dua puluh sembilan november

a sanekana fanfiction by pappilon

[Kimetsu no Yaiba create by Koyoharu Gotouge]

Note:

1. Saya hanya bersenang-senang dengan membuat fanfik ini. Tidak bertujuan untuk komersil.

2. Selamat ulang tahun, Sanemi-kun.

###

Lagi-lagi, bulan November. Aku benci terus mengingatnya. Meskipun aku mencoba bersembunyi di balik matahari dan memakan bintang-bintang, kau tak akan pernah pergi. Aromamu, suaramu, jejak langkahmu, aku tak akan pernah lupa.

Shinazugawa-kun, aku akan menunggumu pulang dari misi.

Setiap butir air yang jatuh dari langit, aku merapal doa, tapi aku tak bisa memahami makna dari doaku sendiri. Apakah aku ingin kau tetap tinggal atau pergi?

Kita akan merayakannya. Berdua saja, bukan? Kau dan aku.

Kalimat itu, kata demi kata, sangat mudah kauucap.

Aku ingin pergi ke pantai. Sudah lama aku tidak pergi ke sana.

Tak ada sahutan dariku, kemudian, kau melanjutkannya.

Pernah sekali aku pergi bersama dengan Ayah. Mencari kerang-kerang kosong bersama Shinobu. Ibu tersenyum tipis melihat kami berlarian dikejar ombak.

Ingin aku menjawab: Aku tak pernah seperti itu bersama keluargaku.

sangat lama sekali

Kedua bola matamu seperti mengeluarkan pijar. Menatapku, menelanku hidup-hidup, dan membakar segalanya.

Tapi, ini bulan November. Anginnya akan sangat dingin.

Apakah lebih dingin dari Pilar Angin?

Aku melotot dan kau tersenyum. Aku berpikir jawaban yang tepat, tapi kau merapatkan tubuhmu di balik selimut tipis yang disediakan Rumah Wisteria. Kulit kita saling menggesek. Aku menegang. Mendadak lupa segalanya.

Janji, kau tak akan memakai pakaian yang tipis.

Napasmu membuat bulu-bulu halus di leherku berdiri. Aku tahu, aku jatuh cinta padamu. Detik kemarin, detik ini, detik esok.

Aku hanya ingin bersama denganmu, Shinazugawa-kun.

(Aku juga, aku juga, aku juga, Kochou Kanae)

Namun, kau tak menepati janjimu. Kau tak datang di hari yang telah kita janjikan. Hanya gagakmu (bukan) itu gagak Shinobu. Aku tak peduli dengan gagak siapa itu. Aku hanya ingin bersamamu. Kau membuatku berada di sini, lagi, setiap hari kelahiranku. Akan tetapi, aku berhenti di usia kedua puluh lima tahun. Berhenti untuk selamanya.

###

Lagi dan lagi, bulan November. Aku bisa melihat daun maple berguguran dan jatuh berserakan di dekat sepatuku. Warnanya merah dan kuning menandakan musim semi sudah lama tertinggal. Cuaca cukup dingin jika berada di luar terlalu lama. Orang-orang berjalan sembari merapatkan jaketnya. Beberapa ada yang masuk ke kedai-kedai kopi dan memainkan gadgetnya. Sudah pukul enam sore, batinku. Seharusnya aku berada di tempat lain untuk memenuhi janjimu.

(Aku memberanikan seorang diri, kembali ke masa itu, di garis waktu yang lain. Dua puluh sembilan November. Hari kelahiranku. Apakah kau akan ada di sana?)

Papan nama di seberang jalan memberiku sinyal untuk segera masuk. Aku buru-buru menyeberang saat keadaan mulai sepi. Debar jantungku sedikit mengganggu. Segera kubuka tudung hoodieku sebelum masuk ke sebuah kafe. Obamitsu Caffe. Tak ada yang memperhatikanku. Tak ada yang peduli aku masuk dan duduk di dekat jendela kaca besar. Tak ada apa-apa. Tak ada. Tak ada. Tak ada. Seperti saat itu, di usia dua puluh lima tahun, pada garis waktu yang lain.

Seorang pelayan menghampiri dan menyodorkan selembar menu. Aku hanya memesan secangkir kopi dengan takaran gula yang sedikit. Sembari tersenyum sok manis kepadaku, pelayan itu pamit pergi dan menghilang entah ke mana. Kuperhatikan sekali lagi dua buah anting yang menggantung di telinganya. Dia mirip seseorang di garis waktu yang lain.

Dua puluh menit kemudian, aku melihat seseorang, perempuan, turun dari taksi. Dengan hati-hati membawa sebuah kotak besar. Dari penampilannya jelas sekali itu adalah "kau". Tanpa memakai mantel. Kau hanya memakai pakaian panjang yang sedikit tebal, tapi aku bisa melihat dua buah bahu yang siap aku kecup—sebagai hadiah malam ini. Dua buah jepit kupu-kupu tak lagi tertempel di sana.

Mataku dan matamu saling bertemu saat pintu kafe terbuka. Seorang pelayan membantumu, sedangkan pelayan lain meletakkan cangkir kopiku di atas meja. Aku tak peduli. Aku hanya ingin peduli padamu. Sejenak aku seperti bisa melihat jiwaku tergulung ombak di pantai senja itu. Namun, tanganmu menyelamatkanku.

Dengan senyum penuh cinta, kau berjalan perlahan menghindari beberapa orang di hadapanmu. Menghela napas dengan sedikit kasar. Selamat ulang tahun, Shinazugawa-kun. Kata-kata itu akhirnya aku dengar darimu. Ingin sekali aku mengulum bibirmu. Kau tahu itu, tapi kau mencubit perutku hingga aku melepas satu senyuman. Kemudian, kita duduk bersisian. Saling meremas jemari. Kurasakan logam dingin menyentuh telapakku. Itu cincin yang kita sengaja beli sepasang enam bulan lalu.

"Terima kasih, Kochou."

Kehadiranmu membuatku ingat, diriku di garis waktu lain. Tepat di usia dua puluh lima tahun, pada dua puluh sembilan November, dia termenung di pinggir laut sendirian. Tak ada tangan yang menariknya pulang. Hanya seekor gagak yang mematuki bahu hingga berdarah. Baru kusadari saat itu, dia sudah mati.

"Oke, mari kita nyalakan lilinnya."

Tak kusadari, aku mengangguk penuh antusias. Bayanganku dan dirimu terpantul di kaca dengan sangat jelas. Sejelas senyuman kita. Ini bukan mimpi. Karena aku sudah terbangun dari kematian. Aku yakin di usia ini, aku tak akan mati seperti garis waktu yang lain. Kutukan itu sudah lama hilang.

"Kochou, aku bahagia."

Air mata itu mengalir setelah lagu "Happy Birthday, My Sanemi" kaunyanyikan.

The End

Note:

1. Ini sangat terlambat untuk hadiah ulang tahun Sanemi. Maaf.

2. Teman-teman, pembaca, atau sanekana fans; aku hanya ingin memberitahu kepada kalian, jika aku ikut dalam bagian Giyushino & Sanekana Zine: LOVE. Masa pre order akan segera berakhir. Tapi, kalian bisa mengunjungi akun gysnb_snkn_zine di Twitter untuk melihat katalognya. Aku menulis dua fanfik dengan tema canon dan au di sana. Ada ilustrasi yang sangat indah di setiap lembarnya. Kalian tidak akan kecewa membeli zine itu.

3. Btw, kalian bisa melihat akun Twitterku ( pappilonedelune) karena di sana ada ilustrasi yang mendukung cerita ini. Commission art by Momo Aru atau (Guest Artist Zine LOVE).