silently loving

summary : Jun sudah lama menyukainya secara diam, namun- apa akhirnya semua akan baik baik saja? tidak ada yang tahu.

Fandom : Enstar/Ensemble Stars

Character : Sazanami Jun, Saegusa Ibara

Rated : M

Jun sudah lama merasakan hal itu. Perasaan yang mampu membuat siapapun tergoda dan hanyut dalam waktu yang tidak bisa diukirkan dengan kata kata. Ya, dia tahu mungkin menyimpan perasaan itu bisa saja jadi masalah bila orang lain menyadari nya. Agar semua terlepas dari masalah, lebih baik jun memutuskan untuk berdiam diri. Tidak memberitahu siapapun.

Dirinya merasa terheran, bagaimana bisa orang sepertinya memiliki perasaan itu, sama seperti orang orang diluar sana, bersama dan bahagia dengan orang lain. Jun tidak pernah begitu memahami bagaimana emosi dan perasaan manusia berjalan. Karena masalalu yang menyakitkan, membuat jun malas mempelajari semua itu. memutuskan untuk berjalan maju dengan keyakinannya sendiri.

TAPI

Hari itu tiba tiba mengubah semuanya, jun yang selalu berpikir bahwa didunia ini tidak ada kebahagiaan, tanpa alasan yang jelas berubah dan membuatnya mengerti. Ya, ia sedang menyukai seseorang, ia merasa sedikit bahagia. Sembari, menutupi dalam diam agar tidak menjadi masalah besar.

" Jun-kun-! Jun- kun..! "

" Ha- Hah? Ohii-san..? " panggilan hiyori membuatnya sedikit terkejut, mungkin alasan hiyori memanggilnya karena selama latihan, ketika hiyori berbicara banyak hal, jun tidak merespon sepatah kata pun. Ia merasa kesal, karena jun mencuekki nya.

" jun-kun! Cara mu yang tiba tiba mencuekki ku seperti itu, membuatku sedikit sedih! Jangan diam saja "

" haah... maaf, saja oke? Aku sedang memikirkan sesuatu, lebih baik lanjutkan saja latihan kita. tidak perlu buang buang waktu " tegas jun, yang tidak mau memperlama waktu, karena setelah ini jun ingin pergi ke gym.

Selesai gym, jun memutuskan kembali ke dorm karena ingin membersihkan dirinya. Tiba tiba, ia melihat sesuatu yang membuatnya sedikit aneh,.

Ibara ada disana sembari berbicara serius dengan beberapa orang, ada 2 wanita juga. Jun tidak mau berburuk sangka, karena ia tahu ibara adalah orang yang sibuk dan selalu mengurus banyak hal seorang diri. Sebagai vice president cospro, producer eden.. dan bisnis lainnya, berhubungan dengan orang asing adalah hal biasa.

Setelah jun menunggu beberapa menit, melirik sedikit, pandangannya terfokus ke suatu situasi. Salah satu dari wanita yang ikut berkumpul di sana tiba tiba mendekati ibara, dan menyentuhnya perlahan. Mereka juga terlihat mencuri pandangan, seakan akan itu hal lucu.

Jun juga percaya, ia tahu, ibara tidak menyukai hal seperti itu. dia juga tidak suka membahas perasaan dan menerima kasih sayang orang lain, ia yakin ibara akan melakukan sesuatu.

Namun tidak disangka-sangka, ibara tidak melakukan apapun, membiarkan nya begitu saja hingga beberapa menit.

Jun terdiam, dengan perasaan yang kacau. Ia berniat ingin menanyakan kepada ibara, tapi tidak enak juga karena mungkin saja ibara pasti tidak mau memusingkannya dan melepas pembicaraan begitu saja.

Menuju dorm, jun pergi memutar arah, agar tidak menganggu ibara.

Malam pun tiba, di dorm, kohaku baru saja pulang sehabis event dengan unit nya. Ia membawa beberapa makanan enak dan oleh oleh yang unik. Jun langsung menyuruh kohaku untuk mandi, sembari ia menyiapkan teh hangat, dan menepatkan makanan yang kohaku bawa di sebuah piring.

Selagi membuat teh, tiba tiba jun terbayang soal kejadian yang ia liat mengenai ibara. Ia sedikit kurang fokus, dan hampir menumpahkan teh nya. Untung saja gelas itu tidak pecah, melukai dirinya.

" apa sih yang sedang kupikirkan- sial, itu juga bukan urusan ku.. " gumam jun, mengusap kepalanya dan mencoba fokus.

Makanan yang dibawa kohaku ternyata lumayan banyak, jun merasa tidak mungkin menghabiskannya malam ini juga, kohaku pun memberi saran ke jun, untuk membagikannya ke beberapa orang jadi tidak harus dihabiskan sendiri.

Jun setuju dengan saran kohaku, ia bergegas membungkus makanan itu dan membawa ke beberapa tetangga. Tidak terasa, hingga tersisa 1 makanan yang dibawa, jun berpikir untuk memberi makanan itu ke ibara.

Walaupun, waktu menunjukan pukul setengah 1 malam, jun sudah hapal kalau ibara belum tentu kembali ke dorm. Karena urusan yang belum selesai.

Agar tidak terlihat kosong, jun membeli 2 kopi kaleng untuk menambah sedikit tenaga ibara. Dia juga tidak enak, kalau hanya membawa sedikit saja untuknya. Ibara sudah bekerja sangat keras.

Sesampainya di kantor cospro, jun lega karena sangat sepi disana. Mungkin karena para staff sudah kembali ke rumah, hingga sisa ibara sendiri di ruangannya.

Tok tok

jun mengetuk, ibara membalas dan pintu terbuka

" ibara- "

" wah wah, jun rupanya? Ada apa larut malam begini, datang? Sepertinya aku sudah mengingatkanmu untuk tidak tidur malam karena, besok eden ada- "

" iya ya, aku tahu. jangan meremehkan ku. Walaupun tidurku malam, aku masih bisa bangun pagi. " jawab jun kesal, sembari memberi makanan dan kopi untuk ibara.

" apa ini? makanan dan kopi? "

" terima saja- aku tidak akan lama lama, kau juga terlihat sibuk kan, sudah ya "

" oh? Terima kasih banyak, jun "

Jun terdiam. Awalnya ia berniat langsung keluar dari ruangan ibara. Namun setelah, melihat ekspresi ibara tadi, tiba tiba membuatnya kaget dan bertingkah aneh. Ibara tidak memikirkan apapun, karena ia langsung fokus ke komputer.

Selepas keluar ruangan, jun bersender di dinding dan membungkuk. Ia menahan suara detak jantungnya yang ingin meledak keluar, seperti amukan gunung. Dia juga tidak mengerti, kenapa merasakan hal seperti itu.

Ia mencoba berbagai cara agar kembali tenang, menarik napas, berputar, dan memukul wajahnya. Tetap saja, perasaan itu tetap sama.

" ap- apa-apaan ini,... kenapa- wajahnya manis sekali ". Kedua tangan jun, menutup wajahnya yang memerah. Ya. perasaan suka dalam diam milik jun, adalah kepada ibara. Jun menyukainya. Tapi berusaha tegar, karena tidak mau mengusik ibara.

" sial- kenapa harus begini... "

Keesokan harinya, eden baru saja selesai dari kegiatan fanmeet di suatu tempat. Anggota eden, beristirahat di tempat yang berbeda. Istilahnya jauh dari orang orang agar tidak menganggu privasi. Tentu saja ibara lah, yang mengurus hal ini.

Nagisa dan Hiyori, begitu dekat membicarakan banyak hal. Bahkan jun di sebelah hiyori, hanya bisa diam dengan baca buku yang baru saja ia beli. Jun melirik, ia menyadari ibara tidak ada disini. Selagi memikirkan ibara, jun reflek memukul kepalanya dengan buku.

Ia tidak tahu kenapa begitu khawatir pada ibara, dan itu membuatnya gila.

" Nagi-Senpai, Ohii-san, kurasa.. aku akan mencari ibara dulu- "

" ...mencari ibara? "

" hmm.. memang sih dari tadi dia tidak ada disini. Tapi jangan lama ya! aku bisa marah kalau jun-kun sama sekali tidak mengabari ku "

" aku akan memberi kabar. Permisi- "

Jun menelusuri lorong hotel, ia juga mencari dimana lift berada. Jun masih tidak begitu terbiasa dengan hotel bintang 5, walaupun sudah dijelaskan berkali kali, jun agak susah mengingatnya.

Selang beberapa menit, akhirnya jun menemukan lift. Tepat saat ia ingin memencet tombol, terdengar suara keras dari arah sebelah kiri dan itu berasal dari aula hotel, tempat khusus yang disediakan pihak hotel.

Jun mendekati asal suara itu, karena takut ada sesuatu yang terjadi. Dan benar saja, para staff, ibara, wanita yang jun lihat beberapa hari yang lalu, ada disana.

Tiang panggung dengan lampu sorot tiba tiba terjatuh karena kabel perekat yang sudah tua, beberapa paku dan alat keamanan terlepas tanpa sebab, semacam skrup dsb. Jun diam, menatap situasi disana. Wanita itu tidak terluka, ibara juga baik baik saja. tapi- dimata jun, ibara menyembunyikan sesuatu.

" Ibara! "

" jun- kenapa ada di- ". Jun menarik tangan ibara, keluar aula. Ibara yang tidak tahu alasan kenapa jun bersikap seperti itu, berusaha melepas genggaman jun yang keras.

" jun- lepas- kau- kubilang lepaskan tangan ku ". tegas ibara.

"..."

Jun menunduk diam. Dia masih tidak melepaskan tangan ibara.

Tanpa kata kata, jun menggerakan tangannya. Ia melihat 5 jarinya bergetar seakan akan takut dengan suatu hal. Jun heran, dengan hal itu. walaupun, jun pernah mencemaskan banyak hal, jun tidak pernah sampai gemetaran seperti itu.

Mungkin hanya sedikit gugup dan tangan yang dingin.

Ibara menatap punggung jun, dan iya, jun masih mengenggam tangan ibara. Ia juga tahu, kalau saat ini jun sedang gemetaran tanpa sebab.

" jun "

" maaf.. ". Jun melepaskan tangan ibara perlahan, ia tidak berani menatap ibara. Ia hanya menunduk dengan tangannya yang menyentuh rambut.

" segera pergi ke ruang kesehatan di hotel ini ibara- kau terlihat tidak baik. Dan juga, nagi-senpai, ohii-san...mencari mu... jangan lama lama...pergi- ...iba..ra "

"..."

Suara jun tiba tiba mengecil, dan meninggalkan ibara begitu saja. jun menutup wajahnya lagi dengan tangannya, seperti ingin menangis di dalam hatinya.

Saat jun membelakangi ibara. Ekspresinya hanya diam, ia tidak tahu apa maksud jun melakukan hal itu. ia menatap tangan nya yang baru saja habis jun genggam.

" ohii-san mau tidur sama nagi-senpai? Kok tiba tiba- "

" hump! Aku mau sekali sekali tidur sama nagisa-kun, jun-kun! kamu harus berbagi dan mengalah! "

" ohii-san- "

" sudah ya, pokoknya nanti ibara tidur disini, bye bye jun-kun~ "

Hiyori pergi dengan kedipan manisnya di depan jun. Dirinya hanya mematung dan bingung harus melakukan apa. Ia menyadari kalau ruangannya sedikit berantakan, jun langsung bergegas membersihkan ruangan agar ibara nyaman.

Selesai bersih bersih, suara ketukan pintu terdengar. Jun kaget, dan berusaha merapihkan pakaiannya, ia langsung merespon ibara mengizinkannya memasuki ruangan.

Ibara menyapa jun, seperti biasa. Jun mengira, ibara akan memikirkan hal tadi soal aula hotel. Tapi yasudahlah, jun akan bersikap sama seperti ibara. Ia juga tidak mau, ibara tahu, siapapun tahu, mengenai perasaannya.

" ibara, sepertinya lampu di tempat tidurmu agak redup. Apa mau bertukar denganku? "

" hm? Wah, jun memang baik.. apa tidak masalah? "

" hmm.. tidak masalah sih- toh juga yang biasa kerja malam malam itu cuman kamu kan, cepat tukar dengan ku "

" baiklah, aku tahu jun tidak akan tanggung jawab kalau minus ku nambah kan? "

" diamlah "

Jun menarik selimutnya, ia tidur membelakangi ibara. Tempat tidur yang sama sama merapat ke dinding kanan kiri, juga memberi efek bagus karena jun bisa menenangkan dirinya sendiri.

Walaupun terlihat santai, jun sedang menggila. Dalam dirinya jun berteriak menggema di organ tubuhnya. Dia sangat stress, karena ibara ada di sini, disini, DISINI BERSAMANYA.

Jun ingin sekali melihat wajah ibara yang tertidur pulas, namun itu mustahil karena orang yang selalu tidur terakhir hanyalah ibara. Jun tidak akan tahu kapan impiannya terwujud.

Karena tidak mau menunggu lama, jun memaksakan dirinya, untuk cepat terlelap. Agar hari esok segera tiba. Ia mau waktu ini cepat berlalu walaupun sangat senang. Rasa canggung menyelimutinya dan membuatnya sekarat.

Kedua mata jun terbuka perlahan. Tiba tiba, tubuhnya terasa berat dan ia sulit bergerak. Jun berpikir bahwa ia, mengalami sleep paralysis, tapi ia masih bisa membuka matanya. tiba tiba, saat menolehkan kepala jun sangat terkejut.

Ibara menduduki tubuhnya, sembari menarik kerah baju jun, ekspresinya yang dingin tanpa maksud, menatap jun dengan serius.

" halo, jun. Selamat pagi. Nyenyak tidurnya? "

" hah..? ah- tu- tunggu.. apa? Ke..kenapa- "

" aku bilang selamat pagi. "

" pa..pagi? "

Ibara masih menatapnya, jun mulai tidak kuat menahan situasi ini. ia ingin kabur tapi tidak bisa bergerak. Jun mulai memerah, ia menutup wajahnya dengan tangan kiri, namun ibara menahan tangan jun.

" Ibara!? "

" jun "

"...apa?! kau itu kenapa- "

" kamu melihatku saat berbicara dengan para eksekutif cospro kan? "

" hah? "

Bagaimana ibara bisa tahu? padahal, aku berusaha agar tidak ada yang menyadari kehadiran ku, kenapa? Pikir jun. Benar. Jun sudah menggila. Ia hampir ingin memberontak, ia tidak mau ibara tahu perasaan jun sebenarnya.

Ia tidak mau mengusik ibara, hidup ibara.

Tapi sialnya, jun lupa kalau ibara adalah orang yang pintar...

" jun, apa yang kau inginkan dari ku "

" apanya? "

wajah ibara mendekat, mendekat perlahan ke arah jun, mungkin karena ibara juga menarik kerah jun

"...ugh- "

" sikap mu aneh, kau jadi sedikit baik padaku, dan peduli padaku. Saat kejadian aula juga, kau menarikku karena tau aku terluka kan? "

" jadi kau benar benar terlu- "

" jangan ikut campur. "

Ibara menatap dingin ke arah jun. Memberinya peringatan kecil, untuk tidak melakukan apapun kepadanya. Ibara adalah orang yang penting. Kalau jun, melakukan banyak hal untuknya bisa bisa mempengaruhi banyak urusan.

Ibara adalah producer eden, jun adalah anggota eden.

Tidak bisa melakukan banyak.

Jun terdiam. Ibara turun dan memakai seragamnya. Ia pergi tanpa mengatakan apapun ke jun.

"...sialan "

3 minggu kemudian...

Jun terdiam menikmati kopi hangatnya, saat itu kota sedang di selimuti hujan deras. jun menatap jendela dorm, menghiraukan panggilan kohaku. Hingga akhinya, kohaku menepuk keras pundaknya.

" sa..sakura-kun!? "

" jun-han, kau sama sekali tidak meresponku... apa kau sudah bersihkan telingamu? "

" ...ah- tentu saja sudah... aku selalu memeriksa kebersihanku "

" kalau begitu respon, panggilanku "

" maaf.. ". Jun kembali berekspresi sedih, bukan sedih, seperti memikirkan banyak hal. Kohaku ingat jun pernah seperti ini, saat ia bermimpi buruk saat itu. dan akhirnya, kohaku menyarankan jun untuk bercerita, mungkin saja bisa melepas kecemasan jun.

Tiba tiba jun menunduk, dan membungkuk dengan tangannya di meja. Ia tidak mau kohaku melihat wajahnya menahan malu karena perasaan diam diamnya itu.

" aku- menyukai seseorang...tapi- aku tidak mau orang itu tahu perasaan ku, karena aku tidak mau mengusik nya. Aku- aku kira jika aku diam saja dia tidak akan marah- tapi ternyata... aku salah. dia...dia sama sekali tidak senang dengan apapun "

" jun-han. Bukankah itu bodoh? "

" hah? ". Jun mengangkat kepalanya, heran dengan jawaban kohaku.

" kalau jun-han suka dengan seseorang, tapi tidak mau orang itu tahu, bagaimana jalan ceritanya, hah!? Orang yang jatuh cinta, seharusnya senang kalau dia tahu perasaannya.. kenapa menghindar? Lagi juga, jun-han pasti sudah mengenalnya kan? Jun-han tahu dia seperti apa, pasti tahu bagaimana caranya membuatnya nyaman? Iya kan?! "

"...! " jun terkejut dengan perkataan kohaku. Semua itu ada benar nya juga. Niat jun peduli dan baik pada ibara bukan hanya karena suka.. jun ingin lebih mengenalnya, dan membuatnya nyaman.

Ibara pasti stress dengan situasi sekarang. Ia marah karena,merasa jun akan mencampuri urusannya dan terlibat banyak hal,. Jun tahu bagaimana cara membuat ibara merasa aman dan nyaman.. jadi, apa lagi yang harus jun tutupi?

" tapi- dia sedang membenci ku sekarang... tidak.. aku tidak tahu "

" buatlah semua itu terwujud jun-han. Kapan lagi, bisa jatuh cinta kan? "

"..."

Jun tersenyum, dan berterima kasih kepada kohaku.

Jun keluar dorm karena ingin membeli sesuatu di luar ES. Kebetulan hujan sudah reda, ia ingin mencari beberapa barang.

Di tengah jalan, jun mendengar suara wanita. Ia sepertinya hapal dengan suara itu, dan ternyata benar. Dia adalah wanita yang sepertinya menganggu ibara sejak 5 minggu yang lalu. Jun heran, kenapa wanita itu masih saja ada di samping ibara.

Dan lebih terkejutnya jun, ia baru saja melihat wanita itu menampar ibara, hingga kacamatanya terjatuh. Jun ingin segera menghentikan perbuatan wanita itu- tapi, ingat kata kata ibara soal jun tidak harus ikut campur..jun meragukan pilihannya.

Namun, ia juga teringat perkataan kohaku. Disitulah, jun langsung bergerak dan menghentikan kemarahan wanita itu.

Jun melempar payung dan menahan tangan wanita yang ingin memukul ibara lagi.

" kau- "

" jangan seenaknya.. melakukan itu, pada ibara " keluh jun, menahan tangan setelah itu melepaskannya. Karena jun tidak mau mencari masalah, jun menarik tangan ibara dan mengambil payungnya, meninggalkan wanita itu.

" tunggu- hheei! " teriaknya.

Zrassh zrashh zrasshhhh

Langkahan suara air. saat jun dan ibara terhenti setelah merasa aman dari urusan wanita itu. jun sedikit kelelahan, dan membungkuk. Ia juga tidak sadar, kalau membawa ibara.

" jun "

" uwah?! I- ibara...?! "

" jun- kenapa kau melakukan itu?! bagaimana jika dia melaporkan hal aneh mengenai dirimu dan- "

Jun menyentuh wajah ibara yang memerah karena wanita itu. saat mengusap perlahan, ibara sedikit kesakitan dan menangkis tangan jun agar tidak menyentuhnya lagi. jun tertawa, meminta maaf.

" tidak biasanya, kau terkena tamparan oleh wanita seperti itu..."

" dia eksekutif cospro. Mana mungkin, aku melawannya. Bisa bisa urusan semakin panjang, aku benci meladeninya. Ga guna ". Saat ibara melihat kacamatanya, ternyata sedikit retak namun, ia tetap menggunakannya.

" hahaha.. kacamata mu rusak ya? nambah ga kira kira minus nya "

" berisik, jun. Diamlah- "

Jun menarik pelan tangan ibara, menyuruhnya ikut ke supermarket sekalian membeli obat-obatan. Ibara, tidak mengelak.

Selesai membeli, jun memberi sedikit obat untuk wajah ibara. Awalnya ibara menolaknya, tapi jun tetap menyuruhnya untuk diam agar tidak terlalu sakit. Ibara menatap arah lain. Wajah jun dekat sekali dengannya,.

sepertinya kali ini ibara tidak manatap jun sama sekali, hanya menghindar hingga tidak tahu kalau jun sudah selesai mengobati.

" oh sudah selesai- aku tidak akan memaksa mu lagi ibara. Aku...melakukan semua itu karena khawatir- aku.. sama sekali tidak berniat untuk ikut campur- aku benar benar minta maaf.. mungkin ini terkesan konyol, tapi ya aku jujur. Aku melihatmu dengan eksekutif cospro.. aku melihat wanita itu mengusikmu...jadi- aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik baik saja "

" jun- "

" aku tahu- kau tidak butuh semua itu. aku... hanya memastikan keadaanmu. Aku tidak bisa melakukan apapun... jadi- setidaknya terima saja sedikit kebaikanku. Kau tidak menerimaku tidak apa, kau tidak membutuhkanku tidak masalah. tapi- jangan membenci ku. Aku percaya padamu.. maaf sudah menganggu mu, ibara. Sampai jumpa "

" Jun..! "

Jun terhenti, menoleh perlahan ke suara ibara, menatapnya. namun, jun hanya tersenyum dan tetap meninggalkan ibara di sana.

"...sialan- ". ucap ibara, menutup wajahnya.

Malam menunjukkan pukul 12. Jun, menunggu kohaku namun baru saja ia dikabari kalau kohaku tidak pulang karena ada urusan mendadak. Jadi jun mulai bersiap siap untuk tidur. Namun-

Tok tok

Jun awalnya memang berniat tidur, namun betapa terkejutnya saat ia membuka pintu perlahan...

" ibara- "

Tiba tiba, ibara mendorong jun sembari menutup pintu dorm. Karena tiba tiba, jun belum bisa mengontrol tubuhnya untuk menahan tenaga ibara. Jun tambah terkejut, ibara tidak mengatakan apapun, hanya mendorong hingga jun terduduk di sofa dan ibara menahan pundaknya.

" ibara? "

" aku mencoba melukai wanita itu "

" ha- "

" dia tidak hanya mengusik urusan ku dengan eden dan cospro- dia selalu mencoba mendekati kakka (nagisa). Dia ingin menghancurkan sistem yang sudah kubuat sendiri, tapi saat itu gagal- aku, belum bisa melakukannya. Karna itu- aku meminta denka (hiyori) tidur bersama kakka...aku tidak mau ada sesuatu terjadi- karena sialan itu "

"...ibara "

" jun, apa kau menyukai ku? "

"...? " Jun diam. Dia tidak bisa merespon ibara dengan cepat, karena masih tidak bisa memahami maksud ibara. Intinya, ibara sendiri lah yang merekayasa kejadian di aula karena ingin melukai wanita itu. lalu- meminta hiyori untuk selalu bersama nagisa sepanjang hari. melindungi dan mengawasinya.

" Ibara, sebenarnya-". Wajah ibara mendekat, ia menyenderkan tubuh jun ke sofa,jun tidak sempat melanjutkan perkataannya, terpotong karena ibara mendekati wajahnya. Mereka saling bertatap.

Jun perlahan menyentuh wajah ibara. Dan anehnya, ibara tidak terganggu dengan hal itu. jun mengenal ibara, sebagai orang yang tidak suka dengan sentuhan fisik dan perasaan orang lain. Tapi, kali ini... seakan akan, ibara memberinya kesempatan untuk lebih mengenalnya lagi. dan itu, membuat jun senang.

Jantung jun semakin berdetak kencang, ia tidak bisa mengekspresi kan apa yang ia rasakan. Hanya kelegaan karena ibara mengatakan hal sebenarnya kepadanya. Selama ini ia selalu khawatir, sesuatu terjadi padanya. Jun masih mengira, ini adalah mimpi tapi ternyata...tidak sama sekali.

Napas jun terbata bata, karena detak jantungnya yang tidak stabil. Ibara terdiam menatapnya, menyentuh rambut jun. Jun tiba tiba menunduk, berusaha menutup wajahnya karena tidak sanggup menahan ekspresinya yang memerah karena malu. Tapi ibara, menahan tangan jun, mendekat, dan menyentuh bibir jun.

Jun terkejut, dia hampir ingin menghindar karena tidak sanggup menahan perasaannya. Tapi ibara, memindahkan tangan jun, membuatnya berada di posisi yang nyaman dan jun tidak bisa melakukan apapun. Bagaimana bisa? Jun sama sekali tidak pernah mencium seseorang dalam hidupnya. Ia tidak tahu ibara handal melakukan ini, jun tidak tahu harus apa, hanya bisa membuka mulut dan membiarkan ibara yang melakukannya.

Membiarkan ibara melakukan sesukanya. Jun tidak mau ibara menahannya, ia menggerakkan tubuh ibara ke sofa dan membiarkan ibara berada di posisi itu. jun tidak percaya kebahagiaan ataupun perasaan orang lain, namun kini ia merasakannya. Ia ingin menangis bahagia, mengingat kenangan kecilnya dulu yang sama sekali tidak memberinya cinta.

Air mata jun perlahan menetes mengenai wajah ibara. Jun ingin menyeka, tapi jari ibara sudah mengusap air mata itu terlebih dahulu.

" ibara... aku menyukai mu...aku menyukai mu... aku.. aku menyukai mu selama ini- aku diam saja... diam saja karena- aku tidak mau mengusikmu.. aku.. aku tidak mau membuatmu tidak nyaman. Aku.. aku... aku suka padamu... iba..ra.. "

" tidak apa, aku tahu. terima kasih, jun "

"...ibara "

" ada apa? "

" apa aku boleh menyentuh rambutmu? "

" silahkan "

" apa...aku bisa mengenggam tanganmu...? "

" tentu saja.. berapa kali pun..."

" ibara... "

" ..lakukan sesukamu, jun ". Ibara mencium jun, kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Jun semakin memerah, ia heran kenapa ibara terlihat biasa saja melakukan hal ini? jika di bandingkan saja, jun masih menganggap kalau ibara jauh lebih hebat darinya. Jun menghargai nya, menganggapnya sebagai orang yang jenius, atau mungkin lebih?

Jun mengenggam tangan ibara, dan rasanya hangat.

Tangan ibara merespon genggaman jun, tangan satunya perlahan mengusap kepala jun, membawanya mendekati wajah ibara. Pindahan lembut dari posisi bibir ibara, membuat jun menerima rasanya perasaan yang selama ini tidak ia percayai. Jun membuka mulutnya, ia hampir mencoba tapi tidak bisa bertahan lama. Ia merasakan lidah ibara yang berpindah-bergerak, di mulutnya.

Sudah hampir tidak sadarkan diri, dan napas yang terbata-bata, jun menggerakan lengan untuk mendorong ibara, tapi ibara menggerakan tangannya ke belakang jun, hingga jun tidak mampu bertahan.

Ibara merasa puas dengan dirinya sendiri, jun terbaring di sofa dan merasa tidak sadarkan diri, karena napasnya yang berat. Ia masih heran, kenapa ibara bertahan dan tidak bereaksi apa apa

" hah... kau memang hebat, ibara "

" aku bisa mengajarimu, jika jun mau "

" tidak, itu hanya membuatku semakin stress. "

" ...jadi... kapan kita pergi? "

"...pergi? terserah ibara saja... aku ikut kemana pun "

"..."

Ibara tersenyum lembut, memainkan rambut jun.

"...kalau begitu.. bagaimana, jika kita pergi mengambil kacamata? "

" oh...boleh. oh ya kubaru sadar, sepertinya kau tidak memakai kacamata ya "

" ya, mana mungkin aku memakainya, jadi ga enak dilihat juga, kan.. "

"...hahaha.. iya juga ya "

Malam itu dihabiskan dengan obrolan yang random. Tapi, bagi mereka itu adalah waktu yang menenangkan. Mereka, tidak masalah dengan hal itu...