-Shiroyukki Present-

-Fallen Chapter 8 has been Update-

Naruto [masashi kishimoto]

Highschool DxD [Ichie ishibumi]

Summary : Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.

.

.

Ankara, Turkey...

Sudah tiga hari tiga malam perjalanan ini berlangsung. Perjalanan yang di mulai dari Stasiun bus di Akhisar membuatnya sampai disini. Salah satu kota yang memiliki nilai sejarah di Turki.

"Kota yang indah dan perasaan yang di bawa sangat damai saat berjalan di kota ini." Ucap pemuda berwajah tampan dengan rambut pirang miliknya apalagi di tambah pupil mata secercah permata safir.

"Hari ini sudah memasuki hari ke empat dan waktu yang ku miliki semakin menipis." Dia adalah Naruto, nama itu yang selalu ia pakai saat di dunia manusia. Naruto adalah sebuah potongan kue ikan pelengkap makanan berkuah dari timur. Selebihnya eksistensi supranatural hanya tau nama aslinya.

Semakin lama jiwa polos Naruto sedikit demi sedikit di penuhi dengan sifat kemanusiaan. Sebuah bayaran yang sangat sepadan, jika ia dapat menjadi dekat dengan ciptaan paling sempurna dari 'Ayah'-nya. Saat ini ia dapat melihat luasnya bumi, berbicara dengan manusia, dan terkadang ia juga dapat memakan makanan yang memiliki rasa yang unik dan nikmat. walaupun malaikat tidak membutuhkan makanan untuk terus hidup tapi makanan di dunia manusia sangat nikmat.

'Entah kenapa ini berbeda dari biasanya. Saat malaikat melakukan dosa dan meragukan kuasa 'Ayah' maka ia akan sepenuhnya tumbang sedangkan diriku aku sudah melakukan dosa namun apa 'Ayah' masih percaya kepadaku?' saat ini dirinya ada di sebuah taman sedang memberi makan beberapa burung merpati yang datang menghampirinya.

Malaikat akan jatuh jika termakan salah satu dari Seven Deadly Sins sebagai contohnya malaikat agung Lucifer. Lucifer sangat di cintai Tuhan, sebuah maha karya yang menghuni surga di antara ratusan juta malaikat pada zamannya. Saat Adam terbangun, Tuhan memerintahkan seluruh ciptaannya menundukan kepala kepada Adam. Malaikat, hewan, dan seluruh tanaman yang menghuni surga menundukan kepalanya kecuali satu malaikat berparas tampan dengan rambut panjang berwarna kuning yang sedang berdiri dengan gagah menantang kehendak Tuhan. Singkat cerita malaikat Lucifer terusir dari surga karena sifat sombong yang menggerogoti dirinya dan merubah penampilannya dan yang paling mencolok adalah rambut berwarna perak di kepalanya.

Lalu malaikat Belail, sedikitnya info membuat malaikat satu ini penuh akan misteri. Ada yang mengatakan bahwa Belial adalah malaikat pertama yang di usir dari surga bukan Lucifer. Ada banyak versi lain tentang malaikat satu ini.

Kemudian ada malaikat Azazel, Rasa cintanya pada manusia sudah ada pada dirinya saat ia tercipta. Kepintaran dan kekuatannya sangat dahsyat, dapat lolos dari beberapa hukuman karena kecerdasannya. Azazel yang mencintai manusia menjadi khawatir saat makhluk supranatural mulai memburu manusia untuk di jadikan makanan dan budak. Namun, Azazel tidak tinggal diam ia mengajarkan manusia ilmu sihir dan pengetahuan yang ia miliki membuat manusia dapat bertahan hidup dari gempuran makhluk supranatural yang menyerangnya. Akibatnya manusia yang hidup dalam ketakutan saat hari mulai gelap sedikit tenang akibat pengajaran yang Azazel berikan kepada mereka. Setelahnya Azazel terjatuh karena mengajarkan hal yang dapat merusak keseimbangan semesta. Namun saat Azazel di usir dari surga, Azazel dapat bantuan dari kaum manusia yang dulu ia tolong. Mereka memberinya tempat untuk tidur, makanan, dan selama puluhan tahun Azazel berperang bersama para manusia melawan makhluk supranatural sampai ia menghilang di awal Great War. Kehilangan Azazel meninggalkan lubang besar pada para pengikutnya dan satu persatu keluarga penyihir meningalkan ajaran Azazel.

Masih banyak lagi malaikat yang terjatuh menjadi iblis ataupun menjadi malaikat jatuh. Sebut saja Astaroth, lalu Kokabiel, Shemhazai, dan masih banyak lagi.

Deg...

Ketika melamuni hal yang menurutnya sedikit janggal tiba-tiba datang sebuah energi yang sangat besar dari belakangnya. Dengan perlahan Naruto mengeluarkan lingkaran sihir dan menarik kapak Honma miliknya.

Sret...

Saat memutar tubuhnya terdapat suatu sosok yang di selimuti aura hitam seperti bayangan, tubuhnya juga tinggi dan berisi, dengan sebuah Board Sword dan sosok itu juga mengenakan topeng tengkorak.

"Apa yang kau lakukan disini, eksistensi tidak di ketahui?" ucap sosok itu. Suara keras nan berat yang keluar itu pasti seorang pria dewasa.

"Eksistensi tak di ketahui?"

"Kau itu malaikat tapi kau sudah tidak suci lagi dan kau juga bukan malaikat jatuh karena masih memiliki cahaya suci itu." Perkataan sosok itu membuat Naruto terdiam mencerna ucapan sosok itu. Ucapan sosok itu sama seperti apa yang ia pikirkan tadi, suatu kebetulan kan?

"Ahhh... Itu ceritanya panjang tapi perkenalkan namaku Naruto. Kau siapa?" tangan Naruto terulur ke depan mengarah pada sosok yang sedari tadi diam.

"Namaku Hassan i Sabbah. Salam kenal wahai Hikari, sang cahaya."

"Hassan i Sabbah, jika tidak salah kau adalah orang yang membangun organisasi Hassassin, prajurit terlatih yang bergerak dalam bayangan. Tunggu... Kenapa kau tau nama asli ku?"

"Hahahaha... Apa benar di surga dalam fraksi Injil ada malaikat bernama Naruto? Tentu saja tidak. Apa tidak ada nama lain selain Naruto? Kau tau kalau nama Naruto adalah kue ikan pelengkap makanan yang berasal dari timur kan?" posisi mereka masih saling berhadapan. Walaupun mareka masih membicarakan hal-hal ringan keduanya tidak menghilangkan senjatanya.

"Entahlah aku juga tidak tau, aku hanya asal sebut saja. Apa kita akan saling serang atau duduk disini dan mengobrol?" keduanya saat ini sedang mengeluarkan energi masing-masing. Cahaya dan kegelapan saling beradu. Board Sword pada Hassan dan War Axe pada tangan Naruto.

Swush... Bum...

Keduanya melesat dengan kecepatan yang tidak dapat di lihat dengan mata telanjang. Hanya percikan api dari besi yang beradu di langit malam. Pedang dan Kapak itu beradu dengan kuatnya sampai-sampai membuat dataran bergetar.

'Kekuatan setara dengan seorang Ultimate Devil dan Azazel.' Gigi dan rahang saling bergemeletuk saat merasakan sensasi yang belum ia rasakan selama ini. Selama seratus tahun setelah kepergian sang 'Ayah' Naruto tidak pernah bertarung dan melaksanakan tugas sebaiknya namun ini adalah pengalaman yang sama seperti saat di Great War saat melawan Azazel.

Sret...

Keduanya melompat mundur menjaga jarak. Namun hal yang tidak di sangka adalah Naruto yang menghela nafasnya dan mulai mengambil Backpack miliknya yang ia taruh di kursi taman.

"Aku tidak ingin mencari masalah disini! Aku hanya singgah saja." Di tangannya kapak Honma menghilang menjadi serpihan cahaya meninggalkan tangan yang kosong tanpa senjata. Pemuda itu pergi dari taman dan menghilangkan Kekkai cahaya yang ia buat.

"Nak, mau mendengar satu nasihat sebelum kau pergi?" Naruto terdiam lalu membalikkan wajahnya.

"Semua Surga, Semua Neraka, Semua kesengsaraan. Kau sendiri yang membuat." Ucap sosok Hassan. Dalam perjalanan selama ia hidup, Hassan sudah melihat banyak hal namun malaikat ini membuat dirinya unik dari malaikat dari mitologi lainnya.

"Ya, kau ada benarnya. Sayangnya aku sudah membuat Neraka ku sendiri. Terima kasih atas Nasihatnya." Setelah mengucapkan terima kasih Naruto pergi dari tempatnya saat ini. Walaupun Naruto tahu bahwa sosok yang ia hadapi saat ini hanyalah arwah yang terus berkeliling melindungi negara tercintanya, ia menaruh rasa hormat pada sosok itu. Rasa hormat yang hanya ia berikan pada segelintir orang.

Tak jauh dari tempatnya tadi, Naruto sedang berdiri menunggu taksi yang ia pesan menuju perbatasan negara ini di bagian timur. Negara ini sangat hebat dan memiliki nilai sejarah tersendiri. Negara yang menjadi bagian dari peradaban Mesopotamia. Negara Iran.

"Sekarang aku tinggal menunggu taksi menuju perbatasan dan memberikan surat ini." Pada tapak tangannya ada sebuah surat yang tersegel dengan lapisan perekat.

"Aku harap perjalanan menuju perbatasan tidak memakan waktu yang lama. Bisa saja aku memakai sihir untuk sampai ke sana tapi aku akan melewatkan pemandangan saat di jalan." Selama Naruto berkutat dengan pikirannya tidak ada seorangpun yang menegurnya. Naruto terus melamun sampai taksi sampai di tempatnya.

"Yosh... Aku kita Pergi." Perjalanan Naruto di lanjutkan menuju timur. Perbatasan Turki dengan negara Iran.

.

.

.

Prancis...

Beberapa orang sedang berkumpul dalam sebuah mansion mewah. Mereka berkumpul di ruang utama dan salah satu dari banyaknya orang disana ada seorang gadis berambut pirang panjang. Gadis yang pernah menjadi wadah Jeanne D'arc dalam Holy Grail War. Gadis itu adalah Leaticia namun ada perbedaan yang paling mencolok yaitu pada bagian perut yang membesar.

"Bagaimana kau bisa melakukan ini, Leaticia? Kita adalah keturunan bangsawan dan kau memiliki anak dari seorang gelandagan?" Pria itu adalah ayah dari Leaticia. Mau bagaimanapun Ayahnya sangat menyayangi dirinya jadi Leaticia tak perlu takut. Daripada ayahnya yang ia takutkan adalah bibinya.

"Yah, begitulah jadinya kalau kau tidak bisa mendidik anakmu dengan baik! Maka dari itu Ayah izinkan aku melenyapkan anak haram itu." Leaticia terdiam mendengar perkataan adik dari ayahnya itu. Melenyapkan anaknya? Buah cinta dengan orang yang ia cintai.

"Jaga bicara mu, Hani. Ini adalah urusanku dan keluargaku jadi, diamlah!" Energi sihir meledak dari tempat ayah Leaticia membuat hembusan udara yang sangat kuat.

"Hooo... Kau bisa mengeluarkan tekanan yang sebesar itu ya, David Nii-sama. Duduk saja dan biarkan aku mengurus anak itu." Tekanan tak kalah besar keluar dari tempat duduk wanita itu. Kekuatan yang hampir menyamai sang kakak namun dengan hawa yang lebih dingin dari pada biasanya.

"Jangan bercanda, aku tidak akan membiarkanmu menghilangkan anak ini." Sebelum Leaticia menyuarakan pendapatnya, Ayahnya maju dan berdiri di hadapannya "... tau apa kau tentang mendidik anak, hah? Aku sudah Dua puluh tahun mendidiknya sedangkan lihat kau. Kau baru menikah lima tahun yang lalu dan kau belum memiliki anak! Tau apa kau tentang mendidik anak?" Baru kali ini Leaticia melihat Ayahnya meninggikan suara apalagi di situ ada kakeknya, kepala keluarga saat ini.

"Ayah, lihatlah itu! Anak kesayangan ayah meninggikan suara apalagi ada Ayah disini."

"Ya, lakukan sesuka mu. Aku sudah tau akan seperti apa ujungnya, kau akan mengadu pada Ayah dan selanjutnya aku akan terkena masalah." Semua yang ada disana terdiam. Leaticia bersama seluruh Bibi dan Pamannya yang saat ini ada di ruang keluarga hanya diam.

Sejauh ini yang Leaticia tau. Ayahnya adalah anak tertua dalam keluarga ini dan bibi sangat menentang hal itu karena dari dulu ia sangat di manja kakeknya.

"Sudah, Diam..." semuanya beranjak pergi menuju sofa lalu menduduk bokong mereka dan diam dengan wajau kaku. "... Leaticia karena penghinaan kepada keluarga ini kau di usir dan gelar bangsawan mu akan di copot. Lalu untukmu Hani, kau akan di asingkan dan seluruh titik Mana milikmu akan di kunci." pak tua yang sedari tadi diam di sofa utama mulai angkat bicara. Setelah lama diam, mengamati, dan akhirnya membuat keputusan yang sangat sulit bagi dirinya sendiri. Leaticia adalah cucu pertama yang amat ia sayangi berbeda dengan cucu yang lainnya dan di lain sisi Hani adalah anak yang sudah salah ia didik karena selalu di manja.

"Apa aku tidak salah dengar? Ayah membuang ku. Aku tidak terima dan ini tidak a..."

"DIAM"

Sebelum menyelesaikan ucapannya Hani dibuat terdiam saat sang ayah membentaknya. Ini pertama kali baginya melihat ayahnya marah.

"Ini adil dari sudut manapun, Leaticia di buang dan tidak di anggap bagian keluarga ini dengan membawa aibnya sendiri namun sihirnya tidak di kunci. Sedangkan kau, Gelar bangsawan milikmu tidak di hapus dan kau hanya di asingkan untuk beberapa waktu. Apa itu tidak adil? Jika ada yang tidak setuju katakan sekarang!" Mendengar perintah sang ayah tidak ada seorangpun yang angkat bicara bahkan Hani yang hanya bisa menggigit bibirnya menahan emosi.

"Besok Leaticia harus pergi dan lusa Hani pergi dari sini. Karena tidak ada yang harus di bahas lagi rapat keluarga hari ini aku nyatakan selesai." Semua orang mulai berdiri dari tempat masing-masing tak terkecuali pasangan ayah dan anak itu. Saat ini Leaticia beserta ayahnya sedang berada di depan pintu mansion itu.

"Ayah, aku izin pulang. Aku harus mempersiapkan kepergian anak ku."

"Aku juga kakek, aku izin pulang. Aku rasa ibu akan menangis di rumah saat aku pergi hehehe..."

Ayah dan anak itu pergi meninggalkan mansion saat menerima izin dari kepala keluarga. Walaupun berat menerima kenyataan bahwa anaknya harus pergi tapi tak bisa di pungkiri kalau David sangat menyayangi anak sematawayang yang jarang ia temui karena urusan perkerjaan.

'Aku berdo'a kepada tuhan untuk menjaga dirimu, cucuku. Aku tak habis pikir setelah semua ini, Leaticia masih dapat tertawa.' Pria tua itu mulai masuk ke dalam kamarnya dengan pintu yang tertutup sendiri. 'Dia memang gadis yang kuat.'

.

.

.

Perjalanan satu hari satu malam menuju perbatasan menggunakan taksi sudah ia lewati. Saat ini Naruto sedang berada di ruang intrograsi dan di depannya ada seorang tentara, lebih tepatnya Letnan Yakzhi Al-Hadr.

"kenapa kau menerobos perbatasan tanpa izin?"

"Kau tau, aku sudah meminta untuk bertemu dengan dirimu tapi para tentara di gerbang itu, mereka melarangku untuk bertemu denganmu. Lihatlah sekarang! Aku di tangkap hanya karena ingin bertemu dirimu."

Percakapan keduanya hanya berlangsung beberapa saat. Satu persatu pertanyaan interogasi di jawab dengan jawaban yang enteng dan berkesan sepele. Kemudian Naruto mengeluarkan surat yang di berikan Malik padanya.

"Letnan, aku punya surat dari seorang pria yang tinggal tidak jauh dari pelabuhan di Cesme. Nama pria itu adalah Malik Al-Hadr, aku datang menemui dirimu untuk mengirimkan surat ini..." Naruto memberikan amplop surat yang sedikit lecek di bagian sudutnya. "... maaf kalau penampilannya tidak rapi seperti saat pertama kali di berikan kepadaku."

"Tidak apa, aku menerimanya. Dari Cesme sampai sini pasti sangat melelahkan ya? Terima kasih. Boleh aku buka?" Letnan itu sekarang sedang memegang suratnya. Walaupun rasa senang sangat membuncah di hati tapi tetap saja ia harus menahan rasa senang pada hatinya.

"Silakan, surat itu memang sepenuhnya di tunjukan pada anda." Sesudahnya Letnan Yakzhi mulai membuka suratnya. Pisau bayonet yang ia taruh di samping pinggangnya ia gunakan untuk membuka perekat amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Butuh beberapa waktu untuk membaca isi surat itu. Beberapa bagian yang mengatakan salam dan inti surat itu yang jadi permasalahan dengan alis yang membentuk sebuah sudut miring.

"Harus ku akui kalau ini sulit di percaya tapi ini memang tulisan Ayah. Ayo kita keluar dari sini, kau ingin menyeberang kan?" tanpa menjawab Naruto ikut berdiri dan keluar dari ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu di langit-langitnya.

"Tunggu sebentar, anda anak paman Malik?" ucap Naruto dengan ekspresi kaget di wajahnya. Salah satu karuniah dan kutukan yang ia dapat saat berbuat dosa yaitu emosi jadi ia dapat mengeluarkan segala sesuatu berbentuk emosi entah itu Amarah, Iri, Dengki, Cemburu, Senang, Bahagia, Sedih dan banyak lagi.

"Kau tidak menyadari nama belakangku Al-Hadr ya?..." Naruto menggeleng dengan wajah kikuknya "... sudah ku duga. Kau tau, Malik Al-Hadr adalah ayahku dan karenanya beberapa orang dulu menyebutku dengan julukan ... tapi aku tidak menggubris dan berkecil hati, menganggap mereka hanya Anjing dan perkataan mereka adalah sampah aku terus maju berjalan ke depan."

"Kau kuat Letnan, bagiku kuat bukanlah orang yang dapat menaklukkan musuhnya tapi kuat adalah orang yang dapat menaklukkan emosinya sendiri."

"Kita sudah sampai, beberapa anak buah ku akan mengawalmu sampai titik terluar dari base kami dan ini untuk jaga-jaga..." di hadapannya ada sebuah senjata yang biasa manusia gunakan walaupun terlihat biasa tapi dirinya yakin kalau senjata ini sangat kuat. Yah, selama dipakai untuk melawan manusia tapi jika melawan makhluk supranatural lain ceritanya. "... itu Desert Eagle, aku tidak bisa membantu lebih persediaan kami sedang menipis karena pasokan belum sampai dan aku harap kau bisa menggunakan senjata ini dengan bijak."

"Tenang saja, aku akan menggunakan ini sebaik-baiknya. Mungkin aku akan menolong orang yang menjadi korban jika aku bertemu mereka. Kalau begitu, aku pergi dan terimakasih atas bantuannya." Naruto pergi bersama beberapa orang dengan menaiki mobil.

'Ya, perjalanan kita di mulai lagi.'

Di arah belakang Letnan muda itu membaca kembali surat pemberian ayahnya. Dengan wajah senang dan juga sedih.

"Nak, jika kau sudah mendapatkan surat ini berarti Naruto sudah sampai ke basecamp mu. Bantulah dirinya nak, ia hanya seorang Musafir. Kau ingat yang di ajarkan gurumu kan saat kecil? Perkembangan di Cesme dalam beberapa minggu akan berkembang pesat karena monster Rasaka sudah tewas dan kau tau siapa yang membunuhnya? Naruto. Dia yang membunuh Rasaka jadi jangan khawatir dengan keadaan ayah dan fokus saja pada tugas mu. Aku mohon bantu dia! Hanya kau yang dapat membantunya di sana." Setiap kali Letnan muda itu membacanya hatinya bergoyang dan wajahnya tak henti tersenyum, pemuda bertampang polos dan terlihat seperti dua puluh tahunan yang berbeda dapat membunuh monster Rasaka yang bahkan pasukan negaranya saja menyerah.

"Semoga kau menemukan apa yang kau cari, Musafir muda!" Letnan itu pergi meninggalkan lapangan dan berjalan menuju ruang kerjanya.

.

.

.

"Leaticia, kau akan pergi bersama Francouis menuju bandara dan pergilah ke jepang