Cast : Lee Jeno & Huang Renjun

Genre : Boys Love. Fluff . AU

Note : Ini fiksi. Karangan semata, tidak ada sangkut paut ama kehidupan nyata Renjun / Jeno. Jadi bodo amat sama masalah kapal real apa kaga. GW DEMEN DEDEK HUANG RENJUN. TITIK.

.

.

_LOVE YOU_
By : DoingDoing ( R )

Pernah tahu rasanya sudah menunggu hampir tiga jam dalam keadaan lelah sehabis bekerja, belum berganti baju demi cepat sampai, lalu menahan lapar, dan ORANG YANG KAU TUNGGU BELUM MENAMPAKKAN BATANG HIDUNGNYA ?

Rasanya, ahhh, mantap.

"Membunuh seseorang rasanya lumayan juga." Gerutu pria dua puluh lima tahun ini. Dengan masih berbalut kemeja biru, celana panjang hitam serta tas selempang hitam. Huang Renjun, si penunggu selama tiga jam ini masih terduduk pada bangku taman kota.

Muka putih dan perawakan kurus ini nampak mengerikan dengan kerutan di dahinya serta umpatan-umpatan yang sempat keluar dari mulut mungil nan tipisnya. Membuat beberapa pemuda yang berniat untuk mendekati ataupun sekedar memberikan brosur promosi tidak berani mendekat.

Beberapa pasangan keluarga muda yang memilih untuk menjauh dengan menutup telinga anak-anak mereka karena tak ingin terkontaminasi kata-kata umpatan dari si Huang ini.

"Kemana kau, sialan?!" Teriak Renjun lagi sembari menempelkan ponselnya yang Ia sudah berulang kali gunakan untuk menghubungi orang yang menyebabkan Ia menunggu.

Namun, suara sang operator yang terdengar sejak tadi membuat Renjun semakin murka. Jika saja tidak ingat akan fakta bahwa ponsel super mahal ini baru saja Ia beli sebulan yang lalu, mungkin Renjun akan membanting ponselnya hingga meremukannya.

Suara perutnya yang semakin menjadi-jadi, tubuhnya yang lelah dan belum mandi. Membuat Renjun memutuskan untuk pulang saja ke Apartemennya sembari merencanakan proses pembunuhan. Tidak masalah, Ia yakin tidak akan dipenjara, mengingat sang paman adalah ketua kepolisian Seoul.

Dengan berjalan menuju halte pemberhentian bus, Renjun mengetikkan pesan di ponselnya untuk seseorang disana secara brutal.

AKU AKAN MEMBUNUHMU !

.

.

Renjun menggerakkan badannya dan mengerjapkan matanya ketika kesadaran mulai menyapa pagi hari di akhir pekan ini. Sebenarnya lebih kepada indra penciumannya yang menyapa bau harum masakan. Berbaring sebentar menatap langit-langit kamar, merasakan hangat sinar matahari yang menembus jendela kamarnya.

Mengingat kembali hanya ada tiga orang yang tahu password dari Apartemennya. Ibunya, Xiaojun sang kakak, dan makhluk keparat yang membuatnya menunggu lama tadi malam.

"Ibu masih di China. Xiaojun sedang berlibur di Jeju. Jadi…?" Suara Renjun tergantung dan membuatnya segera bangun dari tidurnya dan berlari keluar. Seakan tidak memperdulikan bagaimana keadaannya saat bangun tidur.

Benar saja, saat mata tajamnya melihat sosok yang sangat ingin sekali Ia bunuh sejak semalam tadi. Kini berdiri di depan meja makan dengan senyum dan mata segarisnya dibalik kaca mata beningnya.

Di meja makan sudah siap dengan dua porsi nasi goreng telur lalu dipiring lain ada daging tumis sawi, dan segelas jus untuknya serta segelas kopi hangat untuk pria terkutuk itu.

"Pagi, sayang." Ucap pria itu dengan tersenyum, masih berjarak, karena belum berani untuk mendekat kearah Renjun.

Hei, bagaimana mungkin Ia berani mendekat? Jika saat ini sosok terkasih, belahan jiwa, dan calon pasangannya di masa depannya itu tengah menatapnya dengan pandangan membunuh. Merasa tahu kesalahan besar yang Ia perbuat membuat pria itu tak berani lagi berkata apapun.

"Kau ingin ku potong-potong jadi dua belas bagian atau ku lemparkan saja ke sungai Han, Lee Jeno?" Renjun mengeram kesal dan tak berniat untuk mendekat kearah si keparat itu.

Sementara Jeno yang mendengar kekesalan sang kekasih akhirnya memberanikan diri mendekat kearah Renjun. Dengan segera melepas harga dirinya yang dikenal orang lain sangat menyebalkan itu. Kalau sudah berhubungan dengan kekasih hati, dari yang sosok serigala langsung berubah menciut bak anak kucing. Ia bersimpuh di depan Renjun dengan menempelkan kedua tangannya di depan sembari memohon.

"Aku minta maaf, Renjun sayangku. Aku benar-benar tertidur semalam. Aku hanya berniat merebahkan tubuh sebentar pada jam tiga sore dan tidak sadar bahwa akan tidur sepanjang malam. Lalu aku lupa untuk mencharger handphone. Sungguh Renjun, aku minta maaf." Pinta Jeno dengan sungguh-sungguh dan penuh mengiba.

Renjun masih berdiri dengan tatapan dinginnya dan aura mencekam. Ini bukan pertama kalinya pria brengsek di depannya ini terlambat dalam kencan mereka. Bahkan jika dihitung-hitung selalu terlambat, dan puncaknya tadi malam. Tidak hanya terlambat tapi malah tidak datang dan tertidur. Membuat Renjun rasanya ingin gelap mata saja.

Wajar kan jika Renjun marah? Kurasa semua orang juga akan marah.

Renjun cukup gengsi untuk menyambangi kediaman sang kekasih dan memilih untuk marah saja. Sejujurnya skenario pembunuhan, tidak benar adanya. Itu hanya imajinasi konyol saja, ya emosi saja.

Bagaimanapun, Renjun khawatir ketika sang kekasih tidak ada kabar sama sekali dan apalagi saat pagi ini mendapat pemandangan yang cukup manis.

Di dalam hatinya sungguh tidak menyangka jika si keparat ini akan langsung mendatanginya untuk meminta maaf dan menyiapkan sarapan. Manis kan?

"Aku kerjain saja dulu manusia tampan ini." Pikir Renjun dalam hati.

Renjun mengacuhkannya dan memilih untuk berjalan menuju kursi makan, mendudukkan dirinya dan langsung meminum jus miliknya tanpa memperdulikan dirinya yang bahkan belum mencuci muka.

Sementara Jeno mengeser kursi makan lainnya agar bersebelahan dengan Renjun, "Sayangku. Maaf. Jika kau tidak percaya kau bisa menghubungi Jaemin. Dia saksi mata bagaimana kemarin setelah pulang aku tertidur bak orang mati."

Sekedar informasi, Jaemin adalah saudara kembarnya Jeno dan mereka tinggal di apartemen yang sama.

Renjun pura-pura tidak mendengar, karena sejujurnya Renjun juga sudah tahu. Setelah dirinya sampai di Apartemen, Renjun kembali menghubungi Jeno dan masih tidak bisa. Karena khawatir takut terjadi apa-apa, Renjun menghubungi Jaemin dan mengetahui jika kekasih bodohnya ini tertidur di kamarnya dan ponselnya mati.

Renjun tahu sih, jika Jeno memang benar-benar kelelahan. Sudah tiga bulan mereka tidak bertemu karena pekerjaan Jeno yang super sibuk dan mengharuskan Jeno untuk tinggal di Jepang.

Tadinya Renjun juga menolak untuk bertemu pada kemarin karena Jeno pasti akan kelelahan ketika baru tiba di Seoul. Namun, si keparat ini memaksa hingga akhirnya Renjun terpaksa menuruti. Benar saja, Jeno kelelahan kan? Membuat Renjun menunggu lama tanpa kabar.

"Maaf." Kembali Jeno mengeluarkan jurus mengibanya. Membawa tangan Renjun dalam genggamannya dengan erat.

Renjun mendengus dan menarik tangannya, memilih berfokus untuk menyendok nasi gorengnya. Namun, terhenti ketika Jeno menarik sendoknya. Membawa sendok yang berisi nasi goreng kearah Renjun, berniat untuk menyuapinya.

"Kau tidak lihat, aku punya tangan?" Sungguh Renjun ingin tertawa melihat wajah Jeno yang semakin menekuk mendengar ucapan sinisnya. Apalagi saat Jeno menaruh kembali sendoknya dan menempelkan wajah tampannya itu ke meja dengan memandangnya dengan penuh rasa penyesalan.

Dipikir-pikir, bagaimana ya jika para anggota tim Jeno tahu bahwa ketua tim mereka menjadi ciut seperti ini? Informasi lagi, kekasihnya yang berusia dua puluh enam tahun ini terkenal sangat serius dan tegas jika berhubungan dengan pekerjaan.

Bahkan dengan Jaemin, saudara kembarnya dan sudah hidup bersama sejak dalam rahim, tidak pernah mengalah apalagi meminta maaf seperti ini. Jiwa kompetisi kedua saudara kembar ini sangat tinggi.

"Kau mau makan tidak? Jika tidak sebaiknya kau kembali saja ke apartemenmu. Aku sedang malas melihat mukamu." Bukannya mengakhiri kejahilannya, Renjun nampaknya lebih tertarik untuk membuatnya lebih kejam.

Jeno segera mengambil piring nasi gorengnya dan memulai makan dalam diam. Dia tidak sadar saja, jika Renjun tengah mati-matian menahan tawanya.

Tidak ingin membuat rencana jahilnya gagal. Renjun tidak berbicara sama sekali dan dengan cepat segera menghabiskan sarapan paginya. Menahan senyum ketika merasakan menu paginya. Jeno memang benar-benar kekasih yang manis.

Bagaimana cara dia memasak sesuai dengan selera Renjun. Renjun sangat suka pedas dan ini terasa pas dengan lidahnya. Seseorang yang sama sekali tidak bisa memakan pedas lalu membuat masakan pedas, sungguh sangat luar biasa kan?

Begitu nasi gorengnya habis, Renjun menaruh piringnya di dalam bak pencucian dan berjalan menuju kamarnya.

"Tinggalkan saja semuanya disana nanti. Biar aku yang mencuci. Kau pulang saja, aku mau beristihat panjang hari ini." Tanpa memandang Jeno, Renjun masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya.

Samar terdengar suara gemericik air dari dapur membuat Renjun tahu bahwa kekasihnya itu tidak menurutinya dan justru membersihkan sisa-sisa makan pagi mereka. Renjun tertawa tertahan dan memilih kembali bergelung di dalam selimutnya sembari memainkan ponselnya.

Tak selang lama, Renjun mendengar derap kaki masuk ke dalam kamarnya. Tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Apalagi saat ranjang berderit dan seseorang sudah berbaring di sampingnya, masuk ke dalam selimut. Tangan melingkar pada pinggang kecilnya dan hembusan nafas hangat yang menyapa tenguknya.

"Kau tuli ya?" Renjun tersenyum ketika merasakan gelengan pada bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan sinisnya. Sebuah ide terlintas dipikirannya. Ya, ide untuk mengamuk. Dari tadi kan Ia belum sampai pada level menarik urat.

"Isshh, kau menyebalkan, Lee Jeno! Sudah pulanglah, aku ingin istirahat. Kau pikir memangnya tidak lelah menunggu tiga jam? Sudah lapar, belum mandi, mengantuk pula. Jika saja aku tidak nekat pulang, apa jadinya aku pagi ini? Mungkin akan ada headline surat kabar pagi yang tertulis ditemukan seorang pria mati kelaparan di bangku taman kota." Renjun membalikkan tubuhnya dan menatap sang kekasih yang juga menatapnya dengan sedih dan menangis.

"Ya, Tuhan. LEE dingin nan jutek JENO menangis." Renjun pada akhirnya tak bisa lagi menahan gelak tawanya.

Benar-benar menangis, astaga. Meski tidak terisak-isak seperti dirinya saat menonton drama sedih di Netflix. Tapi mata yang mengeluarkan air dari seorang Jeno adalah prestasi yang luar biasa.

Bahkan saat program game buatan Jeno yang sudah dirancang sempurna seharga jutaan dolar dirusak oleh hacker, tidak sama sekali membuat Jeno menangis.

"Maafkan aku. Kau tidak boleh mati." Jeno semakin mengeratkan pelukannya membuat Renjun semakin gemas.

Renjun menghela nafas panjang dan mengarahkan tangannya untuk menghapus air mata di wajah tampan kekasihnya itu. Lama-lama tidak tega juga.

"Makanya kalau aku bilang tidak ya tidak. Aku tahu kau pasti kelelahan, Jeno. Lagipula masih banyak hari untuk kita bertemu. Jadi berhentilah memasang wajah tersiksa seperti itu. Kau tidak cocok sama sekali berderai air mata."

Jeno mengangguk, "Iya, aku akan menurutimu. Jadi aku dimaafkan?"

Renjun menjitak dahi lebar sang kekasih membuat Jeno mengaduh kesakitan, "Awas saja jika kau ulangi lagi. Aku benar-benar akan minta putus darimu, brengsek."

Jangan khawatir, Jeno sudah kebal kok disumpah serapah oleh sang kekasih. Namanya juga sudah cinta mentok terlanjur kearah bodoh. ? ゚リツ

"Jangan Renjun. Kita tidak akan putus. Kau milikku. Aku milikmu. Titik!" Tuh kan, Lee Jeno memang benar-benar budak cinta

Renjun malas berkomentar, ya walaupun sejujurnya dalam hati berbunga-bunga juga. Entah apa yang pernah diperbuat dikehidupannya yang lampau dulu sehingga dimasa sekarang Ia dipertemukan makhluk tampan yang sangat mencintainya. Sungguh anugrah.

Keduanya saling berpelukan dalam keadaan kamar yang hening. Saling menatap satu sama lain dalam keadaan penuh memuja.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan. Ada pasang surut tentunya. Ada keburukan dan kelebihan yang akan muncul seiring waktu. Namun, itu bukanlah penghalang. Jika kau memang mencintai pasanganmu masing-masing. Hidup itu untuk saling melengkapi bukan?

Jeno menyentuh wajah Renjun dengan lembut. Sosok yang membuat dirinya yang dingin dan kaku merasa menjadi hangat. Sosok rumahnya, dimana lelah, suka, duka maupun harapan masa depan akan ditulis disana.

Sementara Renjun, menikmati bagaimana sentuhan dan tatapan penuh cinta itu diberikan untuknya. Baginya, Jeno adalah sosok pelindungnya. Dimana sandaran, hati, serta jiwanya akan Ia serahan seutuhnya dan selamanya.

"Aku mencintaimu, Lee Jeno." Meski sudah berulang kali diucapkan. Renjun selalu merasa tersipu. Seluruh wajahnya akan memerah malu.

Jeno tersenyum dan membawa kecupan hangatnya di kening terkasihnya itu, "Aku juga sangat mencintaimu, Huang Renjun."

.
.

_THE END_