Summary: Ketika sedang delving ke salah satu buku, Akutagawa dijebak oleh shinshokusha. Antara kesedihan yang asli atau kebahagiaan yang palsu, bagaimana dia kembali?

Bungou to Alchemist produknya DMM Games

Akutagawa hanya ingat dia sedang sensho ke salah satu novel, lalu ada lubang angin yang tiba-tiba muncul di antara dia dan shinshokusha yang dilawannya.

Sebelum sempat mundur, dia sudah lebih dulu terseret ke dalam. Sebelum benar-benar tenggelam, Akutagawa bisa mendengar Kan dan Dazai meneriakkan namanya. Lalu semuanya berubah putih.

Sekarang tahu-tahu, dia terduduk di bawah hujan. Ini halaman rumah yang luas, dengan orang-orang berpakaian hitam tampak berkerumun.

"Ada apa?" tanyanya pada orang-orang itu. Namun, tidak ada yang menjawab. "Apa yang terjadi?" ulangnya, kali ini sambil menepuk-nepuk pundak orang yang dia tanya. Seperti sebelumnya, mereka tetap abai.

Akutagawa akhirnya menerobos masuk ke dalam. Di koridor yang terasa familiar, dia tiba-tiba jadi agak tenang karena melihat Kan dan Kume yang sedang saling tatap dari jarak dua meter.

Akutagawa kebetulan berdiri di belakang Kan, jadi yang dia lihat adalah wajah Kume. Yang secara aneh, sedang mengigit bibirnya kuat-kuat.

"Kume, kamu ... kenapa?" Akutagawa menghampiri dengan khawatir, melewati Kan untuk sampai tepat di depan Kume. "Habis dimarahi Natsume-sensei? Ada masalah dengan Matsuoka?"

Kume tidak menjawab, masih saja menatap lurus seolah tidak ada Akutagawa di hadapannya. Mereka biasanya memang saling irit bicara, tetapi tidak sampai mengabaikan separah ini.

Menghela napas, Akutagawa menoleh pada Kan, berniat ganti bertanya padanya soal keanehan Kume. Namun, dia malah jadi membeku kala melihat wajah Kan.

Itu lebih parah dari Kume. Kan yang terang-terangan menangis seperti ini tidak pernah terbayangkan olehnya. "Kan, ada apa?!" Beralih mendatangi Kan, Akutagawa pada akhirnya hanya bisa terpaku, sementara bahu temannya itu berguncang oleh tangis, yang tidak tampak akan berhenti dalam waktu dekat.

Siapa yang berani-beraninya membuat mereka berdua jadi seperti itu? Akutagawa merasa marah pada subjek yang tidak dia ketahui. Dia bahkan belum tahu apa sebenarnya penyebab dua orang itu begitu berduka.

Karena baik Kan maupun Kume, tidak ada yang menanggapi keberadaannya, Akutagawa memutuskan keluar dari rumah itu dan duduk di bawah pohon, di halaman yang rasa-rasanya tidak asing.

'Kau yang melakukannya, kan?'

Terdengar bisikan rendah di telinganya . Tidak jelas asalnya dari mana, tetapi bagi Akutagawa sendiri itu seperti bergema dengan keras di kepala.

"Aku?"

'Kau yang membuat mereka menderita seperti itu.'

"Mana mungkin! Aku ..."

'Kalau begitu mau lihat yang lainnya?'

Tahu-tahu Akutagawa sudah berpindah tempat lagi. Kali ini ke sebuah lorong di rumah yang berbeda. Selagi menatap sekeliling, dia mendengar isak tangis yang terlampau sedih, terlalu pilu.

"Akutagawa-sensei, kenapa ... kenapa ...?".

Akutagawa melangkah dengan ragu ke sumber suara. Dia sampai di depan sebuah kamar, yang orang di dalamnya tidak sadar sama sekali kalau dia menggeser pintu, bahkan berjalan masuk dan berdiri di belakang.

"Dazai-kun--"

Koran yang tergeletak di atas meja, menjawab pertanyaan Akutagawa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Koran itu tampak agak lecek, seperti baru diremas kuat-kuat, dan ujung-ujungnya basah.

'Sudah mengerti sekarang?'

Akutagawa tidak menyahuti suara yang bergema di kepalanya. Tidak lagi membantah, atau menyangkal. Tidak pula mengiyakan.

Berikutnya, dia dibawa ke kamar Kume yang dipenuhi serakan kertas. Naskah miliknya masih rapi di meja, tapi kertas-kertas yang kusut diremas itu masih belum kering tintanya.

Lalu Akutagawa berpindah ke kantor redaksi Bungei Shunjuu. Kan sedang duduk sendirian di ruangannya. Ekspresi suramnya jadi benar-benar jujur.

Di bilik rumah sakit, Akutagawa melihat Dazai duduk di sana dengan pakaian pasien. Sementara Haruo berdiri di samping tempat tidur. Mereka berdua tampaknya bicara panjang lebar. Yang intinya tidak jauh-jauh dari Akutagawa Prize

'Mau kutunjukkan hal menarik lainnya?'

Akutagawa menghela napas. Menolak pun, dia yakin pasti bakal seenaknya ditunjukkan hal-hal yang memberatkan hati. Jadi dia memejamkan mata saja, siap-siap batin.

"Akutagawa-sensei!" sapaan ceria Dazai memasuki ruang dengarnya. Akutagawa untuk sesaat mengira dia sudah kembali ke pustaka. Namun, rupanya dia masih di dunia aneh yang 99 % rancangan shinshokusha.

"Dazai-kun?"

"Wah! Anda tahu namaku?!" pekik pemuda berambut merah itu tertahan. Akutagawa mengerjap, jadi bingung mesti bagaimana. Apa dia harusnya bersikap seperti tidak kenal, atau lanjut memperlakukan Dazai seperti biasa?

Lagipula, Dazai di hadapannya ini tidak memakai jubah merahnya yang biasa. Tidak juga sedang menenteng-nenteng sabit. Malah, dia tampak mendekap sebuah buku dengan malu-malu. "Ah, jadi, Akutagawa-sensei, tolong tanda tangannya!"

Sebenarnya apa yang terjadi?


Bersambung (mestinya)


Ini rencananya untuk tema tragedi di bunalember. Tapi sepertinya ini sama sekali tidak berasa tragedi ya~