Disklaimer: Hypnosis Mic © King Records, Idea Factory dan Otomate. Samatoki/Ichiro.
Kulminasi
Lampu kerlap-kerlip bar masih membuat kepalanya pusing, belum terbiasa.
Ichiro memandangi warna cairan dalam gelas minuman Samatoki. Apakah biru ataukah hijau? Yang terbayang di lidahnya (kau tahu, ketika melihat suatu makanan dan mengkhayalkan bagaimana rasanya), minuman itu entah bagaimana bisa pasti terasa manis.
Samatoki sekilas tampak cuek; terdiam cukup lama, menyalakan sebatang rokok, menghirupnya—menikmatinya. Kedua mata pria itu sesekali terkatup beberapa detik, barangkali sebegitu nikmatnya asap tembakau tersebut sampai dia sangat fokus dan terlena. Atau sebenarnya sebatang rokok yang dihirup Samatoki bukanlah sungguh-sungguh sebatang rokok. Mungkin ganja. Tapi siapa peduli.
Era telah sampai pada bibir kegilaan, sebentar lagi tentunya akan termakan. Ini bukan hanya perkara hal-hal ilegal, tetapi juga sistem pemerintahan yang semrawut serta manusia-manusia yang, ah, sudah bagaikan hewan. Saling menyenggol, membunuh, merampas hak wilayah. Ichiro enggan mengakuinya, namun kadang-kadang ia ingin kembali saja ke dalam kefanaan; tak perlu dilahirkan, tak perlu menjadi tulang punggung adik-adiknya, tak perlu pula melihat kekacauan dunia. Kefanaan. Ia lebih senang menyebutnya demikian daripada kembali ke dalam perut Ibu ataupun gua garbanya. Ichiro tidak mengenal siapa itu Ibu.
Di sisi kekacauan kota akibat adanya mik hipnosis, Ichiro boleh dibilang merasa sangat bersyukur karena ia menjadi bagian dari The Dirty Dawg. Mereka adalah pemenang di atas panggung, di atas wilayah. Dan ia boleh berbangga diri karena merupakan anggota paling muda. Meski muda, kemampuannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Kadang ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Kuukou setelah mereka berpisah jalan seperti ini.
Suara gelas yang ditaruh di atas meja terdengar samar-samar. Tuk. Begitukah bunyinya? Atensi Ichiro teralih kembali pada cairan di dalam gelas itu, yang kini tersisa separuh. Sudah berapa lama sejak kemenangan mereka? Ia mendadak kesulitan mengingat. Tetapi, yang paling jelas dalam ingatannya adalah sehabis kemenangan itu mereka mengadakan pesta. Tidak besar, tidak pula kecil. Skala sedang. Ichiro melihat bagaimana wajah bahagia Samatoki—yang lalu tertular kepadanya. Berdua, mereka tersenyum sambil saling merangkul. Seseorang memotret momen tersebut. Jakurai dilarang dekat-dekat minuman keras. Dokter sinting itu bisa menjadi sinting sungguhan kalau menenggak alkohol sedikit saja. Sementara Ramuda lenyap entah ke mana—atau dia tidak kelihatan karena ukuran tubuh kecilnya yang seperti bocah.
Apakah kau melihat puncak saat ini, Ichiro?
Ichiro tidak memahami pertanyaan Samatoki ketika itu, jadi Ichiro hanya mengulas senyum lebar dan mengangkat bahu—meski kemudian ia mulai memahaminya, setelah pesta kemenangan berakhir.
"Puncak, huh." Tanpa sengaja, ia menggumamkan apa yang sedang ia pikirkan.
"Kau bicara apa?"
Ichiro menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa, Samatoki-san."
Suara musik di dalam bar menggema di seluruh ruangan. Ichiro kadang merasa tuli. Samatoki masih asyik dengan rokoknya. Wajah pria itu mulai memerah.
Puncak yang Ichiro lihat adalah ketika ia bersanggama dengan Samatoki untuk pertama kalinya, pada malam kemenangan usai pesta berakhir. Hanya Ichiro dan Samatoki di dalam kamar asing; asing, sebagaimana mereka tatkala saling memandang, menelisik—terkadang muncul pertanyaan, siapakah sebenarnya pria ini atau siapakah sebenarnya aku. Wajah akrab yang mendadak terasa asing, perasaan absurd.
Puncak itu terasa sangat nikmat. Sepanjang delapan belas tahun Ichiro hidup, untuk pertama kalinya ia merasa hidup. Hidup yang benar-benar hidup. Barangkali Samatoki ditakdirkan mengisi bolong-bolong kehidupannya, agar menjadi utuh, menjadi lengkap, dan, sekali lagi, menjadi hidup. Tidak pernah dalam bayangannya sekalipun, ia berpikir akan berbaring pasrah. Anehnya, tidak pernah pula ia berpikir ingin mendominasi perempuan. Hidupnya terlalu miris untuk memikirkan hal-hal vulgar. Tetapi, lihatlah saat ini. Ichiro tidak menenggak minuman apa pun selain jus jeruk, namun pikirannya sudah meracau bebas.
Apakah seks membuat seseorang menjadi kecanduan?
"Pipimu merah."
Ichiro tertegun. Apakah pipinya memang merah karena sedang memikirkan hal cabul? Ia memandangi Samatoki yang juga memandanginya. Pipi Samatoki juga merah. Pasti efek minuman. Bibirnya berkilau merah pula. Ichiro meneguk ludah. Wajah semacam apa yang ia tunjukkan saat ini?
"Samatoki-san…"
Samatoki menyodorkan minumannya. "Minumlah."
"Aku masih delapan belas."
"Ichiro," ucap Samatoki, dengan suara serak. "Umurmu belum boleh masuk ke dalam bar ini, tapi kau mau masuk waktu kubilang akan mengakalinya. Apa bedanya dengan minum? Minum dan mabuklah. Aku tahu itu yang kita butuhkan malam ini."
Ichiro belum menangkap maksud dari kalimat Samatoki. Mabuk adalah hal yang mereka butuhkan? Tapi kenapa. Ia tidak mempertanyakan lebih jauh. Tanpa bernegosiasi, ia meneguk minuman tersebut. Rasanya pahit, sedikit manis. Membuat alisnya mengernyit. Ichiro selalu menuruti apa pun yang dikatakan Samatoki. Bukan karena ia takut, tetapi karena ia merasa ia akan baik-baik saja kalau bersama pria itu.
Samatoki-san…
Ichiro memandang kagum. Kepalanya mulai pusing. Apakah Tuhan sedang mabuk sekarang, setelah melihat manusia-manusia yang juga mabuk?
#
Ichiro kembali meniti puncak yang ia cari, yang ia rindukan.
Rasa-rasanya, Samatoki terlalu perkasa untuk berada di bawah. Maka, seperti biasa, seperti di malam-malam yang telah lalu, ia membiarkan pria itu menuntunnya. Keringat mengucur di ujung dagu Samatoki. Berkilauan. Lantas meluncur jatuh di atas dada Ichiro.
"Samatoki-san—"
Samatoki menggeram, menahan hasratnya. Serupa hewan.
"Puncak semacam apa yang paling ingin kau rasakan?"
Samatoki mengeritkan gigi. Gerakannya terhenti. Rambut yang jatuh di atas kening dia usap ke belakang, kembali memperlihatkan keningnya yang agak lebar. "Kau bertanya di saat kita sedang begini, Ichiro? Yang benar saja."
Ichiro, entah kenapa, malah tertawa. Samatoki sepertinya tertular, sehingga ada seulas senyuman di bibir pria perokok berat itu. Aktivitas seksual menjadi terhenti sejenak. Samatoki bangkit, lalu duduk di pinggiran ranjang untuk sekadar menyalakan rokok. Ichiro meluruskan kaki. Ah. Lubang bokongnya mulai terasa tidak nyaman. Sedikit perih. Tetapi bukan perih yang teramat sangat, seperti ketika pertama kali mereka melakukannya.
Asap rokok terhirup hidungnya. Ichiro batuk. Rasanya seperti tersendak.
"Maaf. Haruskah aku merokok di depan jendela?"
"Tidak perlu."
Ichiro menyukai bagaimana cara Samatoki memberi perhatian padanya, meskipun bukan suatu hal yang besar. Ia jadi penasaran ingin merasakan bagaimana merokok. Tangannya menggapai tangan Samatoki yang tengah menggenggam rokok, menarik mendekat, bibirnya terbuka sedikit. Samatoki paham. Rokok kini berada di sela-sela bibir Ichiro. Ia menghirup, kemudian terbatuk-batuk.
"Kau hanya belum terbiasa untuk bisa merasakan nikmatnya merokok."
Ichiro memikirkan hal ambigu dari kalimat Samatoki, yang membuat pipinya kembali memerah.
"Kau tahu, aku sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanmu."
"Mhm."
"Kupikir … puncak yang paling ingin kurasakan adalah … entah. Apa pun. Keberhasilan. Dan ketika kau juga menjadi bagian dari keberhasilanku. Mungkin."
Ichiro terdiam. Rokok telah kembali dalam genggaman Samatoki. Rokok itu, entah kenapa, tidak dihirup lagi. Dibiarkan membakar tembakau perlahan-lahan, dibiarkan pula abunya terjatuh di atas lantai keramik.
Mungkin, katanya, mengakhiri pengakuan.
Mula-mula Samatoki memunggunginya. Lalu, menoleh lama. Saling melempar pandang. Ichiro tidak begitu fokus. Tahu-tahu, wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya. Terlalu dekat. Ia dapat merasakan helaan napas Samatoki. Ichiro memutuskan untuk memejamkan mata, membiarkan Samatoki kembali mengambil alih semuanya; menuntunnya.
Ichiro membayangkan rasa minuman dalam gelas Samatoki. Manis. Pahit. Tetapi ia menikmatinya.
Puncak, huh.
Berdua, mereka mencari puncak yang sama.[]
11:02 PM – December 13, 2019
[*] Judul sebelumnya Together, To The Top of Everything.
