Di hari ulang tahunnya kala itu, untuk pertama kalinya, Rook tidak bisa merasakan kebahagiaan apapun ketika dia berhasil mendapat hewan buruannya.
.
.
.
Our Day
.
.
.
7 years before
Cerah sekali matahari pagi itu, agak mengejutkan mengingat ini sudah awal bulan Desember. Meskipun mereka memang tinggal di Afterglow Savannah yang mana musim dingin biasanya akan terjadi sedikit terlambat, tetap saja, rasa-rasanya agak aneh jika di hari pertama "bulan dingin", mataharinya justru unjuk kebolehan dengan percaya diri.
Mm, well, tidak masalah. Toh ini malah jadi kesempatan emas bagi sang putra untuk mendapat pengalaman berburu pertamanya di alam liar, bukan begitu?
"Rook! Anakku! Di mana kau?" seruan demi seruan terdengar menggelegar ke seluruh penjuru rumah sang kepala keluarga Hunt, keluarga pemburu yang dikatakan paling disegani, bahkan raja pun mengakui. Keluarga ini juga memimpin kelompok pemburu nomor satu di Afterglow Savannah dengan nama yang sama dengan nama keluarga tersebut; Hunt. Sudah terlalu banyak penghargaan yang mereka dapatkan dari setiap perlombaan berburu, mulai dari generasi pertama sampai generasi yang sekarang ini. Hunt seolah tidak ada tandingannya.
Oh, lupakan dulu soal latar belakang keluarga pemburu ini, karena sekarang kepala keluarganya sedang mencari sang penerus alias putranya sendiri yang entah main dan hilang ke mana. Padahal dia ingat betul kalau anak itu hanya bermain di rumah seharian ini, tapi kenapa rasanya sudah dikelilingi berkali-kali tidak kunjung ditemukan tanda-tanda keberadaannya?
"Rook!" sekali lagi seruannya terdengar. Kaki tuanya berhenti sejenak, menarik napas. Sembari berkacak pinggang, kepala keluarga Hunt tersebut mengedarkan pandang ke sekitar halaman belakang rumah di mana dia berada sekarang. Dari mulut dan hidungnya, bersamaan keluar dengusan ringan. "Ke mana anak itu sebenarnya? Aku sudah melewati tempat ini tiga atau empat—"
"Papa!"
Oh! Itu dia suaranya!
Mengikuti arah suara tersebut, kepala ayah dari si bocah bernama Rook itu menoleh ke sisi kiri, kemudian mendapati siluet sang putra yang berlari riang menghampiri dirinya. Senyumnya lebar dan cerah, nyaris mengalahkan matahari yang tengah unjuk gigi di atas mereka. Tidak hanya itu, sepertinya putra kebanggaannya itu tengah menenteng sesuatu di tangan kanannya.
"Papa!" anak itu menyapa lagi ketika akhirnya dirinya sampai di depan sang ayah. Tentengan yang ada di tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Rupanya itu seekor kelinci putih yang sudah tak bernyawa dengan perut berlubang. "Lihat, lihat! Aku berhasil dapat kelinci!"
"Oooh, bagus sekali!" papanya memuji. Kelinci tersebut diterimanya dengan sukacita. "Malam ini, setelah sekian lama, kita bisa makan daging kelinci lagi, Rook. Hebat sekali memang putra Papa yang satu ini." Dengan tangannya yang lain, Papa Hunt menghadiahi putranya dengan elusan menenangkan di kepala.
Rook yang menerima elusan itu terkekeh senang. "Hehe. Senang bisa membuat Papa senang."
"Omong-omong, kau berburu ini di belakang sana kah?"
"Um!" Jari kecilnya menunjuk rimbunan pohon yang ada di belakang pagar pekarangan rumah mereka. "Aku iseng ke sana dan ternyata ada beberapa kelinci yang sedang mencari makan. Langsung saja, mumpung aku bawa busur panahku, kuburu mereka dan hup! aku dapat satu!"
Papa Hunt membusungkan dada. Rasa bangga dalam dirinya sudah tumpah ruah. "Kau memang anak yang paling bisa diandalkan, Rook. Tapi besok dan setelahnya, kau harus setidaknya izin dulu dengan Papa kalau ingin keluar rumah. Mengerti?"
Rook memberi hormat dengan tangan kanannya yang ternyata terdapat bercak darah. "Siap, komandan!"
"Siapa yang komandan, hei, anak pintar?" Elusan yang tadi diberikan berubah menjadi gerakan agak liar yang berakibat mengacak rambut pirang sang pemburu muda. "Baiklah, kita harus sarapan. Mamamu pasti sudah selesai masak."
"Ya!" Rook mengangguk semangat. Dia berjalan masuk ke rumah, bersama dengan sang papa, sembari menceritakan petualangan paginya dengan menggebu-gebu.
…
"Oh ya, Rook, besok hari ulang tahunmu kan?" Dengan potongan kentang kukus yang baru masuk ke mulut, bocah pirang itu mengangguk. Matanya terlihat berbinar ketika mendengar sang ayah menyebut hari berharganya. "Kalau begitu, tepat sekali," ucapnya lagi, bersemangat.
Mama Hunt menuangkan jus jeruk ke gelas sang suami dengan senyum lebar, ikut bersemangat. "Benar juga! Tepat sekali kalau begitu."
"Tepat … apanya?" tanya Rook. Bibir bersaus tomatnya diusap lembut oleh sang ibu.
"Besok, Papa dan teman-teman Papa yang lain, akan melakukan perburuan besar," katanya menjelaskan. Jus jeruk yang tadi dituangkan sang istri diteguknya beberapa. "Apa kau tahu isu yang beredar belakangan ini?" Satu gelengan polos Papa Hunt terima. "Katanya, di sabana kesayangan kita ini, ada serigala sendirian."
Deg
Serigala …?
Seketika muka Rook memancarkan cahaya antusiasnya. "Benarkah?!" Sepiring sarapan yang sampai beberapa saat lalu masih menarik perhatiannya, tidak lagi dihiraukan. "Serigala sungguhan?! Ada di sini?!"
"Ya! Tapi ini masih sebatas isu karena kita masih belum menemukan jejak apapun darinya," sang ayah lanjut menjelaskan sambil menggeser piring makanan Rook menjauh dari jangkauan anak itu. Sejak tadi tangannya sudah nyaris menyenggol makanannya sendiri. "Niatnya, besok Papa ingin memulai pencarian. Mumpung besok Rook ulang tahun dan Papa juga belum menyiapkan hadiah apa-apa, bagaimana kalau kita pergi berburu besok … tte, itu yang Papa pikirkan. Jadi?"
Ooh, mana mungkin kesempatan seberharga ini dilewatkan begitu saja kan?
"Ikut! Aku mau ikut!" Rook berseru dan berdiri di kursinya. Sang ibu sedikit panik ketika kursi itu bergoyang ke kanan dan kiri. Untunglah dia sempat menahan kursi sang putra sebelum nantinya Rook benar-benar jatuh.
Papa Hunt pun mengangguk. Senyumnya tidak kalah lebar dari sang putra. "Yosh, besok kita berangkat ya! Jangan bangun kesiangan!"
"Oui!"
…
Sudah tidak terlalu gelap, tapi masih cukup sulit untuk melihat sekitar. Kalau tidak hati-hati, masuk lubang jebakan atau bahkan jurang bisa dialami. Ditambah semalam habis hujan deras, setiap jalan yang dilewati pun jadi basah dan licin.
Sayangnya semua hal yang bisa membuat setiap anak kecil menangis ketakutan, tidak dirasakan sama sekali oleh Rook. Malahan bocah itu melompat-lompat kecil sembari bersenandung di sepanjang perjalanannya, begitu menikmati setiap langkah baru yang didapat di hari bahagianya ini.
"Seperti yang diharapkan dari putra pemimpin, kau memang tidak kenal takut, Rook-kun."
Rook menghentikan langkahnya dan berbalik, melempar senyum ramah ke salah satu anggota kelompok yang sejak tadi berjalan di belakang. Orang itu memang sengaja ditaruh di belakang karena sudah tugasnya untuk mengawasi Rook. Sang ayah—sebagaimana pemimpin—berjalan paling depan.
"Karena hari ini aku ulang tahun! Mana mungkin aku akan takut di hari ulang tahunku sendiri kan? Aku sudah semakin besar!" jawabnya ceria.
"Oh, benarkah?" Orang itu memberikan elusan lembut yang rasanya hampir sama dengan yang diberikan papanya di kepala. "Selamat ulang tahun, Rook-kun. Kau tidak ada keinginan apa-apa? Hadiah?"
"Kata Papa, berburu hari ini adalah hadiah ulang tahunku," katanya, masih dengan senyuman. "Ini pengalaman pertamaku jadi aku sangat senang! Papa memang yang terbaik dalam memberi kejutan!"
Orang itu mendengus kecil. "Syukurlah kalau kau senang."
"Baik, semuanya! Berhenti dulu di sini!" sebuah perintah akhirnya terdengar, dan itu dari Papa Hunt.
Sosoknya yang meski sudah tua masih terlihat gagah, naik ke atas sebuah batu besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri semula. Dari atas sana, ia mengecek satu persatu anggotanya, apakah ada yang tertinggal atau tidak, termasuk putranya sendiri yang sudah secerah matahari pagi. Tanpa sadar, Papa Hunt ikut tersenyum.
"Dari sini kita berpencar sesuai kelompok yang sudah dibagi kemarin malam," suaranya terdengar lagi, kali ini dengan nada tegas yang membuat Rook menatap papanya bangga. "Ingat tujuan utama kita hari ini; mencari petunjuk tentang keberadaan serigala itu, sebanyak-banyaknya, hingga kita yakin kalau dia memang benar ada. Tidak masalah jika pencarian bukti ini harus menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Selama kita yakin kalau serigala itu benar ada, maka itu sama sekali bukan masalah."
Seseorang yang kemungkinan besar semacam wakil dari kelompok atau semacamnya, menyodorkan beberapa lembar kertas yang Rook ingat kertas-kertas itu adalah yang dikerjakan papanya semalam—seperti memberi tanda bulat, garis, juga kotak di segala sisi.
"Menurut info yang sudah aku dan Hubert-kun kumpulkan selama satu bulan ini, serigala sendirian ini bukanlah serigala biasa," katanya lagi, membuka lembaran kertas berikutnya. "Dia adalah manusia serigala—werewolf—dengan kekuatan sihir yang di atas rata-rata, bahkan dikatakan kalau keluarga kerajaan, Kingscholar, sekalipun tidak bisa dibandingkan dengannya. Ini memang masih termasuk isu—karena keberadaannya sendiri juga masih simpang siur, tapi kita bisa anggap kalau makhluk ini adalah makhluk yang berbahaya. Itulah kenapa aku tidak menyarankan kita untuk terburu-buru dalam memburunya."
Bundel kertas itu dikembalikan ke laki-laki yang ternyata bernama Hubert, sementara Papa Hunt masih tetap berdiri di atas batu, memandang setiap orang yang berada di bawah pimpinannya. "Kuulangi dan kuperjelas lagi untuk misi perburuan kita; tidak ketemu hari ini, lanjut besok. Tidak ketemu besok, lanjut hari berikutnya. Tidak ketemu hari berikutnya, lanjut terus di hari-hari berikutnya. Kita harus bisa pastikan kalau makhluk ini benar-benar bisa kita buru, atau tidak. Ya, Hunt memang dikenal sebagai kelompok pemburu paling kuat di Afterglow Savannah, tapi jangan langsung percaya diri kalau kau bisa menangkap semua buruan yang ada di muka bumi ini, tidak peduli seberapa kuat buruanmu itu. Kita harus pastikan benarkah makhluk ini sekuat yang diisukan, atau justru hanya untuk menakut-nakuti. Seberapa kuat dia, kita harus tahu itu sendiri, dengan segala panca indra yang kita punya."
Dua kali tepuk tangan, itu adalah tanda bahwa sudah waktunya. Papa Hunt melompat turun dari atas batu kemudian berteriak, "BERPENCAR!"
Dalam sekejap, semua orang yang sudah dengan kelompoknya masing-masing, berpencar ke segala penjuru hutan dan padang rumput, termasuk Rook yang ternyata satu kelompok dengan orang yang tadi mengajaknya bicara. Bocah yang hari ini resmi berusia sembilan itu sempat beradu pandang dengan sang ayah, yang dibalas dengan pandangan yang seolah mengatakan, "Berjuanglah, Nak. Jadikan ini pengalaman berharga dalam hidup."
Memikirkan itu, tak kuasa Rook menahan senyum—yang sebenarnya sejak berangkat dari rumah tadi juga tidak ada luntur-lunturnya. Sekali lagi dia melompat-lompat kegirangan, yang mana itu justru membuat jantung orang-orang di kelompoknya berpacu tak biasa. Merak takut kalau putra pimpinan mereka ini sampai kenapa-kenapa dan nantinya mereka yang disalahkan.
"Aku akan dapatkan serigala itu!" ia berseru seraya mengangkat busur kebanggaannya tinggi-tinggi. "Dia akan jadi buruan pertamaku!"
"Rook-kun! Jalannya yang benar! Jangan kebanyakan lompat!"
Kelompok itu akhirnya menghilang ke dalam rimbun pepohonan. Suara mereka bercengkerama—yang sebenarnya lebih ke teriakan panik akibat dari si bocah yang super aktif—sudah tidak lagi terdengar.
Mengetahui dirinya sudah sendiri, sosok yang sejak tadi bersembunyi di bawah akar pohon besar memunculkan diri. Dia masih tidak sepenuhnya keluar dari bayang-bayang, merasa awas dengan keberadaan setiap manusia yang sejak tadi mengganggu sistem penciumannya. Demi apapun, dia tidak pernah bernapsu untuk memakan manusia karena bau mereka … yang sangat mengganggu.
Itu yang dia pikirkan selama ini, tapi tidak ketika ada bau yang terasa sangat murni yang tadi sempat lewat. Bau itu sangat menggoda hingga ia tidak bisa membandingkannya dengan bau makanan enak manapun.
Sosok itu berusaha untuk mengingat baunya, mencium sisa-sisa yang ada di udara. Kemudian ia melompat dari satu pohon ke pohon lain, mencoba mengikuti. Malam ini sepertinya dia akan makan enak, dan mungkinkah dia akhirnya bisa tahu "surga" yang sering orang-orang bilang ketika makan sesuatu yang enak?
…
Telinga hewan berbulu berwarna putih keabuan, di mana bulunya juga memenuhi hampir seluruh bagian tubuh. Rambut panjang berwarna senada dengan bulu-bulu di tubuh, ekor yang juga panjang nan lebat, mata tajam semerah darah, tak lupa kuku-kuku tajam di setiap jari tangan dan kaki. Ketika makhluk itu membuka mulutnya yang lebih seperti moncong anjing, bisa Rook lihat dengan jelas gigi-giginya yang runcing juga taring yang panjangnya … benar-benar panjang. Makhluk itu bisa dikatakan sebesar dirinya, tapi Rook bahkan sampai tidak bisa mengangkat busurnya sendiri.
Dia terlalu takut.
"Grrrr …," makhluk itu menggeram. Suaranya terasa sekali masih muda dan belum sepenuhnya terbentuk, tapi tetap, ini kelewat menakutkan. Keberanian Rook seketika menguap tak bersisa!
Pandangan Rook sudah terhalang oleh air matanya sendiri. Percuma ia menangis karena tiga orang lainnya yang ada di kelompoknya sudah tak sadarkan diri, tergeletak di atas tanah tak berdaya. Rook tidak tahu lagi apa mereka masih hidup atau hanya pingsan, tapi kemungkinannya pingsan. Semoga.
Ini bermula kurang dari lima menit lalu, ketika mereka masuk hutan semakin dalam, tiba-tiba saja terdengar suara bedebum keras yang berasal dari belakang. Saat Rook menoleh, salah satu anggotanya sudah dijatuhkan oleh sesosok makhluk dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas. Kemudian dalam sekejap, dua anggotanya yang lain juga dijatuhkannya. Kejadiannya sangatlah cepat, hingga mata Rook yang padahal terhitung tajam dan awas, tidak lagi bisa mengikuti.
Sekarang tersisa dirinya dan makhluk misterius dengan wujud menyeramkan itu. Kedua kakinya sudah lemas, Rook pun hanya bisa terduduk di tempatnya. Menatap makhluk itu dengan tatapan yang setengah pasrah setengah mengharap belas kasihan. Air matanya juga sudah mengalir entah sejak kapan.
Mata merah makhluk itu melihat Rook penuh napsu. Meski ketakutan, Rook masih tetap bisa merasakan aura membunuh yang dikeluarkan makhluk itu. Dia sungguh berniat untuk membunuh Rook.
Apakah Rook akan berakhir di sini? Menjadi mangsa makhluk yang identitasnya tidak ia ketahui ini? Di hari ulang tahunnya?
Selangkah demi selangkah, makhluk itu mendekat. Mendekat, dan terus mendekat, hingga ketika dia tinggal sejengkal lagi menyantap hidangan di hadapan, dia malah berhenti. Matanya terbuka lebar, terpaku melihat Rook yang benar-benar sudah di ujung rasa takutnya.
"Jangan makan mangsamu kalau dia tidak mau dimakan."
Seakan menjadi kesempatan kedua bagi Rook, makhluk itu mengurungkan niat. Sorot matanya tidak lagi mengancam. Lalu dengan ajaib, seluruh tubuhnya yang tadinya dipenuhi bulu-bulu tebal, perlahan menghilang. Rambutnya memendek hingga sebahu, ekornya juga ikut menciut ke ukuran yang bisa dikatakan normal. Mulut bermoncong yang membuatnya berwajah seperti anjing pun juga menghilang, digantikan dengan wajah manis seorang anak kecil berpipi chubby.
Hanya dalam hitungan detik, wujudnya berubah jadi seperti manusia setengah hewan biasa. Barulah saat itu Rook menyadari kalau makhluk yang dia lihat ini adalah si serigala yang sedang mereka cari.
Werewolf yang keberadaannya masih misterius.
"Pergi."
"… Eh?"
Makhluk itu membuang napas. "Pergi, sebelum aku benar-benar memakanmu," katanya lagi, hendak berbalik meninggalkan Rook yang masih setengah menangis.
Namun, sebelum serigala itu benar-benar pergi, Rook sudah menghentikannya. Seolah lupa dengan rasa takut yang menghantuinya sebelumnya, ia bangkit dan menarik tangan kecil makhluk itu. Benar saja, mereka terlihat sama. Apakah mungkin mereka justru seumuran?
"Lepas." Tangan Rook agak dibanting, dan makhluk itu langsung menjaga jarak. "Aku sungguhan lapar di sini. Kalau kau tidak mau aku makan, pergi—"
"Kau lapar?" Rook mengeluarkan sesuatu dari tas yang masih tersampir di bahunya. Sebuah benda terbungkus … kelihatannya itu bekal untuk makan siang. "Kalau kau memang lapar, aku ada makanan. Mau?"
Makhluk serupa serigala itu memiringkan kepala, menatap Rook keheranan. "Kau … apa kau gila?"
"E-eh?"
"Aku ini hampir memakanmu," Jarinya menunjuk bungkusan yang disodorkan Rook, "dan kau malah mengajakku bicara dengan santainya sambil menawari bekal makan siangmu sendiri? Lupa kalau kau tadi menangis ketakutan saat melihatku? Tidak takut lagi, hah?"
"T-takut sih," Rook agak menunduk ketika membalasnya. Malu karena tadi dia menangis ketakutan kah?
Alis si serigala menukik. "Terus? Kenapa? Kau memberiku makan untuk menjebakku? Ingin memburuku ya?"
"Tidak! Tidak, tenang saja!" Rook membalikkan badan, melihat kondisi anggota kelompoknya yang lain yang masih tidak sadarkan diri. "Mereka … dan juga Papaku memang mengincarmu, tapi sepertinya aku tidak akan melakukannya."
"… Yang benar?"
Bocah berambut bob pirang itu mengangguk yakin. "Iya. Aku janji."
Meski masih ragu, makhluk itu menerima sodoran makanan Rook. Bagaimanapun perutnya memang sedang kelaparan sekarang. "Siapa namamu?" tanyanya sambil melahap burger daging yang ada di dalam bungkusan itu. Ternyata itu daging kelinci.
"Rook Hunt," jawab Rook antusias. Senyum manis andalannya juga sudah kembali. "Kau sendiri? Siapa namamu?"
Burger itu ditelannya dahulu sebelum membalas, "Nello. Cuma Nello."
.
.
.
Rook Hunt's birthday countdown; D-3
