Shiroyukki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Seorang malaikat yang sangat patuh pada sang 'Ayah' yang mencintai seorang manusia membuatnya tidak bisa masuk kembali kedalam Rumah sejatinya. Namun berkat itu semua ia dapat melihat semua ciptaan sang 'Ayah' yang berada di tempat keturunan dari Adam dan Hawa.
...
...
#StayAtHome
...
...
Chapter 10 :
Di sebuah tempat entah di negara mana, percikkan listrik dan juga angin mewarnai malam tanpa bintang. Sebuah portal terbentuk dan kemudian meledak meninggalkan seseorang yang tak sadarkan diri.
...
...
Hari-hari berlalu dan Naruto saat ini sudah hidup bahagia bersama dengan keluarga kecilnya. Walaupun ia sudah sepenuhnya terjatuh dan termakan Seven Deadly Sins namun ia tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang pembawa cahaya. Naruto selalu memberikan dukungan moral dan juga menyemangati semua orang yang sedang putus asa membuatnya menjadi akrab bersama tetangganya.
"Jadi, mari kita lihat disini. Uroyogi kazami-san, dalam file ini kau mengatakan kalau dirimu menderita suatu serangan mental karena tekanan dari keluargamu sehingga kau membunuh mereka, bukan?" Naruto saat ini sedang berada di suatu ruangan dengan seorang pria yang sedang berbaring di sofa panjang untuk membuat tubuh pria itu sedikit santai.
"Ya, aku membunuh mereka semua karena tekanan dari segala arah! Aku... Aku selalu merasakan kesepian walaupun di tengah keluargaku!" Ucap Pria itu dan Naruto sudah tau dimana akar masalahnya. Orang ini putus asa, ia memiliki keahlian namun keluarganya tidak mendukung keahlian itu dan terus menekan pasiennya agar mendapatkan pekerjaan yang memiliki penghasilan yang lebih besar.
"Jadi, sekarang apa yang kau dapat? Bukan ketenangan kan? Melainkan rasa kesepian itu semakin membuat dirimu terlelap dalam kegelapan dan juga putus asa. Saranku, ubahlah pola pikirmu dan juga mulai sekarang coba lakukan hal-hal yang membuatmu senang. Baiklah, kita akan melihat kemajuannya di pertemuan berikutnya." Ujar Naruto dan Kazami hanya menganggukkan kepalanya.
Naruto sekarang bekerja sebagai seorang Psikiater yang mana membuat pekerjaannya sedikit mudah. Dirinya yang memang bertugas untuk menyebarkan cahaya di hati manusia menjadi sedikit lebih mudah karena pekerjaan ini. Naruto mendapat sertifikat Psikiater karena langsung mengikuti ujian tanpa pandang bulu dan sekarang ia bergelar Master.
Naruto dan keluarga kecilnya tinggal di Kuoh, Jepang. Sebuah kota yang menjadi basis bagi iblis Gremory dan juga Sitri yang beberapa tahun lalu berhasil mendapati kontrak tempat untuk sementara waktu dengan catatan para iblis itu harus melindungi manusia yang ada di terirori mereka.
Melihat jam kerjanya sudah selesai, Naruto beranjak keluar dari ruang kerjanya. Beberapa karyawan menyapanya dan ia juga membalas sapaan itu dengan senyum di wajahnya. Kehidupan damai dan tenteram membuat dirinya sangat santai karena tidak adanya konflik yang sudah terjadi setelah satu abad Great War berhenti.
Dan disinilah Pria itu berhenti, di pinggiran kota Kuoh menemui seseorang yang bisa di bilang saudaranya. Orang itu sedang memancing dengan pakaian yang kusut dan sebuah ember kaleng yang tidak pernah terisi hasil tangkapannya.
"Yo pak tua, sudah berapa ekor yang kau dapat?" tanyanya dan orang yang merasa di panggil menolehkan kepalanya mendapati seorang pria sedang berjalan kerahnya.
"Ahh.. Tidak ada yang aku dapatkan namun inilah hidup, Naruto! Damai tanpa adanya konflik antar ketiga fraksi." Ujar pria itu dan Naruto juga tak menyangkal ucapan yang keluar tersebut. Dirinya mengakuinya, setelah gencatan senjata antar tiga fraksi injil kedamaian sementara waktu ini dapat terjadi. Tanpa adanya tumpah darah, tanpa adanya korban, dan tanpa adanya kesedihan yang mendalam dan terbentuknya dendam berkepanjangan.
Naruto akui masih banyak konflik kecil yang terjadi di dunia manusia maupun dunia supranatural. Namun, Pria itu sudah memilih menjauh dari semua konflik tersebut hingga akhirnya hanya Azazel dan seorang dari klan iblis yang tau keberadaannya.
Tak lama kemudian, sebuah lingkaran sihir berwarna merah mulai terbentuk dan mengeluarkan seorang pria berambut merah yang wajahnya terlihat seperti berumur dua puluhan. Pria itu memakai pakaian santai berupa kaos berwarna putih dengan celana hawaii berwarna hitam dengan sebuah pancing yang ada di tangan kanannya.
"Yo Sirzech!" Sapa Naruto dan Sirzech yang melihat kehadiran Naruto mengangkat tangannya dengan senyum di wajahnya yang tampan. Walaupun Naruto dan juga Sirzech memiliki wajah yang tampan dan terlihat berumur dua puluhan tapi sebenarnya umur mereka semua sudah mencapai beberapa milenium dan karena selama mereka hidup selalu menemui perang, ketiga orang itu menghargai keadaan damai ini lebih dari siapapun.
"Hei Azazel, kau ada rokok?" tanya Naruto dan dari sakunya Azazel mengeluarkan bungkus rokok.
"Hei, dimana koreknya? Jika tidak ada korek bagaimana aku menghidupkan lintingan tembakau ini?" Pertanyaan yang bercampur kekesalan meledak dari Naruto dan Sirzech hanya tertawa melihat kebersamaannya bersama dengan orang-orang yang berasal dari fraksi musuh.
"Tunggu saja petir dan kau akan mendapati api di rokokmu."
"KISAMAAAAAAA!"
Yah, inilah yang Naruto lakukan sehari-hari melepaskan penat selepas bekerja bersama dengan teman-temannya dan kemudian beranjak pulang menuju rumahnya bertemu dengan putri kecilnya yang sedang dalam proses pertumbuhan.
"Ahh... Iya, apa kabar adikmu Sirzech?" Tanya Naruto dan kemudian ekspresi pemuda yang menyandang gelar raja iblis Lucifer itu mulai berubah. Siluet bunga yang bermekaran muncul di sekitar pria itu dan akhirnya ia dengan antusias menjelaskan perkembangan adiknya 'Rias Gremory' yang memiliki umur satu tahun lebih tua dari Putri Naruto.
"Oh ya, aku harus pergi ke suatu tempat. Aku permisi, bye!" Pria itu seketika menghilang dari pandangan mereka saat sebuah lingkaran sihir yang bersinar menelannya meninggalkan Azazel yang sedang berbahagia saat umpannya di makan ikan.
...
...
Mount Olympus
Sudah dua tahun berlalu semenjak Anastasya tinggal di pegunungan para dewa. Pelatihan panjang yang melelahkan terus ia hadapi hari demi hari hanya untuk semakin kuat dan akhirnya ia berhasil menundukkan suatu eksistensi yang sangat di hormati di dunia bawah. Pluto, Jendral tertinggi dari para Grim Reaper yang berada di bawah perintah Hades sang dewa penguasa Underworld.
"Pelatihan mu sudah selesai, sekarang saatnya untuk keluar dan kembali pada kakakmu." Gadis itu terdiam dan kemudian mengalihkan pandangannya pada empat bola cahaya yang menjelma menjadi wanita dan pria dewasa.
"Ares-sama, Athena-sama, Artemis-sama, Apollo-sama." Gadis itu menundukkan kepalanya dan bersikap layaknya seorang ksatria yang sangat gagah. Pendidikan dari empat dewa yang menjadi batu kokoh peperangan dapat terlihat dari setengah wilayah Underworld yang membeku karena kemampuan milik gadis itu. Anastasya memiliki julukan tersendiri bagi empat dewa yang menjadi pilar peperangan yaitu Guru, Empat orang yang sudah merawatnya selama dua tahun ini dan karenanya Anastasya sangat menghormati mereka semua.
Ares yang menjadi lambang akan rasa sakit peperangan tersenyum melihat muridnya. Dirinya tidak menyangka, Gadis yang lemah secara fisik dapat menjadi seorang ksatria yang setara dengan para spartan di Yunani. Dirinya sangat bangga pada Anastasya walaupun ia memberikan tugas yang sangat susah bahkan tugas dengan taruhan nyawanya, Gadis itu menjalankan tanpa mengeluh pada dirinya.
Hampir sama dengan Ares, Athena juga sudah menganggap Anastasya seperti anaknya sendiri. Dewi yang menjadi lambang kebijaksanaan dan juga strategi saat peperangan tersenyum dengan bangga saat melihat gadis di hadapanya ini. Mau bagaimanapun Anastasya hanyalah seorang perempuan dan karena itulah, Athena menjadikan dirinya tempat berteduh bagi gadis remaja itu.
Apollo dan Artemis, Dua kakak beradik yang menjadi lambang panah saat peperangan untuk Artemis dan juga pengobatan untuk Apollo tak kalah bangga dengan saudara mereka. Semua pengetahuan sudah mereka berdua berikan pada Anastasya. Pengetahuan akan pengobatan, pengetahuan akan gerak musuh, pengetahuan tentang Magical Beast dan juga pengetahuan akan budaya mereka berikan pada gadis itu tanpa memandang ras dan juga tingkatan mereka.
"Tugas terakhirku sudah selesai, Shishou! Dengan mengalahkan Pluto, Aku sudah menunjukkan diriku kalau aku sudah berkembang dan dapat sejajar dengan para Demigod. Dan, terima kasih sudah merawatku selama ini." Air mata mulai mengalir dari kedua maniknya saat mengetahui kalau ini adalah saat-saat terakhir dirinya bersama dengan keempat gurunya. Tak berada dengan Anastasya, Keempat dewa dewi itu juga terharu karena sudah menganggap murid kesayangan mereka sebagai anak mereka sendiri tak terkecuali Ares. Walaupun di kepalanya hanya terpikirkan tentang perang, Ares selalu mengasuh Anastasya dengan lembuh bagaikan seorang ayah namun dalam pelatihan Ares akan membuat Anastasya selalu kewalahan karena dirinya tidak ingin manusia yang ia anggap anak menjadi seseorang yang sangat lemah.
"Kalau begitu, Ini adalah perpisahan namun jangan anggap ini sebagai akhir. Sering-seringlah mampir kemari, Anakku Anastasya." Air mata jatuh saat Athena sudah tidak kuasa menahan rasa sakit di dadanya saat berpisah dengan gadis itu.
"Sebagai hadiah karena sudah bertahan sejauh ini, aku memberikanmu sebuah perisai! Perisai yang dapat mengahalau apapun serangannya bahkan dapat mengahalau serangan milik Great Red." Dari ketiadaan datanglah sebuah perisai berwarna emas dengan corak kepala Medusa. Kemudian perisai itu berubah menjadi sebuah gelang yang langsung melekat di tangan kiri Anastasya.
Athena's Aegis, Salah satu dari sepuluh perangkat dewa di Olympus. Perisai yang terbuat dari Chymeradyte yang diberikan seorang raja sebagai sebuah persembahan pada dewi Athena dan karenanya Athena meminta Hephaestus untuk menempanya menjadi sebuah perisai yang dapat mengahalau segala jenis serangan.
"Sebagai ayahmu, aku memberikan sebuah barang yang sangat berharga bagiku. Armeuts, pedang kebanggaanku! Pedang ini dapat membelah segalanya kecuali hukum dunia dan hukum kehidupan. Kau dapat membunuh siapapun dan karenanya kau harus tau kapan saatnya pedang ini keluar! Sekali pedang ini terbuka, maka ia setidaknya harus mencicipi darah dari musuh-musuh mu. Sekarang ku warisankan pedang ini padamu, anakku." Dengan kuasanya, Pedang itu berubah menjadi sebuah jarum yang langsung menggulung rambut panjang Anastasya dan menjadi hiasan di kepalanya.
"Ahh... Hadiah dariku tidaklah bagus namun kau dapat mengambil ini." Apollo, sang dewa matahari memberikan botol yang berisi cairan bening kepada Anastasya. "Botol itu berisi Water of Dark Tide's yang dapat membawa semua makhluk yang meninggal kembali kekehidupan hanya dengan satu tetes dan Air itu tidak akan pernah habis jika kau menyisakan satu tetes di dalam botol itu. Sekarang, ambillah ini dan kenakanlah." Dewa itu mengepalkan tangannya dan langsung menggengam botol tersebut hingga akhirnya berubah menjadi sebuah liontin.
"Ambillah busur ini, Anastasya. Aku membuatnya khusus untuk dirimu. Kayu yang menjadi bahannya berasal dari tanduk rusa emas di Mythical Forest, Tali itu berasal dari benang Demon Spider dan anak panah di dalam Cuiver tidak akan pernah habis karena aku memberikan kehendakku di dalamnya." Busur dan anak panahnya menyatu menjadi sebuah anting yang bersarang di telinga kanan Anastasya. Empat perangkat dewa menyatu dengan tubuh Anastasya dan sekarang empat dewa yang menjadi Guru, Mentor dan juga sosok orangtua bagi gadis tersebut sedang tersenyum bahagia pada Anastasya.
"Aku tidak akan pernah melupakan kalian! Aku, Anastasya Nikolaevna Romanova adalah murid dari empat pilar peperangan Yunani dan aku bangga karenanya!" Suara lantang keluar dari mulut kecilnya hingga membuat para dewa tertawa dan membuat wajahnya memerah.
Akhirnya dirinya bisa pulang dan bertemu dengan orang-orang yang sudah ia anggap keluarga. Naruto, Leaticia, dan juga adik kecilnya yang sudah lahir dan di beri nama Asia. Setiap minggu atau ada beberapa hal yang terjadi, Kakaknya akan mengirimkan surat kepada dirinya dan karena surat tersebut dirinya tau keadaan keluarga kecilnya. Mengingat itu membuat Anastasya sangat bahagia karena ia bisa menggendong keponakannya yang masih bayi dan juga dari surat yang ia baca kalau kakaknya bekerja di bidang psikiatri yang cocok dengan tugasnya semasa menjadi malaikat.
Setelah berpamitan dengan semua dewa yang ada di gunung olimpus, Para Hunter dan juga beberapa Demigod yang bersahabat dengannya, Anastasya berjalan ke arah dua pohon kembar yang menjadi gerbang masuk ke gunung olimpus. Rasanya sangat susah berpisah dari tempat ini dan kemudian gadis berumur tujuh belas tahun itu menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat keagungan gunung Olympus dan juga perkampungan Olympians di kaki gunung.
"Terima kasih dan sampai jumpa."
Dengan begitu, Anastasya melangkahkan kakinya memasuki sebuah gerbang yang menghubungkan antara Olympus dan juga hutan di kawasan Santorini. Kawasan perhutanan yang sudah lama tidak ia lihat dapat membuat pikirannya sedikit tenang dan ia pun melanjutkan perjalanannya.
...
...
Heaven
Surga tempat keberadaan para malaikat yang sudah ada sejak dunia di ciptakan. Eksistensi yang dikatakan lebih tua daripada Titan dan juga para dewa, Pasukan yang sangat kuat pada zamannya sebelum peperangan antar tiga fraksi besar injil membuat kekuatan mereka semua menurun. Disinilah Naruto saat ini berada, walaupun dirinya adalah Malaikat jatu, Da-tenshi, Tetap saja Michael memberikan izin untuk datang walau hanya sesaat dan tidak dapat menginap di Heaven.
"Aku kemari hanya ingin mengatakan sesuatu." Ucapan Naruto yang secara perlahan keluar itu membuat seorang Michael menjadi serius. Informasi yang Naruto berikan tidak akan pernah salah karena sebagai cahaya ia dapat mengetahui segala sesuatu di seluruh belahan dunia ini dan karenanya segala informasi yang Naruto keluarkan tidak akan pernah salah.
Perbincangan terus di lakukan antar dua malaikat itu. Di ruangan ini hanya ada Michael dan juga Naruto tanpa adanya para Seraph. Alis Michael menaut dan juga kedua matanya menyipit hingga akhirnya malaikat itu menggebrak meja karena amarahnya sampai-sampai membuat Halo di atas kepalanya berkedip.
"Jangan bercanda! Apa yang akan kau lakukan hanya akan membuat keluargamu menderita! Kumohon, ingatlah nasib anakmu kedepannya." Malaikat itu memohon namun tetap saja Naruto sudah teguh dengan pendiriannya sampai membuat Michael menyerah.
...
...
Kuoh, Japan
Naruto sudah kembali dan saat ini ia berteleport ke gang di dekat rumahnya karena takut akan saksi mata yang melihat dirinya melakukan sihir. Melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 07.12, Naruto kemudian tersenyum dan secara perlahan menghela nafasnya.
'Hufft... Sepertinya Leaticia akan marah kepadaku." Pikirnya dan tetap saja, yang akan menjadi bantalan adalah Azazel dan juga Sirzech dengan alasan melakukan pesta kecil-kecilan. Mengingat sikap Leaticia, Naruto hanya tertawa kecil saat mengingat kejadian di masa lalu dimana Azazel, Sirzech dan juga dirinya takluk di hadapan wanita itu.
Sorot matanya saat ini mengarah pada rumahnya namun ia kemudian bertanya-tanya.
'Siapa yang sedang bertamu?' Pikirnya dan saat ia membuka pintu dapat ia lihat kalau keluarga Hyodou sedang bertamu bersama dengan si kecil Issei yang sedang bermain dengan anaknya.
"Tadaima, Anata."
"Tadaima, Naruto."
Semua orang menyambutnya dan Naruto hanya mengeluarkan senyuman sebelum ia mengatakan Tadaima dan melangkahkan kakinya masuk. Bercanda dan juga tertawa bersama karena keluarga Hyodou sudah menganggap Naruto sebagai saudaranya begitupula sebaliknya namun tetap saja terkadang mereka masih menjaga jarak.
"Yah, karena Naruto sudah kembali maka kami juga akan pulang." Mendengar niatan tersebut, Naruto berusaha menghentikannya dan mengajak keluarga Hyodou makan bersama mereka di bawah langit malam di bagian belakang rumah milik Naruto.
Seperti biasa untuk ukuran anak berusia satu tahun, Asia dan juga Issei sedang bermain bersama dengan langkah kaki yang masih tertatih tentunya dengan wajah imut mereka. Melihat itu Naruto berjalan mendekati Issei dan menepuk kepala balita itu hingga akhirnya ia dapat menembus ke dalam alam bawah sadar Issei, Tentunya tanpa di sadari semua orang.
Di alam bawah sadar Issei, api yang berkobar ada di mana-mana seakan menggulung semua yang ada di hadapannya dan di dalam api itu terdapat sorot mata berwarna hijau yang bercahaya.
"Untuk apa seorang perwujudan dari cahaya mutlak bertemu dengan diriku ini?" Suara yang berat keluar dari kedalaman api itu dan Naruto tersenyum mendengarnya.
"Sudah lama tidak bertemu, Draig. Yah, aku hanya datang untuk menyapa mu saja."
"Setelah 'Dia' menyegel diriku di dalam benda terkutuk ini selama ribuan tahun dan kau hanya ingin menyapaku? Lupakan!" Api itu semakin berkobar dengan sangat hebat seakan merespon amarah dari mahluk yang di panggil Draig oleh Naruto.
"Yah, aku hanya ingin mengatakan Maaf karena 'Ayah' sudah menyegelmu dan aku ingin membantumu. Walaupun tidak dapat melepaskanmu dari Sacred Gear ini tapi aku bisa sedikit mengendurkan segelnya dengan ini." Kilauan pada mata berwarna hijau itu semakin terang dan akhirnya suara tawa menggema disana. Hingga akhirnya muncul sebuah moncong hingga akhirnya menunjukkan sebuah kepala Naga berwarna merah dari dalam api itu.
"Apa benar itu adalah buku milik Raziel? Bukannya buku itu sudah hilang setelah kematian Solomon?" Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus keluar dari mulut Draig namun Naruto dapat menjawabnya dan disinilah Mereka, di tengah-tengah api yang berkobar Naruto dan juga Draig sedang berhadapan.
"Aku ingin membantumu namun kau juga harus membantuku untuk melindungi inangmu, walaupun aku tau kalau Naga memiliki sifat keras kepala namun aku memiliki sedikit penglihatan kalau anak ini akan menjadi orang yang sangat hebat di masa depan."
"Yah, Baiklah aku akan melindungi anak ini dan mengajarkan semua pengetahuanku padanya. Jika kau bertanya kenapa maka jawabannya adalah aku hanya bosan! Berada di dalam Sacred Gear dan menunggu pewaris selama ratusan tahun. Maka dari itu ku terima kontrakmu."
Dan begitulah, Naruto akhirnya tenang karena Issei dan keluarga Hyodou sudah memiliki pelindungnya sendiri dan juga inilah yang ia inginkan, akhirnya ia tau apa yang dimaksud dengan perkataan 'Ayah' dan juga Lucifer saat itu. Setelah semua yang ia lihat dan juga ia pelajari selama ini, ia mengerti tentang 'Apa itu manusia'.
Akhirnya aku bisa mengerti apa semua itu!
Kasih sayang yang 'Ayah' ciptakan adalah inti dari perkataannya saat itu.
Makhluk yang Baik melebihi Malaikat yang suci dan juga Jahat melebihi Iblis yang terkutuk. Semata-mata hanya hanya untuk sesuatu yang mereka sayangi.
Manusia akan baik pada orang yang mereka sayangi dan Manusia akan menjadi jahat jika itu demi melindungi sesuatu yang berharga baginya. Entah itu Keluarga, Teman, Sahabat, ataupun orang yang mereka tidak kenal. Aku sudah cukup tau dan sekarang aku hanya akan menjadi pengamat.
Mengamati perkembangan dunia ini dan berada di antara Kebaikan dan juga keburukan. Karena semua itu harus seimbang tanpa adanya sesuatu yang memberatkan kedua hukum dunia ini.
Namun, Aku akan melakukan apapun untuk Keluarga kecilku walaupun menjadi seseorang yang membawa kejahatan di dunia ini.
...
...
THE END
...
...
Hallo, apa kabar bagi kalian semua! Aku harap kalian tetap sehat mengingat Pandemi ini tetap merajalela.
Di Chapter ke-10 ini adalah penutupan untuk The Fallen dan akan di lanjutkan di Sequel berikutnya.
The Fallen : I'm Still Here!
Season berikutnya akan Update saat tahun baru yah, karena aku ingin istirahat dulu untuk Fic ini.
Terima kasih untuk Kalian yang mendukung Fic Fallen.
Salam, Gabriela Anastasya.
