"Anu, kak Makoto," panggil Tadashi.

Yang dipanggil langsung mendongak. Melihat mantan muridnya tampak gugup, Makoto pun meninggalkan dus yang sedang ia bereskan untuk menghampiri pemuda yang lebih muda darinya. "Ya?"

Tadashi tampak makin gugup, bahkan ia memainkan tangannya sendiri dan tidak berani menatap langsung lawan bicara. Tetapi ketika ia berani melihat lurus ke mata yang lebih tua, suaranya terdengar tegas. "Erm, bersediakah kau menjadi bestman-ku?"

Makoto tercengang.

.


.

Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, based on canon, a bit SPOILERS, no BL, slight Yamaguchi x Yachi.

.

.

Shimada Makoto tidak pernah menyangka

by Fei Mei

.


.

"—bisakah anda mengajariku jump float serve?"

Shimada tercengang. Ia memang menggunakan teknik itu ketika sedang latih tanding dengan anak-anak calon asuhan Keishin, tapi ia tidak menyangka bahwa seseorang di antara mereka berduabelas akan datang kepadanya. Hmm, sudah mau penyisihan Interhigh, mana cukup waktunya untuk latihan?

"Mungkin." Bahkan Yamaguchi sendiri setuju akan pendapatnya. "Aku mungkin tidak akan diturunkan dalam pertandingan ini juga. Tidak mungkin anak kelas satu seperti aku dapat menggantikan posisi anak kelas tiga. Tapi … aku tidak mau menjadi satu-satunya anak kelas satu yang ditinggalkan."

Dilihatnya determinasi anak itu. Shimada jadi berpikir, apakah jika ada anak kelas satu lainnya yang tidak diturunkan dalam pertandingan, maka Yamaguchi ini tidak bakal seperti ini? Tapi, motivasi tetaplah motivasi, dan tampaknya ia tidak akan menyerah begitu saja jika Shimada menolak untuk mengajari. Toh, jika memang jump float serve yang ia ajarkan bisa membawa Karasuno pada kemenangan, ia sendiri juga yang akan senang sebagai alumni.

Masalahnya, Shimada Makoto tidak menyangka bahwa suatu hari ia akan punya seorang murid.

.

.

.

Jantungnya terasa ingin copot, Shimada benar-benar tidak memahami arah pikiran Keishin. Mungkin memberitahu si pelatih muda tentang salah satu anak buahnya minta diajari jump float serve bukanlah hal yang baik. Sebenarnya dari awal Shimada pun ragu, ia cemas kalau teman semasa sekolahnya ini merasa tersinggung karena Yamaguchi minta dilatih orang lain dan bukan oleh orang yang memang adalah pelatih resmi timnya.

Tetapi sekarang, Shimada merasa ingin pingsan saat dari atas melihat Yamaguchi dengan gemetaran memegang papan bernomor sepuluh di masa krusial. Seingatnya, ia telah memberitahu Keishin bahwa memang 'murid'nya telah berhasil beberapa kali, tetapi itu semua hanya keberuntungan, belum menjadi konsisten. Jika hanya latih tanding biasa, jelas tidak bakal masalah. Tetapi ini pertandingan resmi!

"Kupikir mungkin ia membutuhkan keberuntungan itu," celetuk Yuusuke saat Shimada meremas rambutnya gemas.

Tidak selalu keberuntungan itu berpihak pada satu orang tertentu, jadi bagaimana jika saat ini Yamaguchi sedang tidak beruntung? Apalagi ini juga merupakan debutnya di SMA!

Benar juga, bukan memberi poin pada tim sendiri, Yamaguchi malah memberi poin pada lawan. Padahal muridnya yang melakukan kesalahan, tapi Shimada yang merasa sedih. Wajah Yamaguchi sudah sangat siap untuk menangis—mungkin ia sedang berusaha menutup rasa malu, sebal, dan kecewa bersamaan. Tetapi yang membuat Shimada takjub, adalah ketika si nomor 12 itu kembali menyemangati teman-temannya. Aura pertandingan jadi terasa berbeda juga, mungkin karena kegagalan Yamaguchi.

Apa mungkin saat melatihnya, Shimada terlalu lunak? Mereka hanya berbeda sekitar sepuluh tahunan, apakah Shimada terlalu menjaganya karena menganggap rapuh? Apakah ternyata tekad hati Yamaguchi jauh leih kuat dari perkiraannya?

Melihat Yamaguchi sekarang, Shimada menjadi yakin. Anak didiknya masih punya keinginan berkembang lebih lagi.

Masalahnya, Shimada Makoto tidak pernah berpikir bahwa hari itu adalah hari dimana ia tidak ingin lagi mendapati Yamaguchi merasa gagal.

.

.

.

"Shimada-san, aku minta maaf," gumam Yamaguchi.

"Kenapa minta maaf padaku?" tanya Shimada.

"Erm, saat lawan Wakunan, aku hanya menggunakan serve biasa di kesempatan kedua."

"Tapi yang pertama berhasil, kan?"

"Iya, tapi aku tidak pakai lagi untuk selanjutnya."

Shimada tersenyum kecil. "Saat ini, float serve adalah senjata utamamu. Petarung yang baik adalah petarung yang tahu kapan saat yang tepat untuk menggunakan senjatanya. Aku, dan kurasa Keishin juga, kecewa karena kamu seakan kabur tadi. Tapi, kurasa kamu sendirilah yang paling memahami kenapa kamu tidak lagi melakukan jump float serve."

Dengan agak takut, Yamaguchi mengangguk. Melihat anak di hadapannya masih agak terguncang, Shimada merasa miris sendiri.

"Berikutnya, aku akan lebih berani lagi," ujar Yamaguchi. Determinasinya terlihat, walau Shimada melihat gemetar di tubuh muridnya.

"Berani saja tidak cukup," ujar Shimada tegas, tapi tetap lembut. Ia menyendok nasi pada mangkok dan disodorkan pada anak itu. "Ayo makan, habis ini kita latihan."

Yamaguchi mengangguk. Shimada dapat melihat pundaknya tak lagi sekaku awalnya, itu melegakan. Mereka makan bersama-sama, dan Yamaguchi tampak begitu lahap memakan traktiran mentornya, mungkin karena sudah tak sabar ingin segera latihan.

Masalahnya, Shimada Makoto tidak begitu menyadari bahwa dirinya akan ingin Yamaguchi mulai merasa bangga akan dirinya sendiri.

.

.

.

Sudah pukul delapan malam, Shimada bolak-balik mengecek jam dinding dan menyalakan layar ponsel, masih tidak ada tanda kedatangan Yamaguchi. Walau awalnya mereka latihan hanya selang-seling hari, belakangan ini malah jadi setiap hari. Sehabis latihan dari gym sekolah, biasanya anak itu akan segera datang ke Shimada Mart untuk menunggui mentornya selesai kerja agar bisa latihan. Tetapi ini sudah lewat dari satu jam dari yang biasanya, si calon pinch server andal masih belum muncul.

Ia mengetuk pelan meja kasir dengan tidak sabar. Shimada tidak ingin menelepon pada muridnya. Bukan maksud gengsi, melainkan karena siapa tahu saat itu Yamaguchi masih latihan di sekolah atau ada hal lain yang membuatnya mungkin tidak bakal bisa angkat telepon, Shimada tidak mau menganggunya. Toh, memang dari awal pelatihan dengannya bukanlah hal wajib dan intensif tiap hari. Tetapi, pikiran jelek menyelinap masuk dalam otaknya:

Bagaimana jika Yamaguchi sudah menyerah dan tidak mau latihan jump float serve lagi?

Pada pukul sembilan lewat sedikit, akhirnya kegelisahannya terjawab, Yamaguchi meneleponnya.

"Sh-Shimada-san," ucap Yamaguchi gugup dari seberang telepon.

"Tadashi! Ada apa?" tanya Shimada, berusaha terdengar tenang.

"A-anu! Maaf! Eh, kemarin itu, ulangan matematikaku merah, sains dan bahasa Inggris-ku yang terakhir kali juga merah ... erm, Ibu memintaku untuk segera pulang habis klub biar belajar saja, bahkan katanya kalau bisa aku vakum dari klub voli dulu ..."

Shimada tercengang. " ...Oh, tapi kamu masih ikut klub tadi, kan?"

"I-iya!" jawab Yamaguchi "Terus, Ibu bilang, jika aku selesai mengerjakan PR sebelum jam delapan, aku masih boleh ke tempat Shimada-san, tapi ...erm..."

Mentornya tersenyum kecil. "Sekarang sudah jam sembilan. Tidak apa-apa. Sekolahmu memang harusnya lebih penting, Tadashi."

"A-aku akan berusaha agar n-nilaiku membaik! Habis itu, aku akan l-latihan dengan Shimada-san lagi!"

Si Kacamata mengangguk, walau tahu muridnya tidak bakal bisa melihat. "Tadashi, besok habis klub, kamu ke tempatku saja."

"Eh?"

"Bawa PR-mu, bawa buku teks pelajaran yang kamu tidak mengerti, aku akan mengajarimu."

"T-tapi, erm, ibuku ..."

"Aku akan telepon ke rumahmu, minta izin agar kau boleh kesini."

"Boleh? Shimada-san mau mengajariku?"

"Tentu saja!"

"T-Terimakasih, Shimada-san!"

Shimada tersenyum dan terkekeh pelan sambil menutup telepon.

Masalahnya, Shimada Makoto tidak menyangka bahwa selain jump float serve, ia akan benar membantu muridnya belajar pelajaran sekolah bahkan sampai dua tahun berikutnya.

.

.

.

Anak itu menatap Shimada dan kentang goreng ukuran large yang disodorkan bergantian.

"Kemarin kalian ditraktir makan Keishin sampai kekenyangan, kan?" goda Shimada. "Yang ini adalah traktiranku untukmu karena bisa maju ke tingkat nasional."

Agak ragu, tapi tersenyum juga, Yamaguchi menerima kentang goreng itu. Ia menggumam 'terima kasih' pelan sebelum mulai makan.

"Aku tidak tahu sudah ada yang mengatakan ini padamu atau belum," kata Si Kacamata. "Tapi kehadiranmu adalah salah satu alasan kenapa timmu berhasil sampai mengalahkan Shiratorizawa kemarin."

Yamaguchi tercengang. Kentang goreng yang belum masuk dan terkunyah sempurna dalam mulut malah terjatuh keluar. Melihat itu, jelas Shimada terkekeh.

"Bukan berarti kamu adalah MVP. Seperti yang kemarin itu, jelas lebih terlihat bahwa Tsukishima-lah penyelamat tim," tutur Shimada lagi. "Akan tetapi, kamu berkontribusi dalam setiap pertandingan selama babak penyisihan kemarin. Kamu punya senjatamu sendiri, dan aku bisa melihat tidak ada satu pun dari anggota timmu yang menganggapmu pengganggu—yang ada malah mereka lega akan kehadiranmu."

"T-terimakasih," cicit Yamaguchi, tersenyum kecil.

Shimada mengelus pelan puncak kepala muridnya. "Habis ini, kita akan asah senjatamu lagi, ya?"

Yamaguchi mengangguk senang.

Masalahnya, Shimada Makoto tidak menyangka bahwa akan ada masa dimana ia mulai sangat terbiasa dengan kebersamaan antara dirinya dan Yamaguchi.

.

.

.

Shimada berlari secepat yang ia bisa ke bus yang ia tumpangi bersama dengan pendukung Karasuno lainnya. Tidak jauh, tapi ia harus melewati sangat banyak kerumunan. Untungnya barang yang ia cari tidak sulit didapat, yakni terlipat rapi di atas dus botol minum. Diambilnya barang itu, dan kembali masuk untuk membantu muridnya yang sedang bertarung.

Dibukanya lipatan barang itu sesampainya kembali disana. Itu adalah plastik putih berukuran sedang, dengan lambang dan tulisan 'SHIMADA MART'. Agak capek karena sudah lama ia tidak lari sekencang itu, tapi sambil terengah-engah ia mengangkat tinggi plastik itu, membuat Yamaguchi dapat melihat lurus ke arahnya.

Dari jauh, mungkin Shimada salah lihat, tapi memang saat itu tampang gugup Yamaguchi lenyap. Dalam hati ia sangat lega, karena entah kenapa ia bisa kepikiran untuk membawa plastik yang masih mulus ini ke Tokyo. Maksudnya, memang ia atau penumpang bus lainnya ada membawa beberapa barang dengan menggunakan plastik dari tokonya, tetapi jelas akan merepotkan kalau ia harus mengeluarkan semua barang demi menunjukkan titik awal itu pada Yamaguchi. Jadi, yah, Shimada agak meremas pelan plastik itu setelah dipamerkan ke muridnya dengan rasa bersyukur.

Masalahnya, Shimada Makoto baru menyadari bahwa hari itu adalah hari dimana ia merasa bahwa Yamaguchi Tadashi bukanlah sekedar muridnya lagi.

.

.

.

Shimada sedang membereskan barang dalam toko dan bersiap tutup untuk hari itu. Dus yang ada di tangannya, untung bukan berisi barang yang bisa hancur, hampir terjatuh ke lantai karena kaget akan kedatangan Yamaguchi.

"SHIMADA-SAAAANN!" sahut anak ikut keras.

Selama dua tahun belakangan ini ia mengenal Yamaguchi, Shimada hampir tidak pernah mendengar suara sekencang itu dari mulutnya.

Yamaguchi tampak terengah, mungkin karena berlari kencang dari sekolah menuju tokonya. Walau tampak lelah, ekspresi bahagia dari anak yang baru jadi murid kelas tiga itu tetap terlihat jelas.

"Ap—kenapa? Ada apa?" tanya Shimada.

"Erm, anu, ehehehe—"

Shimada terkekeh pelan, ia menaruh dusnya lagi di lantai. "Tarik nafas dulu."

Pemuda itu mengangguk dan menurut. Setelah sekitar tiga kali mengatur nafas, wajah ceria Yamaguchi muncul lagi. "A-aku! Eh, aku jadi kapten!"

Mengerjap sekali, dua kali, tiga kali, Shimada langsung memeluk erat yang lebih muda. "Selamat! Aku bangga banget! Gak nyangka! Kamu, lho, aduuuh, aku ikut seneng!"

Yamaguchi pun membalas pelukan itu sambil sedikit melompat kecil di tempat. "Iya! Aku juga gak nyangka! Padahal dulu aku cuman anak bawang!"

"Hus! Jangan ngomong begitu, ah!" tegur Shimada, lalu tersenyum. "Harus kita rayain! Kamu mau minta hadiah apa?"

Segera Yamaguchi menggeleng. "Gak usah, gak usah hadiah atau dirayain! Lagian, aku bisa kayak gini sekarang juga karena Shimada-san bersedia jadi mentorku dua tahun ini! Mana bisa aku diturunin dalam pertandingan kalau bukan karena Shimada-san? Jadi begitu selesai kegiatan klub tadi, aku buru-buru kemari untuk ngasihtahu soal ini!"

Shimada terharu dan bangga bukan main. Ketika pertama kali mengajarkan jump float serve, jelas harapannya hanya agar Yamaguchi dapat melakukan teknik itu dengan baik, tidak ada hal lebih. Tetapi ketika muridnya ini menjadi kapten? Yamaguchi Tadashi yang ini?! Padahal bukan Shimada yang menjadi kapten, tapi ia bahagia bukan main. Dan ini pun bukan pertama kalinya pembicaraan soal Yamaguchi menjadi kapten ia dengar. Pasalnya memang Yamaguchi sendiri pernah cerita bahwa Ennoshita telah bilang untuk menyiapkan dirinya menjadi pemimpin yang baru. Dan lagi, Keishin sendiri pernah menghampirinya, meminta pendapat jika Yamaguchi jadi kapten. Shimada hanya tidak menyangka bahwa sekarang muridnya sudah resmi memiliki seragam bernomor satu.

"Eh, tapi, daripada hadiah, erm…" Yamaguchi tampak gugup. "Sebagai gantinya, boleh tidak, aku memanggil Shimada-san dengan panggilan Kak Makoto?"

Yang lebih tua mengerjap. Sebenarnya ia tidak pernah masalah jika muridnya ini memanggil dengan nama depan, tetapi kenapa musti pakai 'kak'? "Boleh aja, kok, lagian aku juga udah lama manggil kamu dengan nama depan, kan?"

Wajah ceria Yamaguchi muncul lagi, bahkan tampak lebih cerah daripada ketika ia membawa kabar menjadi kapten. "K-kalau begitu, eh, eheheh, Kak Makoto."

Shimada tersenyum. Yamaguchi menyebutnya beberapa kali lagi dalam bentuk gumaman dengan senang. "Tadashi, kenapa senang banget begitu?"

Yamaguchi merona. "Ah, hehehe, enggak, anu, aku cuman seneng, aku jadi merasa bahwa mungkin begini rasanya punya kakak …"

Disitu Shimada mengerjap. Senyumnya mengembang dengan lembut, tangannya mengelus puncak Yamaguchi.

Masalahnya, Shimada Makoto baru sadar bahwa di hari ia menerima anak itu sebagai muridnya, sebenarnya itu adalah hari dimana ia tak lagi menjadi anak tunggal.

.

.

.

"Anu, Kak Makoto," gumam Tadashi. Makoto dapat melihat yang lebih muda tampak gugup bahkan untuk menyentuh mangkoknya. "Aku suka banget sama Yachi-san."

Sontak Makoto tersedak parah. Tadashi tampak merasa bersalah sambil mengambil kain lap di meja serta air minum.

"Ap—maaf?" tanya Makoto kemudian.

"Erm, maaf, aku gak bermaksud membuat kakak kaget begitu …"

"Enggak, enggak—uhuk! Aduh, maksudku, aku tahu kamu suka dia, aku cuman gak nyangka tiba-tiba kamu bakal omongin ini. Gak ada hujan, gak ada badai, tiba-tiba nyeplos begitu…"

Tadashi terkekeh gugup. "M-maaf—"

"Dan kuah bakso ini puedes, kamu pengen bunuh aku apa gimana?"

"Maaf!"

Makoto menghela. "Lalu? Akhirnya kamu kepikiran untuk nembak dia?"

Perlahan Tadashi mengangguk. "Kupikir, sebelum hari kelulusan, aku ingin menyatakan perasaanku padanya."

"Kudukung. Dari awal aku melihatmu dengannya, aku udah nge-ship kalian banget."

Langsung saja semburat merah muncul di wajah Tadashi. "Dari sejak pertama Yachi-san masuk ke gym, aku udah tertarik sama dia. Kupikir, itu hanya karena dia manis … tapi kelamaan aku kenal dia, dan kupikir bahwa memang aku suka dia. Setelah lulus SMA, pasti bakal lebih sulit ketemuan, jadi aku pengen ambil kesempatannya dalam waktu dekat."

"Selamat berjuang, kalau begitu."

Dalam hati, Makoto menyengir parah. Ia tidak bohong saat bilang bahwa Tadashi dan Yachi merupakan OTPnya. Malah, ia agak tidak rela jika suatu hari mendengar kabar bahwa Yachi Hitoka menjalani hubungan dengan siapa pun selain muridnya. Tadashi juga, sebenarnya jika sampai hari wisuda tidak menyatakan perasaannya, Makoto sudah sangat ingin mendorongnya untuk jujur. Memang selama ini Tadashi tidak pernah mengakui perasaannya itu pada sang figur kakak, tapi Makoto dengan sangat mudah menebaknya hanya dari bagaimana hampir tiap hari muridnya membawa nama Yachi dalam cerita kesehariannya. Manis banget, hampir membuatnya diabetes.

"Erm, tapi aku takut…" cicit Tadashi lagi. "Gimana kalau dia nolak aku?"

Makoto memutar bola matanya. Ia lupa bahwa muridnya ini masihlah Yamaguchi Tadashi yang hobinya gugup dan agak plin plan kalau menyangkut kehidupan pribadinya. "Kamu cuman ingin menyatakan perasaan, kan? Bukan nembak?"

"Eh, iya ya, heheheh."

Si Kacamata mendengus pelan sambil melanjutkan makan. Ia menyunggingkan senyum kecil setelahnya, berekspetasi untuk mendengar kabar soal tersambutnya perasaan Tadashi.

Masalahnya, Shimada Makoto benar-benar tidak menyangka bahwa keesokan harinya si murid menelepon dan dengan suara riang yang tidak kenal volume menyatakan bahwa dirinya resmi berpacaran dengan si gadis pujaan.

.


.

"Anu, kak Makoto," panggil Tadashi.

"Ya?"

"Erm, bersediakah kau menjadi bestman-ku?"

Makoto tercengang. "Maaf?"

Tadashi tampak salah tingkah, tapi ia masih tersenyum. "Enggak, anu, itu, aku sudah cerita bahwa Hitoka-chan menerima lamaranku, kan?"

Mengangguk, Makoto memang masih ingat malam dimana muridnya menangis bahagia memeluk dirinya saat si pacar menerima lamarannya.

"Nah, erm, kami sudah memilih tanggal, jadinya sekitar akhir tahun ini," ujar Tadashi lagi.

Makoto tersenyum. "Selamat lagi, kalau begitu, Tadashi."

"Ehehehe, erm, terus, aku ingin Kak Makoto yang jadi bestmanku."

Mengerjap, Makoto masih kurang yakin. "Aku? Bukan Tsukishima?"

"Kalian berdua, sebenarnya. Aku ingin Tsukki dan kakak jadi bestman-ku."

" … Tsukishima, aku paham. Tapi Tadashi, aku?"

Tadashi tersenyum tulus. "Kak Makoto adalah kakakku. Hidupku ini, sejak kakak menjadi mentorku, ada seorang Shimada Makoto di dalamnya."

"…"

"… Kak Makoto, jadi bestmanku, ya?"

Masalahnya, Shimada Makoto adalah anak tunggal di keluarganya. Sebelum bertemu Tadashi, ia tidak pernah tahu rasanya menjadi kakak, tidak tahu bagaimana jika punya seorang adik. Ia tidak pernah menyangka, bahwa mempunyai seorang adik bisa membuatnya begitu cengeng hari ini, terlebih ketika ia mengangguk untuk menyanggupi permintaan si figur adik dan Tadashi memeluknya penuh kasih.

Shimada Makoto tidak pernah menyangka bahwa hari dimana ia menyetujui untuk mengajari jump float serve pada Yamaguchi Tadashi, sebenarnya itu juga adalah hari dimana ia mendapatkan seorang adik.

.


.

Selesai

.


.

A/N: Ide ini Fei dapat bersamaan dengan ide fict Brother's Affection tentang si Kembar Miya, makanya formatnya kurang lebih sama. Fei sangat suka relasi Yamaguchi dan Shimada di serial HQ, dan walaupun memang Takeda adalah MVP untuk Karasuno, nyatanya Shimada juga berperan luar biasa besar untuk Yamaguchi—bahkan Fei bisa bayangin bahwa Shimada bakalan luar biasa bangga karena muridnya jadi kapten saat kelas tiga, itu pencapaian yang luar biasa karena di awal kemunculannya Yamaguchi 'hanya' seperti itu. Maaf kalau ternyata fict ini kurang keluarin 'feel'nya, apalagi Fei bukan baca atau nonton ulang demi ngetik oneshot ini (awalnya mau multichapter tapi kok kayaknya bakal pendek-pendek banget, jadinya batal), Fei hanya minta bantuan wikia untuk referensi episode-episode tertentu.

Review?