Seven Kings and A Girl

K

Oleh : GoRA X GoHands

Seven Kings and A Girl

Oleh : Kawaihana


Aku baru bertemu Kuroh dua hari yang lalu dan dia hampir saja membunuh Shiro, sedang kan untuk Shiro…. Aku bahkan tak begitu mengingatnya selain beberapa hari ini dan itu adalah satu misteri yang belum terpecahkan.


Chapter 7

Megumi POV

Sambil berjalan menuju kelas aku masih memikirkan hal yang kemarin. Bagaimana caranya membuktikan kalau Shiro itu tak bersalah? Kalau gagal aku pun bisa ikut dieksekusi oleh Kuroh… Memikirkannya membuatku sedikit merinding. Aku belum mau mati, aku masih ingin hidup….

Sambil terus memikirkan itu aku tak sadar kalau jalanku menjadi lambat dan tiba-tiba bel pelajaran pertama sudah berbunyi. "Gawat! Aku bisa terlambat...!". Aku berlari sekencang mungkin menuju ruangan kelas, semoga saja Pak Guru belum masuk….

Setelah berlari dan hampir saja ditangkap oleh robot pembersih yang super rajin itu akhirnya aku sampai di ruang kelas yang kutuju, dan untungnya Pak Guru belum memasuki kelas. Aku langsung duduk mengambil tempat duduk paling belakang. Di depanku ada Shiro dan Kukuri. Karena terlambat, tempat duduk di depan sudah banyak terusu duluan. Saat aku duduk aku baru sadar di sebelahku ada Kuroh sedang duduk di atas meja dengan tampang mengawasi.

Akhirnya Pak Guru datang dan pelajaran kini dimulai. Pelajaran pertama adalah sastra klasik. Saat Pak Guru berkeliling membacakan buku sastra yang kini sedang dibacanya, beliau berhenti di dekat tempatku dan Shiro duduk karena baru menyadari keberadaan Kuroh. "Kamu siapa ya?" Pak Guru menanyai Kuroh yang dibalas panjang lebar oleh Kuroh "Aku adalah pengikut dari Raja ketujuh, Miwa Ichigen. Yatogami Kuroh". Aku hanya bengong mendengar kata-kata perkenalan diri Kuroh yang aneh itu. Dengan cepat Shiro menjelaskan dengan kata-kata yang lebih masuk akal walaupun bohong "Maksudnya, dia ingin mengatakan kalau dia ini murid pindahan". Pak Guru tak banyak komentar dan sepertinya percaya saja kata-kata Shiro itu.

Saat Pak Guru berbalik dan hendak untuk berkeliling lagi, aku mengambil kesempatan untuk bicara berbisik pada Kuroh "Kuroh, bisakah kau tidak duduk di meja?". Mendengar kata-kataku Kuroh menghela nafas lalu turun dari meja dan duduk di kursi di sebelahku. Sekarang aku bisa lebih tenang sedikit untuk belajar, lagipula bukankah tak sopan untuk duduk dimeja saat jam pelajaran dimulai.

Tetapi rupanya fokusku tidak begitu kuat, kini pandanganku tertuju pada kucing yang biasanya ada bersama Shiro dan kini sedang tidur dengan tenang di meja Shiro. Melihat kucing itu aku jadi teringat dengan Neko, dia kemana ya?.

Saat aku memikirkan itu entah kenapa kucing yang sedang tidur itu jadi terlihat agak transparant dan sepertinya aku melihat Neko yang sedang menggunakan seragam perempuan dan memegang spidol. Bagaimana bisa? Tadi kan Neko tak ada disini? Lagi pula kenapa kucingnya jadi transparant begitu?!

Neko dengan spidol berwarna merah yang dipegangnya itu kini mendekati Kuroh dan sepertinya berniat mengerjainya lagi. Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata karena masih bingung dengan 'kucing' dan 'Neko' hingga tiba-tiba saat Neko sudah siap mencoret wajah Kuroh, Kuroh membentak "Berhenti!" dan itu membuat gerkan Neko berhenti dan saat itu pula tatapan semua murid termasuk Pak Guru menuju pada Neko. Mereka bereaksi seakan-akan mereka juga tak menyadari keberadaan Neko. Sepenuhnya.

Pak Guru kembali menghampiri kami dan bertanya "Dan kau siapa?" kali ini aku yang menjawab "Dia juga murid pindahan Pak…". Seperti kasus Kuroh tadi, Pak Guru kembali melanjutkan pelajaran tanpa banyak bertanya. Saat Pak Guru kembali berrbali dan berjalan, aku melihat Kucing yang tadi sedang tidur di meja Shiro sudah tak ada. Aku kembali bingung dengan masalah 'Kucing' dan 'Neko' ini….

Setelah pelajaran.….

Hari ini pelajaran selesai lebih cepat karena semua murid harus membantu mempersiapkan untuk festifal sekolah, tapi sebagai gantinya jam makan siang kami sedikit diundur. Dengan perut yang sudah mulai berontak lapar aku dan Kukuri kini sedang menuju kantin untuk makan siang disana. Aku melihat Kukuri membawa dua kotak bekal hari ini "Kukuri, tak biasanya kau bawa dua kotak bekal makan siang?" aku menanyakannya. "Em… yang satu lagi untuk Shiro. Kau tahu kan dia tak pernah bawa bekal dan hanya membawa penanak nasi dan membuat nasi di sekolah. Untuk lauknya dia minta pada siapa saja. Tapi kulihat dia tak pernah makan sayuran" Kukuri menjawab dan menjelaskan panjang lebar dengan sangat bersemangat. "Jadi satu kotak bekal itu isinya sayuran?" Aku kembali bertanya dan Kukuri menjawabnya dengan anggukan.

Akhirnya kami sampai di kantin, tapi pemandangan yang kami membuat Kukuri sangat terkejut. Kuroh, Neko dan Shiro duduk bersama di meja yang sama dan masing-masing dari mereka sedang memakan bekal makan siang termasuk Shiro. "Shiro…. Membawa bekal makan siang sendiri…." Kukuri berbicara seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Shiro malah berkata seperti menggoda entah siapa "Ini dibuatkan oleh istriku. Dengan cinta". Kuroh seperti kesal dengan ucapan Shiro itu dan sedikit menarik pedangnya dari sarungnya sambil mengancam akan memotong lidah Shiro karena ucapannya itu tidak lucu. Menurutnya. Dengan itu aku dapat menyimpulkan kalau bekal itu dibuat oleh Kuroh. Aku sih tak kaget kalau itu dibuatkan oleh Kuroh, karena kemarin aku sudah melihat dan mencoba demo masaknya. Rasanya memang enak.

Akhirnya aku dan Kukuri ikut makan bersama mereka dan yang pertama habis adalah Neko. Neko yang sudah selesai menghabiskan bekalnya itu bertingkah seperti meminta menambah. Kukuri menawarkan bekal yang dibawanya yang asalnya ingin dia berikan pada Shiro. Saat Kukuri membuka bekal itu, Neko sepertinya kecewa berat karena isinya sayuran semua. Aku tertawa kecil melihat tingkah laku mereka yang menurutku lucu.

Setelah semua bekal kami habis, Shiro mengeluarkan sebuah PDA yang sudah pernah kulihat. PDA dengan sebuah gantungan boneka. Itu pastilah milik Kuroh. "Darimana kau dapatkan itu? Sepertinya itu bukan PDA sekolah kita". Kukuri bertanya pada Shiro. Shiro kembali bertingkah menggoda Kuroh "Ini juga diberikan oleh istriku". Kuroh pun kembali menarik pedangnya mengancam akan memotong lidah Shiro. Lagi.

Aku melihat PDA itu sepertinya sedang menampilkan sebuah rekaman yang untukku tak asing lagi. Aku bangkit dari kursiku dan mendekati Shiro dan Kuroh untuk melihat rekaman itu. "Mau mengelak bagaimanapun kau dan orang yang ada di video ini sangatlah mirip" Kuroh berkata dengan suara pelan pada Shiro, menjaga agar Kukuri tak mendengarnya. "Tapi Kuroh, raut wajahnya sangat berbeda. Orang di video ini memiliki raut wajah sadis, sedangkan Shiro kelewat polos. Seperti yang kubilang, kalau kembar itu masih mungkin, kecuali kalau Shiro punya kepribadian ganda. Dan aku sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan ini". Aku ikut bicara dengan suara yang juga pelan.

Tiba-tiba Kukuri bergabung dengan kami. Saat Shiro mengatakan kalau video rekaman itu dia dapatkan dari Mishina, tiba-tiba Kukuri bertingkah aneh dengan pipi memerah malu. Tentu saja, kejadian memalukan begitu tak mungkin bisa dilupakan hanya dalam dua atau tiga hari.

Berikutnya…

Kini aku dan Kukuri sedang membantu persiapan festifal, sedangkan Kuroh, Neko dan Shiro sedang mencoba kostum untuk festifal nanti. Sebetulnya awalnya Kuroh enggan membiarkan ku pergi berpisah dari mereka dengan alasan dia jadi tak bisa mengawasiku, tapi dia kalah debat dengan Kukuri yang mengatakan kalau aku harus ikut membantu. Cukup Shiro saja yang menemani 'dua murid baru' ini.

Setelah berapa lama, bagianku dan Kukuri dalam membantu persiapan itu sudah selesai. Aku dan Kukuri pergi ke tempat Kuroh, Shiro dan Neko dan ternyata mereka belum juga keluar dari ruang ganti pakaian. AKu dan Kukuri mengintip kedalam dan ternyata mereka sudah selesai. Shiro memakai kostum ebisu yang menurutku itu malah menjadi seperti ebisu yan habis diet karena kurus. Ebisu kan gemuk harusnya. Neko memakai kostum dewi kahyangan. Rambut putihnya cocok sekali, sangat cantik menurutku. Lalu terakhir Kuroh hanya memakai hakama biasa, tapi sepertinya dia jadi samurai karena pedangnya sekarang ada dua. Itu pun sangat cocok dengannya. Tapi aku tak sempat mengatakan apapun tentang penampilan mereka karena sudah didahului Kukuri.

Melihat datangnya aku Kukuri, Shiro bertanya pada kami "Kukuri, Megumi, boleh minta waktu sebentar?". Sebelum Shiro menanyakan tujuannya meminta waktu pada kami, Kuroh memotongnya "Kesaksian dari Megumi dan Neko tak dihitung, karena posisi mereka ada di posisi yang sama denganmu!". Mendengar itu aku dan Shiro menghela nafas lalu Shiro kembali melanjutkan kata-katanya yang tertunda " Ini mengenai tanggal 7 Desember…". Mendengar tanggal 7 Desember diucapkan, wajah Kukuri kembali memerah karena ingat kejadian itu. Kejadian memalukan itu kan terjadi tanggan 7 Desember. Kenapa aku bisa tidak sadar ya….

Melihat wajah Kukuri yang memerah sebetulnya aku berniat mengajukan diri untuk menceritakan kejadian malam tanggal 7 Desember itu, tapi tatapan tajam Kuroh yang diberikan padaku membuatku kembali menutup mulutku. Kukuri dengan sangat malunya menceritakan kejadian itu. Setelah selesai, sambil menahan marah dan malu secara bersamaan, Kukuri berkata "Kenapa kau mengingatkanku pada hal itu lagi?". Tiba-tiba terdengar sajak aneh yang belum pernah kudengar tapi suaranya sudah pernah kudengar. Lagi-lagi Kuroh kembali menyalakan rekaman suara masternya itu….

"Kalau tidak salah itu terjadi sebelum tengah malam kan?" Shiro bertanya pada Kukuri tapi aku yang menjawabnya "Iya, sekitar pukul 23:45. Hampir semua murid melihatnya lho.." aku berkata sedikit menggoda Kukuri dan itu sukses membuat wajahnya kembali memerah. Aku merasakan tatapan tajam menusuk yang berasal dari Kuroh. "Iya sekitar jam segitu. Saat itu aku sedang bersama Megumi, tapi…. Kenapa itu begitu penting untukmu Shiro?" Kukuri menjawab dan bertanya. Kini Shiro kembali berjuang untuk alibinya "Saat itu aku ada disana kan?". "Tentang itu aku tak yakin. Kalau Megumi sih karena dari awal sampai akhir aku bersamanya jadi aku tahu. Tapi kalau Shiro…." Kukuri menjawab dengan tak yakin. Untuk yang ini aku tak bisa membantu. AKu bahkan tak ingat Shiro sebelum tanggal 8 Desember. Shiro berkata agar Kukuri mencoba mengingat lagi, tapi Kukuri malah kesal dan agak membentak kalau dia tak mungkin memikirkan hal lain lagi karena kejadian itu. Yah… aku bisa mengerti akan hal itu….

Setelah gagal mendapat informasi alibi dari Kukuri, Kini aku, Kuroh dan Shiro pergi menuju kantor OSIS. Disana pun kami tak mendapat informasi apapun. Ketua OSIS menyarankan agar kami pergi ke bagian koran sekolah. Mereka mengambil banyak sekali gambar saat hari itu. Mungkin saja Shiro ada di salah satu foto itu.

Kini kami sedang melihat kumpulan foto digital yang diambil klub koran sekolah pada malam tanggal 7 Desember. Tapi didalamnya tak ada satupun Foto yang menyertakan Shiro di dalamnya. Kini semakin mencurigakan. Kuroh pun sudah tak sabar dan mengatakan kalau Shiro benar-benar tak punya alibi. Mendengar kata 'alibi', ketua klub koran sekolah datang menghampiri. Sepertinya anggota klub koran sekolah benar-benar lengket dengan gossip masalah dan insiden…

Aku merasakan aura membunuh yang cukup kuat dan seperti yang kupikirkan itu berasal dari Kuroh yang kesabarannya hampir habis. Dia mengeluarkan sura seperti aura transparant dan raut wajahnya berubah drastis. Dia seperti siap mencabut pedangnya kapan saja. "Tunggu dulu Kuroh, Aku kan punya alibi. Jangan sertakan aku dalam eksekusi mati ini!". Shiro menatapku dan memasang tampang yang seperti mengatakan kata 'eh..!?'. sedangkan Kuroh tetap tak merubah raut wajah seramnya itu dan aura transparant dengan niat membunuh itu masih keluar dari tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara Kukuri yang memanggil kami. Saat aku melihatnya Kukuri sedang membawa sebuah dus dan beberapa barang lainnya. Sepertinya waktu istirahat sudah habis dan sekarang dia kembali mempersiapkan festifal. Harusnya kau juga membantu tapi malah mengikuti Shiro dan Kuro juga Neko. Sebagian dari itu karena Kuroh yang menyuruhku untuk ikut dan juga Shiro yang memintaku membantu membersihkan namanya, tapi malah jadi begini…..

Kuroh yang kini sudah tak mengeluarkan aura membunuh dan raut wajahnya telah kembali seperti semula itu mengambil dus yang tadi dibawa Kukuri dan membantunya membawakan du situ ke ruang guru, sedangkan Kukuri mengambil buku yang ada di atas dus itu dan berniat menyerahkannya ke ruang OSIS. Mendengar kata 'ruang guru' Shiro jadi ingat satu hal.

Sesapainya kami di ruang guru, kuroh menyimpan dus itu di sana dan kini Shiro yang beraksi meminta daftar siswa yang keluar dari akademi. Semua murid yang pergi keluar dari gerbang akan tercatat karena mereka keluar dengan menggunakan PDA yang otomatis tercatat oleh sistem saat menggunakannya untuk membuka jalan di gerbang utama. Shiro membawa hasil print dari laporan itu dan di dalamnya tak ada nama Ishana Yashiro. Untuk sementara kami berjalan dengan santai dan tenang tapi itu tak berlangsung lama.

Neko yang mengeluh haus membuat Shiro berniat membeli jus kaleng di mesin penjual otomatis. Untuk bisa membeli sesuatu di mesin penjual otomatis itu kau harus menggunakan PDA. Dan Shiro sepertinya kesulitan mencari PDA nya. Singkatnya dia tak membawanya. Akhirnya aku menggunakan PDA milikku untuk membeli minuman. "Shiro lupa lagi membawa PDA nya ya…" tiba-tiba terdengar suara Kukuri yang datang menghampiri kami. "Sepertinya…" aku menjawab singkat. "Sudah menjadi aturan kalau semua murid harus selalu membawa PDA masing-masing. Apa tak apa-apa kau selalu tak membawanya?". Kalimat Kukuri itu membuatku dan Shiro mengeluarkan butiran keringat. Aku jadi ingat, saat aku dan Shiro pergi mengambil kembang api, Shiro tak membawa PDA miliknya dan kami keluar lewat jalan lain. Kalau saat itu bisa, Shiro bisa keluar kapan saja dari akademi tanpa menggunakan PDA. Itu artinya sudah pasti namanya tak akan tercatat di daftar murid yang keluar lewat gerbang utama.

Aura membunuh kembali terasa dari Kuroh. "Kukuri. Apa Shiro jarang membawa PDA?" Kuroh bertanya pada Kukuri. "Dia selalu lupa berapa kalipun aku mengingatkannya" Kukuri menjawab tak menyadari apa yang terjadi disini. Kukuri pun memberitahukan kalau Shiro sering keluar akademi lewat jalan pintas lain, dan itu membuat aura embunuh dari Kuroh semakin membara. Dia menyuruh Kukuri untuk pergi dan menyuruhku untuk untuk menutup mata karena dia bersiap menebas Shiro. Dia mengatakan kata-kata tambahan untukku yang mengatakan kalau setelah mengeksekusi Shiro dia akan menggali lebih lanjut tentang diriku. Kalau aku benar kaki tangan Raja Tanpa Warna, aku juga harus bersiap kehilangan nyawa. Kata-katanya membuatku merinding.

Sebelum KUroh mencabut pedangnya, Shiro kembali berusaha meyakinkan Kuroh kalau dia pasti akan menemukan bukti ketidakbersalahannya, tapi Kuroh sudah tak percaya lagi. Neko yang melihat situasi itu langsung memeluk Shiro dan mengatakan pada Kuroh untuk tak membunuh 'Shiro-nya' itu, dan aku juga otomatis berdiri di depan mereka berusaha menghentikan nita membunuh dari Kuroh. "Kalian berdua minggir! Atau kalian memang bekerja padanya? Apa kalian ingin ikut mati bersama master kalian?". Neko terus memeluk Shiro dan mengatakan kata-kata tentang Shiro milik Neko dan Shiro itu orang baik. Shiro menarik tanganku dan Neko dan membuat kami kini ada di belakangnya. Melihat apa yang dilakukan Shiro sepertinya membuat Kuroh menjadi agak ragu untuk mencabut pedangnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkanya hingga membatu dan membisu seperti itu.

Shiro kembali berkata kalau dia benar-benar akan serius mencari bukti bawha dia tak bersalah. Dia mengatakan singkat kejadian-kejadian yang saat itu memang terjadi pada tanggal 7 Desember, tapi saat dia mengatakan tentang gudang, sepertinya Kukuro jadi teringat sesuatu. Kami berempat pun pergi ke gudang olahraga.

Sesampainya di gedung olah raga aku melihat ada lubang besar di langit-langit. Kukuri pun menceritakan tentang hari itu "Hari itu setelah aku lari dari insiden yang disebabkan oleh Mishina-kun, SHiro dan aku menemukan lubang besar ini bersama". "Oh, itu. Benar juga. Kukuri, kau tahu saat itu jam berapa?" Shiro menanyakannya pada Kukuri. Kukuri mengeluarkan PDA miliknya dan menampilkan foto Shiro, lengkap dengan jam pada saat foto itu diambil, Pukul 00:30. Dengan adanya Shiro di akademi pada jam segitu berarti itu tak mungkin Karen adrai tempat kejadian ke sini butuh waktu kurang lebih 1 jam. Shiro dan Neko kelihatan senang sekali karena sudah mendapatkan alibi. "Sudah terbukti kan kalau Shiro bukan Raja Tanpa Warna yang kau sebutkan itu. Itu berarti aku juga tak bersalah!" Katau pada Kuroh. Dalam hati pun aku sangat senang kalau semua ini akhirnya berakhir. Tapi…. Bagaimana bisa ada lubang sebesar itu di langit-langit gudang olah raga?

TBC


Chapter 7 Selesai.

Mohon Reviewnya ya ^_^

Salam,

Kawaihana