Naruto [masashi kishimoto]

Highschool DxD [Ichie ishibumi]

Summary :

Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.

.

.

Chapter 7 :

.

.

.

Cesme port, Turki. 06:38 A.M

Setelah pergi meninggalkan Anastasya di tanah para dewa dan suatu pekerjaan untuk dewa Hephaetus perjalanan dilanjutkan dan disinilah dirinya. Turki, negara paling unik karena sebagian dari negara ini berada di benua Eropa sebagian lagi ada di benua Asia.

"Terima kasih paman atas tumpangan yang kau berikan" walaupun tampak ragu untuk bersikap biasa saja tapi orang yang memberi tumpangan itu terlihat sedikit cemas karena pakaian milik Naruto saat ini sudah robek di beberapa bagian dengan darah yang mengering pada pakaian dalam berupa kaus tanpa lengan itu.

"Tak perlu khawatir paman, aku rasa tak jauh dari sini akan ada tempat yang menjual pakaian" pria yang saat ini ada dihadapannya terlihat sedang berfikir.

"Apa kau memiliki uang, nak? Ahh... Bodohnya aku! Kau pasti tidak memiliki uang..." pria itu sepertinya merutuki kebodohannya karena bertanya demikian. Sebagai seorang pengelana ia yakin bahwa pemuda dihadapannya ini sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan dengan segenap niat baik yang ia miliki ia mengeluarkan benda misterius berbahan kulit sebuah benda yang belum pernah dilihat Naruto dan dari dalam benda itu keluar benda dengan warna berbeda dan memberikan pada dirinya.

"Terimalah ini"

"Apa ini paman dan benda apa yang kau pakai untuk menaruh benda ini" ucapnya dengan menunjukan benda yang diberikan pria dihadapannya.

"Kau tidak tau? Itu namanya Uang, Naruto dan lagi benda ini..." pria dihadapan Naruto mengeluarkan benda yang tadi ia pakai untuk menyimpan benda bernama 'Uang' dan menunjukannya pada Naruto "... benda ini namanya Dompet"

"Lalu apa gunanya 'Uang' ini?"

"Benda ini dapat kau gunakan sebagai alat tukar jadi kalau kau menginginkan suatu barang kau dapat menukarnya dengan Uang tentunya dengan nilai yang sama atau setara" mendengar penjelasan dari orang yang ditolongnya mau tak mau membuat Naruto berfikir.

'Kenapa aku tidak tau soal benda ini ya?'

...

...

...

...

...

A Few Mount Ago...

"Paman, berikan aku baju yang cocok dengan orang ini" ucap Jeanne

Saat itu Naruto tidak sadar diri dan Jeanne yang masih menggunakan tubuh Leaticia sangat iba melihatnya

"Ini Uangnya paman, Terimakasih"

A Few Day Ago...

"Ahh... Ini pembayaran untuk penginapan ini" Ucap Anastasya seraya memberikan selembar uang yang ia ambil dari money changer.

"Terima kasih atas kunjungannya, nona"

...

...

...

...

...

"Sudahlah tak usah di pikirkan yang penting aku harus mendapatkan pakaian karena semua barang-barang pemberian Leaticia jatuh ke laut" dengan kepala tertunduk ia berjalan ke arah pasar.

Pasar, tempat melakukan transaksi jual-beli barang antar pedagang dan pembeli entah itu bahan makanan, pakaian, ataupun sekadar aksesoris pemanis penampilan. Saat ini keadaan pasar sedang sedikit lenggang karena sedikitnya orang yang datang di pasar hanya dengan mengenakan celana jeans yang sudah robek di beberapa bagian juga tanpa mengenakan atasan apapun membuat beberapa gadis menatap Naruto dengan wajah memerah tanpa niatan menegur ataupun berkenalan.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya Naruto berhenti di sebuah kios dengan baju yang menggantung di beberapa manekin.

"Kau mencari apa, Bocah?" seketika pemilik toko itu keluar dari dalam kiosnya dengan wajah yang sangar apalagi dihiasi berewok juga kumis yang sangat tebal.

"Permisi paman, aku ingin meminta benda itu..." ucapnya saat menunjuk kearah sesetel pakaian dengan kemeja hitam bermotif bunga mawar putih dan Jeans panjang berwarna soft-blue "...dengan menukar benda ini" di tangannya, Naruto memperlihatkan selembar uang seratus Lira pada pemilik toko.

"Apa kau dari pemukiman jauh, Nak?" pertanyaan dari pemilik toko itu membuat Naruto bertambah bingung dengan hadirnya benda bernama Uang dan tidak taunya nilai tukar di tambah dengan pemukiman jauh yang dimaksud oleh manusia dihadapannya itu.

"Aaaaaaaa..."

"Sudah ku duga dengan adanya sistem Barter yang masih berlaku kenapa harus memakai uang, kan?" satu lagi! Tidakkah cukup bagi dirinya dibuat bingung dengan manusia yang hidup di taman dunia ini.

'Sebenarnya aku hanya bingung mau menjawab apa' wajah Naruto saat ini tak dapat di deskripsikan dengan kata-kata karena bingungnya ia dan kurangnya informasi yang ia miliki hingga membuatnya tak sadar kalau sudah berada di depan kamar ganti.

Setelah beberapa menit, Naruto keluar dari kamar ganti dengan pakaian yang sudah ia dapat. Kemeja hitamnya terlihat cocok dan berpadu padan dengan celana jeans miliknya apalagi dengan rambut pirang juga mata heterokrom yang menambah nilai plus pada penampilannya saat ini.

"Oii bocah, ambil ini..."

Swush...

Sebuah kotak melayang dan mendarat pada kedua tangan Naruto "...itu adalah sepatu olahraga milik anak ku baru satu kali pakai jadi ambil saja untuk amal ku" ucap sang pemilik toko.

Setelah beberapa saat Naruto sudah selesai memakai sepatunya dan sedang duduk di kursi yang sengaja di siapkan untuk dirinya.

"Jadi, kenapa kau datang tanpa memakai pakaian yang lengkap? Ah iya..." seakan tersambar petir di siang hari pemilik toko itu mengulurkan pergelangan tangannya dengan perasaan sedikit malu "... Namaku adalah Malik Al-hadr, panggil saja Malik dan siapa namamu anak muda?"

Tap...

Narutopun mulai menyambut pergelangan tangan paman Malik dan mulai memperkenalkan dirinya "Namaku Naruto hanya Naruto! Hehehe... Aku adalah pengelana pergi dari tempat satu ke tempat lainnya" dengan wajah berseri Naruto memperkenalkan dirinya apalagi mata Heterokrom miliknya yang bersinar di bawah sinar matahari pagi.

"Lalu apa yang kau cari dari perjalananmu ini? Maksudku di Negara ini, Turki, setiap orang yang menjadi pengelana pasti memiliki Tujuan dan lagi kami memiliki penggilan untuk para pengelana yaitu Musafir tapi bukan hanya Turki yang menggunakan panggilan itu mulai berlaku negara ini dan menyentuh ujung dari Asia tenggara yah... negara barat juga memiliki julukan untuk seorang musafir"

Syuuurr...

Sebuah teko berisi air panas dengan campuran beberapa herbal tertuang di cangkir keramik dihadapannya "...jadi bisa kau beritahu, pak tua ini?"

"A-aku mencari alasan kenapa aku hidup? Dan, sebagai selingan aku juga ingin melihat dunia ciptaan-nya" Naruto melihat tatapan Malik menjadi cerah dan sesaat tak ada lagi kesedihan di dalamnya namun masih ada sedikit kegelapan di hati manusia dihapannya bukan untuk melakukan tindak kejahatan tapi kegelapan karena perasaan khawatir.

Jemari-jemari itu menyentuh gagang cangkir dan membawanya menghirup aromanya yang membawa ketenangan lalu ketika menyesapnya rasa manis juga sensasi air hangat yang melegakan tenggorokan terasa.

"Lalu paman, Apa kau percaya kalau eksistensi supranatural itu ada?" Naruto meletakkan cangkir keramik itu ke atas meja dan kembali menatap Malik dihadapannya.

"Aku mempercayainya..." tiba-tiba saja pandangannya menjadi sangat serius. Bukan karena apa? tapi bukankah Aneh kalau seorang pemuda berkisar dua puluh tahunan menanyai itu? "...Lalu kenapa kau menanyainya?".

"Setiap pertanyaan pasti ada alasanya..." merogoh saku belakangnya mengeluarkan sebuah benda yang terbuat dari tulang "...ini adalah alasan aku bertanya padamu, Paman Malik"

"Nak, kau tak mungkin melawan Rasaka kan?" wajah kaget dan ekspresi khawatir terpampang jelas di wajahnya. Sebagai warga di dekat pelabuhan siapa yang tidak tau tentang Rasaka?

"Ahh... Ternyata ular itu bernama Rasaka"

Rasaka seekor Ular naga dengan sisik berwarna biru, sisiknya sekeras besi dan taringnya dikatakan dapat menembus zirah apapun, Anak dari Echidna dan juga Typhoon dan memiliki kemiripan dengan singa Nemea yang sudah disegel di dalam Sacred Gear berupa Battle Axe.

"Nak, bagaimana kau dapat membunuhnya? Dan, Taring itu..." memandang Horror ke arah Taring tersebut dan mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang terlihat tenang dengan cangkir teh yang sedang ia hirup aromanya.

"hmm... Bagaimana ya? Begini saja, mungkin akan jadi cerita panjang tapi..."

...

...

...

...

...

Flashback

Naruto POV

Ahhh sudah berapa lama aku disini ya? Negeri para dewa di dermaga menikmati pemandangan yang sangat agung di hadapanku ini. Tak kusangka ayah dapat membuat pemandangan seindah ini. Aku akan pergi dari santorini menuju dataran yang ada di sebelah timur laut pulau ini.

"Paman boleh aku ikut ke seberang sana?" ucapku. Yah, aku memang tidak kenal dengannya tapi yang ku tau dia adalah Orang baik. Walaupun jiwa manusia tak luput dari dosa tapi dengan adanya akal sehat manusia dapat melihat yang baik dan yang salah.

"Ke seberang sana? Tidak bisa, kau akan dianggap sebagai penumpang gelap dan aku akan ditangkap karena aku menyelundupkan Manusia" pada awalnya Manusia yang kumintai tolong menolak yah tidak sepenuhnya sih karena dia menolak dengan alasan yang masuk akal.

"Masalah keamanan di seberang aku yang urus dan lagian kau resah bukan? dengan adanya prajurit yang melebihi kapasitas itu dan pergi dengan terburu-buru" sebenarnya aku sudah tau dari awal. Untuk apa pasukan manusia dengan peralatan serbu siap di kapal Carrier.

Tanpa banyak basa-basi kami berangkat ke Kapal dan mulai melaut dengan angin yang sedang dan cuaca yang masih cerah namun semua mulai berubah sedikit demi sedikit. Dimulai dari angin yang tiba-tiba hilang, Lautan tenang tanpa ombak, dan dapat ku lihat ikan-ikan mulai menjauh saat hawa Ketakutan mulai keluar dari kedalaman samudra.

Saat itulah aku sadar, saat seekor ular sedang berhadapan dengan kapal ini. Kulitnya memiliki sisik berwarna biru dan aku yakin itu memiliki kekerasan yang tidak main.

"Take down! Fire in the Hold"

Deretan timah panas dapat ku lihat keluar dari senjata yang di bawa para manusia. Manusia sudah banyak berubah ya? Persenjataan yang dimulai dengan batu yang di bentuk sedemikian rupa hingga memiliki sisi yang tajam lalu di lanjutkan dengan peralatan besi yang dijadikan pedang hingga akhirnya besi-besi itu dibuat sedemikian rupa hingga dapat di terbangkan dari sebuah peralatan perang.

'Menarik, timah itu berbentuk kerucut dan menembus kulit mahluk hidup... Wah wah wah tak ku sangka manusia berkembang dengan pesat ya? Meskipun begitu apa dapat menembus sisik yang keras tersebut?' pikiran ku melayang mengumpulkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi kedepannya walaupun begitu aku belum mengambil langkah awal membantu para manusia.

"Nak, bantu aku membawa Ammo Supply ini" akupun bergerak cepat membawa amunisi kearah geladak. Sejauh ini mereka yakin kalau aku adalah manusia.

"Machine Gun? Dimana Machine Gun-nya?" sepertinya mereka kewalahan dan sepertinya menunggu team yang lebih besar.

Dor Dor Dor

Rentetan timah dan Ammo Supply terus di bawa ke arah geladak juga buritan yang sedang sengit melawan monster ular itu. Sudah tak terhitung jumblah korban yang masuk kedalam mulut ular biru itu sampai aku menyadari sesuatu...

"...bagian dalam tubuh monster itu terlihat lunak"

Serangan ular itu mengarah kepadaku. Mencari selamat akupun berlari sejauh ini aku masih menjadi manusia yang tidak memiliki kekuatan apapun.

Greb... Krak...

'Sial kakiku terkena gigitannya'. Rasa sakit mulai menyelubungi kakiku dengan gerakan paksa aku menarik kakiku hingga terlepas dari mulut monster laut itu tanpa menyadari sebongkah tulang tertinggal di bagian betis ku.

Saat ular itu kembali aku meraih sebuah senjata berbentuk bulat seperti telur dengan sejenis pengait di pangkalnya.

"Tarik pengaitnya, Nak" mendengarnya membuatku menarik pengait dan melempar masuk kedalam mulut. Yah... Masuk kedalam mulut bersama diriku.

Boomm!

Ledakan itu berada di depan tubuhku. Ledakan yang lumayan besar sampai-sampai membuat tubuh monster yang menelanku meledak dan terbelah menjadi dua dengan tubuh yang tenggelam dan kepala yang jatuh di anjungan kapal menimpa ruangan kapten.

...

...

...

...

...

Flashback Off

"Lalu setelahnya aku dirawat di ruang kesehatan dan diberi tau kalau tas ku hilang dibawa arus laut hingga sampai di pelabuhan paman itu memberi sedikit uang saat sampai di pelabuhan Cesme ini" ujarku. Menyelesaikan cerita itu tak segampang mengakhiri hubungan kalian tau itu kan?.

"Ahhh... Aku lupa menanyakan nama paman itu!" ujarku frustrasi entah kenapa aku merasa bersalah ya?.

"Sudahlah, jika berjodoh suatu hari nanti kau akan bertemu kembali dengan-'nya', Lalu setelah ini kau akan kemana?"

"Entahlah paman, aku tidak tau mungkin aku akan melanjutkan perjalanan ke arah timur" jawabku mau bagaimana lagi kan? Waktuku sudah tidak banyak aku terlalu santai di dataran eropa.

"timur ya? Mari aku antar kau akan berangkat ke Ankara dari sini akan memakan waktu tiga hari dengan bus pariwisata sesudah sampai cari taksi ke perbatasan dan kau akan sampai ke Iran pada hari ke tujuh. Siapkan barangmu kita akan berangkat" Malik sepertinya sangat antusias dengan perjalanan anak muda ini. Sendirian dengan Hand-Granade membunuh monster yang menjaga laut turki dan Yunani yang dipercaya sudah hidup selama ribuan tahun. 'Dunia ini tak selebar daun kelor'.

-The Fallen-

Setelah hampir satu jam bersiap dimulailah perjalanan menuju timur. Saat ini sudah sore dengan matahari yang sebentar lagi tenggelam di ufuk barat.

"Kita sudah sampai disini, Akhisar! Dari sini kau akan berangkat naik bus ke kota Ankara juga ini aku ada sedikit uang untuk membantu perjalanan mu dan jika kau sudah sampai di perbatasan cari tentara bernama Yakhzi al-Hadr dan berikan surat ini padanya" pria tua itu memang tidak kenal pada dirinya tapi entah kenapa pria tua itu percaya kalau pemuda di hadapannya memikul beban yang berat di pundaknya.

"Paman, terima kasih atas bantuanmu ini aku tidak akan pernah melupakannya"

Grep...

Dengan spontan malaikat pirang itu memeluk pria tua yang sudah banyak membantunya "Terima kasih paman atas bantuannya'

Dengan perjalanan ini aku belajar bahwa ikatan manusia tidak hanya saat saling mengenal tapi dengan kita tidak mengenal orang dengan baik maka sebagai manusia kita dapat bersama menjadi teman, sahabat, dan keluarga.

Langkah kakiku terasa sangat berat menaiki bus ini dan meninggalkan paman malik sendirian tapi aku harus terus maju dan terus tumbuh dewasa demi diriku, Onee-chan dan orang-orang yang aku sayang.

Dimulailah perjalananku menuju timur dengan rentang waktu Delapan bulan sampai aku harus ada di vatikan saat akhir dari semuanya...

.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continue...

Yoooo, kembali bersama Author pinggiran yang jarang update.

Sebenernya aku ada beberapa berita buruk dan berita bagus.

Berita buruknya : Aku kecelakaan dan masuk kedalam kolong mobil Tronton... Bjiiir, aku gk sangka kalau aku masih idup dan korbannya kaki ku kegelindes sampe remuk tulang aku. Kate dokter ini bakalan lama dan kemungkinan paling buruk kaki aku bakal ngebusuk. Anjiiir aku gk mau hidup dengan satu kaki oiii...

Berita buruk ke-2 : Laptop aku rusak dan Hp aku error buat aku gk mood buat nulis jadi sabar buat yang nunggu up date kilat.

Berita bagus nya : aku lagi ngeGarap sequel dari I Will Protect Our Story (IWPOS) sama My Life itu... Jadi ku harap kalian sabar menunggu.

#catatan Aku lagi gk mood bahas review, Mungkin next time aja ya.

Tapi tetap saja Review dan Flame adalah bahan bakar bagi kami para Author untuk menjadi lebih baik.

See you next time, Shiroyukki-chan :p