Terkadang Sakit Itu Anugerah
Summary: Mendapat penyakit mungkin tidak enak. Tapi apakah itu benar?
Disclaimer: Semua di fic ini punya pemilik aslinya. Author hanya meminjam. Hehe peace.
.
.
.
.
[Naruto Uzumaki x Chitanda Eru]
.
.
.
.
Banyak orang yang berharap bisa sakit supaya menghindari hal yang tidak diinginkan. Satu di antaranya seperti takut dimarahi guru(karena belum mengerjakan PR). Biasanya anak remaja yang masih di bangku sekolah lebih sering menggunakan alasan ini.
Di dalam rumah sederhana di kawasan Kota Konoha, Jepang. Kebetulan dua dari tiga penghuni rumah ini sedang keluar meninggalkan putra mereka berdua sendirian. Pemuda pirang yang terbaring di ranjang di kamarnya.
"Uhuk. Uhuk. Sial, orang yang bilang sakit itu enak pasti sudah gila," gerutu pemuda pirang ini.
Namanya Namikaze Naruto, satu-satunya anak dari Namikaze Minato, seorang pekerja kantoran, dan Namikaze Kushina, seorang pelayan restoran.
Dan seperti manusia biasa pada umumnya, Naruto mendapat penyakit yang cukup manjur untuk membuatnya terpaksa berada di rumah seharian.
"Uhuk. Uhuk."
Naruto minum air hangat lewat gelas dari meja kecil di sampingnya. Naruto menaruh gelas setengah kosong ke tempatnya semula.
"Bosan juga gak ada aktivitas," gumam Naruto.
Naruto menyalakan TV dan mencari acara yang menarik, beruntung ada acara komedi sedang tayang.
Ponselnya berbunyi dengan nada dering dan Naruto mengambilnya, rupanya ada panggilan masuk dari ibunya.
"Ya Bu?" tanya Naruto penasaran.
"Bagaimana panasmu? Apa sudah mendingan?"
"Lumayan turun," ujar Naruto, memegang dahinya sendiri, "tapi masih agak panas. Mungkin sembuhnya besok atau lusa nanti."
"Syukur lah kalau begitu." Jeda sejenak. "Karena urusan mendadak ibu mungkin akan pulang telat."
"Oh," Naruto sama sekali tidak terkejut, "aku paham. Bisa beli minuman kesukaanku yang waktu itu?"
Naruto menyengir mendengar tawa di sana.
"Tentu saja bisa. Terakhir jangan lupa minum obatmu dattebane!"
"Siap dattebayo!"
"Bagus! Soal makan serahkan saja pada-"
Naruto sweatdrop melihat baterai ponselnya masuk zona merah lalu mati dengan sendirinya.
"Haah, sakit ini bahkan membuatku lupa charge hp," gumam Naruto.
Naruto kembali menonton TV setelah menyambungkan kabel yang perlahan mengisi daya ponselnya. Tawanya terdengar keras tatkala waiter yang mengantar pesanan ke meja tamu lain tergelincir karena menginjak kulit pisang.
Menyentuh kompres di keningnya, Naruto sadar kalau kompres terasa dingin. Sekarang Naruto berniat mengganti kompresnya.
Bunyi bel dari pintu depan menarik perhatian Naruto yang baru keluar dari kamar tidurnya. Karena penasaran Naruto mendekati pintu depan dan mengintip lewat lubang kecil di tengah pintu.
Naruto melihat gadis muda berambut hitam lurus di punggung dengan poni yang dipotong lurus di dahinya dan juga menutupi alisnya. Iris mata gadis ini ungu dan penampilannya sederhana dengan wajah bisa dibilang imut.
Ide usil hinggap di benak Naruto.
"Di rumah ini tidak ada orang!" seru Naruto.
"Eh? Benarkah? Kalau begitu maaf karena telah mengganggu-tunggu sebentar Naruto-kun bisakah kau berhenti menjahiliku?!"
Naruto membuka pintu dengan tertawa. Gadis di hadapan Naruto cemberut pertanda kesal menjadi korban dari aksi usilnya.
"Maaf, Eru-chan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata Naruto.
Chitanda Eru mengamati ekspresi Naruto, mengangguk puas seakan sadar Naruto tulus meminta maaf.
Naruto menyingkir dari jalur dan menutup pintu setelah Eru masuk.
"Guru Kakashi bilang kau tidak masuk karena sakit," jelas Eru, mencopot sepatunya dan menyimpan sepatunya di rak sepatu, "jadi kupikir tak ada salahnya untukku kemari menjengukmu."
"Kau dari rumahmu dulu?" tanya Naruto, mengamati pakaian Eru.
"Begitulah," balas Eru riang, "lagipula tidak mungkin aku ke sini memakai seragam."
Dia kecewa. Padahal dia sangat ingin melihat Eru dengan seragam dan rok sekolah.
Naruto berkedip.
Hormon. Menyebalkan. Naruto mengutuk sisi negatifnya sendiri.
"Jadi… kenapa kau tidak beristirahat di kamarmu?" tanya Eru penasaran.
"Aku ingin mengganti kompresku," jawab Naruto.
Eru berkedip lalu mengerutkan keningnya. "Biar aku saja."
"Err Eru-chan, aku bisa melakukannya sendiri."
"Saat di jalan Bibi Kushina menghubungiku dan memintaku untuk mengawasimu."
Naruto sweatdrop.
Eru tersenyum senang melihat Naruto kembali berbaring di tempat tidurnya.
–
Naruto tidak menunggu lama menerima kain lain yang telah direndam air hangat di area tertentu di tubuhnya.
"Begini lebih baik," kata Eru, duduk di samping kasurnya.
"Terima kasih Eru-chan," balas Naruto.
"Kudoakan semoga kau cepat sembuh Naruto-kun."
Naruto menyengir. "Kau ingin aku cepat sembuh supaya aku bisa menggendongmu ke UKS lagi bukan?"
Eru memerah sedikit wajahnya. "Muu, tolong jangan ingatkan aku lagi soal kejadian waktu itu Naruto-kun."
"Aww, kenapa tidak? Kau begitu imut saat itu Eru-chan," kata Naruto.
Naruto puas melihat kekasihnya begitu merah wajahnya.
Kekasih? Yap. Lelaki pembuat masalah dan gadis penuh keanggunan telah menjalin hubungan dari tahun kedua.
Awalnya banyak rekan sekolah mereka berdua yang tidak percaya dan beranggapan kalau Naruto mengancam Eru untuk berkencan dengannya.
Namun setelah kejadian tertentu yang melibatkan murid idiot, yang sengaja atau tidak, menendang bola hingga mengenai kepala Eru. Mereka lalu percaya juga akhirnya.
Tentunya setelah mereka menyaksikan dia dihalangi oleh beberapa guru karena berniat 'membalas' perbuatan murid yang bersangkutan.
Naruto sangat yakin jika bukan karena permohonan kekasihnya, mungkin akan ada siswa yang dibawa menuju rumah sakit ketika jam sekolah berakhir.
Naruto terkekeh.
Eru memiringkan kepalanya.
"Apa ada yang lucu Naruto-kun?" tanya Eru.
"Tidak ada apa-apa," balas Naruto, bertanya, "bagaimana sekolah tadi?"
"Sebagian guru ada yang tidak masuk karena sakit."
"Sama sepertiku rupanya."
Eru mengerutkan keningnya. "Mungkin penyakitmu bisa dicegah jika saja kau tidak meminjamkan jaketmu padaku kemarin."
"Dan membiarkanmu kehujanan? Psst, lebih baik aku yang sakit kalau begitu ceritanya." Naruto menyengir. "Lagipula karena aku sakit berarti aku bukan orang bodoh. Haha!"
Eru tertawa geli, suara tawanya bagai melodi surgawi di telinga Naruto.
"Ngomong-ngomong apakah kau sudah makan?" tanya Eru lembut.
Bunyi lucu terdengar dari perut lelaki ini.
–
Pada saat jam makan siang masih berlangsung, Eru berkeliaran di lingkungan Konoha High School dan terkadang mendapat kalimat 'semangat' dari teman sekolahnya.
"Tidak usah dipikirkan Chitanda-san."
"Mungkin kau hanya tidak beruntung saja."
Tentunya Eru 'tersenyum' dengan sebagian komentar mereka dan merespon "Terima kasih." atau bisa juga "Kelihatannya begitu." dan sebagainya.
Eru baru sadar setelah berjalan lama dia sampai di belakang gedung sekolah. Eru melihat siswa yang dikenal sebagai 'pembawa masalah', Uzumaki Naruto, bersandar pada dinding dan sedang minum susu kotak.
"Hm?" Siswa ini sadar kehadiran Eru. "Oh, Chitanda rupanya. Apa kabar?"
Eru berkedip, terkejut dengan sikap Naruto.
"Kabarku… baik," balas Eru canggung, tidak menduga kalau sikap siswa ini jauh berbeda dari rumor yang beredar.
Itu membuat perasaan Eru tidak nyaman mengetahui dia sempat berpikir buruk tentang sikap Naruto.
Naruto mengangguk dan membuang kotak susunya ke tempat sampah. Naruto berjalan melewati Eru.
"T-Tunggu sebentar Uzumaki-kun."
Naruto menengok ke Eru.
"Ada apa?"
"Jika kau tidak keberatan…" Eru berbicara gugup dan menatap Naruto. "…maukah kau menemaniku di sini?"
"Kau sadar jika ada orang lain melihat kita berdua maka rumor aneh akan mneyebar bukan?" tanya Naruto heran.
Eru menggeleng. "Saat aku kemari aku tidak melihat siapa pun selain kita."
"Oh. Kurasa oke kalau begitu."
Naruto kembali bersandar di dinding tepat di samping Eru. Mereka berdua diam tidak membahas apapun selama sebentar.
"Chitanda, kudengar kau tidak mendapat juara utama di lomba kaligrafi antar sekolah."
Eru menutup bibirnya karena menahan marah dan kesal. Dari semua topik yang dibahas, kenapa harus dimulai dari topik yang terburuk baginya sekarang?
"Ya, begitulah." Eru merespon. "Mungkin itu karena aku hanya kurang beruntung saja."
"Benarkah? Padahal kupikir karena lawanmu kebanyakan satu tahun lebih tua dan lebih berpengalaman darimu," kata Naruto.
Eru terkejut.
"Kau… beranggapan seperti itu?" tanya Eru.
"Tidak sepertimu, Yamanaka Ino, Yuki Haku, Shimura Sai. Mereka bertiga sudah pernah setidaknya mengikuti lomba yang sama di daerah berbeda dan memenangkan sedikitnya dua penghargaan," jelas Naruto.
"O-Oh begitu," ujar Eru, kagum, "kau tahu banyak ya Uzumaki-kun."
Naruto mengangkat bahu.
"Tidak juga. Berita tentang mereka bertiga begitu populer di internet. Karena bosan aku membaca beritanya meski tidak sampai akhir. Tetap saja... kerja bagus untukmu."
"Eh?" Eru kebingungan. "Kenapa kau memberiku ucapan selamat? Aku bahkan tidak termasuk jajaran juara utama."
"Tapi kau masuk lima besar benar?" kata Naruto, tersenyum kecil kepada Eru, "Kuyakin hanya masalah waktu sampai kau mendapat tempat di juara utama di lomba kaligrafi lain. Setidaknya kau sudah berusaha keras. Itu yang penting."
"….." Eru terpaku mendengar kalimat Naruto.
Sebagai bagian dari klan dengan garis keturunan tradisional Jepang yang kental, banyak orang-orang terdekat di lingkungan rumahnya berpendapat setiap perbuatan 'sempurna' yang dilakukan Eru wajar dan normal.
Bahkan dia juga sering dianggap sebagai genius dari lahir.
Dan mengetahui ada seseorang, walau hanya satu orang saja, memahami dan mengapresiasi kerja kerasnya… itu membuatnya gembira.
Naruto dan Eru mendengar bel sekolah berbunyi sebanyak yang diperlukan.
"Aku rasa sudah saatnya kita kembali ke kelas," kata Naruto.
"A-Ano, Uzumaki-kun," panggil Eru.
"Ya Chitanda?"
"Kapan-kapan bisakah kita seperti ini lagi?" tanya Eru berharap.
Naruto penasaran. "Maksudmu berbincang di belakang gedung sekolah lagi?"
"Kalau bisa… di luar lingkungan sekolah mungkin? Tidak perlu sering itu juga."
Naruto mengangkat sebelah alisnya, diam sejenak menatap Eru yang menunggu dengan cemas.
"Aku tidak keberatan," kata Naruto, "lagi pula siapa aku yang berani menolak ajakan keluar dari gadis manis di sekolahku."
Naruto menyengir sementara Eru merona sedikit wajahnya.
–
Kunci menghadapi demam adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan mencukupi kebutuhan cairan guna mempercepat pemulihan.
Karena itu Eru memilih membuat sup ayam yang mengandung protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk meredakan gejala penyakit ini.
"Kita lihat. Hmm… kurasa bahan-bahannya cukup," gumam Eru.
Dengan rasa percaya diri tinggi, Eru membaca langkah-langkah di buku masak dan memulainya dengan mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari kulkas.
Memasak air, memotong sayuran dan daging ayam, menyiapkan bahan tambahan, memasukkan berbagai bumbu ke panci terakhir menutup panci. Langkah-langkah ini telah dilakukan Eru secara teliti. Semata-mata untuk kesehatan kekasihnya.
Eru menunggu selama beberapa menit dengan sabar. Eru membuka tutup panci lalu mengaduk isinya, mencicipi kuah untuk merasakan rasa sup.
"Pas dan sudah matang," gumam Eru puas.
Eru membawa mangkuk sup ayam menuju kamar Naruto.
"Sup ayam siap!" Eru berseri.
Naruto menengok ke kekasihnya, TV-nya diabaikan karena dia menemukan hal yang lebih menarik.
Eru mengikat rambutnya ke pola ekor-kuda dengan memakai apron jingga. Naruto juga sadar senyuman Eru ditujukan kepadanya.
"Aku mulai percaya keberadaan malaikat sekarang…"
"Kau bicara apa Naruto-kun?" tanya Eru penasaran, duduk di kursi di samping kasur Naruto.
"Aku bilang," ujar Naruto, berdehem, "terima kasih Eru-chan."
"Hihi, sama-sama Naruto-kun."
Sekarang Naruto sadar alasan lain mengapa banyak orang ingin sakit.
"Kau bisa makan sendiri?"
"Yeah, karena aku sedang sakit jadi…"
"Oh, aku paham. Sekarang buka mulutmu dan katakan aaa…"
Terkadang sakit itu anugerah.
.
.
.
.
E-N-D
.
.
.
.
AN:
Iseng mencoba bikin fic one-shot Hyouka dan Naruto tema romance dengan sedikit humor.
Author cuma sempat menonton Chitanda Eru moment di youtube untuk mengetahui sedikit sikap dan tingkah lakunya. Jadi mungkin Chitanda Eru di fic ini terasa OOC :).
Baca dan review kalau kalian suka. Oke?!
Peace.
