disclaimer(s): Naruto belongs to Masashi Kishimoto, but this story is purely mine.
warning(s): no-plot, AU, typo(s), some cursing language(s), and other stuff(s).
note: fiksi lama yang baru sempat saya publish, dengan beberapa perubahan.


don't like? don't read.
selamat membaca :3


.

i (don't) wanna kill you

.

.

Tajam.

Jagdkommando ini tajam, tajam sekali.

Serta mematikan.

Hanya dengan satu kali tusukan tanpa taksa-taksa, ia pasti berhasil untuk membunuh tiap-tiap target dengan pisau spiral bermata tiga ini secara sempurna. Tusukan yang dihasilkan oleh pisau tersebut, akan menyebabkan luka berbentuk lubang yang begitu dalam dengan kondisi sangat parah, dan akan membutuhkan puluhan dokter bedah untuk menjahitnya—itu pun jika berhasil.

Maka, di sinilah Haruno Sakura sekarang, tengah berdiri di sebuah jalanan yang sepi dan sunyi (sebenarnya, Sakura penasaran kenapa jalan kota yang satu ini bisa sepi sekali), ditemani dengan langit kelabu serta desau-desau angin yang mengandung hujan, dan pisau jagdkommando yang ia selipkan di balik lengan baju.

Beberapa meter di hadapannya, ada sesosok pria yang juga tengah berdiri, dengan bahasa tubuh angkuhnya seperti biasa, sembari memamerkan senyum miring.

Target utama yang harus Sakura habisi hari ini.

"Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku, di sini, hm?" Pria itu membuka konversasi, segera setelah ia tahu bahwa si wanita merah muda tak akan memecahkan satu pun sunyi.

Ada jeda sejenak, sebelum Sakura menggerakkan bibir. "Aku rindu, Deidara, denganmu." Itu yang ia ucapkan, berikut dengan uaran senyum paling manis yang bisa ia berikan.

Sembari berharap senyum manipulatif itu bisa menutupi semuanya.

"Rindu? Tumben sekali, hm." Deidara menukas dengan santai, sembari meretas jarak dengan si wanita manis; iris langitnya menangkap dengan jelas pancar-pancar jutaan dubius dari manik hijau wanita itu.

Debar-debar dalam relung dada Sakura, semakin bertambah seiring dengan mendekatnya langkah-langkah kaki Deidara. Ia gemetar, sementara otaknya mati-matian bertarung dengan sang hati.

… Haruskah ia lanjutkan misi untuk membunuh Deidara? Haruskah? Apakah ia dibolehkan memilih untuk menolak?

Tidak.

Perintah tetaplah perintah. Absolut.

Ia harus profesional, 'kan?

Sakura manyun. "Memangnya, sekarang rindu sudah dilarang?" Ia melipat tangan di depan dada, mata beningnya menatap Deidara dengan tumpukan kesal-kesal.

Deidara berdiri tepat di hadapan wanita itu. "Tumben sekali kau mengakui rasa rindumu padaku, maksudku, hm." Ia menimpali dengan satu kekehan mengejek; terdengar puas sekali.

"…"

"Brengsek. Kau menyebalkan, Deidara."

Sebuah seringai terukir rapi di wajah rupawan pria itu. "Terima kasih, hm."

Sakura menendang kerikil kecil. "Fuck. Aku membencimu, Deidara."

"Baru saja kaubilang rindu padaku, sekarang kaubilang membenciku? Wow. Apa jangan-jangan kau mengidap gangguan bipolar?" Deidara mengujar dengan tawa tertahan; hanya membuat wanita itu semakin kesal.

Deidara menyebalkan, sangat. Sakura bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk merutuki pria itu dengan buncah-buncah murka. Namun, ada satu hal yang membuat Sakura jauh lebih kesal lagi.

Ketidakmampuan sang hati untuk melenyapkan perasaannya yang mengakar-akar terhadap pria pirang itu.

Cintanya pada Deidara terlalu besar, hingga membuatnya tak pernah berhasil membunuh pria pirang itu.

Dasar sial.

Sakura buang muka. "Pokoknya, aku rindu. Tapi, aku juga membencimu." Ia bersikukuh, dengan sedikit rajukan pada suaranya.

Deidara menepuk lembut kepala wanita itu, kemudian tersenyum. "Yeah, yeah."

Membuat seluruh benteng pertahanan yang Sakura bangun dengan susah payah, menjadi runtuh dan hancur berantakan.

Wanita itu tertunduk, tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, dengan bulir-bulir bening menggantung pada kelopak mata. "Aku …," katanya parau; suaranya tersekat di kerongkongan.

"Hm? Katakan saj—"

GREB.

"Aku … benar-benar merindukanmu, tahu, Deidara …!"

Ia tubruk pria itu dengan satu gerakan kilat, mendekap tubuh tegap itu dengan kedua tangannya yang kecil dan rapuh, memeluk erat-erat seolah Deidara akan lenyap jika dekapannya mengendur walau hanya sesaat, sembari mencari hangat-hangat menenangkan dari pria itu yang selalu berhasil menyusupi tubuh rampingnya.

Ada sedikit keterkejutan pada iris langit Deidara selama beberapa detik ketika ia lihat Sakura terisak di bahunya yang bidang, sebelum akhirnya lesap ditelan oleh kelabu pada cakrawala. Deidara hampir tak menduga bahwa wanita itu akan mendekapnya tanpa aba-aba.

Hanya hampir.

Rintik-rintik sang hujan mulai membasahi bumi; menguarkan aroma tipikal menyatunya air dan tanah yang begitu mengadiksi. Rintik-rintik tangisan langit yang Sakura harap bisa menyejukkan hatinya barang sedikit.

Karena sang hati tengah bergejolak hebat, tanpa henti.

Ini kesempatannya. Kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali.

Ia bisa membunuh pria itu dengan posisi seperti ini.

Maka, Sakura menarik pisau spiral yang ia selipkan di balik lengan baju; gerakannya dibalut gesa-gesa signifikan. Ia hanya perlu melakukan satu tusukan cepat pada punggung Deidara, segera setelah mengalkulasikan di mana letak jantung pria itu.

(Sakura terus berharap agar Deidara tak menyadari dentam-dentam pada jantungnya sendiri).

Kemudian, Sakura mengangkat tangannya yang berusaha untuk kuat, mengabaikan gemetar-gemetar statis dan keringat dingin yang membuat gagang pisau terasa sangat licin; benda tajam itu bisa terselip kapan saja dari jemarinya. Namun, gerakan Sakura terhenti sejenak, ketika ia rasakan lengan kokoh Deidara mendekapnya balik, dan memperjelas tabuh-tabuh talu di dalam dada.

Sialan. Kenapa pria itu harus membalas pelukannya? Apa ia tidak tahu nyawanya akan melayang setelah ini?

Sakura mengeratkan dekapan dengan sebelah tangan.

Tidak.

Ia harus profesional.

Sakura mengayunkan pisau spiral tersebut secepat angin, segera setelah gejolak batin dimenangkan oleh sang otak yang terus-terusan berusaha agar tetap berada dalam ruang rasionalitas—sepertinya nihil.

Ia pejamkan kedua matanya rapat-rapat.

"… Dei … dara—"

TAP.

Sekali lagi, gerakan Sakura terhenti. Namun kali ini, disertai dengan cekalan kuat pada pergelangan tangannya yang seperti mati rasa.

"Oi."

Keparat—

Deidara berputar dalam satu gerak lebih cepat dari kilat hingga ia berhadapan kembali dengan Sakura, tanpa melepaskan cengkeraman kokohnya pada tangan wanita itu meski hanya sedikit. "Jangan meremehkanku, Haruno Sakura. Kau tidak akan bisa membunuhku dengan cara seperti ini, hm." Mata birunya menusuk manik emerald wanita itu lebih tajam dari belati.

—padahal tinggal sedikit lagi ujung pisau tersebut berhasil menancap sempurna pada punggung Deidara, lalu pria arogan itu akan meregang nyawa di jalanan dan menggelepar tak berdaya. Pasti indah sekali.

Sakura mengerucutkan bibir, dengan mata yang menatap pasrah (serta sorot amarah nyata) pada tangan yang tengah dicekal kuat. "Cih. Lepas. Bajingan."

Deidara terkekeh, kemudian melepaskan cekalannya pada lengan si wanita manis. "Payah sekali caramu bersandiwara. Aku bisa menebak semua gerakanmu. Bahkan aku bisa tahu sekencang apa debar-debar jantungmu, hm."

Wanita itu menghela napas. "Aku ini bukan tukang manipulasi sepertimu, ya. Anjing laknat." Bibir kecilnya mengumpat-ngumpat.

Apa yang Sakura lakukan setelahnya adalah mundur beberapa langkah, menjauhkan diri sedikit dari Deidara. Ia timang-timang pisau spiral tersebut, sementara mata bulatnya memperhatikan senjata tajam tersebut lekat-lekat. "Bodo, ah, terserah."

Sakura menjatuhkan diri di atas aspal, kemudian duduk sembari menahan tubuh dengan dua tangan di belakang. Ia mendongak, menantang langit kelabu untuk menyirami wajah eloknya dengan sang hujan. Kemudian memejamkan mata.

"Kenapa, sih, Pak Tua bangka itu menyuruhku latihan membunuh denganmu? Pakai pisau lagi. Menjijikkan. Padahal aku lebih suka pakai senapan saja. Apalagi yang punya laras panjang." Wanita merah jambu itu menggerutu, lalu manik zamrudnya melirik malas pada Deidara.

Air hujan yang menderas, mulai membasahi helai-helai pirang panjang pria itu; Sakura memandanginya sedikit lebih lama.

Deidara mengambil segenggam clay dari saku sebelah kiri. Ia menunduk untuk bisa memandangi Sakura. "Apa boleh buat. Bukan salahku, 'kan? Hanya kau sendiri yang tidak bisa membunuh dengan pisau. Kemampuanmu tidak sempurna, hm." Tawa Deidara mengudara lagi, penuh ejekan; Sakura bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

Sakura manyun. "Iya, kenapa harus denganmu? Seperti tidak ada orang lain saja di organisasi sebesar ini."

"Karena kau mencintaiku, hm." Deidara menyeringai.

"Najis. Aku tidak akan mencintaimu walaupun kau adalah pria terakhir yang ada di muka bumi ini, Reitokaze Deidara." Sakura mengacung-acungkan pisau jagdkommando tersebut pada Deidara.

Deidara mengulas satu senyum tak simetris. "Cobalah untuk berbicara dengan lebih meyakinkan lagi, Sakura." Tangannya mulai sibuk memilin clay menjadi burung kecil sebelum hujan mengubahnya menjadi lumpur; pria itu punya kebiasaan membawa clay ke mana-mana.

Sakura mendelik, lalu mencoba untuk tidak peduli, terutama pada clay di tangan Deidara. "Aku tidak bisa membunuhmu karena kau tidak pakai pelindung apa pun, tahu. Bagaimana kalau kau benar-benar terbunuh? Aku tak mau tanggung jawab."

Bullshit.

Ada percikan ketertarikan pada iris langit pria itu. "Sudah kubilang, jangan meremehkanku, hm. Kau tak akan bisa membunuhku semudah itu." Deidara menyeringai lebar.

Sakura mengangkat sebelah tangan. "Bagaimana kalau kau mengalah saja sesekali?" Ia lempar pisau itu ke wajah Deidara dengan sekuat tenaga—

SYUUT!

"Oi—!"

TAP!

"Ah, hampir saja, hm."

Pria itu mengelak ke kanan dengan cepat; pisau yang Sakura lempar hanya berjarak beberapa milimeter dari kepala pirangnya.

"Mengalah saja apa susahnya, sih, Deidara? Paling tidak, aku sudah berhasil menggores wajahmu, atau merobek seringaimu sekalian." Sakura melempar satu tatap membunuh, kesal sekali, terutama pada seringai pongah pria itu.

Deidara terkekeh. "Ini sudah latihan yang ketiga puluh, hm. Kau tidak akan pernah bisa membunuh, apalagi dengan pisau, kalau kau tidak melenyapkan perasaanmu. Pak Tua bilang begitu, 'kan?" Pria itu menarik satu sudut bibir, namun iris langitnya tetap memberi pancar afeksi untuk si wanita pecinta manis.

Sakura mendelik. "Ya, terus?"

"Kau mencintaiku. Itu sebabnya kau selalu gagal membunuhku—pfft. Bahkan kau tidak akan bisa menggores tubuhku walau hanya sedikit, hm."

Sakura diam. Ia buang muka. Tak ingin mengakui betapa akuratnya semua ujar-ujar Deidara barusan. Sebenarnya, ia tahu, tahu sekali kenapa lawan berlatihnya adalah kekasihnya sendiri.

Karena ia memang sangat mencintai Deidara sehingga pria itu adalah orang yang tepat untuknya berlatih membuang perasaan pribadi di saat bertugas.

"Bajingan. Mati saja sana, Deidara." Sakura memaki, sudah emosi benar.

Deidara memamerkan satu senyum angkuh. "Ayo, bunuh aku. Kesempatanmu masih banyak, hm."

Mata emerald wanita itu memicing sinis.

"Kalau kau berhasil, akan kuberikan karya seniku ini padamu." Deidara meletakkan burung kecil berwarna putih di telapak tangan.

Sakura mendengus. "Biar kemudian TNT di dalamnya meledak dan mengenaiku, begitu maksudmu, hah?"

Deidara menyeringai. "Dengan senang hati, jika itu yang kau inginkan, hm."

"Bodoh."

Sampai kapan pun, latihan membunuhnya akan selalu gagal, 'kan?

Sebab, sosok yang menjadi lawan berlatihnya adalah Deidara.

.

.

end.


another note:
terima kasih sudah membaca sampai di sini :3
fiksi ini saya tulis untuk kepuasan pribadi semata. tidak ada keuntungan apa pun yang saya raih dari fiksi ini selain kepuasan pribadi.

kali ini tidak berakhir dengan tragedi, karena ternyata arsip-arsip fiksi saya didominasi oleh tragedi semua HAHAHA /heh

sincerely,
Aosei RD.