disclaimer(s): Naruto belongs to Masashi Kishimoto, but this story is purely mine.
warning(s): no-plot, AU, typo(s), and other stuff(s).
note: hanya fiksi iseng yang baru sempat saya publish sekian lama.


don't like? don't read.
selamat membaca :3


.

gra(ve)duation

.

.

"Congratulations, Dear!"

"Ya ampun, Sayaaang! Selamat, ya!"

"Eww, akhirnya kau sampai di sini, Nak!"

"Cumlaude, ya? Selamat, selamat!"

"Wisuda juga, ya, Sayang! Selamat menjadi sarjana!"

Hiruk-pikuk di pekarangan dan aula utama universitas tampak seperti tak akan pernah berakhir sejak tadi siang; padahal sore sudah hampir tiba. Ucapan-ucapan tersebut hanyalah beberapa dari banyaknya ucapan yang didapat oleh si wanita pecinta manis.

Hari ini, Haruno Sakura resmi mendapatkan gelar sarjana setelah mengenyam bangku perkuliahan selama hampir empat tahun, juga berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Pancar-pancar tawa penuh kebahagiaan terlukis dengan sempurna di wajah elok si wanita merah muda berbalut topi dan toga. Kedua tangannya sudah penuh. Penuh akan hadiah-hadiah dari teman-teman sejawat, seangkatan, atau yang berbeda angkatan, juga dari saudara-saudara jauh yang datang dengan hati gembira ria.

Peluk demi peluk, dekap demi dekap, tak lupa pula kecup demi kecup di dua pipi, ia terima sebagai ungkapan lain dari frasa selamat. Relung hatinya menghangat, seiring terlepasnya satu beban selama empat tahun, seiring dengan sambutan-sambutan antusias para kerabat.

Sakura menerawang ke sekeliling. Ia dapati teman-teman seangkatan, baik sejurusan atau berbeda jurusan, juga mendapatkan kebahagiaan yang sama dengannya dalam balutan topi dan toga. Ia pun tak pernah mengira, bahwa hari ini akhirnya tiba.

Hari di mana ia menjadi seorang sarjana.

Sekali lagi, senyum lebar dengan sirat kebahagiaan tiada tara, terpeta rapi di wajah elok si wanita bahagia.

Kemudian, salah seorang teman dari jauh, mendekatinya, juga dengan kegembiraan yang sama.

"Mana kekasihmu itu? Tidak datang di acara pentingmu ini?" Karin menyahut, sembari merangkul bahu wanita itu, sementara kepala merahnya melongok ke kanan dan ke kiri.

Sakura mengernyit. "Kekasih?"

Karin menahan tawa geli. "Deidara, Deidara. Kekasihmu yang maniak seni itu. Dia tidak datang?"

Hanya butuh waktu tak sampai satu detik, untuk seluruh cahaya sirna seketika di wajah ayu Sakura. Sinar-sinar pada mata hijaunya yang begitu bening, tampak meredup.

"Ah, mana aku peduli dengan si bodoh satu itu."

"Ooh? Sedang bertengkar?" Karin menyikut wanita itu dengan intonasi menggoda; manik delimanya mengerling jahil.

Sakura buang muka. "Mana kutahu. Maniak sepertinya mungkin punya acara sendiri makanya dia tidak datang, atau dia sedang sibuk dengan eksperimen-eksperimennya lagi."

Wanita bersurai merah itu menepuk bahu Sakura. "Astaga, Dear, bisa-bisanya kau bertahan dengan pria seperti itu."

"Aku tidak mau membicarakannya sekarang. Kembalikan kebahagiaanku yang barusan itu." Sakura berdecak dengan picingan manik emerald yang mendalam, melemparkan kekesalannya pada kerikil terdekat di kaki.

Temannya terkekeh. "Baiklah, baiklah. Omong-omong,"

"Apa?"

"Angkatanmu yang wisuda hari ini ada 499 orang, ya, kalau aku tidak salah dengar?"

Sakura mengangguk. "Iya. Kenapa?"

Karin menggeleng. "Tidak, tidak ada. Rasanya tanggung saja, sih. Satu lagi akan pas lima ratus."

Tawa Sakura mengudara. "Ah, benar juga. Seharusnya ada satu lagi jadi genap lima ratus, ya. Dengan itu, pasti akan menambahkan nilai plus untuk universitas ini juga."

Kali ini, Karin mengangguk, kemudian tidak memrotes apa-apa lagi, selain tetap merangkul si wanita manis.

Sakura melirik sedikit pada arloji di pergelangan tangan. Jarum kecil di sana sudah menunjukkan pukul empat sore, membuat ia menghela napas. Uzumaki Karin hanya merusak suasana saja. Seharusnya ia tak perlu menanyakan Deidara di hari pentingnya seperti ini.

Menyebalkan.

Sakura mengeratkan dekapan pada hadiah-hadiah bunga serta boneka yang ia terima, lalu melepaskan diri dari rangkulan si wanita pemilik iris ruby.

"Ada apa?"

"Aku mau pergi dulu."

"Astaga, cepat sekali. Mau kembali?"

Sakura menggeleng. "Aku mau ke tempat Deidara."

Karin menyeringai jahil. "Bukankah kalian sedang bertengkar?"

Sakura mengerucutkan bibir. "Well, mau kulempar bunga-bunga ini ke wajahnya."

"Karena ia tidak datang?"

Wanita merah muda itu mendengus. "Memangnya apa lagi, hah?"

Karin kembali tertawa. "Oke, oke. Pergilah. Sampaikan salamku padanya, ya. Pesan dariku, jangan jadi si brengsek yang tidak datang ke acara wisuda si kekasih hati."

Sakura menjulurkan lidah, kemudian ikut tertawa setelahnya.

Ia tak habis pikir. Uzumaki Karin bukanlah teman dekatnya, apalagi sahabatnya—bila pun ada yang Sakura sebut sebagai sahabatnya, maka itu adalah Uzumaki Naruto, sepupu wanita itu. Karin hanya teman jauh, yang berbeda universitas, dan tak tahu banyak hal tentangnya. Namun, rasa-rasanya, Karin akrab sekali.

Mungkin Sakura harus berhenti menjadi wanita tak acuh, ya.

Atau Karin hanya sekadar basa-basi saja. Entahlah. Tidak penting. Lebih lagi, Karin tidak tahu banyak soal Deidara. Satu-satunya hal yang wanita beriris ruby itu tahu hanyalah sosok Deidara sebagai kekasihnya, kemudian menggempurnya dengan pertanyaan-pertanyaan klasik yang sering dilontarkan pada sepasang kekasih.

Kebanyakan orang hanya merasa penasaran belaka tanpa peduli lebih lanjut.

Maka Sakura menyimpulkan bahwa Karin hanya sekadar basa-basi agar tak tampak canggung di sini. Walau ingin sekali Sakura mengujar sinis dengan balut-balut sarkasme bahwa ia tak butuh basa-basi klasik begitu. Tetapi, setidaknya, hargai sajalah, usaha perempuan itu, 'kan?

"Aku duluan, ya! Terima kasih sudah datang!"

Sakura beranjak pergi, sembari tertawa dengan lambaian tangan beberapa kali. Teman serta kerabatnya melakukan hal yang sama, beberapa di antaranya kembali menyempatkan diri untuk sekadar memeluk si wanita manis bergelar sarjana hari ini.

Sekali lagi, Sakura mengutuk sang teman jauh yang menanyakan Deidara padanya hari ini.

Haruno Sakura berhasil tiba di kediaman Deidara, hanya untuk mendapati pria itu tengah tertidur.

Wanita itu berdecak satu kali, sembari mendekap erat semua hadiah dengan sebelah tangan—

"Deidara! Bangun! Hei!"

—dan tangannya yang lain ia gunakan untuk menepuk kepala pria itu dengan tabung gulungan ijazah.

Namun, Deidara bergeming.

Ia letakkan sebagian hadiah di bawah; beberapa boneka saja yang memenuhi pegangan karena ukurannya yang besar, kemudian menghela napas.

Bagaimana caranya membangunkan batu, sih?

Ah, persetan. Sakura tidak peduli. Nanti juga ia bangun sendiri.

Wanita itu mulai memandangi Deidara, sembari menimang-nimang tabung ijazah di tangan. "Aku wisuda hari ini, dan kau seenaknya malah tidur, ya." Sakura mengujar, sembari terkekeh kecil.

"Memangnya kau ngapain, sih? Kelelahan sekali dengan eksperimen-eksperimenmu sampai tertidur begini, ha?" Manik zamrud wanita itu terus memandangi Deidara, tak sedikit pun ingin ia alihkan atensi-atensi dari si pria pencuri hati.

Sakura mengambil sebuah buket bunga, kemudian menimang-nimangnya. "Kalau kau datang, koleksi buket bungaku harusnya bertambah satu, 'kan? Dan pasti akan jadi yang paling unik, karena kau akan membuat buket bunga dari tanah liatmu." Wanita itu tersenyum kecil.

"Eh tapi bagus juga, sih, kau tidak datang, ya. Buket bunga darimu pasti berat sekali, 'kan. Mana sanggup aku membawanya terus-terusan."

Kemudian, tawa Sakura mengudara, beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali diam, kembali meresapi sunyi serta sepi yang menerjang. Matanya masih terus memandangi Deidara yang tengah tertidur, meski pria itu mungkin tidak mendengar ujaran-ujaran bahagia yang ia lontarkan sedari tadi.

Bicara kok sama batu, sih?

Maka akhirnya, Sakura manyun sembari menggembungkan pipi—

"Aaah! Deidara payah! Ayo, bangun! Dasar batu!"

—sementara tangannya ia gunakan untuk melemparkan semua buket bunga yang ia pegang pada Deidara.

Namun sekali lagi, pria itu tetap bergeming.

Kedua tangan Sakura terkepal erat, sangat erat hingga buku-buku jemarinya tampak memutih. Ia menggigiti bibir, entah karena kesal atau marah atau sakit. Ia tarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia hela lagi. Terus ia lakukan beberapa kali, sembari berharap perasaannya bisa tenang kembali.

Tetapi, tidak.

Hatinya sama sekali tak tenang, apalagi bahagia.

Sekali lagi, ia pandangi si pria pirang tambatan hati. Bibirnya mengulum senyum simpul. Ia lepas topi toga yang ia kenakan—

"Payah. Kau tidak bisa bangun lagi, ya, Deidara?"

—kemudian ia pakaikan topi toga itu di atas batu nisan si kekasih hati bersamaan dengan mengalirnya bulir-bulir bening dari iris hijau yang telah mati; tumpah-ruah seolah tak ingin berhenti.

Sakura mendongak satu kali, hanya untuk mendapati langit kelabu ikut menemani.

Seluruh senyum dan cahaya wanita itu lenyap, digantikan oleh sedu-sedu tanpa jeda. Ia dekap tubuhnya erat-erat, kemudian tertunduk dengan badan yang berguncang hebat. Gigi-giginya saling bergemeletuk, sedang mencoba untuk tak terisak lebih lanjut.

Ah, gagal.

Pada akhirnya, Sakura meraung, kemudian jatuh berlutut dan memekik pilu dengan derasnya air mata, tak peduli tanah-tanah yang masih basah mengotori toga yang ia kenakan.

Menangisi Deidara yang tak akan pernah bangun lagi di kediaman terakhir, apalagi untuk mengetahui seluruh ujaran-ujaran bahagia yang ia punya.

Segera setelahnya, rerintikan lembut dari sang langit menyadarkan si wanita manis yang tengah terkikis. Sakura mendongak sekali lagi, untuk membiarkan gerimis-gerimis menghantam parasnya yang elok; berterima kasih di dalam hati atas sang hujan yang menyapu kembali air mata.

Ia sentuh keramik hitam yang mengelilingi pusara pria itu, yang mulai basah oleh hujan-hujan.

"… Deidara."

Akhirnya Sakura berhasil, untuk menyebutkan nama si pria pujaan hati dengan serak-serak tak bertepi, setelah menelan bongkah-bongkah pahit penuh duri yang terus-terusan tersangkut di kerongkongan.

"Hari ini," Sakura memulai konversasi lagi. "Jumlah wisudawan angkatan kita adalah 499 orang, kalau kau tidak tahu—seharusnya kautahu, sih." Wanita itu menarik napas.

"Genap lima ratus jika ditambah denganmu, Deidara."

Gerimis-gerimis yang jatuh, mulai terasa lebih banyak kuantitasnya.

"Tetapi kau tidak datang, ya. Orang bodoh mana, sih, yang mati tiga hari sebelum acara wisudanya sendiri? Padahal kau adalah salah satu dari lulusan terbaik."

Sakura tertawa kecil, meski semesta tahu tawa itu mengandung pahit dan getir yang infiniti.

"Kau pasti akan dengan pongahnya meneriakkan 'seni adalah ledakan' selantang mungkin, dengan seringai penuh kemenangan, dengan tatap nyalang biru langit, dengan statusmu sebagai sarjana."

Tawa kecil Sakura sirna kembali, hanya menyisakan seulas senyum terukir di bibir.

"Padahal seharusnya, Deidara, kita lulus bersama, hari ini, lalu saling bertukar hadiah, tetapi kau malah punya acara sendiri, ya."

Guyur-guyur sang hujan menghantam semakin deras, mulai membasahi seluruh tubuh si wanita merah jambu, serta baju toga yang kuyup. Juga sang hati yang tergerus-gerus.

Hari ini, seharusnya, merupakan satu hari yang penuh akan kebahagiaan. Ia dan Deidara adalah lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari jurusan masing-masing. Sakura menjadi seorang sarjana sastra, sementara Deidara menjadi seorang sarjana seni.

Akan menjadi seorang sarjana seni.

Kalau saja pria itu tidak tewas dalam kecelakaan tiga hari sebelum acara wisuda dihelat. Membuat Deidara akhirnya punya acara sendiri, dengan dirinya sebagai pemilik acara. Acara pemakaman yang digelar hari ini. Hari yang sama dengan acara wisuda yang seharusnya ia hadiri dengan ingar-bingar kegembiraan.

Pemakaman sudah sepi ketika Sakura tiba tadi. Ia hanya berpapasan dengan beberapa orang terakhir sebelum sampai di pusara tujuan.

Tapi tak apa.

Dengan begitu, ia bisa berdua saja bersama Deidara tanpa ada yang mengusik, 'kan?

Mendatangi dua acara di satu hari yang sama, bukanlah sebuah hal yang sering terjadi. Apalagi ketika dua acara tersebut adalah dua hal yang saling berkontradiksi.

Acara wisuda yang penuh dengan kebahagiaan, dan acara pemakaman yang penuh dengan kepahitan.

Sekali lagi, Sakura tersenyum, di antara dingin-dingin yang menusuk hingga ke tulang, di antara gigil-gigil yang terus mengguncang, di antara dekap-dekap belati yang terus menerjang.

"Deidara bodoh. Jangan lupa kembalikan topi togaku … ya."

Kemudian membiarkan suara parau yang sarat akan sakit-sakit, lesap di antara derasnya tangisan langit yang mendera-dera. Derasnya hantaman butir-butir hujan yang tak juga berhasil menyembunyikan air mata sesosok Haruno Sakura.

Serta raung-raung pilu dari sang hati yang telah hancur-lebur menjadi keping-keping luka dan lara.

.

.

end.


another note:
terima kasih sudah membaca sampai di sini :3
fiksi ini saya tulis untuk kepuasan pribadi semata. tidak ada keuntungan apa pun yang saya raih dari fiksi ini selain kepuasan pribadi :3

oh iya, fiksi ini saya tulis sembari mendengarkan instrumen saksofon dari soundtrack film Titanic, My Heart Will Go On :)

sincerely,
Aosei RD.