"yess, sepertinya aku siap"
Gadis berambut merah muda panjang sepunggung terlihat sedang menatap bayangan nya di depan cermin. Gaya rambut nya yang di belah tengah dan di jepit di sedikit setiap sisi dengan hiasan poni tipis nya membuat gadis itu terlihat sederhana namun menarik.
Memakai gaun selutut berbahan light blue denim tanpa lengan dan sepatu heels berwarna hitam dengan hak tebal yang tidak terlalu tinggi. Perpaduan yang terlihat pas di pakai olehnya, sexy and chick.
Dada bagian atas dan punggung atas nya terekspos sempurna. Kaki panjang nya juga terlihat menarik dengan perpaduan gaun denim dan sepatu itu.
Gadis itu tidak banyak memakai aksesoris, hanya sebuah kalung berliontin kupu-kupu biru, dan anting berbentuk bulan sabit terhias di sepasang telinga nya serta untuk pemanis dia memakai sebuah jam tangan hitam yang elegan dan sebuah gelang yang bermotif sama dengan kalung yang ia kenakan, kupu-kupu biru.
Mata nya yang berwarna emerald indah, hidung nya yg kecil dan mancung, pipi nya yg sedikit tirus terhias indah di wajah nya yg cantik. Yaa walaupun tidak secantik gadis gadis populer di luar sana, tapi memuji diri sendiri di depan cermin tidak ada salahnya kan ?
Hari ini adalah hari istimewa, pesta perayaan akhir tahun sekolah. Semua siswa kelas akhir menghadiri pesta ini. Pesta nya tidak terlalu formal karena diadakan diluar sekolah. Tepat nya di sebuah tempat wisata di dekat wilayah sekolah tersebut.
Sebuah resort yang memiliki gedung bernuansa vintage yang luas dan ada air terjun di dalam nya. Jangan membayangkan gedung yg berbentuk rumah di jaman dahulu, gedung ini lebih mirip istana tanpa jendela, dengan banyak bangunan indah didalam nya. Seperti istana negeri dongeng, hanya saja lebih sedikit komersial.
Akan ada acara pertunjukan bakat, seperti menyanyi, menari, dan banyak acara seru lainnya. Tema acara nya memang bebas, maka dari itu setiap murid bebas memakai pakaian apapun, selama itu masih pantas di pakai.
Dan disinilah Sakura, gadis yang kita ceritakan tadi, menikmati pesta dengan semua teman-teman nya. Dia datang menggunakan motor hadiah kelulusan dari kedua orang tuanya. Itu hanya motor matic biasa, cukup bisa membawa Sakura pergi sekolah atau jalan-jalan di sekitar kota.
Suasana pesta cukup ramai, ah tidak, ini ramai sekali. Setiap orang menunjukan penampilan terbaik nya. Sayangnya, tempat ini cukup jauh dari tempat gedung seperti istana yang Sakura ingin kunjungi. Tempat pesta nya ada di lapangan luas dengan panggung hiburan yang tidak terlalu besar namun cukup memeriahkan suasana. Balon warna warni terpasang di setiap sudut, lampu warna warni memeriahkan suasana sore menuju petang.
Sakura sangat menikmati pesta ini, rasanya seperti persiapan untuk membuka lembaran baru. Menikmati senandung seseorang bernyanyi, teriakan-teriakan tidak jelas namun memeriahkan suasana.
Sakura melihat para siswa dan siswi, lebih tepatnya mantan siswa dan siswi yang lalu lalang dengan penampilan yg tidak biasa di lihat oleh Sakura di kawasan sekolah seperti memberi gambaran kesan baru untuk kehidupan Sakura selanjutnya.
Memang kehidupan seperti apa yang Sakura harapkan di masa depan? Sakura masih belum memikirkan nya, dia masih ingin menangkap banyak memori terakhir nya bersama dengan kawan-kawan nya saat ini.
"Aku akan merindukan momen-momen seperti ini"
Sakura berceloteh ria dengan kawan sebayanya, memegang minuman yang tentunya belum beralkohol, karena Sakura masih ingin perut nya murni dari alkohol sebelum usia 20 tahun. Sekilas informasi, Sakura berusia 18 tahun saat ini. Dan hey tentu saja dia tidak bisa minum alkohol karena Demi Tuhan dia harus menyetir pulang nanti. Sakura masih ingin menyelamatkan kedua telinga nya dari jeweran dan omelan sang ibu.
Tadinya Sakura ingin unjuk bakat menyanyi milik nya, dia sudah berlatih cukup lama untuk pertunjukan ini. Gaun yang ia pakaipun ia sesuaikan dengan konsep lagu yang akan dia nyanyikan. Sakura ingin mempersembahkan lagu ini untuk teman-teman sekelasnya, tapi tiba-tiba saja Sakura ingin membatalkan nya. Suasana hatinya mendadak memburuk. Bagaimana bisa ?
Pandangan Sakura tertuju pada seorang laki-laki, dulunya dia seorang siswa di sekolah Sakura, sekarang mungkin sudah di sebut alumni. Sakura sempat memiliki ketertarikan pribadi pada lelaki berambut merah itu. Ahhh, perasaan klasik seperti "penggemar rahasia kakak kelas". Melihat lelaki yang di sukai nya dulu sedang menggenggam tangan seorang wanita, suasana hati Sakura terputar 180 derajat.
Yang tadinya ceria, riang dan gembira berubah menjadi murung, samar dan tak jelas. Sakura belum bisa merasa sedih. Dia hanya merasa seperti tak seharusnya dia disini. Dia merasa tidak nyaman dan hanya ingin menenangkan diri.
Terkutuk kau #kakakkelasyangsudahtidakSakurakagumi# kau merusak malam dan perasaan gadis cantik ini.
"Sakura, ada apa dengan mu?" Seorang teman Sakura mencoba bertanya pada gadis yg tiba-tiba terdiam itu.
"Hmmm? Memang nya aku kenapa?" Sakura hanya mencoba bersikap biasa.
Ino sempat melirik ke arah lelaki yg sempat Sakura perhatikan.
"Oh ayolah Sakura, kau mendadak berhenti berceloteh dan mulai melamun tidak jelas, ada yang mengganggu mu?" Teman Sakura yang di ketahui bernama Ino itu mencoba menginterogasi.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit butuh ketenangan" Sakura beralih pandang menuju tempat gedung yg ingin dia kunjungi sejak lama.
Ino hanya bingung menatap sahabat di samping nya itu. Tentu Ino tau Sakura tidak bersikap seperti biasanya. Sakura adalah gadis yang ceria dan menyukai interaksi dengan banyak orang. Mungkin Sakura banyak dekat dengan orang-orang dan selalu mencoba menjadi "happy virus" di antara teman-teman nya, tapi Ino mengenalnya lebih dari sekedar teman seperti biasanya. Ino adalah sahabat terdekatnya, dia lebih mengetahui kondisi Sakura lebih dari teman-teman nya yang lain.
Menurut Ino ketenangan bukanlah hal wajar di kehidupan seorang Sakura kecuali ketenangan yang Sakura butuhkan untuk tidur dan belajar selain itu Ino masih belum yakin. Jika Sakura tiba-tiba menginginkan ketenangan itu pasti sedang ada yang terjadi. Dan biasanya itu bukan sesuatu yang baik.
"Kau mau pergi ke gedung itu ?" Ino mencoba memecah kesunyian Sakura.
"Eh ?? Memang nya boleh ? Pestanya kan belum selesai"
Sakura merasa kalau salah satu teman nya itu menawarkan dia untuk pergi dari pesta yang berubah menjadi "tiba-tiba tidak menarik" ini
"Kalau kau mau pergi, kau bisa pergi. Tidak usah mengkhawatirkan pesta ini, pesta nya akan tetap berjalan meriah tanpa mu Sakura"
Oke Ino, itu terdengar kasar.
Tapi Ino tidak bermaksud kasar terhadap Sakura. Dia mengerti Sakura butuh tempat untuk menjernihkan lagi pandangannya. Sakura hanya menatapnya kosong.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku mengerti apa yg saat ini kau rasakan Sakura, pesta ini tidak begitu penting, kalau kau mau pergi aku tidak akan menghalangi. Semeriah apapun pesta, kalau hati mu tidak bisa menikmati nya, sama saja percuma."
Ino mencoba memberikan kata yg sedikit bijak pada Sakura.
Sakura menatap Ino tak percaya.
"Hey, hatiku tidak sesedih itu kau tau. Aku hanya seperti tidak ingin terlalu lama disini". Sakura mencoba menyangkal Ino.
Ino yang seperti sudah bisa menebak perasaan teman nya itu hanya memutar bola mata nya bosan. Ino tau jika perasaan Sakura terhadap laki laki itu hanya sebatas kekaguman belaka, karena jika kalian tau, Sakura adalah salah satu perempuan penggemar banyak laki-laki favorit kaum hawa. Suatu hal wajar untuk para gadis seusia mereka di jaman modern seperti ini.
Dan ya bisa kalian tebak, ini bukan pertama kali nya untuk Sakura, merasa badmood hanya karena salah satu laki-laki favorit nya sekarang sudah memiliki... Yaaaa mungkin kita sebut itu kekasih.
"Iya iya aku tau. Laki laki itu hanya kau kagumi dan kau seperti biasa merasa badmood dan tidak nyaman karena tau lelaki itu sekarang menggandeng wanita lain" Ino membuka kartu as Sakura.
Deengggg, tepat sasaran.
Sakura terkesiap mendengar pernyataan Ino.
"Oookeeeee, sepertinya memang aku harus pergi. Kalau tidak cenayang Ino akan membuka semua kartu as ku malam ini" Sakura menatap jahil Ino dan berpura-pura bersiap untuk pergi.
Ino hanya menatap nya lembut, dari tatapan nya tentu Ino tau banyak tentang kehidupan "perlelakian" Sakura. Gadis itu menjadikan kegiatan mengidolakan laki laki favorit banyak orang itu sebagai pelarian nya dari trauma yang Sakura miliki.
Kegagalan percintaan Sakura di masa lalu, membuatnya banyak berfikir untuk memulai kembali suatu hubungan percintaan. Ia menganggap bahwa mengagumi dari jauh lebih baik daripada harus sempat memiliki lalu berakhir begitu saja.
Terdengar klasik bukan ? Maksudku ayoolahh, itu hal yang normal. Ketika kau patah hati, beberapa gadis akan mencari pelarian seperti "fangirling way". Itu lah yang di lewati Sakura.
Ino memeluk gadis itu dengan lembut.
"Kau gadis yg baik Sakura, suatu saat kau akan memiliki cerita indah mu sendiri"
Ino melepaskan pelukan nya. Sekali lagi tersenyum pada Sakura.
Sakura membalas senyuman sahabatnya itu.
"Aku tau itu, terimakasih Ino"
Ino lalu memberi informasi pada Sakura tentang tempat yg ingin dia tuju.
"Kudengar gedung itu sangat indah, biaya masuk nya cukup mahal. Tapi sepertinya setimpal dengan pemandangan yg didapat. Dan ada rumor bahwa dulunya gedung itu adalah rumah para peri"
Ino mengangkat sebelah alis nya, merasa rumor itu konyol, mana ada peri di dunia nyata ini. Itu hanya sebatas imajinasi dan khayalan untuk pengantar tidur anak-anak. Dan Sakura tidak menampik bahwa waktu diri nya masih kecil pun, dia mempercayai makhluk mungil bersayap bernama peri itu ada. Namun seiring bertambahnya umur Sakura, hal itu hanya terdengar seperti dongeng belaka.
Sakura tersenyum miring menanggapi lelucon sahabat nya itu.
"Begitukah ? Apa kau berpikir akan ada peri yang jatuh cinta padaku ?" Sakura mencoba menggoda Ino.
Ino hanya tertawa mendengar pertanyaan Sakura. Bagaimana bisa teman nya itu bertanya hal yang tidak masuk akal.
"Bagaimana mungkin makhluk kecil bersayap bisa jatuh cinta pada mu Sakura ? Kau berat untuk di ajak terbang"
Sakura tertawa kecil mendengar lelucon teman nya itu.
"Sudahlah, cepat pergi. Dan pastikan kau tidak pulang terlalu malam atau orang tuamu akan meneror ku nanti"
Ino sedikit mendorong Sakura untuk pergi. Sakura yang mendengar itu hanya tertawa sambil melambaikan tangan nya pada Ino. Memberikan salam perpisahan sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Bye Ino, nikmati pesta mu"
Sakura melangkah pergi membawa gitar milik nya, meninggalkan Ino yang kembali menikmati pesta dan mengobrol dengan teman-teman nya yang lain. Ino memang sahabat terdekat Sakura, selama ini Ino yg sering bersama nya dan yang paling mengerti keadaan nya. Dan Sakura bersyukur untuk itu. Ino selalu memahami nya. Walaupun extrovert seperti Sakura memiliki banyak teman, tapi dia tau bahwa Ino memiliki tempatnya sendiri sebagai seorang sahabat dekat Sakura.
