Seven Kings and A Girl

K

Oleh : GoRA X GoHands

Seven Kings and A Girl

Oleh : Kawaihana


Kini kami semua hampir ambruk saking lelahnya. Hari kemarin hingga tadi malam sungguh adalah hari yang penuh dengan pelarian…


Chapter 5

Megumi POV

Kami berempat kehabisan stamina dan kini berakhir di kamar Shiro. Wajah Kuroh kini penuh corat-coret karya Neko yang entah mengapa saat wajahnya dicorat-coret oleh Neko, Kuroh seperti tak melawan sama sekali. Bukan, lebih tepatnya dia seperti tak sadar kalau Neko ada di dekatnya dan sedang mencorat-coret wajahnya dengan spidol papa tulis warna warni. Shiro pun sepertinya tak sadar akan kejadian itu.

Seperti tak kenal menyerah Kuroh mulai bersiap menarik kembali pedangnya untuk membunuh Shiro. Mengabaikan rasa lelahku aku bergerak cepat ke arah Kuroh dan menahan tanganyya yang bersiap menarik pedangnya itu, tapi tiba-tiba terdengar suara bunyi perut yang cukup keras dan itu berhasil membuat gerakan tangan Kuroh berhenti. Ternyata pemilik suara pemberitahuan lapar itu adalah Neko. Seperti menular berikutnya perut Shiro ikut berbunyi. Shiro menyarankan untuk gencatan senjata dan sarapan dulu. Awalnya Kuroh tak setuju dan tangannya mulai kembali bergerak mengeluarkan pedangnya. Aku yang sejak tadi tak melepaskan tanganku yang menghentikan Kuroh pun mulai kembali bergerak menahan Kuroh, tapi tiba-tiba perutku pun ikut berbunyi bersamaan dengan Kuroh tanda ikut mendukung saran Shiro. Wajahku memerah malu. Aku jadi ingat kemarin aku melewatkan makan malam.

Shiro dan Neko pergi ke dapur dan berdebat tentang makanan. Shiro sudah membuat nasi tapi dia tak membawa lauk apapun. Kalau diingat-ingat selama aku mengenal Shiro dia tak pernah bawa bekal sendiri. Dia hanya bawa kotak bekal kosong dan penanak nasi lalu membuat nasi di sekolah. Lauknya dia minta pada siapa saja. Kembali pada perdebatan dapur Shiro-Neko. Neko terus mengeluh dengan bahan makanan yang olehnya tak boleh dipakai. Mungkin dia tak suka, tapi itu hampir semua bahan makanan yang seharusnya digunakan untuk membuat sup miso. Aku dan Kuroh menunggu berdua di depan meja serba guna yang ada di kamar Shiro tanpa saling bicara.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara pada Kuroh dan mengatakan tentang coretan yang ada di wajahnya itu. Dia lalu mengambil sapu tangan dari saku bajunya dan membersihkan wajahnya dengan itu. Tiba-tiba mata Kuroh tertuju pada sebuah tas hitam yang ada di dekat lemari. Di ta situ tertempel selembar kertas yang ada gambar dan tulisannya. Gambarnya itu sepertinya gambar diri Kukuri yang didramatisir. Sudah pasti itu gambaran Kukuri. Sepertinya itu tas milik Kuroh yang dilupakan Kuroh dan dibawakan oleh Kukuri. Kuroh mengatakan kata terima kasih yang sepertinya ditujukan pada Kukuri sambil menutup matanya. Saat matanya menutup terlihat kalau coretan spidol yang ada di wajahnya itu masih tersisa di bagian kelopak matanya dan membuat ilusi kalau dia masih membuka matanya. Aku ingin sekali tertawa melihatnya, tapi aku berusaha menahannya.

Kuroh mengambil ta situ dan meletakkannya di meja lalu membukanya. Ternyata isinya adalah bumbu-bumbu masak dan beberapa peralatan masak. Kini perdebatan dapur tadi sudah berhenti. Kuroh menggantikan Shiro memasak dan aku menawarkan diriku untuk membantunya di dapur. Tak disangka Kuroh hebat sekali dalam memasak. Dia boleh saja membawa pedang layaknya seorang petarung atau prajurit, tapi keahlian memasaknya bagaikan seorang koki professional.

Setelah beberapa lama akhrirnya selesai juga. Menu yang terdiri dari nas putih, ikan bakar, telur dadar, natto dan sup miso terlihat sangat menggiurkan. Selaras dengan tampilannya yang rapih dan matang dengan sempurna, rasanya pun sungguh enak. Agak sulit dipercaya kalau ini buatan berempat makan bersama di kamar Kuroh dengan damai. Hampir terlupakan kalau Kuroh memiliki tujuan untuk membunuh Shiro. Aksi kejar-kejaran tadi malam bagaikan hanya mimpi saja.

Aku melihat cara makan Neko yang mirip sekali dengan kucing. Bukan namanya saja yang memiliki arti 'kucing', sifatnya juga mirip kucing. Tiba-tiba Kuroh mengeluarkan suatu benda dari saku bajunya yang kelihatannya seperti alat perekam dan dia menyalakannya. Terdengar suara seorang pria yang mengatakan sesuatu seperti puisi atau sajak yang aneh yang mengatakan tentang tata makan dengan sikap yang baik. Mungkin niatnya untuk menyuruh Neko makan dengan rapih dan sopan, tapi akhirnya dia mengatakannya sendiri. Jadi untuk apa dia menyalakan rekaman itu? Lagipula itu suara siapa?!

Sambil terus melanjutkan sarapan, Shiro bertanya pada Kuroh. "Ngomong-ngomong, mumpung ada kesempatan ada yang ingin kutanyakan padamu. Siapakah orang berapi yang kemarin mengejarku dan Megumi?". Lalu aku menambahkan kata-kata Shiro "Lebih tepatnya mereka mengejarmu Shiro, dan aku pun ikut-ikutan dikejar". Kalimatku membuat Shiro tertawa meminta maaf. Ternyata ada juga ternyata cara meminta maaf hanya dengan tertawa. Yah, lagipula sepertinya Shiro pun tak tahu apa-apa akan masalah ini. Kuroh pun menjawab pertanyaan Shiro " Salah satu anggota klan mereka terbunuh. Dan sekarang mereka ingin membalas dendam". Shiro agak memiringkan kepalanya tanda bingung lalu berkata "Anggota klan? Apa mereka itu semacam mafia atau geng motor?". Sebelum Kuroh sempat menjawab, aku pun menambahkan kata-kataku "klan? Kalau tak salah salah satu dari mereka juga mengatakan tentang itu. Dia mengira aku adalah clansman dari Shiro. Sebetulnya apa maksudnya?" Kali ini Kuroh pun menjawab " Dalam sebuah klan ada seorang raja. Dan clansman adalah anggota dari clan itu sendiri. Raja merah Suoh Mikoto adalah raja dari klan ketiga. Dari semua raja yang ada, dialah yang dikenal sebagai raja tanpa ampun". Kuroh menjelaskan tapi aku kembali bertanya " Jadi maksudmu orang bernama Suoh Mikoto ini adalah pimpinan dari kelompok orang yang memiliki kekuatan super?" Lalu Shiro menambahkan " Dan dia adalah raja ketiga, berarti masih ada kelompok-kelompok lain yang seperti mereka? Aku pasti telah dijebak oleh orang yang telah membunuh salah satu anggota mereka". Dengan nada yang agak ditinggikan dari sebelumnya Kuroh meluruskan " Kali ini tak salah lagi kaulah pelakunya. Setelah kita selesai makan aku akan membunuhmu". Pada kalimat terakhirnya Kuroh mengembalikan nada bicaranya sepeti biasa. Aku dan Shiro hanya bisa ber 'eh' serentak. Jadi Kuroh masih memegang pendiriannya tentang Shiro sebagai pelaku pembunuhan itu.

Beberapa saat kemudian….

Kini aku, Shiro, dan juga Kuroh hampir menyelesaikan sarapan kami sedangkan Neko kini duduk di atas kasur dan menikmati mangkuk nasinya yang ketiga. Tiba-tiba robot pembersih otomatis datang dan hendak membersihkan ruangan kamar Shiro. Aku naik ke atas kasur sedangkan Shiro dan Kuroh mengangkat meja agar tatami di bawahnya dapat dibersihkan. Sambil mengangkat meja, Shiro mulai membicarakan satu hal yang sebenarnya ingin kutanyakan juga pada Kuroh "Sekarang aku mengerti kenapa mereka mengejarku, tapi… kenapa kau juga ingin membunuhku? Sepertinya kau bukan anggota mereka kan?" Itu adalah hal yang sejak tadi terlintas dalam pikiranku. Orang-orang yang pertama mengejar kami berpenampilan agak acak-acakan seperti preman atau berandalan. Aura yang mereka keluarkan juga warnanya merah seperti api. Sedangkan Kuroh berpenampilan rapih selain rambut panjang kucir kudanya iu yang membuatnya terlihat agak feminim. Aura yang dikeluarkannya juga nyaris transparant seperti tak berwarna.

Akhirnya robot pembersih itu selesai melakukan tugasnya dan meja pun diturunkan kembali dan kami melanjutkan sarapan kami. Sambil sarapan, pembicaraan yang tadi masih terus dilanjutkan dan Kuroh pun menjawab pertanyaan Shiro yang sekaligus juga menjawab pertanyaan tak terucap dariku "Itu karena aku adalah bawahan dari mantan raja ketujuh, Raja tanpa warna". "Tanpa warna?" Aku dan Shiro berkata secara bersamaan. Lalu Kuroh kembali menjelaskan "Itu artinya raja yang tak memihak warna manapun. Raja terdahuluku itu memberikan perintah padaku untuk menghapuskan orang yang diklaim sebagai raja selanjutnya, dan menghabisinya jika terbukti kalau dia adalah raja iblis. Raja terdahuluku, Miwa Ichigen memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan". Mendengar kata-kata Kuroh, Shiro bergumam sendiri mengulangi kata-kata Kuroh berusaha memahami perkataannya. "Jadi suara dari rekaman tadi itu adalah suara rajamu Miwa Ichigen?" Tanyaku pada Kuroh yang dijawab dengan anggukan yang menurutku memiliki makna bangga. Aku hendak menanyakan mengenai 'Raja' yang sejak dari tadi disebutnya, tapi Shiro keburu menanyakannya lebih dulu " Pertama-tama apa sebetulnya istilah 'Raja' yang dari tadi kau sebutkan?" Aku mengangguk-ngangguk ikut setuju dengan pertanyaan Shiro. Kuroh pun menjawabnya " 'Raja' adalah seseorang yang dianugerahi kekuatan besar sebagai perwujudan hukum alam di dunia ini. Kekuatan 'Raja' itu adalah sesuatu yang telah berjalan di negara ini. Orang biasa sebetulnya tak mengetahui akan hal ini tetapi…" Penjelasan panjang dari Kuroh terpotong oleh perkataanku "Bukankah yang memegang kekuasaan tertinggi dalam mengatur negara ini adalah perdana menteri?". Kali ini giliran Shiro mengangguk-ngangguk setuju dengan pertanyaanku. "Sekarang pemerintahan dan perekonomian negara ini tak bisa berfungsi tanpa kekuatan seorang Raja. Karena salah satu Raja lah Jepang dapat bertransformasi dari negara yang dulunya kalah oleh negara tetangga menjadi sebuah negara dengan kekuatan ekonomi dan tekhnologi yang mutakhir" Kuroh kembali menjelaskan panjang lebar. Lama-lama aku merasa pusing dengan penjelasan yang dia katakan dari tadi. Ini sangat berbeda dengan kenyataan yang selama ini kutahu. "Siapakah itu?" Shiro bertanya mengenai raja yang membuat negara ini menjadi maju seperti sekarang. "Dia dikenal sebagai Raja Emas. Pengaruhnya telah meluas ke seluruh aspek masyarakat. Contohnya kedua benda ini yang dibuat oleh perusahaan yang berada di bawah kendali Raja Emas". Kuroh berkata sambil mengeluarkan sebuah handphone yang memiliki gantungan boneka yang bertuliskan 'KUROH'. Kini Shiro kembali bicara "Pimpinan orang-orang berapi itu, kau bilang tadi dia adalah Raja Merah kan? Jadi ada merah dan emas ya?" Kuroh kembali menjawabnya "Totalnya ada 7 Raja. Setiap klan memiliki perbedaan yang sangat mencolok, tergantung kebijakan tiap Rajanya. Misalkan klan merah, dengan kata lain aku menyebut mereka 'Kekerasan'. Mereka adalah klan yang memiliki ikatan yang mendalam. Membunuh salah satu anggota mereka adalah suatu hal yang sangat bodoh. Itulah karakteristik mereka". Mendengar kata-kata Kuroh, kini Shiro kembali membela dirinya akan masalah pembunuhan itu "Sudah kubilangkan itu hanya orang yang mirip denganku! Aku bukanlah Raja yang dari tadi kau bicarakan itu, dan aku pun tak pernah membunuh siapapun". Shiro menatap padaku seperti meminta tolong untuk membantu mendukung ketidak bersalahannya itu, Tapi aku tak mengatakan apapun dan melanjutkan menghabiskan sarapanku.

TBC


Chapter 5 Selesai.

Mohon Reviewnya ya ^_^

Salam,

Kawaihana