Rate : M (for sexual content)
Warn : Rape/Boys love/Sex activity/Fetish
Chara : Alucard and another Hero (guess who)
Genres : Tragedy/angst/hurt-comfort
Disclaimer : All Hero owned by moonton
.
.
Sum : Seharusnya Alucard tidak pergi malam itu kalau bukan Zilong yang memintanya untuk bertemu. Sekarang siapa yang berhak untuk disalahkan ketika seseorang memperkosanya?
UNDER THE MOON
.
.
Alucard tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah kegelapan mengambil alih pandangannya. Ia berdiri kaku dengan tubuh yang tak bisa digerakkan. Namun, mulutnya masih dapat berbicara.
"Zilong? Apa itu kau? Jangan main-main, Zilong ini tidak lucu! Lepaskan penutup mata ini!"
Ia merasa resah ketika tak mendengar jawaban apapun atas pertanyaannya. Dalam benaknya bertanya-tanya, namun Alucard tak berani berekspetasi dengan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu."
Alucard dapat mendengar suara bisikan ditelinganya dengan nada yang begitu intim. Apakah yang barusan tadi suara Zilong? Seharusnya memang Zilong, karena tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaannya saat ini selain pemuda itu 'kan.
Masih segar teringat dalam kepalanya, sore tadi dengan semangat temannya itu mengatakan kalau ia memiliki jurus tombak baru yang akan ia perlihatkan nanti dipertarungan. Namun, ia meminta bantuan Alucard untuk menjadi lawan tandingnya guna melatih jurusnya itu. Keduanya pun berjanji untuk bertemu di moon valley. Namun di tengah latihan pemuda bersurai panjang itu teringat kalau dia ada match pada malam hari. Setelah meminta maaf pada sang kawan, Zilong pun berjanji akan lekas kembali pada Alucard setelah pertandingan usai. Alucard memaklumi itu, mengangguk setuju. Berpikir paling lama mungkin ia hanya akan menunggu 1 jam dan itu tak masalah. Waktu masih belum terlalu larut untuk melanjutkan latihan.
Selang 20 menit berlalu setelah kepergian Zilong. Alucard merasakan kehadiran seseorang yang awalnya ia anggap sebagai sang kawan. Akan tetapi, ketika ia hendak berbalik, seketika itu pula ia diserang dari belakang. Beberapa benda (atau senjata rahasia) mengenai punggung belakang tepat pada bagian saraf, dan hal itu membuat tubuhnya berhenti bergerak. Alucard sempat berpikir Zilong sedang mengerjainya dan meminta pemuda itu berhenti bermain-main tapi peringatannya tak diindahkan.
Keresahan tak bisa ditepis lagi ketika sebuah bayangan mendekat ke arahnya bersamaan dengan telapak tangan seseorang yang menyergap matanya ditambah sebuah kain hitam diikatkan pada kedua matanya.
Sekarang, seperti inilah posisinya. Tak mampu bergerak pun tak bisa melihat. Ia hanya berharap Zilong sedang bercanda dengannya. Namun harapannya pupus saat ia merasa tubuhnya dibaringkan di atas rerumputan.
"Aku menginginkanmu."
Suara itu kembali terdengar dan terasa familiar.
"Apa maksudmu? Apa yang mau kau lakukan?"
Tak ada jawaban baginya. Tapi sedetik kemudian Alucard mengerti apa yang diinginkan darinya.
.
.
Semilir angin malam mendesir, menimbulkan suara berisik diantara dedaunan.
Alucard merasakan ketegangan begitu ia menyadari seseorang sedang berusaha melepaskan pakaiannya.
Tubuhnya menggigil saat mantel besarnya terbuka.
"Maafkan aku Alucard," ucap seseorang itu, terdengar cukup penuh penyesalan. Namun sekalipun menyesal, ia tetap melanjutkan perbuatannya.
Alucard dapat mendengar suara mantelnya yang terjatuh. Mungkin orang itu membuangnya ke sembarang tempat.
Kemudian kaos bagian dalamnya pun mulai diangkat perlahan ke atas. Alucard yang tak bisa berbuat apa-apa menjadi panik membuat napasnya jadi tak beraturan.
"Aku sudah bilang jangan takut, jadi bersikap tenanglah, Alucard."
Laki-laki itu mencoba menenangkan Alucard dan berhenti sejenak, membiarkan kulit perut pemuda itu terekspos.
"Bagaimana aku bisa tenang sementara ada orang asing yang sedang berusaha membuka pakaianku!"
Ia menggeram tak terima dengan perlakuan yang didapatnya.
"Aku berjanji ini akan menjadi rahasia kita saja, Alucard."
Detak jantung Alucard semakin cepat saat ia merasa pakaiannya semakin terangkat tinggi dan lolos dari tubuhnya.
"Ah, indahnya..."
Alucard dapat merasakan bagian lehernya dikecup, perlahan turun ke dada, dan ke perut. Sensasi dingin dapat ia rasakan ketika lidah itu ikut mengecap bagian kulitnya. Ia mengerang atas perlakuan tersebut.
"Bagaimana kalau sekarang bagian bawahnya yang dilepas?"
Tanpa persetujuan sang pemilik tubuh, tangan itu segera menurunkan celana hitam panjangnya, bersamaan dengan bagian dalamnya.
.
.
.
Udara malam yang semakin dingin membuatnya menggigil juga rerumputan yang menggelitik setiap bagian tubuhnya menyadarkan Alucard kalau saat ini ia sudah telanjang.
Tidak, ini tidak boleh!
Panik dengan keadaannya sekarang membuat napasnya tak karuan. Dadanya kembang-kepis, serta keringat mulai menetes dari wajahnya. Detik selanjutnya area lapang itu dipenuhi oleh suara desahan tertahan.
.
.
Alucard mencoba menahan desahannya yang memburu. Ia dapat merasakan seluruh kulitnya memanas meski seharusnya ia kedinginan berkat udara malam dan fakta bahwa saat ini ia sedang tak berpakaian.
Jari-jari itu bebas lepas menelusuri tiap lekuk tubuhnya. Memberi suatu sensasi geli menggelitik yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku sudah lama berimajinasi tentangmu, Alu," ujarnya dengan tatapan yang begitu lekat melihat tubuh telanjang pemuda di bawahnya. "Aku selalu membayangkan seperti apa bentuk tubuh dibalik armor dan mantel besar yang selalu menutupi tubuhmu." Ia mencondongkan wajahnya merapat ke wajah Alucard yang matanya tertutup kain. "Aku bersyukur hari ini bisa melihatnya..." Ia berbisik pelan.
"Otakmu sudah rusak membayangkan tubuh laki-laki lain!"
"Ya, mungkin. Tapi aku tak peduli." Ia pun kembali menjauhkan diri dari wajah Alucard. "Kau tahu, Alu?" Tangannya bergerak membelai perut bagian bawah Alucard, lalu naik ke atas. Mengabsen otot-otot perut yang tercetak sempurna di sana. "Aku ingin menjadikan fantasiku akan dirimu menjadi nyata sekarang." Hasrat pria itu sudah tak dapat terbendung. Sudah terlalu lama ia menahannya.
"Jangan berani coba-coba!" Alucard mengancam. Tapi apalah dayanya. Laki-laki itu tentu tak bergeming akan gertakan Alucard yang fungsi tubuhnya sedang tak dapat bekerja.
"Mari kita mulai, Alu..."
.
.
Alucard melenguh pelan saat ada sebuah tangan menyusup masuk membelai bagian tengah dadanya yang kemudian digantikan dengan sebuah jilatan. Sementara tangan-tangan si pria berpindah menangkup kedua dadanya dan meremasnya dengan gerakan memijat.
"Kau tahu? Banyak yang bilang kalau dadamu sering dipegang maka bisa membuatnya membesar."
Alucard tidak peduli dengan ucapan omong-kosong itu, dan ia tidak butuh membuat dadanya besar karena ia bukan perempuan.
"Aku mau membuktikannya malam ini." Ia terkekeh, lalu Alucard dapat merasakan kedua tangan itu semakin kuat mencengkram bagian atas tubuhnya layaknya kesetanan.
"Aaaarghh!"
Teriakan kecil lolos dari bibirnya. Rasa sakit dan linu bercampur.
"Argh..., arggkkh..., aaakkhh...!"
Teriakannya semakin tak terkontrol ketika dua tangan itu melakukan pijatan kuat dengan gerakan ke atas lalu turun ke bawah berulang-ulang.
"Ka-kau..., be-berhenti!"
Suaranya tak didengar. Tangan itu malah semakin membabi buta dengan menyentuh area sensitifnya sekarang.
"Ini harus dikeluarkan," ucapnya sembari mengusap puncak dada Alucard.
"Nnnghhh..., jangan! Ja-- Hnnn!"
Namun terlambat, kedua ibu jari pria itu langsung menekan-nekan kedua puncaknya yang masih bersembunyi.
Alucard tak dapat menahan suaranya lagi, membiarkannya menggema bersamaan dengan hembusan angin.
Tangan yang bergerak memainkan area sensitif pada puncak dadanya semakin menjadi. Ketika jari pria itu mendorong bagian nipple-nya dari bawah ke atas.
"Annngghhh! Sa-sakit! Berhenti! Berhenti!"
Sang pelaku tidak mendengarkan rintihan pemuda di bawahnya dan tetap melanjutkan apa yang dilakukan. Matanya sudah dibutakan oleh nafsu.
Tangannya tetap saja bergerak pada area yang sama terus-menerus, hingga akhirnya dia dapat tersenyum puas saat melihat dua gundukan itu berhasil ia buat menyembul keluar.
Untuk sejenak ia berhenti, membiarkan matanya dimanjakan dengan keindahan tubuh si pemuda yang bibirnya masih terbuka tapi tak bersuara. Ia memerhatikan tubuh di bawahnya. Begitu Sempurna. Tubuh yang tak terbalut sehelai kain itu tampak begitu indah, ditambah dengan cahaya remang dari sang purnama yang menyoroti membuat nya semakin eksotis. Kedua bagian puncaknya yang tersembul keluar dengan warna memerah dan agak membengkak menambah daya gairah baginya untuk segera melakukan sesuatu di sana.
"Mulai sekarang, kau adalah milikku."
Melihat Alucard yang memesona membuatnya tak sabar untuk melakukan itu. Cepat-cepat tangannya menyentuh area bawah, membelai selangkangan si pemuda, memberikan stimulasi.
"Tidak mungkin..., kau tidak akan--"
"Tentu saja akan kulakukan." Pria itu membalas cepat. "Kau pikir setelah apa yang terjadi aku tidak akan melakukan sex denganmu? Tubuhmu terlalu menggoda untuk kutinggalkan, dan ini kesempatanku untuk memilikimu, tak ada orang lain lagi."
Alucard bungkam mendengar ucapan predator asing di atasnya.
"Siapkan dirimu, Alucard. Mungkin ini akan sedikit sakit. Tapi aku berjanji kau akan menyukainya, dan menyukaiku."
Laki-laki itu kemudian mengangkat kedua kaki Alucard naik ke atas bahunya.
Alucard mengerang tertahan saat merasakan sesuatu menyusup ke dalam bagian bawah tubuhnya. Benda itu bergerak masuk perlahan-lahan.
"Bagaimana rasanya? Kau mau aku menambahkan jariku di sana?"
"Hah...? A--!"
Tak sempat menjawab laki-laki itu memasukkan jarinya yang lain, dari satu hingga tiga dan Alucard kewalahan dengan sensasi yang diberikan. Ini memalukan.
"Ke-keluarkan jarimu!! Ugghhh...!"
"Oke, kurasa sudah cukup. Sekarang saatnya..."
Degh!
Sesuatu yang lebih besar mencoba untuk masuk dan firasatnya berkata ini akan buruk.
"A-apa yang kau masukkan di sana!? Tolong berhenti...! Apapun itu jangan dimasu-- AAAKHH! JANGAN! BE-- AAAARRGHH!"
.
.
Malam itu seluruh isi hutan dan langit menjadi saksi atas penyatuan keduanya. Tubuh mereka saling bersentuhan, kulit-kulit mereka saling menempel, mengecap satu sama lain. Tak ada jarak tercipta yang memisahkan tubuh Alucard dengan laki-laki itu.
Degup jantung si pria berdebar dalam keheningan malam saat kedua dada mereka saling bersentuhan. Merasakan gerakan napas satu sama lain yang memburu.
Ia dapat merasakan tubuhnya dimasuki semakin dalam dan dalam, hingga dalam satu hentakan ia berteriak dengan sangat keras mencipta kebisingan di antara sunyi.
Alucard berharap jeritannya dapat terbawa angin ke tempat Zilong dan memberi kabar kalau ia sedang diperkosa! Tapi ia tahu, harapan hanyalah sebuah angan karena fakta ia hanya sendiri dan letak gedung pertandingan cukup jauh.
Namun jari-jari tangannya mulai bisa ia gerakkan, pertanda efek dari kematian saraf tubuhnya mulai kembali normal. Namun ia tetap tak memiliki daya untuk melawan saat dinding bawahnya dihantam dengan cukup keras.
"Kau sudah bisa bergerak, ya?" Laki-laki itu menyadari saat melihat tangan pemuda itu meremas rerumputan di sekelilingnya.
"Jangan ditahan, aku tahu kau tak akan bisa melawan ini."
Tubuhnya bergerak sendiri mengikuti tempo permainan yang diberikan si pria. Alucard sudah tak peduli seberapa menjijikkannya ia saat ini. Ia membiarkan tubuhnya bergerak naik-turun secara konstan. Membiarkan kemaluan pria di atasnya menggesek dinding-dinding bawahnya. Untuk apa ia melawan kalau semua sudah terlambat.
"Ahhhhh~"
Laki-laki itu mendesah panjang setelah mendapat kenikmatannya. Semburan cairan miliknya telah berhasil mengalir di dalam tubuh pemuda yang ia cintai. Suka atau tidak suka, ia tak peduli.
Alucard hanya terdiam dengan mulut terbuka saat menyadari sperma asing masuk dan memenuhi dirinya. Tak ada suara yang keluar selain cairan bening yang mengalir di kedua belah pipinya.
"Sayang, maafkan aku." Tangan besar itu membelai pipi Alucard yang memerah.
"Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Suaranya gemetar saat pertanyaan itu diucapkan.
"Aku tak rela kau dimiliki orang lain, Alu," ungkapnya, "Kau tidak pernah melihatku, atau mau menganggap perasaanku. Kau hanya tertuju pada si anak naga itu saja, padahal aku yang mengenalmu lebih dulu dan mengajari dunia kepadamu, tapi kau melupakanku setelah itu. Aku kecewa, Alucard..."
Siapa? Siapa dia? Apa selama ini aku mengenalnya?
Otaknya berusaha mencari jawaban dan mengingat-ingat tiap kalimat yang baru saja diucap. Tapi ia masih gamang, tak ada petunjuk. Ia kenal banyak orang.
"Tapi sekarang aku tak takut lagi, karena malam ini kita sudah menjadi satu, Alu. Seluruh jiwa dan raga, kau dan aku..."
.
.
Malam kian berlalu, Entah sudah berapa lama ia terbaring di bawah sana. Mungkin baru beberapa jam semenjak tubuhnya dibaringkan. Tiga atau empat jam kah? Mungkin tengah malam sudah terlewati dan Zilong benar-benar tidak datang. Ada gurat kecewa dalam hatinya. Kenapa dia tak datang? Mencarinya? Bukankah ia sudah berjanji? Atau pria itu terluka sehabis match makanya ia tidak datang? Ah, tidak tahukah Zilong keadaan temannya sekarang? Sungguh, bila ksatria naga itu datang, mungkin Alucard masih bisa terhindari dari tindakan asusila seseorang yang tampaknya sudah lama memiliki obsesi terhadap dirinya.
Ia ingin berteriak menyerukan nama kawannya itu, namun suara yang keluar hanya desahan konstan secara berulang.
Ah, ah, ah, ah, ah...!
Alucard merasa muak mendengar suaranya sendiri, seolah mengkhianati isi hati. Ia juga membenci tubuhnya yang menggeliat tanpa kehendak seperti seorang jalang.
Peluh membanjiri seluruh tubuhnya yang bercampur dengan milik laki-laki di atasnya, juga saliva sang pria yang ikut ambil bagian di atas seluruh permukaan kulitnya.
Alucard tidak tahu sudah berapa kali laki-laki ini mencabulinya. Kepalanya terasa pusing, perutnya mual dan seluruh sistem saraf dalam tubuhnya seakan terbakar seiring dengan naiknya temperatur di dalam tubuhnya. Panas.
Pasrah adalah kata yang tepat menggambarkan dirinya sekarang meskipun ia sudah dapat bergerak, namun tubuhnya terlalu lemas untuk dapat melakukan sesuatu, bahkan sekedar menepis tangan yang meremas dadanya ia tak mampu, dan membiarkan tangan itu bermain di sana, memberikannya stimulasi untuk tetap berada dalam rangsangan.
"Aku mencintaimu, Alu...," ucap sang pria sambil menyatukan tubuh mereka berdua kembali secara intim, membenamkan kejantanannya ke dalam liang si pemuda lalu mendekapnya ke dalam pelukan.
Tak ada kata dari Alucard, ia terlalu linglung untuk kondisinya sekarang ini. Seluruh rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya juga rangsangan di seluruh tubuhnya terlalu mendominasi, membuatnya sulit berpikir atau sekedar melakukan penolakan.
Ia hanya diam membiarkan sang pria mendekapnya dan kembali menciuminya. Menaikkan kembali libido di antara mereka yang sempat berhenti. Sesuatu yang tertanam di liang dalamnya terasa mengeras, seakan bersiap untuk melakukan- nya kembali.
Kemudian tubuh itu kembali dibaringkan dan disiapkan untuk dicecap.
Setelahnya kabut menutupi area sekitar, juga keduanya yang perlahan tak terlihat.
Saat itu tidak ada yang tahu, Alucard pun juga tidak, siapa laki-laki yang telah menyetubuhinya malam itu. Hanya sang purnama sebagai saksi bisu, melihat segalanya dari atas sana.
End
A/N : Sebenernya ini belum end sih, karena masih ada lanjutannya, cuma kayaknya bakal dibuat terpisah aja. Lanjutannya mungkin bakal berkutat ke Alucard yang mengalami trauma.
Info : 1. Jadi Alucard sama Zilong udah ketemuan di sana jam 7 malam. Tapi pas mendekati jam 8 Zilong baru inget dia ada pertandingan. Dia ninggalin Alucard dijam segitu.
2. Moon valley itu deket sama arena dan banyak hero yang tahu lokasi tersebut. Gak sedikit Hero yang ke sana buat sekedar latihan.
3. Kemungkinan besar ada Hero lain yang juga di sana pas Alucard sama Zilong janjian.
4. Sampai akhir Zilong tetep gak dateng ke sana.
5. Kejadian Alucard dipaksa berhubungan mungkin terjadi selama beberapa jam, antara dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi.
6. Pelaku orang yang gak jauh dari Alucard sih.
Btw ada yang bisa tebak siapakah si pelaku?
saya terima request story dan pairing, PM kalau berminat.
