Setelah semua kekacauan si bocah serigala bernama Nello itu lakukan ke kelompok Rook, keduanya pergi menjauh sampai Nello berhenti di depan sebuah pohon yang tampaknya adalah pohon paling besar di daerah itu. Dia melihat ke atas sejenak, lalu menoleh ke Rook yang sejak tadi masih membuntutinya.
"Yakin?"
Rook tersentak sedikit, lalu mengangguk. "Yakin."
"Oke." Nello melingkarkan kedua lengannya di pinggang Rook yang ternyata sedikit lebih kecil darinya. Nello juga baru menyadari kalau dia ternyata lebih tinggi dari anak manusia dalam rengkuhannya ini. "… Pegangan."
"Um!" Dengan polosnya, Rook memeluk leher Nello erat-erat. Kakinya juga ikut ambil bagian dan dilingkarkan di sekitar tubuh si bocah serigala.
Nello membenarkan posisi Rook terlebih dahulu sebelum mengeratkan pegangannya pada tubuh si bocah manusia. "Hitungan ketiga. Satu, dua," Kakinya menekuk dalam, sebelum akhirnya membawa tubuhnya juga Rook terlempar ke atas, "tiga!"
Bahkan belum sampai Rook mengambil napas, mereka sudah sampai di salah satu batang pohon besar tersebut. Hanya dalam sekali lompat, ditambah Nello juga sambil membawanya, dan mereka bisa sampai setinggi ini. Kelihatannya isu tentang si manusia serigala yang memiliki kekuatan di atas rata-rata bukanlah isapan jempol.
"Turun, dan nyamankan dirimu," perintah Nello yang menarik Rook kembali ke dunia. Sesuai perintahnya, Rook menurut. Dia turun dari "gendongan" dan mencoba untuk menyeimbangkan diri. Sekalipun batang ini besarnya tidak kira-kira, tetap saja kalau tidak hati-hati, sudah sangat jelas apa yang akan terjadi padanya.
"Wow …." Pemandangan yang ada di depan sana langsung mengalihkan perhatiannya. Saat sudah mendapat keseimbangannya dan duduk, Rook terus memandangi apa-apa saja yang bisa didapat matanya. "Rasanya memang … menakutkan dari atas sini, tapi sungguhan indah ya."
"Itulah kenapa aku suka di atas pohon," timpal Nello yang terdengar setuju dengan pendapat anak manusia di sampingnya. Dia juga ikut mendudukkan diri. "Kau bisa melihat semua yang tidak bisa kau lihat di atas tanah dari sini. Pandanganmu jadi lebih luas, sehingga kau akan merasa lebih aman karena merasa bisa memonitor hampir semua tempat yang ada di sekitarnya."
Rook manggut-manggut. Matahari yang sudah semakin naik, menyinari semua tempat yang bisa mata Rook tangkap. Suasana gelap seperti saat Rook baru tiba tadi, sudah tidak lagi terasa.
"Apa dari atas sini aku bisa lihat Papa?" pemburu muda itu tiba-tiba berceletuk.
"Mungkin." Nello menengok ke bawahnya, menelusur sejenak, lalu tubuhnya kembali tegak. "Tapi sepertinya kau masih belum dicari. Orang-orang yang tadi bersamamu masih belum sadar, aku tebak."
"Oh iya, tadi itu kau apakan mereka?" tanya Rook penasaran. Dia juga baru ingat kalau belum menanyakan perihal kondisi anggota kelompoknya sendiri. "Tidak mungkin … kau membunuhnya kan?"
"Gila kah?" Rook agak tersentak karena tiba-tiba Nello setengah membentak. Mata merahnya juga sempat berkilat tadi. "Dad … ayahku tidak pernah mengajariku untuk membunuh makhluk hidup yang tidak dijadikan mangsa. Aku cuma membuat mereka pingsan dengan sihir. Mereka akan bangun dalam beberapa waktu, tergantung dari masing-masing orangnya. Semakin kuat orangnya, maka akan semakin cepat sadar."
Rook manggut-manggut lagi. "Sebenarnya aku juga menebak kalau mereka cuma pingsan, karena aku sempat lihat tubuh mereka bergerak-gerak seperti bernapas. Tapi aku takut saja, makanya memastikan."
"Well, sekarang kau tidak perlu takut lagi."
"Lalu, kenapa kau tidak jadi membunuhku tadi?"
Netra berwarna darah itu menajam, namun tidak ada tanda-tanda mengancam sama sekali dari sana. "… Ayahku juga mengajarkan; jangan makan mangsamu kalau dia tidak mau dimakan. Dan kau tadi menangis, ketakutan, jadi aku berpikir kalau kau tidak mau dimakan."
Diingatkan lagi soal dirinya yang menangis, wajah Rook jadi panas. Sungguh memalukan, putra dari pemimpin kelompok pemburu ternama di seluruh negeri, yang sangat bersemangat di hari pertama ikut kelompok sang ayah untuk berburu, malah menangis ketakutan seperti anak kecil.
Ya, dia memang anak kecil sih.
Rook menolak untuk bertatapan lagi dengan Nello dan membuang pandangannya ke pemandangan padang sabana yang ada di depan sana. Nello yang paham kalau bocah pirang itu merasa malu, menurut saja untuk sama-sama diam.
Sebuah napas lelah keluar dari celah bibir kecil Rook. "Omong-omong, kau tinggal dengan ayahmu?" kemudian ia mengeluarkan pertanyaan pengalih untuk mengisi kekosongan yang tercipta.
Cukup lama Rook menunggu jawaban karena ternyata Nello justru termenung. Merah darah di matanya semakin terlihat jelas akibat dari matahari yang sudah sepenuhnya menyinari Afterglow Savannah.
"Dia sudah tidak ada."
"Eh …?"
Nello melirik Rook sejenak, kemudian kembali ke segala hal yang ada di depan sana. "Dad gugur tahun lalu, ketika keberadaan kita akhirnya jadi perbincangan di dunia kalian."
Deg
Rook tidak merespons, lebih tepatnya dia tidak tahu harus berkata apa. Kepalanya sudah seperti angin ribut karena memikirkan ini dan itu. Menunggu Nello meneruskan menjadi pilihannya.
"Kau ke mari dengan orang-orang itu juga karena ingin memburuku kan? Tadi kau juga bilang," katanya santai. "Ya … sebenarnya yang kalian incar itu ayahku sih, lebih tepatnya."
"…" Hm? Kenapa jadi ayahnya? "Bukannya kau tadi bilang kalau ayahmu … gugur? Manusia serigala yang selama ini jadi isu dan jadi mangsa kami, para pemburu, itu kau kan? Sejak awal?"
Nello menggeleng. "Tadi aku bilang kan, kalau tahun lalu aku dan ayahku jadi bahan perbincangan di dunia kalian? Lalu ayahku gugur? Ya, itu maksudku."
Rook masih belum paham sama sekali, justru makin pusing. Mengetahui itu, Nello memutuskan untuk bercerita, "Kami sudah tinggal di daerah hutan ini sejak aku masih tiga tahun. Itu artinya sudah delapan tahun aku tinggal di sini. Aku tidak begitu ingat kenapa bisa aku dan Dad berpisah dari klan kami sendiri, tapi yang jelas, kami berakhir di sini.
"Tadinya Dad sudah sempat ke dunia kalian, maksudnya ke Afterglow Savannah. Namun ternyata tidak ada serigala yang tinggal di sana ya? Aku tidak tahu sih itu kenapa, tapi karena itulah Dad memutuskan untuk tinggal di hutan yang cukup jauh dari jangkauan manusia juga hewan yang lain."
Mendengar itu, Rook jadi teringat. Afterglow Savannah memang tidak ada serigala. Tadinya dia berpikir mungkin karena serigala tidak bisa tinggal di padang sabana atau semacamnya, tapi ternyata itu memang peraturan dari pemerintah pusat. Entah apa alasannya, yang jelas, serigala tidak ada dan tidak akan bisa ada di negeri tanah kelahirannya ini.
"Singkat cerita, sejak saat itu, aku dan ayahku hidup hanya berdua di hutan ini," lanjut Nello. "Aku tidak pernah diizinkan keluar, begitu juga Dad yang tidak pernah keluar. Kita selalu mencari mangsa di sekitar sini, sampai akhirnya ayahku tidak lagi bisa menemukan makanan.
"Saat itulah harinya. Dad … hilang kendali. Dia pergi keluar hutan untuk pertama kalinya dan menyerang beberapa orang yang ditemui. Dad terus mengamuk dan mendapat banyak luka tembak, terutama di organ-organ vitalnya.
"Ketika akhirnya dia sadar kalau sedang membuat kekacauan, Dad langsung kembali ke hutan dan menemuiku. Kami pergi semakin masuk ke dalam hutan, lalu kami tinggal untuk sementara di atas pohon berhari-hari, sampai Dad tidak lagi bernapas."
Cerita yang cukup panjang, dan juga membangkitkan kembali luka lama. Bagaimanapun, ayahnya baru pergi setahun lalu. Itu belum terhitung lama dan Nello masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
Setelah jeda sesaat, Nello menarik napas panjang untuk meneruskan, "Identitas kami tidak terbongkar. Tidak ada yang tahu banyak tentang Dad karena para saksi mata—orang-orang yang menembaki Dad—ikut mati saat itu. Hanya beberapa saksi yang entah kebetulan dekat dengan TKP atau semacamnya, dan karena mereka tidak lihat langsung, jadinya tidak ada yang tahu ciri-ciri Dad.
"Meski begitu, isu, rumor, gosip, atau apapun itu kau menyebutnya, semua sudah tersebar ke seluruh wilayah ini, terutama negerimu itu. Keberadaan kami terancam. Orang-orang sudah mulai waspada terhadap Dad, jadi pasti mereka akan berpikiran untuk memburunya."
Keduanya terdiam beberapa saat, hingga Rook buka suara, "Tapi aku tidak tahu apa-apa soal cerita ayahmu ini."
"Oh? Benarkah?"
"Ya." Rook tampak menerawang, mengingat-ingat setiap kata yang diucapkan sang papa semalam, juga tadi saat mereka baru sampai dan bersiap berpencar. "Papa hanya bilang kalau kita akan pergi berburu. Yang diburu ini adalah manusia serigala dengan kekuatan di atas rata-rata. Papa hanya cerita itu, dan yang soal kejadian juga ayahmu itu tidak disinggung sama sekali."
Nello menganggukkan kepalanya. "Berarti dia tidak mau kau tahu tentang kisah kelam itu," katanya memberi pendapat. "Papamu cuma mau kau senang diajak berburu manusia serigala kuat, padahal niat sesungguhnya adalah untuk membasmi ayahku. Dan karena ayahku sudah mati, saat akhirnya mereka tahu kalau aku putranya, papamu dan teman-temannya pasti akan memburuku—"
"Tidak!"
"Hah?" Alis Nello menukik. "… Kenapa tiba-tiba teriak begitu?"
Kepala si bocah manusia bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat. "Aku tidak akan biarkan itu."
Tunggu … bocah ini melantur apa? Bukannya …
"… kau anaknya? Kau anak seorang pemburu yang berniat memburuku kan?"
"Y-ya … itu memang benar. Aku ini … anak Papa, anak seorang pemimpin kelompok pemburu, dan saat dewasa nanti sudah pasti aku akan menjadi penerusnya," aku Rook, merasa sedikit aneh karena dia malah seperti membelot dari kelompoknya sendiri. "T-tapi, setelah mendengar kisahmu, aku jadi tidak mau memburumu lagi."
Tangan Nello yang sedikit lebih besar darinya ditangkup. Sejumlah binar menghiasi manik kehijauannya yang baru Nello sadari kalau ternyata mata anak manusia ini sangatlah cantik. Dan dari mata yang cantik itu, Nello bisa menangkap kilatan tak biasa.
"Aku tidak akan biarkan Nello diburu karena Nello adalah temanku," Rook mengatakannya dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.
"…"
Hah, ya ampun, betapa polosnya anak ini, pikir Nello. Tersenyum tipis, Nello berucap, "Kok bisa ada anak pemburu yang hampir dimakan mangsanya sendiri, sempat ketakutan bahkan sampai menangis. Bukannya melapor pada orang tuanya untuk segera membasmi orang yang nyaris melahapnya hidup-hidup, malah diajak berteman."
"E-eh? Tidak boleh?"
"Bukan begitu," Nello membalas tangkupan tangan Rook dan mengelusnya pelan, penuh perasaan, "aku cuma heran, dan sedikit tersentuh, kurasa. Sudah lama aku menginginkan teman."
Oke. Setelah mendengar itu, tekad Rook jadi semakin bulat. Dia tidak akan pernah memburu manusia serigala di hadapannya ini. Dia juga tidak akan melaporkan keberadaan Nello pada kelompoknya.
Tidak akan.
"Ah, benar. Aku ada yang ingin ditanyakan dari tadi."
Rook memiringkan kepala ketika Nello tiba-tiba berkata begitu. "Tanya apa?"
Tidak langsung menjawab, Nello malah mengeluarkan bungkusan bekas makan siang Rook dari bajunya. "Ini. Aku menemukan kertas berisi ucapan ulang tahun dari … Mama. Kau ulang tahun?"
"Oh." Rook menerima bungkusan itu dan melihat kertas yang dimaksud Nello. Rupanya itu kartu ucapan selamat ulang tahun dari mamanya, juga ada tulisan lain seperti "selamat makan" dan "semoga beruntung". "Hahaha, aku sampai tidak sadar ada kartu ucapannya. Dan, ya, aku ulang tahun hari ini."
"Hari ini? Sungguh?" Rook mengangguk. "Kebetulan sekali, sama denganku."
"… Heh? Yang benar?!" Seketika Rook antusias mendengarnya, terlebih saat Nello memberi anggukan yang membuat pernyataannya makin meyakinkan. "Waaah! Itu artinya kita tidak cuma jadi teman, tapi juga jadi saudara!"
"S-saudara?"
"Iya!" Melupakan rasa takut, Rook berdiri dan melompat kegirangan beberapa kali. Jantung Nello berdegup kencang melihatnya, takut kalau bocah ini benar-benar jatuh nantinya. "Asik, asik, asiiik! Aku punya saudara! Akhirnya!"
Tanpa perlu banyak bicara, Nello langsung menahan tubuh Rook dan memaksa anak penuh semangat itu untuk kembali duduk. "Iya, iya, kita saudara, dan jangan lompat-lompat begitu lagi, kumohon." Keringat dingin sudah mengucur di kedua sisi wajahnya. Itu tadi sungguh "latihan napas" yang sangat luar biasa.
"Oh, berarti yang kakak di sini itu kau ya?"
"Kakak?"
Rook mengangguk. "Di ceritamu tadi, kau bilang kalau kau di sini sudah dari umur tiga dan sudah tinggal di sini selama delapan tahun. Berarti kau sekarang sebelas?"
Nello terdiam, kemudian dia menghitung kembali usianya sendiri. "Ah, bukan. Seharusnya aku dua belas sekarang, karena hari ini ulang tahun."
"Kalau aku sembilan!" Rook menimpali dengan ceria. "Hehe! Berarti benar, Nello jadi kakak!"
Mendengus, Nello menyentil dahi Rook gemas. Tidak keras, namun Rook tetap merasa sakit karena kuku Nello yang tajam. "Meski lebih muda dariku, ternyata kau pandai berhitung ya. Kau juga pandai mengira-ngira hanya dari ceritaku tadi."
"Soalnya aku mau masuk sekolah sihir, jadi aku harus banyak belajar dari sekarang," cerita si bocah pirang, masih memegangi dahinya yang cukup terasa panas.
"Sekolah sihir?" Nello mendadak penasaran. "Ada yang semacam itu juga kah di dunia ini?"
"Tentu saja ada! Sekolahnya itu besaaar sekali! Dan ada banyak orang hebat yang sekolah di sana! Lalu, lalu …."
Rook terus bersemangat bercerita dan Nello juga terus mendengarkan dengan sama antusiasnya. Keduanya menghabiskan hari berharga mereka di atas pohon itu sampai hampir lupa waktu. Terutama Rook yang seperti tidak lagi peduli dengan nasib kelompoknya, juga sang ayah yang kemungkinan besar sudah mencari-cari keberadaannya.
Dia tidak peduli lagi karena isi kepalanya, mulai hari ini dan seterusnya, hanya Nello, Nello, dan Nello.
…
7 years after, about a month before the tragedy
"Nii-san! Nello Nii-san!"
Hampir satu tahun ini dia tidak pulang dan dia pikir kondisi hutan akan ada perubahan, tapi ternyata tidak juga. Malah sepertinya tidak ada perubahan sama sekali. Semua jalan setapak bahkan pohon dan tanaman yang ada di sisi kanan juga kiri, masih sama persis dengan yang ada di ingatannya.
Kakaknya sungguh memegang janjinya untuk menjaga hutan ini sejak hari pertama mereka bertemu.
"Nello Nii-san, di mana kau?!" seru pemuda pirang yang mengenakan topi pemburu itu sekali lagi. Orang yang dicarinya tumben sekali belum memunculkan batang hidungnya. Padahal biasanya, ketika dia baru masuk ke wilayah hutan, tanpa perlu memanggil-manggil begini, orang itu pasti sudah ada di atas salah satu pohon dan melambai menyambutnya. Baru kali ini sepertinya orang itu tidak menyambut.
Apa boleh buat, sang putra Hunt memutuskan untuk terus berjalan hingga sampailah ia di pohon terbesar di wilayah itu yang mana di pohon itulah dirinya dan orang bernama Nello yang dari tadi dicarinya pertama kali mengenal satu sama lain.
Sambil memegangi topinya supaya tidak jatuh, pemuda itu mendongakkan kepala dan menyipitkan mata. Dengan indranya yang sekarang sudah sangat tajam, ia mencari dan berharap bisa menemukan keberadaan Nello di sana. Tetapi sayang, dia masih belum beruntung sepertinya.
"… Ke mana orang itu sebenarnya?"
"Mencariku?"
Hampir saja dia menodongkan busur panahnya kalau sosok yang tadi bicara tidak langsung memunculkan diri. Sosok tinggi berambut putih keabuan panjang, bertelinga dan berekor serigala dengan warna sama. Merah darah miliknya yang tajam bersibobrok dengan hunter green milik si pemuda pirang.
Sosok serigala itu tersenyum, sedikit pamer taringnya yang sudah berhasil tumbuh sempurna, tanda kalau dia sudah masuk usia dewasa dan siap untuk kawin. "Lama sekali kau tidak berkunjung, Rook, dan kau masih saja memanggilku begitu."
"Karena kau memang kakakku kan, Nello Nii-san?" balas Rook sambil terkekeh kecil. "Suaramu jadi lebih berat dari saat aku terakhir ke mari. Aku sampai kaget dan kukira itu tadi orang lain. Pasti masuk usia kawin, atau malah sudah kawin?"
"Hei, sembarangan." Serigala itu mendekat, mengambil alih busur yang ada di tangan Rook untuk diperhatikan setiap sisinya. Sejak mengenal bocah ini tujuh tahun lalu, dia jadi tertarik dengan busur panah juga, kalau boleh jujur. "Aku tidak akan menemukan manusia serigala lainnya di sini, jadi jangan harap kalau aku sudah kawin. Omong-omong, busurmu baru ya?"
Rook mengangguk. "Hadiah dari Papa karena aku berhasil masuk sekolah impianku."
"Oh, yang sihir itu?" Si pirang mengangguk lagi. "Wah, selamat. Sudah kuduga kau pasti bisa. Dan apa karena itu kau jadi tidak mampir-mampir lagi ke mari?"
"Ya, begitulah." Rook berjalan ke arah pohon dan duduk di bawahnya. Menyandarkan diri hingga nyaman, Rook meneruskan bicara, "Sistemnya juga asrama, makanya aku sangat jarang pulang. Sekarang aku baru bisa pulang sejak pertama kali masuk karena sudah liburan musim dingin."
"Benar juga. Desember kurang dari sebulan lagi."
"Kan." Rook yang sudah memejamkan mata hampir tertidur, langsung bangun kembali dan menatap Nello yang juga sudah mendudukkan diri di sampingnya dengan antusias. "Umurmu sekarang berapa, Nii-san?"
Nello mendecakkan lidah, di mana ini jarang sekali dia lakukan. "Masih memanggilku begitu. Haah, bodo lah. Sekarang aku sembilan belas."
"Aku enam belas!"
"Shitteru." Sekarang ganti Nello yang menyandarkan tubuh ke pohon. Busur yang sejak tadi dipegangnya dikembalikan ke Rook yang masih melihatnya dengan mata berbinar. "Cie, yang sedikit lagi tujuh belas."
"Hehe!" Wah, dia kelihatan senang sekali. "Rasanya entah kenapa dewasa sekali kalau sudah tujuh belas. Aku sudah menanti-nanti waktu ini untuk tiba. Dan kenapa bisa begitu ya? Kenapa kalau sudah tujuh belas itu sudah bisa dianggap dewasa?"
"Padahal aku merasanya itu tambah tua, bukannya dewasa."
"Bukan. Dua puluh yang baru bisa disebut tua."
"Ngejek?" Nello mencubit pipi Rook gemas. Bukan gemas karena adiknya ini lucu, tapi karena menyebalkan. Bisa-bisanya mengejek secara tidak langsung begitu. "By the way, you should go home now."
"Eh?" Cubitan Nello berhenti. Raut muka serigala itu mengeras, tatapannya serius. "… Kenapa? Ini kan pertemuan kita setelah sekian lama, Nii-san."
Nello menggeleng. Sorot matanya masih tajam. "Ayahmu … dia sudah tahu tentang kita."
.
.
.
Rook Hunt's birthday countdown; D-2
