Rook menatap Nello tidak percaya. Dia bahkan sampai tertawa karena—ingin—menganggap itu hanya lelucon. "… Jangan bercanda, Nii-san. Ini tidak luc—"

"Ayahmu sudah tahu tentang kita," ulang Nello dengan tanpa keraguan, dan itu sama sekali tidak Rook sukai. "Dia sudah tahu tentang keberadaanku, dan dia juga tahu kalau kau sering menemuiku ke sini. Mana mungkin aku membuat candaan semacam ini."

Ingin Rook tidak memercayai ini, tapi bagaimana Nello menunjukkan keyakinannya, membuat si pemburu sulit bernapas. "… Kalau memang ini bukan candaan, bagaimana bisa Nii-san beranggapan begitu?"

Nello membuang napas. "Aku sudah bertemu dengannya—tidak, dia yang menemuiku lebih tepatnya."

Deg

"Bulan-bulan awal kau tidak menemuiku, dia lah yang menemuiku," lanjut Nello, tidak lagi menunggu respons apapun dari adiknya karena dia tahu, hanya dari matanya, kalau Rook sudah tak sanggup berkata-kata. "Bau kalian hampir sama, jadi kupikir itu kau. Makanya aku langsung menyapa dan … ya, ternyata bukan orang yang kuharapkan. Dia sudah terlanjur dengar aku menyerukan namamu, jadi pasti dia akan langsung tahu kalau aku ada hubungan denganmu.

"Kami saling tatap cukup lama waktu itu, sampai akhirnya dia memintaku untuk turun. Aku agak ragu, takut kalau dia tiba-tiba akan menembakku atau apa, tapi ternyata dia datang dengan tangan kosong. Aku tidak menangkap bau mesiu atau benda-benda berbahaya lainnya yang bisa saja dia sembunyikan di balik baju.

"Meski dia mengajakku mengobrol biasa, tetap saja aku bisa merasakan kalau dia tengah merencanakan sesuatu. Lalu sampailah ia berkata, 'Jauhi Rook atau kau akan benar-benar kuburu,' dan karena itulah aku memintamu untuk pulang—"

"Tidak." Rook menggeleng. Air mukanya menunjukkan sesuatu yang lain, yang mana ini sama sekali bukan yang Nello harapkan. "Aku yakin aku tidak pernah membocorkan keberadaanmu ke ayahku, atau ke anak buahnya. Aku bisa jamin tidak ada yang tahu karena aku yang paling paham dengan kondisi kamar juga barang-barangku sendiri. Mereka tidak mungkin memaksa masuk dan mengacak-acak atau apapun."

Kilat muncul di mata hijau yang diam-diam merupakan favorit Nello itu. "Aku juga selalu berhati-hati dalam bertindak, berucap, bahkan bernapas sekalipun. Mereka tidak mungkin tahu tentang Nii-san, terutama Papa."

"Rook—"

"Nii-san bohong kan?"

"Ap—hah?!" Anak ini kenapa tiba-tiba …?! "Jangan bercanda, Rook! Aku serius—"

"Aku pun!" Rook balas dengan nada yang tidak kalah tinggi. "Jangan kira aku tidak melapor ke Papa karena aku tidak sayang padanya. Tidak, aku sangat sayang padanya. Dia Papaku! Aku menghormatinya, apapun yang terjadi!"

"Tapi aku tidak bohong, Rook! Aku serius!"

Langsung bangkit berdiri, menenteng busur dan merapikan tempat anak panah yang tersampir di pinggang, Rook sudah berniat untuk pergi. Kelihatan jelas kalau pemburu muda itu tidak mau lagi mendengar penjelasan Nello.

"Nello Nii-san." Hunter green kembali bertemu dengan merah darah. "Kalau Nii-san memang tidak mau lagi bertemu denganku, bilang saja. Aku tidak akan pernah ke sini lagi, sampai kapanpun."

"…!" Seketika Nello menahan napas. Tatapan Rook tidak lagi bersahabat, bahkan itu bukan lagi tatapan dari bocah bernama Rook Hunt yang biasanya dia kenal.

Tanpa ada kata-kata lagi, salam perpisahan sekalipun, Rook meninggalkan Nello yang masih memandangi punggung tegapnya yang kian menjauh. Sosok itu terus berjalan, tak ada tanda-tanda akan berbalik.

Untuk kedua kalinya, Nello tinggal sendiri.

"… Sial."

Hampir satu minggu berlalu sejak hari itu, dan Rook juga seperti memegang kata-katanya; dia tidak akan pernah menemui Nello lagi, sampai kapanpun. Yang dilakukan bocah pirang itu hanya mengerjakan tugas sekolah, memanah di halaman belakang, membuat puisi, melukis, bahkan kadang memasak juga.

Setiap hari … hanya itu.

Bosan sekali rasanya.

Kalau diingat-ingat, selama di sekolah dia selalu teringat Nello. Dia sudah merencanakan banyak hal; apa saja yang ingin dilakukan bersama manusia serigala itu selama liburan. Hadiah apa yang akan dia berikan kepada Nello di ulang tahun mereka nanti. Cerita menarik apa yang akan dia bawa untuk disampaikan ke Nello yang tidak bisa ke mana-mana dan melihat dunia luas. Semuanya sudah dia siapkan, tapi malah berakhir seperti ini.

Selama menghabiskan waktu hanya di rumah dengan kegiatan-kegiatannya, sebenarnya Rook juga sudah merenungkan kejadian itu. Bagaimana Nello bercerita, gaya bicaranya, gesturnya, semuanya dia coba ingat-ingat dan direka-reka. Kalau sudah coba diingat begitu, kalau boleh jujur … Nello kelihatan tidak sedang bohong. Dia seperti yakin dan sungguh-sungguh mengatakannya. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

Tapi, entahlah. Rook merasa kalau dia tidak bisa juga langsung percaya apapun yang dikatakan Nello. Ya, dia menyukai Nello. Dia menyayangi Nello. Kepalanya sering diisi hanya dengan Nello. Nello adalah teman sekaligus sosok saudara terbaik yang pernah dia punya, tapi Nello tetaplah bukan siapa-siapa. Dia hanya orang lain yang tidak sengaja bertemu dengannya.

Dia hanya manusia serigala dalam rumor yang sudah sempat ingin membunuhnya karena kelaparan.

Kalau dipikir-pikir, Nello hanya sebatas itu. Jika dibandingkan dengan ayahnya sendiri, yang sudah bersamanya sejak kecil, yang sudah merawatnya, yang sudah melatihnya menjadi pria kuat seperti sekarang, Nello jelas tidak ada apa-apanya. Dia benar-benar hanya orang luar.

Inti dari semua ini adalah Rook tidak mau langsung percaya. Ayahnya adalah sosok yang dikagumi dan dihormatinya. Ayahnya adalah sosok yang sungguh sangat pantas untuk menyandang sebutan "Papa". Kalaupun yang dikatakan Nello itu benar adanya, maka dia perlu tahu sendiri. Rook perlu mengecek sendiri apakah benar ayahnya sempat menemui Nello dan meminta mereka untuk tidak lagi berhubungan?

Rook harus tahu ….

"Oh, Rook? Baru selesai memanah?"

Bocah pirang itu mengangkat kepalanya, ternyata dia sejak tadi menunduk dalam dan menatap kosong ujung kakinya sendiri. Handuk putih kecil yang melingkar di leher ia pegang refleks, baru ingat kalau dia tadi memang baru selesai memanah. Akibat pikirannya yang seperti menyebar ke mana-mana, dia sampai tidak sadar apa-apa saja yang dilakukannya sejak tadi.

"Ya, begitulah," balasnya kemudian. Dia berdiri dari duduknya di pegangan sofa dan berjalan mendekati sang papa yang tengah merapikan banyak barang ke atas meja makan. Tampaknya ia habis jajan banyak. "Banyak sekali makanan ringannya, Pa. Untuk apa?"

"Aku yakin kau sudah tahu jawabannya. Tidak perlu tanya lagi, Rook," jawab si pirang yang lebih tua dengan senyum miring.

Rook tertawa kecil. "Mau berburu kapan? Ke mana?"

"Mmm, masih lama sih sebenarnya." Beberap bungkus biskuit dimasukkan kembali ke kantong plastik, mungkin ingin dipisahkan. "Rencananya bulan Desember nanti, kemungkinan besar awal bulan. Untuk ke mananya … masih belum tahu."

"Heee, belum tahu ya." Rook manggut-manggut. Sebungkus makanan ringan lainnya yang belum pernah dia lihat—mungkin produk baru—menarik perhatian. Ia mengambilnya dan mengamati bungkusnya sambil lanjut bicara, "Kalau awal bulan, apakah dekat dengan hari ulang tahunku?"

Papa Hunt membalas "mm-hm". Dia masih sibuk dengan biskuit-biskuit itu rupanya. Apa itu justru untuk diberikan ke orang lain? "Kenapa? Kau ingin ikut lagi? Seperti saat kecil dulu?"

"Eh?" Seperti saat kecil dulu … saat di mana ia pertama kali bertemu dengan Nello. Mengingatnya, tanpa sadar ia tersenyum, namun kemudian tertawa. "Papa masih ingat saja saat-saat paling memalukan dalam hidupku itu."

"Lo? Yang seperti itu memalukan kah?"

"Tentu saja!" jawab Rook cepat, masih sesekali tertawa. "Aku masih ingat bagaimana Papa bilang dengan dramatisnya, 'Ya ampun! Celanamu basah oleh ompol!' di depan anggota yang lain dan … astaga, aku malu kalau mengingatnya. Tapi itu lucu, kuakui."

"Lucu kah …."

Zraakk!

Tiba-tiba plastik berisi biskuit-biskuit yang Rook pikir dipisahkan untuk nantinya diberikan pada kenalan Papa Hunt atau semacamnya, dirobek begitu saja dan bungkus-bungkus biskuit yang tadi sudah dimasukkan, berjatuhan ke mana-mana. Tidak hanya itu, aura di sekitar ayahnya juga mendadak berubah drastis.

Gelap, hanya itu yang dapat Rook pikirkan untuk menggambarkannya.

"Itu mengingatkanku," suaranya mungkin masih terdengar biasa, namun Rook bisa dengar jelas kalau itu bukan suara papanya. Orang di hadapannya ini sepenuhnya jadi orang lain yang tidak lagi ia kenal. "Saat aku menemukanmu, dengan kondisi yang sudah sekacau itu, kau malah terlihat senang. Padahal aku yakin kau habis diserang sesuatu, mengingat kelompokmu saja sempoyongan begitu."

Mata hijau yang sama persis dengannya menatap tajam. Senyum yang seharusnya terasa ramah, kini tidak demikian. "Dan anehnya, kau bilang kau cuma tersesat, ketakutan, sampai mengompol. Sayang sekali, aku tidak menangkap alasan itu sebagai alasan. Jelas kau mengada-ada."

"…" Melihat perubahan ayahnya dan aura yang dikeluarkannya, Rook bahkan sampai menelan ludahnya sendiri. Sebenarnya dia merasa ragu, tapi dia juga ingin tahu, jadi dia memaksa untuk buka suara, "… Mengada-ada bagaimana, Papa? Aku … memang benar tersesat kok saat itu. Mana mungkin aku boh—"

"Kalau aku bukan Papamu, mungkin aku bisa percaya." Makin ke sini, senyumnya makin menyeramkan. Lantas Rook menangkap sinyal bahaya. "Kau ini memang anak yang kelewat jujur ya, Rook Hunt."

Prang!

Vas bunga yang ada di dekatnya langsung dilempar begitu saja, tetapi sayang, ayahnya berhasil menghindar. Well, serangan seperti itu mana mungkin mempan terhadap seorang pemburu ulung yang sudah memimpin kelompoknya sendiri selama bertahun-tahun kan? Sejago apa memangnya Rook Hunt sampai berani melawannya? Hah, jangan mimpi.

Meski kalah, Rook tetap mencari jalan menuju kemenangan. Dia mencoba untuk lari dari jangkauan sang ayah dengan langsung melompat ke halaman belakang. Hanya saja ayahnya lebih cepat. Belum sampai Rook menginjak tanah basah bekas hujan, tangannya sudah ditarik paksa sang ayah untuk kembali masuk ke dalam rumah.

Seolah menutup telinga dengan semua teriakan Rook yang kesakitan karena tangannya ditarik paksa dengan kekuatan yang tidak tanggung-tanggung, Papa Hunt justru berjalan cepat melewati setiap lorong rumah mereka. Beberapa orang—anak buah Papa Hunt lebih tepatnya—yang mereka temui secara mengejutkan, tidak ada yang mau membantu Rook. Padahal jelas-jelas bocah pirang itu sedang butuh bantuan!

"Tunggu, Papa! Tunggu dul—aw! Aw, tanganku—akh!"

Papanya masih tidak menggubris. Rook terus ditariknya paksa hingga mereka tiba di ruang kurungan hewan buruan yang berada di bawah tanah kediaman Hunt. Dulu, saat pertama kali Rook ke sini di usianya yang baru menginjak lima, dia ingat sekali ada satu harimau besar yang menjadi favorit papanya. Harimau itu dipanggil Elina, kalau Rook tidak salah ingat.

"Aku yakin kau masih ingat dengan Elina." Baru saja dibicarakan, dan mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kandang dengan gembok berkarat yang menutupnya. Gembok itu sudah tidak seberapa jadi Papa Hunt tinggal memukulnya sedikit, gembok itu sudah jatuh berguguran ke tanah. "Padahal aku yakin sudah mengatakan soal gembok ini ke Isaac … ya, biarlah. Masuk."

"E-eh?"

Ayahnya membuka pintu besi dari kandang lebar-lebar. "Masuk," dia mengulangi.

Rook yang agak ragu menunjuk kandang tersebut. "… Aku? Masuk ke sana?"

"Memangnya aku bicara dengan siapa lagi di sini?" Kembali tangan putra tunggalnya itu ditarik dengan tanpa perasaan dan tubuhnya dihempaskan ke dalam kandang hingga menghantam dinding dingin di belakangnya. "Pastikan tidak ada tulangmu yang patah ya."

Kalau kau melemparku seperti itu, mana bisa aku yakin tidak ada yang patah? Rook membatin.

Memanfaatkan momen anaknya yang sedang kesakitan, Papa Hunt segera menutup kembali pintu kandang itu dan menggemboknya dengan gembok baru yang entah sejak kapan ada di saku celananya. Kunci dari gembok itu dilemparkan keluar dari fentilasi yang ada di belakangnya, terlihat serius ingin mengurung darah dagingnya sendiri.

"Kau ditahan selama masa berburu, Rook," jelasnya kemudian. Matanya yang tadi tajam, sekarang malah lebih mirip ikan mati. "Jujur, hatiku sakit harus memperlakukanmu begini, tapi aku tidak punya pilihan. Serigala sialan itu … harus mati."

"…!?" Melupakan rasa sakit di punggung, Rook bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke jeruji. Hunter green khasnya tampak bergelora. "Jangan … sentuh … Nello …!"

Tidak ada jawaban, pada awalnya, namun kemudian, "Oh, jadi namanya Nello? Anak itu tidak memperkenalkan dirinya saat kukunjungi. Memang tipikal anak liar, tidak sopan."

Deg

Kunjungi … jangan bilang … apa yang dikatakan Nello …?!

Wajah Rook seketika memucat, tidak kuasa memikirkan kalau dia ternyata telah salah mengira. "Papa … mengunjungi Nello?"

"Maa na," pirang yang tua menjawab santai. "Sudah cukup lama sih, tapi tak lama setelah kau masuk asrama. Aku hanya penasaran siapa orang yang selalu membuat putra kesayanganku pulang larut malam, suka lupa waktu, dan jadi membangkang. Makanya aku mencoba cari tahu, dan maaf kalau kamarmu jadi sedikit berantakan saat kau kembali."

"Hah?!" Tunggu! Tidak mungkin! "B-bagaimana bis—"

"Jangan lupa," Telunjuk pemburu ulung itu meraih dagu sang putra, bermaksud mengangkat wajahnya agar bisa dilihat dengan lebih jelas, "aku ini juga pemburu. Terlebih, aku jauh, jauh lebih berpengalaman darimu. Kebangetan kalau kau sampai melupakan itu."

"Tch! Itu privasi orang, Papa!"

"Apa gunanya privasi kalau keselamatanmu terancam?" Mata ikan mati yang tadi sempat diperlihatkan menghilang, digantikan dengan mata ala orang gila. Ya, Rook tidak peduli lagi kalau harus menganggap ayahnya gila karena … dia memang sudah gila! "Aku hanya ingin kau selamat, Rook, makanya aku sampai melanggar hukum. Kau tahu? Kau lebih berharga dari apapun. Apalagi semenjak Mamamu meninggal dua tahun lalu. Aku jadi kesepian, kau tahu? Dan kau jarang ada di rumah, lalu sekarang malah pergi jauh dari rumah, jarang pulang. Kau jadi sejahat itu pada Papa, eh?"

Crang, crang!

Percuma. Gembok di pintu kandang itu ternyata kuat sekali! "Bebaskan aku, Papa! Aku janji, Nello tidak akan menyakitiku! Makanya—"

"Karena kau sudah bisa berbohong, Papa jadi tidak percaya."

"Apa?!"

"Pokoknya," Ayahnya sudah siap berbalik, meninggalkan Rook sendirian di ruang bawah tanah ini dengan segala kehampaan yang ada, "diam-diam saja di situ sampai Papa berhasil membawa pulang kepala serigala menyebalkan itu ya? Sampai bertemu di hari ulang tahunmu, Rook Hunt."

Crang, crang, crang!

"Tunggu! Hei! Papa!"

Crang, crang!

"REY HUUUNT!"

.

.

.

Rook's birthday countdown; D-1