Disclaimer : Harry Potter and all characters belong to one and only J.K Rowling
"Sembunyikan dia" ucap seorang pria bermata onyx dengan rambut hitam pekat dan jubah serba hitam memohon pada pria berambut putih dengan kaca mata berbentuk bulan sabit didepannya, pria dengan mata onyx itu memohon dengan suara yang hampir putus asa
"Sembunyikan mereka berdua, kumohon" lanjut pria itu dengan suara parau
"Apa yang akan kau berikan sebagai balasan, Severus?" Tanya pria tua dengan kaca mata bulan sabit itu pada pria bermata onyx didepannya
"Apapun" jawab pria bermata onyx itu dengan mantap
Severus Snape, potion master sekaligus kepala asrama Slytherin di Hogwarts seperti baru saja mendapatkan sebuah teror setelah mendengar ramalan dari Trelawney baru-baru ini yang mengatakan bahwa ia-yang-namanya-tak-boleh-disebut atau the biggest dark wizard in the world mengincar dan akan membunuh seorang anak yang ternyata adalah putra tunggal Severus, awalnya Severus tak percaya bahwa ramalan itu adalah mengenai putranya namun setelah mereka menyelidiki, putranya adalah satu-satunya anak yang paling cocok dengan ramalan yang dikatakan Trelawney, itu benar-benar memukul hati Severus dan membuatnya sangat takut, putra satu-satunya yang masih begitu kecil yang lahir sekitar 10 bulan lalu, putranya dengan wanita yang sangat dia cintai yang dia nikahi dua tahun setelah dia lulus dari Hogwarts, putra mereka diincar oleh dark wizard paling berbahaya di dunia itu benar-benar membuat perasaan Severus hancur, Severus ingat betul bagaimana bahagianya dia dan istrinya saat pertama kali melihat wajah putra mereka, saat itu dia tidak tau kebahagiaannya ternyata tak akan bertahan lama
"Aku hanya bisa memikirkan satu cara" ucap pria berkaca mata sabit, kepala sekolah Hogwarts, pria yang dikenal sebagai the greatest wizard of all time, Albus Dumbledore, mendengar perkataan Albus, Severus menautkan keningnya tidak paham dengan apa yang dia katakan
"Kau harus menjadi death-eater" mata onyx Severus membulat mendengar apa yang baru saja dikatakan Albus padanya
"Are you mental?" Ucap Severus dengan nada tak percaya
"Excuse me? Ini adalah satu-satunya cara agar kita bisa mendapat informasi tentang serangannya agar kita bisa menyelamatkan putramu, Severus" ucap Albus
"Jujur saja, apa kau bisa memikirkan cara lain? Jika aku bisa menggantikanmu aku pasti akan melakukannya, tapi kau tau itu tidak mungkin, hanya kau satu-satunya yang bisa" Severus menunduk, dia tidak bisa membantah lagi, ya, Severus bahkan tidak bisa memikirkan cara lain, Albus tak mungkin menjadi death-eather dan ya, hanya dia dan Albus yang bisa melakukan hal sejauh itu untuk keluarganya, dan dalam kasus ini hanya Severus yang bisa melakukannya, jika ini satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkan putranya maka dia harus melakukannya, Severus yang sudah hampir putus asa pun menyetujui apa yang diminta Albus
"Dan satu hal lagi, kau harus diobliviate" Severus mengangkat kepalanya dengan cepat setelah mendengar apa yang dikatakan pria tua didepannya, dia harus menjadi death-eater dan sekarang memorinya juga harus dihapus? Ini sungguh gila, apa benar hanya ini satu-satunya cara?
"Tidak, aku tidak bisa menyetujui yang satu ini" Severus menolak keras apa yang baru saja dikatakan Albus padanya
"Terlalu berbahaya pergi ketempat Voldemort dengan semua memori yang kau punya, Severus!" Albus menatap Severus tajam dan menekankan setiap kata yang dia ucapkan
"Aku tau kau occlumens handal, tapi kita tetap harus waspada" lanjut Albus dengan suara yang melembut, Severus kembali menunduk, memang benar terlalu berbahaya membawa semua memorinya didekat Voldemort, walaupun Severus adalah seorang occlumens handal, dia tidak tau kapan dia akan membuat kesalahan, semua orang bisa melakukan kesalahan, dan itu akan membahayakan orang-orang yang dia sayang
"Lalu bagaimana dengan istriku?" Tanya Severus dengan kesedihan yang tak bisa dia sembunyikan
"Aku akan mengatur kehidupan baru sementara untuknya agar Voldemort tak curiga denganmu, lagipula yang tau tentang pernikahanmu hanya aku dan menteri" Severus menautkan alisnya, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Albus tentang kehidupan baru
"Severus kau cukup fokus dengan tugasmu sebagai death-eater" lanjut Albus cepat tidak membiarkan Severus protes lagi
Setelah berpikir cukup lama, Severus pun menyetujui syarat dari Albus yang tentu saja dengan berat hati, lagipula Albus sudah berjanji akan menyimpan semua memori Severus dan akan mengembalikannya setelah mereka berhasil mengalahkan Voldemort.
Setelah mereka berdua sepakat mereka memutuskan untuk segera menjalankan rencana mereka malam ini juga untuk berjaga-jaga karna mereka tidak tau kapan penyerangan akan dilakukan, agar Severus bisa segera menuju ke tempat Voldemort untuk mendapatkan semua informasi tentang rencana penyerangan itu, Albus juga sudah menyuruh Kingsley Shacklebolt untuk memindahkan istri dan putra Severus tempat lain dan memintanya untuk menjelaskan pada istri Severus tentang rencana yang sudah disusun Albus.
.
.
Setelah Kingsley memindahkan istri dan putra Severus dan menginformasikannya pada Albus, Severus meminta izin pada Albus agar dia bisa mengunjungi keluarganya untuk terakhir kali sebelum dia diobliviate, Albus mengizinkannya pergi namun memberinya saran agar sebaiknya dia tidak secara langsung menemui istri dan anaknya untuk menghindari kecurigaan karna mereka berdua baru saja dipindahkan ketempat lain, Severus mengiyakan saran Albus, Severus tidak bodoh, dia tidak mungkin secara terang-terangan pergi menemui keluarganya mengingat situasi yang akan dia jalani sebentar lagi
Severus tiba ditempat dimana Albus memindahkan istri dan putranya, dia memakai jubah yang menutupi wajahnya agar tak dikenali untuk berjaga-jaga jika mungkin ada orang disekitar sini, perumahan disini nampak sangat damai, dengan rumah-rumah bergaya Eropa modern yang cukup besar, Severus mendekat kesalah satu rumah disitu dan melihat dari luar jendela disana ada seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil ditangannya dengan senyuman lebar diwajahnya, Severus menatap wanita dan anak itu dengan sedih, dia ingin sekali menerobos kedalam dan memeluk keduanya namun dia tau dia tak bisa melakukannya, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat berusaha menahan semua perasaan yang berusaha keluar, Severus menundukkan kepalanya, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, menahan air mata yang hampir mengembang dipelupuk matanya, dia kembali mengangkat kepalanya dan memandang dua orang yang sangat berarti baginya dengan senyuman, namun matanya tak bisa berbohong, ada begitu banyak kesedihan dibalik senyuman itu
"Sampai jumpa nanti, aku mencintai kalian berdua" gumam Severus pelan, walaupun berat, dia memutuskan untuk tidak berlama-lama dan segera kembali ke Hogwarts, Severus berjalan menjauh dari rumah itu dan ber-apparate ke Hogwarts dengan perasaan yang bercampur aduk
"Apa kau siap, Severus?" Tanya Albus setelah menyimpan semua memori Severus, Severus yang duduk didepan Albus hanya mengangguk setelah memantapkan hatinya, Albus mengangkat tongkatnya kearah Severus, saat itu Severus sadar bahwa semua ini nyata, kejadian yang awalnya dia kira hanyalah mimpi buruk ternyata nyata, hati Severus seperti tersayat memikirkan bagaimana nanti dia akan menjalani hidup tanpa istri dan putranya, bagaimana dia harus dipaksa menjalani hidup tanpa memori tentang mereka berdua, Severus membeku seperti baru saja terkena mantra petrificus totalus, Severus mengedipkan matanya dan kembali mendapatkan kesadarannya yang sempat melayang entah kemana
"Aku titip istri dan putraku padamu, father" ucap Severus lemah pada pria tua yang mengadopsinya saat dia berusia 16 tahun, Albus mengangguk sambil tersenyum tipis
"Obliviate" ucap Albus pelan menerapkan mantra untuk menghapus ingatan pada Severus, saat itu Severus bisa melihat tongkat Albus seperti menarik cahaya putih keluar dari kepalanya, saat itu juga memori tentang keluarga kecil Severus, memori tentang istri dan putranya perlahan memudar dan menghilang, air mata jatuh dari mata onyx Severus, dia memejamkan matanya perlahan kemudian kesadarannya pun hilang
10 Years Later Hogwarts
Dua orang anak laki-laki dengan seragam Gryffindor terlihat berlari dengan cepat menyusuri koridor yang sepi, anak yang satunya memakai kaca mata bundar dengan rambut coklat berantakan dan anak yang satunya lagi berambut merah dengan jubah yang terlihat usang, mereka berdua sepertinya sedang tergesa-gesa untuk menuju kesuatu tempat, kedua anak itu melambatkan langkah mereka setelah tiba didepan sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar, mereka berdua mendorong pintu itu dan masuk kedalam ruangan yang sudah dipenuhi murid yang terlihat sedang belajar, kedua anak ini segera berjalan dan berdiri disamping tempat duduk yang masih kosong yang berada dipaling depan ruangan
"Wah, apa kau bisa membayangkan wajah McGonagall jika melihat kita terlambat?" Ucap anak berambut merah melihat kursi Professor yang masih kosong, mengira mereka berdua cukup beruntung setelah datang sangat terlambat
Namun rasa lega mereka berdua hilang saat kucing yang duduk dimeja tiba-tiba melompat dan berubah menjadi McGonagall yang langsung berjalan dan berdiri tepat didepan mereka berdua
"that was brilliant!" ucap anak berambut merah dengan mata yang membulat karna terkejut, anak berkaca mata bundar yang berdiri disebelahnya pun mengangguk tak kalah terkejut
"Terima kasih atas pujiannya, Mr. Weasley, mungkin aku harus mengubah kalian berdua menjadi arloji agar kalian tak terlambat" ucap Professor McGonagall guru transfigurasi sekaligus kepala asrama Gryffindor, Ron Weasley, anak berambut merah itu hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan wanita tua itu
"Kami tersesat" ucap anak berkaca mata bundar
"Atau mungkin aku harus mengubahmu menjadi peta, Mr. Potter? Aku percaya kalian tak butuh peta untuk menemukan tempat duduk kalian" kedua anak itu pun langsung duduk dan mulai menulis tugas yang diberikan Prof. McGonagall
Harry James Potter, atau yang dikenal dunia dengan julukan the boy-who-lived setelah mengalahkan Voldemort saat dia berusia 1 tahun, kejadian itu membuat seluruh dunia mengenal Harry dan menyebutnya sebagai anak yang menyelamatkan wizarding world dan membuatnya menjadi sangat populer, namun Harry kecil disembunyikan dari semua ketenarannya dan tinggal dengan paman dan bibi muggle nya di Little Whinging setelah kematian orang tuanya Lily dan James Potter, Harry baru saja mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang wizard tepat dihari ulang tahunnya yang ke 11 saat dia menerima surat undangannya untuk bersekolah di Hogwarts, dia tidak mengetahui apapun tentang wizarding world sebelum dia datang ke Hogwarts, dia bahkan masih menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya sekarang
Setelah kelas transfigurasi, murid tahun pertama Gryffindor dan Slytherin berpindah keruang bawah tanah untuk mengikuti kelas ramuan, berbeda dengan ruangan kelas transfigurasi, kondisi kelas ramuan cukup remang mengingat letaknya yang berada beberapa meter dibawah tanah yang tentu saja tak dapat dijangkau oleh sinar matahari, murid-murid Gryffindor dan beberapa murid Slytherin terlihat agak tak nyaman, beberapa menit kemudian seseorang membuka pintu dengan suara yang sangat keras, sontak semua murid menatap kearah pintu karna terkejut, murid-murid menatap seorang pria tinggi berpakaian serba hitam dengan kibasan jubah yang terlihat mengangumkan berjalan masuk kedalam kelas
"Aku tidak ingin mendengar atau melihat lambaian tongkat bodoh dikelas ini" ucap suara dingin dan berat pria itu setelah tampil tepat di depan kelas menghadap kearah murid-murid dengan tatapan dingin dan tajam, murid-murid terlihat sangat terintimidasi dengan kehadian guru ramuan mereka
Prof Severus Snape guru ramuan sekaligus kepala asrama Slytherin memulai kelasnya dengan pidato singkat kemudian disambung dengan penjelasaan tentang apa yang akan mereka pelajari, namun saat dia sedang berbicara seorang anak menarik perhatiannya karna terus menunduk tak memperhatikan dan itu membuatnya sedikit kesal, Harry Potter sibuk dengan pena bulunya menyalin setiap kata yang diucapkan guru ramuannya, sayangnya Professor Snape tak tau itu, yang dia lihat Potter tidak memperhatikan dia yang sedang berbicara di depan
"Namun sepertinya ada yang datang di Hogwarts dengan kemampuan luar biasa yang membuatnya cukup percaya diri untuk tidak memperhatikan!" Ucap Snape dengan suara agak marah dan menekankan setiap kata pada bagian terakhir kalimatnya, Hermione Granger, siswi Gryffindor yang duduk tepat disebelah Harry menyenggol Harry dengan sikunya dan mengisyaratkan dengan matanya agar Harry menatap kedepan, Harry pun menatap kedepan dan menyadari bahwa kata-kata Prof Snape ternyata mengarah pada dirinya
"Mr. Potter, selebriti kita yang baru" Snape memandang Potter dengan jengah sementara Harry menautkan alisnya heran mendengar sindiran halus guru ramuannya itu
"Katakan padaku apa yang akan aku dapatkan jika aku mencampur akar asphodel dan wormwood" tanya Snape pada Harry dengan sangat cepat, Hermione yang duduk disebelah Harry mengangkat tangannya dengan cepat namun diabaikan oleh Snape karna pertanyaan itu ditujukan untuk Harry, Harry menatap Hermione sejenak kemudian menggeleng kearah Snape karna dia tak mengetahui jawabannya
"Kau tidak tau? Well mari kita coba lagi, Mr. Potter, dimana akan kau cari jika aku menyuruhmu untuk mendapatkan bezoar untukku?" Tanya Snape lagi, dan Hermione kembali mengangkat tangannya
"Aku tidak tau, sir" jawab Harry dengan suara pelan
"Apa perbedaan monkshood dan wolfsbane?" Kembali Snape bertanya dan lagi-lagi Hermione mengangkat tangan yang tentu saja kembali diabaikan Snape
"Aku tidak tau, sir" jawab Harry lagi sambil menggeleng dengan perasaan kecewa pada dirinya sendiri
"Menyedihkan, jelas ketenaran bukan segalanya, bukan begitu, Mr. Potter?" Ucap Snape dengan nada merendahkan
"Jelas Hermione tau jawabannya, sungguh menyedihkan anda tak bertanya padanya" balas Harry dengan nada kesal setelah mendengar ejekan Prof Snape, murid-murid Slytherin tertawa pelan sambil menggelengkan kepala mereka sementara Gryffindor memasang wajah horor tak percaya dengan perkataan Harry, bahkan Harry sendiri tak percaya dengan apa yang barus saja dia katakan
"Diam" ucap suara dingin Snape sambil menatap Harry marah, beberapa detik kemudian dia turun dari tempat dia berdiri dan berjalan kearah Harry, setelah menyuruh Hermione menurunkan tangannya, Snape menarik sebuah kursi dan meletakkannya tepat didepan meja Harry sambil menaruh tangannya diatas meja Harry
"Sebagai informasi Potter, campuran akar asphodel dan wormwood akan menciptakan sebuah ramuan yang sangat kuat yaitu draught of the living death, bezoar adalah batu dari perut kambing yang bisa menetralkan berbagai jenis racun, monkshood dan wolfsbane adalah tumbuhan dari klan yang sama yang dikenal dengan nama aconyte" jelas Snape panjang lebar sementara Harry menatap guru ramuannya dengan tajam, saat itu mata onyx Snape bertemu dengan mata emerald Harry, dan itu membuat Snape cukup terkejut, Snape berusaha mengontrol ekspresi diwajahnya yang hampir saja keluar, entah mengapa dia merasa seperti sangat akrab dengan mata emerald milik Harry dan itu membuatnya sedih, seperti ada perasaan rindu dan sedih pada diri Snape untuk mata emerald itu, mata emerald itu mengingatkan dia pada seseorang, tidak bukan Lily tapi orang lain, tapi siapa orang lain yang memililiki mata emerald yang dia rindukan selain Lily? Dan kenapa itu membuatnya sedih? Siapa yang dia rindukan sehingga membuatnya sedih? Dia bahkan tidak ingat jika dia memiliki siapapun untuk dirindukan selain Lily sahabatnya
"Well kenapa kalian tidak menyalin apa yang aku katakan?" Ucap suara dingin Snape yang terdengar makin dingin, murid-murid yang merasa takut segera meraih buku mereka dan menyalin apa yang baru saja Snape katakan, Snape pun berdiri, berjalan kedepan dan duduk di tempatnya
"Gryffindor, 5 poin akan diambil dari asrama kalian karna ocehan teman kalian" ucap Snape sambil meraih pena bulu dan menulis entah apa dikertas setelah sejenak menatap kearah Harry, sementara Harry masih sibuk menatap guru ramuannya dengan tatapan dingin, setelah puas menatap Snape, Harry kembali fokus pada bukunya dan menyalin apa yang baru saja Snape jelaskan, dan Snape yang masih merasa sedikit janggal kembali menatap Harry dengan berbagai macam pertanyaan dikepalanya
.
.
"Apa masalah Snape?" Ucap Ron kesal setelah mereka naik dari dungeon dan berjalan menuju menara Gryffindor
"Dia sepertinya hanya tak menyukaiku" Harry berbicara dengan nada datar "aku tak menatap kedepan karna aku menyalin semua yang dia katakan agar aku tak lupa" sambung Harry pelan dengan nada sedih, sebelum datang ke Hogwarts potion sebenarnya adalah mata pelajaran yang paling dia tunggu tapi melihat sikap guru ramuannya terhadapnya tadi sepertinya kelas ramuannya tidak akan berjalan seperti yang dia harapkan sudahlah aku tak peduli lagi pikirnya
"Abaikan saja dia, he is such a git anyway" gumam Ron masih dengan nada kesal, Harry tak meresponnya
HP
Di pagi berikutnya setelah sarapan, burung hantu milik keluarga para murid terbang masuk kedalam Great Hall membawa surat yang dikirim orang tua mereka, para murid terlihat sangat antusias saat menangkap surat-surat yang dijatuhkan burung hantu mereka, Harry yang duduk bersebelahan dengan Ron hanya menatap murid lainnya dengan sedih seandainya ada yang mengirim surat untukku juga pikir Harry, Harry menatap daily prophet yang diletakkan Ron dimeja sementara dia membaca sebuah surat, Harry memutuskan untuk meminjam koran Ron setidaknya untuk membuat Harry sedikit sibuk
"Boleh ku pijam" tanya Harry pelan sambil menunjuk koran dimeja, Ron hanya mengangguk sepertinya dia terlalu sibuk membaca suratnya "thanks"
Saat membalik koran dia menemukan berita yang menarik perhatiannya
"Hey Ron! Lihat ada yang mencoba mencuri di Gringotts!" Ron mengalihkan pandangan pada Harry karna terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar
"Seseorang berusaha mencuri di Gringotts?!" Sembur Ron dengan mata yang melebar
"Ini bukan hal yang wajar kan?" Tanya Harry, Ron menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya
"Gringotts dikenal sangat aman tak ada orang yang berani mencuri disana" Hermione yang duduk didepan mereka tiba-tiba bergabung dengan pembicaraan mereka karna dia tak sengaja mendengar tentang berita yang Harry baca, Ron mengangguk menyetujui perkataan Hermione
"Tapi tidak ada yang dicuri, vault itu dikosongkan dihari sebelumnya, ini aneh" Harry mengerutkan dahinya "vault yang dibobol adalah vault 713, itu vault yang aku datangi bersama Hagrid" Harry menatap Ron dan Hermione bergantian, mereka berdua juga sepertinya merasa aneh dengan fakta ini
"Kau tau apa yang diambil Hagrid di vault itu?" Tanya Hermione
"Tidak, Hagrid segera mengantonginya, dia mengatakan itu top secret" jawab Harry membuat ketiga anak itu berpikir keras
HP
"Selamat datang di pelajaran terbang pertama kalian" sapa Madame Hooch
"Apa yang kalian tunggu, berdiri disebelah sapu kalian, angkat satu tangan kalian dan katakan up" ujar instruktur terbang sekaligus wasit Qudditch itu, para murid pun segera mengikuti instruksi Madame Hooch
Sepersekian detik kemudian seluruh lapangan dipenuhi dengan suara para murid yang terus berkata UP, beberapa dari mereka berhasil tapi kebanyakan masih bergelut dengan sapu mereka
"Up!" Harry tersenyum kecil karna berhasil pada percobaan pertamanya, sapu yang awalnya tergeletak ditanah kini berada ditangannya
"Up" ucap Ron dengan nada setengah memohon karna belum juga berhasil "up!" Kali ini dia kesal dan dia makin kesal setelah sapu itu malah menghantam dahinnya
Setelah beberapa menit mereka semua berhasil memegang sapu mereka
"Naik kesapu kalian setelah hitungan ketiga, sentakkan kaki kanan kalian, melayang sedikit kemudian segera turun" ucap Madame Hooch, tapi bahka sebelum dia mulai memulai hitungan Neville Longbottom tiba-tiba mulai melayang tidak bisa mengontrol sapunya
"Mr. Longbottom turun sekarang!" Perintah Madame Hooch namun Neville bahkan tidak tau bagaimana caranya turun, sapunya tiba-tiba makin meninggi dan terbang sangat cepat, sapu itu membuat Neville melayang kesana kemari bahkan membuat gerakan-gerakan berbahaya, mereka semua bisa mendengar tangisan Neville, para murid Gryffindor terus berteriak dengan suara panik sementara para Slytherin berusaha menahan tawa mereka, Neville pun terjatuh setelah sapunya menghantam dinding dengan keras, semua orang segera berkumpul didekatnya
"Oh tangannya patah" gumam madame Hooch setelah memeriksa Neville "aku akan kembali setelah aku membawanya ke hospital wing, jika aku melihat ada sapu diudara orang yang menaikinya akan keluar dari Hogwarts bahkan sebelum dia bisa mengatakan Quidditch" ucap madame Hooch dengan nada memperingatkan sambil menuntun Neville ke hospital wing
Suara tawa para Slytherin kini terdengar setelah madame Hooch pergi
"Kau lihat wajah si bodoh tadi?" Ucap Malfoy kearah teman-teman asramanya sambil tertawa "jika Longbottom melihat benda ini dia pasti akan ingat bagaimana bodohnya dia saat jatuh" sambung lelaki blonde itu sambil memegang remembrall milik Neville yang tidak sengaja jatuh tadi, para Slytherin tertawa dengan ocehan teman seasrama mereka itu
"Berikan padaku, Draco" ucap Harry sambil berdiri tepat didepan Malfoy
"Tidak, aku akan menyembunyikan ini dan Longbottom yang akan mencarinya sendiri" tawa Malfoy hilang dia menatap Harry dengan tatapan tajam, masih demdam setelah Harry menolak ajakannya untuk berteman dihari pertama mereka tiba di Hogwarts, Malfoy menaiki sapunya dan terbang keatas, dia terbang dengan lancar cukup mahir untuk siswa tahun pertama
"Bagaimana jika aku menaruh ini di atap?" Malfoy tersenyum sinis kearah Harry
Harry pun terbang menyusul Malfoy tak mempedulikan Hermione yang berusaha menghentikannya, saat Harry berada diudara Malfoy tiba-tiba melempar remembrall Neville dengan keras, Harry yang terkejut segera terbang dengan kecepatan tinggi mengejar remembrall itu, Harry berhasil menangkapnya dan sebelum dia menabrak dinding dia berputar dengan gerakan yang berbahaya dan menghentikan sapunya diudara, Harry menatap remembrall itu dengan bahagia setelah berhasil menyelamatkannya, Harry pun turun kebawa dan para Gryffindor segera mengerumuninya dan memberikan dia pujian, Harry sedikit canggung karna tidak terbiasa dengan situasi ini
"Harry Potter!" Terdengar suara yang cukup keras memanggil dari arah belakang Harry, Harry berbalik dan mendapati kepala asramanya menatapnya dengan tajam
"Ikut aku" ucap McGonagall dengan suara datar, Harry mengikutinya dari belakang dengan gugup, dia bisa mendengar Slytherin menertawakannya
"Kau menjadi seeker baru Gryffindor?" Tanya Ron dengan semangat setelah bertemu Harry, Harry berpikir McGonagall membawanya untuk diberikan detensi tapi ternyata mereka menemui Wood, kapten Quidditch asrama Gryffindor, McGonagall memberitahu Wood dia ingin Harry menjadi seeker Gryffindor
"Padahal siswa tahun pertama biasanya tidak boleh bergabung di tim, ku dengar kau seeker termuda abad ini!" sembur Ron, sepertinya dia bahkan yang lebih bersemangat tentang berita ini dari pada Harry
"Aku hanya beruntung, aku melanggar peraturan, tapi bukannya dihukum aku malah dihadiahi, kurasa ini tidak benar" ucap Harry jujur dengan setiap kata yang dia ucapkan
"Oh come on Harry, kau pantas mendapatkannya" Ron mencoba menyemangatinya, Harry hanya tersenyum tawar
Hari masih sangat pagi, Harry yang sudah terbiasa bangun pagi dan merasa bosan di asrama memutuskan untuk keluar untuk menikmati suasana kastil yang masih sepi, masih ada sekitar satu jam sebelum sarapan, Harry duduk di koridor dekat danau dan mangerluarkan buku potion dan membacanya, Snape memberikan banyak sekali essay, Harry ingin menjawabnya dengan baik setelah insiden di kelas potion pertamanya, awalnya setelah insiden itu dia tidak ingin mempedulikan potion untuk kedepannya tapi dia berubah pikiran, Harry tidak ingin Snape terus berpikir kalau dia datang ke Hogwarts hanya bermodal terkenal saja
"Potter?" Ucap suara dingin yang terdengan familiar, Harry menatap ke arah asal suara itu dan mendapati Snape berdiri tak jauh darinya
"Professor?" ucap Harry dengan mata membulat, Harry segera berdiri masih sambil memegang buku potion making nya, dia tak menyangka akan bertemu dengan guru ramuannya sepagi ini, jantung Harry tiba-tiba berdetak sangat cepat dan kuat, dia bahkan khawatir jika Snape mendengarnya
"Good morning Professor Snape" Harry menyapa Snape dengan sopan, Snape menggangkat sebelah alisnya mendengar sapaan Harry, apa aku tak salah dengar? Seorang Potter baru saja menyapaku dengan well sopan pikir Snape tak percaya, pandangan Snape pun jatuh pada buku potion yang dipegang Harry, Harry mengikuti arah tatapan Snape dan sadar Snape sedang menatap buku ditangannya, Harry kembali melayangkan pandangan pada Snape dengan gugup
"Jadi apa yang kau lakukan sepagi ini disini?" Tanya Snape dengan nada dingin nya yang biasa sambil menatap Harry
"Aku terbiasa bangun pagi, aku agak bosan di asrama karna itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan dan membaca buku, well disini sangat indah" Harry melayangkan pandangan pada danau didepannya sambil tersenyum
"Ah berkeliaran di kastil? Seperti yang kuduga, jangan terlalu angkuh, Potter" senyuman Harry tiba-tiba hilang setelah mendengar perkataan Snape, Harry tidak mengerti apa yang salah dengan berjalan-jalan dipagi hari, karna itu sama sekali tak melanggar peraturan
"Jika anda marah padaku karna kejadian di kelas, aku sungguh minta maaf, aku tak bermaksud membalasmu seperti itu, aku tau perbuatanku salah" tutur Harry tulus
"Aku tak terkejut, aku sudah mengira sikapmu tak sopan seperti itu, kau pasti dimanjakan dirumah, benar kan?" Snape mengatakan itu dengan cepat mengabaikan wajah Harry yang sepertinya terluka mendengar perkataannya
"Bangun!" Teriak Petunia sambil menggedor pintu lemari dibawah tangga yang Harry pakai sebagai tempat tidurnya
Harry kecil pun segera bangun dan memakai kaca matanya dan berlari ke dapur
"Buatkan aku kopi!" Perintah Vernon saat pria gemuk itu masuk ke dapur
"Baik uncle Vernon" jawab Harry patuh
"Kau memiliki banyak tugas hari ini, aku ingin kau melakukannya dengan baik dan tak melakukan kesalahan, setelah selesai memasak sarapan, cuci mobil, cuci baju, berkebun, membereskan kamar kedua Dudley, dan tugas lainnya yang sudah kutulis disini" ucap Petunia sambil menyerahkan note berisi list tugas yang harus Harry kerjakan "jika kau melakukan sedikit saja kesalahan aku tak akan memberimu makan selama seminggu!"
Setelah selesai membuatkan sarapan untuk Dursley, Harry segera keluar dari dapur untuk melakukan tugasnya, pagi ini seperti biasa dia tak mendapatkan sarapan, kata Petunia dia mungkin akan memberikan Harry makan jika Harry melakukan tugasnya dengan baik
Harry naik ke lantai dua untuk membereskan kamar kedua Dudley yang dia pakai untuk menyimpan mainannya, Harry mulai membersihkan ruangan itu dengan tekun
"Dor!" Harry yang terkejut karna suara Dudley refleks melompat kecil dan tak sengaja menginjak salah satu mainan Dudley yang tergeletak dilantai sehingga mainan itu rusak
"Kau merusak mainanku, you freak!" Teriak Dudley dengan wajah memerah karna marah, dia mendorong Harry keras membuat Harry terjatuh dan membentur lantai, Dudley memungut mainannya yang rusak dan berlari ke lantai bawah, Harry panik dan menyusul Dudley kebawah mengabaikan rasa sakit di tubuh kecilnya
"Daddy lihat si freak merusak mainanku!" rengek Dudley pada ayahnya dengan suara menyebalkan, Vernon meletakkan koran yang sedang dia baca dan berjalan ke arah Harry yang terhenti di pintu dapur
"Aku tidak sengaja, sungguh, maafkan aku, aku akan menjadi anak yang baik, tolong jangan pukul aku" ucap Harry dengan suara memelas karna takut, tapi saat itu juga Vernon mengayunkan tangan besarnya pada pipi Harry dengan keras, air mata Harry jatuh dia memegang pipi kecilnya yang mulai memerah karna tamparan Vernon
"Berani sekali kau membuat Dudley menangis!" Teriak Vernon sambil menarik rambut Harry, Harry menangis namun berusaha untuk tak bersuara karna dia takut akan dipukul
"Freak! Kau memang tak berguna sama seperti orang tuamu! Kau baru saja kehilangan jatah makanmu selama seminggu!" ucap Petunia yang berdiri disebelah Dudley sambil memeluk anaknya, Dudley tersenyum sinis ke arah Harry namun orang tuanya tak melihat itu, lagipula walaupun mereka melihat juga tak akan ada yang berubah
"Cepat lanjutkan pekerjaanmu dan jika kau melakukan kesalahan lagi aku akan mengurungmu di ruanganmu selama musim panas!" Vernon menendang Harry keluar dari dapur, Harry pun berjalan keluar rumah untuk mencuci mobil mengabaikan pipinya yang memar, serta kepala dan kakinya yang sakit karna perbuatan pamannya
Harry menunduk dia bahkan tidak tau betapa buruk keadaanku dirumah pikir Harry sedih
"Selamat, kudengar kau menjadi seeker baru Gryffindor" ucap Snape lagi
"Aku dihadiahi posisi itu setelah melanggar peraturan, aku tau ini tidak benar, seharusnya aku dihukum" jawab Harry pelan tak menatap guru ramuannya
"Tipikal Gryffindor, hadiah setelah melanggar peraturan, menyedihkan" suara Snape terdengar lebih dingin, Harry menatap Snape dalam diam tak berniat membalasnya, Harry sudah terbiasa dengan kata-kata kasar yang sering bibi dan pamannya katakan, dan Harry juga sudah terbiasa tidak membalas mereka karna itu Harry memutuskan untuk diam saja agar masalah tidak menjadi lebih besar
Snape berlalu dari sana setelah melihat Harry yang terdiam, Harry terus menatap punggung Snape sampai Snape berbelok diujung koridor
TBC
.
.
.
.
.
NOTE : Maaf banget aku sebenarnya cuma iseng doang posting ini wkwk awalnya cuma mau save di dokumen doang
Gaje banget gk sih? Kalian tidak sendiri aku juga cringe sendiri pas baca wkwk btw se-gaje apapun ceritanya enjoy! (apaan sih gaje wkwk)
Oh iya kalo ada yang mau kasih saran atau masukan buat next chapter atau bahkan mau bantu edit cerita ini biar lebih bagus bisa dm langsung disini atau di ig/twt
P.S INI UDAH DI EDIT YAA!!! Setelah baca The Veiled Truth (recommended banget) aku mutusin buat ngubah sifat Harry jadi soft and a whole sweetheart like Kaiden
Thank You!!!
