Naruto [masashi kishimoto]
Highschool DxD [Ichie ishibumi]
Summary :
Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.
.
.
Chapter 4 : Feel my wrath !
Santorini, Yunani
"indah sekali, tak kusangka akan ada tempat semenarik ini yang dapat di bangun oleh manusia" ucap salah seorang pemuda berambut pirang yang saat ini sedang ada di sebuah bus pariwisata.
"Bangunan-bangunan memiliki nilai seni yang sangat indah" kata orang yang duduk di samping pemuda tersebut
Mereka berdua adalah Anastasya dan Hikari atau sekarang dapat dipanggil Naruto. Singkat cerita setelah keluar dari rumah Leaticia, mereka melanjutkan perjalanan dari Prancis menuju belanda dan saat ini mereka sedang berada di negara dengan budaya dan sejarah yang sangat kental. Yunani, Negeri para dewa.
"Memang kota yang sangat indah tapi kenapa malaikat dari mitologi injil bisa sampai ke rumah para dewa olympus?" perkataan yang berasal bangku dibelakang mereka membuat Naruto mau tak mau menoleh ke arah belakang saat seorang pemuda berambut pirang dengan pakaian yang sedikit berkesan berandal sedang tersenyum padanya.
"Yo, apa kabar merpati kecil?" sapanya.
"Kau siapa? Jika kau tau identitasku maka kau bukan orang biasa, kan?" pemuda tersebut tersenyum membuat Naruto menatap waspada padanya.
"Aku bukan manusia, aku salah seorang dewa penghuni gunung Olympus dan kau harus ikut ke Olympus karena pak tua itu ingin bertemu denganmu tapi sebelum itu perkenalkan namaku Apollo, God of Sun from greek" ucap pemuda tersebut yang sekarang kita tau bahwa namaya adalah Apollo, sang dewa matahari. Apollo saudara dari Artemis sang dewi bulan, anak dari salah satu Titan yang pernah menguasai dunia dalam mitologi yunani.
Namun bukankah para Titan adalah sesosok manusia dengan ukuran raksasa? Mungkin itu adalah para Nefhilim. Nefhilim atau yang bisa disebut anak para malaikat yang pada zamannya adalah anak dari beberapa malaikat yang merasa tertarik dengan kehidupan manusia hingga mereka melakukan pernikahan yang membuat para malaikat tersebut terbuang dari taman Eden. Karena hal tersebut tuhan menjadi marah dan mengirim jendral malaikat, Azazel. namun karena merasa kecewa pada manusia yang melahirkan para Nefhilim, Azazel membunuh para wanita atau bisa dibilang ibunda dari para Nefhilim dan karena hal itu membuat Azazel terbuang dan ia menerimanya dengan berlapang dada karena sadar akan kesalahannya.
'hmm... Jika begitu apa Titan dan Nefhilim itu sama? Dan, apakah Makhluk hidup hasil hubunganku dan Leaticia akan menjadi Nefhilim?' pikir Naruto.
"mengapa kau terdiam, Naruto-Nii?" tanya Anastasya dan karenanya Naruto sadar dari pikirannya.
"ah... Maaf kalau begitu tunjukan jalannya, Apollo-san" setelah mendengar persetujuan dari Naruto, Apollo mengangguk dan turun dari bis bersama para tamu Olympus.
"Aku mohon harap bersabar dengan sifat kolot milik kakek tua itu" dengan selesainya ucapan Apollo mereka menghilang ditelan lingkaran sihir berlambang matahati disertai beberapa aksara yunani.
Mount Olympus
'Olympus, sebuah gunung yang menjadi basis bagi Zeus dan kedua kakaknya yaitu Poseidon dan Hades dalam perang Titan yang mana perang tersebut mengharuskan Zeus melawan sang ayah, Kronos dan para Titan lainnya. Kemenangan itu tak luput dari peran seorang dewa penempa, Suami sah dari Aphrodite, Hephaetus. Dalam kasus ini Hephaetus membuat tiga senjata spesial Trident of Sea, Soul Bait, dan Sword of Olympus yang diberikan pada ketiga dewa utama. Setelah perang selesai Kekuasaan atas dunia dan kepercayaan manusia akan dewa sedikit luntur lalu terjadilah pembagian kekuasaan dimana Poseidon mendapat wilayah Laut, Hades yang di tipu mendapatkan UnderWorld dan Zeus mendapatkan Olympus. Hufft... Setidaknya itulah informasi yang aku tau dari beberapa buku sejarah dan mitologi di dunia' pikiran gadis cantik yang selalu bersama Naruto semenjak bertemu dengannya mengingat apa yang ia baca di perpustakaan kerajaan.
'Apa yang tertulis di buku sejarah tidak sepenuhnya salah, Ana-chan' pandangan Anastasya yang awalnya melihat kedepan teralihkan kearah Naruto dengan pipi yang sedikit mengembung membuatnya terlihat sangat imut.
'Bisakah kau tidak masuk ke dalam isi kepala seseorang, NII-CHAN!'
Kedekatan mereka sudah mulai terjalin semenjak satu bulan bersama dalam perjalanan. Anastasya yang mengajari tentang Apa itu manusia? dan Naruto yang mengajari Anastasya tentang Apa itu sihir? Membuat hubungan adik kakak antara keduanya menjadi lebih dekat dan sepertinya Anastasya melupakan fakta bahwa orang yang dia marahi adalah Malaikat.
'Sudah satu bulan setengah aku lari dari kejaran kerajaan dan entah kenapa aku merasa nyaman jika berada di samping Naruto-nii walau aku tau bahwa ia adalah malaikat' tiba-tiba Anastasya tersadar dari lamunannya saat Apollo mengatakan suatu hal penting.
'Apa kau yakin dengan apa yang sedang kau pikir, kan?' saat menoleh kesamping yang didapati Naruto adalah wajah Anastasya yang sedang mengembungkan kedua pipinya membuat gadis berusia empat belas tahun itu bertambah imut.
"Baiklah dibalik pintu ini adalah ruang tahta dimana 'sang raja berada' jadi aku harap kalian dapat menjadi tamu yang sopan, OK?"
Sreeet...
Pintu itu terbuka dan beberapa orang sedang duduk di aula setengah lingkaran dan yang paling mencolok diantara mereka adalah seorang pria tua berjanggut dengan pedang bergagang emas dengan aura biru kehijauan pada tiap mata pedangnya dan seorang pria tua memegang Trisula yang dapat Anastasya rasakan aura yang sangat dahsyat.
"Kenapa ada manusia yang masuk ke aula istana milikku" dengan amarah yang berapi api pria tua berjanggut bangkit dari duduknya dan mulai mengeluarkan rune sihir miliknya.
"Kumohon bersabar, Zeus. Pasti ada alasan lain untuk manusia masuk ke Aula ini" Ucap pria yang sebelumnya terlihat memegang sebuah trisula.
"Poseidon ada benarnya, Ayah. Aku sebagai dewi kebijaksanaan, Athena memiliki pendapat yang sama"
Suasana di ruangan itu menjadi panas dan melupakan fakta bahwa orang yang ingin mereka temui sudah ada di depan mata.
"A-Anoo... Kenapa aku dipanggil ke sini ya?" dengan polosnya Naruto bertanya dan menghiraukan apa yang sedang terjadi antara para dewa dan dewi di hadapannya.
"Ahh... Aku hampir lupa aku ingin memberimu tugas merpati kecil karena kau sudah masuk tanpa izin ke wilayah kami tanpa adanya undangan atau apapun itu" ucap Zeus.
"Wilayah kalian? Jangan membuatku tertawa dan apa kalian tau dunia ini di berikan kepada keturunan adam dan hawa?"
"Berani sekali kau menentangku, raja para dewa!"
"Raja para dewa? Bahkan dengan kehendak-'nya' saja aku yakin bahwa kau pasti akan tamat! Sudahlah apa tugas yang akan kau berikan?" suasana yang sedang memanas tiba-tiba mulai mendingin karena salah satu dari kedua kubu mengalah.
"Aku ingin kau membunuh seekor monster yang sedang meneror warga di sekitar santorini"
"Baiklah aku akan menjalankan tugasmu tapi imbalan apa yang akan kau berikan? Dan, tugas apa yang akan kau berikan? Semua itu tergantung dari dirimu, Pak tua" Ucap Naruto entah kenapa semenjak mempelajari tingkah laku manusia dan menjadi Half-tenshi perkataan yang sopan sedikit demi sedikit menghilang.
"Merpati kecil, masalah bayaran apapun yang kau pinta akan kami berikan kecuali Tiga senjata dewa ini" Layaknya raja yang memberi perintah pada prajurit, Zeus juga melakukan tugasnya layaknya penguasa atas Mount Olympus.
"Apapun akan kau berikan bukan? Baiklah kalau begitu aku akan menjalankan tugas ini secepat mungkin! Permisi" beberapa dari dewa di aula tersebut memiliki keraguan apakah Malaikat kecil itu bisa melakukannya pasalnya ini adalah tugas untuk membunuh...
Santorini port, Yunani
Sesudah kesulitan yang Naruto rasakan karena berurusan dengan dewa congkak, sombong, dan keras kepala ia merasa lega berhasil keluar dari Mount Olympus. Ditemani sosok pengikut dan juga adik, mereka berjalan beriringan dipinggir pelabuhan.
"Kenapa kau menerimanya, Nii-chan?" panggilan Nii-chan sudah lekat di lidah Anastasya itupun karena paksaan dari Naruto dan entah sadar atau tidak ia sudah menjadikan panggilan Nii-chan sebagai panggilan sehari-hari karena sudah melakukan perjalanan bersama selama satu bulan.
"Entahlah, oh ya! Menurutmu bagaimana mencari info dari warga sekitar ya?" dengan pandangan penuh harap Naruto bertanya pada adik kecilnya.
"Jika aku jadi kau, mungkin Bar atau cafe akan jadi tempat pertama yang akan ku kunjungi. Jika kau bertanya kenapa? ada beberapa alasan antara lain penginapan adalah tempat pengelana, turis dan warga berbagi penat juga menjadi tempat istirahat dan menurut perkiraanku tempat itu menjadi tempat jual beli informasi" ucapan Anastasya disambut baik Naruto dengan senyuman di wajahnya yang tampan.
"Baiklah tapi mari kita ke penginapan dulu".
Penginapan adalah tempat beristirahat hingga penyewaan kamar untuk tinggal sementara. Beberapa nelayan pun sedang minum-minum hingga akhirnya mabuk dan tertidur menciptakan sebuah aliran sungai.
"Tolong satu kamar untuk 2 orang" ucap Naruto saat ada di meja resepsionis.
"Berdua apa anda akan menginap dengan kekasih anda? Kalau iya, kami tidak bisa memberikannya karena kami menjunjung nilai-nilai keagamaan setempat jadi atas gangguan ini kami mohon maaf" ujar resepsionis tersebut tanpa melihat bahwa Anastasya hanyalah gadis berusia dua belas tahun yang bahkan belum memasuki masa haid pertama.
"Aku memesan kamar itu untuk adik kecilku ini, kami adalah pengelana yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain dan penginapan ini menjadi pemberhentian kami jadi kumohon satu kamar untuk dua orang" walaupun dengan beberapa gangguan Naruto tetap berujar dengan sopan mungkin karena ia Half-tenshi dirinya masih memiliki sifat malailat sebagaimana mestinya.
"A-ahhh kalau begitu maafkan atas ketidaksopanan ini..." resepsionis itu meninggalkan Naruto sebentar dan kembali membawa sebuah kunci dengan gantungan bernomor '452'. "... Silahkan tuan, ku harap anda menikmati kunjungan anda".
"U-uhmm..." melangkahkan kakinya menjauh dari meja resepsionis menemui Anastasya dan mengajaknya pergi.
"Kita kemana Nii-chan?" saat ditanya Naruto hanya menjawab "Sudah ikut saja aku tau kau lapar, kan?".
Tak lama kemudian...
"E-enak Nii-chan bahkan lebih enak dari masakan Jeanne-Nee" saat ini Anastasya sedang memakan Steak dengan beberapa minuman sedangkan Naruto saat ini sedang dalam keadaan Sweatdrop. Jika diingat beberapa minggu yang lalu, saat masih beristirahat di kediaman Leaticia beberapa Maid memanggil mereka untuk makan malam dengan segera Anastasya yang dalam keadaan lapar langsung melibas tanpa pandang bulu hingga lupa berdoa karenanya Anastasya mendapatkan karma berupa makanan yang Asin terlalu asin dan makanan manis terlalu manis hingga membuat blenger.
"Tolong jangan mengingatkan ku dan apa kau sudah lupa etika makan ..." menjeda beberapa detik lalu Naruto berdehem "...Ehemm, seorang Hime-sama" lanjutnya.
"Persetan dengan itu semua. Apanya yang putri kalau kau selalu diburu di kerajaanmu"
'Sepertinya ia masih kesal dan membenci rakyatnya ...' menyeruput kopinya dan menikmati sensasi pembasahan tenggorokan yang kering ' ... Hufft, seperti kata Ayah Manusia adalah mahluk ciptaanku yang paling unik dan sekarang aku mengerti kenapa ayah berkata demikian' lanjutnya.
Melihat Anastasya yang dengan lahap memakan sepaket Sea Food yang kembali ia pesan. Pada dasarnya sebagai malaikat ia di ciptakan untuk tidak pernah lapar dan lelah namun bagaimanapun ia sedang menikmati perjalanan yang ia lalui dan sekarang ia memiliki Hidangan favorit sendiri yaitu Croisan's dan segelas kopi yang melengkapi hidupnya di tengah-tengah mahluk fana.
saat sedang menikmati acara makan seorang polisi menghampiri mereka berdua. "Hei kalian tidak akan kemana-mana, kan? Pasalnya sudah dua minggu ini beberapa warga dilaporkan hilang entah itu turis atau penduduk asli sini jadi aku mohon pada kalian agar kalian waspada" Ucap polisi tersebut. Walau dengan tubuh yang sudah renta polisi itu terus melakukan pekerjaannya dengan Profesionalitas tingkat tinggi.
"Tu-tunggu maksudmu ada yang melakukan penculikan?" Pak tua itu terlihat tertarik dengan yang diucapkan Naruto. "Entahlah tapi kau bisa memanggilku orang gila atau apapun dan kalau menurutku mereka tidak diculik mereka dibunuh dan kenapa mayat tidak ditemukan karena yang membunuh mereka adalah monster. Anak buahku kemarin pulang dari lembur dan melihat monster Naga dengan panjang sekitar Lima meter dan ada lagi yang melihat bahwa itu adalah beruang hitam dengan panjang sekitar dua meter tapi kami tinggal di pelabuhan jadi itu tidak mungkin, kan?" tanya Pak tua itu namun tiba-tiba semua orang di ruangan ini menertawakannya.
'Lihat si tua Albert memancing para wisatawan'.
'apa ia tidak takut kalau seluruh negeri akan mencemooh dirinya'
'Dia sudah lama menjadi pak tua yang bodoh'
Mendengarnya entah kenapa membuat perkataan Lucifer terngiang di kepalanya
'Hikari, kau harus membuat Ayah bangga dan apa kau tau aku mencintai manusia tapi yang tak aku suka adalah sifat mereka'. Pada saat itu aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan Lucifer Nii-sama tapi aku tau kalau ia memberikan amanat bahwa aku harus melindungi Manusia dan membawa mereka dari jurang kegelapan pada tempat yang sangat bercahaya. Lalu Lucifer Nii-sama melanjutkan 'Bagiku Manusia adalah makhluk yang unik ada kalanya mereka Baik melebihi malaikat dan saat jahat melebihi iblis'
"Hufft... Begini saja, nanti malam aku ingin ikut dengan paman kalau monster itu terlihat kita akan membunuhnya. Entah itu benar atau tidak tapi aku yakin kalau makhluk itu memang monster" Ucap Naruto dan karenanya membuat semua orang di cafe itu terdiam dan menatapnya tidak percaya.
"Bagus, satu lagi pemuda bodoh dan Polisi tua tukang Ngibul"
Santorini Port, 23.47
Pelabuhan saat malam hari serasa sunyi yang ada hanya beberapa kapal yang terparkir di Dock juga lampu-lampu yang terlihat redup di pinggir jalan. Terlihat dua orang yang sedang berjalan dengan senter di salah satu tangan di malam yang dingin ini kedua orang tersebut berjalan dengan santainya.
"Apa kau tidak kedinginan, nak?" tanya salah satu dari orang tersebut dan yang satunya lagi menjawab.
"Aku tidak merasakan dingin"
Mereka berdua adalah Naruto dan pak Polisi tua bernama, Albert. Mereka sedang melakukan patroli malam berkeliling sekitar namun suasana yang dingin tiba-tiba bertambah mencekam.
"Entah kenapa aku merasa kita sedang diawasi" keadaan bertambah serius saat didepan mereka tertangkap siluet mahluk yang sangat besar.
"Jika aku mati dalam tugas, aku harap tuhan menaruhku di surga pada kumpulan orang-orang beriman" setelah mengucapkan itu pundak Albert terasa berat karena beban dari salah seorang partnernya.
"Alberto royalini, kau bukanlah hamba tuhan yang taat. Pada beberapa peringatan agama kau jarang melakukan kebaktian dan dosa mu tidak dapat dihitung tapi jika tuhan memberimu kesempatan kedua, Apa kau akan berubah?" ucapan Naruto membuat seorang Albert mengkerutkan keningnya pasalnya Naruto seperti bukan dirinya saja dan bertingkah aneh.
"Ka-kalau kesempatan kedua itu memang ada maka aku berjanji akan menjadi hamba yang taat dan melupakan dunia"
"Kesempatan kedua diberikan, pada malam ini kau tidak akan mati" Naruto merentangkan tangannya kanannya kedepan dan terciptalah sebuah lingkaran sihir berwarna putih.
Sringg! Swush! Jlebb!
Sebuah proyektil terbang melesat kearah siluet makhluk itu dan mengenai sasaran terdengar seperti suara daging yang tertusuk sesuatu.
"Roooaaaaaarrrgh" ruangan itu membuat semua kabut di jarak pandang menghilang dan menyisakan jalan setapak dengan seekor makhluk yang memiliki tinggi sekitar empat meter, kepalanya seperti naga namun badannya seperti banteng dan pada bagian ekornya terdapat ekor kalajengking plus dengan sengat yang menjanjikan penderitaan pada siapapun sebelum kematian menjemput jangan lupakan sepasang sayap elang yang saat ini sedang terbentang menunjukan kuasanya.
"Seperti dugaanku, Chimera adalah makhluk yang dimaksud-'nya' untuk ku kalahkan dan lagi bayaran yang cukup setimpat" tanpa mempedulikan Albert yang sedang terdiam Naruto menciptakan lingkaran sihir kembali
Sringg!
sebuah Kapak bermata dua dengan gagang yang berlapis emas keluar secara perlahan dari lingkaran sihir tersebut.
"Mengamuklah bersamaku pembunuh sepuluh ribu Da-tenshi, Honma" seakan menjawab panggilan sang tuan kapak itu memancarkan cahaya emas kesegala penjuru.
Sringg!
Saat cahaya itu meredup dan menghilang sepenuhnya terlihat seorang Naruto yang menggunakan Hand-Armor di tangan kanannya jika dilihat dari lengan hingga bagian atas bahu terlapisi armor Emas dan di lengan kirinya hanya ada sebuah War-Gaunlet tanpa tambahan apapun bahkan bagian badan tak terlapisi armor sama sekali.
"Ayo Honma"
Swush!
Setelahnya Naruto berlari bermaksud menyerang Chimera itu namun sebuah sengat mengarah tepat kearah tubuhnya
Sreet! Tap!
Menghindar dan bertumpu pada kaki kanannya, Naruto melakukan ancang-ancang melempar Honma.
Swush!
Lesatan lemparan Honma membuat sebuah gelombang kejut yang langsung mengarah pada Leher Chimera namun naga itu berhasil mengindarinya dan Honma hanya mengenai sebuah tanduk terlepas dengan potongan yang sangat halus tanpa cacat sedikitpun.
Hal aneh terjadi pada bagian kepala dari Chimera itu. Kepala tersebut mengeluarkan asap yang sangat banyak, sadar akan apa yang akan terjadi Naruto mengarahkan War-Gaunlet di depan wajahnya.
Sringg!
Suara-suara mekanik kembali terdengar dan dari War-Gaunlet itu keluar buah perisai berlambang Mawar yang terbuat dari perak.
"Divine Shield : Cassius" secara serentak kepala Naga dari Chimera itu menyemburkan Api yang mengarah langsung pada Naruto. Dengan adanya Divine Shield dirinya terhindar dari serangan yang sama dengan tehnik khas kaum naga, Dragon Breath. Panas api itu tidak sampai membuat Cassius panas jika dilihat Albert sedang terdiam dengan tubuh yang dibanjiri keringat.
"Selesai sudah..." ucapan Naruto membuat Albert keheranan pasalnya apa yang sudah selesai jika musuh masih hidup?
"Honma : Blenda alba"
Jrash! Boom!
Kapak emas Honma kembali dengan sendirinya dengan cahaya yang ada pada masing-masing bilah tajamnya. Kapak itu berputar terus menerus hingga memotong leher dari Chimera dengan mudahnya dan Honma kembali ke tangan pemiliknya.
"Ini terlalu mudah Chimera ini memiliki bentuk Naga dan sebagian darah naga hmmm... Ada yang aneh"
Sringg!
Semua perlengkapan tempur milik Naruto menghilang bagai tak pernah ada saat ia melihat kebelakang tiba-tiba Sweatdrop menghampiri keningnya, kenapa? Saat ini albert sedang terdiam dengan celana yang basah pada bagian selangkangannya.
"Semua sudah selesai, ayo kita pulang".
Albert yang tersadar kalau semua sudah berakhir hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan beriringan tanpa ada tanya atau jawab dari salah satunya.
Jlebb!
Suara tusukan terdengar dan hal pertama yang dilihat Naruto adalah tubuh Albert yang terangkat dengan sengat kalajengking pada perutnya. Tubuh itu terangkat hingga ketinggian tiga meter.
"Roooooaaarrgh" ruangan monster itu memekakkan telinga seakan menunjukan bahwa ia tidak bisa mati dengan cara apapun.
Swush! Brak!
Monster itu dengan kuatnya membanting tubuh renta Albert ke tanah dan membuat retakan pada jalanan itu sendiri.
"Tuhan, jika ini waktunya maafkan segala dosa ku" ucap Albert disela nafas terakhirnya dengan darah yang sudah memenuhi jalanan dan sela-sela mulut jiwa seorang prajurit meninggalkan raganya.
"Al-Albert? Aku... Maafkan aku" tangan yang bebas mengepalkan tinjunya dan dengan amarah yang meluap-meluap Naruto membuka wujud aslinya. Malaikat tertampan dengan berkah cahaya tanpa batas yang membuat bintang-bintang iri mulai merubah penampilannya. Enam pasang sayap mulai keluar, enam hitam dan enam putih di masing-masing punggungnya. Amarah itu sangat besar sampai-sampai membuat lautan bergejolak tanpa perintah 'sang penguasa lautan itu sendiri'.
Sringg!
Salah satu sayap putih milik Naruto yang masih tersisa mulai menghitam. Hilang sudah dan menyisakan lima sayap putih, amarah mulai mengendalikan dirinya. Armor emas kebanggaan miliknya keluar guna melindungi seluruh tubuh sang pemakai mulai dari badan, tangan, dan kaki semua terlindungi oleh armor itu sendiri.
"Aku memanggil-'mu' wahai penumpas"
Sringg!
Lingkaran sihir mulai tercipta dengan kehendaknya sendiri.
"Akulah tuan-'mu' yang memiliki mu"
Sebuah gagang senjata mulai keluar dari lingkaran sihir berwarna kuning tersebut.
"Penumpas kebatilan dan pembela kebaikan"
Semakin keluar gagang senjata itu beberapa rantai yang melilit senjata itu ikut keluar.
"Hancurkan sesuai kehendakku dan bela sesuai kehendakku"
Jari-jemari sang malaikat mulai memegang gagangnya dan seakan mengerti rantai-rantai mulai melepaskan kaitannya dan dengan sekali tarikan keluarlah sebuah pedang dengan tiga buah bola yang mengelilinginya.
"Sword of graf Light Paragon's".
.
.
.
The Fallen
.
.
.
Dahulu kala, ada tiga hal yang tersegel karena kekuatan yang sangat mengganggu. Mereka adalah entitas Abnormal yang bahkan membuat 'Ayah' kebingungan Void, Loyd, Gryd. Mereka tersegel didalam sebuah batu yang bahkan dengan kekuatan mereka sendiri tidak bisa menghancurkan segelnya, segel yang dibuat oleh seorang Miko atas permintaan Metatron Nii-sama yang cemas jikalau manusia akan terkena imbasnya. Sang Miko menyetujuinya dan diberikanlah tiga buah batu permata dengan rune unik yang bahkan para malaikat tak mengerti, satu-satunya Miko yang dapat membuat rune karena mempelajari Aksara semesta setelah berhasil memanggil malaikat ...
Saat ketiga batu itu sampai disurga hanya ada satu langkah lagi untuk menyegel ketiga entitas abnormal. Sebuah pertarungan harus dilakukan dan atas restu 'Ayah' juga Gabriel nee-sama, Aku pergi melawan mereka. Diantara ketiganya, Gryd adalah yang paling unik. Kenapa? Karena, ia berpikiran bebas tak memandang baik dan buruk membuat ia dalam garis abu-abu. Lalu, Loyd membuat pertanyaan yang membuatku kebingungan. Dan yang terakhir adalah Void, yang paling susah diantara yang lain. Void adalah entitas abnormal yang haus darah dan membuatku bertarung dengannya selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti akibatnya gunung di bumi rata dengan tanah dan beberapa benua terbelah karenanya.
Ketiga batu itu kusatukan dengan sebuah pedang yang menjadikan pedang itu sebagai pedang pembunuh. Pedang yang dapat membunuh semua yang hidup bahkan 'Ayah' jika ia masih hidup.
Dan sekarang, Sword of Graf Light Paragon'sterpakai kembali untuk membunuh monster sialan yang sudah membunuh manusia yang sudah berperang di sisiku.
"Matilah kau makhluk hina, Archidoc..." dalam pandangan ku ketiga batu pusaka mulai berpurar mengirimkan pedar energi ke bilah tajam. "...Ganggua".
Swush! Slash! Puk!
Pedar energi yang mengarah pada langit lepas mulai terjatuh dan membelah makhluk hina itu tanpa bekas dan rata dengan tanah.
"Akhirnya selesai sudah..." aku terdiam selama beberapa saat pikiran ku melayang entah kemana dan saat ku mengalihkan pandanganku dapat ku lihat sebongkah kepala naga tergeletak di dekat mayat Albert.
Aku mendekati mayat pak tua itu, entah kenapa melihat ekspresi wajahnya berkesan tenang tanpa ada penyesalan sama sekali. Ku geledah sakunya dan yang kutemui adalah pistol revolver dengan enam peluru tanpa pemakaian.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan ku letuskan menuju kepala Chimera itu dan menembakkan sisanya hingga habis.
Tak terasa pagi menjelang dengan cepat, ku bopong tubuh tak bernyawa Albert di bahu ku dan kepala Chimera di tangan kananku yang memegang tanduk naganya.
"Tuan, apa yang anda..." polisi itu terdiam dan kemudian berteriak panik dan memanggil sesama polisi.
"Deputi Albert tewas dalam tugas, ya?" hanya gumaman yang diriku keluarkan.
"Aku dan dirinya berpatroli dan saat itulah monster ini menyerangnya. Albert menembakkan enam peluru pada pistolnya untuk melindungiku saat kami pikir monster itu tewas, Albert langsung melindungiku dan menjadikan dirinya sendiri perisai daging karena amarah yang meluap aku memecahkan kaca toko daging mengambil senjata dan menebas leher monster itu selanjutnya kalian tau apa yang terjadi..." wajah mereka semua tampak sedih namun kesedihan itu tak bertahan lama kala mereka mengenang perbuatan baik seorang Alberto Royalini.
'Ia adalah senior yang baik'
'Mentor yang cerewet'
'Atasan yang sering terlambat'
Banyak polisi muda yang sedih karena mengenang seorang Albert dan karena dedikasinya pada pekerjaannya, Walikota setempat membuatkan sebuah patung guna mengenang Alberto Royalini, sang penakluk. Lalu, kepala Chimera itu dimumikan dan dipajang di museum dengan catatan terbunuh oleh seorang polisi pemberani, Alberto Royalini.
.
.
.
The Fallen
.
.
.
"Ahhhh... Lelahnya walaupun terkesan mudah tapi tetap saja mengeluarkan 'pedang itu' membuatku lelah"
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Sesampainya di penginapan Naruto langsung membuka pintu kamar dan apa yang terjadi? Sebuah tangisan yang ia dapatkan dari seorang yang ia anggap adik.
"Anastasya, kenapa kau menangis?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yo, kembali bersama saya shiro.
Setelah beberapa bulan menghilang saya merasakan kesedihan yang mendalam. Kenapa? Itu karena dunia FFn yang mulai sepi lagi.
Author senior yang menghilang di tengah jalan
Flamer bertebaran bagaikan jamur di musim hujan
Dan, beberapa Author baru yang tidak melanjutkan karyanya hanya karena Bully-an dari Flamer yang tidak punya otak.
Aku menghilang karena banyak kesibukan bukan karena flame. Ahhh... sudahlah kita lupakan saja masalah itu.
Pada chapter ini, Naruto dan Anastasya melanjutkan perjalanan mereka di negeri para dewa, Yunani.
Lalu tentang perubahan sifat Naruto ada sangkut pautnya dengan dirinya yang menjadi Half-Angel.
Kemudian di chapter ini pula, ada teori ku sendiri tentang persamaan antara titan dan juga Nefhilim. Sekali lagi ku tekankan, ini adalah sebatas Teori .
Oh ya, sekarang sayap putih Naruto hanya tersisa 5 lagi dan jika kalian sadar Naruto kehilangan sayapnya karena seven deadly sin's yaitu Nafsu dan di chapter ini, Amarah.
Oh ya! pasal keturunan Naruto dengan si Leaticia/jeanne, apa kalian selaku reader ada saran mengenai character yang harus aku pakai (Utamakan jangan Asia).
Satu hal lagi, apa pasangan Naruto di tambah dan menjadikan fic ini berGenre Harem?
Kalau respon dari kalian positif akan ku buat fic ini menjadi harem dengan saran character perempuan dari kalian juga, hehehe.
Maa... Kalau begitu aku undur diri dan maafkan diriku karena mengecewakan pembaca sekalian. Jangan lupa REVIEW ya :v
.
.
.Bye
.
.
