Perpustakaan siang ini entah mengapa tidak begitu ramai. Hari Selasa pertama sekaligus pembuka bulan Desember kelihatannya hanya akan diisi hening yang bakal membosankan. Takiji menyusuri koridor perpustakaan dengan langkah pelan. Sedari tadi hanya ada satu orang yang ia temui—Ao yang kebetulan lewat dari perpustakaan dengan buku di tangan, menyapanya singkat yang hanya dibalas anggukan kecil oleh sang sastrawan Proletariat. Shigeharu dan Sunao sedang pergi ke luar, Takiji sendirian sekarang.
"Yo, Takiji!"
Seseorang menyapanya di belokan koridor menuju kamar. Shiga Naoya, pendiri Shirakabaha sekaligus mentornya. Takiji menghentikan langkah.
"Naoya-san?"
"Mau ke mana?" Shiga menyunggingkan senyum kecil.
Takiji mengangkat bahu. "Kamarku ... mungkin?" Jawabannya terdengar ragu.
Shiga mangut-mangut. "Kau sibuk?"
Gelengan diberikan sebagai jawaban. Berhubung Shigeharu dan Sunao sedang tidak ada, juga ia tidak memiliki jadwal delving hari ini, Takiji senggang—sekaligus tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu.
Lagi, Shiga mangut-mangut. Iris hijau sang pendiri Shirakaba menatap Takiji sejenak. "Ah, aku sudah izin untuk memakai dapur siang ini. Mau ikut aku?"
~o~
Let's Make Ohagi Together
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
[happy birthday, Kobayashi Takiji! (Dec 1)]
Happy reading!
~o~
Mendengar kata dapur, hanya satu hal yang terlintas di kepala Takiji kala Shiga mengajaknya ikut.
Memasak.
Jaket kulit yang biasa dikenakannya ditanggalkan di atas kursi, berganti dengan apron hitam berbordiran kepiting yang pernah dipakainya saat membantu Sunao memasak. Shiga di sebelahnya juga sudah mengenakan apron hijau. Keduanya berdiri di hadapan meja dapur yang masih rapi.
"Naoya-san?"
Shiga menoleh. "Ya?"
"Naoya-san ... mau membuat apa?" Pertanyaan Takiji yang mirip dengan nada presenter acara masak masa kini membuat Shiga sedikit terkikik dalam hati.
Shiga menyentuh dagunya dengan tangan kanan. "Entahlah." Pemuda itu mengangkat bahu. "Tadinya mau bikin sup kepiting, sih—tapi kepiting kalengannya habis."
Takiji mengerjap-ngerjap. "Oh ..."
"Kalau beli lagi ke luar pasti lama. Sebentar, biar kulihat lemari bahan makanan itu."
Shiga beringsut menuju lemari besar di pojokan dapur. Takiji memerhatikan pria itu tanpa bergerak dari tempatnya, sebelum Shiga tiba-tiba memanggil.
"Takiji, ayo ke sini!"
"Ah, ya."
Mentornya menunjuk sebuah karung beras di sisi kanan lemari. Takiji memiringkan kepala. "Ng?"
"Kalau nggak salah itu beras ketan—bawa ke meja, nanti kita rebus." Shiga berujar sembari mengambil beberapa bahan lainnya dari lemari.
Takiji mengangguk. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat karung beras ukuran kecil yang dimaksud Shiga dan membawanya ke meja dapur. Shiga sendiri menyusul tak lama kemudian, dengan sekantung kacang merah dan kedelai di tangan.
Takiji mengerjap sebentar melihat apa yang Shiga bawa. "Ini ..."
"Aku mau buat ohagi." Shiga tersenyum kecil. "Tolong ambilkan garam dan gula di rak tadi. Akan kurebus beras ketannya."
Takiji mengangguk lagi, menurut. Sang penulis Kanikosen beringsut cepat, menuju lemari makanan guna mengambil bumbu-bumbu yang dimaksud Shiga.
~o~
"Aku mau bikin ohagi banyak-banyak."
Itu yang Shiga katakan ketika sedang mengaduk rebusan kacang merah dalam panci. Takiji memerhatikan pemuda itu dan lagi-lagi mengerjap.
"Banyak, ya …"
"Mumpung beras ketannya banyak, haha." Shiga melirik. "Kau mau, Takiji?"
Takiji terdiam lantaran terkejut, sebelum mengangguk sedikit. "B-boleh …"
Shiga tertawa. "Tunggulah, kalau begitu!" Ia melirik sedikit panci besar tempat mereka mengukus beras ketan setelah satu jam direbus. "Aku rasa ketannya sudah siap. Bisa kau bantu aku mengeluarkannya?"
Takiji mengangguk.
Asap putih tipis mengepul kala tutup panci dibuka. Kala Takiji sedang memindahkan ketan-ketan tersebut ke dalam wadah berlapis plastik bening, Shiga memerhatikannya dalam diam. Kacang merah dalam panci yang tadi diaduknya sejenak terlupakan.
Kobayashi Takiji, yang dalam kehidupan keduanya, menjadi salah satu dari beberapa orang yang ingin Shiga bahagiakan. Mungkin kedengaran klise, namun ia sungguh-sungguh bertekad ketika melihat pemuda itu bereinkarnasi ke perpustakaan megah dengan wujudnya yang sekarang.
"Naoya-san, di sini?"
Lamunan Shiga terbuyar untuk sesaat. Takiji sudah selesai rupanya. Sang pangeran Shirakaba mengangguk. "Ya, taruh saja di sana …"
Takiji menurut. Wadah berisi kukusan ketan ia letakan di atas meja dapur, bersebelahan dengan kantung berisi kacang kedelai yang sejak pertama diletakan belum ada disentuh. Ketika berbalik, Shiga masih menatapnya.
"Naoya-san?"
Shiga tidak menjawab.
"Naoya-san?"
Masih belum ada jawaban. Takiji mengernyit bingung.
"Nao-"
"Ah, iya?" Kesadaran Shiga kembali. "Maaf, aku melamun."
"Um …" Takiji menatapnya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik." Shiga tertawa kaku. "Pasta kacang merahnya bakalan selesai sebentar lagi. Tunggu, ya?"
"Apa ada yang bisa kulakukan lagi?"
Shiga berpikir sebentar. "Hmm …" Pemuda itu mengedarkan pandang. Kantung berisi kedelai yang berada di sebelah wadah ketan menarik perhatiannya. Ia lupa kacang-kacang itu belum ada disangrainya sejak tadi. "Ah, ya. Bisa tolong awasi sebentar pastanya? Aku akan urus kedelainya."
"Uhm."
Mereka bertukar tempat. Shiga dengan kedelai yang akan ia sangrai sebentar sebelum dihaluskan, juga Takiji dengan pasta campuran kacang merah tumbuk dengan air dan gula.
~o~
Kira-kira lima belas menit, Shiga selesai dengan kedelai-kedelai itu bersamaan dengan pasta kacang merah yang mulai mengering dalam panci. Kompor dimatikan, keduanya dipindahkan ke dalam wadah terpisah sesuai arahan Shiga.
"Tinggal didinginkan, bukan? Duduklah, biar kutumbuk kedelai-kedelai ini," ujar Shiga ketika Takiji hendak membantunya lagi.
Takiji tidak menjawab, pun duduk seperti yang Shiga sarankan. Pemuda jangkung itu hanya berdiri di sebelah sang mentor, menunggu Shiga yang mulai menumbuk kedelai sangrai dengan sedikit gula dan garam.
Shiga terkekeh. "Aku tahu kau tidak sabar mau mencoba, tapi kita belum selesai," ucapnya.
"A-aku hanya ingin lihat …"
"Baiklah?"
Lalu mereka saling bisu.
Shiga fokus menumbuk kedelai dan mencampurnya dengan bumbu-bumbu dasar. Takiji memerhatikannya, sesekali mengalihkan pandangannya pada pasta kacang yang sedang didinginkan—mereka dingin dengan cepat, akan gampang untuk membentuknya jadi lonjong dan membungkusnya dengan ketan nantinya.
"Na, Takiji."
Shiga memanggilnya. Takiji buru-buru menoleh.
"Ya, Naoya-san?"
"Kau … suka tinggal di sini?"
Pertanyaan Shiga membuat Takiji diam untuk beberapa saat.
Kalau diberi pertanyaan seperti itu, jawabannya sudah jelas, kan?
Takiji menganggukkan kepala. "Uhm, aku suka."
Orang-orang di perpustakaan ini memperlakukannya dengan baik. Ia bisa berkumpul kembali dengan Nakano Shigeharu dan Tokunaga Sunao, juga Shiga Naoya yang merupakan guru sekaligus mentor yang menyayanginya. Meski ada harga yang harus dibayarkan—bertarung melawan noda guna melindungi literatur dunia—namun ia tidak masalah dengan semua itu. Singkatnya, ia bahagia.
Takiji bersyukur diberi kesempatan kehidupan untuk kedua kalinya, menggantikan kehidupan pertama yang tak terlalu menyenangkan untuk diingat.
"Begitu?" Shiga tersenyum. "Syukurlah …"
"Naoya-san … kenapa?"
"Aku hanya bertanya." Gerakan tangan Shiga terhenti. Ia sudah selesai. Penulis yang lebih tua itu melirik Takiji. "Aku sudah selesai. Mau membantuku?"
~o~
"Jadi begini caranya." Shiga membuat semacam lembaran dari ketan dengan tangannya. Satu bulatan pasta kacang merah yang sudah dingin ia letakan di atas ketan tersebut, lalu dibungkus seperti mochi dingin. Pemuda itu menoleh pada Takiji. "Mengerti?"
Takiji mengangguk paham. Ia mengikuti apa yang diperlihatkan sang mentor sebelumnya, kemudian memperlihatkan hasilnya. "Begini?"
"Ya! Begitu!"
Beberapa bola-bola ohagi terbentuk dalam waktu singkat. Shiga dengan cekatan membuat lembaran ketan dan mengisinya dengan bulatan pasta kacang merah. Takiji sedikit lambat pada awalnya, namun anak itu belajar dengan cepat dan mulai bisa melakukannya lebih cepat, meski tak secepat Shiga.
Hanya beberapa yang Shiga gulingkan pada campuran kedelai yang sudah ia tumbuk barusan—berhubung memang hanya jadi sedikit. Akan tetapi itu bukan masalah besar—toh, beberapa orang lebih suka ohagi tanpa remahan kedelai.
Mereka berdua selesai setelah ketan dan pasta kacang merah di atas meja dalam kedua wadah tersebut habis, digantikan tumpukan ohagi di atas piring yang tampak menggugah selera.
"Selesai," kekeh Shiga.
Takiji mengangguk pelan.
"Mau coba?" Si penulis yang dulunya dijuluki Dewa Novel menawarkan.
Takiji mengiyakan. Tangannya perlahan mengambil salah satu ohagi di atas piring, lalu memakannya setelah mengucapkan, "Selamat makan," dengan nada pelan.
Shiga menatapnya. "Gimana?"
"Enak …"
"Benarkah?" Shiga tertawa. "Baguslah. Makanlah sebanyak yang kau mau, Takiji. Itu semua buatmu."
Takiji nyaris tersedak kunyahannya sendiri. "Are?" Buru-buru ia menoleh pada Shiga yang masih menatapnya. "N-naoya-san?"
Shiga menyunggingkan senyum. "Hadiah ulang tahun buatmu," ucapnya ringan. "Selamat ulang tahun, Takiji."
Takiji terdiam.
"Naoya-san … mengingatnya?"
"Tentu saja." Lagi, mentornya itu tertawa. "Mana mungkin aku lupa hari ulang tahun murid kesayanganku, kan?"
Sang penulis proletar lagi-lagi diam.
Ah …
"Ayo makan lagi, Takiji." Shiga menepuk pundak sang murid, membuat kesadaran Takiji kembali. "Ini kesukaanmu, kan?"
Takiji mengangguk. "Uhm." Ohagi yang baru dimakan setengahnya ia habiskan. Rasanya lezat—semua masakan Shiga selalu enak. Pemuda itu menoleh pada Shiga. "Naoya-san juga … ayo makan."
"Eh, boleh?"
"Naoya-san juga membuatnya, kan?"
"Hmm, iya deh." Satu ohagi bertabur kedelai tumbuk ia raih, lalu dihabiskan dalam beberapa gigitan. "Ah, ya, ini enak."
"Karena Naoya-san yang membuatnya." Takiji mengatakan itu tanpa sadar.
Shiga terkekeh. "Kau juga membantuku," ucapnya. "Ah, ayo, makan lagi. Kita punya banyak."
Takiji tidak menjawab, namun ia mengambil satu ohagi lagi, dan kali ini ia menikmatinya tanpa gangguan, bersama Shiga yang memerhatikannya—dan sesekali turut mengambil ohagi lagi kala Takiji menawarinya balik.
-end-
Hari ini Takiji ultah. Habede Takijiiii, betah-betah kamo di perpus ya QwQ
Aku seneng ini bisa nyampe 1k lebih (sempet pesimis awalnya, untung nyampe :'). Takiji suka ohagi, Shiga (dan aku /heh) sayang Takiji. Jadi aku bikin ini :') Maaf kalo resep ohaginya ga sesuai :'
Aku demen sama anak ini gegara baca trivia rlnya. Nyesek, mo nangis, pokoknya aku pengen bahagiain dia di perpus sama fic-ku :') (halah paling tar kam kasih angst vir /dihajar). Ak ga bisa beli DMM point buat ngadoin di perpus jadi ak kadoin fic ama fanart (yang jadi cover fic ini) aja sshsahkahsahsks
(btw ulangan pkw diundur. mo nangis /cry)
