Disclaimer : Haikyuu! Furudate Haruichi
Pairing : Miya Osamu x Hinata Shouyou
Warning : Au! childhood friend! Female Hinata! Maybe a little bit abuse? Blood! etc!
A/N :
Gak tau kenapa tiba-tiba mau buat ff OsaHina, idenya juga seadanya dan sebenarnya saya agak ragu mau publish ini, tapi karena udah diketik ya sudah dipublish aja. Di sini saya buat FemaleHinata, karena kalau tetap maleHinata, kesannya jadi terlalu feminim Hinatanya. Tentu saja saya tetap mempertahankan sifat Hinata yang 'pure'.
Dan tambahan terakhir, sorry Atsumu tapi kali ini giliran Osamu, okay?
Happy Reading!
Saat itu usianya 5 tahun, Hinata tidak mengerti kenapa Ibunya begitu pemaksa hari itu. "Shouyou, kau harus menjaga sikapmu saat berada di rumah Obaachan. Ingat apa saja yang boleh dan tidak boleh kau lakukan?" Tanya Ibunya sambil mengikat rambut anak perempuan satu-satunya dengan pita berwarna kuning muda.
Hinata menganggukkan kepalanya, "aku tidak boleh nakal, harus menuruti kata-kata Obaachan, lalu berteman dengan anak baik, menjauh dari orang jahat..." Tiba-tiba Hinata berhenti dia menatap sosok Ibunya beserta dirinya sendiri melalui pantulan cermin.
Rambutnya berwarna jingga sedikit bergelombang di ujungnya sangat berbeda dengan Ibunya yang memiliki rambut hitam lurus. Tapi, dibalik itu semua Hinata sangat mirip dengan Ibunya yang cantik.
Hinata sempat berpikir ketika ia dewasa kelak ia akan mewarnai rambutnya menjadi hitam sama seperti Ibunya. "Aku lupa apa saja pesan Okaa-san saat nanti berada di rumah Obaachan."
Ibunya tersenyum lembut, "tidak apa-apa, itu saja sudah cukup."
Ibunya sudah selesai mengikat surai jingganya dengan sangat rapi. Ia terlihat sangat manis dengan balutan dress selutut berwarna putih gading ditambah hiasan pita ungu di pinggangnya.
Mata hazelnya melirik jam dinding yang terpaku di tembok putih pucatnya. Pukul 8.30, satu jam menuju keberangkatan kereta yang akan Hinata naiki.
Neneknya akan ada di sana menjemput Hinata. Saat mendengar cucu satu-satunya itu akan menginap tentu dengan antusias Nenek Hinata yang sudah sangat renta itu, tetap ingin menjemput cucu kesayangannya. Walaupun jarak yang memisahkan mereka bagikan kutub Utara dan kutub Selatan— dengan kata lain ujung ke ujung.
"Ayo berangkat, Shouyou." Hinata berlari mendekati Ibunya dan menggandeng tangannya.
Tanpa melirik lagi ke belakang Hinata sudah menjauh— pergi dari rumahnya yang telah ia tempati selama 5 tahun dan tidak memiliki kesempatan untuk kembali lagi ke sana.
.
.
.
.
31 Juli
Terhitung sudah 3 hari Hinata tinggal di rumah neneknya. Ibunya mengepak tas merahnya dengan setengah jumlah keseluruhan baju yang ia miliki.
Terlalu banyak baginya yang hanya akan menginap selama liburan musim panas kala itu. Tapi, karena pada dasarnya Hinata adalah anak yang penurut ia sama sekali tidak keberatan membawa baju sebanyak itu dan hanya membawa sebuah boneka kelinci putih kesayangannya, yang ia peluk sepanjang perjalanan.
"Shouyou-chan." Panggil neneknya.
"Ya?"
"Kenapa kau tidak pergi bermain? Kau tidak harus selalu menemaniku. Obaachan, akan baik-baik saja di sini." Mata hazel Hinata menatap ragu wajah Neneknya yang sudah dipenuhi oleh kerutan itu. "Pergilah bersenang-senang."
Dan dalam sekejap tatapan ragu itupun sirna, tergantikan dengan senyuman secerah mentari Hinata. "Kalau begitu, aku akan mencari teman dan kembali sebelum matahari terbenam." Neneknya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut melihat cucunya yang sudah pergi sambil melompat-lompat kecil.
.
.
.
Tidak jauh dari rumah Neneknya, tepatnya tiga rumah di sebelah kanannya. Hinata tahu kalau di sana tinggal dua bersaudara kembar yang sudah ia lihat sejak hari pertama ia tiba di sini. Mereka memainkan bola voli yang Hinata belum pernah sentuh sebelumnya.
Aneh memang, tepat saat Miya bersaudara itu memainkan bola voli, terbesit keinginan Hinata untuk ikut memukul bola itu hingga menghantam tanah keras di bawahnya.
Tapi, karena hari itu sudah larut dan matahari akan menghilang di balik cakrawala sana. Ia memutuskan untuk menahan keinginannya dan mencari kesempatan lain untuk berteman dengan Miya bersaudara.
Mata hazelnya kini menatap rumah berlantai dua, melalui gerbang depan berwarna cokelat tua milik keluarga Miya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 saat terakhir kali Hinata melihatanya.
Rumah itu tampak kosong, lampu di dalam ruangan itu memang menyala, tapi Hinata tidak mendengar suara-suara bising yang biasa ia temukan di rumah keluarga lainnya.
Jari-jari mungilnya yang pucat melingkari jeruji besi gerbang di depannya. Wajahnya ia dekatkan, berharap dengan tatapan matanya kedua Miya bersaudara itu akan keluar tanpa harus Hinata panggil atau masuk ke dalamnya.
5 menit lamanya Hinata menatap pintu depan rumah keluarga Miya, tetap tidak ada yang keluar dari sana. Ia menghela napas kecewa dan tanpa sengaja matanya melirik ke atas.
Segera senyuman lebar Hinata sunggingkan memperlihatkan kedua lesung pipitnya, yang membuatnya semakin terlihat imut. Hinata melambaikan tangannya dengan semangat ke arah jendela yang terletak di lantai 2.
Salah satu Miya bersaudara sedang menatapnya dari atas. Dengan gerakan bibirnya Hinata berusaha menerjemahkan apa yang ingin dikatakan oleh anak laki-laki itu.
Dan kurang lebih Hinata mendapatkan maksudnya, "tunggu di sana, aku akan turun menemuimu." Hinata mengangguk semangat sebagai jawaban atas kata-kata itu.
Suara pintu depan terbuka memperlihatkan seorang anak laki-laki dengan surai hitam. Mata kelabunya menatap datar Hinata, ia sudah berdiri tepat di depan Hinata yang masih tersenyum cerah.
"Halo, namaku Hinata Shouyou, aku tinggal di rumah Obaachan, selama liburan musim panas. Apa kau ingin bermain?"
Mata anak itu berkedip melirik Hinata dari ujung kaki sampai ke kepalanya dan turun untuk berhenti tepat di kedua mata hazelnya. Anak itu menggangguk dalam diam, membuka pintu gerbang depannya dan menggandeng tangan kecil Hinata.
Tanpa ragu Hinata balas menggengam tangan hangat anak laki-laki itu. "Siapa namamu?" Tanyanya sambil menatap wajah anak yang berjalan di sampingnya.
"Osamu, Miya Osamu."
"Osamu-san! Kita akan pergi ke mana?"
"Berkeliling?" Mulut Hinata membentuk huruf O, "aku menyukai kota ini, walau udaranya sedikit lebih sejuk."
Hinata terus berbicara sepanjang perjalanan mereka, dan Osamu hanya menanggapi perkataan Hinata seadanya. Dengan anggukan, gumaman, dan kata-kata singkat.
Tapi dibalik sikap aktif Hinata yang kelewat berisik itu, Osamu tidak terlihat terganggu sama sekali, genggaman tangannya sama eratnya seperti di awal, senyuman tipis tak kasat mata juga sempat ia sunggingkan di wajah tanpa ekspresi miliknya itu.
Hinata yang tanpa sengaja melihat senyuman itu berkata, "Osamu-san, kau harus lebih sering tersenyum."
Alisnya bertaut heran, "kenapa?"
"Karena kau terlihat sangat cocok dengan senyuman itu— tampan seperti Pangeran dalam buku cerita yang pernah kubaca." Kata Hinata dengan polosnya.
Terkadang Osamu tidak mengerti arah jalan pikiran Hinata. Dia kecil, cerah, dan lebih muda darinya. Awalnya Osamu hanya ingin melihatnya dari atas, tapi siapa sangka Hinata menatap langsung ke arahnya– seakan-akan mata hazel itu menembus tebalnya kaca jendela kamarnya.
"Menurutmu begitu?" Hinata hanya menganggukkan kepalanya semangat.
.
.
Mereka berjalan menyusuri sungai yang beraliran pelan. Hinata nyaris ingin mencemplungkan diri ke dalam sungai untuk menangkap katak yang kabur— tapi ditahan oleh Osamu yang menggenggam tangannya erat sambil menggeleng pelan.
"Jangan mengejarnya."
"Padahal katak itu lucu." Katanya sedih.
Osamu mengerutkan dahinya heran, anak perempuan mana yang menganggap katak itu lucu? Hanya Hinata— ya, hanya Hinata. Osamu meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa menyelamatkanmu, kalau kau tenggelam di sana."
"Apa sungainya sedalam itu?" Tanya Hinata, tanpa sadar mempererat genggaman tangan mereka.
"Tidak tahu, tapi ada yang pernah jatuh dan tidak pernah muncul lagi ke permukaan." Osamu menarik tangan Hinata menjauhi sungai itu. Tidak melihat ekspresi ngeri yang ditunjukkan oleh Hinata.
.
.
.
Hinata tidak ingat sudah pukul berapa sekarang. Tapi matahari masih bersinar terik di atasnya, nyaris membakar kulit putihnya jika saja Osamu tidak membawanya untuk berteduh di bawah pohon.
Osamu sangat pandai memanjat pohon, ia memanjat pohon semudah ia menaiki anak tangga, sama sekali tidak kesulitan, Hinata memandang iri ke arahnya. Bukannya ia sama sekali tidak bisa memanjat, dulu pernah— tapi saat Hinata baru saja akan memanjat, Ibunya sudah menariknya menjauh dari pohon dekat dengan rumahnya.
"Osamu-san, apa aku tidak bisa ikut naik ke atas dahan itu bersamamu?" Hinata mendongakkan kepalanya menatap Osamu dari bawah.
"Tidak bisa." Osamu menggelengkan kepalanya, "lagipula pakaianmu tidak cocok."
Mata hazelnya menatap dress selutut yang ia kenakan saat ini. Ia menatap kecewa, dan untuk pertama kalinya Hinata tidak suka memakai dress yang telah dibelikan oleh Ibunya.
Osamu yang menyadari kegundahan hati Hinata, melompat turun dengan kedua kakinya dan mendarat dengan sempurna. "Tidak perlu bersedih, ayo, kita ke tempat berikutnya, aku akan membuatmu terkesan." Osamu mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Hinata.
Ia sudah tersenyum cerah seperti biasanya dan dalam sekejap persoalan mengenai memanjat pohon lenyap, hilang tidak tersisa.
Mereka terus berjalan sambil bergandengan tangan. Sesekali berhenti karena Hinata menyapa beberapa tetangga di dekat rumah mereka yang kebetulan mereka lewati.
Tetangga di rumahnya segera menyukai kehadiran Hinata yang terlihat seperti matahari itu. Begitu cerah dan menyilaukan. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya kalau Hinata akan menghampirinya terlebih dahulu. Datang dan berdiri tepat di depan rumahnya.
Osamu menikmati raut wajah ekspresi yang dibuat oleh Hinata dari atas jendela kamarnya. Ekspresi khawatir, heran, takut, dan kecewa. Saudara kembarnya— Atsumu sebenarnya juga menikmati pemandangan itu dari atas.
Tapi, Atsumu berkata, "kau saja yang menemui anak itu, aku malas." Osamu menatap datar Atsumu yang berbaring malas sambil membaca salah satu komik miliknya tanpa izin.
Ia menghela napas, dan karena Osamu adalah kembaran yang lebih baik— hanya dia yang berpikir seperti itu. Jadi di sinilah dia sekarang menemani Hinata berkeliling. Osamu menghitung mungkin sudah 2 jam lamanya mereka bersama, dan ia sama sekali tidak menyesal.
Hinata sangat menyenangkan untuk diajak bermain.
.
.
.
Hinata tidak tahu ke mana Osamu akan membawanya pergi. Mereka mulai memasuki hutan, belum jauh tapi Hinata yang tidak pernah memasuki hutan sebelumnya, merasa sedikit takut.
Sebenarnya hutan itu tidak terlalu buruk. Tidak ada binatang buas, yang ada hanyalah serangga-serangga kecil. Pohon-pohonnya juga lebat nyaris menutupi cahaya matahari, membuat hutan itu jadi sedikit gelap karena kekurangan penerangan.
Tangannya sedikit berkeringat, Hinata ingin melepaskan genggaman tangan mereka, tapi ia urungkan karena takut kalau sebentar saja ia melepaskan pegangan itu, Osamu akan pergi meninggalkan Hinata di belakang sendirian. Hinata berharap Osamu tidak keberatan dengan keringat yang membasahi telapak tangannya.
"Shouyou, mau kembali?" Hinata tersentak kaget, dengan cepat menggelengkan kepalanya, "tidak! Jangan! Kita hampir sampai bukan? Lagipula aku percaya dengan Osamu-san."
Osamu menoleh ke belakang menatap Hinata dengan mata kelabunya, lalu dia tersenyum tipis dan berlari sambil menarik tangan Hinata.
"Osamu-san!" Pekik Hinata, terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. "Kita akan lebih cepat sampai kalau berlari." Katanya tanpa memperlambat langkah kakinya.
Hinata tersenyum senang dan ikut berlari mengikuti kecepatan yang sama dengan Osamu. "Kau bisa berlari rupanya."
"Tentu saja! Aku adalah yang terbaik di kelas." Kata Hinata dengan nada bangga di kalimatnya.
"Berapa usiamu, Shouyou?"
"5 tahun, aku sudah masuk taman kanak-kanak. Bagaimana denganmu Osamu-san?"
"Umurku 6 tahun, 1 tahun lebih tua darimu." Mereka terus melontarkan pertanyaan satu sama lain, sampai Osamu berhenti dan mulai berjalan melalui semak-semak yang tingginya nyaris menutupi tubuhnya.
.
.
Hinata terpana— tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya. Kata cantik tidak cukup untuk mendeskripsikan pemandangan yang ada di depannya. Padang bunga Dandelion bermekaran dengan indahnya, tertiup angin musim panas yang membuat serpihan bunganya melayang-layang, jatuh dan menghiasi tanah cokelat di bawahnya dengan warna putih indahnya.
Ia melepaskan pegangan tangannya dan berlari mendekati salah satu bunga itu. Kedua tangannya ia kepalkan erat-erat, menahan keinginan untuk memetik bunga itu, karena Hinata tidak ingin menyakitinya.
"Tidak apa-apa jika kau ingin memetiknya." Kata Osamu sambil berjalan mendekati Hinata. Mata hazelnya menatap ragu Osamu dan bunga Dandelion di hadapannya. "Kurasa satu bunga tidak apa-apa." Hinata tersenyum dan memetik satu tangkai bunga Dandelion putih dan meniupnya— menyebabkan 'bunga-bunga' kecilnya berterbangan di udara.
"Bunga itu tidak akan mati. Karena walaupun terlihat rapuh, serpihan bunga yang kau tiup itu akan berhenti di satu tempat dan tumbuh di lingkungan barunya. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Shouyou." Kata Osamu sambil menatap Hinata yang terpana mendengar penjelasannya.
Hinata terlihat manis dengan ekspresi itu, Osamu mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Hinata pelan, "ada serpihan bunga di pipimu." Hinata bisa merasakan darah naik ke kedua pipinya. Dia menundukkan kepalanya, menatap sepatu putihnya yang sedikit ternodai oleh tanah.
"Terima kasih, Osamu-san." Katanya nyaris seperti bisikan.
.
.
Mereka memutuskan pulang ketika langit sudah mulai berubah menjadi warna senja. Osamu mengantarkan Hinata pulang sampai ke depan pintu rumahnya. Di sana tepat di beranda depan, nenek Hinata tersenyum senang melihat cucu satu-satunya pulang selepas bermain dengan salah satu kembaran Miya.
"Apa kau teman baru Shou-chan? Terima kasih sudah bermain bersama dengannya." Katanya sambil tersenyum, yang menyebabkan kedua matanya menghilang di balik kelopak matanya yang sudah keriput itu.
"Sampai jumpa besok, Osamu-san." Hinata melambaikan tangannya ke arah Osamu dan kedua Hinata itu masuk ke dalam rumah mereka setelah memastikan anak laki-laki itu kembali dengan selamat ke rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari mereka.
.
.
.
"Apa kau bersenang-senang, Samu? Tidak biasanya kau pulang sampai menjelang petang." Kata Atsumu yang sedang berdiri menghadap jendela kamarnya. Sedari tadi ketika Osamu dan Hinata mulai terlihat kembali, mata Atsumu tidak lepas dari keduanya. Bahkan sampai Osamu masuk ke dalam kamar mereka.
"Dia cukup menyenangkan."
"Sungguh? Kalau begitu besok giliranku."
"Hah? Tidak mau, kau cari saja teman untuk dirimu sendiri." Jawab Osamu kesal.
"Ayolah, Samu, apa kau takut anak itu lebih memilihku daripada kau?" Atsumu mengangkat sebelah alisnya, memasang ekspresi paling angkuh yang dimilikinya.
"Aku ragu, Shouyou, lebih memilihmu," katanya. "Lakukan sesukamu, Tsumu. Aku mau tidur jangan menggangguku." Osamu menaiki ranjang susun mereka dan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.
Atsumu terkekeh geli, mata cokelatnya kembali menatap ke arah luar jendela. Mengingat kembali wajah anak perempuan berambut jingga yang sangat ekspresif itu. "Aku tidak sabar, menanti hari esok."
.
.
.
Sesuai rencana mereka kemarin, Atsumu yang akan bermain dengan Hinata hari ini. Dia datang diwaktu yang sama seperti kemarin, tapi ada sesuatu yang menarik perhatian kedua Miya bersaudara itu.
Di tangan Hinata tergenggam sekeranjang buah-buahan segar. Atsumu menerimanya dengan senang hati dan ia baru ingat kalau Nenek Hinata memiliki kebun di halaman belakang rumahnya.
Atsumu membuka gerbang depan rumahnya dan menarik tangan Hinata. Mulai berjalan entah ke mana. "Hari ini kau banyak tersenyum, Osamu-san." Hinata mensejajarkan langkah kakinya yang lebih pendek dengan Atsumu.
"Begitu? Tapi, Shouyou-chan, aku bukan Samu, melainkan Atsumu." Hinata menghentikan langkah kakinya tiba-tiba dan membuat Atsumu sedikit tersentak kaget, "Shouyou-chan?"
"Ma- maaf! Aku tidak tahu." Katanya dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa, kau menemui kami secara terpisah jadi itu adalah hal yang wajar," katanya. "Jadi kau mau pergi ke mana hari ini?"
"Ke mana saja aku akan mengikutimu, Atsumu-san." Jawab Hinata sambil tersenyum dan seakan senyuman itu menular pada Atsumu, ia pun juga ikut tersenyum walaupun tidak semurni dan senetral yang Hinata lakukan.
Tanpa Hinata sadari, tepat di lantai dua kediaman milik keluarga Miya. Osamu memandangi saudara kembarnya berjalan beriringan dengan Hinata. Mata kelabunya tidak lepas dari mereka berdua— terutama pada Hinata. Osamu sama sekali tidak berkedip menatap punggung Hinata yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan.
Osamu membasahi bibirnya yang mendadak kering dengan lidahnya dan sesekali menggigit bibir bawahnya hingga indra pengecapnya merasakan rasa besi yang tidak menyenangkan.
"Shouyou." Bisiknya.
.
.
.
"Shouyou-chan, kau akan berada di sini sampai liburanmu berakhir?"
"Iya, masih sangat lama. Aku bisa bermain dengan kalian selama 1 bulan lagi." Jawabnya dengan penuh semangat. Mata hazelnya menatap sekelilingnya, merasa asing dengan jalan yang ia lalui dengan Atsumu.
"Samu belum mengajakmu sampai ke sini ya?" Hinata menggelengkan kepalanya. Mereka memang berjalan cukup jauh, tapi tidak sejauh area hutan yang ia dan Osamu kunjungi kemarin.
Tidak lama setelah itu, mereka tiba di depan anak tangga yang akan mengantarkan mereka tepat menuju kuil di atasnya. "Sepi sekali, tidak ada yang berkunjung hari ini?"
"Entahlah, mungkin mereka terlalu sibuk, walaupun hanya untuk berdoa sekalipun." Atsumu tersenyum dan Hinata mengamati senyuman yang masih tersungging di bibirnya— senyum yang tidak bisa Hinata deskripsikan apa arti dari senyuman itu.
Hinata memiringkan kepalanya sedikit, mengamati kedua Miya bersaudara yang menemaninya selama dua hari ini. Jika Osamu terkesan dingin dan tidak banyak berekspresi, maka Atsumu adalah kebalikannya, dia sering tersenyum dan tertawa, serta memiliki lelucon yang buruk, meskipun Hinata masih tertawa dan menganggap itu adalah hal yang lucu.
Angin berhembus kencang ketika Atsumu dan Hinata tiba di puncak anak tangga. Terdengar lonceng yang berbunyi tertiup oleh angin, tanpa sadar Hinata memejamkan matanya menikmati betapa merdu dan indahnya suara lonceng yang berbunyi saling bersautan.
"Ingin berdoa?" Mendengar ajakan itu, Hinata menganggukan kepalanya dan mengikuti Atsumu, ia berdiri tepat di sampingnya dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.
Tanpa melirik ke arah Atsumu, Hinata sudah memejamkan matanya— memanjatkan doa dengan tulus, tepat setelah ia memasukkan beberapa uang koin ke dalamnya.
Mata cokelat Atsumu sama sekali tidak tertutup, tapi ia menatap ke samping kirinya tepat di mana Hinata berdiri. Senyuman tersungging di bibir merah mudanya, matanya sedikit menyipit menatap betapa polos dan imutnya Hinata.
Atsumu tidak pernah menemui anak sepolos Hinata, mereka hanya terpaut 1 tahun, tapi rasanya Atsumu bertahun-tahun lebih tua dibandingkan dengan Hinata. Baik fisik, pikiran, maupun, jiwanya.
"Samu, benar, Shouyou-chan, sangat menyenangkan." Batin Atsumu.
"Atsumu-san?" Panggilan Hinata kembali menyadarkan Atsumu yang masih senantiasa menatap Hinata. "Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Hinata sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan kecilnya.
"Tidak ada." Atsumu menggelengkan kepalanya, "hanya berpikir bahwa kau imut."
"Aku sering mendengar itu," katanya. "Tapi, terima kasih, Atsumu-san." Saat Hinata kembali tersenyum ada semu merah tipis yang menghiasi kedua pipinya.
Atsumu mau tidak mau ikut terkesima melihatnya. "Tidakkah ini ilegal, seseorang bisa terlihat cantik dan imut di saat yang bersamaan." Batin Atsumu sembari berusaha menahan semu merah yang ikut menjalar naik ke atas pipinya.
.
.
.
Selama perjalanan mereka turun dari kuil, Atsumu merasakan seseorang mengikuti mereka. Langkah kakinya mungkin tidak terdengar olehnya, tapi hawa keberadaannya yang menatap Hinata tanpa celah sama sekali tidak bisa ditutupi sedikitpun.
Atsumu tidak bisa menahan senyuman lebar yang secara alami terkulum di bibirnya. "Shouyou-chan, mau pergi ke sungai?"
"Tentu!"
Tepat ketika mereka tiba di tepi sungai, Atsumu melepas alas kakinya dan berniat terjun masuk ke dalamnya. Ketika satu kakinya sudah menyentuh permukaan air sungai itu, Atsumu merasakan tarikan tangan Hinata yang membawanya kembali ke permukaan tanah.
"Atsumu-san!" Teriak Hinata.
"Ada apa, Shouyou-chan?" Tanya Atsumu bingung.
"Aku tidak bisa menyelamatkanmu kalau kau tenggelam di sungai itu.
"Hah?" Atsumu memiringkan kepalanya. "Tenggelam?"
Hinata menggangukkan kepalanya, "Osamu-san, bilang sungai itu dalam dan berbahaya."
Atsumu mengedipkan matanya berkali-kali, dan tertawa keras. "Samu, berbohong padamu, Shouyou-chan. Sungai ini sangat dangkal." Atsumu melepaskan pegangan tangan Hinata dan melangkah memasuki air sungai itu. "Lihat, dangkal bukan?" Hinata terkesima melihatnya, sungai itu hanya setinggi lutut Atsumu, tidak dalam dan tidak berbahaya sama sekali.
Hinata menunduk kecewa, setelah mengetahui bahwa Osamu membohonginya.
"Atsumu-san."
"Ya?" Jawab Atsumu sambil melangkah kembali ke permukaan tanah dan memakai sandalnya kembali.
"Kenapa, Osamu-san berbohong padaku?"
"Itu karena aku tidak ingin kau sakit, Shouyou." Hinata terkejut dan membalikkan tubuhnya ke belakang, setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Osamu-san!" Teriak Hinata. "Kau menyusul kami?" Osamu berjalan mendekat dan menarik Hinata menjauh dari sungai. "Sungai itu kotor dan ketika kau pulang, kau akan basah. Kau tidak mau sakit dan menyusahkan Nenekmu bukan?"
Hinata terdiam merenungi kata-kata Osamu. "Kau benar. Tapi, apa tidak apa-apa membiarkan Atsumu-san bermain di sungai itu?"
"Biarkan saja, Tsumu itu bodoh jadi dia tidak akan sakit."
"Hei, Samu, aku mendengarmu!" Teriak Atsumu marah.
"Ayo, pergi kita tinggalkan dia." Osamu menarik tangan Hinata yang masih tertawa lepas bagaikan lonceng yang tertiup angin di tengah keheningan dan dari jarak sedekat ini Osamu hanya bisa mendengar suara tawa Hinata.
.
.
Atsumu menerima tatapan mencemooh dari saudara kembarnya. Alasannya satu, dia ikut menggandeng tangan Hinata, sama eratnya seperti yang ia lakukan. Dan Hinata sama sekali tidak merasa keberatan dengan itu, justru dia malah mengayun-ayunkan kedua tangannya ke depan dan ke belakang.
"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Hinata.
"Samu kau yang memutuskan." Jika saja mereka hanya berdua saja tanpa Hinata, mungkin Osamu sudah mencela habis-habisan saudara kembarnya itu, dia tidak sudi diperintah seenaknya.
Tapi karena Hinata dengan manisnya memberikan senyumannya itu ke arah Osamu, ia hanya pasrah dan menarik tangan Hinata untuk berjalan lebih dekat lagi ke arahnya.
.
.
Osamu menuntun mereka ke taman, sebenarnya tidak ada yang istimewa di sana. Tapi, entah kenapa ia mau mengajak Hinata ke tempat ini.
Ada beberapa anak yang bermain di sana, dan kedua Miya bersaudara itu melihat teman sekelas mereka bermain dengan ayunan seorang diri.
"Suna?" Panggil Atsumu, mereka bertiga berjalan mendekatinya. "Atsumu, Osamu, dan..."
"Shouyou! Hinata Shouyou."
Suna mengganggukkan kepalanya dan menatap Osamu dan Atsumu bergantian. "Jarang sekali kalian ke mari."
"Tidak ada yang menyenangkan di sini." Jawab Osamu sambil berjalan mendekat ke arah ayunan yang kosong di samping Suna dan berdiri di belakangnya. "Shouyou, ingin bermain? Aku akan mendorongnya untukmu."
Hinata dengan riang duduk di atas ayunan dan berpegangan erat pada tali usang ayunan. Beberapa helai rambut jingganya berterbangan tertiup angin, bibirnya tidak henti menyunggingkan senyuman manis.
"Dia kenapa?"
"Hah?" Atsumu mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengerti kau mengatakan apa, Suna."
Suna menghela napas lelah, "Osamu, aku tidak pernah melihatnya dekat dengan anak perempuan sebelumnya, kalian bertemu dia di mana?"
"Kalau tidak salah dia datang dari Miyagi 5 hari yang lalu. Dan berdiri di depan gerbang rumah kami 2 hari yang lalu."
Suna menyipitkan matanya, menganggukkan kepalanya, "cinta pada pandangan pertama ya?"
"Suna, selama liburan kau itu membaca buku apa?"
"Apa yang aku baca bukan urusanmu." Jawab Suna dengan ketus.
Suna sudah mengenal kedua Miya bersaudara yang merepotkan itu sejak 2 tahun yang lalu. Suna tidak terlalu mengenal mereka, tapi ia dekat dengan kedua bersaudara itu karena selalu memperlihatkan tontonan yang menarik.
Perkelahian, persaingan, dan terkadang hinaan tidak luput dari kedua mulut mereka. Suna tidak keberatan berteman dengan mereka karena mereka menarik. Tapi, ia tidak menyangka kalau kesenangannya akan bertambah satu orang lagi. Dan dia adalah Hinata Shouyou.
"Hinata."
"Ya— aku tidak mengetahui namamu, siapa namamu, Osamu-san menyebutmu dengan Suna? Lalu kalau begitu, Suna-san?"
"Suna Rintarou." Suna berdiri meninggalkan ayunan dan berjalan mendekati Hinata. Ketiga pasang mata yang berbeda warna memperhatikan Suna yang sudah berdiri tepat di depan Hinata.
Tangannya merogoh bagian dalam saku celananya dan mengambil salah satu tangan Hinata, memberikan sesuatu di atas telapak tangannya. "Untukmu, sebagai salam perkenalan."
Mata hazelnya berbinar menatap permen jeruk favoritnya, "terima kasih, Suna-san."
"Suna, mana bagianku?" Tanya Osamu, tangannya sudah ia sodorkan ke depan.
"Tidak ada, sudah habis." Osamu menatap dingin ke arah Suna yang dengan mudahnya diabaikan olehnya. "Sampai jumpa besok, Hinata."
"Shouyou, kau suka permen?"
"Ya, aku menyukainya, apa Osamu-san tidak suka makanan manis?"
"Shouyou-chan, asal kau tahu Samu bisa memakan apa saja. Dia seperti karnivora— rakus."
"Tutup mulutmu, Tsumu."
"Sungguh? Jadi kau menyukai makanan manis juga, Osamu-san?"
"Ya, selama manisnya masih wajar aku tidak keberatan memakannya."
"Ibuku sering memasak kue dan camilan manis lainnya. Tapi, sayang Ibuku tidak ada di sini."
"Kau merindukan Ibumu?" Tanya Atsumu yang kini sudah duduk di ayunan yang tadi ditempati oleh Suna.
"Iya, tapi, karena ada kalian aku tidak terlalu memikirkannya." Hinata tersenyum lembut, kedua pipinya bersemu merah, ada beberapa bulir tetes keringat yang mengalir melalui pelipisnya turun hingga ke dagunya. "Apa kau kepanasan? Ingin berteduh?" Hinata menggelengkan kepalanya, dia memang kepanasan tapi tidak terlalu buruk.
Lagipula dia masih mau bermain dengan kedua Miya bersaudara itu.
.
.
.
.
Waktu cepat berlalu, penghujung bulan Agustus sudah tiba. Hinata diliputi perasaan senang sekaligus sedih. Liburannya akan segera berakhir, dan itu akhirnya dia harus pergi. Ibunya akan menjemputnya besok pagi. Tepat dua hari sebelum sekolahnya kembali dimulai.
Kini Osamu, Atsumu, dan Suna duduk di beranda depan rumah Nenek Hinata. Mereka menikmati kue kering bersama dengan minuman dingin yang akan segera mencair terpapar panasnya sinar matahari kalau mereka tidak segera menghabiskan minuman itu.
Osamu hari itu duduk agak jauh dari Hinata tidak seperti biasanya.
"Shou-chan! Ada telepon dari Ibumu." Hinata melompat berdiri dan berlari mendekati gagang telepon yang disodorkan oleh Neneknya.
Osamu mengamati Hinata, tatapannya sulit diartikan, Hinata terlihat senang berbicara dengan Ibunya— ya bukankah itu sudah jelas? Dia adalah Ibu Hinata, tapi Osamu sama sekali tidak merasa senang.
"Samu, kau memang yang terburuk."
"Hah?"
"Memangnya aku tidak tahu apa yang kau pikirkan?"
"Teka teki sama sekali tidak cocok untukmu, Tsumu. Jadi bicaralah yang jelas." Kata Osamu datar.
Senyuman terkulum di bibir Atsumu dan membentuk seringai, "kau ingin Shouyou-chan tetap di sini dan tidak kembali ke rumahnya kan?" Osamu menatap Atsumu tanpa ekspresi. Lalu, dia berbalik menatap Hinata.
Osamu merenungkan kata-kata Atsumu, terkadang saudara kembarnya itu, seakan-akan tahu apa yang ia pikirkan— seolah ia adalah buku yang terbuka dan mata Atsumu menembus ke dalam pikiran dan keinginan terdalam Osamu.
Ya, aku tidak ingin dia kembali ke rumahnya.
.
.
Osamu sama sekali tidak bisa tidur malam itu, matanya masih terbuka lebar, otaknya menolak untuk beristirahat. Ia menghela napasnya pelan, Atsumu sudah tertidur pulas, dia bisa mendengar suara dengkuran halusnya.
Ia jadi berpikir yang tidak-tidak, bahkan mengharapkan hal yang buruk terjadi pada Hinata, agar dia tidak pulang ke Miyagi. Apa ia adalah anak yang buruk? Apa kalau Hinata tahu, dia akan marah? Kecewa? Osamu memang menyukai segala macam ekspresi yang terlukis di raut wajah imut Hinata. Tapi setelah dipikir-pikir, ada satu ekspresi yang belum Hinata tunjukkan padanya.
Hinata belum pernah menangis.
Seperti apa ketika dia menangis? Osamu bertanya-tanya. Mata kelabunya ia pejamkan, berusaha untuk tidur walau hanya beberapa jam saja. Dari lubuk hati terdalamnya, ia mengharapkan kalau Hinata tidak pernah pergi dari sisinya.
.
.
.
Tepat keesokan paginya tepat pukul 10. Telepon di rumah Nenek Hinata berdering. Dengan cepat Neneknya mengangkat telepon itu, Hinata berdiri tepat di sampingnya. Mengira bahwa itu adalah Ibunya.
Seolah waktu berhenti, seiring dengan jantung Hinata yang berhenti berdetak untuk sesaat. Bukan suara Ibunya yang ia dengar melainkan seorang polisi yang mengatakan bahwa Ibunya telah tiada, bersamaan dengan hancurnya mobil yang bertabrakan dengan truk dari arah yang berlawanan.
Ibunya tidak bisa diselamatkan, tewas bersama dengan pengemudi truk dan beberapa pejalan kaki yang berada tidak jauh dari truk itu.
"Shou-chan..." Neneknya memeluknya dengan erat. Pundak bajunya basah oleh air mata Neneknya.
Hinata menggerakkan tangannya kaku menyentuh punggung Neneknya. Napasnya terasa sesak, pandangannya kabur oleh air mata, untuk pertama kalinya dalam hidup Hinata, ia menyadari bahwa seperti ini rasanya kehilangan.
"Ayo, kita temui Ibumu, untuk yang terakhir kalinya."
.
.
Berita mengenai kematian Ibu Hinata segera sampai di kedua telinga Osamu dan Atsumu. Mereka saling berpandangan sejenak, senyuman merekah di wajah Atsumu. "Samu, permintaanmu terkabul?"
"Aku benci ketika mendengar nada suaramu yang seperti itu. Kau membuatku benar-benar terlihat seperti orang jahat."
"Aku mengatakan yang sebenarnya di sini. Mau menemui Shouyou-chan?"
Saat mereka tiba di sana, Hinata bergelung dalam selimutnya dan terdengar isakan tangis darinya. "Shouyou." Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Hinata mendongakkan kepalanya.
Mata hazelnya berlinang, pikirannya berkabut ketika melihat Hinata menangis. Apa Kami-sama sedang mempermainkan dirinya? Dua permintaan dalam satu malam yang ia sebutkan, terkabul bersamaan keesokan paginya.
Dia mendekat memeluk Hinata erat. "Tidak apa-apa, aku tidak akan meninggalkanmu, Shouyou." Isakan Hinata semakin kencang, suaranya bergema sampai ke lantai bawah rumahnya. Atsumu berdiri di ambang pintu kamarnya menyaksikan betapa buruknya Osamu ketika menghibur orang lain.
Tangan Osamu yang hangat mengelus punggung Hinata lembut, sembari membisikkan kata-kata penenang untuknya. Hinata sama sekali tidak melihat ekspresi Osamu kala itu. Ia tersenyum— senyuman paling tulus yang pernah ia sunggingkan di bibirnya.
Atsumu yang melihat itu menyipitkan matanya, menatap tidak terkesan ke arah saudara kembarnya. "Kau memang yang terburuk, Samu."
.
.
.
.
10 tahun kemudian
"Shouyou-chan, kita sudah telat, apa kau mau kami tinggal?" Atsumu berteriak dari depan gerbang rumah Hinata. Ia bisa mendengar bunyi gedebuk yang kencang. Apa Hinata jatuh? Dan kalau memang dia jatuh maka orang yang patut disalahkan adalah Atsumu.
"Samu, hentikan tatapanmu itu!"
Terdengar bunyi pintu yang dibuka dengan kasar. Hinata terengah-engah memakai sepatunya dengan cepat dan mengunci pintu rumahnya yang kini hanya ia tinggali seorang diri. Neneknya telah meninggalkannya seorang diri tepat ketika Hinata berusia 10 tahun. Sejak saat itu, secara tidak resmi yang merawatnya adalah kedua orang tua Osamu dan Atsumu. Hinata berhutang budi sekaligus berterima kasih pada keluarga Miya. Karena Hinata tidak benar-benar ditinggal sendirian.
Dia berlari mendekati Osamu dan Atsumu dan menarik tangan mereka bersama. Berlari menuju sekolah mereka— Inarizaki.
Osamu mengamati Hinata dari belakang. Dia sudah tumbuh besar dan cantik dengan tinggi 162cm. Seragam sekolah Inarizaki membalut tubuhnya dengan sempurna. Sampai mata kelabunya berhenti tepat ke arah rok yang dikenakan oleh Hinata. Rok itu hanya menutupi sebagian paha Hinata, memperlihatkan kaki jenjangnya tanpa celah.
Tatapan matanya mendadak dingin. Sepertinya Osamu akan disibukkan oleh beberapa hal tambahan ketika Hinata mulai memasuki tahun pertama di sekolah menengah atasnya.
.
.
.
Penyambutan siswa baru di Inarizaki yang diatur oleh ketua Osis mereka— Kita Shinsuke berjalan dengan sangat lancar. Nyaris tidak ada masalah, karena ia dikenal sebagai Tuan Sempurna. Tidak ada celah.
Hinata melihat-lihat klub apa saja yang bisa ia masuki. Osamu, Atsumu, dan Suna memasuki klub yang sama, yaitu voli. Hinata sempat berpikir apa ia harus memasuki klub voli putri? Ia tidak buruk dalam voli, lompatannya juga mendapat nilai sempurna saat ia masih di sekolah menengah pertamanya.
"Apa kau akan masuk klub itu?" Tanya Suna yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.
"Mungkin?" Jawabnya ragu.
"Kenapa tidak cheerleader saja?"
"Mana mungkin aku cocok masuk klub itu, Suna-san." Suna menatap wajah Hinata yang tertawa. Serius? Tadi dia bilang apa? Tidak cocok? Apa tidak ada yang memuji Hinata tentang penampilannya saat ini? Dia memang bukan yang tercantik— Suna juga sebenarnya tidak terlalu memperhatikan siswi perempuan lainnya.
Tapi mendengar Hinata merendahkan dirinya sendiri yang sangat tidak cocok dengan kepribadian cerahnya, membuat Suna jengah.
"Coba saja, mungkin Osamu akan bertekuk lutut di hadapanmu saat pertandingan nanti ketika melihatmu menyemangati tim kami."
Hinata tertawa geli, "Osamu-san tidak akan melakukan itu. Tapi mungkin aku akan mencobanya." Suna sebenarnya hanya ingin melihat ekspresi terkejut Osamu melihat malaikat kecilnya diperhatikan oleh seantero sekolah dan mungkin sekolah-sekolah lain juga akan memperhatikan Hinata.
Suna ingin melihat ekspresi gusar itu— ekspresi yang hanya ia tunjukkan ketika sudah menyangkut soal Hinata.
.
.
.
Osamu melihat dua kertas formulir yang tergeletak tidak jauh dari siku tangan Hinata. Ia meraih kertas itu dan membacanya. "Kau akan masuk klub voli dan cheerleader?"
Hinata menolehkan kepalanya ke arah Osamu, sejak kapan kertas itu sudah ada ditangannya? Hinata bertanya-tanya.
"Salah satu dari itu, tapi aku akan mencoba klub cheerleader terlebih dahulu." Jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan..." Bisiknya.
"Ya?"
"Aku akan mencarikanmu klub lain." Kata Osamu, tangannya merobek dua kertas formulir itu menjadi dua bagian yang tidak sama rata.
Hinata membelalakkan matanya, "Osamu-san! Padahal aku sudah susah payah meminta formulir pendaftaran mereka." Hinata mengigit kecil ujung sumpit miliknya— kecewa dengan tindakan Osamu yang seenaknya.
Osamu berhenti sejenak meletakkan sumpitnya dan mengapit dagu Hinata dengan dua jarinya mengarahkan wajah itu ke arahnya. "Manajer," katanya. "Kau bisa jadi manajer di klub ku. Aku akan memberikan formulir itu saat pulang nanti."
Sekejap mata suram Hinata berubah menjadi tatapan penuh kekaguman, "aku tidak tahu kalau klub voli membutuhkan manajer."
"Memang tidak. Tapi, aku bisa membuat pengecualian untukmu."
"Hah? Osamu-san, kau menyalahgunakan kekuasaan!"
"Aku bukan kaptennya tapi kurasa Kita-san tidak akan keberatan."
"Apa aku cukup baik? Maksudku menjadi manajer kalian." Hinata menggenggam tangan Osamu yang mengapit dagunya. Tangan itu nyaris 2x lipat lebih besar dibandingkan dengan tangannya. Tapi Hinata suka menggenggam tangan itu, hangat dan nyaman.
"Tentu, tidak akan ada yang meragukan kerja kerasmu, Shouyou."
"Kalau begitu aku akan mencobanya, terima kasih, Osamu-san."
.
.
"Sejak kapan kita membuka pendaftaran manajer?" Aran mengerutkan dahinya bingung setelah mendengar Osamu berbicara dengan Kita— kapten mereka.
"Pasti buat Shouyou-chan."
"Siapa dia? Pacarnya Osamu? Tunggu! Osamu punya pacar?" Teriak Aran.
"Belum, Hinata belum menjadi pacarnya."
"Suna kau mengenalnya?"
"Aku sudah mengenalnya dari SD namanya Hinata Shouyou berambut jingga sepunggung, sedikit bergelombang di ujungnya, berwajah manis, memiliki warna mata hazel, suka tersenyum." Jelas Suna panjang lebar, memberikan informasi yang tidak diminta oleh Aran.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi Suna kau benar-benar suka memperhatikan penampilan seseorang ya?"
"Tidak juga," katanya. "Aku hanya memperhatikan orang-orang yang membuatku tertarik."
"Suna, kalau Samu mendengarnya aku akan mendoakan keselamatanmu di kuil nanti." Kata Atsumu sambil terkekeh geli.
Suna menatap sinis Atsumu, "aku tidak butuh doamu Atsumu. Mana mungkin Kami-sama mau mendengar doa dari seseorang sepertimu."
"Hei! Tidak sopan!" Teriaknya tidak terima dengan perkataan Suna tadi. "Begini-begini aku lebih baik dibandingkan Osamu."
"Siapa yang lebih baik?" Osamu berjalan mendekati mereka yang berkumpul di tepi lapangan.
"Tentu saja aku, siapa lagi." Kata Atsumu dengan penuh percaya diri. "Oh, kau sudah mendapatkan formulirnya, hebat sekali, apa itu baru dicetak?"
Osamu menganggukkan kepalanya, dia memasukkan kertas itu ke dalam tasnya dengan hati-hati memastikan tidak ada bagian yang tertekuk.
"Sayang sekali, aku kira Hinata akan mencoba klub cheerleader." Pernyataan Suna membuat ke-3 pasang mata yang berbeda warna menatapnya dengan ekspresi terkejut.
"Jadi kau yang menyarankannya masuk klub itu."
Suna mengganggukkan kepalanya, "memang kau tidak ingin melihat Hinata dalam balutan pakaian ketat anggota cheerleader?"
"Aku mau, tapi tidak bersama dengan kalian." Osamu menatap dingin mereka sambil menunjuk Suna, Aran, dan Atsumu.
"Ugh, egois sekali. Samu, kau memang yang terburuk."
"Sesekali kau harus mengaca, Tsumu. Apa aku perlu membawa kaca dalam dongeng snow white itu padamu?"
"Hah? Memangnya kau apa? Anak kecil?"
Osamu berdiri menghadap ke arah Atsumu. "Bukan aku, tapi kau, Tsumu." Dan—pertengkaran mereka pun dimulai. Aran menatap lelah kedua Miya bersaudara itu. Suna merekam pertengkaran mereka dalam diam. Berhenti ketika Kita beserta anak kelas 3 lainnya mendekati mereka.
"Atsumu. Osamu." Panggil Kita dengan nada datarnya yang khas.
Osamu melepaskan cengkraman baju Atsumu dengan berat hati. Sudut bibirnya berdenyut sakit— Atsumu memukulnya dengan sepenuh hatinya.
"Kami minta maaf." Ucap mereka bersamaan.
Kita memandangi mereka bersamaan. "Ayo kita mulai latihan." Tubuh mereka bergerak tanpa harus diperintah dua kali.
Atsumu, Suna, dan Aran sudah melangkah ke tengah lapangan. Osamu tertahan oleh tangan Kita yang menariknya pelan. "Ada apa Kita-san?"
"Saat Hinata-san menjadi manajer klub ini, apa kau tidak khawatir?"
"Tidak. Justru aku lebih tenang karena Shouyou berada disatu klub yang sama denganku."
Kita menggelengkan kepalanya, "bukan itu yang aku maksud."
"Lalu?" Osamu mengernyitkan dahinya bingung.
Saat Kita akan membuka mulutnya, pelatih sudah memanggil nama mereka untuk segera ke tengah lapangan. "Akan ku jelaskan nanti."
.
.
Osamu termenung mengingat ucapan Kita-san padanya tadi. "Para penggemarmu itu— aku tahu kau menyadarinya, mereka berbahaya untuk Hinata-san. Pastikan kau selalu ada di sampingnya, Osamu." Ia selalu kagum dengan senpainya itu, selalu satu langkah lebih maju dibandingkan yang lainnya.
Ia melirik Hinata yang berjalan di sampingnya, wajahnya terlihat lebih bercahaya selain karena sinar matahari terbenam, pasti karena ia akan segera menjadi manajer pertama di klub voli Inarizaki.
Sejauh ini aman, selama Osamu selalu di samping Hinata. Maka ia akan baik-baik saja, dari mereka di sekolah dasar, sampai saat ini. Belum ada yang pernah mengganggu Hinata. Karena seharusnya mereka sadar apa yang akan terjadi pada mereka jika mengganggu, Hinata-nya.
"Osamu-san?" Panggilan Hinata membuat Osamu kembali ke alam sadarnya. "Apa kau sakit?"
"Tidak. Hanya lelah." Jawabnya, ia setengah berbohong pada Hinata.
"Bohong," Hinata sedikit berjinjit menyentuh luka memar di sudut bibir Osamu. "Ini pasti sakit. Habis bertengkar dengan, Atsumu-san?"
Tiba-tiba muncul keinginan untuk memukul Atsumu 2x lipat lebih banyak dari sebelumnya. Atsumu beruntung tidak pulang bersama mereka, karena bisa-bisa mereka bertengkar lagi di tengah jalan. "Ayo, pulang ke rumahku, aku akan mengobatimu."
Osamu menurut saja ketika Hinata menyeretnya masuk ke dalam rumahnya dan duduk di salah satu sofa di ruang tamunya.
Ia dengan lembut menyeka luka memar itu dengan kain dingin, ada beberapa obat salep yang tergeletak di atas meja. Osamu merasa Hinata memiliki tangan penyembuh, luka yang biasa ia terima, sembuh berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Mungkin kalau kau menciumnya lukanya akan lebih cepat sembuh." Gerakan tangan Hinata berhenti, wajahnya memerah tidak karuan mendengar perkataan Osamu. "Seperti waktu kita kecil. Kau sering melakukannya."
"Apa benar-benar akan cepat sembuh?" Hinata bertanya, mata hazelnya menatap manik kelabu Osamu, semu merah dikedua pipinya membuatnya terlihat sangat imut, Osamu menahan keinginan untuk mengecupnya.
"Kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu." Hinata meletakkan kain basah dingin di meja kecil di depannya. Tubuhnya ia condongkan ke depan, matanya ia pejamkan. Bibir lembutnya bertemu dengan sudut bibir Osamu yang membiru. Osamu tersenyum senang melihatnya dan dengan sengaja ia memiringkan kepalanya sehingga kedua bibir itu bertemu.
Hinata tersentak kaget, tubuhnya diangkat oleh Osamu dalam satu gerakan, sehingga Hinata kini duduk tepat di pangkuan Osamu. "O-Osamu-san!" Osamu tersenyum tipis, ia mengelus surai jingga itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Hinata.
"Aku berharap kau mempertahankan rambut panjangmu."
"Apa karena itu, kau tidak mau aku masuk klub voli?" Hinata memperbaiki posisi duduknya dengan lebih nyaman. Rok sekolahnya yang hanya sebatas setengah pahanya kini semakin terlihat pendek dan memperlihatkan kaki jenjangnya lebih banyak lagi.
Osamu menganggukkan kepalanya, "kalau kau ingin bermain voli akan aku temani. Kau tahu, aku lebih berbakat dibandingkan Tsumu."
Hinata tertawa, "Atsumu-san, akan marah jika dia mendengar itu."
"Tidak masalah. Kalau aku terluka kau bisa menyembuhkannya lagi." Osamu menarik Hinata mendekat memeluknya dengan erat. Kepalanya ia sandarkan di dada Hinata, dan Osamu baru menyadari bahwa gadis kecil yang selama 10 tahun bermain bersamanya, kini sudah menjadi dewasa.
Cantik dan manis. Osamu semakin mengeratkan pelukannya, merasa nyaman ketika Hinata mengelus surai kelabunya dengan lembut.
.
.
Hinata menjadi manajer mereka dengan sangat baik. Hanya butuh waktu kurang dari 1 jam, semua anggota klub sudah menyukai gadis itu. Hinata dengan segala kebaikan yang dimilikinya, terkadang membuat Osamu risau.
"Tatapan mu itu bisa membuat kepala seseorang berlubang, Samu." Jika tatapan benar-benar bisa membunuh seseorang, Osamu sudah membuat kubangan darah di lantai gym ini.
Suna dengan ponsel di tangannya, sudah merekam Hinata dari jarak pandang yang aman— tanpa sepengetahuan Osamu, karena dia terlalu sibuk mengawasi Hinata nyaris setiap saat. "Kau jadi lebih sering bersamanya, ada apa?"
Osamu menatap Suna sesaat lalu tatapannya bergulir ke depan pintu gym. Seolah mereka melakukan telepati, Suna mengikuti ke arah mana tatapan dingin itu berlabuh, tidak kurang dari 5 siswi yang mengintip melalui celah pintu gym yang terbuka.
Suna menganggukkan kepalanya mengerti terkadang perempuan bisa jadi lebih mengerikan dibandingkan apapun. "Hinata memang seharusnya masuk klub cheerleader."
"Kau masih membahas itu?"
"Setidaknya dia lebih aman di sana— tidak sepenuhnya aman, tapi jauh lebih baik."
"Sejak kapan kau suka mencampuri urusan orang lain, Suna?" Nada suaranya lebih datar dan dingin dari biasanya. Osamu mengernyit tidak suka, Suna berkata seolah-olah dia yang paling memahami apa yang dibutuhkan oleh Hinata.
"Kau tahu? Aku hanya ingin membantumu." Suna melenggang pergi menghampiri Hinata dan mengambil botol air yang tergenggam di tangannya.
.
.
"Shouyou." Panggil Osamu.
"Ya?"
"Kau harus mengatakan padaku jika terjadi sesuatu." Pandangan matanya tidak lepas dari Hinata yang sedang memakai sepatunya tepat di depan loker bertuliskan namanya.
"Sesuatu? Seperti saat aku lupa membawa uang dan kelaparan karena tidak bisa makan?"
"Ya, semuanya, hal kecil ataupun besar." Hinata tersenyum lembut, "Osamu-san, apa ada yang mengganggu mu?"
"Tidak." Osamu mengaitkan jari-jari mereka bersama. "Hanya ingin memastikan bahwa kau aman."
Hinata menganggukkan kepalanya, "aku akan memberi tahumu secepat mungkin. Lebih cepat daripada ketika aku berlari."
.
.
Kegiatan belajar-mengajar ditiadakan selama 2 minggu, dalam rangka mempersiapkan festival tahunan yang selalu Inarizaki laksanakan.
Setiap kelas menampilkan sesuatu yang berbeda setiap tahunnya. Osamu dengan langkah santai berjalan menuju kelas 1-5—kelas Hinata. Mata kelabunya menelusuri setiap sisi ruang kelas itu. Tapi, Hinata tidak ada di sana, rambut jingga cerahnya tidak terlihat di mana pun.
"Shouyou, di mana dia?" Osamu menunduk menatap salah seorang siswi berkacamata yang dia tidak ingat namanya. "Ti-tidak tahu. Hinata-san keluar 30 menit yang lalu setelah mendapat surat entah dari siapa." Siswi yang ditatap dengan aura intimidasi Osamu itu melangkah mundur perlahan hingga ia tersandung jatuh oleh kakinya sendiri.
"Ke arah mana?" Jawaban berupa gelengan keras ia terima, Osamu menelan kekecewaannya bulat-bulat.
.
.
Osamu berlari sambil mengetikkan pesan singkat di obrolan grup klub volinya. Pesan singkat itu dibanjiri tanda tanya yang menanyakan hal yang sama. Osamu memasukkan kembali ponsel itu ke sakunya dan berlari ke arah atap.
Hinata tidak ada di atap, tempat itu kosong, tidak ada siapa-siapa di sana. Osamu mendekati perbatasan yang dipasang jeruji besi setinggi dadanya. Matanya mengamati orang-orang yang berlalu lalang di bawahnya. Tidak ada surai jingga mencolok di antara para siswa dan siswi di sana.
Mata kelabunya tersirat kegelisahan yang tak berujung, Hinata sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Bahkan sejak 5 menit yang lalu teleponnya tidak lagi tersambung.
Sekarang bagaimana Hinata bisa menghubunginya?
"Aku akan memberi tahumu, lebih cepat daripada ketika aku berlari." Kata-kata itu terngiang di kepalanya.
Osamu membalikkan tubuhnya dan mulai berlari menuruni anak tangga satu per satu. Ponselnya berdering tanpa mengurangi kecepatannya, ia membaca pesan singkat dari Suna.
Gedung sekolah lama yang sudah tidak terpakai.
Ketika ini selesai, Osamu akan melakukan dua hal. Yang pertama berterima kasih pada Suna dan yang kedua membunuh orang-orang yang sudah bermain-main dengan Hinata.
Karena kini ambang batas kesabaran Osamu sudah berada di ujung jurang. Hanya sedikit dorongan saja— kesabaran itu akan habis dan amarah akan meluap keluar tidak terkendali.
.
.
Hinata menelan salivanya gugup, ia terdorong ke dinding keras kamar mandi di belakangnya. Pisau belati pendek teracung ke arah pipinya meninggalkan goresan dan darah yang mengotori pipi dan kerah baju seragamnya.
Kedua tangannya ditahan dengan kuat oleh salah seorang siswi lainnya. Dia tidak bisa bergerak sedikit pun. "Tuan Putri terkurung dan tidak ada yang datang menyelamatkan." Hinata tersenyum sinis, ponselnya masuk ke dalam kloset, mereka membuangnya tepat ketika melihat adanya panggilan yang masuk.
Miya Osamu.
"Aku tidak suka melihatmu," katanya. "Kalau aku merusak wajah cantikmu itu, apa Osamu-kun masih mau bersama denganmu?"
"Aku bahkan tidak mengenal kalian." Kata Hinata, dia mengatakan yang sejujurnya. Di antara ke-5 siswi ada 2 orang berwajah sama dengan potongan rambut pendek berwarna cokelat.
Hinata menyimpulkan bahwa mereka berdua kembar. Ia tidak pernah melihat satupun dari anak yang sedang menyiksanya kini. Apa mereka dari kelas lain?
"Katakan padaku apa kau memberikan tubuhmu secara sukarela pada Osamu-kun?" Mereka tertawa bersamaan, menunjukkan ekspresi jijik yang ditunjukkan untuk Hinata.
Pandangan matanya menggelap, Hinata menatap dingin mereka. "Kalau begitu kalian tidak mengerti, Osamu-san bukan orang yang seperti itu. Apa kalian penggemarnya? Pantas saja Osamu-san tidak pernah melirik kalian." Kata Hinata sambil tersenyum— bukan senyuman lembut atau cerah yang biasa ia sunggingkan. Tapi senyuman dingin yang menyiratkan akan kepuasan.
Alarm peringatan bahaya dalam tubuh Hinata bereaksi. Tepat sebelum belati itu menggores lehernya, dengan cepat ia menendang siswi berambut cokelat itu dan berlari menjauh dari mereka.
Kakinya berlari menuju anak tangga. Langkahnya bergema di gedung tua itu, suara-suara umpatan kasar terdengar tidak jauh di belakang Hinata. Ia semakin mempercepat langkahnya, tangan kanannya menyeka darah yang masih mengalir di pipinya yang terluka.
Hinata meringis kesakitan ketika luka itu terkena keringat yang mengalir melalui pelipisnya. Tepat ketika Hinata tidak memperhatikan langkah kakinya, ia terpeleset oleh licinnya anak tangga yang ia turuni. Gravitasi segera menariknya tubuhnya ke bawah, 'aku akan mati.' Batin Hinata pikiran dan perasaannya diliputi ketakutan.
Tubuhnya akan menghantam lantai keras di bawahnya. Hinata memejamkan kedua matanya, ia menutupi wajahnya dengan kedua lengannya— perlindungan terakhir yang bisa ia lakukan.
Osamu-san!
.
.
Aneh... Hinata sama sekali tidak merasakan sakit, yang ada hanyalah kehangatan yang mengelilingi tubuhnya kehangatan yang membuatnya nyaman dan aman.
Hinata membuka kedua matanya, mendongakkan kepalanya menatap rambut kelabu yang tidak asing, "Osamu-san." Panggil Hinata lirih, terdengar isakan tangis darinya, air mata turun membasahi kedua pipinya yang memerah. Ia memeluk erat leher Osamu.
"Maaf aku terlalu lama." Osamu memejamkan matanya menghirup aroma strawberry yang menguak dari tubuh Hinata. "Kau aman sekarang."
Tidak lama setelah itu, Atsumu datang dengan napas terengah-engah. "Tsumu, bawa Shouyou keluar dari sini."
Hinata mengernyit bingung, berusaha lepas dari pelukan Atsumu, "kau tidak ikut kami keluar?"
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Katanya.
Hinata hendak melayangkan protes, tapi Atsumu memukulnya tepat di ulu hatinya dan dalam sekejap pandangannya berubah menjadi hitam.
.
.
Ingatannya samar-samar ketika Hinata bangun. Ia sudah terbaring di kasurnya, lengkap dengan piyama favoritnya, yang diberikan oleh Osamu di ulang tahunnya yang ke-14.
Satu minggu sejak kejadian itu tidak ada yang membicarakannya. Tapi, Hinata mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Salah satu siswi kembar yang menggoreskan pisau belati ke pipinya dikabarkan bunuh diri. Ia melompat dari atap gedung rumah sakit, sedangkan kembarannya yang satu lagi masuk rumah sakit jiwa.
Ia terus menangis dan menjerit karena ia adalah saksi terakhir yang melihat saudaranya melompat, menghantam aspal keras di bawahnya, sehingga tubuhnya hancur tidak berbentuk.
Perutnya mendadak mual dan ia mendadak tidak nafsu makan. "Shouyou-chan, apa kau sakit?" Atsumu bertanya dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
Hinata menggelengkan kepalanya dan meletakkan sumpitnya ke meja, "tidak, aku sudah kenyang."
.
.
Festival yang telah mereka persiapkan selama 2 minggu berjalan lancar. Setiap kelas menampilkan penampilan yang menghibur dan menyenangkan. Untuk kelas Hinata— kelas 1-5, mereka menampilkan drama romansa komedi yang mengundang gelak tawa para penonton.
Hinata tidak ikut andil di dalamnya, ia hanya membantu pembuatan kostum pemain. Beberapa kali ia harus tertusuk jarum karena tidak terbiasa menjahit.
Ia ingat tatapan mematikan Osamu ketika melihat 4 dari 10 jarinya harus diplester karena kecerobohannya sendiri. Tapi Hinata bersyukur drama mereka berjalan sesuai skenario yang telah dibuat.
Malam telah tiba, Hinata dan Osamu duduk di depan pintu gym, menunggu Atsumu membersihkan gym karena hari itu adalah jadwalnya.
"Osamu-san, hari ketika aku pingsan, apa yang kau lakukan pada mereka?" Jari-jari Hinata memainkan ujung jaket merah Osamu yang kini sedang ia pakai.
"Hanya mengancam mereka," katanya. "Kau tidak perlu mendengar rumor itu. Apa kau lebih percaya rumor itu dibandingkan denganku, Shouyou?" Osamu menoleh menatap Hinata dengan mata kelabunya. "Mana mungkin." Hinata tersenyum. "Aku hanya kasihan dengan mereka."
"Kau tidak perlu memikirkan mereka." Osamu mengulurkan tangannya menyentuh surai jingga Hinata yang sedikit berantakan— ia terlalu lelah memperbaiki ikatan rambutnya. "Mereka tidak pantas mendapat belas kasihan darimu." Lanjutnya dalam hati yang tentu saja tidak dapat Hinata dengar. Ia hanya tersenyum manis dan cerah seperti biasanya, dengan sedikit kata-kata setidaknya Osamu berhasil meyakinkan Hinata kembali.
.
.
Malam hari di pertengahan musim gugur Hinata bermimpi. Ia mengenakan pakaian pengantin yang terbuat dari sutra. Hiasan-hiasan di dinding putih bersih di sekelilingnya begitu menyilaukan. Sampai-sampai ia harus menyipitkan matanya.
Hinata merasa bagian kakinya basah oleh sesuatu yang lengket dan berbau amis. Ia menunduk melihat ke bawah— kubangan darah membanjiri lantai dan naik ke atas kakinya yang tertutupi oleh sepatu kaca. Gaun putih sutranya ternodai oleh darah. Ia menahan napasnya, badannya mendadak kaku, Hinata tersentak kaget ketika sebuah tangan besar dan hangat menutupi kedua matanya.
"Tidak apa-apa, Shouyou, kau sudah aman sekarang."
Ketika terbangun tubuhnya sudah basah oleh keringat. Hinata menarik napasnya dalam-dalam, tangannya ia sandarkan di dada sebelah kirinya, tepat di mana jantungnya berdetak dengan kencang.
Ia menelan salivanya gugup, melirik jam beker di meja samping tempat tidurnya, pukul 01.30. Matanya beralih ke luar jendela kamarnya, bulan bersinar dengan terang ditemani oleh beberapa bintang kecil. Langit malam yang indah, berbanding terbalik dengan mimpi buruknya.
Ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, berharap bisa kembali lagi tidur. Dan hingga pagi menjelang, matahari sudah menampakkan dirinya, Hinata tetap tidak bisa tertidur.
Hinata beruntung bahwa hari ini adalah hari Minggu. Dengan langkah gontai ia menuju ke halaman belakang rumahnya dan menyirami tanaman yang ada di sana. Hinata mendekati salah satu bunga indah bermahkotakan kuning cerah. Dia menyirami tanaman itu cukup lama.
"Menikmati pagi harimu, Shouyou?"
"Osamu-san." Hinata menolehkan kepalanya ke belakang melihat Osamu yang semakin mendekatinya. "Tanaman apa itu?" Osamu menunduk, melihat tanaman itu dari dekat. "Jangan, terlalu dekat dengan bunga itu."
Osamu melangkah mundur, "kenapa?"
"Tanaman itu beracun, aku menanamnya 3 bulan yang lalu." Katanya.
"Sayang sekali, padahal bunga itu cantik." Hinata hanya tersenyum lembut mendegarnya, "itulah kenapa aku menanamnya."
"Apa kau sudah sarapan? Aku akan memasak untukmu, Osamu-san." Hinata mematikan keran air dan melangkah menuju dapur. Osamu mengikuti Hinata dari belakang tanpa melihat lagi ke arah bunga indah yang mengingatkannya dengan sosok Hinata.
.
.
.
.
Selepas sarapan mereka memutuskan untuk menonton film di ruang tamu Hinata. Film itu sudah diputar tapi Hinata sama sekali tidak fokus dengan layar tv yang ada di depannya.
"Aku mau membuat suatu pengakuan." Hinata berkata sambil menyenderkan kepalanya dengan nyaman di pundak Osamu.
"Pengakuan?"
"Ingat di hari kematian, Obaachan?" Osamu menganggukkan kepalanya. "Hari itu aku membantunya membereskan gudang yang ada di lantai 2. Dengan penuh percaya diri aku membantunya membawa barang yang melebihi kapasitas tubuhku. Aku seharusnya terjatuh di tangga, tapi karena Obaachan juga ikut menuruni tangga bersama denganku. Jadi barang-barang itu jatuh menimpanya dan setelah itu kepalanya mendapat hantaman keras lantai dan barang yang aku bawa." Hinata berhenti dia mendongakkan kepalanya. "Aku sudah membunuh Obaachan."
"Secara tidak sengaja. Kau tidak bersalah Shouyou." Osamu mengecup puncak kepala Hinata, menariknya lebih dekat lagi. "Orang-orang yang mengganggu mu hari itu. Aku juga sudah membunuh mereka secara tidak langsung."
"Dengan mengancamnya?" Tanya Hinata.
"Ya, dengan mengancamnya. Salah mereka karena bermental terlalu lemah." Mata kelabunya menggelap, ketika memikirkan apa yang telah mereka lakukan terhadap Hinata.
Hinata menggelengkan kepalanya, "aku juga akan meloncat dari gedung berlantai 20, jika orang yang aku cintai membenciku." Hinata bangkit dan berdiri tepat di depan Osamu. Dress putih selututnya ia naikkan sedikit memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus tanpa cacat sedikitpun.
Lalu Hinata mengangkat kakinya dan duduk di pangkuan Osamu. Mata hazelnya yang biasanya bercahaya kini meredup. Kedua lengannya ia lingkarkan di leher Osamu. Mata kelabu itu nyaris tidak berkedip menatap Hinata dengan ekspresi kagum sekaligus terkejut.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Osamu, menempelkan bibir mereka bersama— lama dan lembut. "Apa kau mencintaiku, Osamu-san?"
Osamu tersenyum tipis, tanpa ragu ia menghilangkan jarak yang tersisa di antara mereka. Menikmati bibir lembut dan manis yang selalu ia rindukan.
"Selalu, sejak pertama kali kita bertemu aku sudah mencintaimu, Shouyou."
.
.
.
.
7 tahun kemudian.
Osamu menyisir surai jingga Hinata yang sudah semakin memanjang. Dia membagi rambut itu menjadi dua bagian sama rata dan memindahkannya ke depan. "Osamu-san, kau mengecat rambutmu lagi?"
"Ya, aku rasa warna rambut asliku jauh lebih nyaman. Dan Shouyou, aku tidak mengizinkan kau untuk mengecat rambutmu menjadi hitam."
"Kenapa? Padahal aku ingin terlihat seperti Ibuku," katanya. "Aku merindukannya." Osamu memeluk Hinata dari belakang, dagunya ia tumpukan di atas pundak Hinata. "Aku memiliki warna rambut yang sama dengan Ibumu bukan?" Hinata terkesima menatap Osamu dari balik pantulan cerminnya dan tersenyum, "ya, warnanya sama."
Hinata membalikkan badannya dan menangkupkan kedua pipi Osamu. Mempertemukan kedua bibir mereka bersama. Bibir Hinata terasa lembut dan manis, Osamu sedikit memiringkan kepalanya memperdalam ciuman mereka. "Aku mencintaimu, Shouyou."
Tidak peduli seberapa banyak manusia yang sudah mereka lenyapkan dengan kedua tangan mereka. Karena Osamu dan Hinata percaya kalau suatu saat nanti entah di kehidupan yang mana, mereka akan hidup di lingkungan baru dengan identitas mereka yang baru. Terlahir sebagai manusia yang baru.
Sama seperti halnya bunga Dandelion, yang akan terus tumbuh selama mereka menemukan lingkungan yang baru untuk mereka tumbuh dan berkembang.
Lagipula siapa yang peduli tentang ingatan masa lalu? Bukan Hinata juga bukan Osamu. Mereka berdua tidak peduli akan hal itu.
End.
