.
story might be OOC! keep in mind kalau aku memakai visualisasi mereka di season 4 (post-timeskip) dimana penampilan dan sifat mereka sudah berubah tidak seperti di season sebelumnya
.
Sebelum punya pacar, Annie Leonhart punya insekuritas yang tinggi bila itu menyangkut kehidupan cintanya. Dulu saat Armin Arlert mengajaknya berpacaran, Annie berburuk sangka bahwa itu semua hanyalah bohongan. Tapi setelah berbulan-bulan Armin meyakinkannya, Annie mulai yakin bahwa aksinya hari itu murni didasari cinta.
Annie juga ingat konfrontasinya di hadapan Armin yang mendesaknya mengaku bahwa ini semua hanyalah taruhan.
"Kenapa kau mengajakku pacaran? Apa kau dan teman-temanmu itu bertaruh tentang siapa yang berhasil memacariku?"
Pertanyaan yang bodoh tentu, karena tidak pernah sedikitpun pemikiran seperti itu muncul di kepala Armin.
"Annie, jangan pernah pemikiran seperti itu masuk ke kepalamu. Kau tahu gak? Ketika aku mengatakan aku cinta kamu, itu bukan hanya sekedar kebiasaan. Aku melakukan itu sebagai pengingat bahwa kamu adalah hal yang terbaik yang pernah ada di kehidupanku."
Armin mencintai Annie apa adanya, sebagaimana adanya.
Annie tidak sadar bahwa dirinya sangat cantik. Tapi memang, dia yang pendiam, selalu memasang wajah jutek, serta cara bicara yang nyelekit itu lah yang membuat banyak lelaki jadi segan untuk mendekatinya. Apalagi dengan sabuk hitam karate yang dipegangnya, membuat banyak orang selalu menjadi berhati-hati ketika berhadapan dengannya.
Saat Armin mengutarakan perasaannya, Annie hanya beranggapan bahwa cowok ini gila. Bisa-bisanya dia jatuh cinta pada Annie yang kasar dan bukan pada Pieck atau Historia yang lemah lembut?
"Kalian pernah ciuman gak?" tanya Hitch. Dia ini teman kantor Annie yang terlalu bebas kehidupannya, terlalu liar, dan punya banyak mantan.
Annie memikirkan apa-apa saja yang pernah ia lakukan bersama Armin selama mereka berpacaran. Semuanya tidak pernah jauh dari pegangan tangan atau pun cium pipi.
"Pernah." jawab Annie.
"Bibir?" kali ini Mina yang bertanya. Salah satu temannya yang dulunya kelewat polos tapi sudah dinodai oleh keliaran Hitch.
"Pipi."
"Hanya pipi?" tanya Hitch.
Annie menggeram, "Memangnya apa sih yang kalian mau dengar?"
"Ciuman bibir? French kiss? Pernah dengar?"
Mina mengangguk di sampingnya, "Apa Armin tidak pernah mencuri-curi kecup darimu di bibir?"
Annie menggeleng, "Kenapa sih kita membicarakan ini?"
"Annie? Serius? Bahkan mencium bibir pun tidak pernah?" Hitch bertanya dengan penuh hiperbolis. "Astaga dia itu nafsu tidak sih denganmu?"
Alis di kepalanya terasa berkedut-kedut menahan marah, "Apa sih maksud kalian?" tanya Annie.
"Armin itu beneran tidak sih suka sama kamu? Masa dia tidak nafsu denganmu?"
Pertanyaannya Hitch memang terdengar kurang ajar tapi ampuh meninggalkan efek pada Annie.
Mina yang lagi-lagi kesuciannya sudah ternodai mengamini perkataan Hitch, "Cowok kan kalau sudah punya pacar pasti ingin sedikit-sedikit menyeleweng ke arah itu."
Dia sudah pernah mendengar cerita tentang teman-temannya yang kehilangan keperawanan bersama pacarnya. Pernah juga cerita tentang ciuman-ciuman french kiss yang katanya melibatkan lidah.
Tapi Armin? Kecupan-kecupan di pipi Annie pun dilakukannya dengan kilat.
Apa Annie tidak semenggairahkan itu?
"Kamu kenapa?" tanya Armin saat dia menjemput Annie di tempat kerjanya.
"Tidak apa-apa." jawab Annie singkat.
"Serius?" tanyanya, Annie mengangguk. "Mau makan dulu?"
Dia menggeleng. "Nanti saja." jawabnya. Setelah itu matanya dilayangkan pada pemandangan di luar mobil.
"Mau cerita?" tanya Armin lagi. Fokusnya berubah-ubah dari Annie ke jalanan. Dia sedang menyetir omong-omong. "Ada yang bisa aku bantu?" Astaga. Mengapa sih Armin Arlert itu pacar yang sangat sempurna?
"Nanti." Jawab Annie. Cowok dengan rambut berpotongan undercut itu hanya bisa mengangguk. Dia sudah hafal kalau Annie sedang dalam suasana hati yang buruk; jangan diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan.
"Kalau kamu mau cerita, aku akan dengarkan, Sayang." ujar Armin sembari mengelus puncak kepala Annie.
Sejatinya, skinship sederhana seperti ini ampuh mendebarkan hati Annie tetapi dia pun masih ingin tahu tentang apa yang ada di kepala Armin ketika memikirkannya?
"Menurut kamu aku ini cantik gak?" tanya Annie ketika mereka mulai memasuki pelataran parkir gedung apartemen.
Armin menaikkan alisnya, "Iyalah. Scarlett Johansson saja kalah sama kamu, An."
"Aku bertanya dengan serius, Ar."
Dia tidak menjawab dulu perkataan Annie sebelum akhirnya memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Kemudian wajah dan tubuh atasnya menghadap Annie seluruhnya, "Annie, yang aku lihat darimu itu bukan hanya soal penampilan, tapi hati dan kepribadian. Kamu adalah orang baik, makanya aku mau menjalin hubungan denganmu. Kadang aku juga berpikir kok bisa ya Tuhan mempertemukan aku dengan cewek sesempurna kamu?"
Annie mendengus, "Tidak ada manusia yang sempurna, Armin."
Armin mengambil tangan Annie dan mengecupnya, "Di mata orang lain mungkin. Tapi di mataku tidak mungkin."
Tapi Annie tidak puas dengan jawaban Armin. Sebagai gantinya, dia melarikan tangannya di atas bahu Armin dengan pelan. Cowok itu menggeliat kecil, "An, kamu kenapa sih?" tanyanya setelah Annie mengangkat tangannya. Gerakan impulsif seperti ini sangat bukanlah Annie.
"Ternyata benar."
"Benar apa?"
"Kamu tidak nafsuan sama aku."
What?
Serius deh, Armin benar-benar dibuat melongo oleh Annie. Hampir saja dia kehilangan Annie bila tangannya tidak cekatan menahan wanita itu untuk turun dari mobilnya.
"Tidak nafsuan kau bilang?" tangannya menarik tubuh Annie lebih dekat, sementara satu tangannya lagi meraih pintu mobil untuk menutupnya kembali.
Tatapan Annie menghindari mata Armin. Tatap mana pun asal jangan mata dia, deh! "No. Forget about that. Yang tadi itu tolol banget." Tangannya menggeliat ingin keluar dari genggaman Armin. Sekarang pria itu bukan cowok culun yang lemah. Sekarang dia adalah pria, badannya jadi berotot, dan tenaganya menjadi lebih kuat daripada Annie.
"Look at my eyes when you're talking, Leonhart."
Annie berdecak sebal, "Udah lupakan saja."
"Annie…" Bola mata biru Annie membesar. Suara Armin tiba-tiba terdengar memberat. Dia juga menyadari bahwa wajah kekasihnya mulai mendekat. Nafasnya mulai terasa hangat di wajah Annie. Parfumnya juga semakin menyengat memasuki syaraf hidungnya.
"You have no idea how difficult for me to control myself whenever you are around, Annie."
Uh-oh. Sekarang Annie mati gaya. Wajah Armin semakin mendekat.
"Ar…"
"Shh... no talking. Aku tunjukkan padamu kalau kau punya efek yang sangat besar bagiku."
Ketika bibir mereka mulai menempel, saat itu lah Annie merasa seperti tidak bernafas. Pikiran dan paru-parunya serasa disabotase oleh Armin.
This is her first kiss. Namun setidaknya ciuman pertamanya diambil oleh orang yang tepat sih.
"Damn." Armin tampaknya sangat terpesona atas tindakannya dan kembali menempelkan bibirnya di atas bibir Annie.
Tolong hubungi 911 untuk Annie Leonhart sekarang juga! Karena dia benar-benar sudah meleleh, dan perutnya dipenuhi kupu-kupu.
Ciuman mereka awalnya terasa canggung namun semakin lama rasanya semakin majestik. Penuh keputusasaan dan mereka saling berbalapan mencari-cari jawaban yang belum pernah mereka dapati. Annie pun lupa mereka masih ada di dalam mobil. Yang ada di kepalanya hanyalah Armin, Armin, dan Armin.
Jantungnya serasa ingin melompat ketika ia merasakan lidah lelaki itu mulai masuk dan menjelajahi deretan giginya. Apakah ini yang orang-orang sebut sebagai french kiss?
Kedua tangannya semakin putus asa memeluk tengkuk Armin dan menarik ujung rambutnya. Kepalanya berkali-kali terantuk kaca mobil namun Annie masa bodoh. Ada yang lebih penting disini. Wajah mereka berdua menjadi sangat dekat. Ketika Annie membuka matanya, ia bisa melihat pori-pori pria itu dengan jelas. Bulu matanya yang panjang terlihat membingkai kelopak matanya yang tertutup. Pencahayaan yang rendah dan hanya berasal dari lampu parkiran membuat semuanya terasa sensual.
Mungkin juga waktu berhenti ketika bibir mereka saling berpagut, tetapi debaran di jantungnya itu semakin meningkat. Lutut Annie melemah, rasanya ia ingin sekali meleleh ke kursi yang ia duduki. Dia hanya bisa fokus pada betapa lembutnya bibir Armin terhadap mulutnya, betapa adiktifnya dia menyerang semua inderanya.
Ketika paru-parunya mulai sesak karena kehabisan udara, Armin melepas pagutannya dengan tetap mempertahankan wajahnya dalam jangkauan Annie. Kening mereka menempel. Benang saliva menjejak di antara bibir mereka.
"Wow."
Annie mengangguk canggung. "Yeah. Wow."
Armin mengecup bibirnya sekali lagi dengan kilat sebelum menegakkan duduknya. "Maaf." ujarnya, "Aku kelepasan."
"Tidak apa." ujar Annie. Diam-diam sekarang ia merasa senang. "Yang tadi itu first kiss-mu?" tanyanya. Ayo jawab iya, batin Annie dalam hati.
Dari reaksi Armin yang memberi jeda sebelum menjawab, Annie tahu jawabannya akan menjadi jawaban yang tidak menyenangkan. "Bukan. Tapi ciuman tadi menyadarkanku kalau seharusnya aku menciummu dari dulu." semburat merahnya muncul menghiasi pipinya. "I hope you are my last kiss."
Annie tersenyum seperti remaja yang baru kasmaran. "Thanks."
"For what?"
"For kissing me."
"Aku yang seharusnya berterimakasih, Annie. Kau bahkan tidak mendorong wajahku menjauh."
Wanita itu menggeleng, "Tidak. Ciuman itu sudah membuktikan semuanya. Maaf atas pernyataan bodohku tadi." matanya menjelajahi wajah Armin. Tuhan pasti menciptakannya ketika dia sedang tersenyum.
"Kenapa tiba-tiba kamu berpikiran seperti itu, sayang?" tanyanya. Annie kemudian menceritakan percakapannya dengan Hitch dan Mina seraya jari-jari Armin berlari di surai pirangnya. Kemudian Armin tersenyum setengah terkikik. "Annie, kau tidak tahu saja kalau…" ia terdiam.
"Kalau apa?"
Wajahnya tiba-tiba memerah menahan malu, "Tidak apa-apa. Ayo turun."
Annie bersikeras, "Apa yang tidak aku tahu, Ar?" tangannya menggenggam bisep Armin keras.
Pria itu mendesah tangannya mengusap wajahnya frustasi, "Akuseringmimpibasahdenganmembayangkanmu." Rentetan kalimatnya terlalu cepat untuk didengar Annie.
"Tidak jelas. Ulangi." Bohong. Annie mendengar jelas semuanya. Dia melakukan itu hanya untuk menggoda Armin.
"Nanti aku beri tahu kau kalau sudah waktunya." Armin menjawab tanpa melihatnya. Tangannya sengaja bermain-main di atas handphone. Sepertinya sengaja untuk pengalih perhatian.
Annie jadi merasa bersalah karena prasangka-prasangka buruknya terhadap Armin muncul. Tapi setidaknya ia tahu, ia punya pengaruh terhadap lelaki itu.
"Mau mampir?" tanya Annie.
"Maaf, sayang. Malam ini tidak dulu. Aku ada beberapa pekerjaan yang aku bawa pulang dan harus selesai besok." ia mengangkat bahunya. "Kau tahu Erwin. Dia atasan yang sangat ambisius."
Annie mendengus, "Okay. See you later. Thanks for the ride." bibirnya mengecup pipi Armin kilat. "Bye. Hati-hati di jalan."
"Bye, Babe."
Armin tidak langsung pergi dari apartemen. Malah, yang dia lakukan hanya duduk sambil menangkupkan tangannya frustasi.
"God damn, Armin junior! Not now!" tatapannya frustasi ke arah selangkangannya yang menunjukkan tonjolan yang terasa sakit baginya. "Stupid boner."
Sejujurnya bahkan Armin tidak membawa pulang pekerjaan kantornya. Tapi dengan boner seperti ini? Bukan tidak mungkin ia malah akan kelepasan. Kalaupun hal itu akan mereka lakukan, Armin ingin melakukannya dengan persetujuan dan keinginan Annie juga. Bukan karena hormon testosteronnya yang melonjak naik bahkan dari awal Annie berkata tentang nafsu atau apalah itu.
Armin bergidik, sensasi tangan Annie yang mengelus bahunya masih terasa sampai sekarang. Dia juga cemas berharap Annie tidak memperhatikan tonjolan di celananya.
