"forevermore"

A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

Warning(s): Alternate Universe, adult!chara, marriage life, Halilintar x Ying, slight!Taufan x Yaya. Trigger warning : mention of miscarriage.


Aroma nasi goreng menguar begitu Halilintar menjejakkan kaki di lantai bawah. Langkahnya berbelok ke dapur. Senandung kecil terdengar saat netra Halilintar menangkap punggung istrinya tengah berdiri di depan kompor. Pinggulnya sesekali bergerak mengikuti irama dari bibirnya sembari tangan terus mengaduk nasi di wajan.

Halilintar melangkah mendekat tanpa suara. Ia memeluk pinggang yang tengah melenggak-lenggok, membuat sang empunya terkesiap kaget dan hampir menjatuhkan sudip di tangannya.

"Hali! Kau mengagetkanku."

"Selamat pagi," ucap Halilintar, bergelayut manja di pundak sang istri. "Sarapannya belum siap? Aku sudah lapar."

"Sebentar, ya," kata Ying. "Ini juga hampir selesai, kok."

"Hm."

Halilintar tidak melepaskan dekapannya. Ia mengawasi Ying mengaduk nasi goreng, membubuhkan garam dan juga menambahkan sedikit kecap. Kompor kemudian dimatikan. Ying berbalik, melepaskan tangan Halilintar yang merangkul pinggangnya.

"Sekarang duduklah yang manis di meja makan," kata Ying. "Biar aku ambilkan piring dulu."

Halilintar menggeleng. "Aku ingin makanan pembuka."

Ying mengernyit. "Kau mau roti?"

"Tidak."

Pinggang Ying kembali direngkuh. Ia memekik saat Halilintar memangkas jarak mereka dan mengecup bibirnya. Ying bahkan tidak sempat bereaksi ketika Halilintar menarik diri. Bibirnya mengulas seringai tipis.

"Terima kasih untuk makanan pembukanya."

Ying mencibir jengkel, mengawasi suaminya yang melangkah santai ke meja makan. Sudah hampir lima tahun mereka berpacaran, dan dua bulan lalu akhirnya melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun Ying tetap tidak bisa terbiasa dengan sikap Halilintar yang selalu penuh kejutan.

Dasar. Suami siapa, sih?

.

.

.

"Tadi aku menemani Yaya membeli pakaian bayi," Ying bercerita penuh semangat sembari mobil Halilintar melaju membelah jalanan kota yang padat. "Lucu-lucu sekali, aku sampai ingin ikut membeli. Lalu aku ingat, kita tidak punya bayi."

"Kita bisa membuatnya kalau kau mau," ujar Halilintar tenang. "Aku siap kapan saja."

Ying mencibir. "Aku belum ingin punya bayi," tukasnya. "Rasanya aku masih belum cocok menjadi ibu. Benar, 'kan?"

"Tidak juga." Halilintar memelankan laju mobilnya saat melihat kemacetan di depan. "Menurutku kau pantas menjadi seorang ibu."

"Tidak, tidak," Ying menggeleng. "Tadi aku melihat Yaya, dan astaga, aura keibuannya benar-benar memancar. Apalagi perutnya juga sudah mulai membesar. Lalu aku melihat diriku sendiri di cermin, dan aku sama sekali tidak punya aura sepertinya."

"Tentu saja. Kau belum hamil, berbeda dengannya."

"Benar juga." Ying mengetuk dagu dengan jariku. "Apa kalau sedang hamil, aura keibuan akan otomatis terpancar dariku?"

"Kenapa tidak kita coba?" Halilintar meliriknya dengan alis terangkat.

Ying berdecak samar. "Entahlah. Kurasa aku memang belum siap. Kau tidak keberatan menunggu lebih lama, 'kan?" Ia menoleh, tampak sedikit cemas menunggu reaksi suaminya.

"Tidak," Halilintar tersenyum. Jarinya mengusap pipi Ying yang bersemu merah. "Aku akan menunggu kapanpun kau siap."

"Terima kasih, Hali." Ying mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Halilintar. "Aku mencintaimu. Kau suami terbaik di seluruh dunia."

"Ya, aku tahu," Halilintar tersenyum miring dengan ekspresi wajah menyebalkan, membuat Ying seketika menyesali ucapannya.

.

.

.

"HALI!"

Jeritan Ying membuat Halilintar sontak melompat dari kursinya. Ia meninggalkan laptop begitu saja di meja kerja. Kacamata masih bertengger di hidungnya saat ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri suara Ying.

"Ada apa?" tanyanya panik.

"KECOA!"

Ying berdiri di atas konter dapur, Halilintar tak tahu bagaimana istrinya bisa naik ke sana. Tangan Ying memegangi spatula yang diarahkan ke sudut bawah meja makan.

Serangga hitam serupa buah kurma, bergerak cepat melintasi lantai. Ying menjerit histeris dan melambaikan spatulanya ke sembarang arah.

Halilintar bergegas mengambil benda pertama yang terjangkau tangannya. ia memukulkan kursi ke sudut lemari, membuat piring-piring di dalamnya berderak mengkhawatirkan. Sang pengacau kecil berhasil menghindar dengan gesit. Sayap di punggungnya terkembang dan segera saja lepas landas mengitari dapur kecil mereka.

Halilintar yakin gendang telinganya akan pecah setelah mendengar jeritan melengking Ying saat kecoa itu terbang ke arahnya. Ying segera saja melompat, beruntung Halilintar dengan sigap menangkapnya sebelum punggungnya patah menubruk lantai. Halilintar memutuskan membawa Ying ke tempat yang aman lebih dulu sebelum ia memulai perburuan musuh terbesar istri tersayangnya itu.

"Aku benci kecoa."

"Iya, aku tahu."

"Seharusnya makhluk menjijikkan seperti mereka musnah saja dari muka bumi."

"Iya, kau benar."

"Aku akan pindah rumah kalau sampai ada kecoa lagi yang muncul di depan mataku."

"Ya, baiklah. Terserah kau saja."

Halilintar mengulurkan secangkir cokelat panas pada istrinya yang masih terisak. Ia tahu tak ada gunanya membantah kata-kata Ying sekarang. Sejak dulu, Ying tak pernah bisa mengatasi ketakutannya pada serangga kecil pengganggu itu. Halilintar pernah melihat Ying menghadapi berandalan di sekolah tanpa sedikitpun merasa takut. Ying juga pernah menangkap ular yang menyusup masuk ke toilet putri dengan tangannya sendiri. Namun, hanya jika berhadapan dengan kecoa, semua keberanian dan keteguhan seorang Ying bisa menguap begitu saja. Halilintar tidak mengerti apa yang perlu ditakutkan dari seekor kecoa yang tidak berbahaya.

"Kau sudah membuang kecoanya keluar, 'kan?" Ying menatap Halilintar tajam.

"Iya, sudah," kata Halilintar. "Sudah kubuang jauh-jauh."

"Bagus." Ying mengangguk, menyesap cokelatnya. "Malam ini aku tidak mau tidur denganmu. Pasti bau kecoa itu masih menempel di tanganmu."

"Apa? Mana bisa begitu?" protes Halilintar tak terima. "Aku 'kan sudah cuci tangan!"

"Pokoknya malam ini kau tidur saja di ruang kerjamu," tukas Ying lugas, mutlak, tak bisa dibantah.

"Bagaimana dengan jatahku?" tuntut Halilintar.

"Kau tidak dapat jatah malam ini," tandas Ying. "Salah sendiri membiarkan makhluk seperti itu berkeliaran di rumah kita."

Halilintar mengerang putus asa. Malam ini pasti akan panjang dan dingin untuknya.

.

.

.

"Hali, aku ingin mengadopsi anak."

Pernyataan yang begitu mendadak dari sang istri membuat Halilintar mengalihkan pandangan dari acara olahraga yang tengah ditontonnya.

"Apa? Kenapa mendadak?" ia mengernyit bingung.

"Entahlah." Ying menopang dagu dan menatap layar televisi sambil termenung. "Kupikir rumah ini akan lebih ramai kalau ada anak-anak."

"Kita bisa membuat anak sendiri," kata Halilintar. "Kenapa harus mengadopsi?"

"Aku ... belum siap." Ying memainkan jari di atas kancing piyamanya. "Yah, maksudku, aku ingin punya anak, tapi aku tidak siap harus mengandung dan juga melahirkan. Kau mengerti maksudku? Kedengarannya masih begitu menakutkan untukku. Aku tidak tahu apa aku akan siap menghadapi semua itu."

"Kita bisa menunggu," ujar Halilintar. "Sudah kubilang aku tidak keberatan menunggu sampai kau benar-benar siap untuk memiliki anak, 'kan?"

"Kau tidak ingin punya anak adopsi?" Ying mendongak untuk menatapnya.

"Yah, aku lebih suka kalau kita punya anak sendiri," aku Halilintar. "Anak yang berasal dari kita. Anak yang memiliki mata dan pipi bulat menggemaskan sepertimu, juga wajah rupawan sepertiku."

Ying mencibir, tapi mau tak mau ia mengulas senyum. "Aku mengerti," ucapnya. "Tapi, tidakkah kau berpikir ... di luar sana ada begitu banyak anak kurang beruntung yang tidak bisa merasakan kasih sayang orangtua? Aku ingin setidaknya merawat salah satu dari mereka. Memberikan kasih sayang yang sudah sepantasnya mereka dapatkan. Aku ingin mengopsi anak, Hali. Lalu ... ketika tiba saatnya nanti, kita mungkin juga bisa punya anak sendiri. Bagus kalau rumah kita nantinya ramai dengan anak-anak, 'kan?"

Halilintar menghela napas. Ia menyisir rambut Ying yang tergerai di punggungnya. "Kau yakin tentang ini?"

"Ya, aku sudah memikirkannya beberapa waktu belakangan," kata Ying. "Aku ragu untuk mengutarakannya padamu. Kupikir kau mungkin tidak akan setuju, tapi ... bisakah kita mencoba mengambil kesempatan, Hali?"

Halilintar mendesah. Ia mengusap wajah Ying, menatap safirnya yang menyorot penuh harap.

"Aku akan mencoba mencari panti asuhan yang bisa memungkinkan kita untuk mengadopsi anak," kata Halilintar. "Nanti kita coba ke sana dan mencari tahu, ya?"

Ying tersenyum lebar, kedua safirnya berbinar bahagia. "Terima kasih, Hali." Ia merangkul suaminya penuh sukacita. "Aku menyayangimu."

"Aku juga menyayangimu." Halilintar tersenyum dan mengecup pucuk kepala Ying. Bagaimana mungkin ia bisa menolak keinginan wanita yang begitu dicintainya ini, 'kan?

.

.

.

"Ayo, Hali. Cepatlah!"

Halilintar menutup pintu mobil dan bergegas menyusul Ying yang sudah lebih dulu berlari masuk ke gedung rumah sakit. Mereka berbelok ke UGD, sesuai petunjuk dari pesan yang diterima Halilintar dua puluh menit yang lalu.

"Yaya keguguran. Sekarang dia di UGD Rumah Sakit Cempaka Lima."

Ying yang lebih dulu melihat Taufan duduk seorang diri di ruang tunggu. Wajahnya dibenamkan di kedua telapak tangannya. Punggungnya yang bergetar menunjukkan dengan jelas bahwa pemuda itu tengah menangis.

"Taufan."

Taufan mendongak. Matanya yang bengkak dan merah menatap Ying yang segera saja menghambur untuk memeluknya.

"Aku ikut berduka," bisik Ying.

"Aku harus kehilangannya lagi," Taufan terisak, bahunya yang bergetar diusap pelan. "Kami kehilangan anak lagi."

"Kalian pasti bisa memiliki anak nanti, percayalah," ucap Ying lembut. "Kau hanya harus bersabar, oke?"

"Aku merasa sangat bersalah pada Yaya. aku bukan suami yang baik untuknya."

"Hei, jangan bilang begitu." Ying menangkup wajah Taufan yang berderai air mata. "Kau suami terbaik yang bisa dimiliki Yaya."

"Dia sangat terpukul," ucap Taufan tercekat. "Aku tidak sanggup harus melihatnya menangis dan menyalahkan diri lagi."

"Kau dan Yaya harus saling menguatkan." Ying meremas tangan Taufan lembut. "Ini bukan salah kalian, bukan salah siapapun. Jangan terlalu menyalahkan diri. Bersabarlah, aku yakin waktu sedan merencanakan yang terbaik untuk kalian."

Taufan mengangguk. ia membalas remasan tangan Ying dan terus menumpahkan segala kesedihan yang begitu menyesakkan dadanya.

.

.

.

"Sudahlah, jangan menangis lagi."

Halilintar mengulurkan kotak tisu di atas dashboard pada Ying yang terisak.

"Bagaimana aku tidak menangis?" isak Ying, membuang ingusnya ke dalam tisu. "Aku benar-benar tidak tega melihat Taufan dan Yaya. ini sudah ketiga kalinya. Kupikir kali ini kandungan Yaya akan bisa bertahan, tapi ternyata ... dia harus keguguran lagi."

"Mungkin belum saatnya mereka memiliki anak," desah Halilintar. Ia menghentikan mobil di lampu merah dan memandang papan iklan yang berpijar terang di atas mereka. "Mereka masih muda, masih ada banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi."

"Tapi tetap saja, Taufan dan Yaya pasti merasa sangat terpukul," ucap Ying. "Mereka sudah sangat mengharapkan anak itu."

"Mereka akan bisa melewatinya," kata Halilintar. "Kita hanya perlu memberi mereka dukungan dan semangat."

Ying mendesah muram. Ia mengelap air mata dengan tisu, melempar pandangan ke langit malam di luar jendela.

"Aku jadi semakin takut untuk mempunyai anak," gumam Ying.

Halilintar menoleh ke arahnya. "Kenapa? Kau takut mengalami hal yang sama dengan Yaya?"

"Yah, salah satunya itu," Ying menghela napas. "Mengandung bayi bagi seorang perempuan artinya harus mempertaruhkan banyak hal. Penampilan akan berubah seiring waktu, tenaga dan emosi yang banyak terkuras, bahkan juga sampai harus mempertaruhkan nyawa. Aku sama sekali belum siap untuk semua itu."

"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan diri." Halilintar mengelus pipinya. "Kalau kau memang tidak sanggup melakukannya, kita bisa mencari cara lain untuk memiliki anak."

"Kau benar-benar tidak keberatan?" Ying menatap Halilintar khawatir. "Bahkan walau aku tidak akan pernah bisa mengandung anak darimu?"

"Tidak." Halilintar tersenyum tipis. Ia melajukan mobil saat lampu berganti hijau. "Aku menikahimu bukan agar kau bisa memberikanku anak. Aku hanya ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Bahkan walau sampai kita menjadi kakek dan nenek kita tetap tidak memiliki anak, aku tidak keberatan. Yang terpenting kau tetap akan ada di sampingku."

Kedua safir Ying kembali digenangi air mata. "Kenapa kau selalu bisa mengucapkan kata-kata manis seperti itu dengan begitu mudah? Aku tidak percaya dulu kau adalah manusia bermulut paling pedas yang pernah kutemui."

Halilintar tertawa. "Bukankah mulutmu lebih pedas? Kau membuat semua laki-laki yang pernah mendekatimu langsung ciut hanya dengan mendengar ocehan bawelmu."

Ying mencibir, mengusap air matanya. "Aku tidak bawel."

"Tentu saja kau bawel. Kau 'kan si bawel kesayanganku." Halilintar mencubit pipi Ying yang menggembung.

Ying memberengut, tapi senyumnya kemudian terbit tanpa bisa dicegah. "Aku akan membuatkanmu makan malam yang enak setibanya di rumah nanti. Kau mau makan apa?"

"Kau." Halilintar mengerling jenaka dan Ying memutar mata jengah.

.

.

.

"Besok kita jenguk Yaya lagi, ya?" Ying meletakkan dua cangkir susu hangat di meja kopi di balkon. "Kita bisa mampir sebentar ke tempat Hanna untuk membeli bunga. Apa kita harus sekalian membeli hadiah untuk menghibur Yaya?"

"Kurasa yang paling dibutuhkannya saat ini hanya dukungan dari orang terdekat." Halilintar meraih cangkir dan menyesap susu cokelatnya.

"Yah, kau benar." Ying mendesah. Ia menghenyakkan diri di samping Halilintar dan bersandar di pundaknya. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Yaya ..."

"Dia wanita yang kuat. Taufan memilihnya bukan tanpa alasan."

"Kau benar," Ying tersenyum. Ia mendongak untuk menatap suaminya. "Apa menurutmu aku juga sama kuatnya dengan Yaya?"

"Tidak," tukas Halilintar lugas. "Kau cengeng, banyak mengeluh, selalu merajuk dan bersikap kekanakan. Mana mungkin kau sama dengan Yaya?"

"Iya, maaf aku terlalu banyak kekurangan," Ying mencibir jengkel. Bukannya senang mendapat pujian dari suami, kenapa ia malah dihina-hina? "Kau pasti kecewa mendapat istri yang cengeng dan kekanak-kanakan seperti aku, ya?"

"Tidak juga. Tipeku memang yang sepertimu. Satu-satunya, tidak ada duanya." Halilintar mengacak rambut Ying dan tertawa saat sang istri memprotes.

"Kau memang punya cara unik untuk memuji, ya?" Ying berdecak. "Dasar menyebalkan."

"Tapi sayang, 'kan?" goda Halilintar.

"Tentu saja. Mana mungkin tidak sayang?"

"Bagus." Halilintar tersenyum dan mengecup keningnya. "Ngomong-ngomong, setelah menjenguk Yaya besok, kau mau melihat-lihat ke panti asuhan?"

Ying mengerjap. "Panti asuhan?"

"Ya," Halilintar mengangguk, kembali menyesap susunya. "Aku sudah berbicara dengan pengurus panti asuhan yang dikenalkan kolegaku. Kita bisa mencoba ke sana besok kalau kau mau, untuk mencari anak yang cocok yang akan kita asuh. Bagaimana?"

Mata Ying berbinar-binar. "Sungguh? Kita benar-benar akan mengadopsi anak?"

"Kau sendiri yang minta, 'kan?" Halilintar tertawa. "Atau, kau berubah pikiran?"

"Tidak, tidak! aku benar-benar ingin mengadopsi anak. Aku sangat menginginkannya!" Ying menghambur memeluk sang suami. "Terima kasih, Hali. Kau memang yang terbaik!"

"Iya, iya. Aku tahu." Halilintar terkekeh dan mengusap rambut Ying. "Kalau begitu, istirahatlah. Besok ada banyak hal yang harus kita lakukan."

"Oke!"

Ying menghabiskan susunya dalam sekali teguk, lalu segera membereskan cangkirnya dan Halilintar. Ia melompat bangkit dari sofa dan bersenandung riang sambil melangkah ke dapur.

Halilintar menggeleng-geleng melihat tingkah istrinya. Ia menatap bulan yang berpendar di langit malam. Setelah ini mereka mungkin akan kedatangan anggota keluarga baru. Sebaiknya Halilintar bersiap-siap. Merawat dan membesarkan anak tentu akan menguras banyak tenaga dan waktu. Namun jika melakukannya bersama Ying, tentu Halilintar tidak akan pernah keberatan.

Begitulah cinta, bukan?

.

.

.

fin


A/N :

Ini harusnya semacam kumpulan drabble fluff tentang marriage life, tapi aku bingung milih apa aja yang harus ditulis, akhirnya cuma fokus ke satu topik aja haha. Dan aku bingung sama endingnya. Tadinya berpikir ini beneran cuma bakal jadi drabble di bawah 1k, tapi jadinya lebih dari 2k! Woohoo!

Tbh, kalau udah umur 20-an ke atas, mau nggak mau bakal kepikiran soal nikah sih ya, haha. Dan salah satu hal paling 'sensitif' kalau menyangkut topik pernikahan ini buat aku sih ya pembahasan soal anak. Ketakutan dan keraguan Ying soal punya anak di sini kurang-lebih sama kayak aku. Pengen punya anak, tapi takut. Maunya adopsi aja. Tapi tetep pengen punya anak sendiri, tapi takut! Ya muter-muter gitu aja bahasannya wkwk.

Udah ah, kenapa malah curhat sih. Makasih yang udah menyempatkan diri membaca. Tetap semangat, dan selalu jaga kesehatan! Sampai bertemu di lain kesempatan~