Naruto [masashi kishimoto]

Highschool DxD [Ichie ishibumi]

Summary :

Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.

.

.

Saat ini aku ada di Perancis, tepatnya aku saat ini ada di rumah milik gadis yang satu minggu yang lalu menjadi wadah roh Jeanne D'arc saat perang perebutan perangkat suci Holy Grail yang seharusnya menjadi sebuah Sacred Gear dalam tingkat Longinus. Sebuah cawan yang dalam legenda di gunakan 'Ayah' pada saat perjamuan terakhir dalam hidupnya sebagai manusia dan juga kata Longinus dalam tingkatan Sacred Gear tak lepas dari pasukan yang diperintahkan oleh raja pada saat itu untuk menempatkan 'Ayah' pada kayu penyaliban dan pasukan Longinus pada saat itu menggunakan sebuah tombak yang sekarang menjadi wujud Sacred Gear bernama True Longinus.

"Apa gadis itu sudah sadar, Leaticia?" tanyaku pada seorang gadis dihadapanku. Dia adalah Leaticia, gadis yang mengikuti perang perebutan Holy Grail dan setelah satu hari tidur ia sadar dan masih mengingat diriku dengan nama Naruto.

"Yah seperti yang kita tau Naruto-kun, gadis itu pasti sangat lelah karena ini sudah memasuki hari ke enam sejak kita tiba di Perancis" ya apa yang kau katakan ada benarnya, Leaticia-chan tapi kenapa dia bisa selelah itu?

"Emm..." kami berdua terdiam karena mendengar suara erangan berasal dari kamar milik gadis dengan rambut putih seperti salju yang lembut. Kami berdua saling pandang dengan sinyal masing-masing seperti komunikasi dengan tatapan juga pikiran yang sejalan diantara kami berdua.

'Dia sudah sadar / Gadis itu sudah sadar'

Meanwhile...

"Emm" aku membuka mataku setelah berjalan sekian lamanya karena Zedekiel-sama memberitahu diriku bahwa pujaan hatiku ada di Rumania. Kenapa pujaan hati? Karena aku dulu pernah diselamatkan oleh dirinya saat salah seorang pembunuh bayaran memasuki kamarku dengan putus asa aku yang saat itu masih berumur dua belas tahun hanya menatap kosong pembunuh tersebut. Pembunuh dengan topeng polos tanpa ekspresi juga di tangannya terdapat sebilah pisau yang tajam jika saja 'Dirinya' tidak datang maka aku akan bertemu dengan sang pencipta.

"Aku ada dimana? Ini bukan rumah sakit tapi aku yakin bahwa ini adalah rumah milik seseorang" itulah asumsiku tapi jika benar maka, ini rumah milik siapa?

Krieet...

Aku mengalihkan pandangan pada pintu masuk yang terbuka dari luar dan sepasang manusia berbeda gender masuk ke ruangan ini. Tu-tunggu, itu di-dia adalah Hikari-sama, sang cahaya.

"Hi-hi..." ucapanku terhenti karena melihat dibelakang gadis itu Hikari-sama mengatupkan mulutnya dengan jari telunjuk tepat didepan bibirnya.

"Siapa kalian?" walaupun terdengar klasik tapi mau bagaimana lagi karena aku memang tidak mengenal gadis itu dan nama yang di pakai Hikari-sama saat ini.

"Ahh namaku adalah Leaticia dan pemuda ini adalah Naruto, dia pengembara dari jepang tapi anehnya dia tidak ada marga keluarga Hufft..." gadis itu mengenalkan namanya dan juga nama Hikari-sama saat ini adalah Naruto? Pfft... Naruto adalah kue ikan dari topping ramen itu kan?

"Kenapa kau tertawa dan siapa namamu, nona?" dapat kurasakan pipiku saat ini memanas setelah Hika... Naruto-sama memanggilku dengan sebutan Nona.

"A-ahh maafkan aku sebelumnya, namaku adalah Anastasyan, Nikolaevna Romanova, putri kekaisaran Rusia" jawabku seadany.a tapi wajah Leaticia tampak terkejut mungkin karena tau bahwa aku adalah seorang putri.k.

"Ma-maafkan aku tuan putri karena aku tidak mengenal anda" ahh inilah yang aku benci keformalan karena tau bahwa aku adalah tuan putri aku tidak memiliki teman.

Puk...

Tepukan pelan dapat ku rasakan pada kepalaku saat ku dongakan kepalaku dapat ku lihat senyuman milik Naruto-sama yang secerah sinar mentari pagi.

"Jangan sedih hanya karena derajatmu itu adalah anugrah dari-'Nya' jadi syukurilah anugrah tersebut" senyuman milik Naruto-sama sangat indah tapi kenapa hatiku bergetar? Apa aku jatuh cinta padanya? Tidakkkk! Dia adalah malaikat yang suci jika aku mencintainya dan ia membalas cintaku maka ia akan jatuh.

"Aku tidak akan jatuh semudah itu jadi tenang saja, Anastasya-hime" Dia bisa membaca pikiranku? A-a-apa yang harus aku lakukan? Aku malu karena Naruto-sama tau apa yang aku pikirkan.

"Tenang saja, jangan malu juga hilangkan panggilan hormat itu"

Bisakah kau hentikan itu Hikari-sama? Membaca pikiran orang itu perbuatan tidak sopan!

"Iya iya aku akan berhenti" syukurlah akhirnya kau mengerti

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Dari tadi aku hanya memperhatikan perubahan ekspresi Anastasya dan kau yang bicara sendiri, Naruto-kun" ahh iya kami melupakan salah satu orang yang ada di ruangan ini. Hmm jika dilihat dia cantik sekali seperti malaikat Gabriel, salah satu dari empat seraph di Heaven.

Aku tau memiliki rasa iri hati itu tidak sehat dan hanya merusak pikiranku tapi tidak salah kan? Aku adalah gadis biasa yang memegang sebuah Sacred Gear jadi wajar saja aku iri saat melihat orang yang cantik.

Normal POV...

Saat ini Naruto, Leaticia, dan Anastasya ada di dalam ruang keluarga namun ruangan ini tidak bisa dibilang ruang keluarga karena luasnya ruangan ini bagaikan ruangan meeting di sebuah kantor dengan beberapa sofa yang menghiasi ruangan tersebut.

"Ini tidak bisa dibilang ruang keluarga, Leaticia-chan" ucap Naruto begitu pula Anastasya yang menganggukan kepalanya setuju dengan si durian kuning tersebut.

"Sebenarnya ini adalah ruangan keluarga di rumah ku kalau terlalu luas aku mohon maaf hahahe" tertawa garing adalah yang dilakukan oleh Leaticia karena memang pada dasarnya keluarganya adalah keturunan bangsawan perancis.

"Ahh aku akan menghiraukannya jadi mari kita mulai..." Ucap Naruto dan kemudian ia melirik kearah Anastasya "...kenapa kau bisa sampai disini, Anastasya-hime?" Naruto bertanya dengan caranya sendiri tidak seperti seorang polisi yang mengintrogasi dengan kekerasan maka Naruto akan menggunakan cara halus penuh dengan kesabaran tinggi seperti sang kakak, Zedekiel.

"Aku sebelumnya ada dihutan perbatasan negara Rumania di kejar oleh prajurit kerajaan Rusia namun saat aku kehilangan harapanku seseorang datang..." tatapan mata Leaticia menajam begitu pula dengan pendengarannya "... Dia adalah seorang yang memiliki kesabaran tinggi juga memiliki sifat pemaaf, Zedekiel-sama adalah orang yang menolong ku juga memberitahuku bahwa ada orang yang akan menolongku di Rumania" tatapan mata Anastasya dan Leaticia mengarah pada Naruto yang hanya diam dengan kepala tertunduk juga suara dengkuran halus.

'Kusoyaro kono shounen / Kusoyaro kono Tenshi' pikir mereka berdua, entah kenapa pikiran kedua gadis itu sejalan juga berbanding lurus.

"Hei apa kalian tau? Dulu kakak perempuanku mengatakan jika ada yang mengajakmu berbicara maka dengarkanlah jadi kalian tidak pantas untuk berfikir seperti itu juga Maaf karena kelakuanku kalian berfikir bahwa aku sedang tertidur" ucap Naruto begitu saat ia mendengar pikiran kedua gadis dihadapannya.

"setelah mendengar ceritamu aku rasa aku adalah orang yang dimaksud oleh malaikat tersebut tapi aku hanyalah seorang pengembara yang tak pernah menetap pada satu tempat" akibat ucapan Naruto, Anastasya hanya menundukkan kepalanya karena apa yang dikatakan oleh Naruto adalah kenyataan karena saat ini Hikari sedang menjadi seorang pemuda yang bernama Naruto untuk membuat perjalanannya lancar tanpa ikut campurnya dunia supranatural.

"pertanyaannya adalah kau ingin tetap disini dan menemani Leaticia? Atau ikut denganku keliling dunia melihat karya ciptaan tuhan?" Anastasya diam dan berusaha mencerna perkataan Naruto namun dalam pikirannya adalah ia ingin melihat dunia yang luas ini karena ia sudah cukup untuk hidup didalam ruangan ataupun kerajaan.

"Aku akan ikut denganmu! Aku ingin mengelilingi dunia ini! Aku sudah cukup hidup dalam kekangan dan aku hanya ingin bebas" jawaban yang mantap disertai tekad keluar dari mulut Anastasya dan itu hanya di respon sebuah senyuman pasti milik Naruto.

"Kalau begitu mohon bantuannya, Hime-sama hehehe"

Perjalanan yang seru akan dimulai dalam waktu...

" tujuh hari lagi kita akan pergi ke belanda" wajah senang tiba-tiba berubah menjadi suram karena...

"Kau mengatakan tak akan tinggal di satu tempat, Baka!" teriakan Leaticia yang tiba-tiba mewakili perasaan jengkel dari seorang Anastasya.

"Aku memang mengatakan itu tapi setidaknya bolehkan kami untuk tinggal disini dalam beberapa hari" bisa dibilang itu adalah pemaksaan karena memang pada dasarnya Naruto memaksa untuk tinggal di tempat tersebut.

"Ahh terserah kau saja Naruto-kun tapi aku harap kau segera melanjutkan perjalanan mu" ucap Leaticia dan tampak Naruto terkejut karena ucapan Leaticia.

"Ka-kau mengusir ku? Setelah apa yang aku lakukan padamu?" ucap Naruto lirih setelah Naruto mengantar Leaticia dari rumania ke Perancis ia tiba-tiba diusir dari rumah sang tuan rumah hanya karena seorang gadis yang ingin ikut dalam perjalanannya.

"Bukan maksudku mengusirmu hanya saja seorang pengembara pasti ada tujuan dan kau harus secepatnya mencapai tujuan itu Naruto-kun" terjadi sebuah perdebatan kecil yah bisa disebut hal yang tidak masuk akal hanya karena izin menumpang untuk tinggal berubah menjadi perang saudara.

"Pfft..." kedua insan yang sedang berdebat itu mengalihkan pandangan mereka pada gadis yang sedari tadi diam "... Kalian seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah" tiba-tiba suasana mendadak hening hingga Anastasya tanpa sadar mengeluarkan keringat dingin di dahinya.

"TIDAKKKKKKK!" teriakan yang kompak keluar dan menggema sampai seluruh turis di menara Eiffel menjadi resah karena mendengar suara yang datang entah dari mana.

"Anastasya-hime, apa maksudmu? Aku menikah dengan gadis jutek ini? Asal kau tau kakak perempuanku lebih cantik dari dia dan namanya adalah Gabri..." tiba-tiba Naruto berhenti berbicara karena sadar bahwa kebodohannya ia akan membongkar identitas dirinya sendiri.

"Gabri? Nama kakak mu sebenarnya siapa Naruto-kun!" penasaran adalah yang orang lain rasakan saat ucapan Seseorang belum terselesaikan begitu pula Leaticia yang tampak kebingungan karena Naruto.

"Nama kakakku adalah Gabriela Anastasya, dia lebih cantik darimu walaupun jika dilihat kau memiliki ciri yang sama dengan kakakku" ucap Naruto dan apa dampaknya? Dampaknya adalah saat ini pikiran Leaticia seperti sedang dipermainkan karena kurangnya penjelasan dari Naruto membuat dirinya menjadi penasaran.

"Maksud mu? Jelaskan secara rinci jangan buat orang penasaran, Baka!"

"Kau tau? Kakak ku memiliki wajah cantik sepertimu, iris mata berwarna hijau bagai zamrud dan juga senyum yang indah saat kau tersenyum seperti senyum kakak ku saat ia sedang bahagia dan alasanku mengembara adalah untuk pulang secepatnya agar senyuman pada wajah kakakku tidak pernah luntur" kagum adalah yang terbaik untuk dilakukan Leaticia setelah melihat semangat pada mata Naruto. Semangat untuk melindungi seseorang yang disayanginya dan itu sungguh membuat Leaticia berfikir Apa aku juga termasuk? Namun apa daya Leaticia hanya dapat menerka-nerka saja.

"Ne Anastasya-hime, apa kau bisa bertarung? Setidaknya cukup untuk melindungi dirimu sendiri" tanya Naruto namun begitu pertanyaan itu keluar wajah Anastasya yang sedari tadi senyum melihat interaksi Naruto dan Leaticia tiba-tiba berubah menjadi murung dengan kepala tertunduk ke bawah hingga poni miliknya menutupi wajah dan menghalangi pandangan dari orang disekitarnya.

"..." masih terdiam hingga beberapa menit kemudian keheningan tiba-tiba pecah setelah Anastasya menghela nafasnya dan mengangkat kepalanya.

"Aku tidak bisa bertarung! Namun aku bisa menggunakan sihir dan karena itu..." jawaban yang awalnya mantap tiba-tiba berubah menjadi keraguan untuk menyampaikan apa yang sudah tersirat.

"Karena kau bisa menggunakan sihir rakyatmu memberontak dan meruntuhkan kekaisaran Romanova?" pertanyaan itu keluar dari mulut Leaticia dengan pemikiran cepat dan kritis tak ayal membuat seorang Jeanne D'arc meminjam tubuh Leaticia.

"Ya, memang kenyataannya begitu! Aku pada awalnya senang dan di anggap sebagai anak dalam ramalan karena dapat mengendalikan es yang tiap tahun selalu menumpuk di Rusia namun tiba-tiba ada seorang iblis yang masuk kedalam istana dan malangnya perdana menteri yang memang tidak menyukai pemerintahan raja mengajak rakyat untuk menggulingkan kerajaan dan seluruh anggota kerajaan yang melawan ditangkap dan di adili begitu pula dengan keluargaku mereka menuduh bahwa kami melakukan perjanjian dengan iblis" cerita yang suram berdasarkan pengalaman pahit yang seharusnya tidak di ungkit kembali namun pada hari itu pengalaman tersebut terbuka kembali bagaikan luka yang telah mengering dibuka kembali pasti akan perih dan tanda disadari oleh siapapun Anastasya menangis tanpa suara.

Grep...

"Menangislah jika itu perlu, menangislah hingga segala bebanmu terasa ringan dan jika perlu anggaplah aku sebagai kakakmu, Anastasya-chan" Leaticia mengeratkan pelukannya pada tubuh Anastasya, dapat ia rasakan bahu gadis itu bergetar dan kemudian lengan mungil itu terangkat dan membalas pelukan orang yang baru ia kenal pada hari ini.

Tak jauh berbeda dengan Leaticia tampak Naruto tersenyum melihat interaksi kedua gadis yang berbeda umur tersebut.

'Ayah, apa ini yang kau sebut manusia? Mahluk ciptaanmu yang sempurna dengan segala perasaan dan juga pikiran yang engaku ciptakan' itulah isi pikiran Naruto setelah satu minggu ada di dunia ini, melihat sifat manusia yang mengingatkan dirinya pada kesayangan sang 'Ayah', sang kakak yang telah terlupakan, sang bintang fajar, dia yang tewas bersama dengan sang 'Ayah' yang selalu memaafkan dirinya, sang raja iblis pertama, Lucifer.

Flashback...

Hikari POV

"Wahai anakku bersujudlah kalian dihadapan ciptaanku, Adam" masih jelas dalam ingatanku saat ayah memerintahkan kami para tenshi untuk menundukan kepala kami dihadapan pemuda yang ada disampingnya pemuda yang hanya menggunakan sehelai kain sutra buatan para malaikat menatap kami 'para malaikat' dengan tatapan kagum. Perlahan namun pasti kami menundukan kepala dihadapan Adam bahkan para Seraph namun ada satu malaikat yang tetap berdiri dengan wajah angkuhnya. Lucifer Nii-sama, tetap berdiri dengan gagahnya tanpa mempedulikan tatapan heran dari Adam.

"Kenapa kau tidak menundukan kepalamu, wahai Lucifer?" pada awalnya ayah berkata demikian, nada halus penuh dengan kesabaran keluar dari cahaya dihadapan kami.

"Aku tidak sudi menundukan kepalaku, Ayah! Aku Lucifer sudah bersumpah hanya akan menundukan kepalaku hanya padamu" aku kagum dengan tekatnya namun di satu sisi ia salah karena bagi kami 'para malaikat' perintah ayah adalah mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.

"Bagiku derajat kami lebih tinggi dari pada Adam dan juga bagiku adalah sebuah hinaan untuk menundukan kepalaku selain kepadamu" angkuh pada saat itu Lucifer Nii-sama bagaikan burung camar yang kehilangan bulunya saat melawan badai di samudra lepas.

"Kalau kau memang Mematuhiku maka turunkan kepalamu, wahai Lucifer" perkataan ayah yang sudah menjadi berat menjadikanku sedikit goyah karena yang aku tau ayah adalah sosok yang penuh dengan kesabaran dan juga kasih yang tinggi namun pada saat itu aku melihat kemarahan Ayah Lucifer Nii-sama tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

"Kalau begitu aku mencabut kuasamu wahai Lucifer, terkutuklah kau didasar dunia bawah dan jangan sekalipun kau injak kakimu ke Heaven" mulai saat itu ke dua belas sayap milik Lucifer berubah bulu yang putih rontok sedikit demi sedikit hanya menyisakan tulang, cahaya halo di atas kepalanya menghilang digantikan tanduk kambing jantan, dan yang paling membuatku masih mengingat peristiwa tersebut adalah energi negatif yang tiba-tiba meledak hingga membuat pepohonan tiba-tiba mati, bunga menjadi layu, dan aliran sungai di Heaven menjadi tercemar. Hingga setelahnya tawa jahat menggelegar di tanah Heaven sampai pada akhirnya dengan pedang yang entah datang darimana Lucifer menyerang 'Ayah'.

Trank...

Penyerangan tersebut membuat semua malaikat terkejut jika saja saat itu aku tidak merasakan hawa dan niat jahat dari Lucifer dan menangkis pedang itu dengan pedang cahaya mungkin ayah sudah terluka karena serangan tersebut namun di antara malaikat hanya ada dua orang yang berlari kearah Lucifer dan diriku.

Gabriel Nee-sama dan Michael Nii-sama, mereka adalah dua malaikat yang maju diantara ribuan malaikat. Saat itu pertama kalinya aku melihat Michael Nii-sama marah dan menyerang Lucifer dan Gabriel Nee-sama yang berusaha menghentikan pertarungan malaikat tertinggi itu hanya satu kata yang menggambarkan pertarungan tersebut yaitu Dahsyat! Jika saja ayah tidak menghentikan pertarungan tersebut maka Heaven akan berantakan karena keduanya sama-sama seimbang dari segi kekuatan, kecerdasan, taktik, namun karena kutukan dan emosi negatif membuat Lucifer memiliki kemampuan yang saat ini disebut dengan Muslihat. Namun saat ku lihat menggunakan kekuatanku, cahaya Lucifer tidak hilang sepenuhnya cahaya tersebut sedang dikelilingi oleh kegelapan tiada akhir dan aku tau bahwa itu adalah tugasku tapi apa mau dikata Michael Nii-sama sudah menyeret Lucifer Nii-sama ke pintu neraka dan melemparnya dengan paksa.

Setelah peristiwa itu banyak peristiwa berdatangan, mulai dari Adam yang memakan Fruit of Knowledge, buah terlarang yang berisi pengetahuan dan memakannya adalah hal tabu bagi kami mahluk ciptaannya.

Aku saat itu masih ada di dunia bawah menemui Lucifer Nii-sama untuk menumbuhkan kembali cahaya miliknya tapi karena bisikan dari para iblis yang memanfaatkan kebaikannya ia menjadi sosok yang arogan dan setelahnya aku diusir dari istana underworld.

Saat aku pulang, ayah menemuiku karena aku heran tak melihat Adam dan Hawa yang bermain di hamparan padang bunga surga. Dan, ia memberitahuku bahwa Adam sudah di usir dari taman eden tapi tidak di Underworld melainkan ke middle earth menjadikannya pengurus dari taman dunia tersebut.

Flashback off...

"manusia adalah mahluk yang unik, Baik dan suci melebihi malaikat namun dapat jahat dan licik melebihi iblis" gumamku tanpa sadar dan menarik perhatian Leaticia dan Anastasya yang menatapku dengan heran.

"Kau mengatakan apa, Naruto-kun?" aku tiba-tiba tersentak padahal hanya gumaman kecil yang aku rasa tidak dapat di dengar mereka tapi ada apa ini? Kenapa Leaticia menanyakannya?.

"Aku tidak mengatakan apapun mungkin itu hanya imajinasimu saja" aku berdiri dari tempat duduk dan melenggang pergi dari tempat tersebut menuju kamar yang ku tepati selama tinggal disini dan menemui sang penguasa khayalan diatas ranjang empuk.

Normal POV

With Leaticia and Anastasya...

Saat ini keduanya masih ada didalam ruang keluarga hingga Anastasya memecahkan keheningan dengan pertanyaan yang menusuk.

"Apa kau mencintai Naruto, Leaticia-nee?" pertanyaan tersebut membuat wajah putih Leaticia menjadi memerah karena Yah, pada dasarnya Leaticia memang mencintai Naruto sejak ia menyatu dengan Jeanne D'arc jika disatu sisi Jeanne mencintai Sieg yang berubah menjadi naga maka Leaticia mencintai Naruto namun melihat kebersamaan Naruto dengan Anastasya membuatnya memendam perasaan tersebut.

"Jika kau mencintainya maka cukup katakan saja, Leaticia-nee! Karena bagiku kalian berdua adalah keluargaku, kalian menjagaku dan kalian berdua juga yang selama ini merawatku juga jangan kau berfikir bahwa aku mencintai Naruto-nii namun jika kau berfikir seperti itu maka buang saja pikiran itu karena aku tidak memiliki perasaan itu sama sekali" ucapan keyakinan itu keluar dari mulut anak berusia belia yang masih memiliki usia sekitar empat belas tahun.

"A-Ahhh aku lupa aku akan pergi ke supermarket untuk berbelanja bahan makanan" pengalihan pembicaraan yang bagus keluar begitu saja dari mulut Leaticia dab tampak keringat membanjiri keningnya! Malu? Tentu saja! Apa terlalu mencolok hingga anak remaja mengetahui bahwa ia mencintai Naruto?

"Ya sudah, aku juga harus pergi ke kamar karena aku masih lelah dan berjagalah Nee-chan karena hari mulai larut" setelah mendengar perkataan Anastasya, Leaticia melihat kearah jam yang menunjukan pukul sembilan malam.

"Jangan khawatir aku dapat menjaga diriku kok, Oyasumi Anastasya-chan" mereka berdua berpisah dengan Leaticia yang berjalan kearah pintu keluar dan Anastasya yang berjalan ke kamar miliknya.

Skip Time...

Hari semakin larut sedangkan Leaticia masih berjalan di pinggir jalan. Kedai-kedai sudah tutup yang mengusir secara paksa para pelanggan yang mabuk, lampu-lampu pada rumah warga sudah mati hanya lampu pada Love Hotel saja yang masih hidup.

"Hari makin larut aku harus cepat sampai rumah" mengambil jalan pintas dengan memasuki gang yang akan mengantarkannya di dekat rumahnya. Namun naas saat sampai ditengah gang tersebut keluar beberapa berandalan yang mencegat jalannya.

Grep...

"Mari temani kami, Ojou-chan" seseorang memeluknya dari belakang dan secara tiba-tiba menggesekkan kelaminnya yang sudah tegang pada belahan bokong milik Leaticia sedangkan orang didepannya hanya menyeringai senang.

"Lepaskan aku, Aku mohon" semakin Leaticia memohon orang disekitarnya makin berani melakukan pelecehan pada dirinya hingga salah satu dari mereka terpental secara tiba-tiba karena siluet seseorang.

Merasa geram salah seorang berlari dengan kepalan tangan yang mengarah pada siluet itu.

Grep... Krekk...

Bukannya berhasil mengenai siluet tersebut kepalan tangan itu tertangkap hingga bunyi suara teriakan yang memekakan telinga.

Semua orang disana berlari tunggang langgang namun saat mereka berlari sesuatu menembus dada bagian kiri mereka dan meninggalkan luka berbentuk lingkaran sempurna.

"Kami adalah bangsa penguasa malam, penikmat darah dan pengendali darah" ucapan sosok itu memasuki pendengaran Leaticia yang tampak kebingungan karena lepas dari mulut harimau dan masuk kedalam mulut singa.

Grep...

"Akhhh... Ittai..." jeritan malang menggema didalam gang sempit itu, darah segar mengalir kemana-mana, dan sakit karena rambutnya di tarik secara paksa.

Buagh...

Sosok itu merintih dan terlempar sejauh beberapa meter karena pukulan pada batang hidungnya dan akibatnya hidung tersebut mengeluarkan darah berwarna kehitaman.

"Kami adalah bangsa vampir, penguasa malam dan pengendali darah berani sekali kau manusia rendahan Blood magic : Bloody Throne strike" setelah mengucapkan matra sihir darah yang menggenang disekitar pemuda itu terangkat membentuk duri namun arah serangan itu bukan padanya tapi...

"Leaticia?" Pandangannya secara liar mencari keberadaan gadis tersebut hingga ia sadar Leaticia sedang terduduk dan kaget melihat darah yang membentuk duri mengarah pada dirinya.

"Tak ada cara lain" berlari kearah Leaticia dan pada akhirnya menyibak ke dua belas sayap merpati putih melindungi seseorang yang berarti baginya.

"Na-Naruto kau malaikat?"

Jleb...

Jleb...

Jleb...

Pertanyaan itu dihiraukan oleh Naruto karena yang ia rasakan saat ini adalah rasa sakit yang menjulur di seluruh punggungnya.

"Light Magic : Bullet" peluru cahaya milik Naruto melesat dan kemudian hal yang tak terduga adalah cahaya padat sebesar kelereng tiba-tiba menjadi sebesar bola basket.

Crash...

Kepala itu hilang karena dihantam oleh cahaya padat milik Naruto.

"Naruto-kun, kau adalah malaikat?" pertanyaan Leaticia tampak membuat Naruto melepaskan tawanya.

"Hahaha aku sebenarnya adalah Malaikat kesebelas mungkin yang kau tau namaku adalah Hikari" ucapan Naruto membuat Leaticia tiba-tiba memeluknya dengan erat.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun" tatapan mata yang penuh percaya diri menyatukan Zambrud dan Safir menjadi satu kesatuan yang utuh. Memajukan bibirnya Leaticia tampak ragu-ragu namun jika dilihat kearah lain Hikari bingung dan hanya mengikuti kemauan sang Gadis dan ikut memajukan kepalanya, tiap detik, tiap menit, tiap jam, maupun tiap Hari serasa melambat.

Cup...

Bibir kedua insan itu menyatu sebuah pengalaman yang tak dapat dilupakan hingga tanpa sadar sifat manusia keluar dan tumbuh pada sosok malaikat satu ini akibatnya ia mengeluarkan lingkaran sihir teleport dan langsung mengarah pada kamar Leaticia.

Skip Time ...

Saat ini di sebuah ruangan dengan sebuah ranjang empuk ada seorang malaikat tanpa busana dengan Halo yang berkelip-kelip juga seorang gadis yang terlentang dengan tatapan sayu dimatanya.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun"

"Aku juga mencintaimu, Leaticia"

Ciuman panas kembali terjadi hingga lima menit mereka melepaskan bibir pasangan dengan cairan saliva yang menyatukan bibir mereka sebelumnya.

"Jika terjatuh adalah bayaran yang pantas jika aku ingin hidup dengan orang yang kucintai maka itu adalah bayaran yang sepadan" mengerti akan ucapan Naruto sebagai orang yang taat beragama Leatica tau apa yang terjadi jika seorang malaikat keluar dari kodrat dan juga prinsipnya.

"Tapi apa yang akan terjadi jika kau terjatuh, Naruto-kun? Aku tidak ingin kau jatuh"

"Persetan dengan itu semua, asal bersama dengan orang yang kucintai maka aku akan bahagia Apa kau mencintaiku, Leaticia?" pertanyaan dibalas dengan anggukan kepala dan Naruto tau maksudnya.

"Baiklah mari kita mulai, aku sudah siap dengan segala konsekuensinya" setelahnya perubahan pada diri Naruto keluar begitu ia merasakan kenikmatan duniawi bersama seorang gadis dari keturunan Adam dan Hawa. Sayapnya yang putih mulai menghitam namun anehnya hanya enam sayap dibagian kiri saja yang menghitam tidak dengan bagian satunya yang masih putih tanpa noda, Halo, yang sedari tadi berkedip memudar dan menghilang bagaikan tidak pernah ada, dan saat ia mengeluarkan benih kehidupan kedalam tubuh Leaticia terjadi perubahan aneh pada bagian mata kirinya mata yang jernih sejernih batu safir berubah menjadi merah semerah batu Ruby.

Langit yang awalnya tenang berubah mengeluarkan perir yang menggelegar, Samudra yang selalu damai mengeluarkan ombak yang sangat tinggi disertai dengan angin kencang seolah perubahan alam yang tiba-tiba ini menandakan ketidak ikhlasan alam karena jatuhnya seorang malaikat pembawa cahaya.

At Vatikan

"Sudah, aku mohon!, cukup Lucifer saja yang jatuh dan mati jangan kau rebut cahaya terakhirku" seorang gadis dengan rambut pirang menangis sejadi-jadinya karena cahayanya, adiknya yang lahir dari permohonannya, telah terjatuh.

At Kuoh...

"Selamat datang di keluarga baru wahai saudaraku, Hikari" gumam pria dengan tampilan rambut yang unik karena memiliki poni berwarna kuning namun rambut berwarna hitam sangat aneh kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku terjatuh namun aku senang dapat bersama seseorang yang mencintaiku tapi kenapa hanya separuh sayapku yang menghitam? " ucapan tidak percaya keluar dari mulut Naruto saat melihat perubahan yang aneh pada dirinya.

"Kau tidak tidur, sayang?" suara halus memasuki pendengaran Naruto dan saat menolehkan kepalanya wajah Leaticia sedang menatapnya dengan lembut.

"Tidurlah, aku juga akan tidur kok" setelah mendengar ucapan Naruto Leatica tertidur pulas sedangkan Naruto? Ia masih bekutat dengan pikirannya hingga ia memutuskan untuk mematikan lampu tidur disamping ranjang.

.

.

.

TBC...

Hallo, apa kabar bertemu lagi dengan Shiro hehehe!

Pasti kalian bertanya kenapa fic 'The Fallen' lama update? Yah, jawabannya simple karena ini adalah pengalaman pertama Shiro untuk membuat Fic berlatar First Person View Point atau sudut pandang orang pertama.

Dan, tak disangka Shiro up fic the Fallen pada tanggal 1 april tepat pada hari ini Shiro mengadakan Ujian Nasional serentak tingkat SMA jadi mohon do'a dari kalian minna-san.

Salam, Shiro!