Sasara toh.." jawab Rosho sudah merasa terbiasa dengan kehadiran sang pelawak.
Rosho yang masih sibuk menata sepatu tampak heran melihat satu sepasang sepatu lagi selain milik Sasara. Sepatu pantofel kuning-atau lebih tepatnya emas- terletak rapi di pinggir.
"Eh ada Rei juga ya disini?" tanya Rosho sembari memasukkan sepatu miliknya ke dalam rak. Namun, Rosho tak langsung mendengar jawaban dari Sasara.
"Sasara?" panggil Rosho menyebut namanya. Sontak pria mungil ini terkejut.
"Ah apa?"
Rosho mengernyit dengan sikap Sasara hari ini. Belum sempat dijawab olehnya, sosok yang sedang mereka bicarakan muncul dari balik ruang tamu.
"Yo, dek Rosho"
"Sudah kuduga. Sar, tadi kan aku tanya ada Rei juga toh disini.."
"Ta-tadi aku mau jawab iya," tampak wajah Sasara pucat beralasan.
Rosho hanya menyipitkan mata terhadap sikap Sasara yang tak mudah ditebak itu. Rosho seketika ingat bahwa dia membawa sesuatu.
"Aku beli banyak kaleng bir, kita minum-"
"Maaf, tapi kurasa ini sudah waktunya aku pergi,"
"Heh?"
Sungguh mengejutkan diluar dugaan, Rei yang gila minum bir itu tiba-tiba pamit untuk pulang. Biasanya dia yang paling awal menerima barang belanjaan Rosho untuk segera meminum berkaleng-kaleng bir. Tapi kali ini dia pulang tanpa meminum setegak bir yang telah dibeli Rosho. Itu terlalu aneh.
Rei mengambil jaket bulu yang digantung. Kacamata beserta topi fedora sudah ia pakai. Rosho melihat penampilan Rei yang terbuka itu langsung teringat kalau di luar masih hujan cukup deras.
"Oi, di luar masih hujan lho," tegor Rosho.
"Tenang saja, aku selalu bawa payung," jawab Rei sembari menepuk-nepuk lembut pundak Sasara kemudian pundak Rosho.
Namun yang dilihat Rosho tidak ada payung yang digantung di rak. Rei yang sudah membuka pintu masuk hanya melambaikan tangan tanpa mengucapkan salam perpisahan hingga sosoknya telah menghilang di balik pintu.
"Apanya yang bilang bawa payung, kulihat dia tidak membawanya. Dasar!"
"Apa dia marah.."
"He?"
Rosho mendengar gumaman dari mulut Sasara. Untuk meyakinkan sekali lagi, dia pun menanyakannya.
"Apa kau bilang?"
Menyadari bahwa Rosho mendengar ucapannya, sontak Sasara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aaah.. kau bawa kaleng bir yang banyak kan? Yuk kita minum, aku beli puding kesukaanmu juga lho!"
Rosho yang merasa salah dengar tanpa menanyakannya lagi, dia menuruti apa yang diucapkan Sasara dan bergerak masuk ke rumahnya sendiri.
Esok hari Sasara yang sibuk dengan pekerjaannya memutuskan untuk lembur seharian dalam kantor. Sasara yang kelelahan menelusuri gelapnya tengah malam hari menyempatkan diri untuk membeli sesuatu di minimarket. Penampilan Sasara memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Cukup membeli makan untuk mengisi perut hari ini.
"Terima kasih," sesaat setelah kasir mengucapkan selamat tiba-tiba saja hujan rintik turun menetes jatuh ke kaca pintu minimarket.
Sasara menoleh melihat rintikan tersebut. "Ehhh hujan?" ucap Sasara cemberut. Dia merogoh ponsel di saku celana. Menekan tombol power untuk menyalakan lampu latar melihat aplikasi perkiraan cuaca di layar kunci.
"Bilang cerah sepanjang hari.." gumam Sasara mengernyitkan dahi karena meragukan aplikasi tersebut.
Tak disangka seketika saja hujan turun cukup deras menyebabkan dirinya tertahan di minimarket sejenak. Kasir mengatakan padanya bahwa minimarket itu tidak buka 24 jam. Akhirnya Sasara memutuskan untuk menunggu di bawah teras depan minimarket. Sasara menebak hujan ini takkan kunjung reda hingga pagi.
Terpaksa dia memaksakan diri menerobos derasnya hujan. Tetes demi tetes terus jatuh di rambutnya. Dan tetesan air itu terus membuat Sasara merasa ketakutan. Perasaan takut yang membuatnya mengenang masa lalu kelam.
Hujan semakin deras. Sasara semakin mempercepat langkah kakinya. Wajah Sasara yang terus ditetesi hujan menciptakan delusi. Kedua matanya yang sipit itu melihat sosok pria jangkung dengan rambut ungu yang disibak ke belakang menoleh kepadanya.
"Rosho?"
Sasara menebak siapa sosok tersebut. Dia menambah kecepatan lari. Akan tetapi, sosok itu terasa semakin menjauhinya. Semakin tidak dapat ia gapai.
"Kumohon... Jangan pergi-"
/tes
"-Ah"
Satu tetes air hujan jatuh di ubun-ubun sehingga mengejutkan Sasara.
"Mimpi ya.."
Sasara terbangun sadar kala dia meringkuh jongkok kedinginan di tempat berlindung. Dia terlelap tidur. Rupanya dia tetap tidak berani menerobos lebatnya hujan. Badan bagian atas sudah basah kuyup.
"Aku benci… hujan," gumam pelan Sasara. Terlihat dari tangan kanan Sasara menggenggam ponsel sedang mengirim pesan pada Rosho untuk meminta dijemput. Namun, balasan pun tak kunjung diterima.
Hujan masih tak menunjukkan tanda reda. Sasara pun berpikir untuk tidak segan tinggal di tempat berlindung itu. Tengah malam di gang sempit seperti itu, memanggil taksi saja Sasara tak membawa uang yang cukup. Apalagi berharap seseorang lewat juga sangat mustahil.
Rasa kantuk kembali menyerang mata Sasara. Mulutnya terus menguap.
"Sudahlah. Tidak akan ada yang datang lewat sini," Sasara masih meringkuh memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Tiba-tiba saja di kepalanya terbayang satu orang.
"Andai Rei disini…" tanpa sadar Sasara mengucapkan satu kalimat tersebut.
"Kenapa?"
Tak berselang waktu semenit, suara yang cukup berat terdengar sedang memayungi Sasara.
Dia melihat sosok besar mengenakan jaket bulu serta topi fedora menutupi wajah. Sasara sudah dapat menebak siapa itu.
"Lho, Rei?" masih tidak percaya sosok om itu muncul dihadapannya. "Ah mimpi lagi nih,"
Terlukis senyum tipis dari wajah keriput itu. Dia mengambil topi fedora tersebut dan meletakkannya di atas kepala Sasara.
"Ini aku lho.. A-k-u-!"
"He? Beneran Rei toh?!"
Betapa terkejutnya kala Sasara sadar tidak sedang terlelap ataupun mimpi. Dia membuktikannya dengan mencubit pipi. Terasa sakit. Sosok Rei benar-benar datang menghampirinya.
"Bohong kan, kok bisa? Tempat ini jarang orang lewat di tengah malam lho!"
"Biasa, bisnis." jawab Rei sangat singkat.
"Hmmm.." Sasara menyipitkan matanya yang sudah sipit tanda curiga pada pekerjaan Rei.
"Kau sendiri?" giliran Rei yang melempar tanya.
"Aku baru pulang dari kerjaan dan kebetulan ke minimarket," jawab Sasara memalingkan wajah. Sepertinya dia masih belum terlalu akrab dengan om tersebut.
"Kalau gitu bareng saja.. sama aku," tanpa basa-basi Rei mengajak pulang bersama. Sasara tidak langsung mengiyakan. Dia masih ragu, tapi dia melihat sebuah payung yang dipegang Rei.
"Om.. benar-benar bawa payung ya?"
"Sudah kubilang kan, aku selalu bawa payung," ucap Rei sembari melepaskan jaket bulu yang dia kenakan. "Nih!" lalu dia memakaikannya kepada Sasara. "Kau kedinginan kan?"
Sasara sedikit terkejut, jaket bulu yang diberikan Rei sungguh sangat lembut dan hangat. Kini seluruh tubuh Sasara benar-benar dibaluti jaket bulu tersebut.
"Hangat," bisik pelan Sasara sambil mengosok-gosokkan wajahnya di jaket itu.
"Hah? Kau bilang sesuatu?" Rei tidak terlalu mendengar ucapan Sasara.
/buk
"Eh?"
Tiba-tiba saja Sasara menabrak tubuh Rei. Kepala hijaunya itu bersandar pada dada besar milik om berumur 46 tahun.
"Ada apa?"
Sasara terdiam beberapa detik.
"Tidak.." jawab Sasara masih menutupi wajahnya di dada Rei.
Rei tidak mengerti, namun dia berusaha untuk menenangkan Sasara dengan meletakkan tangannya di atas kepala Sasara.
"Kalau ada masalah, hubungi saja aku. Karena saat itu terjadi, aku akan datang secepat hujan,"
Tubuh Sasara sedikit bergetar terkejut ketika mendengar ucapan Rei. Tapi karena ucapan Rei itu membuat Sasara senyum kecil.
"Bohong! Janji ketemuan aja masih sering telat sejam!"
"Itu mah masalah yang lain lagi,"
Sasara merespon Rei tidak seperti biasanya. Terasa sedang berbicara dengan partner-nya sendiri.
"Yuk ah pulang! Nanti keburu hujan deras lagi," Sasara tidak ragu lagi mengalungkan tangannya pada lengan Rei.
Melihat sikap Sasara yang berubah drastis dari sebelumnya membuat Rei heran kebingungan.
"Dek Sasara, kau itu aneh ya.."
Pria dengan tinggi 174cm itu hanya membalas dengan senyuman. Dia mendekap erat tubuh besar Rei.
"Kurasa hujan yang ini tidaklah kubenci," secara spontan ucapan Sasara terdengar oleh Rei.
"Apa yang kau maksud itu aku?"
"Entahlah…" Sasara memalingkan pandangan dengan garis senyum lebar dan lengkung mata sipit terukir di wajahnya.
-TAMAT-
Haloooo balik lagi, kali ini saya ngeshipin ReiSasara UwU banyak banget author nemu asupan mereka, suka banget ngebayangin Rei ngedekap Sasara. Oh iya sama suka sama gap tinggi mereka ini.. Pokoknya author ngeship hard anak2 DotsuHon XD
