Crimson

BoBoiBoy © Animonsta Studios

Collab with Haruko3349, himmedelweiss, and Strawberry Cheesecakee

Warning : HaliYa! AU! MarriageLife.

Dedicated for kurohimeNoir

Tidak ada keuntungan material yang kami dapatkan.


.

"Terima kasih telah berkunjung!"

Kalimat tersebut menyapa indra pendengaran Yaya. Yaya mengangguk dan tersenyum ramah kepada penjaga toko buku sebagai balasan. Jemari lentiknya meraih gagang pintu logam panjang yang berbentuk vertikal, lantas mendorongnya bermaksud keluar.

Fokusnya mengacu ke arah cakrawala, tempat awan berlalu lalang. Ia menyadari gumpalan kapas tersebut membawa beban uap air yang cukup berat, siap untuk menumpahkannya kapan saja. Kelihatannya, hujan deras akan menyerbu bumi sebentar lagi. Yaya segera merogoh tasnya, berniat mencari payung.

"Kok tidak ada, ya ...?" gumamnya setelah mencari-cari alat peneduh itu. Ia kembali mengubek-ubek bawaannya, namun tetap saja apa yang ingin dia cari tak kunjung ditemukan.

"Apa jangan-jangan ... ketinggalan di rumah?" tanyanya dengan kecewa. Istri dari Halilintar itu mengembuskan napas, merutuki kelalaiannya.

Netra cokelat madunya kembali menatap langit. "Sepertinya bakal hujan deras," ujarnya dengan nada cemas.

Tangannya mencari-cari sesuatu yang lain di tasnya. Ia mengeluarkan ponsel, berniat meminta tolong Halilintar untuk menjemputnya.

"Ah, baterainya tinggal empat persen ... ya sudahlah." Sang istri menekan tombol panggil di nomor telepon suaminya. Dering telepon terdengar beberapa detik sebelum akhirnya dijawab oleh sang penerima di seberang sana.

"Assalamu'alaikum, Halilintar. Kau di mana? Sibuk, tidak? ... Boleh tolong jemput aku di depan toko buku yang biasa kita datangi? Maaf, aku lupa bawa payung tadi. ... Makasih, Sayang. Baterai ponselku mau habis, kututup dulu ya! Assalamu'alaikum."

Ponsel berselimut merah muda itu mati total tepat beberapa detik setelah panggilan tertutup. Yaya mengeratkan genggaman pada benda pipih tersebut. Barusan ia teringat dengan kenyataan bahwa powerbank beserta kabelnya juga bernasib sama seperti payungnya, tertinggal di rumah.

Ingin sekali perempuan itu menjedukkan kepala ke dinding saking kesalnya ia pada dirinya sendiri. Kenapa hari ini aku ceroboh banget sih, batinnya.

Tubuh Yaya berbalik, kembali masuk ke toko buku tersebut, berniat mencari kehangatan.


xxx


Sesosok lelaki berusia seperempat abad melipat payung besar yang digenggamnya, lalu mendorong pintu toko buku. Netra rubinya menelusuri penjuru toko, mencari sang pasangan hidup yang menghubunginya beberapa saat lalu.

"Halilintar! Di sini."

Yaya melambaikan tangannya, menarik atensi sang pemuda. Perempuan itu bangun dari duduknya dan menghampiri suaminya.

"Maaf membuatmu lama menunggu. Tadi motorku mogok, harus istirahat di bengkel," jelas Halilintar singkat. Iris merahnya memancarkan rasa bersalah yang kentara.

"Tidak masalah, Sayang. Lagi pula hujan-hujan begini bahaya kalau pulang naik motor. Yuk, kita pulang." Yaya menggamit lengan Halilintar dan memeluknya. Ia mengangguk sopan kepada penjaga toko buku, bermaksud pamit.

Sang suami mengarahkan payung ke atas, lalu menekan tombol yang ada. Otomatis, payung tersebut melebar dan siap digunakan untuk menaungi mereka.

Ia melirik istri cantiknya yang tersenyum senang. Dahinya mengernyit ketika getaran halus terlihat dengan kentara di bahu Yaya. Lantas, Halilintar menyodorkan payung ke arah Yaya, yang disambut dengan sinar mata bingung.

"Tolong pegang ini sebentar."

Tanpa menunggu lama, pria itu melepaskan jaket yang melapisi tubuh tegapnya, lalu memakaikan jaket itu kepada Yaya, yang ditanggapi dengan elakan.

"Tidak perlu, Hali. Nanti kau kedinginan. Aku tidak apa-apa, kok," tolaknya halus dengan nada cemas.

"Sudahlah, kau lebih kedinginan. Bahumu saja sampai gemetaran begitu, apanya yang tidak apa-apa? Lagi pula, bajuku sudah cukup tebal dan hangat, kok," balas Halilintar pelan.

Ritsleting dinaikkan perlahan hingga ke puncak. Setelahnya, Halilintar mengambil alih payung dan melingkarkan tangan kirinya ke pundak Yaya untuk berbagi kehangatan.

Pipi Yaya bersemu merah. Perempuan itu hanya mengangguk. Jantungnya berdetak kencang seperti ingin lepas dari dadanya.

Jarak tubuh yang sangat dekat dengan sang lelaki membuat ia dapat mendengarkan irama jantung suaminya yang sama-sama tidak beraturan. Manik cokelat madunya melirik ke arah Halilintar, yang enggan menatapnya balik.

Yaya tersenyum penuh makna. Tangan kirinya balas menggenggam erat jari Halilintar yang merangkul bahu kirinya. Afeksi menguar menyelimuti sepasang suami-istri tersebut. Di mata orang-orang, mungkin mereka seperti pasangan yang baru pertama kali menjalin cinta.

Keintiman ini sebenarnya sering kali mereka lakukan, tetapi tak pernah membuat keduanya tidak berdebar.


xxx


Yaya mendongak ke arah dirgantara yang masih setia menumpahkan tirta. Sudah mulai berkurang rupanya, ia membatin. Lirikan matanya beralih ke arah sang lelaki, membuatnya terkesiap.

"Hali! Pundak kananmu basah!"

Yaya baru sadar, rupanya Halilintar memayungi Yaya tanpa sepenuhnya memberi naungan pada dirinya sendiri. Lihat saja bahu kanan suaminya yang sudah telanjur disapa hujan.

Halilintar hanya tersenyum tipis, dan mengatakan sesuatu yang membuat Yaya kembali berdebar.

"Nggak apa-apa, yang penting kau tidak terkena hujan."

"Hali ...," Yaya merajuk. Bibirnya mengerucut lucu. "Payung ini kan lebar, mana mungkin aku tidak dapat bagian. Kau juga harus memayungi diri kau sendiri juga! Memangnya aku segemuk itu?"

Pemuda berusia seperempat abad itu terkekeh. "Iya, iya." Halilintar menggeser sedikit payungnya, menuruti protes yang diajukan Yaya.

"Nah, begitu dong, dari tadi." Senyum manis terpulas di bibir Yaya. Tangan kanan wanita itu merangkul pinggang tegap pasangan hidupnya. Ia menyenderkan bahu kanannya ke arah Halilintar. Kembali mereka berbagi kehangatan yang sama.

Tanpa berkata apa pun lagi, keduanya melanjutkan perjalanan dan menikmati aroma petrikor yang memenuhi udara.


xxx


"Assalamu'alaikum, Gempa? …. Oh, um, aku hanya ingin menanyakan soal pekerjaan Halilintar …. Halilintar memisahkan mana proyek yang sudah dikerjakannya dan yang belum ke dalam folder yang berbeda, jadi aku melihat ada tiga dokumen yang belum selesai di sini. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang pekerjaannya. Karena kalian satu kantor, apa kira-kira Gempa bisa membantuku? …. Terima kasih banyak!"

Halilintar menepuk kain basah—yang sebenarnya sudah mengering—di atas dahinya. Sinar lampu kamar terasa menyakitkan matanya, membuat Halilintar harus membuka kelopak mata perlahan-lahan dan beradaptasi selama beberapa menit. Kepalanya masih berdenyut, pandangannya masih berkunang-kunang, kelatnya obat penurun panas masih setia melekat di kerongkongan, dan tubuhnya masih lemas sekali. Walau kondisinya sangat tidak prima, Halilintar masih bisa melihat Yaya yang tengah menggunakan laptopnya di meja kerja.

Sebentar ... laptop?

"... Oh, jadi di dokumen ini, aku hanya perlu memisahkan daftar distribusi berdasarkan prioritas dan domisili? Aku rasa aku bisa melakukannya …. Ah, aku ingin meringankan pekerjaan Halilintar, karena dia sedang—"

Halilintar merebut ponsel Yaya dari tangannya. Wanita cantik itu menoleh dan membulatkan matanya kaget. "Assalamu'alaikum, Gempa. Terima kasih sudah menolong Yaya yang sangat penasaran ini. Aku harap dirimu sama sekali tidak tersinggung jika aku mematikan telepon sekarang …. Terima kasih, wassalamu'alaikum."

Yaya baru berani menegur Halilintar setelah panggilannya dengan Gempa berakhir. "Hali, kau itu masih sakit—!"

Baru saja Yaya ingin memulai sesi ceramahnya, tubuh Halilintar tampak gemetar dan sempoyongan. Halilintar menempatkan kedua tangannya di atas bahu Yaya, refleks yang muncul saat tahu dirinya akan jatuh. Yaya beraksi sigap dengan berdiri dan langsung memapah Halilintar kembali ke tempat tidurnya.

"Apa yang kaulakukan, Hali? Kau masih sakit!" tanya Yaya dengan suara setengah membentak. "Istirahatlah!"

"... Harusnya itu kalimatku."

Yaya tertegun. Kepalanya mundur ke belakang karena didorong rasa terkejut. Halilintar meremas selimut dan menggigit bibir, mungkin meriang datang menyerangnya dengan berbaik hati memberi aba-aba.

"Kita sudah mengenal sangat lama ... hingga tak mungkin aku tak tahu ... kalau kau merasa bersalah."

Gadis yang selalu berartribut merah muda sehari-hari itu tak merespons, sama sekali tak membantah. Terlihat Halilintar yang memiringkan tubuhnya menghadap Yaya, berusaha menggenggam tangan sang istri yang baru saja berniat ingin membasahi kain kompres—ada kode dari Halilintar yang menyiratkan ketidakinginan memakainya lagi.

Tangannya panas sekali, tapi entah mengapa Yaya bisa menemukan cinta yang tersembunyi di sana.

"Aku memang merasa sangat bersalah," sesal Yaya. "Karena terkena hujan deras kemarin, kau menjadi sakit seperti ini. Mana mungkin aku tidak merasa bersalah saat melihatmu sekarang. Aku sudah memutuskan untuk merawatmu, bagaimana pun itu!"

Jadi itu alasan persisnya mengapa Yaya ingin mengerjakan proyeknya? Halilintar merasa geli, tapi juga salut di saat yang sama. "Kalau kau sampai sakit, aku ... tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

"Lantas, bagaimana aku—"

"Tetaplah di sini," potong Halilintar. Ditempatkannya telapak tangan Yaya di atas dada kiri, tempat jantungnya bersemayam, tempat sangkar hatinya bergemuruh mendengungkan afeksi. "Untukku, bersamaku."


xxx


Asap putih membumbung dari dalam teko nirkarat di atas kompor dengan api medium. Aroma berbagai macam bumbu sangat memanjakan penciuman saat nyala lampu pada oven di bawah meja padam. Sebuah sajian protein tinggi dengan beberapa hiasan sayuran di sekeliling telah diletakan di atas meja persegi.

"Lauknya sudah, karbo ada, bubur nanti juga matang. Hmmmm ... aku harap ini cukup?"

Wanita berkerudung tersebut bergumam seraya melepaskan sarung tangan tebal yang menyelimuti telapak tangannya. Pikirannya melayang-layang bagai selembar tisu tertiup angin dingin di kala senja dari balik celah jendela.

Helaan napas lolos saat matanya terpejam mencoba mengingat-ingat hal menarik dari dalam ponsel pintarnya.

"Apa aku sebaiknya membuat itu juga ya?"

Yaya melangkah pelan mendekati teko yang bersiul nyaring, bersama suara letupan gelembung halus bagaikan perkusi. Tangannya juga sibuk memotong beberapa sayuran di atas talenan kayu.

"Sedikit lagi matang," ujarnya diiringi senyuman. Yaya mengaduk-aduk panci bubur tersebut lalu kembali menutupnya.

Cairan panas dari dalam teko meluncur masuk ke gelas yang berisi bubuk putih dan hijau. Menciptakan bentuk acak bagai kabut. Aroma matcha dan vanila berpadu meramaikan seisi ruangan.

Tak hanya sampai di sana. Kini Yaya juga mulai mengambil beberapa bahan lagi dari dalam lemari pendingin. Sebuah wadah kaca besar dan pengaduk telah ia tata di atas meja.

"Kalau aku membuatnya, apa dia akan menyukainya?"

Wanita itu dilanda dilema. Sesungguhnya ia tidak tahu pasti bagaimana cara membuatnya. Terlebih lagi kini ponselnya sedang mengisi daya di dalam kamar. Yaya tak ingin mengganggu suaminya hanya karena ponsel dan kebingungannya ini.

Jadi ia kembali membuka lemari pendingin hendak mengembalikan bahan. Namun, pada akhirnya ia hanya diam merenung memandang semua bahan di tangannya bergantian dengan lemari dingin itu.

"Yaya."

Suara bariton terdengar mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Iris mata kemerahan memandang penuh kebingungan tepat di atas kepala Yaya.

"Kau sedang apa?"

Yaya bersyukur Tuhan menciptakan organ tubuh yang begitu kompleks untuk dirinya. Kalau tidak mungkin saja jantungnya akan melompat pergi meninggalkannya.

"Ah, tidak Hali. Aku baru saja menemukan satu resep unik dari biasanya. Tapi—" Yaya sengaja menggantung ucapannya. Ia memandang tumpukan bahan dalam dekapan. Kemudian menggeleng menyudahi ucapannya. "Aku rasa harus kulewati saja."

"Kenapa?" tanya Halilintar dengan wajah kebingungan.

"Aku tak yakin dengan hasilnya." Yaya mengangkat bahunya sesaat bersama tarikan tipis di pipi. Wanita itu berjalan melewati Halilintar, mengangkat panci bubur kemudian memanaskan air.

"Coba saja, sepertinya kamu sangat menginginkannya, Yaya. Jangan takut gagal. Nikmati saja proses saat kau membuatnya."

Yaya berbalik, beradu pandang dengan mata merah yang seolah membekukan setiap sendi dalam tubuhnya selama beberapa detik.

"Lebih baik kau istirahat, Hali. Kondisimu belum benar-benar pulih." Yaya kembali memutar tubuhnya sebagai penolakan.

Ia memasukkan beberapa jenis sayuran ke dalam air mendidih bersama dengan beberapa bumbu. Lelaki itu menghela napas, mengambil kembali bahan-bahan itu dari dalam lemari pendingin. Bersama sebuah wadah besar dan kocokkan kue di atas meja.

"Maaf Yaya, bukan maksudku memaksa, tapi aku tidak menyukai ekspresi itu."

Wanita itu hanya diam tanpa ada niat untuk membalas, karena tangan yang masih sibuk mengaduk dan akan mencicipi hasil buah karyanya itu dengan sebuah sendok. Namun sebelum indra pengecapnya dapat mengecap rasa khas dari sayuran, tangan Yaya seolah terangkat dan mendarat ke atas kepalanya.

"Masakanmu selalu enak Yaya, jadi ayo kita coba," ujar Halilintar yang sudah menyandarkan dagunya di puncak kepala Yaya. Bersama kedua tangan yang dengan mulus melingkar di pinggang kecil itu. Sayangnya, wanita jelita itu terus menolak dan meneruskan aktivitas memasaknya.

Lelaki itu mendengus setelah ditolak untuk yang ke sekian kalinya. Kini kepalanya telah berpindah. Memilih menenggelamkan diri di atas bahu kecil itu. Sementara wanita itu hanya terkekeh geli dengan tindakan baru dari suaminya itu di kala demam datang bertamu.

"Kalau gitu, bagaimana kalau aku masak biskuit bumbu gulai saja?" ujar Yaya bersama tawa renyah saat merasakan gerakan cepat di pundaknya.

"Bukannya kau ingin memasak sesuatu yang unik?"

Lelaki itu bangkit membalik tubuh Yaya agar menghadap dirinya. Wanita itu tersenyum simpul, menahan tawa yang sewaktu-waktu mungkin saja akan meledak seperti bom.

Entah mengapa Yaya benar-benar melihat hal yang sangat berbeda dengan Halilintar sore ini. Ekspresi lelaki itu kini begitu beragam dan sangat lucu di bawah pancaran sinar lampu. Pipi yang masih memerah dan hawa panas di lengan atas Yaya membuktikan bahwa lelaki itu belum benar-benar sembuh.

Yaya mematikan dua sumbu kompor yang masih membara di belakang tubuhnya. Menatap lekat dua iris mata merah sayu di hadapan. Dengan senyum gugup, Yaya memainkan kedua tangannya.

"Aku hanya ingin membuat piza dan pai." Kedua bola mata Yaya berotasi memandang langit-langit.

"Lalu?" Halilintar bertanya kembali dengan sebelah alis yang terangkat.

"Ada beberapa bagian penting yang kulupakan," kata Yaya, seraya mengangkat salah satu tangannya dengan jari telunjuk dan ibu jari tak terlipat seperti jari lainnya.

"Kalau hanya itu, mungkin aku bisa membantu." Halilintar melepas genggaman tangan di lengan atas Yaya. Ia menggaruk tengkuk belakangnya yang tak terasa gatal.

"Kali ini aku tidak mau melihat gelengan kepalamu," lanjut Halilintar cepat sebelum wanita itu dapat memberikan respons. Tawa Yaya kembali pecah. Kali ini ia mengangguk kemudian berjalan meletakan bubur dan sup di atas meja makan.

"Baiklah bila kau memaksa." Yaya menghela napas mengalah, menyetujui permintaan suaminya. "Tapi, kalau kamu merasa pusing, kembalilah ke tempat tidur." Yaya mendekati Halilintar. Mengusap lembut permukaan pipi hangat sampai pada helaian rambut di belakang telinganya.

"Aku hanya demam, Yaya. Itu bukanlah hal yang berat."

Halilintar tersenyum memejamkan mata. Ia meraih tangan kecil istrinya, kemudian mengecupnya sekilas sebagai perlambang kasih sayangnya.

Yaya sadar resep kali ini pasti akan menemui kegagalan pada akhirnya. Namun, ia harap dengan ini. Kesehatan serta perasaan suaminya akan membaik.

"Ya, semoga saja."


xxx


Yaya memindahkan pembatas buku dan menutup buku tersebut. Lalu meletakkannya di atas meja. Ia mengambil segelas jus alpukat yang telah berembun. Rasa manis dan lembut dari jus tersebut, seperti suntikan serotonin yang menyegarkan kembali sel-sel tubuhnya.

Kurang lebih sudah hampir satu jam sejak Yaya memilih bersantai sambil membaca buku yang baru ia beli kemarin. Itu adalah novel terjemahan terlaris musim ini. Yaya bersyukur, ia bisa dengan mudah mendapatkannya pada minggu-minggu awal perilisan.

Yaya mengangkat kepala, mata cokelatnya bergulir menilik jam yang tergantung apik di atas dinding. Wanita berhijab itu tampak tersentak, sebelum akhirnya segera bergegas bangkit dengan tergesa.

Aku terlalu asyik membaca sampai lupa menyiapkan makan malam, batin Yaya sedikit menyesal.

Di tengah perjalanan, Yaya menyempatkan diri untuk mengintip sebentar ke dalam kamar. Tujuannya hanya ingin memastikan keberadaan Halilintar. Karena menurut sepengetahuan Yaya, suaminya itu sedang sibuk mengerjakan sisa pekerjaannya yang belum tuntas.

Namun, ketika kepalanya melongok dari balik celah pintu. Yaya tak menemukan Halilintar di sana. Tak ingin membuang waktu, ia kembali meneruskan langkahnya.

Yaya berpikir mungkin Halilintar sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan sekarang pria itu sedang beristirahat seraya menikmati angin malam di halaman belakang.

Seulas senyum mengembang di bibir Yaya. Ia akan memanfaatkan waktu untuk menyajikan makan malam istimewa.


xxx


Yaya mendadak mematung di ambang pintu dapur, sepasang matanya membulat sempurna sebagai refleks dari keterkejutan yang menghantam dirinya. Yaya melihat sendiri, tepat beberapa meter di depan sana. Ada Halilintar yang sedang menuangkan minuman ke dalam gelas-gelas kosong.

Tetapi, bukan itu yang membuat Yaya terperangah hingga kehilangan kata. Melainkan karena penampilan meja makan yang telah disulap menjadi lebih indah.

"Hali." Panggilan Yaya terdengar menginterupsi Halilintar.

Halilintar lantas menoleh. "Duduklah, sudah waktunya makan malam bukan?" ujarnya.

Yaya menggeleng, ekspresinya diliputi keheranan. "Kenapa kau melakukan ini?"

"Haruskah ada alasan?" balas Halilintar, ia melangkah mendekati Yaya.

"Tentu, Hali." Yaya menatap lurus Halilintar. "Karena seharusnya aku yang menyiapkan semuanya," ungkap Yaya.

Halilintar tak menjawab, dituntunnya Yaya menuju kursi terdekat.

"Kau hanya perlu duduk." Halilintar menarik salah satu kursi. "Kita akan makan bersama," terangnya.

Pandangan Yaya masih terus memperhatikan Halilintar, sampai pria itu menempati kursi kosong di depannya. Yaya menarik napas panjang.

"Kau sakit karena menjemputku kemarin. Dan tadi sore, aku nyaris mengacaukan kegiatan masak bersama," jelas Yaya. Nada suaranya terdengar rendah.

"Jadi maksudmu, kau ingin menebusnya karena kau berpikir semua ini terjadi akibat kesalahanmu?"

Ucapan Halilintar barusan sangat tepat sasaran. Hal itu terbukti dari perubahan pada roman muka Yaya. Sebenarnya Yaya masih merasa tak enak dengan kegiatan memasak.

"Ya, setidaknya biarkan aku memberikan suatu kejutan untukmu," kata Yaya.

Halilintar membenarkan posisi kursi dan memajukannya ke depan hingga berdekatan dengan meja. Digenggamnya kedua tangan Yaya erat-erat, mengirimkan keyakinan dan kehangatan untuk menghapus kerisauan belahan jiwanya.

"Kau telah merawatku dengan sangat baik. Yang harus kau tahu, itu lebih berharga daripada kejutan," tutur Halilintar meyakinkan.

Yaya beralih memandang meja makan yang telah dipenuhi dengan berbagai menu seperti sup ayam serta kentang panggang. Lilin-lilin kecil diletakkan mengelilingi vas berisi bunga lili putih. Kelopak bunga merah bertebaran di sekitar lilin yang berada di setiap sudut meja.

Yaya tahu, itu adalah sebagian makanan yang berhasil mereka buat. Sementara sisanya gagal dan berakhir di tempat pembuangan sampah. Ah, mengingatnya membuat Yaya merasa bersalah sekaligus kecewa.

Halilintar meraih dagu Yaya, mempertemukan dua pasang mata berbeda warna. Ia mengusap pelan pipi Yaya. "Kau tak perlu melakukan apapun. Keberadaanmu yang terus bersamaku adalah hal yang tidak dapat tergantikan," katanya tulus.

Yaya dapat melihat bayangan dirinya dari iris delima Halilintar. Tatapannya memancarkan kesungguhan. Halilintar mencondongkan tubuhnya ke depan. Yaya menahan napas, dadanya berdebar keras ketika Halilintar mengecup lembut dahinya.

Setelahnya, Yaya hanya bergeming tak mampu merespon. Darahnya berdesir hangat lalu merambat sampai ke wajah, menghadirkan semburat rona merah di pipi.

"Sebelumnya, adakah yang kau inginkan?"

Pertanyaan Halilintar sukses menarik Yaya kembali ke dalam realita. Yaya tak langsung menjawab, ia termenung selama sekian detik.

"Aku ingin melihat bintang. Bagaimana menurutmu?" Yaya bertanya memastikan.

"Coba kau lihat ke samping," sahut Halilintar.

Yaya mengerjapkan mata. Otaknya berusaha memproses jawaban dari pernyataan yang Halilintar lontarkan. Meskipun begitu, Yaya tetap menuruti Halilintar dan menoleh ke samping.

Untuk kesekian kalinya, Yaya kembali dibuat takjub. Korden yang biasanya tertutup melingkupi jendela, kini tersingkap menampilkan pemandangan langit malam yang berhiaskan ribuan konstelasi bintang.

Angin berembus menerbangkan aroma lavender yang menenangkan. Lilin-lilin berwarna ungu ditaruh di sisi jendela, ikut memperindah suasana makan malam.

Halilintar menyiapkan semuanya sendiri. Ia seperti bisa menebak isi pikiran Yaya, meskipun Yaya tidak mengatakannya.

"Terima kasih, Hali," tutur Yaya penuh haru. Rasanya ada jutaan kembang api yang meledak memenuhi hati, menciptakan desir hangat yang membahagiakan.

"Dibandingkan dengan raut bahagiamu, ini bukan apa-apa."

Yaya tertawa pelan, senyum manis merekah di paras cantiknya. Terkadang Yaya berpikir, Halilintar adalah orang yang keras kepala. Sementara Halilintar beranggapan, Yaya adalah orang yang teguh pendirian. Keduanya tak akan menyerah sebelum hal yang mereka inginkan benar-benar tercapai.

Namun, ada kesamaan yang rupanya luput mereka sadari. Keduanya sama-sama keras kepala dalam mencintai. Yaya tak lepas memandang ke luar jendela. Kartika yang berkilau cerah di atas angkasa merupakan refleksi dari afeksi hati Yaya.


FIN.


A/N: Happy birthday for CEO of KOKOTiME ~

Semoga Kak Noir panjang umur sehat selalu Kak, semoga makin semangat dalam berkarya ~ Semoga Kakak sukses selalu. Aamiin

Di hari yang indah ini, WAGAN-P ingin memberikan suatu persembahan kecil sebagai hadiah untuk melengkapi momen kebahagiaan Kakak ~

Semoga fiksi ini dapat menghibur di hari ultah kakak 💕

Akhir kata, terima kasih bagi yang sudah membaca fiksi ini, terutama buat Kak kurohimeNoir uwuuuu. Semoga Kakak dapat menyukai cerita ini.

Salam, WAGAN-P