Seven Kings and A Girl

K

Oleh : GoRA X GoHands

Seven Kings and A Girl

Oleh : Kawaihana


Aku tak tahu dia membawa kami kemana, tapi sepertinya aku terlibat dalam suatu masalah yang aneh. Lagi pula apa sebenarnya masalah Shiro hingga dikejar-kejar orang aneh seperti preman itu?


Chapter 2

Megumi POV

Setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai di sebuah lantai atap suatu bangunan. Saat orang yang membawa kami itu melepaskan tangannya yang memegang aku dan Shiro, Shiro langsung terjatuh dan akupun pasti akan ikut terjatuh kalau tak ditahan oleh orang aneh ini sebelum setelahnya tangannya melepaskan diriku. Saat melihat ke sekeliling dank e bawah bangunan tempat kami berada, ternyata kami berada tak jauh dari stasiun. "Shiro, kita ada di dekat stasiun" Kataku pada Shiro. " Eeh… benar. Kau membawa kami ke dekat stasiun. Terima kasih sudah menolong kami" Kata Shiro pada orang tak mengatakan apapun sebelum akhirnya hendak mengikuti Shiro yang juga mau pergi dari sini. Tapi sebelum kami sempat berjalan lebih dari dua langkah, orang itu menghalangi jalan Shiro dengan pedangnya yang menurutku sangat panjang, lalu dia menggerakkan pedangnya itu yang masih tertutup sarung pedangnya hingga Shiro terjatuh. Aku menhampiri Shiro untuk menolongnya. "Shiro, kau tak apa-apa?". "Eh..iya, tak apa-apa" Shiro menjawab dan dirinya kelihatan baik-baik saja dan kelewat tenang menurutku setelah segala kejadian aneh yang baru saja terjadi, sedangkan aku sedikit gemetar karena pengalaman aneh yang pertama kali ku alami ini.

Setelah sejak tadi tak berbicara, orang aneh dengan pedangnya itu kini mulai berbicara sambil mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang. "Aku adalah pengikut dari mantan Raja Ketujuh, Miwa Ichigen… Yatogami Kuroh". Beberapa detik keheningan menandakan kalau aku dan Shiro sedang memproses kata-kata yang keluar dari orang berpedang ini yang memperkenalkan dirinya sebagai Yatogami Kuroh, tetapi tak ada yang dapat terpikir oleh kami berdua tentang 'Raja'. "Pengikut dari mantan Raja Ketujuh, Miwa Ichigen?" Aku hanya bisa mengulang kembali perkataan itu. "Ah, itu namamu ya? Senang bertemu denganmu. Aku Ishana Yashiro, dan ini Yasakani Megumi". Saat Shiro baru saja selesai memperkenalkan dirinya dan juga aku, Tiba-tiba orang bernama Kuroh itu menebaskan pedangnya dengan depat ke arah Shiro hingga badge sekolah miliknya terlepas. Aku sangat kaget dan takut hingga menyembunyikan diriku di belakang Shiro dan memegang bagian belakang seagamnya dengan keras. Seolah tak terjadi apa-apa Kuroh mulai bicara lagi "Sesuai dengan keinginan Tuanku saat dalam keadaan sekarat, aku akan menebas mati Raja Iblis!". Baiklah, kini aku semakin takut. Apa maksudnya Raja Iblis? Shiro Raja Iblis? Berbeda dengan diriku yang ketakutan dan gemetar, Shiro sepertinya tetap terlihat tenang. "Raja…apa?" Shiro malah bertanya begitu. Dia sepertinya memang tak punya takut…

Setelah itu tiba-tiba siaran iklan yang ada di gedung sebelah tempat kami berada berubah menjadi menayangkan sebuah video rekaman yang menampilkan Orang yang sangat mirip dengan Shiro membunuh orang yang sepertinya orang yang memegang dan merekam dengan kamera yang merekam adegan itu. "Yang disana itu, sudah pastilah kau!" Kuroh berkata sambil mengarahkan pedangnya pada Shiro. Aku semakin terkejut. Orang itu sangat mirip dengan Shiro, seperti kembarannya, atau malah itu benar-benar Shiro? . Dengan wajah polos nan tenangnya, Shiro malah mengakuinya yang walaupun dia akui tapi entah kenapa bagiku kata-katanya itu tak sampai setengah hati.

Kuroh kembali mengulang kata-katanya yang akan membunuh Shiro karena perintah Rajanya itu. Kali ini Aku dan Shiro berusaha melarikan diri ke arah pinte yang terbuka yang ada di belakang kami, tapi sebelum kami sempat tiba-tiba Shiro tertangkap oleh kekuatan aneh milik Kuroh itu dan kini seperti melayang beberapa meter. "Shiro! Apa yang kau lakukan. Lepaskan Shiro!" Kataku pada orang bernama Kuroh itu tapi diabaikan. "A.. Apa kau benar-benar akan membunuhku?" Shiro berkata dalam keadaan terhantung melayang. "Masih mau mengelak juga?" Kuroh berkata dengan nada membentak. Aku terus berkata pada Kuroh unyuk melepaskan Shiro, tapi sepertinya permintaanku itu hanya dianggap angina berlalu. "Aku tak melakukannya. Aku tak bersalah. "Apakah Miwa-san yang kau katakan itu menyuruhmu untuk membunuh orang yang tak bersalah?" Shiro membela dirinya. Seperti terkejut tiba-tiba Kuroh melepaskan Shiro hingga kini iya mulai terjatuh. Aku kaget dan takut kalau Shiro jatuh langsung menabrak lantai, tapi ternyata Kuroh menangkapnya dengan cara yang menurutku tak manusiawi lalu lebih parah lagi kini dia mengangkat Shiro dengan memegangnya di kerah belakang bajunya sehingga seperti memegang kucing. "Baiklah, aku mungkin memang tak terlihat seperti urang yang tak bersalah. Tapi kau pernah mendengar kata bijak kan? 'Jangan pernah menilai buku dari sampulnya, yang ada didalamnyalah yang bernilai'" Shiro berkata sambil menggerakkan tangannya seperti dalam pentas drama. "Ini bukan lah mengenai kemiripan seseorang ataupun apa yang ada di dalamnya. AKu punya caraku sendiri dalam menilai apa yang dilakukan seseorang" Kuroh membalas perkataan Shiro.

Aku sambil melihat rekaman yang sejak tadi ditampilkan dan diulang-ulang itu berkata "Dia memang terlihat seperti Shiro… tapi sepertinya dia bukan Shiro" Kataku ditujukan pada Kuroh yang masih memegang Shiro layaknya seekor kucing. "Dilihat berapa kalipun itu pastilah dia. Apa kau juga bersekongkol dengannya?!" Kuroh berkata kini ditujukan padaku. "Eh…bukan itu… Walaupun mirip, tapi raut wajahnya beda jauh kan? Sungguh berbeda dengan raut wajah polos nan bodoh milik Shiro…" Aku mengatakan apa yang ada di pikiranku. Keduanya memang mirip, tapi kalau dilihat baik-baik raut wajahnya sungguh sangat berbeda. Kalau dibilang kembarannya sepertinya lebih masuk akal. "Itu agak sakit… Megumi…" Shiro berkata sepertinya karena aku mengatakan raut wajahnya itu polos nan bodoh. "Dipikir-pikir, kalau benar aku telah membunuh seseorang…. Kenapa kau mencoba membunuhku? . Kalau kau mencurigaiku sebagai pembunuh, bukankah kau harusnya menyerahkan ku pada polisi dan biarkan jaksa atau hakim yang menentukan salah apakah aku bersalah atau tidak. Bukankah seharusnya itu yang dilakukan di negara taat hukum seperti ini?" Shiro kembali berkata sambil menggerakkan tangannya seperti sedang pentas drama. Aku hanya bisa mengangguk-ngangguk saja arti setuju. "keberadaanku disini bukan untuk menyani negara ini. Aku hanya melayani Tuanku, Miwa Ichigen" Kuroh berkata dan kata-katanya itu membuat Shiro tiba-tiba lemas seperti putus asa. "Baiklah, sepertinya tak ada gunanya beradu mulut denganmu. Silahkan lakukan saja apa maumu" Shiro berkata dengan nada pasrah. "He..hei Shiro. Apa yang kau katakan…?" Aku berkata terkejut dengan apa yang dikatakan Shiro. Kuroh mulai bersiap menusuk Shiro dengan pedang panjang yang sejak tadi tak dilepaskannya.

Takut pada apa yang akan terjadi, otomatis aku menghampiri Kuroh untuk mencoba menghentikannya. Tapi sebelum Kuroh Menggerakkan kembali pedangnya, Shiro memotong pergerakannya dengan berkata "Tapi sebelum kau melakukannya maukah kau mengabulkan dua permintaanku?" Kuroh pun menyanggupinya. Sebelum Shiro mengatakan permintaannya, dia meminta Kuroh untuk melepaskannya dulu dan ditanggapi oleh Kuroh dengan tatapan penuh curiga. "Bukan bukan. Aku tak bermaksud untuk lari. Lagipula percuma saja aku lari darimu. Kau pasti akan menangkapku sebelum aku berlari". Mendengar kata-kata Shiro, sepertinya Kuroh percaya dan melepaskan Shiro yang dari tadi diangkatnya. Melihat itu, aku langsung menghampiri Shiro. Shiro berterima kasih pada Kuroh sambil tersenyum juga padaku lalu duduk. Melihat senyumnya itu sepertinya Shiro tak berniat menyerah. Dia pasti punya rencana. Kuroh menyarungkan kembali pedangnya lalu berdiri diam seakan siap mendengarkan kata-kata permintaan Shiro. "Yang pertama, Tolong jangan ikut sertakan Megumi, dia tak ada sangkut pautnya dengan ini". Kata-kata itu membuatku menatap paa Shiro. Dia tak ingin aku terlibat pada suatu hal yang bahkan dia tak ada sangkut pautnya juga. Tapi permintaannya yang pertama itu disanggupi oleh Kuroh. Lalu setelah itu Shiro mengatakan permintaannya yang kedua. "Lalu satu lagi. Aku ingin menulis surat perpisahan, Kepada adik perempuanku". Memangnya Shiro punya adik ya…? Eh, Aku kan bahkan tak mengingat kalau aku mengenal Shiro. Tak aneh kalau aku tak tahu kalau Shiro punya adik….

Shiro melanjutkan kata-katanya "Kami sangatlah dekat. AKu tahu kalau aku tak bisa meyakinkanmu bahwa aku tak bersalah. Tapi aku tak ingin adikku beranggapan… bahwa kau dibunuh karena telah melakukan pembunuhan". Shiro mengatakannya dengan meyakinkan. Wajahnyapun terlihat sedih. Kali ini aku tak tahu apakah itu hanya acting atau sungguhan Shiro punya adik. "Dia terlahir dengan penyakit kronis dan menjalani seluruh hidupnya di rumah sakit. Sejak kecil dia tak punya banyak teman. Hanya aku dan Megumi lah yang menjadi temannya". Dia membawa namaku….! Jadi semua itu hanya akting…! Ataukah kemungkinan lainnya. Kenyataan yang aku lupakan…!? . Tapi apapun itu kelihatannya membuat wajah Kuroh melunak. Shiro masih terus melanjutkan kata-katanya kini sambil mengambil buku catatan kecil dan sebuah pulpen dari tas nya. "Jika aku mati, adikku pasti akan kesepian". Kali ini aku melihat tangannya masuk ke dalam tas dan mengaktifkan beberapa bola kecil putih yang merupakan termasuk barang yang tadi kami bawa dari toko kembang api tadi, lalu Shiro pun menengok sedikit kebelakang dimana terlihat dua buah kostum binatang yang entah milik siapa dan mengapa ada disana. Melihat dan membaca gerak-geriknya aku jadi mengerti. Semua yang dikatakannya tadi itu tentang adiknya adalah omong kosong belaka dan dia mengisyaratkan untuk bersembunyi di dalam dua kostum itu nanti.

Setelah mendengarkan permintaan Shiro tadi (Yang tentunya bohong), Kuroh menanyakan nama adiknya. Mendengar itu Shiro agak panik memikirkan nama adiknya. Aku membantunya dan menggantikannya menjawab " Mari. Nama adiknya adalah Mari". Mendengar aku menyebutkan nama itu, Kuroh tersenym sambil berkata "Ishana Mari ya? Nama yang bagus". Shiro menulis 'surat perpisahan' itu yang kulihat isinya hanya gambar diri Shiro sendiri dengan balon kalimat berisikan tulisan 'aku bohong'. Aku berusaha menahan tawaku yang untungnya berhasil kutahan.

Setelah selesai, Shiro memberikan kertas itu pada Kuroh dan memintanya untuk menyerahkan surat itu pasa adiknya bersama denganku. Dia bilang kalau aku sendiri yang memberikannya bisa-bisa aku langsung menangis di depan adiknya, jadi dia meminta kami berdua yang dmenyerahkan surat itu. Seperti untuk mendukung suasana, aku ikut berperan dengan berpura-pura agak menangis. Saat Kuroh, melihat isi surat itu dia langsung terkejut karena menyadari dirinya ditipu, sedangkan aku Shiro membuka payung merah yang selalu dibawanya itu dan menarikku untuk ikut bersembunyi di balik payungnya itu sebelumberikutnya dia menjatuhkan bola putih yang tadi diaktifkannya hingga keluarlah cahaya yang sangat terang menyilaukan mata. Di tengah kesilauan itu, aku da SHiro bersembunyu dengan menggunakan kostum boneka yang tadi.


TBC

Chapter 3 Selesai.

Mohon Reviewnya ya ^_^

Salam,

Kawaihana