Pada awalnya tidak pernah sedikitpun terniat dalam hatiku, untuk memperhatikan mu.

Aku bohong...

Kamu adalah laki laki yang sangat sempurna. Kamu bagaikan sebuah harapan di saat kegelapan menyelimuti bumi. Jauh sebelum bertemu dengan mu, aku sudah mengenalmu.

Ya.

Aku terdampar di sebuah kegelapan yang mengharuskan ku untuk bertahan hidup dengan membunuh. Menciptakan sebuah keajaiban yang di luar nalar manusia. Namun, aku tidak menyesal. Karena berkat kegelapan itulah, aku bertemu dengan sebuah harapan. Kamu.

Organisasi Hitam. Begitulah mereka menyebut nama mereka. Sebuah organisasi yang bekerja hanya untuk membunuh, dan menghancurkan sesuatu. Kedua orangtua serta kakak ku pun termasuk dalam lingkup kegelapan tersebut. Jadi, menurut ku tidak aneh jika aku ikut terseret dalam hal ini.

Sejak umur tujuh tahun, aku bersekolah di sekolah khusus kedokteran di Inggris. Tentu saja di bawah pengawasan orang orang organisasi hitam. Aku di haruskan untuk meneruskan sebuah penelitian orangtuaku.

Apotoxin 4869

Sebuah virus yang bisa membuat semua sel di dalam tubuh rusak dan mengakibatkan kematian. Kematian yang tidak akan pernah di ketahui sebabnya. Sangat bersih bukan?

10 tahun ku tenggelamkan diriku untuk belajar dan mengembangkan virus tersebut. Demi hidupku tentunya. Tidak berniat sebenarnya untuk melakukan hal ini, namun aku harus melakukannya. Karena di kegelapan itu, Bagi mereka yang menentang ataupun menolak sebuah perintah, kematianlah yang akan menyambut mereka.

Umur 17 tahun, aku di pulangkan kembali ke jepang. Rasanya senang kembali ke negara, di mana ada dirimu. Setelah kematian kedua orangtua ku, hanya dirimu dan kakak yang ada di hatiku. Haha, lucu ya? Aku hanya mengenal nama dan wajah mu melalui black list organisasi.

Kudou

Marga itu tidak asing lagi dalam lingkup Organisasi kami. Orang yang selalu bisa menggagalkan sebagian rencana dan kegiatan kami. Tanpa kamu ketahui, marga dalam nama mu itu, sudah sangat di kenal sebagai 'Silver bullet' di lingkup Organisasi. Sebuah peluru perak yang bisa dengan kapan saja mengarah ke jantung organisasi kami. Dan sialnya aku mencintai mu. Aku tau ini sangat beresiko untuk ku. Jika ada salah satu dari mereka yang mengetahui perasaan ku kepadamu, tidak asing lagi jika kematian yang akan menjemput ku.

Sesampainya aku dijepang, aku dikejutkan dengan dirimu yang sudah menjadi detektif hebat. Ternyata nama depan mu Shinichi ya? Sangat cocok untuk mu. Kudou Shinichi.

Aku bertemu dengan kaka dan membawa sejuta cerita untuknya. Termasuk dirimu aku ceritakan kepada kaka ku. Kaka ku selalu memberikan senyuman lembut dan respon yang baik saat aku bercerita hal apapun kepadanya, sekecil apapun hal itu, selalu diresponnya dengan sangat baik. Setelah cerita panjang dengan kaka ku, aku di kejutkan dengan wajah kaka ku yang terlihat tegang dari biasanya. 'ada apa?' tanya ku. Kaka hanya diam dan mengusap kepala ku dengan lembut. Lalu menggeleng dengan pelan. Saat aku melihat kaka ku, entah kenapa ada gelombang perasaan aneh yang menggelitik otak ku.

Aku kembali ke organisasi, dan tidak akan bertemu dengan kaka. Berbeda dengan ku, kaka ku menjalani kehidupan dengan normal. Memiliki teman, pekerjaan dan dapat berbaur dengan orang orang di sekitarnya. Sementara aku tidak di perbolehkan. Karena aku adalah aset bagi organisasi. Mungkin mereka takut jika aku berkhianat dan lari mungkin. Selama di organisasi, aku hanya bisa melihat perkembangan mu dari beberapa kasus yang kau pecahkan. Ya tuhan, kenapa aku sangat mencintaimu? Padahal aku tau kau mungkin mencintai gadis Mouri yang lincah tersebut. Aku juga merasa kalian cocok. Tapi kenapa perasaan ini tidak mau berhenti?

Waktu itu, aku sedang berada di ruang santai organisasi, sekedar menghilangkan stress dari penelitian. Dengan santai ku hidupkan televisi berniat menambah wawasan melalui berita. Di saat yang sama, Gin dan Vodka pun masuk. mengambil tempat di sebelah ku, Gin bertanya dengan gaya cueknya. 'Sudah selesai meneliti, Sherry?' aku yang saat itu acuh tak acuh hanya menggumam tak jelas, hingga salah satu berita di televisi membuat darah ku berdesir dengan cepat.

Menghilangnya Detektif hebat, Kudou Shinichi.

Ada apa ini? Apa maksudnya dia menghilang? Apa yang terjadi dengannya? Pikiran burukku mulai menguasai. 'Hoo? Jadi bocah di taman bermain itu seorang kudou?' dengan cepat aku menatap Gin yang menyeringai dengan sinis. 'Kau membunuhnya Gin?' Tanya ku dengan spontan. 'Ya. Menggunakan virus yang kau buat tentunya Sherry. Ku rasa virus itu sukses. Sampai sampai polisi jepang tidak menemukan mayatnya. Hahaha, lanjutkan terus penelitian mu Sherry. Jika tidak, kau akan tau apa yang akan terjadi dengan Akemi, kakakmu.' Ucap Gin dan menatapku dengan pandangan dingin. Segera aku berdiri dan berjalan ke luar. 'Tenang saja. Aku akan terus meneliti virus tersebut. Bahkan aku akan membuatkan untuk kalian semua. Mungkin berguna suatu saat.' Ucap ku dengan tenang dan berlalu dengan cepat ku ruangan laboraturium ku.

Air mata ku tidak bisa berhenti. Aku hanya memiliki mereka berdua sekarang, dan salah satunya menghilang. Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku yang meneliti virus itu, aku yang tau perkembangannya. Dengan cepat, ku hidupkan salah satu Komputer dan meneliti kembali segala yang sudah ku kembangkan. Virus ini belum cukup kuat, untuk membunuh. Aku yang lebih tau virus ini. Terlalu cepat untuk menyimpulkan jika dia meninggal. Jika memang dia meninggal, di pastikan ada mayat di tempat Gin membunuhnya. Namun dalam berita itu hanya ada berita menghilangnya Kudou. Tenanglah Shiho, jangan berfikir buruk dulu. Aku harus bicara dengan kaka tentang ini.

4 bulan setelah aku berencana bertemu dengan kaka, aku baru di berikan kesempatan oleh Gin untuk berkunjung ke rumah kakak. 'Nikmati waktu mu dengan kaka mu Sherry.' Ucap Gin yang sudah mengantarkan ku ke rumah kaka. Aku tidak mengerti maksudnya, namun aku tidak peduli. Dengan acuh aku turun dari kursi penumpang, namun tangan ku di tahan oleh Gin. 'Jangan melakukan hal yang tak diperlukan. Atau kau akan menerima akibatnya.' Ucap Gin dan meremas pergelangan ku dengan kuat. 'tergantung bagaimana kau memperlakukan kami.' Jawab ku dengan tak kalah sinis, dan menepis tangan Gin dengan kasar lalu menutup pintu mobil dengan kesal. Memastikan mobil porsche kesayangan Gin menjauh, aku mengetuk pintu rumah kaka dengan perasaan bercampur aduk. 'Shiho? Masuklah.' Ucap kaka ku setelah membuka kan pintu untuk ku. Aku pun melangkah dengan lemas ke ruang tamu dan mendudukkan diri di sofa ruangan tersebut. 'Dia menghilang, kak.' Ucapku datar. Seolah mengerti maksud ku, kaka pun mendudukkan diri di sampingku, dan merangkulku dalam pelukannya. 'Aku juga sudah melihat beritanya Shiho. Berdoa saja semoga tidak terjadi hal buruk dengannya.' Ucap kaka ku memberi semangat. Mencoba tersenyum, aku pun mengeluarkan Laptop dari dalam tas ku. 'Aku yakin kak, virus itu belum terlalu kuat untuk membunuh.' Ucap ku. Kaka ku hanya bergumam sesaat. 'akan ku ambilkan minum. Tunggulah.' Kaka pun beranjak menuju bar kecil di ruangan tersebut dan memberikan segelas jus untuk ku. 'jika kau yakin virus itu belum bisa untuk membunuh seseorang, aku memiliki sesuatu yang mungkin menarik perhatian mu.' Ucap kaka ku dan mengulurkan sebuah foto serta detail informasi tentang foto tersebut.

Edogawa Conan

Itulah tulisan dalam berkas yang di ulurkan kaka kepada ku. Dengan perlahan aku membuka berkas tersebut. Dengan cepat jantung ku berdetak. 'anak ini mulai menampakkan diri setelah hilangnya Kudou-kun. Tidakkah menurut mu anak ini mirip seseorang?' Tanya kaka ku dengan tatapan geli. Merasa bingung, aku pun menatap foto anak berumur 7 tahun tersebut. 'dia berhasil menggagalkan terror bom yang di buat oleh Pisco di Beika Hotel. Dan membuat salah satu bawahan Pisco, kau ingat Tequila? Bunuh diri karena tidak bisa kabur dari kejaran polisi jepang.' Tambah kaka ku. Dengan segera aku tersenyum lega. 'Dia masih hidup!' Ucap ku senang. Kaka ku pun tersenyum 'aku mengenal anak itu, karena dia selalu datang bersama seorang professor ke bank tempat aku bekerja. Dia mengaku sebagai cucu dari Professor tersebut. Namun, aku tak sengaja mendengar Professor itu memanggilnya dengan nama Shinichi.' Ucap kaka ku dan meneguk gelas kedua Vermouth dalam genggamannya. 'Kau masih menyukai minuman itu?' Tanyaku dan melirik botol yang sudah setengah kosong. Kaka ku Hanya tertawa. 'Apa kau memiliki masalah dengan Gin di Organisasi, Shiho?' Tanya kaka ku. Aku terdiam sejenak, berusaha untuk memilih membicarakan kesepakatan ku dengan Gin atau tidak. Akhirnya aku memilih untuk diam dan tak menceritakan tentang ancaman serta kesepakatan ku dengan lelaki brengsek itu. Menggeleng pelan, kaka ku yang tampak paham dengan maksud gelengan kecil ku hanya tersenyum. 'Besok aku akan mengambil misi dari Gin, aku berjanji jika misi ini berhasil ku lakukan, aku akan membawa mu keluar dari Organisasi, Shiho. Tunggulah.' Ucap kaka ku kemudian. Aku kembali tersenyum dan menggangguk senang. Kembali ku tatap foto tersebut. Dia, Kudou Shinichi masih hidup. Namun, kenapa badannya mengecil? Apa ada yang salah dari virus itu? Aku harus menggunakan waktu dengan cepat. Sebelum Gin mengetahui hal ini. Tidak! Gin tidak boleh tau jika Kudou Shinichi masih hidup. Akan ku lakukan apapun untuk membuat rahasia ini tidak bocor. Di saat Aku sibuk menatap foto tersebut, bell rumah kaka ku berbunyi. 'Simpan foto itu Shiho, akan ku lihat siapa yang datang.' Ucap kaka ku dan berlalu ke depan. Dengan segera aku mengemasi segala berkas tentang Kudou dan menyimpannya di salah satu lemari di dalam bar. Setelah itu, aku melihat kaka ku masuk bersama Gin. 'Saatnya pulang, Sherry.' Ucapnya singkat. 'Kau tidak mau mampir dulu?' tanya kaka ku kepada Gin. 'Tidak bisa, aku kesini hanya menjemput Sherry dan memberikan berkas ini kepada mu, Akemi. Jangan sampai gagal dalam misi ini, jika gagal perjanjian kita batal.' Ucap Gin, dan menarik tangan ku keluar dari rumah kaka. 'Sampai nanti kak..' Ucap ku, dan di balas dengan senyuman kaka. Sekilas aku bisa melihat Seringai Gin yang penuh arti. Kenapa mendadak perasaan ku tak enak?

1 bulan kemudian

'Akemi? Orang yang gagal dalam misi itu ya? Ku dengar dia di bunuh oleh Gin.' Aku mendengar beberapa orang di lab berbisik, dengan cepat dada ku terasa sesak. Dibunuh? Apa maksudnya? Dengan cepat aku keluar dari lab menuju ruangan buka pintu bercat hitam di depan ku dengan kasar. Pandangan ku bertatapan langsung dengan mata Gin yang memandang ku dengan pandangan yang dingin. Memandang jijik, aku berjalan dengan cepat ke meja kerja Gin. 'Apa maksud mu, membunuh kaka ku Gin? Kita punya kesepakatan bukan?' Ucap ku dan menggenggam kerah baju Gin dengan kesal. Gin hanya menatap ku dengan seringai yang membuatku muak melihatnya. 'Apa kau tidak tau Sherry? Aku juga memiliki kesepakatan dengan kaka mu.' Ucap Gin dan melepaskan tangan ku dari kerah bajunya. 'Kesepakatannya, adalah jika dia gagal dalam misi, aku boleh membunuhnya, asal aku melepas mu dari Organisasi. Lucu bukan? Seorang kaka yang mengharapkan adik kecilnya, lepas dari kegelapan dan mengharapkan harapan? Lucu sekali.' Ucap Gin menertawakan kematian kaka ku. Kesabaran ku sudah mulai menipis. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan diriku. Dalam pikiran ku hanya satu hal yang akan ku lakukan. Aku akan membunuhnya saat ini juga. Pria brengsek ini yang sudah membuat ku kehilangan salah satu orang terakhir yang sangat berarti dalam hidup ku. Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk membunuh laki laki keji di depan ku ini. 'Lalu? Kau tentunya akan menepati janji mu ke kaka ku bukan?' Tanya ku, dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam jas Laboraturium ku. Dengan segera Gin tertawa 'Kau menodongkan pistol ke arahku Sherry?' Ucap Gin dan dengan cepat mencekik leher ku dengan tangannya. 'uughh..' Erang ku kesakitan. 'Asal kau tau sayang, aku tidak bisa membunuhmu hanya karena kau kesayangan bos. Aku bisa saja mematahkan leher mu jika kumau, namun tidak untuk sekarang.' Ucap Gin dan tersenyum sinis ke arah ku. 'Jangan memanggilku sayang. Aku sudah muak dengan mu Gin.' Ucap ku dan menodongkan Pistol ke arah pelipisnya. Mengumpulkan keberanian, ku tarik pelatuk dari pistol yang kuarahkan ke pelipisnya. dan sebuah peluru nyaris mengeluarkan seluruh isi otak pria brengsek ini, jika saja dia tidak menghindar. 'Hahaha, Gadis kecil seperti mu, ingin membunuh ku? Jangan berharap. Tugas mu sekarang kembali ke lab dan meneruskan virus buatan orangtua mu.' Ucap Gin dan merebut pistol dari tangan ku. Aku masih dengan susah payah menahan sakit akibat Gin yang mencekik ku dengan keras. 'Lepaskan aku brengsek! Kesepakatan kita batal. Aku tidak mau lagi melanjutkan penelitian ku!' Ucap ku dengan suara serak sambil mencakar tangan Gin yang mencekik ku. 'Hoo, jika begitu lebih baik kau mati, Sherry. Aku tidak akan peduli lagi dengan bos yang menjadikan mu boneka kesayangannya.' Ucap Gin dan melempar ku dengan kasar ke arah dinding. 'aarrgghh' bisa ku rasakan beberapa tulang ku patah. Aku melihat Gin yang mendekat ke arah ku sambil membersihkan darah yang keluar dari pelipisnya yang tergores oleh peluru. menodongkan pistol ke arah kepala ku, dengan santainya Gin tersenyum bengis dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. 'Jangan salahkan aku Sherry. Kau yang membuat ku terpaksa melakukannya.' Ucap Gin. Dengan tenang ku tatap Gin, sesaat wajah Kudou terbayang di pikiran ku saat itu, Apa mungkin aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan mu? 10 tahun lebih aku mencintai mu, apa aku tidak bisa sedetik saja merasakan menatap mu secara langsung? Apa aku tidak bisa sedetik saja mendengar suara mu? Sedetik saja merasakan harapan itu? Bisa kurasakan ujung pistol yang dingin itu menyentuh pelipis ku. Di saat sudah pasrah akan hidup, sebuah suara mengintrupsi Gin yang akan membunuh ku. Tak melepaskan pistolnya, dengan segera Gin mengambil telepon genggam yang ada di kantong jaketnya. Bisa ku lihat raut wajah Gin berubah. 'ada apa?' Ucapnya kemudian. Tidak bisa ku dengar siapa yang berbicara di seberang sana. Namun bisa ku pastikan apa yang di bicarakan orang itu adalah sesuatu hal yang membuat Gin kesal. Sangat terlihat dari wajahnya yang menatap ku dengan kesal. 'Baiklah.' Ucapnya dan menutup sambungan telepon tersebut. 'Hoo.. Entah kenapa, informasi aku akan membunuh mu sampai ke telinga bos. Dan dia melarang ku membunuh mu. Tak apa. Kau akan di kurung di ruang bawah tanah. Dan tak akan mendapatkan informasi apapun lagi dari dunia luar.' Ucap Gin dan menjauhkan Pistol dari pelipis ku. Dengan segera aku tersenyum sinis. 'Kau lihat? Kaka ku benar. Aku masih bisa mendapatkan sebuah harapan.' Ucap ku dan kembali tersenyum sinis ke arah Gin. Merasa kesal, satu peluru di tembakkan Gin ke arah bahuku. Bisa kurasakan darah segar yang hangat mengalir membanjiri lenganku. Aku berusaha menahan rasa sakit, terlalu enggan memperlihatkan wajah sakitku di depan Gin. 'Jangan bersenang dulu Sherry. Aku tidak akan tinggal diam. Karena aku akan menemukan 1000 alasan untuk membunuh mu, sayang.' Ucap Gin. Aku pun hanya tersenyum sinis. Apa benar aku tidak akan bisa bertatap muka dengan mu Kudou?

Di sinilah aku sekarang. Di ruang bawah tanah. Gelap. Kembali bayangan Kudou Shinichi terbesit dalam pikiran ku. Hahaha berfikir apa aku ini? Aku akan segera menyusul kaka. Kenapa aku masih bisa memikirkan cinta di saat ini? Air mata pun kembali menetes dari kelopak mataku. Aku benar benar berharap bisa bertemu dengannya. Menyampaikan perasaan ini. Namun, sekarang mungkin, Perasaan ini hanya akan menjadi rahasia ku sendiri. Menyedihkan sekali. Aku tidak bisa menyampaikan perasaan ini kepadanya. Dengan spontan aku pun meremas jas lab ku dan menangis dalam diam. Namun, tiba tiba tangisan ku berhenti. Dengan segera ku keluarkan isi kantong jas ku. Ketemukan virus buatan ku. Aku ingat, aku selalu membawa beberapa di dalam kantong ku. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh menyia-nyiakan nyawa kaka yang sudah di korbankannya untuk ku. Dengan segera ku telan salah satu pil virus itu. Tak beberapa lama, dadaku mulai terasa sakit. Suhu badan ku naik dan seluruh tulang dan Daging ku terasa meleleh. Aku tidak bisa tidak berteriak. Rasa sakit ini, apakah ini juga yang di rasakan oleh Kudou Shinichi ketika menelan virus ini? Aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya Kudou ketika menelan virus buatan ku ini. Tak beberapa lama, aku bisa merasakan badan ku menyusut menjadi kecil. Menahan sakit, aku pun berdiri dan beranjak mencari jalan keluar dari ruang bawah tanah ini. Aku menemukan pembakaran sampah. Dengan segera aku masuk ke dalam tempat tersebut, dan berhasil keluar dari dalam ruangan itu. Masalahnya sekarang, aku tidak tau mau kemana. Aku tidak punya siapa-siapa. Tiba tiba aku teringat dengan Kudou Shinichi. Mungkin dia bisa membantu ku. Kembali ku langkahkan kaki kecil ku, ke daerah beika dan mencari alamat rumah pria yang ku cintai tersebut. Semakin lama, kesadaran ku mulai menepis, dan aku pun tak sadarkan diri.

"Haibara-san? Sedang sibuk kah? Sedari tadi sibuk mengetik terus di laptop." Tanya Mitsuhiko dan melirik ke arah laptop Haibara. Haibara melirik Mitsuhiko dan tersenyum

"Aku hanya sedang menulis cerita. Aku tidak sibuk kok."Ucap Haibara dan mengklik 'Save' di laptopnya. Ayumi pun menarik tangan Haibara

"Ayo Ai-chan temani kami ke supermarket ya. Hari ini kita akan pesta kare lho, Hakase yang traktir." Ucap Ayumi dengan riang

"Tunggu dulu, aku belum menutup laptop ku." Ucap Haibara. Ayumi pun kembali menarik tangan Haibara.

"Nanti saja di tutupnya, Hakase menyuruh kita segera berangkat. Jika tidak, toko dagingnya akan segera tutup." Kembali Ayumi menarik tangan Haibara. 'Tapi bagaimana jika Kudou-kun melihat laptop ku?' Batin Haibara.

"Hoi kalian berempat kapan perginya, sudah jam 3 ini. Nanti keburu tutup toko dagingnya." Ucap Conan yang keluar dari kamar mandi.

"Kau tidak ikut?" Tanya Haibara. Conan pun menggeleng dengan cepat.

"Ini juga mau pergi." Ucap Genta berjalan ke luar dan di ikuti oleh 3 temannya yang lain. 'Astaga laptop ku, ya tuhan.. semoga dia tidak membacanya.' Batin Haibara dan pasrah mengikuti ketiga teman kecilnya. Sementara itu Agasa Hakase yang baru masuk dari halaman belakang, menatap Conan yang sedang serius menatap Laptop di ruang tv tersebut.

"Kau sedang apa Shinichi?" Tanya Professor Agasa yang melihat Conan sangat serius menatap Laptop tersebut.

"Sedang membaca." Ucapnya cuek dan masih berkonsentrasi di depan laptop yang menyala tersebut.

SKIP

"Kami pulang, Hakase... ini belanjaannya" Ucap Ayumi dengan riang.

"ohh.. Terima kasih anak anak. Ayo kita segera membuat karenya." Ucap Professor. Haibara segera berlari ke arah laptopnya, dan membulatkan mata melihat laptopnya dalam keadaan mati dan tertutup.

"Hakase?! Siapa yang mematikan laptop ku?" Tanya Haibara dengan Panik. Conan yang masih asik membaca buku di ruang santai hanya melirik sekilas Haibara.

"Aku yang mematikan. Baterainya sudah merah. Kenapa memang? Apa ada file yang belum kau simpan?" Tanya professor. Ekspresi lega memancar dari wajah Haibara.

"Ah.. tidak.. sudah ku simpan semua. Terima kasih Hakase." Ucap haibara.

"Kenapa kau panik sekali jika laptop mu di lihat Haibara?" Tanya Conan.

Deg

Deg

"Bukan urusan mu Edogawa-kun." Ucap Haibara dan pergi ke dapur. Conan pun memperhatikan Haibara dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Conan-kun? Kenapa daritadi melihat Haibara-san terus?" Conan hanya mendengus

"Tidak boleh aku melihat Haibara memang?" tanya Conan balik. Mitsuhiko pun menatap Conan.

"Conan-kun menyukai Haibara-san?" Tanya Mitsuhiko. Conan pun melirik Mitsuhiko dan tersenyum simpul.

"Jika iya kenapa? Kau ingin bersaing dengan ku?" Tanya Conan To the Point. Mitsuhiko pun kaget mendengar pertanyaan Conan.

"Kau pikir aku tidak tau Mitsuhiko? Aku tau kau menyukai Haibara. Aku bisa melihatnya dari tatapan matamu kepadanya. Kutanya sekali lagi. Kau mau bersaing dengan ku?" Tanya Conan kembali dan menatap Mitsuhiko. Mitsuhiko pun menatap Conan dengan pasti.

"Jika itu yang Conan-kun inginkan. Aku mau bersaing dengan Conan-kun. Namun aku tidak mau persahabatan kita rusak. Kita bersaing secara lekaki. Setuju?" Ucap Mitsuhiko. Conan pun tersenyum puas.

"Bersiaplah kalah Mitsuhiko." Ucap Conan dan tersenyum penuh arti ke arah Mitsuhiko. Mitsuhiko hanya tersenyum.

"Aku tidak akan menyerah hingga saatnya tiba." Ucapnya kemudian.

"Mitsuhiko-kun, Conan-kun.. Karenya sudah jadi, ayo ke halaman belakang." Teriak Ayumi. Conan pun berjalan dan melewati Mitsuhiko.

"Ku pastikan kau kalah malam ini Mitsuhiko." Ucap Conan dan berjalan ke taman belakang. Mitsuhiko pun hanya menatap bingung dan mengikuti Conan.

SKIP

"Huaaaaah... kenyang. Kare buatan Haibara dan Ayumi Enak!" Ucap Genta menepuk perutnya yang gendut.

"Bagaimana kau tidak kenyang. Kau memakan 10 porsi kare." Ucap Haibara dan membereskan semua peralatan makan.

"Biar ku bantu Haibara-san." Ucap Mitsuhiko dan melirik Conan yang masih sibuk dengan buku yang sedang di bacanya.

"Terima kasih Tsuburaya-kun." Ucap Haibara dan berjalan ke dapur. Sementara itu, Ayumi mendekati Conan dan memberikan beberapa buah potong di dalam mangkuk.

"Ini Conan-kun." Ucap Ayumi. Conan pun berterima kasih dan memakan buah tersebut dalam diam.

"Conan-kun menyukai Ai-chan ya?" Tanya Ayumi kemudian. Conan pun menatap Ayumi yang sibuk memainkan jari jarinya.

"Kenapa memang?" Tanya Conan. Ayumi menatap Conan

"Ayumi.. Ayumi tidak sengaja mendengar percakapan Conan-kun dan Mitsuhiko-kun di ruang tv tadi." Ucap Ayumi. 'ternyata benar dia mendengarnya.' Batin Conan.

"Kenapa memang?" Tanya Conan lagi.

"Ayumi menyukai Conan-kun." Ucap Ayumi menatap Conan. Conan pun menghela nafas,

"Ayumi, Cinta bukanlah sesuatu hal yang bisa di paksakan. Aku tidak bisa menyukai mu lebih dari seorang teman. jadi, maafkan aku. Aku tidak bisa menganggap mu lebih dari teman." Ucap Conan. Ayumi pun menundukkan kepala.

"Bukankah.. bukankah itu juga berlaku untuk Conan-kun? Maksud Ayumi, Belum tentu Ai-chan juga menyukai Conan-kun." Balas Ayumi. Conan pun tersenyum.

"Aku hanya mencintai orang yang juga mencintaiku Ayumi. makanya aku mencintai Haibara. Itu saja. Perlu kau ingat Ayumi, Lebih baik kita belajar mencintai orang yang mencintai kita. Daripada kita mencintai orang yang belum tentu punya perasaan kepada kita." Ucap Conan dan mengelus kepala Ayumi. Ayumi pun menatap Conan dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Yahh.. tapi itu juga tergantung dirimu Ayumi. jika menurut mu, orang yang mencintai mu itu pantas mendapatkan balasan cinta mu, kau berhak dan wajib belajar mencintainya. Namun, jika kamu merasa orang itu bukan untuk mu, atau mungkin kau berfikir akan ada orang lain yang bisa mencintainya lebih dari kamu. Kamu berhak menolak kok." Ucap Conan dan tersenyum. Ayumi pun melihat senyuman Conan, ikut tersenyum.

"Hm! Ayumi mengerti. Terima kasih Conan-kun. Semoga Ai-chan dan Conan-kun bisa bersama ya." Ucap Ayumi dan tersenyum. Conan pun hanya tersenyum.

SKIP

Seluruh anak anak detektif cilik, sudah berada di atas kasur masing-masing. Setelah pesta kare mereka pun menginap di rumah professor.

"Selamat tidur anak anak" Ucap Professor, dan mematikan lampu utama, meninggalkan 2 buah lampu tidur dalam keadaan menyala.

"Selamat tidur Hakase." Ucap ketiga anak anak tersebut. Dengan perlahan Professor pun menutup pintu kamar anak anak.

"Conan-kun mana?" Tanya Mitsuhiko.

"Di kamar mandi mungkin." Ucap Ayumi dan menarik selimutnya sampai dagu.

"Eh iya, Ai-chan juga tidak ada." Lanjut Ayumi.

"Oh.. Kalau Haibara-san, katanya dia mau melanjutkan membuat cerita yang di ketiknya tadi siang." Jawab Mitsuhiko. Ayumi pun hanya membalas dengan anggukan. Akhirnya ketika anak anak itu tertidur dengan pulas.

Sementara itu di ruang bawah rumah professor, Haibara terlihat sedang menyalakan laptop dan akan memulai menulis kembali cerita masa lalunya yang sempat terputus siang tadi. Baru saja hendak mengetikkan satu kalimat, kegiatannya terusik oleh sebuah suara yang sangat di kenalnya.

"Melanjutkan membuat cerita, Shiho?" Tanya suara tersebut.

Deg

Deg

"Kudou-kun? Kau belum tidur?" Tanya Haibara dan menutup Laptopnya cepat.

"Aku belum ngantuk, jadi aku mencari mu. Ku pikir kau juga belum tidur." Ucap Conan berjalan ke arah Haibara. Haibara pun mencoba mengontrol detak jantungnya yang tak karuan. Kembali membuka laptopnya, matanya terfokus dengan sel sel rumit di layar laptopnya.

"Apa itu?" Tanya Conan yang berdiri di belakangnya. 'Tenanglah Shiho..' Batin Haibara

"Eh? Ini? Ah.. ini formula untuk anti virus yang kita minum." Conan pun mengangguk mengerti.

"Apotoxin 4869 kan? Kalau tidak salah kau melanjutkan penelitian orangtua mu terhadap virus itu ya? Karena belum sempurna, makanya kita tidak mati, melainkan mengecil seperti ini. Benar?" Tanya Conan lagi. Detak jantung Haibara berdetak abnormal.

"Darimana kau mengetahui nama obat ini? Aku tidak pernah memberitahu mu nama obat ini selain nama singkatannya." Conan pun tersenyum.

"Bukankah aku tadi bertanya sebelum masuk ke sini Haibara?"

"Kau membaca cerita ku kudou-kun?"

"Hm.. menurut mu?"

"Jawab saja!"

"Haha.. Iya, cerita yang bagus Haibara. Bagaimana dengan kelanjutannya?"

"..."

"Kenapa kau diam? Aku bertanya kelanjutan ceritanya."

"Kau sudah tau kelanjutannya, dan masih bertanya?"

"Mana aku tau kelanjutan ceritanya. Kan itu cerita mu." Jawab Conan Cuek.

"Tentu saja kau tau. Setelah itu aku di temukan sama hakase pingsan di depan rumah mu, dan hakase bersedia menumpangku di rumahnya. Untuk apa kau bertanya lagi?" Tanya haibara dengan kesal.

"Perasaan mu terhadapku, apa berubah?" Tanya Conan Lagi

"Maksud mu?"

"Kau mencintai Kudou Shinichi bukan?"

"..."

"Kenapa kau diam lagi?"

"Ya. Aku mencintai Kudou Shinichi. Kenapa memang Edogawa-kun?"

Conan pun tersenyum penuh Arti. "Kau wanita yang berani ya. Mencintai seorang Kudou Shinichi."

"Apa salahnya mencintai seseorang?"

"Tidak ada salahnya. Kau yakin Kudou Shinichi juga mencintai mu memang, Haibara?"

Haibara pun termenung dan meresapi setiap intonasi dan kata yang keluar dari bibir Conan. Dengan segera Haibara pun tersenyum.

"Tentu saja dia tidak mencintai ku Edogawa-kun. Kau seperti tidak tau Kudou Shinichi saja. Dia itu seorang detektif yang terkenal. Banyak yang lebih baik dariku, yang juga mencintainya. Mungkin ku rasa, jika sebenarnya jauh di lubuk hatinya, dia membenci ku. Karena virus buatan ku lah dia tidak bisa bersama dengan orang yang di cintainya."

"Ohh.. Kau tau siapa yang di cintai oleh Kudou Shinichi?"

"Ran Mouri. Ku pikir, kau juga tau yang mana kan orangnya Edogawa-kun?"

"Ya, aku tau. Ran Neechan memang cantik, juga pandai karate. Tapi Haibara, Apa menurut mu dia juga mencintai Kudou Shinichi?"

"Mana aku tau."

"Aku hanya meminta pendapatmu, Haibara. Kenapa kau kesal?"

"Pendapat ku? Tentu saja Mouri itu mencintai Kudou. Jika tidak, dia tidak akan sibuk setiap hari merengek kepada pria itu memintanya untuk pulang, dan selalu berada di sisinya. Selalu mengatainya maniak analisis, maniak kejahatan, maniak holmes, selalu membuat Kudou dalam keadaan bingung dan membuat Kudou serba salah, lalu.." Haibara pun terdiam mencerna kalimat yang terlontar dari bibirnya.

"Jadi, menurut mu itu cinta?"

"Tentu saja itu cinta Edogawa-kun. Jika tidak, untuk apa dia menunggu dan merengek kepada mu meminta pulang hah?!" Kesal Haibara dan menatap Conan yang dengan santai menatap Haibara.

"Kenapa Ran Neechan merengek padaku Haibara? Aku kan bukan Shinichi Niichan. Ah.. Kacamata ku Berembun. Kenapa panas sekali di sini." Conan pun melepas Kacamatanya dan mengambil sebuah tisu di meja dan membersihkan kacamatanya dengan tenang. Haibara pun tertegun menatap Conan yang sedang membersihkan kacamatanya dengan tisu.

"Karena kamu.. karena kamu itu Kudou Shinichi."

"Apa maksud mu Haibara? Aku ini Edogawa Conan."

"Bukan. Kau itu adalah Shinichi Kudou yang mengecil karena virus Apotoxin 4869."

"Menurut mu begitu?"

"Tentu saja itu benar. Karena aku yang menemukan informasi itu pertama kali bersama kaka ku!"

"Kenapa kau tidak bocorkan ke Gin jika aku masih hidup?"

"..."

"Jawab Aku."

"Aku tidak mau kau menderita lebih banyak lagi. Sudah cukup karena virus buatan ku, kau menjadi kecil, dan tidak bisa bersama dengan orang yang kau cinta."

"Siapa bilang, aku tidak bisa bersama dengan orang yang ku cinta? Buktinya aku masih hidup dan bisa bersamanya."

"Tapi kau bersamanya Sebagai Edogawa Conan, Bukan Shinichi Kudou! Mana bisa kau mengatakan di depan gadis Mouri itu, jika kau sebenarnya Shinichi Kudou."

"Yah.. aku juga tidak bermaksud untuk mengatakan itu sama Ran."

"Maafkan aku."

"Untuk apa kau minta maaf, Haibara?"

"Karena aku kau menderita dan tidak bisa bersama nona Mouri itu."

"Tidak bisa bersama dengan orang yang ku cinta maksud mu?"

"Iya! Tidak bisa bersama orang yang kau cinta! Maafkan aku."

"Sudah ku bilang, aku bisa bersama orang yang ku cinta. Buktinya, dia bersama ku sekarang." Ucap Conan dan menunjuk Haibara dengan Jarinya.

"Eh?"

"Ku tanya lagi. Apa menurut mu Ran mencintai ku?"

"Itu sudah ku jawab tadi."

"Menurut mu, itu cinta?"

"Iya."

"Lalu apa itu egois? Kau tidak bisa membedakan cinta sama egois kah?"

"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya Edogawa-kun?"

"Hoi.. aku tidak memakai kacamata sekarang, lihat aku sebagai Kudou Shinichi, Shiho."

"Daritadi aku penasaran. Darimana kau tau nama Asli ku?"

"Kau lupa dengan pertanyaan ku sebelum masuk ruangan ini?"

"Cih. Kau membaca cerita ku."

"Hahaha, Baiklah. Aku akan jelaskan sekarang. Aku sudah lama mengenal Ran. Dia anak yang memang mau seenaknya saja. Dia selalu merengek minta di antarkan dan di temani oleh ku, kemanapun dia pergi."

"Tentu saja, karena dia mencintai mu Kudou-kun."

"Dia tidak cinta dengan ku. Aku tau itu, dia hanya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya wajar dan tidak. Apa menurut mu tidak aneh? Ketika kau berkata bahwa dia mencintaiku, namun dia sama sekali tidak bisa menghargai kegemaran ku? Pikirkan kembali. Apa menurut mu tidak aneh? Jika dia memang mencintai ku, dia tidak akan cerewet menyuruhku pulang. Mungkin kau bisa bilang, karena dia tidak pernah lagi melihat ku ke sekolah lagi. Dan tidak pernah terlihat lagi di berbagai media. Apa itu yang di bilang cinta? Sementara kau? Kau belum pernah bertemu dengan ku, namun kau sudah bisa mencintai ku, dan menganggap ku sebagai sebuah harapan. Bahkan di saat kau hendak mati di tangan Gin, kau masih sempat sempatnya memikirkan ku, dan tidak merepotkan ku, dengan mengadukan ku bahwa aku masih hidup. Kau masih bisa tersenyum hanya karena kau mencintai ku. Apa sekarang kau bisa membedakan apa itu cinta dan egois, Shiho?"

Haibara dengan perlahan mencerna dengan baik maksud dari semua perkataan Conan. Dengan cepat airmata pun mengalir dengan deras.

"Aku minta maaf." Ucapnya terisak.

"Untuk apa kau meminta maaf?"

"Aku tidak bisa menyelamatkan mu, di saat kau di serang oleh Gin dan Vodka. Aku tidak bisa membantu apapun saat itu."

"Kau sudah membantu ku."

"Apalagi maksud mu? Kau bahkan teracuni, dengan virus yang ku buat."

"Kau menyelamatkan nyawaku, Haibara."

"..."

"Jika saat itu kau mengatakan kepada Gin jika aku masih hidup dan merubah jadi kecil. Aku mungkin tidak berada di sini sekarang. Aku berhutang satu nyawa padamu haibara. Aku berterima kasih. Kau mempertaruhkan seluruh hidup dan mati mu, hanya agar mereka tidak mengetahui jika aku masih hidup."

"Aku hanya melakukan apa yang kubisa."

"Kau sangat kuat Shiho."

"Jangan berlebihan."

"Aku tidak berlebihan. Aku mengerti semua penderitaan mu, setelah membaca seluruh cerita mu tersebut. Kau yang hanya memiliki Aku dan kaka mu, dan sekarang kau hanya memiliki ku, aku minta maaf tidak bisa menolong kaka mu."

"Jika kau mencoba mencintaiku, karena kau mengasihani ku, aku tidak butuh."

"Kau anaknya Fallen Angel bukan?"

"Kau.. Darimana kau tau Panggilan ibuku? Aku tidak menulisnya di cerita ku."

"Tentu saja aku tau. Fallen Angel itu adalah teman ibu ku."

"Ibumu?"

"Fujimine Yukiko."

Haibara pun membulatkan matanya. Kembali ingatakan kecilnya berlayar ke masa lalu mengingat segala sesuatu hal yang berhubungan dengan 'Fujimine Yukiko'

"Fuji-san. Aku mengenalnya."

"Saat itu aku berumur 6 tahun. Aku di bawa oleh ibu ku, ke Inggris, dan berkunjung ke rumah mu. Saat itu aku bertemu dengan kaka mu yang juga sedang liburan di sana seingat ku. Aku berjalan keliling rumah mu sendirian, dan mendapati mu sedang duduk di sebuah taman, sedang membaca sebuah buku bergambar. Awalnya, aku berniat untuk mendekati mu, namun ku urungkan. Di saat itu kau tau apa yang ada di pikiran ku? Wajar ibumu di juluki Fallen Angel, karena dia memiliki anak seperti mu."

"..."

"Aku juga tau, Jika Kudou sudah lama masuk dalam incaran death list nya organisasi hitam. Aku bukan anak yang bodoh. Aku di ceritakan semua hal tentang organisasi kalian oleh ayah ku."

"Jadi kau tau segalanya."

"Tentu saja. Jangan Remehkan Kudou."

"..."

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Kau mengizinkan aku mencintai mu atau tidak, Shiho?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu kepada mu Kudou-san!"

"Tidak perlu kau tanya, aku yang dulu mencintai mu. Kau mencintai ku di umur 7 tahun, sementara aku mencintai mu di umur 6 tahun."

"Hanya beda setahun."

"Tetap duluan aku yang mencintai mu, Shiho. Jangan jadi perempuan keras kepala."

"Kenapa? kau tidak suka?"

"Sedikit merepotkan. Aku tidak suka perempuan keras kepala dan agresif."

"He.. aku tidak bisa berjanji untuk tidak keras kepala, dan perlu kau ingat. Aku punya harga diri. Aku bukan tipe perempuan Agresif, tantei-san."

"Pengecualian untuk mu Shiho. Kau boleh keras kepala sesekali."

"Huh! Kekanakan."

Conan pun mengulurkan tangan dan memeluk Haibara dengan Hangat. Haibara bisa mendengar jantungnya berdegup dengan kencang.

"Kencang sekali suaranya."

"Ini, bukan seperti yang kau pikirkan Kudou-"

"Aku bisa mendengar detak jantung ku Shiho. Sangat kencang bunyinya."

"..."

"Oh iya Shiho.."

"Hm?"

"Aku juga memperbolehkan mu bersikap Agresif."

"Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan jika tidak suka dengan perempuan Agresif?"

"Agresif di ranjang itu lain cerita Shiho."

"Apa itu perkataan yang sopan untuk anak kelas 1 SD Edogawa-kun?"

"Hahaha... aku terbawa Suasana. Maafkan aku."

"Mesum!"

"Terima Kasih, Kau memperbolehkan ku mencintai mu, Shiho."

"..."

"Aku mencintai mu Kudou Shiho."

"Marga ku bukan Kudou, Tapi Miyano, Perlu kau ingat."

"Tak ada masalah. Toh suatu saat akan berubah menjadi Kudou."

"..."

"Aku mencintai mu, Shiho."

Haibara pun tersenyum, dan mengeratkan pelukannya kepada Conan.

"Aku juga mencintai mu, Shinichi." Jawab Haibara. 'Aku sangat mencintai mu, Shinichi' tambah Haibara dalam Hati.

THE END