Seven Kings and A Girl
K
Oleh : GoRA X GoHands
Seven Kings and A Girl
Oleh : Kawaihana
Mereka bertiga sudah layaknya sebuah keluarga yang terikat erat. Aku yang dari tadi berdiri sambil bersender ke tembok, merasa tidak memiliki tempat untuk ikut pembicaraan mereka. Dalam hati aku berpikir, jika mereka bertiga adalah keluarga, apakah Kuroh lebih cocok memegang peran ibu, atau ayah ya...
Chapter 19
Megumi POV
Seperti biasanya, Kuroh terlihat akan mengeluarkan alat perekam yang berisi kata-kata dari Ichigen. Tapi, tak seperti biasanya. Kali ini Kuroh terlihat ragu untuk memperdengarkan ucapan yang direkam itu.
Mendiang Raja Tanpa warna itu memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Menurut Shiro, mungkin saja Ichigen sudah meprediksi masa sekarang, dan kita bisa mendengarkan ucapannya melalui rekaman itu yang mungkin bisa menjadi sebuah petunjuk.
"Kuroh-kun. Sepertinya kau tak akan menggunakan itu sekarang ya?" Tanyaku padanya karena Kuroh tak kunjung menyalakan alat itu, dan juga raut wajahnya yang sepertinya penuh dengan keyakinan.
"Tidak perlu. Kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya" Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Terlihat jelas saat Kuroh mengatakan kalimat itu, kedua pipi Shiro sedikit memerah.
'Ugh... Bisa-bisa muncul benih cinta terlarang disini...' Ucapku dalam hati sambil menutup mukaku dengan sebelah tangan.
"Sudah pasti kita harus menyelamatkan Kukuri dan yang lainnya. Kita bisa melakukannya bahkan tanpa bergantung dengan kata-kata Ichigen-sama" Kuroh melengkapi dialognya.
Aku merasa Kuroh yang sekarang sedang memancarkan aura kedewasaan yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Seperti sedang menyaksikan seorang remaja yang telah beranjak dewasa. Tanpa sadar aku terpana dengan itu hingga tak menyadari ucapan Shiro selanjutnya.
"Megumi-chan. Bagaimana denganmu? kau tak seharusnya terlibat dalam hal ini" Ucapan SHiro membuyarkan pikiranku yang sebelumnya masih terpana pada Kuroh.
"tentu saja aku ikut. Disana banyak teman-temanku. Tak mungkin kutinggalkan begitu saja" Ucapku dengan tegas.
"Benar juga ya. Sesaat aku lupa Megumi-chan juga siswi sekolah ini..." Ucap Shiro sambil sedikit menggaruk kepalanya.
"lah? Kau pikir aku siapa dong?" Ucapku tak percaya Shiro bisa berkata seperti itu.
Shiro hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku. Entah ucapannya yang sebelumnya itu serius atau hanya bergurau. Soalnya wajahnya seperti itu terus dari tadi. Tak jelas sedang serius atau tidak...
Sambil berjalan dan menghindari serpihan-serpihan yang ada di lantai (dan juga menghindari lubang besar itu), kami berempat keluar dari kamar Shiro yang sudah berantakan. Neko, mengatakan 'bye-bye' pada ruangan itu dengan wajah dan suara yang sedih.
Begitu kami keluar, sedang terjadi kepanikan di antara para siswa. ditambah lagi ada yang meledak.
Di antara para siswa siswi yang panik dan melarikan diri, terlihat Kukuri yang sepertinya sedang mematung melihat bangunan yang meledak.
"Kuroh! Tolong Kukuri! Dia bisa kena serpihan bangunan itu!" Ucapku pada Kuroh karena melihat kalau serpihan-serpihan besar dari bangunan yang meledak itu mengarah tepat ke arah Kukuri.
Dengan cepat Kuroh menyelamatkan Kukuri dari serpihan-serpihan yang melayang ke arahnya. Aku juga dengan cepat menghampiri Kukuri.
Namun, entah kenapa ada yanga aneh pada Kukuri. Mungkin hanya perasaanku saja tapi, menurutku ada yang ganjil padanya.
Kukuri Menatap kami berempat seakan dia tak mengenal kami. Menurutku, walaupun dia tak mengingat Shiro karena ingatannya mengenai Shiro hanyalah buatan Neko, harusnya dia mengingatku yang sudah lama sekelas dengannya.
Sebelum aku sempat bertanya padanya, terdengar suara serak seseorang yang tak asing lagi.
"Ah! Raja singa... Eh... Raja Merah!" Ucapku sambil mengarahkan jari telunjukku pada orang yang baru hadir itu secara spontan. Neko juga terlihat seperti kucing yang siap bertarung.
"Raja singa?" Ucap Shiro yang sempat mendengar ucapanku yang salah. "Hibisnya dia seperti singa. Dia juga mengangkatku seperti kucing"
"Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Kuroh penasaran.
"Ya. Saat dia menghancurkan penjara Scepter 4. Dia juga yang membawaku kemari" Jawabku.
Kuroh dan Shiro kini menatapku lekat-lekat seperti bertanya 'kok bisa?' tapi tanpa suara. Aku juga bingung cara menjelaskannya. Haruskah kubilang kalau aku ini habis diculik setelah diculik?
Raja merah itu berjalan mendekati kami dan Kuroh berusaha melindungi kami. Diantara kami berempat, hanya Kuroh yang benar-benar punya pengalaman bertarung.
"Hei hei. Kenapa ini. Bukankah kau sendiri yang memanggilku hingga aku datang jauh-jauh kemari? Lagipula, kukira kau sudah pergi kabur?" Ucapnya dengan santai. Kalimat terakhirnya sepertinya ditujukan padaku.
Aku menatap ke arah Shiro lalu pada Kuroh. Keduanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja. Mereka berdua tak terlalu bodoh untuk mengundang langsung Raja merah seperti sekarang ini.
Dari nada bicaranya yang terkesan santai, tiba-tiba sang raja merah mengeluarkan auranya yang berwarna merah. Hawa panas memancar dari tubuhnya.
Kuroh berusaha menahannya, Namun Raja merah itu malah membuatnya melayang dan terlempar.
Tiba-tiba raja merah itu seperti bingung sesaat, saat itulah kami semua berlari menghampiri Kuroh yang sedang terkapar. Rupanya Neko menggunakan kekuatannya, da lagi-lagi aku tak mengetahuinya.
Kuroh menyuruh kami untuk pergi sedangkan dia berniat melawannya sendirian. Karena Kuroh dengan lantang mengatakan pada kami untuk pergi, akhirnya kami menurutinya dan pergi menjauh. sebetulnya aku juga ingin membantu, tapi tak ada yang bisa kulakukan.
Tapi saat melihat sebuah bola api berwarna kemerahan yang semakin membesar, entah kenapa tubuhku seperti bergerak sendiri. Aku berbalik dan kembali ke arah dimana Kuroh dan bola api itu berada Tanpa mempedulikan teriakan Shiro yang memanggilku untuk kembali.
Entah apa yang kupikirkan. Aku mendekati bola api itu tanpa menyadari kalau suhu bola api itu tak terasa panas bagiku. Saat aku menyentuhnya, bola api itu pecah seperti gelembung balon.
Saat aku menyadari apa yang baru saja kulakukan, terlihat tiga orang yang sedang menatapku dengan aneh. Belum termasuk Shiro, Neko dan Kukuri. Aku juga bahkan tak tahu apa yang baru saja kulakukan. yang pasti kusadari, bagiku api yang dikeluarkan oleh klan merah itu, secara bertahap semakin tak terasa panas olehku. Seperti saat aku menyentuh bola api itu yang rasanya tak lebih panas dari uap nasi yang baru matang.
TBC
Chapter 19 Selesai
Doakan agar kebangkitan Hana yang sekarang berlangsung langgeng 😇
Mohon Reviewnya ya ^_^
Ada yang mau nebak ngk, Megumi-chan punya kekuatan seperti apa? 😁
Salam,
Kawaihana
