Cirsium

[11-11/29-11][One Piece |Belong to Oda|T|Family & Romance|Rorona Zoro & Monkey D. Luffy]

[AU][Warning : BL]


Sum : "Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang jelas banget (katanya) tidak mencintaimu tapi percaya 100% kepadamu sampai-sampai merelakan namanya dicoret dari keluarga hanya karena rela menikah denganmu? Itu yang dilakukan laki-laki yang seharusnya dikenal sebagai Monkey D. Luffy oleh Roronoa Zoro, sehingga ia harus menggunakan nama keluarga Roronoa untuk namanya. Sudah 5 tahun menikah, pahit manis kehidupan sudah dijalani dengan rasa percaya satu sama lain. Namun, dititik ini—tepatnya dibulan november ini Zoro dikirimi surat dari keluarga besar suaminya dari Brazil untuk memutuskan hubungan mereka karena suatu alasan ; mereka membutuhkan seorang keturunan langsung dari Luffy…"


Happy Reading Minna!


…..

Hari itu cuacanya sangat cerah, ditemani angin sejuk musim gugur dan juga tenangnya perumahan dikawasan sekitar. Telinga Zoro hanya menangkap suara detingan furin yang selalu konstan karena ditiup angin lemah. Ia asyik mencari resep untuk bekal bawaan keluarga saat melihat momiji yang memerah tepat minggu depan menjelang puncak musim gugur bersama suaminya.

Ia bersemangat, terutama musim gugur adalah waktu favorit baginya. Libur musim gugur tanggal 28 september, festival aki matsuri, dan minum teh hijau diwaktu senggang. Senyum tipisnya bertengger lepas, ia semakin giat mencari resep di majalah.

"Tadaima"

Sebuah suara mengagetkan Zoro, ia berdiri dan mengarahkan pandangannya pada jam yang tak terasa sudah menunjukkan waktu 4 sore hari. Ia kemudian berjalan perlahan menuju pintu, sambil menyahut 'Okaeri' Zoro menerima sekantung bawaan dari Luffy.

"Wah, jeruk?" lalu matanya memicing pada kantung yang bersemayam dibawah tumpukan jeruk, "ubi?" sambungnya penasaran.

"Iya, jadi Zoro enggak perlu beli keluar…" jawab suaminya diwarnai cengiran lebar.

Laki-laki itu kemudian menemani langkah suaminya menuju dapur, ia membawakan tas suaminya dan diletakkan diatas meja kerja, setelah itu menuju dapur dan membongkar kantung belanja. Ia memanaskan air sambil mencuci jeruk dan ubi,

"Kalau mau mandi sekarang, aku sedang memanaskan air panas jadi tunggu sebentar…" Zoro memberitahu, ia memusatkan perhatiannya pada sebuah jeruk yang di gosok perlahan di tangannya. Ia menggoyangkan tiap buah jeruk yang selesai dicuci untuk menghilangkan air yang tersisa, lalu mengelapnya dengan kain bersih. Terakhir ia meletakkan masing-masing jeruk dan ubi pada wadahnya masing-masing, lalu diletakkan diatas meja kotatsu.

"Ou…" ia mendengar sahutan suaminya dari kamar mandi, ia juga mendengar deru suara shower bathub yang menyala. Zoro mendatangi air yang ia panaskan di kompor, saat buih-buih panas muncul. Zoro segera mematikan api kompor dan menggunakan sarung tangan untuk mengangkat panci.

"Luffy, awas air panas…"

"Oke~ shishishi…"

Ia memasuki kamar mandi, matanya menangkap Luffy yang duduk di wc sambil menatapnya penuh cengiran tawa. Mengalihkan pandangannya, Zoro menyiramkan air panas kedalam bathub yang berisi air dingin, ia meletakkan panci dilantai lalu memeriksa suhu air. Hangat, ia menarik tangannya lalu menjumput panci.

"Sudah pas, mandi sana…"

"Terimakasih~" jawab Luffy ditemani cekikikan kecil. Zoro yang mendengar hal itu sedikit mengerucut bibirnya, "Kamu kenapa?"

Luffy berdiri sambil melucuti bajunya satu persatu, ia melemparnya kedalam keranjang baju kotor sambil menjawab pertanyaan Zoro,

"Lucu aja, setiap hari kamu memanaskan air untukku, tapi sekali saja aku tidak pernah memanaskan air untuk Zoro"

"Benarkah?" Zoro mengalihkan pandangannya ia berjalan menuju dapur untuk menyimpan panci, ia bisa mendengar jawaban suaminya dari kamar mandi.

"Beneran lho!"

Kini giliran Luffy yang mendengar suara kikikan istrinya dari kamar dapur. Ia menggadah, semua lelah yang tadi bersarang pada tubuhnya memudar satu persatu, mata oniksnya melirik kearah dekorasi rumah, ia menatap bunga yang tumbuh didalam pot kecil yang ditaruh pada sisi lain dinding kamar mandi. Bunga onak dan kosmos berwarna merah itu terlihat sangat segar, Luffy menarik nafas.

Sudah lebih dari 5 tahun, ia menatap langit-langit rumah lagi. Ia merasa sangat bersyukur seseorang menjaga punggungnya dengan baik, baginya kehadiran Zoro membuatnya sangat tenang. Semoga semua ini akan selamanya bersama mereka, hingga nanti.

Setelah ia rasa cukup, Luffy beranjak dan melilitkan handuk di pinggangnya. Ia berjalan perlahan muncul dari kamari mandi menuju kamar tidurnya untuk memakai baju, ia bisa menangkap keberadaan jeruk mandarin yang berjumlah 5 buah di dalam wadah diatas meja kerjanya berserta secangkir kopi yang masih hangat.

Luffy membuka lemari baju dan mulai memakai pakaian, ia melihat Zoro yang masuk dengan sepiring feijoada. Senyumnya semakin melebar, Luffy sengaja melupakan celananya dan hanya memakai bokser. Laki-laki itu berjalan mendekati Zoro dengan hidungnya pura-pura mengendus sesuatu,

"Ini feijoada, tumben masak feijoada…" ujar Luffy dengan tangan sudah menyendok daging dipiring, Zoro menepuk tangan Luffy membuat suaminya itu menarik tangannya cepat dan memandang Zoro dengan penuh tanda tanya.

"Pakai celanamu dulu!" Zoro memberengut, ia berjalan menuju meja kerja Luffy dan meletakkan makanan kesukaan suaminya itu diatas meja kerja bersamaan dengan kopi. Setelah itu Zoro duduk diatas kasur dan memperhatikan gerakan Luffy.

Luffy cemberut, bibirnya monyong karena dilarang menyantap makanan kesukaannya sendiri. Sedetik kemudan kembali normal dengan celana yang sudah dipasang, laki-laki itu berjalan dan ikut duduk disamping istrinya.

Tinggi mereka terlalu kontras, beda 7 centimeter. Sehingga Luffy harus mendongak saat melihat kearah wajah istrinya, mata oniks itu sangat terasa mengintimidasi sehingga Zoro harus menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya,

"Kamu kenapa?" Luffy memancing,

"Enggak apa-apa…"

Luffy makin memajukan wajahnya, ia tahu betapa mengintimidasi matanya itu sehingga ia sengaja membuat istrinya semakin malu. Tangan Luffy memeluk tubuh Zoro namun wajahnya dimajukan, sehingga mendorong tubuh Zoro semakin kesamping.

"Kenapa wajahmu merah?" goda Luffy dengan seringai tipis,

"Kecipratan sambal…" celoteh Zoro, berusaha untuk mencari alasan.

Luffy tertawa pelan dan menarik kembali posisinya karena takut membuat Zoro terjatuh, ia menarik kepala Zoro kedalam rengkuhannya dan tertawa. Zoro masih menutup wajahnya, ia tak ingin siapapun melihat wajahnya sekarang.

Beberapa menit mereka hanya berpelukan, saat Luffy tak sengaja menatap jam digital diatas meja kerjanya, ia menangkap kalau waktu makan malam bagi Zoro hampir terlewat beberapa menit, istrinya harus makan pada jam 6 sore, beda dengan dirinya yang biasa makan sampai jam 8 malam, mungkin karena ia bukan orang jepang yang biasa disiplin.

"Zoro?"

"Apa!"

Jawaban judes itu membuat Luffy ragu, mungkin tadi dirinya terlalu berlebihan?

"Ayo makan?"

…..


…..

Hari ini cuaca sangatlah cerah, bahkan tidak ada sedikitpun warna putih diatas langit. Luffy berani bertaruh kalau langit benar-benar biru, terik, dan silau—namun tidak separah negara asalnya. Ia tidak merasakan panas matahari yang mencoba membakar kulitnya, bukti dari sejuknya musim gugur ini adalah dirinya yang menyiram tanaman disiang bolong hanya dengan kaos oblong dengan topi jerami miliknya.

Zoro mencuci peralatan makan, dan dirinya diberi tugas untuk menyirami pagar tanaman setinggi betis yang ada didepan rumah. Luffy membuka bagian mebel pagar dengan menggesernya kesamping, ia mengigit tongkat es krim lalu mengambil gulungan selang. Setelah memutar tutup keran, Luffy mengarahkan air kepagar hidup sambil menikmati pemandangan.

Sawah terhampar dihalaman belakangnya, dan terdapat beberapa anak-anak yang berlari-lari. Luffy bisa melihatnya dari bagian pagar yang bisa dibuka-tutup hasil desainnya sendiri. Dari jauh ia melihat gadis oranye menaiki sepeda, rambut panjangnya diterpa angin, dan tampak dari wajahnya semu merah merona.

Luffy mengingat dia, kalau tidak salah temannya Zoro atau apapun itu—Luffy melengos acuh dan menamatkan perhatiannya pada air yang jatuh ke pagar hidup didepannya.

"Selamat siang, Rorona-san…"

Luffy mengangkat wajahnya, ia mendapati tetangganya yang lewat dengan sepeda. "Oh ya, selamat siang juga, Nami-san…"

Gadis yang dipanggil Nami itu menghentikan kayuh sepedanya dan memakirkannya dipinggir jalan, ia berjalan mendekati Luffy. Laki-laki itu bisa menemukan semu merah yang masih mekar di pipinya, mungkin anak ini sedang demam.

"Rorona-san, ayahku memberikan ini…" Nami menyerahkan sebuah kantung, Luffy menerimanya dengan senang hati. Ia menyuruhnya menunggu sebentar karena Luffy harus mematikan keran air, sekembalinya dari mematikan keran ia menerima kantung hadiah musim gugur itu dengan suka cita.

"Ini mungkin tidak banyak…"

Luffy hampir membukanya ditempat kalau ia tidak ingat pesan Zoro, Luffy menjawab "Ini sudah lebih dari cukup kok…" kemudian menawarkan untuk mampir. Tawaran itu diiyakan oleh Nami, karena khawatir dengan sepeda Nami. Luffy menyuruhnya untuk memakirkan sepeda itu didalam kawasan rumah miliknya.

Nami agak ragu, namun ia mengikuti saran Luffy untuk menghormatinya. Nami keluar sambil mengambil sepedannya kemudian diparkirkan dihalaman rumah Luffy, saat gadis itu kembali ke taman belakang. Ia mendapati Luffy tengah membuka kantung hadiahnya dan memakan dango satoimo. Kejadian ini membuat Luffy keduanya membeku ditempat,

"Um, Rorona-san?"

"Hehe, aku mau memberikannya ke Zoro, duduk aja dulu…"

Nami menuruti tetangganya itu dan duduk diberanda, matanya menangkap hiasan furin yang berdenting karena ditiup angin. Tak lupa satu pohon momiji pendek yang daunnya separuh menguning, ia lalu mengayunkan sepasang kakinya untuk membunuh waktu.

Gadis itu mendongak, ia bisa melihat hamparan luas langit yang berwarna biru lalu setitik matahari yang silau. Terbesit sebuah kenangan indah dirinya dulu bersama sahabat lamanya, tetapi lamunan itu segera ia hilangkan saat mendengar suara Zoro dan Luffy yang mendekat.

Gadis itu menoleh, irisnya menangkap Zoro yang datang dengan 2 gelas teh dan dango di piring kecil. Ia bisa melihat Luffy yang tidak mengikuti Zoro namun hanya berdiri diujung ruangan, Nami menelan ludah saat melihat pandangan Luffy, tampaknya ia akan pergi ke suatu tempat karena memakai jaket. Ia hanya sedikit tahu tentang suami sahabatnya itu. Namun, ia tahu benar jika orang bernama Luffy itu sangat mengintimidasi.

"Lho, Nami kenapa bengong?"

"Uh?" Nami terkejut, "Engga, anu, kenapa suami kamu engga kesini?"

Zoro mengikuti arah pandangan Nami, dan mendapati ujung ruangan yang kosong—hanya menampakan dekorasi berupa tatanan altar persembahan susuki.

"Oh, dia bilang ada urusan di kantor. Aku enggak tau juga, masalah pemadam kebakaran…" sahut Zoro lalu mempersilahkan Nami, "Nih, tehnya. Enak kalo ditemani dengan dango…"

"Terimakasih…"

Nami meminum teh hijaunya dengan senang, mereka bercengkarama di beranda. Masing-masing menceritakan hidup mereka dari pertama kali bertemu, hingga sekarang. Nami menusuk dango dan mengarahkannya ke mulutnya sendiri, ia mengunyah kue manis itu sambil mendengarkan cerita Zoro.

"Oh ya, mana Ussop sama Sanji?" Zoro bertanya dengan nada penasaran,

"Mereka sibuk kerja, biasa…"

Zoro menunjuk Nami dengan cengiran lebar, "Bagaimana hubunganmu dengan Sanji?"

Nami terlihat sangat terkejut, lalu menggoyangkan tangannya untuk memberitahu itu hanya guyonan masa lalu.

"Padahal aku kira kalian serasi…"

Nami tertawa, ia mencampur rasa sedihnya dengan tawa bahagia, "Iyakah, kupikir aku tidak cocok dengan mereka…"

Beberapa jam berlalu, Nami merasa hari ini sudah cukup baginya. Ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan sahabat lamanya, ia beranjak dan berpamitan. Zoro menyuruhnya untuk menunggu dan menghilang dari balik dapur, beberapa menit kemudian datang dengan sekantung jeruk mandarin. Ia mengatakan jika persiapannya untuk musim gugur kurang matang apalagi ia masih belajar memasak beberapa manisan, sehingga ia hanya bisa membagikan jeruk.

"Enggak perlu repot-repot…" Nami menjawabnya dengan sungkan,

"Ayolah..." Zoro tersenyum, membuat Nami tidak enak. Ia menerima sekantung buah itu dan meletakkannya didalam keranjang sepeda, melambaikan tangannya lalu menghilang dibalik pagar rumahnya.

Zoro menghembuskan nafas, ia berjalan menuju pagar yang tadinya dibuka oleh Luffy. Mungkin karena Nami tadi suaminya lupa menutup pagarnya kembali, lagipula email itu datang mendadak sekali. Zoro tidak tau banyak soal pemadam kebakaran, jadi ketika muncul email di handphone Luffy ia langsung menyerahkannya begitu saja kepada siempunya.

'Aku akan kembali, siapkan makan malam' ujar Luffy saat menolak dibantu menggunakan seragamnya, ia menyuruh Zoro untuk menemani Nami di beranda. Lalu berpamitan dan menghilang dibalik pintu, Zoro kemudian menyiapkan 2 gelas the dan dango dipiring kecil lalu membawanya ke beranda untuk Nami.

Zoro tersadar karena mendengar suara anak-anak yang sibuk bermain di persawahan, ia segera menarik pagar dan menguncinya. Setelah itu berbalik memasuki rumah, ia baru ingat untuk menyiapkan makanan untuk Luffy. Ia tahu jika Luffy bisa makan sampai jam 8 malam, jadi tidak masalah jika ia terlambat atau apa. Bahkan yang ia tahu, Luffy tak pernah mempermasalahkan keterlambatan dirinya dalam hal apapun, misalnya saat Zoro terlambat membukakan pintu untuknya.

Kejadiannya mungkin sekitar 3 tahun lalu saat Luffy benar-benar terlambat pulang, Zoro tertidur di ruang tamu. Mungkin hampr beberapa menit Luffy menunggu, mungkin juga dia sudah tidak sanggup memencet bel akibat terlalu kecapean. Tapi diakhir cerita, Luffy tidak memarahinya atau apapun—suaminya itu hanya mengelus kepalanya dan tertawa cekikikan.

Tiba-tiba Zoro dikejutkan oleh suara bell pintu, ia bergegas menuju kepintu depan rumahnya dan membuka pintu untuk memeriksa siapa yang datang. Ternyata petugas pos surat,

"Apa anda Monkey D. Luffy?" tanya petugas pos.

"Saya istrinya, anda dapat memberikan ini kepada saya…"

Petugas pos lalu memberikan amplop tersebut dan menyuruh Zoro untuk menandatangani serah terima. Ia mengucapkan terimakasih, dan dijawab anggukan sopan petugas pos.

Zoro menutup pintu rumahnya, ia membawa amplop surat itu dan meletakkannya diatas kotatsu. Sambil duduk berselonjor, Zoro membuka amplop tersebut, ia menemukan sebuah surat dan dua buah tiket pesawat pulang-pergi Brazil. Penasaran dengan apa yang ditulis didalamnya, Zoro membuka surat tersebut dan mencoba membacanya.

Percuma, bahasanya bukanlah inggris atau jepang, melainkan bahasa yang sama sekali Zoro tidak tahu. Mungkin surat ini berasal dari keluarga besar suaminya di Brazil, atau apapun itu. Zoro merapikannya kembali dan meninggalkannya tergeletak diatas kotatsu, ia lebih memilih untuk mengerjakan kegiatan rumah yang lain dan segera melupakan rasa penasarannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Zoro mengedarkan pandangannya saat ia kesekian kalinya memeriksa keluar. Tangannya menggaruk belakang kepalanya, ia menghembuskan nafas dari mulut lalu menggosok kedua tangannya, ia berjalan kembali memasuki rumah.

Pintu depan sudah terkunci, ia mengerucutkan bibirnya kesal. Biar saja dia tidur diluar, kebiasaan sekali pulang larut malam, memangnya dia pikir 'orang rumah' tidak akan khawatir dengannya begitu?

"Kenapa dia itu egois sekali?"

Padahal ia sudah susah payah menyapkan soba, teh hijau, dan juga dango satoimo dimeja kecil dekat beranda. Terpaksa harus memasukkan makanan itu kembali kedalam kulkas. Jika 2 jam lagi Luffy masih belum pulang, maka kesempatannya untuk menghabiskan waktu di beranda akan gagal total.

"Padahal bulannya bagus sekali, udaranya juga tidak terlalu dingin…" ujar Zoro setelah selesai menyimpun meja kecil ke dalam lemari peralatan. Ia menarik jendela geser, menguncinya, lalu menarik gorden. Ia duduk bersila dan meletakkan dagunya diatas kotatsu, ia melihat jam diatas televisi— memandang jarum jam pendek, ia merasa waktu mengalir sangat lambat dan membuatnya mengantuk.

Didalam pikirannya ada rasa penasaran dengan apa yang Luffy lakukan saat ini sampai-sampai belum pulang padahal waktunya sudah sangat larut? Zoro menguap lebar, masa bodoh lah dengan orang itu.

"Kalau dia pulang, biar sekalian dia tidur diluar lagi!" gumamnya dengan nada jengkel. Zoro makin mengeratkan selimut kotatsu pada tubuhnya, ia terlena dengan rasa ngantuk yang sudah menggelayuti.

"Semoga dia memakan makanan hangat disana…"


….

Luffy mengenggam handphone dan membuka ratusan email yang telah dikirimkan oleh keluarganya. Ia bisa membaca permintaan keluarganya yang absurd. Luffy menghembuskan nafas, uap nafasnya terasa hangat, ia kemudian menutup hanphonenya lalu mengambil 2 slot kartu dari hanphonenya kemudian meremas benda itu hingga remuk dan melemparkannya ke sungai dibawah. Luffy menyimpan 2 kartu itu, dan menyandarakan tangannya ke pembatas jembatan, matanya mengarah pada bulan yang sudah tinggi bertengger.

"Sialan..." umpatnya dengan nada kesal, lalu berbalik. Ia menarik pergelangan jaketnya, dan menatap jarum jam yang menunjukan pukul 12 malam. Konyol, hanya karena masalah seperti ini ia harus membatalkan acara malam ini bersama istrinya. Laki-laki itu berjalan menyusuri kota yang masih hidup, ia melihat langit-langit kota yang dipenuhi gedung-gedung menjulang.

Luffy melanjutkan perjalanannya, langkah kakinya mengantarkan dirinya pada halte bus yang sepi. Disamping halte terdapat vanding machine, laki-laki itu bergegas membeli minuman hangat. Ia duduk di halte bus, tangannya masih menggenggam sekaleng maple milkshake—saat rasa hangat menyentuh telapak tangannya entah kenapa Luffy tak berselera untuk menenggaknya sedikitpun.

Udara dingin mulai menusuk tulang, telinganya bisa mendengar suara kebisingan kota yang kian memudar. Rambu-rambu lalu lintas mulai menyalakan warna kuning secara konsisten—menandakan jam malam yang kian larut. Luffy mendongakkan kepalanya, saat ia mengembuskan nafas untuk kesekian kalinya ia bisa melihat uap air yang membuat kepulan muncul.

"Ah?" Luffy teringat minuman kaleng yang ada ditangannya, namun minuman itu sudah terlanjur dingin. Entah berapa lama Luffy menghabiskan waktu di halte ini, lelaki itu segera melihat kearah jam ditangannya— ia menepuk kepalanya seketika saat sadar jarum jam sudah menujukkan waktu 3 dini hari.

Luffy segera pergi berjalan mencari ATM terdekat, matanya menangkap banyak sekali berandalan yang berkeliaran disekitar. Bahkan ia sudah diikuti saat keluar dari belokan menuju jalanan sempit—ia melewati jalan alternatif yang biasa digunakannya— ia menarik resleting jaket tebalnya dan syal yang sudah mengikat sekitar lehernya.

Berandalan itu mendekatinya, mereka berjumlah 6 orang. Saat Luffy tiba-tiba berhenti, mereka langsung mengepung laki-laki itu dan menyodorkan sebilah pisau, salah satu dari mereka meminta Luffy untuk menyerahkan semua harta bendanya.

"Ayolah Nii-chan, kau tidak mau pisau ini melukai lehermu kan?"

Sembari membalas tatapan berandalan itu dengan tajam Luffy menyahut, "Coba saja"

Salah satu dari mereka menubruk Luffy, namun dihindari laki-laki itu dengan melompat kesamping. Luffy menghantamkan kaki kanannya pada salah satu kriminal itu sampai terlempar dan sekarat ditempat, mereka tampak mundur dengan terkejut. Saat seorang dengan tongkat basebal mencoba menghantam Luffy, laki-laki itu berjongkok dan memutar tubuhnya sehingga tongkat basebal itu menghantam paving blok.

Luffy kembali menendang bagian belakang pengguna basebal itu sampai mencium tanah, dan menggunakan tubuhnya sebagai pijakan. Luffy menyundul dua orang lawannya dengan lutut dan mendarat diatas mereka, dua orang yang tersisa melarikan diri dengan terbirit-birit. Luffy beranjak, ia merapikan pakaian dan syalnya lalu segera meninggalkan tempat itu.

Setelah mengambil uangnya dengan aman, ia segera menyewa taksi. ia kembali memeriksa jam tangannya, dan sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Banyak sekali waktu yang terbuang, ia menatap keluar jendela mobil, iris oniks mata itu menangkap garis-garis putih di langit—yang katanya bernama sirus—membuatnya mendelik kearah lain.

"Ah, aku lupa beli jas hujan…" gumamnya sesaat kemudian.


Zoro terbangun, seketika teringat suaminya ia berkeliling mencari kesetiap sudut ruangan. Nihil, ia tak menemukan apapun. laki-laki berambut hijau itu berjalan menuju pintu depan, ia memutar kunci lalu menarik gagang pintu. Sesaat ia berharap suaminya akan menunggu diluar sambil tidur sepeti biasa. Sama, tidak ada siapapun disana. Zoro terdiam didepan pintu sangat lama, kemudian berlari menuju telepon umum.

Mereka bilang tidak ada telpon kemarin, pegawai kantor dinyatakan libur dan sementara waktu pekerjaan akan dioper ke pegawai lain. Zoro ingat betul jika nama yang muncul adalah nama kantor tempat suaminya bekerja, ia gusar.

Lawan bicaranya ditelpon menyarankan untuk menelpon polisi—membuat form orang hilang atau menunggu lebih dari 24 jam untuk memastikan jika Luffy benar-benar hilang.

Zoro menutup telpon dengan segera setelah mengucapkan maaf dan terimakasih, ia segera mencuci wajahnya, menyikat gigi, lalu mengambil jaketnya dan bersiap untuk keluar. Apa yang sebenarnya Luffy lakukan sekarang, memangnya dia membawa uang yang banyak? Padahal Zoro tak pernah memberikannya lebih dari 5oo berry.

"Apa dia mabuk lalu tidur dijalan?" gumam Zoro sambil melangkahkan kakinya cepat, ia menolehkan pandangannya ke setiap sudut jalanan dan berharap melihat suaminya tergeletak disana ketiduran.

Hari itu jam baru saja menunjukkan pukul 7 pagi, ia dapat melihat banyak orang yang mulai berjalan menuju tempat kerja mereka masing-masing. Matanya mengarah ke daun momiji yang masih setengah menguning, ia mengerucutkan bibir dan menatap sengit ujung jalan yang mengarah ke perumahan.

"Terserah!" serunya lalu berbalik, menuju rumahnya sendiri. Saat ia memasuki rumahnya, terdengar rintik hujan yang kian menggebu-gebu jatuh dari langit, matanya memandang jauh keluar, lalu kembali ke dirinya sendiri sambil menutup pintu geser kaca agar air hujan tak merusak tatami.

….


….

Luffy menatap jam tangannya, ternyata sudah jam 8 pagi. Bandara sudah buka sekitar jam 5 pagii tadi, sehingga Luffy dapat santai membersihkan dirinya di toilet bandara. Luffy menatap pantulan dirinya di kaca wastafel, ia berpikir bagaimana keluar dari situasi seperti ini?

"Anak ya, tidak pernah kepikiran…" ujarnya lalu berjalan menuju pintu keluar.

Luffy mengeratkan jaket dan syal yang ia pakai, sembari berjalan mendekati seseorang di ujung sana, masing-masing dari mereka menggunakan jaket tebal, dan salah seorang darinya memegang sebuah ramen instan yang telah dimasukkan sebuah daging, Luffy dapat melihat sebuah tulang yang mencuat dari mangkok ramen.

"Jovem Mestre (Tuan muda), silahkan makan terlebih dahulu…" ujar wanita disana dengan wajah lembut, namun tidak digubris oleh Luffy—Ia mengambil ramen itu dan membuangnya ke tong sampah.

"Ayo berangkat…"

"Bom, Meu senhor (Baik, Tuanku)."

Mereka memasuki pesawat khusus, tampak para penjaga berjejer dikanan dan kiri Luffy. Jas yang dilapisi rompi anti peluru, assault rifle jenis DAR701-1 terlihat digendong sembari melakukan salut terhadapnya. Luffy tak membalas, ia hanya berjalan dengan wajah kesal hingga memasuki pesawat.

Kedua orang yang tadi mengikutinya memberikan salut sambil berterimakasih, lalu mengikuti Luffy memasuki pesawat. Mereka memilih tempat duduk tepat didepan Luffy, wanita itu masih tersenyum lembut dan memesan makanan lagi kepada pramugari.

"Jovem Mestre, ingin hiburan?" laki-laki dengan rambut biru yang tadi diam saja mulai berbicara,

"Tidak" sahut Luffy singkat, dan disambut wajah kecewa.

"Asal anda tahu, pramugari disini sudah kita sewa juga…" jawab laki-laki dengan rambut biru tadi, dari nada bicaranya Luffy tahu jika orang ini sangat ingin melakukan hal dengan pramugari tadi.

"Kalau begitu lakukan sendiri, Franky" Luffy menyahut kesal,

Diberi permission oleh bosnya, Franky pun berangkat ke ke ruangan lain, 'jika kau mencariku, aku ada di private class oke?' lalu menghilang dibalik pintu.

Salah satu pramugari datang dengan makanan yang dipesan,

"Steaknya masih hangat, Jovem Mestre"

"Buang saja…"

Wanita itu tersenyum lemah, "Mengkhawatirkan keluarga, Jovem Mestre?" ucap wanita itu sambil melirik Luffy.

Mendengar ucapan itu Luffy agak terganggu, sejujurnya ia memang mengkhawatirkan istrinya tetapi untuk saat ini ia harus percaya kalau istrinya sedang baik-baik saja.

"Padahal ini sudah memasuki bulan awal bulan oktober, udara di siang hari tidak akan terlalu panas, dan tidak akan terlalu dingin di malam hari. Sangat cocok untuk bersantai dan menghabiskan waktu bersama, terutama jika pekerjaan 'sampingan' anda sebagai pemadam kebakaran, benar kan?"

Luffy masih tidak menanggapi, ia melepas syal dan jaket tebalnya. Wanita itu berpindah tempat duduk, dan merapikan jaket serta syal milik Luffy.

"Kalau tidak salah bulan november itu…"

"Diam,Robin."

Wanita yang dipanggil Robin itu tersenyum, "Baiklah…"

Perjalanan mereka memakan waktu hingga 19 jam lebih, pesawat tiba di bandara internasioal Brazil pada pukul 3 dini hari. Saat Luffy keluar dari pesawat dan menuruni tangga ia bisa melihat beberapa anggota keluarganya, namun ia tak melihat ayahnya dan kedua kakaknya.

"Selamat datang, Luffy" salah satu dari anggota keluarganya menyambut, namanya Marshall D Teach yang sekaligus merangkap sebagai wakilnya.

"Seperti biasa, kau tidak tidur?" tanya Luffy enteng dan dijawab tawa wakilnya,

"Kau tahu benar seperti apa aku itu Luffy, Zehahaha~" Teach melirik orang yang ia hormati itu dengan senyum lebar menyindir, "Bagaimana pekerjaan sampinganmu, aku dengar kau beraksi dengan keren ditangga-tangga"

"Kenapa kalian memanggilku?" Luffy mengacuhkan dan malah melempar pertanyaan, walaupun ia sudah tahu tapi ia merasa sangat kesal dan ingin mendengarnya secara langsung,

Marshall D Teach mengetahui jika orang disampingnya ini sedang naik darah dan hanya ingin mencari samsak terdekat, laki-laki berjenggot yang sering dipanggil Kurohige itu melirik kesal dengan diam, ia memutuskan untuk menyuruh Luffy bertanya pada ayahnya sendiri.

"Kalau soal itu, yah, tanyakan pada ayahmu sendiri…"

…..


Zoro masih tidak tenang, sudah dua hari suaminya tidak pulang. Ia tak bisa mengirimkan form orang hilang ke polisi karena masa lalu Luffy, namun ia tidak bisa duduk diam tidak melakukan apapun.

Zoro berjalan perlahan ke dapur untuk memasak sesuatu, walaupun Luffy tidak pulang ia harus memasakkannya makanan sehingga kalau Luffy tiba-tiba muncul didepan pintu suaminya bisa membersihkan dirinya dahulu lalu makan. Setelah itu Zoro bisa menjitaknya dan menghukum laki-laki itu, atau apapun, terserah.

Setelah makanan sudah siap didepan meja, Zoro memanaskan air. Ia membaca ulang surat yang dikirimkan oleh keluarga Luffy beberapa waktu yang lalu, ia memang tak mengerti bahasa yang ditulis. Namun didalam pikirannya, mungkin saja jika kunci perginya Luffy ada disurat ini.

…..


Luffy sampai dirumahnya, banyak orang yang berjaga disana. Ia bisa melihat mobil-mobil yang lalu lalang mengecoh orang-orang agar tidak mengetahui apa yang terjadi di rumah besar itu. Luffy keluar dari dalam mobil, ia memakai topi jerami dan mendobelnya dengan topi hitam. Sambil diekori oleh Robin, Franky, dan Kurohige mereka memasuki rumah.

"Selamat datang Luffy, welcome home…" Ace datang dan menubruk adiknya, disusul oleh Sabo.

"Lalu mana 'istrimu' itu?" Sabo menepuk pundak adiknya, ia tak bermaksud menyindir. Ia benar-benar penasaran dengan sosok orang yang mampu membuat adiknya luluh.

"Tidak ikut" jawab Luffy singkat,

Ace dan Sabo berpandangan, dan menyahut bersamaan, "Oke ?"

Makino maju dan mempersilahkan mereka semua untuk duduk, semua anggota keluarga D duduk ditempat mereka masing-masing dan mengarahkan pandangan mereka pada orang yang memimpin keluarga D setelah Luffy pergi. Monkey D. Dragon yang duduk diujung bersebrangan dengan Luffy, mata itu menatap tajam sang anak.

Kurohige menelan ludah takut, orang yang diujung sana adalah orang yang paling dicari nomor satu didunia. Terutama setelah wajahnya ditato seperti itu, bahkan untuk beli minuman saja pasti dia membutuhkan penjagaan yang ketat. Marshall D. Teach merasakan ketidaknyamanan untuk duduk disofa.

"Aku rasa kau sudah tahu kenapa kau dipanggil kesini, Luffy…"

"Aku tidak tau sepertinya, bisa kau katakan padaku sekali lagi?"

Setiap orang yang berada diruangan ini dapat merasakan jika lehernya tercekik, udaranya sangat padat, kebanyakan penjaga mudur dan memilih untuk berjaga diluar karena tidak tahan dengan suasana tegang.

"Apa istrimu itu bisa memberikanmu keturunan Luffy?"

Ucapan itu membuat seisi ruangan senyap,

"Atau kau ingin aku mengajarimu soal materi sekolah dasar ?"

Sedetik kemudian Dragon menarik kepalanya kesamping karena tiba-tiba Luffy sudah mendaratkan kakinya nyaris mengenainya. Dragon melompat kesamping, dan Luffy mengejarnya, kaki dihantamkan, kepalan tangan diarahkan, bahkan Luffy rela memukul dinding rumah saat serangan pada kepala ayahnya sendiri meleset.

Luffy melompat sambil memutar kakinya, sedangan Dragon menghindar sambil mencari celah untuk melumpuhkan anaknya. Luffy mendarat dan menekukkan kakinya dengan mengarahkan kaki kiri pada ayahnya lagi, para anggota D yang lain melihat kedua ayah dan anak itu dengan serius.

"Au, armada, dan kombinasi esquiva, anak itu memang serius ingin membunuh Dragon-san…" Sabo mengamati gerakan Luffy, sedangkan Ace tampak tidak perduli.

Dragon mengganti kuda-kudanya, tiba-tiba ditengah Luffy melakukan gerakan lompatan menendang Dragon menghantam kaki Luffy dengan jab, diikuti menarik kaki Luffy hingga membuatnya harus memutar sambil berusaha menendang Dragon dengan kakin kanannya.

Menghindari gerakan berbahaya itu, Dragon melepas kaki Luffy dan mundur, "Bagus juga refleksmu Luffy…"

Tidak ada jawaban, masing-masing sudah mengganti kuda-kuda mereka. Luffy melompat dan mengantamkan kepalan tangannya, namun ditangkis oleh Dragon dengan menghindar lalu menarik Luffy ke tengah-tengah keluarga D. Mereka mendarat kaca meja yang ada ditengah, seketika meja itu remuk, dan hancur.

Tidak ada yang bersuara atau takut, namun Kurohige memekik karena meja kaca yang pecah,

"Oi,oi,oi harga meja kaca itu mahal!"

Ditengah-tengah Dragon dan Luffy saling mengunci, mereka saling menatap satu sama lain. Mereka tak bergerak, masing-masing dari mereka memutar otak untuk mencari celah, dan berdiri diam hingga beberapa menit kemudian seseorang meneriaki mereka untuk berhenti.

Garp muncul ditemani oleh orang-orangnya, "Apa yang kalian lakukan bodoh, meja itu mahal!"

Mereka berhenti kemudian duduk disofanya masing-masing, Garp menatap semua kekacauan dengan jengkel. Ia lalu menyuruh Ace, Sabo, dan Luffy untuk mengikutinya, sambil mendekati Kurohige untuk membersihkan kekacauan, "Eh, Kenapa aku!?"

"Pokoknya bersihkan, aku mau berbicara dengan mereka bertiga"

"Geh, Kakek!"

Garp dengan ketiga cucunya menghilang dibalik pintu, dan masing-masing anggota D pergi. Kurohige melotot lalu segera menyuruh anak buahnya untuk membersihkan kekacauan, ia menggeleng heran dengan keluarga satu itu, "Benar-benar tidak beres!"

….


….

Luffy berjalan didepan kedua kakaknya, ia mengekori Garp hingga mereka sampai di balkon. Garp menunjuk beberapa rumah dan mengatakan kalau itu adalah markas anak buahnya, lalu menjelaskan beberapa hal tentang kartel yang kemarin hampir saja dibongkar kepolisian.

"Kenapa kau tidak mengangkat Kurohige, Traflagar, atau Ace saja sebagai bosnya Kakek?"

Alis Ace mengkedut karena mendengar ucapan Luffy, nada penuh emosi masih bisa dirasakan oleh ketiga orang itu. Sabo hanya menyender ke dinding dan menatap Garp yang terlihat kesal, "Seenaknya kalau ngomong, kau kira ini mainan!?"

"Aku bilang tidak mau, ya tidak mau!"

"AKU TIDAK MINTA PENDAPATMU!"

Sabo mendekati kakeknya lalu memintanya untuk tenang, Grap menarik nafasnya lalu mendengus.

"Kami mengharapkanmu sebagai ketua selanjutnya, kau memiliki hal yang sama seperti ayahmu" Garp berujar dengan nada yang sedih, ditambah dengan tatapan Luffy yang seakan-akan mengatakan padanya jika dia sudah tidak mau tau dengan apapun.

"Punya anak, lalu kami akan melepaskanmu. Itu saja sudah cukup"

"Yang benar saja, Kakek menyuruhku untuk punya anak lalu lari begitu saja?"

"Luffy!" Ace mengingatkan adiknya untuk tidak berteriak, tiba-tiba pria penyandang Portgas D itu menyingkir, memilih pergi dari sana. Sabo menatap punggung saudaranya dengan prihatin sambil menyusulnya begitu saja, sebelum itu ia mengingatkan Luffy untuk tidak banyak memancing kemarahan Garp.

Garp menolehkan pandangan wajahnya pada Luffy setelah melihat Ace dan Sabo yang berjalan menjauh, ia menarik nafas lalu duduk pada kursi yang ada disebelahnya. Luffy memanggil seorang pelayan dan meminta dibawakan minuman, "dan satu handphone…" permintaannya dijawab anggukan, sang pelayan pun menghilang dibalik pintu.

"Jadi bagaimana keadaanmu Luffy?" Kakeknya bertanya,

"Baik-baik saja…"

Garp bersyukur, lalu ia bertanya lagi, "Bagaimana dengan Zoro?"

Luffy meringis, "Dia baik-baik saja, mulai belajar bersikap seperti seorang istri…"

Garp tertawa sebentar, "Pasti sulit baginya …"

Luffy menyambut tawa kakeknya dengan kikikan kecil, kemudian menutup mulutnya dengan tangan saat pelayan datang membawakan pesanan mereka. Ketika pelayan itu pergi, ia mulai mengeluarkan 2 kartu slot dan memasukkannya pada hanphonenya yang baru.

Garp mengambil minuman dan menyesapnya perlahan, "Kartel kita kemarin hampir dibongkar oleh polisi…" sambungnya saat melihat Luffy yang asik bermain handphonenya.

"Ganti saja orangnya, hilangkan semua Lanternas dan jurnalisyang terlibat, jangan lupa ganti surat kerjanya …" jawab Luffy enteng, ia masih memainkan handphonenya,

"Hmm…" Garp mengangguk sambil menyesap minumannya lagi. Ia lalu meminta pelayan untuk memanggil Kurohige, dan menyuruhnya untuk datang menemui mereka, "Sekalian dengan cherry pie oke?" kata Garp dijawab anggukan pelayannya.

Beberapa saat kemudian Kurohige muncul diikuti pelayan yang meletakkan 3 piring cherry pie, Kurohige duduk dengan wajah penasaran.

"Terimakasih atas kerja kerasmu, makanlah" Garp mempersilahkan Kurohige dan dijawab tawa senang,

"Kurohige, ganti lanternas dengan orang-orangmu dan cari jurnalis yang kemarin, kalau perlu bakar saja kantornya…" Luffy berucap, dibalas anggukan Kurohige.

"By the way, kau tahu cara mengubah pola kunci hape ini, aku tidak mengerti…" Luffy menyodorkan hanphonenya dan disahut Kurohige,

"Begini, kan kau buka settings, disitu ada—"

….


….

Nami duduk diberanda rumah Zoro sambil mengoyang-goyangkan kakinya, disamping Nami Sanji dan Ussop sibuk saling bahu membahu untuk membuat bonsai dari kawat, mereka bilang ini akan dihadiahkan pada salah satu anak tertua Ussop.

"Lebih baik beli makanan kan?" Nami menggerutu, tapi dibalas Sanji.

"Nami-san, kalau bonsai bisa dibuat pajangan-kan, kalau makanan bisa habis sekali makan…"

Nami mendengus kesal, lalu menatap Zoro yang keluar dengan 4 gelas teh dan kacang roast chestnut sebotol besar. Nami menghampri Zoro dan membantunya membawakan teh,

"Pas banget buah chestnut!" Ussop melupakan pekerjaannya dan menyambut botol besar buah chestnut, diikuti Sanji yang juga bersemangat.

"Oe, Jangan berebutan!" Zoro duduk bersila, namun tidak digubris kedu temannya. Nami mengambil teh dan menyesapnya perlahan, ia menyadari tindak tanduk Zoro yang berubah menjadi dirinya yang dulu.

"Zoro, um, suami kamu masih belum pulang ?" Nami mencoba bertanya, namun Zoro hanya diam saja. Lalu menggaruk belakang kepalanya dan menarik nafas, belum juga menjawab pertanyaan Nami, kedua temannya yang lain menyerobot.

"Lupain aja deh Zoro, cari cewek lain!" Ussop menyeletuk, ia sibuk mencoba mengigit biji itu dengan giginya walaupun ia tahu kalau giginya yang akan lepas duluan.

"Ussop!" Nami melotot, tapi Sanji malah mengangguk, "Bule itu sering sekali melakukan hal seenaknya, itu kenapa jarang sekali mereka menetap di sini…"

Nami memukul keduanya lalu meminta maaf ke Zoro, namun hanya dijawab tawa sahabatnya itu. Zoro ikut membuka biji chestnut dengan pisau lalu memberikannya ke Ussop, temannya berhidung panjang itu menerimanya dengan bahagia.

"Yah, begitulah. Kita lihat saja nanti…" jawabnya enteng, entah kenapa jawabn Zoro membuat Nami merasa sangat kesal. Sanji melirik kearah temannya bingung,

"Aneh melihatmu jadi baik begini, Marimo…"

"HAH, APA KATAMU!?"

"Woa, Marimo kembali ke dirinya yang dulu…"

Nami tak menghiraukan Sanji dan Zoro yang mulai berkelahi, ia tahu jika Luffy menghilang lebih dari 3 minggu yang lalu—Zoro sendiri yang mengatakan hal itu padanya, mungkin temannya itu lupa. Sekarang sudah tanggal 25 Oktober, dan sebentar lagi festival musim gugur akan diadakan, ia tak ingin Zoro merasa sedih. Nami berpikir keras, jika Luffy meninggalkan sahabatnya begitu saja setelah 5 tahun bersama alasan yang paling mungkin adalah karena dia bosan, atau secara simpelnya Luffy sudah tidak mencintai Zoro lagi.

Tapi bukankah mereka menikah tanpa dasar cinta?

Mungkin ini kesempatan baginya untuk menyelamatkan Zoro?

Menyelamatkan cintanya dulu?

Ussop mencoba memisahkan kedua temannya, namun perhatiannya tertuju pada Nami yang melamun. Ia bahkan berteriak, "Lihat Nami saja sedih melihat kalian berkelahi, iya kan Nami!"

Mereka seketika berhenti, namun Nami masih melamun. Membuat mereka bingung, Sanji mendekati Nami dan menepuk pundaknya. Nami terkejut, "Iya, kenapa Sanji-kun?"

Sanji sedikit menarik alisnya, ia yakin melihat senyum tipis yang licik dari sahabat jeruknya ini.

….


….

Luffy menatap tanggal yang tertera pada layar handphonenya, tertulis angka 1 November disana. Jikat tidak salah, musim gugur akan sampai pada puncaknya beberapa hari lagi. Sedangkan ditempatnya kini sedang dilanda musim dingin yang kering dan menyebalkan, Luffy melirik kesal kearah kertas ditangannya.

Ia harus ikut dalam pertemuan ini, orang didepannya bermata bulat, perut bucit, dan sangat senang mengepulkan asap dari cerutu. Ia bercerta panjang lebar tentang sistem Triad yang mulai diendus masyarakat luas, lalu menunjuk kearah dirinya sendiri—dia mengaku sebagai mantan Triad Tiongkok— dan meminta kerja sama.

"Terdengar menarik, Capone 'Gang' Bege…" Luffy melempar kertas-kertas itu keatas meja,

"Si tangan panjang itu memang jenius, kita bisa kaya raya dalam mendadak!" Laki-laki bernama Bege itu tertawa jahat, lupa jika dia menggendong bayinya.

"Akan aku diskusikan, kau bisa kembali kekamarmu…" Luffy menjawab lagi, disambut anggukan Bege ia pamit.

Luffy menarik nafas panjang, ia masih belum bisa keluar dari masalah 'penerus' itu. Kini, ia harus ektra keras mengejar beberapa ketertinggalan karena kartel yang hampir terbongkar.

"Apa ada orang dalam, ya?" gumamnya perlahan setelah habis menenggak segelas bir, lama ia terdiam dan muncul seluet Zoro didalam kepalanya. Luffy snap it, dan membanting gelas besar keatas meja sampai hancur. Ia beranjak dan pergi meninggalkan ruangan itu diikuti orang-orangnya yang berseragam lengkap.

Bagaimana bisa ia mendapatkan seorang anak?

Luffy yang tiba digedung utama rumahnya berjalan menuju ruang tengah yang terhubung dengn tangga menuju lorong kamarnya, ia melepas topi, jas, dan sepatu luar, kemudian berjalan menuju tangga. Saat ia melihat pelayan yang membersihkan vas, terngiang kata-kata Garp saat mereka berada di balkon beberapa minggu yang lalu.

Luffy melewati seorang pelayan muda yang tengah membersihkan vas, gadis itu memiliki rambut pendek berwarna kuning cerah, ia pun memanggil sang pelayan,

"Siapa namamu?" Luffy menatap wanita pendek itu dengan tatapan mengintimidasi, sedangkan sang pelayan menjawab dengan nada bergetar.

"Na-nama saya Carrot, Jovem Mestre" jawabnya mantab,

"Carrot, kekamar nanti malam jam 10. Dengar?"

"Bom, Meu senhor" jawab sang pelayan. Luffy melengos pergi, meninggalkan pelayan itu dengan penuh kebingungan didalam otaknya. Ia melihat tuan muda yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya sendiri lalu melanjutkan pekerjaannya.

Ia melirik kearah jam dinding, ternyata sudah jam 9.56 malam. Carrot segera berjalan menuju kamar tuan mudanya dengan gugup, rok panjang berwarna putih yang dibalut celemek itu digenggam erat. Saat sampai didepan pintu, ia mengetuk permukaan kayu ulin itu dengan perlahan. Carrot baru berani membuka pintu saat terdengar suara 'Masuk !' dari dalam ruangan.

Carrot menatap tuan mudanya, ia melihat laki-laki itu sedang duduk sambil menyandarkan kaki diatas meja. Ruangannya luas, kasurnya besar, dan disebrangnya terdapat sofa—tempat Luffy bersantai sekarang— ditambah hiasan dinding yang berupa lemari portabel berisi trofi, sertifikat, foto, wine, dan hiasan lainnya.

Luffy menyuruh Carrot untuk menutup pintu, dan mempersilahkannya duduk. Carrot yang hafal dengan sifat Luffy segera menuruti perintahnya dan duduk dibawah, wajahnya mengadah langsung menatap tuan mudanya.

"Carrot, kau mau aku beri penawaran?" Luffy memutar posisi tubuhnya setelah menurunkan kakinya, ia membalas menatap Carrot. Wajah mereka hanya 5 inchi, Luffy bisa menangkap rasa takut didalam tatapan Carrot sekarang.

"A-apa itu, Jovem Mestre?"

"Beri aku anak, semua biayanya akan aku tanggung…"

Pelayan itu terdiam, ia membeku. Apa maksud tuan muda didepannya ini?

"Aku beri waktu 10 detik, dimulai dar—"

Carrot seketika menolak, "m-maaf Jovem Mestre, aku sudah memiliki seorang tunangan!"

Luffy kaget karena gadis didepannya itu berani memotong perkatannya, senyum tipis Luffy mengembang kemudian tangannya menyergap pipi sang pelayan. Matanya menatap dengan tajam, intimidasi yang diberikan Luffy mampu membuat gadis didepannya itu mengigil sampai berkeringat dingin.

Bagaimana bisa Carrot mengandung anak dari seseorang sejahat laki-laki didepannya?

"Carrot, aku tidak mau dengar yang lain, iya atau tidak?"

Cengkraman tangan Luffy yang kuat membuat rahangnya sakit, dari kedua ujung matanya merembes sedikit air mata, ia juga kesulitan untuk menjawab. Kedua tangan Carrot meraih tangan Luffy, mencoba melepaskan cengkraman itu.

Ia takut mati, takut juga dihukum, Carrot segera mengangguk dan mengiyakan. Hal itu dijawab cengiran lebar Luffy, tangannya segera dilepas dari wajah Carrot membuat gadis itu terbatuk disela-sela tangisannya. Tangan Luffy beralih ke lengan Carrot, ia menarik gadis itu dan melemparnya ke sofa.

…..


…..

Sanji muncul dengan kue besar bertuliskan 'selamat ulang tahun' lalu meletakkan kue itu diatas kotatsu. Ussop, Nami, dan Zoro terpana takjub, ternyata teman-rivalnya satu ini masih bisa diandalkan untuk memasak.

"Gimana?" Sanji duduk dengan hidung panjang tanda kesombongannya,

"Keren sekali!" Nami memuji karya Sanji, membuat hidung Sanji tambah panjang.

"Mantap sekali, Sanji!" tepukan demi tepukan dilancarkan Ussop pada pundak Sanji, tambah panjanglah hidungnya.

Mereka bertiga menoleh kearah Zoro, laki-laki itu malah menunduk sambil mengusap wajahnya, ada rona merah dipipinya, kemudian tersenyum lebar kearah ketiga temannya.

"Terimakasih, kalian semua…" ucapnya penuh dengan rasa suka cita, dan dibalas oleh mereka bertiga dengan sipu malu.

Nami kemudian mengeluarkan koshinokanbai, ia meletakkannya ditengah-tengah meja kotatsu sehingga membuat ketiga temannya terkejut. Terutama Sanji karena sangat aneh rasanya jika Nami membawa sake kuat seperti ini—namun di acuhkannya.

"Lomba minum, gimana?" Nami melirik kearah teman-temannya dengan nada menantang, Sanji menggeleng dibarengi dengan Ussop namun dijawab anggukan Zoro. Sanji ikut memegang botol sake itu dengan wajah serius,

"Lebih baik jangan, maksudku sake ini sangat keras, mungkin sekitar 10 gelas kalian sudah mabuk berat!" katanya namun dibalas tatapan tidak suka oleh Nami.

"Ayolah jangan merusak suasana Sanji-kun, aku rela membeli sake mahal ini hanya untuk hari ini!" Nami membela diri, jawaban itu membuat Sanji menarik tangannya lagi. Mereka akhirnya melakukan lomba minum, baru 2 gelas Ussop sudah berpamitan. Terpaksa Sanji harus mengantarkan Ussop kerumahnya karena sahabatnya itu mabuk keras.

"Ussop bajingan kau bisa dimarahi Kaya-san bodoh!" Sanji membopong Ussop dan hanya dijawab teriakan tidak jelas.

Nami menutup pintu, ia menguncinya lalu berjalan menuju kamar madi. Nami mengeluarkan semua sake yang masih dimulutnya lalu berkumur. Ia segera mengirimkan pesan ke Sanji jika ia sudah pulang karena kalah, beberapa menit kemudian ia mendapat balasan dari Sanji.

'Memang ide buruk Nami-san, tapi jika kau sudah dirumahmu sendiri itu lebih bagus. Sake itu sagat keras bahkan untuk dirimu yang kuat minum'

Nami mengantongi hanphonenya, ia menatap dua buah pot bunga yang dijejerkan kalau tidak salah itu kosmos dan onak. Warnanya merah, dan bunga onak yang masih belum mekar menggembung berwarna hijau, Nami mendekati kedua pot itu lalu menarik bunga kosmosnya hingga habis. Ia meremas kelopak bunga itu dan membuangnya ke kotak sampah.

Nami muncul dari kamar mandi, ia berjalan mendekati Zoro yang tertidur di kotatsu karena teler. Nami duduk disamping laki-laki itu, ia bisa melihat botol sake yang sudah kosong melompong. Kemudian menarik meja kotatsu hingga kepinggir, pikirannya sudah kalap.

Mungkin saja malam ini ia bisa merebut cinta lamanya kembali?

Nami meringis jahat, ia meraup wajah Zoro yang masih terpejam tidak sadar. Sake itu mungkin sangat kuat sampai-sampai Zoro tak sadarkan diri—atau mungkin juga masih teler dan tidak merasa apapun?

Malam dengan cepat berlalu, hingga akhirnya gadis orange itu merasakan panasnya udara siang hari. Ia terbangun, masih berada diatas Zoro. Sedangka laki-laki itu masih tidak sadar, terpukul oleh malu Nami segera membersihkan dirinya, tak lupa dengan Zoro. Ia mengelap hasil kegiatan mereka dan memperbaiki pakaian Zoro lalu menarik meja kotatsu kearah semula dan pergi meninggakan tempat itu menuju rumahnya sendiri.

Sejam kemudian Zoro terbangun, kepalanya sangat pusing, perutnya mual, dan bagian bawahnya ngilu. Ia terduduk dan merengsek keluar dari selimut kotatsu, segera mandi dan membersihkan dirinya. Ia mengelap wajahnya dengan handuk lalu duduk diatas wc duduk, mata teruju pada kedua bunga yang sengaja ditaruhnya disitu. Ia bisa melihat bunga onak yang sehat namun disebelahnya bunga kosmos sudah rusak, seperti ditarik paksa.

"Siapa yang—?" ada sesuatu yang aneh saat ia berbicara, Zoro menemukan sebuah rambut didalam mulutya, berwarna oranye. Mungkin karena saking mabuknya mereka berantem atau jambak-jambakan, ia membuangnya ke kotak sampah dan mengacuhkannya.

Zoro keluar dari kamar mandi, ia memasuki kamarnya. Saat membuka lemari matanya tertuju pada tumpukan baju Luffy yang masih rapi terlipat ditempatnya, biasanya akan berantakan karena Luffy akan menarik baju-baju itu dan menjejalkannya sembarangan. Sudah sebulan lebih ia tak mendengar kabar Luffy, ia juga tak mencoba menelpon nomornya karena awal-awal kepergiannya nomornya sudah tidak aktif.

Setelah berpakaian ia menekati telpon rumah dan menekan nomor Luffy, ia melihat kalender yang dilingkari. Hari ini tanggal 11 november—hari ulang tahunnya—dan Luffy tidak memberikannya kabar sama sekali, sebenarnya kemana dirinya?

Apa hubungan mereka berakhir begitu saja?

Zoro menarik nafas jengkel, "Seengaknya bilang makasih,kek!" gumamnya sambil menempelkan ujung telpon ke telinganya.

…...


…...

Luffy baru saja kembali dari kantornya, ia memasuki mobil ditemani oleh Kurohige,

"Jam?" Luffy bertanya, ia mengambil sebotol air mineral dari bak es yang disediakan. Kurohige menarik lengan baju,

"5 sore" jawabnya, kemudian ikut menenggak air mineral.

Beberapa tegukan lolos, Luffy meletakkannya kembali dalam bak kemudian menerima beberapa kertas dari wakilnya, saat membaca semua tulisan disana dengan serius handphonenya berbuyi. Ia menarik hanphonenya terlihat seseorang memanggil, nomor rumah dan berasal dari regional jepang.

Tidak ada nama, karena baik Luffy dan Kurohige tidak becus dalam mensinkronkan kontak di memori handphone. Saat mereka melihat nomor yang tertera seketika kaget dan bingung, "Mungkn saja nomor dari kantor kerjamu dijepang"

"Bodoh!"

"Hei, mungkin saja kan?"

Luffy memencet jawab, ia tak mengatakan apapun hanya menempelkan hanphonennya ditelinga. Diujung sana terdengar suara yang ia kenal, nadanya terkejut, sedih, khawatir, penasaran, dan marah semua bercampur jadi satu. Bagi Luffy hal ini juga mengagetkannya,

"Luffy, kau kah itu?"

Segera laki-laki itu mematikan panggilan, ia mencabut kartunya lagi.

"Hah? Kenapa?" Kurohige terkejut dengan prilaku saudaranya satu ini,

Luffy teringat sesuatu, tepat saat melihat tanggal yang terpampang dilayar handphonenya. Ia melotot, dan menatap Kurohige lagi,

"A-aku harus pulang…"

Kurohige hanya menatap bingung, dan menjawab sekenanya—yang segera ia hentikan karena tak ingin menjadi samsak terdekat bagi Luffy. Orang itu hanya menyuruh ketuanya tenang hingga sampai kerumah keluarga D.

…..


….

Zoro terhenyak saat telponnya dimatikan, ia mencoba menelponnya lagi tapi tidak aktif. Zoro meletakkan gagang telpon dan segera menyingkir, ia tak ingin lagi mencoba menghubungi Luffy. Mungkin ini waktu yang pas untuk mempertimbangkan perceraian namun mungkin juga menyulitkannya karena mereka menikah di Brazil saat itu.

Ia mengusap wajahnya, lalu membersihkan ruang tamu. Kue yang dibuat Sanji tadi malam masih belum disentuh, bahkan lilinnya juga meluber kekuenya, Zoro akhirnya duduk sambil menyalakan televisi, ia memakan kue itu sebagai teman nonton.

Ia ingat bagaimana saat bertemu dengan suaminya, saat ia masih menjadi atlet kenjutsu. Seorang anak yatim-piatu yang mendapat beasiswa atlit sampai ke negara Brazil untuk bertarung pada pertandingan Kenjutsu Internasional, saat itu kalau saja tidak bertemu dengan Luffy dan mampir ngobrol sebentar dengannya mungkin ia tidak akan berakhir menjadi seperti ini.

Saat itu, ia bertemu dengan Luffy yang menjadi salah satu sponsor dari keluarga D. laki-laki itu bilang sangat menyukai Kenjutsu, dan mengajaknya berteman. Karena Luffy adalah satu-satunya orang dengan bahasa jepang yang lancar, membuatnya mau menjadi teman Luffy.

Mereka sempat keluar untuk hang-out, karena Luffy mengajaknya jalan-jalan di pasar malam. Saat mereka sampai, tempatnya memang sangat menyenangkan, beda dari yang biasanya ada di jepang. Saat itu mereka masih asik menyantap coxinha, saat itu instingnya mengatakan ada yang tidak beres.

Ia segera melindungi Luffy dari seseorang yang berusaha menembaknya. Jika ia tak pasang badan mungkin akan headshot, karena pelurunya tepat mengenai bahu Zoro. Malam itu ia ambruk, dan untuk orang seperti Luffy dilindungi oleh seseorang yang bahkan tak tahu siapa dirinya adalah hal yang sangat baru.

Zoro menguap, ia terbangun dan melihat jam yang menujukkan angka 12 siang. Ia melihat tv lagi, kemudian tertidur untuk kesekian kalinya.

Zoro terbangun kembali karena dering bell yang tidak berhenti, ia melihat jam yang menujukkan pukul 3 dini hari. Ia mengusap matanya sambil membuka pintu, ia masih mengantuk dan tidak sadar siapa yang berada didepannya. Saat namanya dipanggil barulah Zoro bereaksi,

"Kenapa pulang?" jawabnya saat Luffy memanggil namanya lagi,

Senyap, Luffy tidak menjawabnya, dan kelihatan Zoro tidak perduli. Saat Luffy masuk, Zoro mundur dan memberinya tempat lalu mengunci pintu kembali. Laki-laki hijau itu berjalan menuju kamarnya tanpa memperhatikan Luffy yang menatap kue diatas kotatsu, Zoro tidur dengan rasa tenang untuk pertamakalinya setelah berminggu-minggu dihantui rasa khawatir.

Sedangkan untuk Luffy, ia menatap bekas loyang kue yang setengahnya habis dimakan. Seburket bunga onak diletakkan disampingnya, bahkan kotak hadiah juga tidak terlihat berharga lagi dimatanya. Luffy duduk menyandar pada pintu geser kaca, tidur di ruang itu.

Paginya Zoro terbangun, bersiap untuk membuat sarapan. Ia menangkap Luffy yang tidur dengan wajah ditutup topinya, karena tak ingin membangunkan Zoro mencoba untuk mengacuhkannya. Namun matanya tak lepas dari seburket bunga onak (yang kelihatan sangat aneh) dan sekotak hadiah yang dibiarkan tergeletak begitu saja.

Zoro merapikan tempat itu, ia meyimpan lagi kue buatan Sanji karena masih enak. Lalu berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan, beberapa menit kemudian ia bisa mendengar langkah kaki yang mendekat kearah dapur. Ia menoleh, mungkin banyak sekali hal yang terjadi sampai-sampai Luffy kelihatan kacau begitu.

"Pagi…" ucap Luffy saat meletakkan topinya diatas meja, lalu mengambil air mineral.

"Pagi, Luffy mandi dulu sebelum makan…" ucap Zoro, kemudian dijawab anggukan Luffy. Laki-laki itu menuju kamar mandi, ia melihat sisa sampah yang ada dikotak, ia bisa melihat sebuah kelopak bunga dan sehelai rambut. Mengingat Nami itu sering sekali bersama Zoro terlintas sedikit diotak Luffy.

"Zoro, kenapa bunga kosmos dibuang ke kotak sampah?"

"Eh, benarkah?" Zoro muncul, kepalanya dilongokkan, "kemarin memang rusak, aku tidak tahu…"

"Bukannya ini hal yang tidak penting?" sahut Luffy malah membingungkan Zoro,

"Lalu kenapa kau tanya?"

Luffy mencopot bajunya, ia melirik kearah Zoro yang murni bingung sambil meringis, "tidak apa-apa hanya penasaran…."

Zoro kembali ke kegiatannya, sedangkan Luffy mulai berendam di bathub diisi dengan air dingin. Hal yag cukup ia sukai mengingat berminggu-minggu ia di Brazil memikirkan bagaimana memiliki seorang anak. Ia yakin malam itu sudah membuahi pelayannya, malam itu juga ia sudah mengatakannya ke Dragon. Mereka memang sempat bentrok dan hampir saling membunuh, namun diakhir perkelahian mereka Dragon mengatakan jika nasib Carrot berada ditangannya.

Memangnya sejak kapan Luffy peduli?

Semua lelah dipundak Luffy sedikit luntur, ia menatap lagi bunga kosmos yang sudah mengeluarkan kelopak bunga yang belum mekar. Meski dirusak tanaman itu masih tumbuh dengan kuat ditempatnya, ia melirik tubuhnya yang dipenuhi bekas luka, apalagi kini ada luka baru membentang dari lengan atas hingga pojok lingkar tangannya karena Dragon yang menggunakan belati. Rasa perih yang tadi menusuknya sudah sedikit memudar, sekarang yang ia pikirkan adalah, apa gadis yang namanya Nami itu benar-benar melakukannya?

"Menjebak istri orang, dasar tidak tahu adat..."

…..

…..


[abovetopsecret][TBC]