Ketika Takiji Memakan Takjil
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje parah asli, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kobayasahi Takiji (01/12/2020).
Kobayashi Takiji tengah memakan takjil, sambil mendengarkan injil yang ganjil dari radio. Mengapa ganjil? Ternyata sebab Sakaguchi Ango ikut andil. Memang Ango adalah anak yang adil dan itu asli, tetapi sering kali Ango tertangkap membaca majalah bugil yang centil. Sering ia cicil, ucapnya, nanti baca di cuaca yang cerahnya terbaca, atau sambil makan ayam rica-rica dan ibunya menjahit boneka perca sambil mencerca acara drama.
"Yo, Takiji. Sedang makan apa?" Shiga Naoya datang dengan ganteng. Baru saja pulang dari membawa rantang di waktu petang. Takiji mengangguk terus tergaguk-gaguk. Mana sangka Naoya bawa nangka sama bika.
"Makan takjil. Mas Naoya mau?" Putu ayu yang kemayu disodorkan. Tentu saja, mana mungkin Shiga tolak dengan mengelak.
"Mau, dong. Tapi, kok, bilangnya takjil? Lucu juga, ya, kayak Takiji memakan takjil."
"Kata Sunao biar suasana puasa-nya terasa."
"Tahu takjil itu apa?"
"Makanan buat buka puasa, 'kan?" Harusnya memang kurma yang bikin prima. Namun jujur, Takiji cuma telanjur ikutan-ikutan alur Sunao. Ia bukan muslim yang akan salim dengan yang dadakan alim. Makanya mendengarkan injil sekalipun ganjil gara-gara suara Ango.
"Lebih tepatnya untuk menyegarkan buka puasa. Jadi, takjil bukan makanan sebelum menu utama untuk berbuka. Omong-omong putu ayu-nya enak. Beli di mana?"
"Buat sendiri."
"Tumbenan. Ada apaan, nih, sampai buat sendiri?"
Shiga nyaman dengan mengandalkan senyuman. Takiji masih diam melihat bohlam yang berdiam. Ia yang menjadi analis mengira novelis tanpa kumis ini lupa, bahwa Takiji semringah di tengah ulang tahunnya. Putu ayu yang kemayu ini adalah hasil yang sedikit merayu-rayu biar berhasil. Takiji mendesak dirinya memasak demi Shiga. Gurunya menyukai putu ayu yang aduhai agar dapat merasai banzai, dan tak boleh jadi walah-walah yang artinya salah arah.
"Membuat putu ayu itu bisa dilakukan kapan pun."
"Pasti kamu mengira aku lupa."
"Maksud Mas Naoya?" Alis yang naik sebelah masih membantah hatinya yang telah belah, seolah-olah Takiji malah bingung. Shiga mengeluarkan lilin. Angka tujuh belas yang jelas dan cadas tampak cerdas, karena Shiga awas sehingga tidak ampas hasilnya.
"Aku sudah beli lilin, lho. Kukira mau masak ohagi raksasa. Kalau putu ayu, apalagi sudah kamu potong-potong, mana bisa dipakaikan lilin di atasnya?"
"Ternyata Mas Naoya ingat."
"Ingat, dong. Aku tidak akan pernah meninggalkan siapa pun, walau dalam keadaan apa pun, dan itu termasuk mengingat tanggal ulang tahunmu juga."
"Bagaimana Mas Naoya ingat umurku?" Mana guna menurut Takiji. Jadilah ini adalah misterius yang serius. Sifat Takiji yang cuek bebek, dan urut sekali dalam menurut pada Shiga sampai tanpa carut, memang kadang bikin radang berkumandang.
"Lah? Masa kau ingat hari ini ulang tahun, tetapi lupa umurmu?"
"Penting, kah?"
"Pernah dengar istilah sweet seventeen? Bagi sebagian orang itu sangat penting, dan menurutku juga penting. Akhirnya kau bisa punya KTP, lho. SIM juga. Jika kau mau membonceng pacarmu tidak akan ditilang polisi, deh, haha."
"Baiklah. Karena kata Mas Naoya penting, akan kuanggap penting. Namun, kenapa kata sweet hanya ada pada ulang tahun ke tujuh belas?"
"Hmm … mungkin karena setelah umur tujuh belas dan sebelum umur tujuh belas, kau tidak akan mendapatkan sesuatu yang spesial, seperti KTP atau SIM. Dua hal itu penting, sih, terutama KTP." Pangkal yang tidak dangkal, bukan? Meski khusus hari ini, sepertinya Takiji akan nakal walau masih berakal tentunya.
"Kurasa kita memiliki definisi sweet yang berbeda."
"Benarkah? Coba ceritakan."
Malah seolah-olah Takiji ini menyogok Shiga, jika memberi putu ayu yang berseri seperti matahari. Shiga pikir ia tak perlu berpikir sampai berjungkir. Cukup menikmati sebelum mati hati, bukan?
Jawaban untuk definisi itu adalah, karena Shiga yang manis bersamanya di hari ulang tahunnya, dan menjadikan Takiji si amis yang juga manis.
Tamat.
A/N: Ini udah dibikin dari jam 4 sore, dan untungnya ga ada kuliah jadi mayan fokus wkwkw. sempet ketunda gegara makan sambil nonton cooking master boy, dan selebihnya itu karena milih diksinya susah. aku baru pernah maen rima kata, meski keknya ini gak terlalu berasa ya (?). padahal ngeliat pak jokpin main rima kata itu enak, tapi aku ngelakuin sendiri otakku mau jungkir balik aja rasanya. karena langsung kepikiran takiji makan takjil, maka auto ambil indonesia!AU dan udah pasti bulan puasa. aku juga baru kenal takiji kemarin. mungkin fic ini sangat OOC semuanya, tapi ya yang penting maen rima kata.
Sama kurasa puasa di bulan desember ga aneh. lagian bulan puasa tu maju terus kan?
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di fic lainnya.
