I will still use some of the original text (mostly on dialog) because there are several sentences if translated will be strange and even cringe. Thank you Bex-chan for allowing this story to be translated. Because there are so many Dramione fans in Indonesia who need fresh stories, but maybe some of them don't have the ability to read English.
Buat kalian yang pengen baca cerita aslinya dan karya-karya lain dari Bex-chan, bisa langsung mampir ke akun FanFiction beliau.
A whole concept, plot, and original story by Bex-chan. All characters belongs to J.K. Rowling. But this translate belongs to me.
Selamat membaca~
2 Agustus 2003.
Beberapa tahun setelah pertempuran Hogwarts, dua bulan setelah Voldemort terbunuh oleh Neville Longbottom, dan satu bulan setelah Hermione Granger ditemukan di ruang bawah tanah Lestrange Manor; sekarat dan hilang ingatan tentang kehidupannya selama empat tahun ke belakang.
Draco mengatupkan giginya saat dia mengamati kekacauan peta di hadapannya, mencondongkan tubuh ke depan dan mengulurkan pena bulunya untuk menandai dengan kasar area Derbyshire. Ia mengangkat kepalanya ketika mendengar desir gerakan dan mengangguk pelan pada Blaise yang baru saja memasuki tenda, sedikit cemas jika tangannya terlihat gelisah. Draco tetap diam, membuat rekannya dengan enggan mendekat, melirik tumpukan peta yang menurutnya berbentuk bunga-bunga.
"Terlihat bagus," kata Blaise, berdehem sejenak sebelum melanjutkan. "Biar kutebak, ini semua adalah kota yang telah kita ambil alih? "
Draco mengangguk. "Aku baru saja menerima kabar dari Finnigan. Mereka telah menangkap semua Pelahap Maut yang bersembunyi di dekat Derby dan Nottingham, mereka mendirikan perkemahan di sana untuk mencoba memulihkan diri. Jika keadaan terus seperti ini, kita bisa pindah ke kota-kota dan keluar dari kamp berdarah ini dalam waktu sekitar enam bulan. Finnigan melaporkan bahwa mereka juga menemukan beberapa tahanan; tujuh mati, tapi dua puluh dua hidup."
"Itu lebih baik dari yang kau harapkan."
"Menurutku yang terbaik adalah tetap bersikap pesimis. Paling tidak dampaknya akan lebih sedikit ketika hasilnya tidak sesuai harapan kita."
Blaise menyeringai kecil. "Terdengar agak puitis."
"Bukan maksud yang sebenarnya," balasnya retoris, melayangkan tatapan bertanya pada rekannya. "Apa yang kau lakukan di sini, Blaise?"
"Tidak bolehkan seorang teman mampir dan melihat bagaimana keadaan temannya yang bekerja dengan baik untuk menyelamatkan Inggris Raya?"
"Aku akan percaya jika itu bukan dirimu."
"Oke tampaknya aku semakin mudah ditebak," Blaise mengangkat bahu, bersandar di bangku yang goyah dan hampir tidak bisa menahan berat badannya. "Baiklah, aku datang untuk menanyakan mengapa kau belum berbicara dengan Granger."
Punggung Draco menegang dan tinjunya mengepal ketat. Kukunya menusuk kulit telapak tangan, dan darah menetes di sela-selanya. "Blaise, jangan—
"Tidak, aku akan tetap melakukannya, Draco. Sudah sebulan sejak dia kembali, dan tiga minggu sejak dia sadarkan diri. Kau perlu menghadapi ini—
"Aku tidak perlu melakukan apapun!" Draco berteriak. "And screw you, Blaise, karena mencoba memberitahu apa yang harus kulakukan!"
Blaise bergeming. "Jawab pertanyaanku."
"Fuck off—
"Damn it, Draco, kau berantakan!" balasnya dengan berani. "Kau hampir tidak tidur, kau hampir tidak makan! Berapa lama kau berniat menyiksa dirimu sendiri seperti ini?"
"Kau ingin berbicara tentang penyiksaan? Bagaimana dengan yang dilakukan para bajingan itu padanya? Bagaimana dengan neraka yang dia alami, dan kau berharap aku mengacaukan kepalanya lebih banyak dari ini."
"Cepat atau lambat dia akan mengetahuinya, Draco!" Blaise menekankan. "Kalian berdua mungkin berhasil menjaga hubungan rahasia kalian dari mayoritas penghuni kamp, tapi aku tahu, Longbottom tahu, Weaslette tahu, shit, bahkan Lovegood juga mengetahuinya! Apa kau benar-benar berpikir salah satu dari mereka tidak ada yang tanpa sengaja mengatakan sesuatu padanya?"
"Tidak, karena mereka setuju denganku! Mereka tahu dia punya kesempatan lebih baik tanpa aku! "
"Apa yang kau bicarakan?"
"Menurutmu mengapa Bellatrix dan Lucius akan menyiksanya begitu parah jika mereka tidak menggeledah pikiran Granger dan melihatnya bersamaku?" ia berteriak, dan dia gemetar sekarang. Gemetar hebat. "Kau pikir mereka akan membuatnya melihat kedua sahabatnya terbunuh di depannya, atau meng-Crucio hingga jiwanya mengerut, dan kemudian menghapus ingatannya tentang kami, jika bukan karena aku?"
"Kau tidak tahu apa yang mereka lakukan—
"Mereka akan membunuhnya atau membuatnya tetap hidup, sebagai alat tawar-menawar dan memeras," gerutunya, menguatkan tangannya ke meja untuk mencoba dan menenangkan dirinya sendiri. "Mereka mencabik-cabiknya dan kemudian menghapusku dari ingatannya untuk mengirimiku sebuah pesan. Untuk mengacaukan hidupku. Untuk menghancurkan..." suaranya menghilang.
Blaise mengangguk paham. "To break your heart," menyelesaikan kalimatnya.
Draco menunduk. "Dia lebih baik tanpa diriku."
"Tidakkah menurutmu keputusan itu ada padanya?"
"Tidak," dia menggelengkan kepalanya. "Dan itu tidak relevan. Ketika dia menatapku sekarang, itu seperti... seperti kembali ke masa Hogwarts. Tatapan tidak percaya itu berada di antara kebencian dan kekecewaan, dan aku tidak tahan."
Blaise menjilat bibirnya dengan pertimbangan. "Mungkin jika kau berbagi kenangan dengannya—
"Dia lebih baik tanpaku!" ia mengulangi. "Fucking hell, apa kau tuli? Kita akhirnya memenangkan perang, dan kita bisa mulai membangun kehidupan untuk diri kita sendiri! Awal yang baru dengan semua omong kosong itu, dan dia harus melakukannya tanpaku! Itu yang terbaik untuknya!"
"Demi Merlin, kau bisa jadi sangat bodoh!" teriak Blaise, sambil bangkit. "Dia bahagia denganmu! Kau bahagia dengannya! Siapa dirimu dengan seenaknya memutuskan bahwa awal yang baru tidak semestinya denganmu?"
"I AM NO ONE!" ia berteriak. "Kau masih tidak mengerti? Itulah masalahnya! Dia tidak tahu aku selain diriku saat di Hogwarts! I am nothing to her!"
"Draco," Blaise mendesah. "Jika kau mencoba—
"Blaise," ia memotong dengan letih. "Aku tidak mengira mengapa awalnya dia bisa jatuh cinta padaku. Bagaimana aku bahkan berharap dia akan mencintaiku untuk kedua kalinya?"
"Mungkin jika kau—
"Pergilah," desis Draco, matanya menatap tajam. "Aku serius sekarang, Zabini. Leave me the fuck alone."
Blaise membuka mulutnya tapi menutupnya lagi sebelum sepatah kata meluncur dari bibirnya, menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya saat ia berjalan meninggalkan tenda, namun ia terlihat ragu-ragu sebelum keluar. "Ingatannya mungkin tidak benar-benar hilang. Kita tahu Bellatrix tidak hebat dalam Memory Spells. Ingat saat kita menyelamatkan Clearwater, dan dia mendapatkan kembali ingatannya-
"Aku peringatkan kau, Blaise."
"Lovegood mengatakan tadi malam dia bergumam dalam tidurnya," lanjutnya. "Dia menyebut namamu."
Kepala Draco berputar dan matanya melebar, tapi dia menahan dirinya dengan cepat. "Itu tidak berarti apa-apa. Bisa saja ingatan dari Hogwarts-
"Itulah yang kupikirkan, tapi Lovegood memberitahuku bahwa dia mengatakan 'Draco', bukan 'Malfoy'. Dia baru memanggilmu dengan nama depan setelah dia mulai mempercayaimu, benar kan?"
Draco terdiam sesaat, otaknya beberapa kali mencoba memahami maknanya. "Mengapa kau tidak—
"Itu sebabnya aku datang ke sini," kata Blaise. "Aku hanya... menunggu saat yang tepat."
Mulut Draco sedikit ternganga saat Blaise menyelinap keluar dari tendanya, dan ketika dia akhirnya sendirian, dia membiarkan emosinya mengambil kendali. Dengan raungan amarah, dia membalik meja, lalu kursi, dan kemudian meraih apa pun yang dia bisa ia raih dan menghancurkannya ke lantai, buku, ornamen, apapun. Ketika ia merasa ruangan sudah hancur seperti dirinya, ia berhenti, dan menjatuhkan diri, terengah-engah dan mengabaikan sengatan keringat di matanya. Menutup kelopak matanya, ia mengingat kembali ke hari itu; hari ketika pertama kali dia memanggil namanya.
Dia memutar pena Muggle di antara jarinya dan menyenandungkan lagu yang tidak aku ketahui, tapi aku tahu akan terasa sangat menjengkelkan. Aku duduk di seberangnya, mengawasinya dengan cermat dan memaksa diriku untuk tetap bersabar saat dia membaca dan membaca ulang dokumen yang baru saja aku serahkan.
"Ini mengesankan," katanya pada akhirnya, "Sangat mengesankan, sebenarnya."
"Granger, aku hampir putus asa menunggu persetujuanmu. Kau ingin aku melakukan strategi ini dalam pertempuran, atau tidak?"
Dia mendecakkan lidahnya. "Kau tahu, saat pertama kali muncul di sini tahun lalu, aku pikir kau adalah penyusup—
Aku mendengus. "Aku mengumpulkan itu—
"Dan bahkan ketika kau lulus semua tes dengan Veritaserum dan membuat Unbreakable Vow dengan Harry, aku masih tidak percaya kau membelot."
Aku memutar bola mataku. "Apakah aku terlihat bodoh di matamu, Granger? Aku tahu—
"Dan bahkan saat kau menyelamatkan hidup Luna dan George, aku bertanya-tanya apakah itu semua hanya akting," dia melanjutkan, sedikit mengernyit. "Tapi... kau telah membuktikan bahwa aku salah."
"Well, pada akhirnya seseorang harus melakukannya, Granger," aku menyeringai. "Seseorang mungkin harus mencatat momen ini di buku sejarah."
Fokusku teralihkan saat melihat ia tertawa, serta cara rambutnya memantul di sekeliling bahunya mampu menahan perhatianku lebih lama dari yang aku kira.
"Kau bisa menerapkan ini," katanya sambil menyerahkan kembali dokumenku. "Dan jika kau memiliki ide lain, kau tidak perlu menunggu persetujuanku untuk memeriksanya kembali."
Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Bisa dibilang..." dia tergagap, dan aku berpikir dia mungkin sedikit tersipu. "Bisa dibilang bahwa aku mempercayaimu."
Kedua alisku terangkat. "Kau habis minum?"
Dia memutar bola matanya. "Honestly, tidak bisakah kau hanya menerima kata-kataku tanpa membuat komentar sarkastik?"
"I was being completely serious—
"And so was I," katanya. "Dan aku... aku minta maaf atas sikapku yang terkadang tidak masuk akal sejak kau datang ke sini."
Aku berpikir membalas dengan komentar sinis lagi, tapi ketulusannya agak menjengkelkan, membuatku bergeser tidak nyaman. "Noted," gumamku. "Dan aku... maaf karena memberimu alasan untuk ragu pada kesetiaanku di masa lalu. Terutama karena beberapa insiden yang terjadi saat kita di Hogwarts."
Matanya melotot karena terkejut. "Kau bersungguh-sungguh?"
Aku mengangguk kaku, "Begitulah.
"Terima kasih," dia tersenyum, dan untuk pertama kalinya dia tersenyum padaku. Aku berpikir itu sangat cocok untuknya.
"Terima kasih... Draco."
5 Agustus 2003
Hermione hampir tidak bergerak saat Luna menarik perban yang membalut pergelangan tangannya, membukanya perlahan dan memperlihatkan kulit yang sembuh sempurna.
"There we go," kata Luna riang. "Perban terakhirmu dan kau dinyatakan sembuh total."
"Aku tidak merasa sembuh," gumamnya. "Aku merasa seperti... orang asing bagi kalian semua."
"Semuanya akan kembali padamu, Hermione—
"Akankah?" dia menggigit bibirnya dengan getir. "Aku merasa semua orang membicarakanku di belakang. Sepertinya semua orang mengetahui sesuatu yang penting namun mereka tidak memberitahuku dan hanya menatapku tepat di wajah."
Senyuman Luna menghilang. "Aku pikir itu terasa normal bagi orang yang pernah mengalami hilang ingatan—
"Normal?" ulangnya. "Tidak ada yang normal di sini. Aku seperti tersesat di alam semesta lain. Maksudku, siapa yang dengan gila memilih seorang Malfoy untuk memimpin Orde?"
"Kau. Setelah Harry dan Ron ditangkap, kau memutuskan bahwa lebih baik Malfoy mengambil kendali—
"Aku tidak akan pernah—
"Yes you did, Hermione." Luna membantah. "Kau khawatir bahwa keputusasaanmu untuk menyelamatkan mereka akan membuatmu terlalu sembrono sebagai pemimpin, dan kau menempatkan Malfoy sebagai penanggung jawab."
Hermione merengut dan mengernyitkan hidung karena jijik. "Dia tidak mungkin berubah."
"Oh, he has. Lebih dari yang bisa kau bayangkan pada tahap ini." dia berhenti dan tersenyum lagi. "Tapi kau akan melihatnya."
"I miss the boys," ujar Hermione sedih. "Aku... tidak bisa menggambaran apa yang ada di kepalaku, aku sangat merindukan mereka, dan itu seperti sebuah lubang di dadaku tapi... seperti ada lubang lain. Sesuatu yang aku rindukan tapi aku tidak tahu apa itu. Apa kau tahu sesuatu?"
"Mungkin istirahat bisa membantu," kata Luna sambil berpikir, "Mengapa kau tidak tidur? Ini sudah larut malam."
"Aku tidak ingin tidur, aku ingin mengingat segalanya. Aku ingin orang-orang menunjukkan kenangan mereka kepadaku, jadi aku bisa mengerti—
"Selangkah demi selangkah, Hermione."
Draco mengintip dari celah tendanya, matanya mencapai tenda Hermione di sisi lain yang bersebrangan. Ia melihat Luna pergi sedari dua puluh menit yang lalu, dan masih berdebat apakah menemui Hermione adalah ide yang bijaksana. Akhirnya ia menyerah pada keinginannya, melihat ke sekeliling kamp untuk memastikan tidak ada orang di sekitar sebelum ia pergi menuju tenda Hermione dengan langkah hati-hati.
Draco dengan cepat merunduk ke dalam tenda dan mengarahkan pandangannya, memastikan Hermione tertidur sebelum ia berani mengambil langkah untuk mendekat. Hatinya berdebar-debar; pertama kali sejak tiga bulan lalu ia akhirnya memiliki kesempatan untuk melihat sendiri keadaan Hermione tanpa perban yang melingkari tubuhnya. Dia tampak seperti terakhir kali Draco melihatnya, sebelum Rudolfus menangkapnya dalam penyergapan satu bulan sebelum Voldemort dikalahkan. Rambutnya masih berantakan dan tidak terawat, kulitnya masih kecoklatan dan halus, dan bibirnya masih menekuk seperti busur cupid yang menawan, yang sudah ia kecup berkali-kali.
Draco akan memberikan apa saja untuk melihat matanya; untuk memastikan mereka masih bersinar seperti madu dan kaya akan hazelnuts, tetapi membangunkannya sekarang akan merusak momen damai ini, dan ia tidak ingin Hermione merasa terancam dengan kehadirannya.
Pada hari-hari setelah Hermione diselamatkan dari ruang bawah tanah Lestrange, Draco mendambakan momen berdua dengan Hermione. Namun ia bertahan, dan meyakinkan diri bahwa hal itu hanya akan membuatnya semakin lebih sulit untuk menjauh. Hermione turut berkontribusi, menolak untuk ditinggalkan berdua dengannya dalam situasi apapun, dan selalu melihat dengan tatapan dingin miliknya, seperti selama masa remaja mereka di Hogwarts, yang hampir terlupakan dalam tiga tahun terakhir.
Tapi... teringat akan kata-kata Blaise, yang telah menceramahinya selama beberapa hari terakhir, Draco harus datang melihatnya sendiri... hanya untuk memeriksa.
Ia berdiri di samping tempat tidur dan mengulurkan lengannya, merentangkan jarinya. Tangannya melayang di atas wajah Hermione, tidak menyentuh tetapi cukup dekat hingga ia bisa merasakan hembusan napas di telapak tangannya. Wajahnya berkerut karena cemas, ujung jarinya mulai pegal, ingin sekali menyentuh Hermione.
"Sebut namaku," bisiknya. "Ayolah, Hermione, panggil namaku."
Hermione bergerak sedikit di tempat tidur membuat Draco menyentak kembali tangannya, meraih tongkatnya kalau-kalau ia harus segera keluar dengan Mantra Penghilang Ilusi, tapi Hermione hanya memiringkan kepalanya sedikit dan menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, seperti dia sedang mengendus udara.
"Hmmmm," dia mendesah dalam tidurnya. Lalu, "Draco..."
Gelombang perasaan lega yang menyapu dirinya hampir terasa menyakitkan, Draco menelan ludah ke gumpalan saraf terdalam di tenggorokannya. Namun lagi, ia menahan diri. Selalu pesimis. Menghirup napas untuk menenangkan diri. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa hal itu bisa terjadi di dalam alam bawah sadar.
Tapi setidaknya... ada harapan. Ia membiarkan dirinya terhanyut oleh pikirannya, kembali pada terakhir kali Hermione mendesahkan namanya seperti itu.
Aku mendorongnya dengan kasar ke meja, membuat alat tulis dan buku bergemerincing di lantai. Mengangkatnya untuk duduk di atas meja dan dengan cepat memposisikan diriku di antara pahanya, tanganku mencengkram pinggang bawahnya dan semakin menekan tubuhnya ke arahku sambil menyikut pena bulu dan pot tinta hingga jatuh dengan suara keras.
"Shhh," Hermione mengomel sambil terkekeh. "Kau akan membangunkan seseorang."
"Aku tidak peduli," gumamku di sela lehernya, menggosok bibirku ke tulang selangkanya. "Kau sengaja menunda pertemuan itu, kau penyihir licik. Beraninya kau menggodaku."
"Aku tidak melakukannya," protesnya, mondongakkan kepalanya ke belakang saat aku mulai menyingkirkan kancing kardigannya. "Lucu sekali jika kau berpikir aku tahu caranya menggoda."
"Omong kosong," geramku, merobek kardigannya, disusul atasan dan bra yang kulepas dengan satu tarikan. "Aku mengenalmu, Granger."
Hermione menyeringai padaku dan menarik lepas kaos milikku, kemudian mendaratkan ciuman perlahan di sekitar jakun yang menjadi titik sensitifku. Aku menggigil saat dia menggigitnya dengan lembut dan meraba-raba jarinya di perutku. Aku kembali mencium lehernya lalu menundukkan kepala untuk melumat salah satu putingnya, dan punggungnya melengkung saat merasakan kehangatan mulutku.
Jari-jariku meraba kancing di celana jeansnya, dan dia bisa merasakan ereksiku menekan lututnya saat dia mengangkat dirinya sendiri untuk memudahkanku melepas jeans dan pakaian dalamnya.
Seperti yang selalu aku lakukan, aku mundur untuk mempelajarinya sesaat, dan dia tersipu saat mataku menjelajahi tubuhnya yang telanjang dengan tatapan lapar
"Kenapa kau selalu menatapku seperti itu?" Dia bertanya.
"Aku suka melihatmu seperti ini," ujarku. "Kau... menggairahkan, dan aku satu-satunya yang tahu akan hal itu."
Hermione hendak berbicara lagi, tapi bibirnya sudah kusumpal dengan bibirku bahkan sebelum dia bisa menarik napas. Sambil menurunkan ritsleting celana, aku menggeser ciumanku ke tulang pipinya dan berlama-lama di dekat telinganya, bergumam, "All mine." Aku menarik pantatnya ke tepi meja, dan menggigit lehernya saat kejantananku meluncur ke dalam dirinya, desisan meluncur melalui sela gigiku sedangkan desahannya terkubur di bahuku.
Aku menyodoknya dengan sentakan cepat dan kasar, kakinya membentur meja pada tiap dorongan. Hermione menggaruk punggungku, jari-jarinya gelisah dan putus asa, mencoba memelukku sekencang yang dia bisa. Menyerah, dia meraih wajahku dan memaksa bibirku untuk bertemu dengan bibirnya, mengerang di antara ciuman kami.
"I love you," sergahnya saat merasakan panas menumpuk di perutnya. "I love you."
"Aku tahu," jawabku terengah-engah.
Tak lama kemudian rasa hangat di perutnya meledak dan menyebar kemana-mana; ke jari-jari kakinya, jari-jari tangannya, ke otaknya, dan cahaya putih bersinar di balik kelopak matanya saat dia mendesahan dengan keras. Kemudian aku seperti ditelan oleh panas yang sama, mendengus dan terengah-engah saat pelepasan dan mengubur wajahku ke lekukan bahunya hingga sesaat kami berdua diam.
"Hmmmm," dia mendesah. "Draco..."
12 Agustus 2003
Draco heran ketika Hermione mencarinya lebih dulu, masuk ke tendanya tanpa izin dan seketika menjadi canggung. Draco mengawasinya dengan cermat dan hati-hati saat Hermione menolak untuk mendekat, berdiri di dekat pintu tenda dengan posisi defensif, dan Draco berusaha untuk tidak membiarkan ekspresinya melembut dengan kehadiran Hermione yang begitu dekat.
"Apa yang kau inginkan, Granger?" ia bertanya, berharap suaranya tidak gemetar karena gugup.
"Kau tahu," Hermione memulai dengan tajam. "Aku masih bisa memahami beberapa hal yang terjadi di sini. Maksudku, bahkan keberadaan Blaise Zabini dan Theodore Nott di sini... masih bisa dijelaskan. Mereka tidak pernah mengambil Tanda Kegelapan atau memberi kami banyak kesulitan, tapi kau... kau yang bermasalah denganku."
Draco mengerutkan kening. "Lanjutkan."
"Begini, hal terakhir yang kuingat tentangmu adalah kau berdiri bersama para Pelahap Maut di Pertempuran Hogwarts, dan sangat menentang kami," ujarnya. "Aku ingat ketika Orde ini dibentuk setelah Pertempuran Hogwarts, dan aku tahu kau tidak terlibat ketika kami pertama kali memulai, jadi aku masih sulit memahami mengapa kau berada di sini. Jelaskan padaku."
"Aku membelot setahun setelah Pertempuran Hogwarts dan menghubungi Potter dengan beberapa informasi tentang Voldemort yang ternyata berguna," Draco menjelaskan, nadanya tampak stabil. "Aku mengambil semuanya tes yang diperlukan dengan Veritaserum, dan membuat Unbreakable Vow dengan Potter, bersumpah bahwa aku akan melakukan apapun untuk membantu sisi Orde dan mengalahkan para Pelahap Maut, paham?"
"Apa, hanya itu?" dia bertanya dengan skeptis. "Semudah itu kami menerimamu?"
Ia mendengus. "Tidak mudah. Mungkin sekitar satu tahun, semua orang sepertinya mulai menerimaku." ia berhenti dan memperbaiki penampilan tegasnya. "Kau yang paling lama untuk diyakinkan."
"Harry dan Ron tidak akan pernah—
"Potter dan Weasley secara implisit mempercayaiku, thank you very fucking much."
Dia memindahkan berat badannya dengan canggung. "Aku tidak mempercayaimu, Malfoy."
"Aku bisa melihatnya," katanya. "But you did. Once."
"So?" dia menekan. "We were, what? Teman? Tidak ada lagi ejekan Mudblood? "
Draco mengeryit dan menggeram. "Aku sudah bertahun-tahun tidak memanggilmu begitu, dan tidak akan pernah lagi."
Hermione berkedip, terkejut dengan kejujuran yang terdengar dalam suaranya, dan hal itu membuatnya semakin berani untuk mengambil beberapa langkah mendekat. "Jadi, kita dulu berteman?"
"Teman bukanlah kata yang akan aku gunakan, tidak."
"Lalu apa?"
Dia mengalihkan pandangannya dan berdecak. "Itu... sulit untuk didefinisikan."
"Kalau begitu biarkan aku melihat ingatanmu, dan mungkin aku bisa—
"No," potongnya. "Not a chance."
"Kenapa tidak?" dia menuntut.
"Karena itu ingatanku, dan aku yang berhak memutuskan dengan siapa aku membaginya."
"Damn it, Malfoy!" dia berteriak dengan marah. "Aku sedang berusaha mengingat semuanya!"
"Kalau begitu kau bisa meminta ingatan yang lain!" ia balas membentak. "Kau tidak berhak mengobrak-abrik isi kepalaku!"
"Dasar bajingan egois!"
"Ya, aku egois!" ia menyalak, "Kau mengetahuinya dengan sangat baik, Granger! "
"Aku telah dituntun untuk percaya bahwa kau berubah dari seorang yang sombong dan manja saat berada di Hogwarts!" teriaknya. "Tapi sangat jelas kau tidak berubah sama sekali!"
"Oh, piss off! Apa kau pernah berpikir bahwa mungkin saja aku menolak demi kebaikanmu sendiri?"
Dia berhenti dan menyipitkan matanya. "What the hell does that mean?"
"Pergilah dan ganggu Lovegood atau Weasley untuk meminta ingatan mereka!" Teriaknya.
"NO!" Hermione berteriak dengan marah, melangkah ke arahnya lagi. "Aku TAHU bahwa ada sesuatu hal penting yang ditutupi dariku, dan aku hanya tahu bahwa kau ada hubungannya dengan itu, jadi beritahu aku sekarang, Malfoy!"
Ia tersentak. "Jawabannya tetap tidak! Kenapa kau begitu keras kepala?"
"Karena kau berbohong padaku—
"Aku tidak berbohong padamu!"
"Dan itu tidak adil!" dia terus mengoceh. "Aku punya hak untuk tahu masa laluku, Malfoy, jadi kau—
"STOP CALLING ME THAT!" Draco tiba-tiba berteriak. "Berhenti memanggilku 'Malfoy'! Kau berhenti memanggilku begitu bertahun-tahun yang lalu, dan aku sangat benci mendengarmu memanggilku seperti itu! "
"WHY THE HELL WOULD THAT BOTHER YOU?"
"IT JUST FUCKING DOES!"
Mereka berhadapan satu sama lain dengan wajah tegang dan mendidih, tapi mata Hermione memancarkan sorot heran dan kebingungan, dan saat dia menghirup nafas, otot wajahnya mulai relax. Giliran Draco yang menahan napas.
"Baumu," gumamnya begitu pelan hingga Draco nyaris tidak mendengarnya. "Baumu... mengingatkanku pada... I don't know."
Godaan untuk menghapus jarak di antaranya mereka dan menciumnya hampir membuat Draco jatuh berlutut, tapi dia menenangkan diri dan menyaksikan kebingungan menari di wajah Hermione.
"Kenapa kau tidak mau menunjukkannya padaku?" tanyanya, hampir terdengar memohon. "Dan kenapa... kenapa aku..." dia terdiam dan dengan cepat mundur beberapa langkah, tiba-tiba menyadari kedekatan mereka dan mengamati Draco dengan tatapan curiga.
"Aku akan mencari tahu ini," janjinya, sebelum dia melarikan diri dari tenda dan meninggalkan Draco sendiri.
Kemudian Draco mengingat kembali argumen mereka yang sangat berbeda.
Aku hampir tersedak minuman saat Hermione menerobos ke tendaku tanpa pemberitahuan, pipinya berapi-api dan memerah karena gelisah, dan rambutnya bahkan lebih berantakan dari biasanya. Blaise, yang sedang membantu menyembuhkan luka di lenganku, dengan cepat berdiri seperti anak kecil yang ketahuan mencuri, dan kami berdua mengawasi Hermione yang sedang berjuang mengendalikan amarahnya.
"Blaise, pergi, aku ingin bicara dengannya," dia memerintahkan dengan nada terpotong, dan Blaise melirik iba padaku sebelum dia bergegas keluar dari tenda.
"Granger," aku menyapa dengan hati-hati. "Apakah—
"WHAT THE BLOODY HELL DID YOU THINK YOU WERE PLAYING AT, DRACO?" teriaknya dengan keras. "APA KAU BENAR-BENAR KEHILANGAN AKAL SEHAT?"
"Tidak, tapi jelas kau memilikinya!" aku membalas. "What the fuck is your problem?"
"Masalahku?" ulangnya. "Masalahku adalah kau yang tidak mematuhi perintah dan kau menempatkan semua orang di kamp dalam bahaya!"
"Tunggu, jadi kau kesal tentang misi pemulihan di Mansion Goyle hari ini?" tanyaku tidak percaya. "Kau kesal karena aku menyelamatkan Brown dan Thomas?"
"AKU MEMBERIMU PERINTAH UNTUK MENUNGGU ANGGOTA LAIN BERKUMPUL, DAN KAU MALAH PERGI DAN MENEROBOS KE SANA SEORANG DIRI!" pekiknya. "Kau bisa saja tertangkap. Mereka bisa menggeledah pikiranmu dan menemukan lokasi kamp kita!"
Aku mencibir dan bangkit berdiri. "Sepertinya kau melewatkan ada yang terjadi, dan upaya penyelamatanku berhasil-
"Ya, untuk kali ini! Tapi kau mungkin tidak seberuntung ini di lain waktu—
"Oh, please," aku memutar bola mata. "Aku tahu hanya ada empat Pelahap Maut di sana, dan mereka anggota baru dengan keterampilan duel yang buruk. Aku lebih dari mampu untuk menangani situasi—
"Tapi kau tidak seharusnya mengambil risiko itu!" dia melanjutkan dengan kesal. "Bisa saja itu jebakan, atau kau bisa saja salah menilai situasi—
"Tapi itu tidak terjadi, dan aku mengeluarkan Brown dan Thomas dari sana," aku mengingatkannya lagi. "Sejujurnya, Granger, kebanyakan orang akan merasa senang karena teman-teman mereka diselamatkan—
"Tentu saja aku sangat senang mereka baik-baik saja, tapi aku memperingatkanmu untuk tidak pernah melakukannya lagi!" dia mengomel, dengan gaya yang sangat mirip McGonagall. "Kau bisa menempatkan kita dalam bahaya, hanya untuk membuktikan dirimu sendiri—
"Hei, persetan denganmu, Granger!" aku merengut. "Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun! "
"Lalu mengapa kau masuk ke sana seorang diri?"
"BECAUSE I DECIDE TO, OKAY?" seruku kesal. "Itu hanya tindakan impulsif! Aku terlalu lama dikelilingi oleh kalian para Gryffindor!"
Tinju Hermione mengepal dengan tidak sabar. "Adakah kata-kataku yang masuk ke dalam tengkorak tebal milikmu?"
"Aku punya tengkorak yang tebal?" aku mengejek. "Kita bisa menggunakan tengkorakmu untuk menghancurkan berlian!"
"Kau bisa saja terbunuh!"
Nafasku tersendat, seketika teralihkan oleh panas yang berkumpul di dadanya dan bagaimana kain kaosnya mengencang saat dia terengah-engah. Aku kembali melihat wajahnya dan mengingatkan diriku betapa menyebalkannya Hermione saat ini, tiba-tiba tenggorokanku terasa agak gatal dan kering.
"Tapi aku tidak terbunuh!" aku berujar kembali dengan keras. "Aku baik-baik saja, Brown baik-baik saja, Thomas baik-baik saja. EVERYONE IS FUCKING FINE!"
"Tapi kau BISA—
"Oh, demi Merlin, Granger!" aku mendesah, melempar lenganku di udara dengan kesal. "Kenapa kau selalu berlebihan dalam menganalisis sesuatu hingga seolah semuanya ingin kau telanjangi?"
"Karena kau jelas-jelas meremehkan, bagaimana jika keadaan berbalik menjadi buruk!" dia menelan meludah, melangkah menuju padanya. "Kau bodoh, angkuh—
"Satu hal lagi tentang dirimu yang membuatku sadar!" aku menyela, menundukkan kepalaku sedikit untuk menatap Hermione, meskipun tampaknya ia berhasil menarik perhatianku kembali menatap dada dan pipinya yang memerah. Setelah aku amati, bibirnya tampak kemerahan juga. "Kau tidak pernah tahu kapan harus menutup mulut."
"Don't you tell me to shut up," bisiknya melalui giginya yang terkatup, berjinjit untuk menambah ketinggian. "Aku tidak akan pergi dari sini sampai kau mengakui bahwa tindakanmu hari ini bisa membahayakan Orde—
"Baik silahkan, kau akan menunggu lama," gumamku tanpa sadar, kembali teralihkan.
"Dan satu hal lagi, Draco, kau benar-benar..."
Aku menatap bibirnya dengan intens, ketika bibir itu bergerak dan menghipnotis hingga aku tidak lagi bisa mendengarnya berbicara. Suaranya hanya berdengung di kejauhan saat mataku menjelajahi fitur lain dirinya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar menatapnya. Mempelajari bintik-bintik yang berceceran di hidung dan pipinya, mata oval bulat dan bersinar dan bulu mata yang panjang berkibar pada setiap kedipan, kemudian aku menatap bibirnya lagi.
"...karena aku tidak akan membiarkanmu menempatkan kamp ini bahaya lagi! Dan jika kau pikir aku akan—
Untuk kedua kalinya hari itu, aku bertindak impulsif, dan dengan kasar menekan bibirku ke bibirnya. Itu adalah tindakan yang ceroboh; dia sedang mengomel dan bibirnya terlipat dengan canggung, tapi aku memperbaikinya dengan cukup cepat, menjulurkan lidahku pada bibir bawahnya sampai dia mengerut. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya mencium Hermione sebelumnya, tapi ini tidak terasa buruk. Mulutnya hangat dan basah, bibirnya panas di bawah bibirku dan sedikit bergetar. Kemudian aku melepas sejenak ciuman kami, dia diam namun aku menganggapnya sebagai undangan untuk melanjutkan tindakanku, memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, mencicipi esensi manis cranberry jus yang selalu dia minum selama rapat dan sebaliknya. Lidahnya membalas dengan ragu-ragu, bibir kami menghisap satu sama lain; milik Hermione yang lembut dan milikku yang tebal. Sebuah pola terbentuk di sana, sebuah pola yang bekerja dengan sempurna.
Hermione mengakhirinya sebelum aku benar-benar memiliki kesempatan untuk sepenuhnya menyadari betapa aku menikmatinya. Napasnya terangkat dan berbayang di daguku, aroma cranberry lembab menabrak kulitku, dan akumelihatnya berkedip dengan kebingungan bersamaan dengan dirinya yang menjauh.
"Kenapa kau menciumku?" dia bertanya.
"You kissed me back—
"Jawab saja pertanyaannya, Draco!"
"Well," ia mengangkat bahu acuh tak acuh. "Sepertinya itu cara efektif untuk membungkammu.
Ekspresinya melebar karena kemarahan dan aku tidak punya waktu untuk bereaksi saat telapak tangannya yang rata menampar pipiku.
"Ow!" aku tersentak. "What the fuck, Gra—
"Jangan pernah melanggar perintahku lagi, Draco."
Kemudian dia berbalik dan berjalan keluar dari tenda, meninggalkanku dengan pipi berdenyut, dan seringai yang bertenggerdi wajah.
14 Agustus 2003
"Dia benar-benar bodoh," kata Hermione, bingung ketika Ginny tampak tidak nyaman dengannya topik ini. "Ayolah, Ginny, kamu tidak bisa mengharapkanku untuk percaya—
"Dia orang baik," bantah temannya dengan cepat. "Aku tahu kau tidak ingat, tapi begitulah dia sekarang."
"Dan Ron serta Harry benar-benar mempercayainya?"
"They did," dia mengangguk. "Kau tahu, dia pernah menyelamatkan Lavender, Dean dan Ron juga."
Mata Hermione melebar. "Apa?"
"Ya, Ron terkena kutukan yang sangat buruk selama pertempuran, dan Malfoy memberikan Portkey-nya dan Ron berhasil selamat," jelasnya. "I promise you, Hermione, he is a good man, and you though so too."
"Well, aku masih sulit untuk memahaminya. Aku tidak bisa membayangkan kami melakukan sesuatu tanpa terlibat pertengkaran."
"Oh, kalian berdua masih sering bertengkar," dia menyeringai penuh arti. "Kau dulu membangunkan seluruh kamp dengan pertengkaran kalian, tetapi kau tidak pernah benar-benar memperdebatkan hal buruk. Itu hanya... bagaimana cara kalian bekerja sama."
"Tapi—
"Hermione, ambil saja hikmah dari seseorang yang kehilangan belahan jiwanya," desah Ginny, matanya menatap jauh dan jatuh ke pangkuannya. "Jaga orang-orang dalam hidupmu sedekat mungkin sebelum mereka tergelincir pergi atau dicuri. Aku tahu kau tidak ingat apa yang terjadi antara dirimu dan Malfoy, tapi jika kau tidak mempercayainya, percayalah padaku. You two were... close."
Hermione ingin bertanya seberapa dekat dia dan Draco, tapi Ginny jelas kesal dan tiba-tiba dia menyadari betapa tidak sensitifnya dia sekarang. "I am so sorry," katanya. "Aku tidak tahu bagaimana kau mengatasinya dengan baik. "
"I'm not," akunya. "Menurutku, di antara kita tidak ada yang benar-benar bisa mengatasinya. Are you?"
"Aku... berada di antara penyangkalan dan patah hati," dia menghela napas. "Tapi kau kehilangan saudara laki-laki dan tunanganmu. Aku tidak bisa memahami bagaimana perasaanmu."
"Aku akan bisa mengatasinya suatu hari nanti," kata Ginny, senyum palsu terpulas dan ia memainkan bibirnya. "Aku merasa... waras. Dan itu cukup bagus untuk saat ini."
Keheningan yang tak terhindarkan tumpah ke dalam tenda, dan Hermione dengan canggung memainkan spreinya, mengerutkan kening ketika dia melihat sepotong kain hitam menyembul dari bawah bantalnya. Dia menarik kain itu, menyipitkan matanya dengan rasa ingin tahu, melihat kaos hitam di tangannya yang entah bagaimana terasa sangat familiar.
"Ginny," dia memanggil. "Ini milik siapa?"
"Mungkin milik Malfoy," katanya santai, kemudian dia meringis seolah mengatakan sesuatu yang bodoh. "Kau tahu, mungkin saja kaosnya tercampur dengan milikmu saat mencuci atau semacamnya."
"Tapi kenapa aku menyimpannya di bawah bantal?"
"Mungkin..." si rambut merah mulai panik. "Well, mungkin kau ingin menyimpannya di suatu tempat yang jelas agar mengingatkan dirimu untuk mengembalikannya. Aku tak tahu, dan tidak pernah benar-benar mengerti kebiasaan anehmu dalam menyimpan barang—
"Kupikir aku tidak akan—
"Aku yakin itu bukan apa-apa," katanya cepat. Hermione berpikir terlalu cepat. "Aku akan kembali ke tendaku sebentar. Apa kau ingin aku mengembalikannya?"
Hermione menggigit bibir bawahnya ragu dan mengulurkan lengannya untuk memberikan kaos itu pada Ginny. Namun dia mencium sisa bau dari kaos di genggamannya, menarik napas dalam-dalam dan seketika mengenalinya bau itu sejak berhadapan dengan Malfoy beberapa hari yang lalu. Baunya seperti udara segar yang maskulin serta hal lain yang tidak bisa dideskripsikan, tapi entah bagaimana membuatnya nyaman. Dia menarik kembali tangannya dan menggelengkan kepala.
"Um, no," dia bergumam, sedikit malu dengan sikapnya, "Tidak apa-apa, akan aku kembalikan sendiri."
"Baiklah, jika kau yakin," kata Ginny, sambil menatap aneh Hermione sebelum dia berbalik untuk keluar dari tenda. "Sampai jumpa."
"Bye."
Hermione menunggu sampai suara bantalan lembut langkah kaki Ginny tenggelam dalam keheningan sebelum dia melihat kaos dalam genggamannya, dan dia baru saja melakukan sesuatu yang nantinya menjadi momen kegilaan. Dia mendekatkan kaos itu ke wajahnya dan membelai kain ke pipinya, menghirup dalam-dalam seperti hendak menyerap dosis lain aroma tersebut. Dengan setiap napas yang diambilnya, dia merasakan pikiran dan hatinya seketika tenang, ditenangkan oleh interaksinya dengan kaos Malfoy.
Dia merasa lelah, meregangkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan kaos hitam yang digenggam erat di tangan dan hidung yang terkubur di dalamnya.
21 Agustus 2003
Draco tidak berniat menemukan Hermione dengan keadaan seperti ini, berenang telanjang di sungai dekat dengan kamp, hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kamp mereka. Tapi di sanalah dia, semuanya cantik dan menakjubkan. Draco menyembunyikan dirinya di belakang sekelompok batu besar dan beberapa pohon, ia tidak bisa menahan diri untuk mengawasi Hermione yang meluncur di air, benar-benar terhanyut dalam tatapannya sendiri.
Ia bertanya-tanya apakah Hermione sadar bahwa dia datang ke tempat mereka, tempat mereka mandi bersama, dan hal lainnya, berkali-kali. Ia ingat bagaimana Hermione menjerit kegirangan ketika mereka menemukan tempat ini, terpesona oleh aliran air terjun, kolam air di bawahnya, dan tumpukan bebatuan di satu sisi yang sangat ideal untuk berjemur.
Tapi, tentu saja, dia tidak mungkin tahu bahwa ini adalah surga milik mereka, tempat perlindungan rahasia mereka untuk merencanakan misi dan strategi pertempuran yang membuat mereka terlalu tegang atau bahkan melankolis tentang keadaan dunia saat itu.
Dia mungkin menemukannya secara kebetulan, tapi tetap saja, itu mengaduk sesuatu di dada Draco ketika melihatnya di sana; tubuh telanjang yang terlihat kabur di bawah permukaan air dan rambut panjangnya mengambang di belakangnya seperti dedaunan musim gugur.
But it was killing him too.
Rasa sakit yang ia rasakan hampir melumpuhkan, dan ia harus menenangkan diri saat gelombang perasaan mual yang tiba-tiba melanda. Hermione begitu dekat, tetapi pikirannya begitu jauh, dan itu seperti pukulan telak ke ulu hatinya. Draco sangat merindukannya, sebelumnya ia tak pernah sebegitu merindukan seseorang. Ia berdebat sepanjang waktu dengan dirinya sendiri; berjuang untuk memutuskan apakah ia egois jika ingin memperlihatkan semua kenangan yang telah mereka bagi, atau bertanya-tanya apakah tindakannya akan membuat suatu perbedaan.
Bahkan jika ia benar-benar menunjukkan ingatan tentang hubungan mereka, tidak ada jaminan Hermione menginginkannya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Hermione untuk mencintainya sekali, dan apa yang harus dilakukan untuk membuatnya jatuh cinta lagi? Ada terlalu banyak hal untuk dipertimbangkan, dan Draco tidak pernah mencapai suatu kesimpulannya. Jadi ia tidak melakukan apa pun kecuali berdoa, berharap keajaiban memulihkan ingatannya.
Yang sayangnya tidak pernah terjadi.
Ia menahan napas saat melihat Hermione berhenti berenang dan berdiri. Gundukan di bagian atas payudaranya membuat air menerobos di sela-selanya saat dia mengangkat tangan dan menyisir jari-jarinya ke belakang rambut dengan cara yang tidak dia sangka begitu menakjubkan.
Mengatupkan gigi dan menutup matanya, sebuah ingatan menyerbu pikiran Draco sebelum ia bisa melawan.
"Tidak, rapatnya tidak sampai jam lima," serunya dari balik bahunya, melemparkan bajunya ke tepi sungai sebelum dia masuk ke dalam air. "Kau tidak mau bergabung?"
"Sebentar. Aku ingin menikmati pemandangan. Maksudku, bukan pemandangan alam."
Dia tersipu tapi tertawa kecil. "Kau sudah melihatku telanjang berkali-kali."
"Dan aku sudah sering bermain Quidditch, tapi tidak pernah membosankan," aku menyeringai padanya. "Apakah dingin?"
"Sedikit," dia mengangguk, terlihat sedikit malu-malu ketika dia menggumamkan komentar berikutnya. "Mungkin kau harus bergabung dan, um... menghangatkanku?"
Aku mengangkat alis karena geli. "Apakah itu usaha terbaikmu untuk menggodaku?"
"Agak sedikit buruk?"
"Ya..."
"Well, you can't blame a girl for—
"Sebenarnya cukup tragis," katanya.
"Ya, baiklah," dia mengerutkan kening. "Thank you very bloody much. Jadi kau akan bergabung atau tidak?"
"Maksudmu untuk menghangatkanmu?" aku mengulang, dengan seringai melebar. "Yes, I suppose I shall."
Aku diam-diam menyukai cara dia menatap ketika aku menanggalkan pakaian, bibir bawahnya bengkak ketika gugup, dan matanya dengan malu-malu mengamatiku dengan terpesona. Aku melepas celana dan menarik kemejaku ke atas kepala, berjalan santai ke bagian tepi air yang terangkat dan menyelam ke sungai. Aku menarik kakinya dari bawah air sebelum muncul tepat di sampingnya, menyeringai puas saat dia tergagap di air dan melotot tajam padaku.
"Sangat dewasa, Draco."
Aku mengejek. "Kau menghabiskan separuh hidupmu mengasuh Potter dan Weasley, dan kau mengomentari tingkat kedewasaanku."
Dia memutar bola matanya jengah tetapi dengan cepat melupakannya ketika lenganku melingkari pinggangnya dan menyeretnya ke dalam rengkuhanku, menjatuhkan ciuman lembut di rahangnya. Dia mengerutkan kening padanya dan menggerakkan bibirnya, dan aku tahu setelah bertahun-tahun mempelajarinya, bahwa dia cemas akan suatu hal.
"Ada apa, Granger?"
"Um, well," dia memulai dengan enggan. "Kurasa Luna mungkin tahu apa yang terjadi di antara kita."
"Lovegood?" aku menegaskan dengan ragu. "Dia hampir tidak tahu hari apa hari ini. Hell, dia bahkan sulit untuk mengingat tahun—
"She said I smelled like you."
"Serahkan pada Lovegood untuk membuat komentar menyeramkan seperti itu," aku bergumam. "Jadi, bagaimana jika dia tahu?"
Dia mengangkat bahu, "Kau bilang ingin merahasiakan hubungan ini."
"Well, hal seperti itu bisa terbongkar ketika kau menjadi sangat berisik saat kita bercinta," aku menyeringai mencium salah satu pipinya yang tersipu, "Blaise tahu, Weaslette tahu—
"Juga Harry dan Ron," serunya. "Maaf, aku tidak bisa bersembunyi apa pun dari mereka. Mereka menebaknya begitu saja."
Wajahku berkerut karena ketidakpastian. "Dan mereka baik-baik saja dengan itu?"
"Mereka sedikit... terkejut, tapi mereka baik-baik saja, ya," dia meyakinkan dirinya sendiri. "Aku hanya ingin memperingatkanmu, kalau saja Luna membuat beberapa komentar yang membuatmu marah."
"Semua yang dia katakan membuatku marah," aku menghela nafas "Look, Granger... kau tahu kalau aku ingin merahasiakan hubungan kita hanya sampai perang mereda, kan? Aku tidak melihat apa gunanya melibatkan semua orang di kamp ketika ada banyak hal yang terjadi—
"Tidak, aku mengerti itu dan aku setuju denganmu," dia mengangguk. "Dan aku memikirkan posisi kita saat ini dalam Orde, itu masuk akal. Aku tidak ingin orang berpikir bahwa kau memiliki lebih banyak keterlibatan dalam misi hanya karena kita tidur bersama."
Aku mencibir. "Siapa yang bisa menyalahkanmu karena bias ketika aku sangat berbakat dalam banyak hal."
"Kau tahu itu tidak ada hubungannya dengan itu," dia mengomel "Aku seorang yang profesional dan—
"Omong kosong yang membosankan," aku memotongnya dengan ciuman singkat. "Kita hanya punya waktu setengah jam sampai pertemuan itu dan aku hampir tidak berniat untuk mendiskusikan moralitas dan integritasmu selama ini, so let's fuck."
Dia mengerutkan hidung ke arahku, "So charming."
"Aku tidak perlu menjadi menawan, kita sudah bercinta—
"Well, jika kau terus bersikap congkak," katanya dalam nada peringatan, tapi dia tersenyum. "Mungkin, kita tidak akan bercinta lagi—
"As if you could stay away from me," jawabku percaya diri, memeluknya lebih erat, dan kemudian dia mengunci kakinya di sekitar pinggulku. "See."
"Kau sadar kalau kita hanya punya waktu sekitar dua puluh menit sekarang?"
"Let's skip the foreplay then."
Dia tertawa lembut dan menciumku, mengerang ke dalam mulutku saat aku menggoyangkan dan mengencangkan pinggulnya, kejantananku menyelinap ke dalam dirinya. Ciuman kami berakhir dan kepalanya jatuh ke samping, rambutnya yang basah menempel di bahuku saat dia mengusap wajahnya di leherku.
"Hmmmm," desahnya. "Draco..."
"Halo?"
Suara aslinya membuyarkan pikiran Draco dan ia menyadari Hermione sedang melihat ke arahnya. Draco masih tersembunyi di balik pepohonan dan batu besar, mengintip di antara beberapa cabang dan yakin jika ia sudah tidak terlihat. Tapi Hermione benar-benar menatap di tempat dia berada, gerakannya cemas dan hampir takut, dan kepalanya menoleh untuk memeriksa sekelilingnya.
"Halo?" dia memanggil lagi, sedikit gemetar. "Ginny? Luna? Apa ada seseorang disana?"
Draco menjaga dirinya tetap diam saat Hermione meninggalkan sungai, masih mengamati daerah itu dengan hati-hati dan mencoba untuk menutupi dirinya. Dengan langkah tergesa-gesa, dia berjalan ke tempatnya meninggalkan pakaiannya, dan mata Draco melebar saat melihat hal pertama yang Hermione kenakan adalah kaosnya.
Ia langsung mengenalinya, dan ia membiarkan gambaran Hermione memakai kaosnya terpatri ke dalam ingatannya, tubuh telanjangnya, kaki indahnya dan rambut ikalnya yang basah membingkai wajahnya, sebelumnya Draco berbalik dan pergi.
31 Agustus 2003
Setelah beberapa minggu dibuat bertanya-tanya dalam ketidakjelasan, Hermione berjalan lambat di sekitar kamp, berharap bertemu Ginny atau Luna untuk menghilangkan kebosanan, ketika tiba-tiba sebuah ingatan menyerbu kepalanya.
Semuanya terasa begitu nyata; emosi, kepanikan, semuanya menghantam dirinya dengan keras, menumpuk di dadanya ketika sebuah gambaran mulai berputar dalam pikirannya, membuat dirinya jatuh berlutut.
Aku sedang berlari melalui kamp, air mataku terasa membakar mata dan pipi, disusul langkah kaki cepat yang berdebar kencang di belakangku. Aku menyerbu ke dalam tenda dan menerjang peti laci berisi tongkatku, menggenggamnya di tangan dan siap untuk ber-apparate ketika seseorang memasuki tenda.
"Expelliarmus!" Sebuah suara yang familiar berteriak, dan tongkatku terlucuti.
Aku berbalik untuk menghadapi orang itu, tetapi penglihatanku kabur meski sudah berusaha keras memfokuskan mataku. "Kembalikan tongkatku!" Aku berteriak. "Kembalikan sekarang!"
"Kembalikan tongkatku!" teriak Hermione, menggemakan ingatannya. "Kembalikan sekarang!"
Draco menemukannya pingsan di atas genangan air di pinggiran kamp dan gemetar hebat. Dia berlari ke arahnya, dan saat dia semakin dekat dia bisa mendengarnya berbicara, matanya berkaca-kaca dan menatap kosong di kejauhan.
"Granger," panggilnya. "Granger, apa—
"Mereka adalah teman-temanku!" dia berteriak entah pada siapa. "Kembalikan tongkatku, aku harus membantu Harry dan Ron!"
Draco membeku, mengenali kata-kata itu dan ingatannya seketika melekat; ketika Potter dan Weasley ditangkap. Draco mensejajarkan dirinya sambil menggenggam bahu Hermione dan mengguncang tubuhnya untuk menyadarkannya.
"Granger," katanya dengan tenang. "Granger, bangun—
"Kamu tidak mengerti!" dia melanjutkan. "Mereka adalah hidupku! Aku harus kembali ke sana!"
"Kamu tidak mengerti!" aku berujar pada bayangan kabur itu. "Mereka adalah hidupku! Aku harus kembali ke sana!"
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan!"
"DON'T YOU DARE TO SAY THAT!" aku memekik dengan marah. "Aku bisa membantu mereka, kembalikan tongkat sihirku!"
"Granger, maafkan aku," bayangan itu bernafas parau. "Kau tahu kau tidak bisa melakukan apa-apa sekarang, tapi kita akan membuat rencana dan—
"Hentikan!" aku berteriak dengan suara pecah dan kemudian tersedak isak tangisku sendiri. Aku tersandung ke arah bayangan itu dan mengepalkan tinjuku, meninjunya dengan kikuk, satu kali untuk setiap suku kata. "Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
Tangan bayangan itu mencengkeram bahuku, mulutnya di dekat telingaku dan bergumam. "Ini akan baik-baik saja. Aku berjanji, akan baik-baik saja baik."
Aku menyerah dan menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukan hangat dan aman, dan ketika aku mendongak, bayangan itu mulai terlihat jelas. Dia adalah Draco Malfoy.
Suasana di sekelilingnya perlahan berubah kembali ke keadaan semula, tapi hal pertama yang dia fokuskan adalah sepasang mata abu-abu yang mengawasinya. Dia melihat wajahnya kemudian, kulit pualamnya, fitur tajam dan halus, serta rambut pirang keperakan yang jatuh di dahinya.
Hermione mencondongkan tubuh ke depan, mengepalkan tangannya yang gemetar pada kaos Draco dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Dia menghela nafas ketika dia merasakan lengan kuat memeluknya, memberi perlindungan, dan tiba-tiba dia membenci sensasi yang terasa begitu jauh.
"Aku... Aku merasa hancur," dia tergagap di tulang selangkanya. "Aku ingin mengingatnya. Please."
"Tidak apa-apa, Granger," ia meyakinkannya, dan Hermione belum pernah mendengar suaranya yang sangat lembut. "Tidak masalah."
"Kau sangat hangat," bisiknya, mencoba melebur ke dalam pelukan. "Sangat hangat... Tolong bantu aku mengingat."
"Ini akan baik-baik saja," gumam Draco di rambutnya. "Aku janji, ini akan baik-baik saja."
Kalimat yang diulang-ulang dari ingatan Hermione mengirimkan gelombang aneh di kepalanya, menjauh darinya sedikit, pikirannya tiba-tiba terputus dengan pandangan setengah tertutup dan mengantuk. Wajah Draco sangat dekat, hidung mereka meraba-raba dan nafasnya berhembus lembut di bibirnya, dan Hermione membuka sedikit bibirnya. Memejamkan mata dan membiarkan naluri dan keinginan untuk mengarahkannya, dia menciumnya. Hermione mencium Draco. Ciuman lembut dan hanya bertahan beberapa saat, tapi gelombang kejernihan yang menenangkan menyebar ke seluruh tubuhnya, dan saat bibir mereka terpisah, Draco menatapnya dari atas dengan sorot yang sulit diartikan.
"You..." dia berkata pelan, matanya hampir tidak bisa tetap terbuka. "You taste like... like a memory.
Dan kemudian dia jatuh pingsan sebelum Draco bisa menjawab.
Blaise mendecakkan lidahnya, berpikir keras. "Kau yakin?"
"Aku sangat yakin!" Draco menggeram, mondar-mandir. "Dia mendapatkan ingatannya! Kata-kata yang dia ucapkan persis seperti saat ketika dia mengetahui Potter dan Weasley ditangkap, dan dia memiliki tatapan aneh ini di matanya."
"Oke," Blaise mengerutkan kening. "Lalu apa?"
"Dan kemudian dia berteriak marah lalu..." ia terdiam. "Lalu dia menciumku."
Alis Blaise terangkat. "Well, maafkan aku, tapi kenapa kau malah emosi seperti ini? Bukankah itu kabar baik?"
"Benarkah? Aku tidak tahu apakah dia benar-benar mengingat kami! Itu hanya sekeping memori—
"Tapi dia menciummu."
Draco menghela nafas frustasi. "Ya, itu. Dan dia... dia memakai salah satu kaosku beberapa hari yang lalu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkannya. Mungkin saja dia menemukannya tanpa sengaja."
Blaise mendecakkan lidahnya lagi. "Apa yang terjadi setelah dia menciummu?"
"Dia pingsan, aku membawanya kembali ke tenda, dan aku datang ke sini, dasar idiot! "
"Again," kata Blaise, memutar matanya karena penghinaan itu. "Kenapa moodmu malah buruk? Dia menciummu, dia mengingat sesuatu. Ini menunjukkan bahwa memorinya kembali."
"TAPI DIA MASIH TIDAK TAHU AKU!" Draco meraung keras. "Dia tidak tahu dia mencintaiku! Dan ini membuatku semakin sulit untuk menjaga jarak darinya! "
"Oh, demi Merlin! Apa kau masih memikirkan omong kosong sialan tentang dia menjadi lebih baik tanpamu? Dan kau memanggilku idiot!"
"Aku tidak tahu!" bentaknya, menjatuhkan kepalanya ke tangan. "Aku tidak tahu. Dia akan lebih baik tanpa aku...tapi...fuck it, Blaise, aku bodoh dan aku menginginkannya, tapi dia tidak menginginkanku... Aku tidak tahu, it's all just a fucking mess!"
Blaise meninggalkan kursinya dan mendekati Draco, memberi tepukan canggung di bahunya. "Kau ingin nasihat dariku?"
"Not particulary."
"Sialan, toh kau akan mengalaminya," gerutunya. "So, jika dia mendapatkan potongan memorinya lagi. Maka kau akan tahu apakah itu hanya sekepingan atau tidak. Tapi jika dia menciummu lagi, kau tahu bahwa itu bukan hanya sekepingan saja. Jika hal itu terjadi, maka kau harus menunjukkan padanya."
Draco mengangkat kepalanya dan menatap Blaise dengan sinis. "Tunjukkan padanya?
"Ya," dia mengangguk percaya diri. "Tunjukkan segalanya."
5 September 2003
Aku meledak dalam euforia, hawa panas mengalir dari perut ke seluruh tubuh, otot-ototku menegang, dan yang bisa aku lakukan hanyalah mendesah, "I love you, I love you, I love you," berulang kali saat dia mengisap leherku.
"Aku tahu," suara bayangan kabur itu bergemuruh di telingaku. "Aku tahu."
Kemudian bayangan buram itu mulai berbentuk wujud menjadi seseorang, tapi sebelum aku bisa melihat...
Hermione terbangun di tempat tidur, bersimbah peluh dan gelenyar menyenangkan yang berpusat di perut bawahnya. Napasnya cepat dan serak saat mimpi erotis itu memudar.
Tapi dia mengoreksi dirinya sendiri. Ini bukan mimpi. Rasanya terlalu nyata, jadi mungkinkah... sepotong memori? Apakah dia terlibat dalam suatu hubungan sebelum Bellatrix menghapus ingatannya selama tiga tahun terakhir? Tapi kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahunya?
Hermione mengerang karena gelisah dan menyisir jari-jarinya rambutnya yang basah dan kusut oleh keringat, dia memutuskan akan kembali untuk tidur dan berharap bisa kembali ke mimpi itu dan melihat siapa sebenarnya yang dia impikan.
12 September 2003
Draco menyelinap lagi, berniat untuk memeriksa saat ia mendengar Hermione berbicara dalam tidurnya ketika ia berjalan melewati tendanya. Kemudian dia bertahan, mengamati saat Hermione tidur, sesekali menggeliat dan menggumamkan sesuatu yang tidak ia dengar. Lebih dari sekali, ia pikir mendengar Hermione membisikkan namanya, namun Draco menganggapnya sebagai kombinasi yang berbahaya antara harapan dan kelelahan. Wajahnya mengerut seperti kesakitan, dan ia bertanya-tanya apakah Hermione mungkin mendapat ingatan tentang Bellatrix, dan itu membawa kembali pikiran Draco ke hari ketika Blaise menyerbu tendanya dan mengabarkan bahwa mereka menemukan Hermione.
Aku membungkuk di atas meja, dengan dahi yang bersandar buku-buku serta jari dan mata terkatup rapat. Hermione telah hilang sebulan sebelum Neville mengalahkan Voldemort empat minggu lalu, tentu saja dianggap tewas, dan aku masih berjuang untuk bertahan hidup tanpa dia.
Aku tidak merasakan sedikitpun kemenangan atau kelegaan tentang kekalahan Voldemort. Tubuhku mati rasa, hampa, dan itu semua membuatku menjadi sangat melankolis. Sial, aku merindukannya. Mendambakannya. Dan itu menghancurkanku dari hari ke hari, bernafas dalam kekosongan yang terasa seperti siksaan.
Kepalaku tersentak saat Blaise bergegas masuk, tubuh serta pakaian berceceran lumpur dan dia memasang ekspresi yang tidak seperti biasanya.
"Blaise, aku sedang tidak mood—
"Kami menemukannya!" dia berseru, "Kami menemukan Granger di ruang bawah tanah Lestrange!"
Aku berdiri terlalu cepat, membuat kepalaku terasa berputar-putar. "Dia masih hidup?"
"Nyaris, tapi ya," dia mengangguk. "Dia ada di tenda perawatan. Lovegood sedang memeriksanya sekarang."
Aku bergegas keluar namun Blaise mencekal tanganku. Akumenggeram rendah."Menyingkir dari jalanku!"
"Kau perlu tahu sesuatu!"
"GET THE FUCK-
"SHE'S BEEN OBLIVATED!" dia berteriak, dan aku langsung diam. "Lovegood bilang dia sempat sadar, dan terbukti dia menerima Memory Spell. Kami belum tahu sampai dia benar-benar bangun tapi... it's not looking good, mate."
Sebongkah hantaman seolah menghempaskanku ke dasar neraka. Mencoba menerima kata-kata Blaise, aku mencerna tiap informasi di dalam kepalaku berkali-kali namun tetap sulit. Satu-satunya cara adalah memeriksanya langsung, jadi aku menyerbu keluar tenda. Berlari melintasi kamp ke tenda perawatan, dan apa yang aku lihat setelahnya mampu membuatku sekarat.
Hermione terbaring di salah satu tandu darurat, dan setiap jengkal tubuhnya merah, berlumuran darah. Banyak luka dalam yang seolah membedah kulitnya dan memar biru, abu-abu dan kuning yang tak terhitung jumlahnya. Wajahnya... bahkan tidak terlihat seperti dia. Pipinya penuh bekas cakaran, seolah dia habis diserang oleh binatang buas, dan setengah rambutnya tampak seperti telah dicabut dari kulit kepalanya.
Dia babak belur, hancur dan sekarat; seolah maut sudah menyeretnya turun ke neraka. Aku berpaling ke Luna pelan, mengamatinya dengan seksama saat dia menggerakkan tongkatnya di atas tubuh Hermione yang tidak bergerak.
"Apa dia akan baik-baik saja?" aku bertanya padanya.
"Kurasa begitu," kata Luna, dan ini adalah pertama kalinya Draco melihat si pirang ditzy ini serius dan berkonsentrasi penuh. "Aku bisa menyembuhkan ini, tapi aku perlu memeriksa apakah dia memiliki luka dalam, dan akupikir ingatannya telah—
"Will she fucking live or not?" aku menuntut dengan kasar.
"Aku tidak tahu," jawabnya mantap. "Bantu aku memulihkannya.
Ingatannya hilang saat Hermione bergumam sesuatu dalam tidurnya lagi, dan ia sadar sudah terlalu lama disana. Terlepas dari hubungannya dengan Hermione dan rasa sakit saat berada di dekatnya, mengawasinya tidur terasa aneh baginya.
Seandainya Draco menunggu dua menit lebih lama, ia akan mendengar Hermione mendesah senang dan kemudian duduk di tempat tidurnya, bingung dan memerah, dan lagi-lagi frustrasi karena dia kembali menggeliat dan mengerang di bawah bayangan tanpa wajah itu.
Itu adalah mimpi-atau-memori keempatnya dalam seminggu, dan bayangan kabur itu masih tidak terindentifikasi. Namun semakin jelas, dia yakin orang itu mungkin memiliki mata abu-abu.
25 September 2003
Ini adalah mimpi keempat belas yang dia alami, namun sekarang lebih bervariasi, dan menjadi lebih jelas di setiap malam. Beberapa tidak memasukkan unsur seks sama sekali dan hanya menggambarkannya berbagai momen penuh kasih dengan bayangan itu, atau mengawasinya dari kejauhan dengan perasaan keterikatan yang kuat... seperti cinta. Tapi malam ini, mereka bercinta, dan ingatan ini begitu jelas, hingga dia bisa merasakan air mengelilinginya.
Mereka ada di sungai, dengan tubuh saling melilit satu sama lain di setiap dorongan pinggulnya, mengirim aliran panas ke tubuh bagian bawahku. Aku mundur dan mencium bibir bayangan itu, mengerang ke dalam mulutnya dan merasakan getaran erangan parau di lidahnya. Aku menarik kembali dan memegangi kepalanya di tanganku, mengayunkan tubuhku untuk menyamakan ritmenya dan menatap matanya.
Grey eyes. Definitely grey eyes.
Sesuatu terbangun dalam diriku, gelembung nafsu yang hampir meledak, dan tubuhnya mengunci saat dorongan terakhir panggulnya membuatku terbang. Gelombang kejang melonjak, berdenyut dari inti sampai keluar ekstasi yang mendebarkan di seluruh tubuh dan juga hatiku.
"I love you," aku tersedak, dan bayangan itu mulai berwujud seseorang. Mata bu-abu, rambut pirang, kulit pucat. "Hmmmm... Draco..."
Hermione terkesiap keras saat dia bangun, tubuhnya tersentak menjadi posisi duduk saat dia bergidik karena orgasme dalam ingatannya dan keterkejutan dari wajah familiar yang begitu dekat dengan dirinya.
"Ya Tuhan," gumamnya pada dirinya sendiri. "Ya Tuhan, astaga, ya Tuhan."
Dia shock, sangat terguncang, namun seketika datang perasaan damai, takjub dan terpesona, seperti lubang di hatinya telah terisi dengan sesuatu yang hangat. Dia menyingkirkan selimut dan pergi dari tendanya, terlalu panik untuk peduli bahwa dia hanya memakai celana pendek dan kaos yang dia temukan di bawah bantalnya. Melesat ke seberang dengan kaki telanjangnya, dia menerobos masuk ke dalam tenda Draco dan menemukannya sedang tertidur.
"Malfoy!" dia berseru, mendekat ke sisinya dan memukul bahunya. "Draco, bangun! Bangun, sekarang!"
Draco meringis, ia mengantuk, tapi saat tatapannya bertemu pandang dengan Hermione, ia langsung waspada. Draco turun dari tempat tidur dan mengarahkan pandangan menyeluruh, memeriksa jika Hermione baik-baik saja secara fisik.
"Ada apa?" dia bertanya mendesak, mencengkeram sikunya. "Kau baik-baik saja?"
Hermione terkejut karena kedekatan mereka dan perasaan ketika kulit mereka bersentuhan, dan tiba-tiba sadar bahwa Draco tidak mengenakan apa pun kecuali celana pendek. Gambaran tentang dirinya yang telanjang dan menawan membawanya kembali ke saat-saat dia memimpikan ingatannya, ketika Draco begitu dekat dan begitu jelas, dan dia yakin sekali bahwa Draco adalah bayangannya.
Tatapannya tertuju pada dada telanjang Draco dan dia mengulurkan telapak tangan ke arahnya, membelai jari-jarinya di atas lekukan tulang selangkanya. Dia bisa merasakan nafas Draco yang terkesiap keras dan perhatiannya teralih pada bibir tebalnya yang sedikit terbuka hingga muncul dorongan yang begitu kuat untuk menciumnya, dia bahkan tidak mempertanyakan tindakannya.
Hermione berjinjit, menempelkan bibirnya ke bibir Draco dan memeluk lehernya untuk semakin mendekatkan diri. Dia merasakan geraman terkejut Draco di mulutnya, namun ia membalas. Draco hampir putus asa hingga tangannya memeluk pinggangnya begitu erat. Cara Draco menciumnya membuat jiwanya menggigil, ia mengisap dan melahap bibirnya, menjilat dan membelai dengan lidahnya, dan semuanya gerakan kecil terasa luar biasa di mulutnya.
This felt right. This felt perfect.
Draco memutar tubuh mereka, membuat punggung Hermione membentur meja. Tangan Draco bergerak ke rambutnya, jari-jarinya menyapu rambut ikalnya saat Draco menarik tubuhnya untuk duduk di atas meja. Kemudian Draco memposisikan dirinya di antara kedua kakinya, dan Hermione bisa merasakan gairahnya mendorong paha bagian dalam, membuatnya tersadar. Hermione mendorongnya menjauh dan bangkit berdiri, menjauh darinya dengan dada naik-turun dan pikirannya berpacu. Napas Draco tersenggal; pupil matanya membesar dan tinjunya mengepal saat dia memandang Hermione dengan tatapan tak terbaca.
"Kita adalah kekasih," dia menggumam pelan, mencari-cari petunjuk di wajah Draco bahwa asumsinya benar. "We were lovers, weren't we?"
Ekspresi Draco tidak berubah dan dia tetap diam, diam dan mengawasinya dengan tatapan datar yang hampir menghantuinya. Hermione merasa konyol, mempermalukan dirinya sendiri dan membiarkan Draco menikmati pertunjukan, tapi sebelum Hermione berputar dan pergi, Draco bersuara.
"No," katanya, jika Hermione pikir dia akan merasa lega, namun sebaliknya, dia merasa kecewa. "Tidak, kita bukan kekasih—
"Tapi aku—
"Kita lebih dari itu," dia menyela. "You called us soulmates, tapi aku... aku benci kata itu—
"We were a couple?" tanyanya, suaranya tercekat di tenggorokan saat Draco mengangguk.
"We were everything."
Hermione menggigit bibir bawahnya gugup dan dengan hati-hati melangkah mendekat. "Perlihatkan padaku."
Tubuh Draco menegang mendengar permintaannya, tapi kemudian ia menghela nafas dan mundur, berjalan ke tempat tidur dan mengambil tongkat sihir dari bawah bantalnya. "Kau lihat sendiri," gumamnya, menawarkan tongkatnya pada Hermione. "I'm ready when you are."
Hermione gemetar, dan tongkatnya ikut bergetar dalam genggamannya. Memaksa dirinya untuk tenang dan menegakkannya lengan, dia menghembuskan napas panjang dan lambat, lalu, "Legilimens."
Dia langsung tersedot ke dalam pikiran Draco; gambar berkedip di sekelilingnya dan berputar dengan cepat, seperti komedi putar atau tornado. Beberapa gambar mulai melambat, lalu dia bisa melihat mereka dengan jelas, mengawasi ketika kenangan Draco berputar ulang di sekelilingnya.
Dia bisa melihat mereka bersama dalam berbagai situasi; berbaring malas di tempat tidur, Draco mencium bahunya lembut saat dia tertidur. Mereka bertengkar tentang sesuatu yang tidak penting sebelum dia tertawa terbahak-bahak dan memberi Draco sebuah kecupan di pipi. Draco yang diam-diam membelai lututnya di bawah meja selama rapat, dan dia memukul tangannya serta memberi tatapan peringatan. Ada gambaran tentang mereka berciuman di sekelilingnya, masing-masing berada di tempat yang berbeda, atau dengan intensi berbeda, atau kecepatan yang berbeda. Dan yang lebih membuat Hermione takjub ketika dia bisa merasakan emosi Draco melekat pada setiap adegan, berpindah-pindah dari rasa frustrasi, geli, kerinduan, gairah... cinta.
Kemudian dia seperti diseret ke tempat yang lebih gelap dalam ingatannya, dan suasana pikirannya menjadi dingin dan tidak menyenangkan. Dia bisa melihat dirinya sendiri terisak-isak dengan Draco membelai punggungnya memberi ketenangan sampai dia jatuh tertidur. Dia melihat dari sudut pandang Draco, bagaimana pria itu mengawasi dirinya selama pertempuran, sangat fokus padanya dan melakukan apapun yang ia bisa untuk menjatuhkan kutukan-kutukan yang mengarah padanya. Dan akhirnya, ingatan tentang Blaise yang memberitahunya bahwa dia terkena Memory Spell, kemudian bagaimana responnya ketika ia melihat tubuhnya yang babak belur di tandu, dan dia bisa merasakan ketakutan dan kehancuran yang begitu besar muncul dalam diri Draco.
Mantra dan ingatan itu sangat menguras energinya, dan dia menarik diri dari pikiran Draco dengan sisa kekuatan yang ada, mencoba untuk memahami apa yang baru saja dia lihat. Dia mendengar Draco mengerang, mengangkat wajah untuk melihatnya mengernyit. Hermione mengulukan tangannya untuk memijat pelipisnya saat Draco perlahan mendudukkan dirinya ke lantai.
"You loved me," katanya cepat. "Didn't you?"
Ia mendecakkan rahangnya dan menggelengkan kepalanya. "You said 'loved'. Itu menunjukkan bentuk lampau. What I feel for you is very much present tense."
"And I loved you?"
Ia tersentak mendengarnya, dan rasa bersalah mulai menguasainya.
"There's fucking past tense again," gumamnya getir. "But yes, you loved me."
"Tidak, aku... kurasa itu bukan bentuk lampau," katanya tulus. "Aku bisa... aku bisa merasakannya di dalam diriku, dan aku tertarik padamu—
"Tidak apa-apa, Granger, kau tidak bisa mencegah apa yang terjadi—
"Aku telah memimpikanmu selama berminggu-minggu," semburnya, menyeret dirinya lebih dekat. "Tapi itu semua kenangan. Kau lihat, aku mendapatkan ingatanku kembali—
"Granger—
"Tidak, dengarkan aku!" dia memotongnya. "Kita dulu berenang di sungai bersama, kan? Di dekat air terjun?"
Kepalanya tersentak. "Ya, kita dulu berenang di sana setiap saat."
"Dan ketika Harry dan Ron menghilang," dia terus mengoceh, masih beringsut mendekat. "Kau menghentikanku ber-apparate karena mencoba membantu mereka, lalu kau memelukku saat aku menangis? "
Draco menelan ludah. "Ya, tapi kau bisa saja mengambilnya dari memoriku—
"Dan kaos ini," lanjutnya, merasakan bisikan memori di ujung otaknya. Kemudian dia tersadar dan tersenyum. "Kau tidak memberiku ini, aku mencurinya darimu. Saat kau sedang tidur, aku mengambilnya dari lantai dan menyembunyikannya di bawah bantal dan aku selalu memakainya untuk tidur setiap kau pergi menjalankan misi." dia mulai mengoceh saat memori mengalir ke dalam pikirannya. "Aku punya dua lainnya di laci bawah tempat tidurku dan kau tidak tahu tentang itu, aku memantrainya agar mereka tidak akan kehilangan aromamu."
Ketika Hermione menatapnya, mulutnya sedikit ternganga dan mata bulatnya benar-benar terpesona olehnya.
"Itu adalah ingatanku, kan?" katanya, setengah tersenyum dan setengah menangis sekarang. "Benar, aku tahu itu! Kau tertidur, kau tidak mungkin tahu, dan... dan terkadang, ketika kau tidur, aku biasa menyelipkan pena muggle keberuntunganku ke dalam tas atau saku milikmu, karena aku ingin kau selamat, kau akan berpikir aku konyol jika aku memberi tahumu. Kau lihat, aku mengingatnya!"
Draco mengulurkan tangan dan meraih tangannya, menarik Hermione ke dalam pangkuan dan memeluknya erat. "Fuck, I missed you." ia berbisik ke rambutnya.
"I am so sorry." katanya, mengendus kembali air matanya. "Mengapa kau tidak langsung memberitahuku? Kita akan punya lebih banyak waktu."
"Kupikir akan lebih baik jika aku tidak terlibat lagi dalam hidupmu."
"Apa?" bentaknya, memukul lengannya dengan setengah hati. "You fucking idiot."
Draco tertawa terbahak-bahak, tapi dengan perasaan lega dibanding bahagia. "Itu yang Blaise katakan."
"Aku tidak ingat semuanya," katanya serius, memiringkan kepalanya sehingga dia bisa menatap matanya. "Tapi aku akan mengingatnya, okay? Ingatanku kembali, dan aku tahu aku bisa melewati ini... because you feel like home."
Draco menunduk dan menyambar bibirnya dengan ciuman, mereka hanya perlu waktu di mana mereka bisa saling menenggelamkan diri untuk mencari penjelasan dan kepuasan. "Home sounds good," gumamnya.
"Aku tahu aku bisa melewati ini," ulangnya, mengangkat jarinya ke atas tulang pipi Draco. "Tapi kau harus membantuku. Mungkin akan sangat sulit, tapi aku berjanji akan melewatinya."
"Alright," Draco mengangguk, menandai wajahnya dengan kecupan. "Alright."
"Aku janji," katanya lagi. "I'll love you twice."
SELESAI
Fyuh. Ngebut dua hari buat translate ini. Hal tersulit translate ENG ke IND adalah penggunaan kata ganti orang. Cerita ini banyak banget pake she/her/he/his dan sejenisnya sedangkan ketika di auto translate ke Bahasa cuma ada dia/ia. Pusing banget, harus mantengin skripnya biar nggak ketuker dan dibaca berulang kali sampe nyambung kalimatnya.
Sebenernya udah dari tanggal 2 Juli 2020 aku izin Bex-chan kalau mau translate ceritanya ke Bahasa, tapi apa daya skripsi harus di dahulukan demi mengejar target lulus tahun ini. Bisa dibilang cerita ini aku upload dalam rangka MERAYAKAN HARI KELULUSAN! Yeay~
Sudah menjadi pengangguran dan siap meluncurkan cerita-cerita original yang terbengkalai. Terima kasih yang sudah membaca versi translate ini, jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain. Silahkan tinggalkan jejak kalau masih ada typo yang tertinggal. Sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK SEMUA.
Keep stan Dramione.
