Kau meneguk saliva. Sepasang tungkai melangkah, kaki dialasi oleh sepatu hitam mengkilat dengan hak rendah. Detak jantung begitu berdetak bertalu-talu, berakselerasi, dan keringat rasanya mulai membasahi punggung—busana kemeja putih metah yang membalut tubuhmu juga tak membantu.

Bagaimana aku bisa diterima di sini?

Kau masih menyerukan itu dalam dasar sanubari—sebab, kau benar-benar tidak paham. Bagaimana kini ragamu ada dalam sebuah gedung pencakar langit, dengan isi yang sama luar biasa—ah, tidak. "Luar biasa" adalah penyataan yang jauh kurang mendefinisikan.

Ini mewah. Ini tidak waras—lebih tepatnya. Ini sebuah gedung yang seluruh staff-nya bekerja untuk satu brand yang nyaris merajai keseluruhan fashion industri.

"Ah—minta perhatian untuk semuanya," sebuah suara bertimbre rendah dan meneduhkan menyentak lamunanmu. Begitu sadar—kau telah mengikuti langkah lelaki yang kini memaku langkah tepat di sampingmu.

Ya, benar. Hal yang tak lebih masuk akal adalah, bagaimana kau melewati wawancara lamaran kerja ketika si pewawancara adalah lelaki yang nyaris—sempurna? Penampilannya rapi, ia berkacamata, harum sabun tipis berpadu musk menguar, tata bahasa, cara bicara, ketelitiannya—kau hampir percaya kau akan gagal di hari wawancara. Masih mending gagal; kau mengekspektasi mendapat makian dan cemooh—seperti bagaimana perusahaan lain tidak menjaga omongannya ketika mewawancaraimu.

Kau menggelengkan kepala singkat. Ah—itu sudah lewat, tidak usah dipikirkan. Akan pusing bila kita memikirkan hal yang tidak bisa diapa-apakan.

"Mulai sekarang ia akan bergabung bersama kita dalam Divisi Logistik," Ignis Scientia berujar. Aksen British kental menguasai kalimatnya dan senyum tipis ia labuhkan pada bibirnya. "Saya harap kalian bisa akrab dengannya."

Kau menatap kerumunan dan hiruk-pikuk manusia yang masuk dalam area pandangmu. Banyak yang mengirim senyum ramah dan berbagai pasang mata terarah. Kau berusaha menendang sudut bibir meski kegugupan menggelitik perut dan tanganmu serasa sedikit bergetar.

Kau menyebutkan nama, menundukkan kepala singkat, dan tepuk tangan lembut menyambut.


Final Fantasy XV © ENIX Square

Warnings! R-rated (duh), Ignis Scientia x reader, AU! Modern life, romance, drama, steamy action at the end of the story (you can skip it if you prefer to focus on the plot), you know what—never mind (there is a lot of dirty talks and sexual tension), porn with too much plot tbh, EyD semoga betul seluruhnya, dan sebagainya.

Fanfiksi ini dirangkai teruntuk sang dan satu-satunya, Yuta Uke. Happy birthday, honey.

String by Saaraa


"Hi! The name's Agneta."

Kau tersenyum tipis atas seorang gadis yang duduk di sebelahmu. Tampak seperti senior yang ramah. Kau membalas uluran tangannya, kemudian menyampirkan helai poni ke balik telinga.

"So, meski ini perusahaan besar, banyak administrasi, yadda-yadda," Agneta berujar dengan bumbu humor, terkekeh kecil, lalu melanjutkan, "tapi kau bisa tenang. Kami semua ramah-ramah, yah—terkecuali untuk wanita di ujung sana, tuh. Namanya Aranea, dia baik, sih, tapi memang sedikit galak kalau baru kenal."

"Jadi, aku bisa mengandalkanmu, ya, senior," sahutmu, ikut berkelakar pula. Setengah. Setengahnya lagi serius sebab—astaga, kau merasa ini sangatlah gila bisa diterima di sini.

Agneta terkikik kecil. Ia mengedik ke arah sebuah pintu yang berada di sudut ruangan—memisahkan antara ruang staff dan manager. "Bagaimana rasanya diwawancara oleh Ignis?"

Kau mendesah lelah tanpa sadar. Mengingat-ingat kembali memori satu pekan lalu. "Mengerikan."

"Eh?" Agneta mengangkat sebelah alis. Dari sekian banyak kata dan deskripsi yang bisa diberikan—itu yang kaupilih. Maka, tanpa bisa menyingkirkan rasa penasarannya, wanita itu kembali bertanya, "Kenapa?"

"Maksudku—dia nyaris sempurna, kautahu?" sahutmu, mendapat anggukan setuju dari Agneta. "Seolah-olah dia hanya akan memilih yang juga tidak bercacat-cela. Tentu saja aku takut. Ugh … aku jadi ingat bicaraku terbata di hari itu, perutku mulas."

Tapi, sepertinya kesempurnaannya itu familiar.

Kau mengerjap, lalu sadar bahwa telah mengeluh. Selanjutnya tatapan minta maaf kau suguhkan dengan kalimat yang menyusul selanjutnya, "Maaf, aku malah jadi mengeluh."

"Hmnn, tidak apa. Aku mengerti perasaanmu. Ignis memang yang paling dipercaya di sini. Bukan hanya di divisi ini, malah. Ia juga merangkap sekretaris pribadi Managing Directorit's only natural for him to be perfect in every aspect he's doing."

Kau terdiam sesaat. Ragu menelusup di ujung lidah. Namun, sama seperti Agneta, rasa penasaran mengulik hati dan kepalamu. Pelan, kau berbisik dan bertanya, "Managing Director … Noctis Lucis Caelum? Putra dari Chairman; Regis Lucis Caelum?"

"Yeah. Founder dari brand fashion Lucis. Kau seharusnya sudah tahu ini."

"Aku tahu—aku hanya merasa … kagum dengan semua ini."

Agneta lagi-lagi merangkai senyum bersahabat. Tepukan ia berikan pada pundakmu, dua kali. "Semangatlah. Kalau ada yang perlu ditanyakan, kau bisa bertanya padaku. Atau kalau kau ingin modus—silakan langsung ke ruangan Ignis."

Kau mengerutkan alis, dalam. Yeah, right. "Kenapa juga aku harus modus?"

Agneta tidak menjawab. Ia hanya kirimkan seringai mencurigakan, mengangkat kedua bahunya, lalu kembali fokus pada komputer di hadapan. Kau merotasi bola mata, lalu memfokuskan diri untuk mengenal pekerjaan barumu dengan lebih lanjut.

.

.

.

.

.

"Dengan begitu—itu konklusi rapat hari ini."

"Yes, sir."

Kau menggeliat di kursimu. Sementara yang lain menghela napas lega diam-diam—yang sesungguhnya tampak keterlaluan jelas—kemudian sembari keluar dari ruangan Ignis, kau ikut melangkah menjauh. Namun sebelum tubuhmu betul-betul melewati pintu, sebuah suara yang telah kaukenal memanggil.

Agneta menyenggol tubuhmu, tersenyum tipis dan berbisik, "Manager memanggilmu." Ia tampak bahagia—entah untuk alasan apa.

Kau berbalik sepenuhnya, mendekati Ignis yang menyebutkan namamu. Ada lirikan melalui ekor mata pada satu lagi sosok lelaki yang berdiri di sebelah si pria berkacamata—sumber kegugupan seluruh staff di ruang rapat hari ini. Lelaki bersurai biru keruh dengan sepasang iris samudra yang khas.

Saat yang lain telah meninggalkan ruangan dan menyisakan kalian bertiga, kau mengumpulkan suara, "Ya, kenapa …? Ada yang perlu saya lakukan?" tanyamu pada Ignis, mendekap tab yang sedari tadi telah nyaman di antara lenganmu.

"Kau sudah nyaman di sini?"

Alih-alih Ignis, Noctis Lucis Caleum yang bertanya. Kau paham bahwa kehadirannya di sini mengikuti rapat mingguan yang sebetulnya bukan rutinitasnya adalah untuk mengawasi serta mengobservasi suasana kerja. Ini dilakukan minimal enam bulan sekali—setidaknya, itu apa yang Agneta katakan kala wanita itu melihat Noctis masuk ke area gedung Logistik hari ini.

Kau tersenyum tipis. "Sudah," sahutmu. "Ada Miss Agneta yang membantu saya sehari-hari dan arahan dari Sir Ignis juga membuat saya terbiasa."

"Hehh," Noctis merespon. Senyumnya ia arahkan pada Ignis. Ada tepukan pada pundak si pemilik iris limau. "You heard that, Specs? Nice job."

Ignis yang kini memutar bola mata. Kau terkikik kecil—otomatis meraih kedua perhatian kaum Adam di depanmu. Kau buru-buru berkata, "Ah—maaf, saya lancang. Hanya saja, kalian tampak seperti kawan yang sangat akrab … Sir Caleum."

"Aku menjadi pengasuhnya sejak ia dan diriku sendiri masih kecil," Ignis yang kali ini merespon. Ada dengusan yang terkesan menghina—tapi kau tahu itu hanyalah bagaimana cara mereka bertukar perasaan. Dengan sedikit sarkasame dan kasih sayang, tentu. "Maka itu, aneh kalau kalian gugup setiap kali ia datang untuk mengawasi. Dia hanyalah bocah yang membenci sayur."

Kau melebarkan senyum. Oh—benar. Ignis yang sebelumnya lebih formal serta kaku, kini terasa berbeda ketika di dekat Noctis. Hubungan persahabatan yang menyenangkan—meski kau bertanya-tanya arti "pengasuh" yang disebutkan sang Manager Export.

Noctis hanya mengedikkan bahu—cuek. "Sudah, aku balik dulu ya, ke gedungku. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku."

Ignis mengangkat sebelah alisnya. Kali ini, tendangan bersahabat pada bibirnya terasa tulus. "Ada kencan dengan Miss Lunafreya nanti malam, aku tebak?"

"You got that right. Baiklah, kau juga santai saja dan berusaha semaksimal mungkin," Noctis mengarahkan kalimatnya itu padamu. Kau mengangguk, mantap. Menatap punggungnya ketika ia melangkah keluar dari ruangan.

Oh. Baiklah. Tinggal kalian berdua. Telapakmu terasa dingin. Ignis mengetuk meja, mengarahkanmu untuk duduk pada kursi yang tersedia di depannya. Kau menurut, sementara Ignis juga melabuhkan dirinya pada kursi di sebelahmu. Kau meneguk ludah.

Untuk suatu alasan—harum sabun tipis yang manis dan parfum lelaki yang maskulin betul-betul meraba olfaktori. Untuk alasan yang sama, tempo detak jantung sedikit meningkat. Kau menarik napas, dan menghelanya lembut.

Tenanglah—kegugupan tidak akan membawaku kemana-mana.

"Jadi, aku ingin melihat sejauh apa perkembanganmu."

"Oh." Kau membuka tab milikmu, lalu menunjukkan sekumpulan e-mail. "Agneta telah mengajariku untuk membalas e-mail terkait pelayaran," kau mulai menjelaskan dan menampilkan surel pada layar. "Ini untuk detail barang ekspor melalui jalan darat dan laut. Kemudian, ia juga membantuku mengurus surat-surat kepentingan perjalanan; Cargo Shipment Process. So far tidak ada masalah—aku hanya masih sedikit bingung dengan ketentuan tarif bea dan pengurusan pajak dengan pihak luar."

Ignis mengangguk. Ia mendekat, menatap layar dan menyeret jemarinya di atas tab. Tubuhnya yang sedikit condong membuat bahumu menegang—kini harum khas semakin menggelitikmu. Ada rasa yang mengocok perut.

"Baiklah, aku akan menjelaskan soal tarif bea dan keperluan surat-suratnya."

Oh—oke, aku paham. Ini mengapa Agneta menggemari Ignis.

Sebab "tampan" saja tidak cukup mendeskripsikan lelaki dewasa itu. Di umurnya yang belum mencapai tiga puluh, ia menjadi manager terpercaya, bukan hanya karena koneksi yang ada—tapi juga segala bakat, kerja keras, dan kemampuannya. Ia membawa Lucis menjadi brand yang tidak hanya memiliki pasar dalam negeri tapi meluaskan sayap hingga ke negeri lain.

Belum lagi surai pirang kusam yang tertata rapi, serta bulu mata lentik yang menghiasi pelupuknya, menjadi tirai bagi sepasang manik hijau gulma yang mengkilat di bawah terpaan cahaya lampu. Kalau diperhatikan baik-baik, garis rahangnya begitu tegas, urat lehernya dari bawah telinga tampak menonjol, menyambung pada klavikula yang juga tajam, serta jakun yang naik turun seiring—

"… kau mendengarkan?"

Kau terkesiap. Pundakmu tersentak. Kau menjilat bibir atas, meneguk kata-kata, lalu berujar jujur dengan sarat rasa bersalah, "…. Maaf. Aku tidak fokus tadi. Bisa tolong diulang?"

Ignis menautkan kedua alisnya. Kau membuat catatan mental untuk tidak mengulangi ini—bagaimana pun, selama tiga bulan bekerja, kau selalu memerhatikan dan fokus akan setiap materi yang diberikan. Setiap pengarahan yang ada. Kau percaya diri akan kemampuan dan kerja kerasmu—meski mungkin tak akan pernah bisa menyaingi Ignis.

Demi Astral—hanya untuk kali ini saja pikiranmu mengarungi entah samudra mimpi yang mana. Dan terjadi kebetulan saat kalian hanya berdua; bukan di rapat besar yang pasti biasanya tidak akan disadari meski melamun selama apa pun.

"Kamu sakit?" Ignis bertanya. Nihil aba-aba, ia mengangkat sebelah tangan, menaruh telapaknya pada dahimu. Dalam jarak kurang dari lima puluh senti, kau melihat refleksimu dalam pantulan bola mata limau. Kau merasakan napasmu tercekat pada pangkal tenggorokan. Sensasi geli meraba perut, merangkak naik hingga ke dada.

"Aku baik-baik—," kau mengambil napas, "—saja."

"… Alright. Kamu tidak perlu memusingkan ini untuk sekarang," Ignis menyahut, menjauhkan diri dari sosokmu. "Pulanglah lebih cepat dan istirahat."

Kau tidak membantah. Membereskan tab, kemudian pamit undur diri, kau berbalik. Menggerakkan tungkai hingga ke dekat pintu, menggenggam gagangnya. Tapi gigimu menggertak dan pelupuk yang menutup rapat sebelum kau betul-betul keluar.

Aku mengecewakannya, ya?

.

.

.

"Bagaimana? Kau sudah mengakui pesonanya?" Agneta menjawab, meneguk kaleng bir yang ia pegang.

Kau mengerutkan bibir. Wajah sedikit digurati warna merah muda hingga telinga dan ada rasa panas. Pengaruh alkohol ringan yang sedari tadi menjadi pelarian. "Yah, aku paham, sih … tapi astaga—aku ingin fokus ke pekerjaanku, tahu?"

Aranea Highwind mengangkat bahu. Senyum tipisnya terbit. Mencomot kentang goreng yang telah kalian pesan sebelumnya, mencocolnya pada saus keju sebelum mencemilnya. "Aku hanya merasa dia cukup cantik. Tapi Noctis tetap lebih seksi."

Agneta tergelak hingga puas. "Kau gila! Pria itu sudah bertunangan! Belum lagi, Miss Lunafreya Nox Fleuret juga adalah darah biru, sama-sama putri pewaris perusahaan besar. Jangan bermimpi, sayang."

"Hei, aku tidak bilang aku ingin menikung Luna—dia sahabatku, kau sakit jiwa?—aku hanya gemar memandangi dan mengagumi fisiknya. Ah, tapi Prompto tetap yang terbaik."

Kau mengempas napas panjang, membiarkan kepalamu terkulai dan menyentuh sisi kasurmu. Entah bagaimana, dalam waktu dekat, kalian bertiga menjadi kawan yang akrab. Padahal—Agneta jelas-jelas menyatakan bahwa Aranea adalah wanita yang galak. Memang itu fakta yang ada, tapi kau juga tidak menyangka rupanya Agneta paling dekat dengan Aranea.

Yah, ini menjadi rutinitas yang menyenangkan sepulang kerja sejak dua minggu lalu, jadi—mengapa tidak? Hanya saja, kau tidak habis pikir ketika dua orang ini akhirnya sampai di apartment-mu, memesan makanan, hal selanjutnya yang menjadi topik utama adalah Ignis Scientia.

Dan setelah semua ini, rupanya Agneta belum puas menggodamu. Ia mendekatkan diri padamu, lalu berujar, "Kau tahu, hampir semua wanita yang mengenal atau bahkan hanya sekadar melihat Ignis Scientia—mengincar untuk tidur dengannya."

Kau tersedak udara. "Kau gila. Kau tidak waras, Agneta. Kau juga, jangan-jangan?"

Agneta mendengus. Ia mengerling pada Aranea—yang tampaknya juga paham maksud tatapan gadis itu. Maka, Aranea ikut ke dalam konversasi, dan berujar serius, "Kami tidak. Pertama; karena aku memiliki pacar—Prompto Argentum, dari Divisi Products and Design. Kedua, Agneta belum tertarik pada siapa pun."

Kau mengernyit was-was. Merasakan tanda bahaya dari kedua kawan barumu—namun tidak yakin apa. "Oke …? Dia masih atasan kita—demi Tuhan. Kenapa juga banyak yang ingin tidur dengannya?"

Agneta menggeleng-geleng dramatis. Kau merasa tersinggung—apakah ini sesuatu yang harus kaupahami dalam pekerjaanmu? Sejak kapan topik dan aktivitas tidur-dengan-boss adalah sesuatu yang perlu disimak baik-baik dalam kegiatan ekspor?

"Bayangkan ini," Agneta berujar. "Kau tidak punya imajinasi, ya? Meski tampak kurus—badannya terbentuk otot, tahu? Aku ingin tahu bagaimana tubuhnya kalau tidak pakai kemeja."

Kau mengalihkan mata ke samping. Kini pikiranmu melayang.

"Dia pintar, baik, seorang gentleman—apakah kau tidak penasaran bagaimana dia di atas ranjang?"

Oh, Gods. What the hell. Ini sangat tidak pantas. Kau tahu itu, tapi—kau tetap mendengarkan Agneta.

"Senyumnya juga manis. Giginya putih; rapi. Dia selalu tampak tenang, tapi kurasa wanita lain sangat penasaran wajahnya saat sedang melakukan seks; rambutnya berantakan, keringatan, saat dia menggigit—"

"Fuck, Agneta!" kau berseru pada akhirnya. Memaki secara verbal dan dari dalam hati. Kini merasakan wajahmu benar-benar panas dan gambaran imajinasi memenuhi pikiran. "Let's change the topic, please?" kau bertanya, memelas.

Aranea yang bersimpati mengangguk, mengacak-acak suraimu. Maka kalian melanjutkan obrolan dengan hal lain. Komik kesukaan, lagu masa kecil, drama opera pada televisi, komen terhadap perkembangan perusahaan Lucis—apa saja, kau tidak peduli. Apa saja, selain membahas seorang manager yang keterlaluan sempurna dan memikat.

Ketika waktu nyaris menunjukkan tengah malam, Aranea dan Agneta pamit dari ruang apartment-mu. Aranea dijemput oleh kekasihnya dan Agneta tinggal di apartment yang sama denganmu, hanya saja satu lantai di bawah—kau tidak perlu khawatir. Maka seusai suasana riuh yang menyenangkan itu perlahan memudar, kau bersiap-siap untuk tidur. Mencuci wajah, menyikat gigi, mengenakan krim malam, mematikan lampu, dan bergelung di bawah selimutmu.

Namun meski kau telah menutup pelupuk, berusaha tidur, bayangan masih silih berganti di kepalamu.

"Dia pintar, baik, seorang gentleman—apakah kau tidak penasaran bagaimana dia di atas ranjang?"

Sosok Ignis yang menanggalkan kemeja, otot perut yang tercetak jelas, dada yang bidang—tubuh yang terpahat sempurna, menghimpit dirimu, lengan yang kokoh, tangan berurat menonjol, menyentuh lekuk yang sebelumnya tak pernah kaukira akan dimanjakan ….

Kau mengutuk Agneta setengah mati.

Semoga wanita itu terpeleset dan jatuh pada kepalanya lalu pingsan untuk dua hari.

.

.

.

"Tidak bisa tidur?"

Kau lagi-lagi tersentak—bangkit dari lamunan. Suasana hiruk-pikuk kafetaria menabuh gendang telingamu, maka kau tidak sadar kala seseorang tahu-tahu sudah berdiri di hadapanmu, memegang satu kotak bekal. Kau tersenyum tipis. Pastilah ia menyadari sklera yang memerah dan bagian bawah mata yang serupa panda. "Sedikit."

"Boleh aku duduk di sini?"

"Oh—silakan, Sir Scientia."

Ignis menarik kursi di hadapanmu dan duduk di sana. Kemudian pintaannya mengudara, "Ignis saja."

"Baik … Ignis," kau mencoba. Usaha yang buruk. Namanya terasa janggal di ujung lidahmu—tapi juga menyenangkan dan membikin nagih. Kau tidak yakin mengapa. Lalu, perhatianmu teralih pada kotak bekal yang dibawa si pria berkacamata. Isinya adalah nasi dengan telur gulung, tumis buncis, dan dada ayam yang dipotong kecil-kecil lalu di-grill, beserta satu kaleng Ebony. Ah—yang itu tidak pernah tertinggal, ya. Rasanya ketika di ruangannya pun, satu kaleng kopi akan ada di sudut meja.

Lalu, bekalnya itu—sehat sekali. Kau menendang sudut-sudut bibir.

"Kelihatannya enak," kau berkomentar.

"Kamu mau coba?"

"Eh—apa tidak apa?" tanyamu. Ignis mengangguk. Sudah menjadi kebanggaannya, bagaimana pun—bila masakannya bisa dicoba dan ketika orang lain akan mengapresiasi. Maka, dengan semangat kau hendak mengarahkan garpumu pada kotak bekalnya, namun Ignis terlebih dulu mengarahkan garpunya dengan potongan ayam ke arah bibirmu.

Kau membisu—membatu di saat yang sama. Ignis yang menyadari kemudian mengulurkan gagang garpunya. "Maafkan aku—menyuapi orang dewasa itu tidak sopan, ya. Aku hanya terbiasa karena Noct sering bersikap manja."

Kau menggeleng, menerima uluran garpu. Saat menggigit ayam dan memasukkan garpu dalam belah bibirmu—kau mengerang dalam hati. Ini terasa aneh dan sensual, padahal hanya bertukar lauk. Atau lebih tepatnya—ini jadi canggung dan mesum karena terkutuklah Agneta beserta segala imajinasi tololnya.

Kau mengembalikan peralatan perak itu pada Ignis. Ignis menerimanya, ujung jemarinya menyentuh milikmu dan kau buru-buru menarik tangan. Itu barusan tampak aneh—tapi kau hanya bisa mengalihkan pandangan dari sepasang bola mata hijau yang telak tabrak.

"Apa kamu … stress bekerja di sini?"

Pertanyaan itu mengudara begitu tulus. Begitu khawatir. Kau mengangkat wajah, menggeleng. Stress? Tidak mungkin! Rekan kerjamu sangat baik dan begitu suportif. Kau memiliki atasan yang sempurna, perfeksionis—tapi mau belajar bertoleransi dan memaklumi. Kau dibimbing; ditegur lembut ketika melakukan kesalahan kecil, dan diapresiasi ketika melakukan hal dengan benar.

Bagaimana bisa kau stress? Kau begitu nyaman—meski lelah di saat yang sama, tapi, nyaman. Saat berusaha mengeluarkan kata-kata, rasa-rasanya kau menjadi emosional.

"Sama sekali tidak," kau menyahut. Berharap ini cukup menjelaskan isi hati. "Aku sangat bersyukur bekerja di sini—aku tidak berbohong."

Selanjutnya apa yang mengetuk indra pendengaranmu ialah suara tawa yang manis. Tawa yang begitu ringan dan tanpa beban. Ignis berujar di sela kekehannya, "Aku tidak mencurigaimu, kok. Hanya saja, kamu tampak lelah. Ada yang bisa aku bantu soal itu?"

Ya Tuhan—pria ini baik sekali.

Kau memutar kepala, mencari tahu jawaban apa yang tepat. Mana mungkin juga kaubilang padanya bahwa alasan terutama kau kurang tidur dan terlihat linglung adalah karena sosok pria di hadapanmu terus muncul dalam kepala? Terus bermain dalam imajinasi, terbalut indah dalam khayalan yang penuh dosa. Mana bisa kau berkata jujur bahwa akhir-akhir ini, hanya tubuh polos dan suara rendah yang kauingin dengar—ah. Cukup.

Kau menarik napas, lalu menghelanya panjang sebelum akhirnya berujar, "Kurasa aku harus sedikit … meluapkan emosiku. Mungkin aku akan minum bir seperti biasanya—mumpung besok hari libur … uhm, Ignis."

"Hm-mnn." Gumaman tercipta. "Minum bir terdengar menyenangkan sekali-kali."

Kau menyetujui. "Benar, kan?"

"Kalau begitu, ayo malam ini. Di bar favoritku—bersama Noctis dan yang lain. Kebetulan mereka ingin berkumpul."

…. Eh?

.

Ketika aku berkata aku ingin minum—aku bermaksud melakukannya sendiri, di kamarku. Bukan seperti ini.

Kau berniat mengatakan itu. Namun ketika bokongmu telah nyaman duduk di sebelah kursi pengemudi dan Audi melaju cepat di jalan—kau tidak bisa apa-apa. Kau juga sadar bahwa kau telah mengenakan halter dress hitam sederhana, yang ujung fabriknya menyentuh hingga lututmu. Bagian punggungnya sedikit terbuka, menambah sensasi dingin—tapi kau memang suka potongannya. Roknya luwes dan jatuh dengan tepat dari potongan punggungmu dan kau merasa ini busana yang tepat.

Sebab, kau tidak habis pikir—apakah mereka terbiasa hang out di bar mahal? Apakah ini tempat kumpul-kumpul para pengusaha tajir yang berlimpah pundi-pundi harta? Ignis bahkan menggunakan kemeja dan celana bahan!

Saat mobil Ignis sampai pada sebuah gedung, ia keluar dari kursi pengemudi, membuka pintumu, dan mengulurkan lengan. Kau menyambutnya, merasakan jemari yang besar menyelip di antara jemari milikmu. Jantungmu lagi-lagi berulah dan memompa darah begitu cepat. Ignis menyerahkan kunci mobil pada seseorang yang juga menggunakan kemeja. Ia masuk ke dalam gedung, menuntunmu untuk menaiki lift, sebelum akhirnya kalian sampai pada sebuah ruangan eksklusif.

Ruangan yang besar—namun isinya tidak banyak. Ada bartender dan berbagai minuman di sana. Mewah saja tidak cukup untuk menyatakan betapa indah serta hati-hati ruangan ini di-design. Pualam marmer bercorak hitam tempatmu berpijak, pilar-pilar tipis penopang ruangan, suasana gelap, sendu, namun juga berkilau dengan aksen emas pada sudut-sudut tempat.

"Ah, ini dia orangnya." Kau mendengar sebuah suara. Saat memfokuskan arah pandang, kaulihat seorang lelaki dengan surai secerah mentari tengah duduk di kursi kayu tinggi, sebelah siku bertumpu pada meja bar. Sebelah lengannya lagi merangkul pinggang wanita yang kaukenal pasti—Aranea Highwind tersenyum tipis menyambutmu. Prompto Argentum meneguk satu sloki vodka yang ada pada tangannya.

"Oh—ini anak baru, ya?" Gladiolus Amicitia mengumbar pertanyaan retoris. Noctis memberi anggukan. Ia berdiri memunggungi meja bar tinggi, tangannya berlabuh pada lutut seorang wanita jelita yang terduduk di atas kursi. Lunafreya Nox Flueret juga merangkai senyum ramah—menyatakan bahwa ia menerimamu.

Ignis masih menggenggam jemarimu. Ia membawamu mendekat pada mereka, lalu mengenalkan, "Kenalkan. Kau sudah tahu Noct, ini tunangannya, Miss Lunafreya." Ignis memindahkan arahan telunjuknya. "Gladiolus Amicitia. Dia adalah Financial Manager di Lucis. Dan aku yakin kau mengenal Aranea Highwind—itu Prompto Argentum, kekasihnya, yang juga bekerja di Lucis sebagai Manager Products and Design."

"Kau tersesat?" Aranea memanggilmu—tentu saja itu sarkasme dan godaan yang dikumandangkan tidak tahu diri. Kau sudah terbiasa.

Alih-alih tersindir, kau merasa senang ada yang kaukenal baik di ruangan ini. Maka kau menyahut cepat, juga dibumbui humor serta nada menantang yang bersahabat, "Oh, kenapa, kau khawatir?"

Aranea tergelak. Begitu pula Prompto yang terkekeh tipis. "Ya, tentu saja. Aku khawatir Ignis akan membawamu ke hotel terdekat alih-alih ke sini."

Kau tersedak udara. Mati kutu. Aranea menang babak ini sebab ekspresimu yang kaget membuat Ignis angkat suara, "Tidak sopan, Aranea. Aku pria baik-baik. Kamu tidak usah mendengarkannya."

Lunafreya mengulum senyum pula—ia menyenggol Aranea yang berdiri dalam dekapan Prompto. "Berhenti menggoda orang lain."

Gladio kirimkan seringai. Ia memesan satu cocktail pada sang bartender yang segera disambut sopan dan patuh. "Duduk dan minumlah. Tidak usah kaku."

"Akan kucoba," ujarmu. Meski begitu, tentu detak jantungmu masih anomali. Begitu tidak teratur dan suaranya terdengar hingga telingamu sendiri. Namun setelah mengambil kursi di sebelah Lunafreya, Ignis memesankanmu mojito, dan obrolan mengalir begitu alamiah—kau dapat merasakan pundakmu melemas dan kegugupanmu menguap begitu saja.

"Jadi, kau sudah terbiasa di Lucis?" Noctis kali ini bertanya. Kau sangat memujinya—seberapa banyak direktur di luar sana yang begitu terbiasa memerhatikan karyawannya? Kau juga telah menilik peraturan perusahaan dan sistem gaji—semuanya disusun teliti, baik, ada beberapa bonus di akhir tahun dan bahkan para HRD yang bekerja di sini pun bersikap … manusiawi. Kau masih kagum karena sejujurnya—sangat banyak HRD yang tidak waras di perusahaan-perusahaan tempatmu bekerja sebelumnya.

Kau akhirnya menjawab sang Direktur, "Ya, sangat. Maksudku—aku ada Agneta dan Aranea yang kerap membantu. Ignis juga sangat baik."

Percakapan ini terdengar seperti deja-vu.

Ignis menggeleng. "Itu berlebihan. Aku hanya melakukan hal yang kubisa."

"Berlebihan?" Prompto terkikik. "Oh, Iggy—seandainya kausadar. Noct bahkan sampai lelah mendapat perhatianmu."

Iggy? Nama kecil yang lucu.

"Aku berharap kau berhenti mengingatiku makan sayur, Specs."

"Tapi, kau memerlukan itu, my love," Lunafreya yang kini menyahut. Ia kirimkan kecupan sederhana pada dahi Noctis. Si iris biru samudra mengembungkan pipi—mana bisa ia melawan wanita yang telah ia kasihi sepenuh hati sedari anak-anak masihlah bagian dari identitas mereka? Noctis kini mendekatkan wajahnya, mencium bibir Lunafreya singkat. Kau mengalihkan pandangan ke arah pualam.

Mereka sangat serasi.

"Ignis memang sangat berdedikasi." Gladio memainkan ponselnya. Sepertinya ia tengah mengirim pesan pada seseorang. "Kau tidak akan mengira sejauh mana ia akan berbuat kalau ia sudah sayang pada seseorang."

Kau mengerjap. Benarkah? Itu—yang ingin kautanyakan. Namun satu kata sederhana yang mungkin akan memuaskan rasa penasaran kini ditahan dengan penuh sungkan. Kalau pun kau bertanya—untuk apa? Sejauh apa Ignis akan berbuat teruntuk orang yang dikasihinya—informasi itu, apa baiknya buatmu? Atau bila nyatanya Ignis telah memiliki sang terkasih, gadis tempat ia menaruh hati … bukankah obrolan ini malah terasa canggung?

Kau menggigit bagian dalam pipimu. Jantungmu kini berdenyut dengan cara yang tak menyenangkan. Ada nyeri tak pegari yang menelusup dalam dada—mendadak, begitu saja, datang tiba-tiba tanpa diundang.

Kenapa?

Itu tidak masuk akal. Mengapa kau khawatir, atau penuh prasangka? Mengapa pikiranmu resah bila membayangkan sesuatu yang bahkan tak ada di depan mata? Apakah seorang Ignis Scientia memiliki kekasih adalah urusanmu? Bukan, benar? Kau menghela napas singkat, meremat ujung rokmu sendiri.

Ini konyol. Aku datang ke sini untuk meringankan pikiran—tapi malah pusing oleh hal lain.

Hal yang lebih konyol—kau memiliki dugaan mengapa kau merasa gundah. Ada sebuah kesimpulan yang berkumpul pada setir logikamu, hasil dari pengumpulan data dari kejadian kemarin-marin yang telah berlalu. Namun …

… kalau aku menyimpulkannya, selanjutnya … apa?

"Hei," Ignis memanggil. Kini telapak tangannya berlabuh pada pipimu yang memerah—terasa panas di saat yang sama. Kau sedikit kaget, tapi lalu menurunkan pelupuk, menikmati sensasi dingin yang menyebar dari ujung jemarinya. "Sudah kuduga—kamu tidak sehat, ya? Ayo pulang?"

Kau mengangguk. Patuh. Kau lelah berpikir untuk sekarang—hanya ingin tidur, sungguh. Kepalamu serasa sedikit melayang, lagipula. Kau membiarkan dirimu dituntun. Ada ucapan pamit sederhana yang kaunyatakan pada orang-orang di ruangan itu, sebelum melangkah pergi dari ruangan. Barulah saat sosokmu dan Ignis menghilang dari jarak pandang, Aranea mendengus gemas.

.

Saat perjalanan pulang, kalian hanya terdiam—dikuasai keheningan yang nyaris absolut. Kalau saja suara musik lembut dari radio tidak menyertai, maka betul-betul hanya kesunyian yang ada. Ignis fokus pada jalan dan kemudi mobil, sementara kau membuang arah pandangmu ke luar jendela. Suasana malam Los Angeles saat malam hari memang tak pernah mengecewakan. Segala kerlap-kerlip cahaya, kumpulan insan yang berbahagia dengan meriah … ini cantik.

Kau benar-benar menikmatinya, seandainya kepalamu tak pusing oleh perkara yang menurutmu … tak penting.

Maksudmu—kau adalah wanita dengan karir yang sangat baik sekarang. Lingkungan tempatmu bekerja nyaman; kau memahami apa yang kaulakukan, finansial berjalan lancar, kau memiliki teman baru yang perhatian—kau tidak ingin merusaknya.

Tidak dengan perasaan penuh bimbang, ambivalensi, dan sesuatu yang hanya melibatkan emosi tanpa akal sehat yang dipikirkan baik-baik.

Tidak dengan mengakui barangkali ada perasaan lain yang tumbuh dalam hatimu, merekah tanpa tahu diri dan aba-aba—terhadap si manager dari Lucis.

Aku hanya terbuai karena Ignis adalah pria yang baik, kau meyakinkan dirimu sendiri dalam hati. Itu saja.

Ya—itu saja. Setidaknya itu apa yang kaupikirkan, sebelum mobil Ignis terparkir pada lobby apartment-mu. Kau mengerjapkan pelupuk, sadar bahwa telah sampai di destinasi. Kau menoleh pada Ignis, berusaha mengeluarkan isi hati dan rasa sungkan, "Maaf … padahal kau sudah repot mengajakku pergi minum." Tapi aku malah memilih pulang secepat ini.

Ignis menggeleng. Menyatakan tidak apa. Penjelasan yang lebih rinci selanjutnya menyusul; hasil dari pemikiran dan isi hati yang sungguh, "Istirahatlah. Kau tampak lelah—ada sesuatu yang kaupikirkan? Aku tidak keberatan untuk mendengarkan, kalau itu membuatmu lebih baik."

Kau sekali lagi mengulum senyum. Menggeleng. "Aku baik-baik saja. Kalau ada sesuatu yang salah, aku pasti akan bilang—Ignis."

Bohong. Sebuah bualan yang diucapkan lancar. Mana bisa kau berkata jujur bila subjek utama yang menjadi fokus seluruh kebimbanganmu adalah dirinya? Yang belum tentu merasakan perasaan yang sama—yang mungkin saja memang ini hanyalah khayalanmu semata dan sikap percaya diri yang keterlaluan tinggi.

Seorang Ignis Scientia, baik padamu? Itu wajar. Apakah itu berarti ia juga menaruh hati padamu? Ah—itu, yang dinamakan bermimpi. Namun bila mimpi serasa indah, lebih-lebih kala Ignis kembali mendekatkan dirinya padamu, memeriksa suhu badan dengan menaruh telapaknya pada dahimu—kau berharap ini tak akan berakhir.

Lagi-lagi kau menghidu aroma maskulin. Oh—Tuhan, ini harum. Ini memabukkan. Ini adiktif. Kau menutup pelupuk sesaat, sebelum menyadari Ignis menarik dirinya. "Oke. Hati-hati."

"Tentu. Selamat malam, Ignis."

"Selamat malam."

Kau turun dari mobilnya, lalu melangkah perlahan ke dalam apartment. Tungkaimu membawa pada lift dan kau menekan sebuah tombol. Hanya lima belas lantai—namun terasa begitu jauh. Jantungmu masih mengalami kecepatan detak yang tak wajar. Memorimu mengulang segala harum yang kausadari. Segala kelembutan dari jemari yang sedikit kasar dan kapalan.

Kau meremat tanganmu sendiri. Saat sampai di lantai yang kautuju, kau mempercepat langkah—nyaris berlari dengan hak rendah dan dress yang kaukenakan. Saat menemukan sebuah pintu dengan nomor tertentu, kau terhenti. Mengatur napas yang kini juga sama tidak teraturnya. Kau mengetuk pintu itu—agak terlalu keras. Kepalamu pening dan rasanya kristal bening menumpuk pada sisi mata.

Saat pintu terbuka, kau mengangkat wajah. Kau dapat melihat ekspresi terkejut dan tidak disangka dari Agneta. Dengan kasar dan terburu, kau mengusap air mata pertama yang jatuh melintang melewati pipi.

Berikutnya dengan putus asa, detak jantung yang menggebu, dan rasa sakit di saat yang sama, sadar bahwa tidak butuh waktu lama bagimu untuk mengidentifikasikan apa yang kaurasa. Suaramu lirih mengudara, "Aku sayang padanya."

Agneta kalap. Ia tidak terpikirkan apa pun selain meraihmu, lalu mendekapmu. Menaruh kedua lengannya untuk mengusap punggungmu yang sedikit bergetar akibat isak serta luapan emosi yang tumpah-ruah.

.

.

.

Saat sinar sang surya perlahan menelusup dari balik jendela serta tirai semi-transparan, kau mengerang. Kicau burung terdengar jelas, beserta suara aktivitas para insan yang mulai membubung di pagi hari. Kau menghela napas panjang dan melihat ponselmu. Pukul sembilan pagi.

Ah—masih begitu pagi untuk memulai aktivitas. Terlebih, ini hari minggu. Kau merasakan kepalamu dihujam pening. Teringat bahwa semalam kau menangis dan menumpahkan isi hati—hingga pada pagi hari ini wajahmu sakit, disertai sepasang pelupuk yang sembab. Kau juga mengingat bahwa Agneta memberikan es teh hangat untuk menenangkan, serta beberapa kali tepukan pada pundak, sebelum akhirnya kau memutuskan kembali pada kamar apartment-mu sendiri.

Satu hal yang sangat kauingat ialah Agneta berkata, "Kalau mencintainya sulit; direlakan. Kalau tidak ingin merelakan—yah, usahakan. Aku hanya bisa memberi saran itu, dear."

Kau tersenyum tipis. Rasanya memalukan—meraung seperti kemarin. Persis anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Persis serupa seorang bocah yang terlepas dari genggaman ibunya. Astaga, memang kau masih muda. 22—baru satu tahun sejak kelulusanmu dari sebuah universitas.

Namun, itu bukan berarti kau harus bawa perasaan untuk setiap hal yang terjadi pada sekelilingmu, kan? Apalagi jatuh cinta pada atasanmu—itu betul-betul di luar akal sehat. Namun, namanya juga jatuh—tidak ada yang bisa diduga.

Tahu-tahu saja, sosoknya telah hadir dalam lobus memori. Tahu-tahu saja, ia sudah masuk ke dalam hatimu. Tahu-tahu saja—entah bagaimana, setiap tindakan, gerak-gerik, serta senyum dan tawa yang ia kumandangkan, menjadi sesuatu yang kautunggu-tunggu setiap harinya. Setiap pagi pergantian hari, saat sang mentari menyembul dari balik horizon.

Di waktu yang singkat, tiga bulan seusai kau memasuki perusahaan—kau sadar soal ini.

Kau terkekeh bila mengingatnya.

Padahal, awalnya hanya—kekaguman singkat pada manusia nyaris sempurna. Kau tersenyum tipis, membiarkan lagi-lagi sepasang bola matamu dibalut pelupuk, tersingkir sesaat dari buana.

Tapi, kau suka padanya—kini kau bisa mengatakan itu dengan pasti. Akan senyumnya, gerakan sederhana ketika membetulkan kacamata, jarinya yang tegas dan panjang—terlihat cantik ketika menggenggam pena. Sikapnya yang formal, sedikit kaku, namun bisa luwes ketika bersama kawan-kawan terbaiknya. Sisi perfeksionis, ambisius, dan kepercayaan dirinya untuk membimbing serta mengarahkan orang lain.

Itu semua terasa pas bagimu. Maka kau menghela napas lembut.

Kira-kira, aku harus apa … ?

Sebab tanpa diragukan—masih ada ketakutan yang mengulik hatimu. Ketakutan bila ini dinyatakan, maka ada yang berubah. Kau tidak ingin hal itu terjadi. Namun, kau juga tak ingin terdiam, singkirkan rasa yang ada, dan biarkan hatimu pecah menjelma fraksi karena kebodohanmu sendiri.

Bangkit dari posisi tidur, kau menepuk wajahmu. Baiklah. Ayo lakukan ini.

.

.

.

.

.

Kau menyelesaikan ketikanmu pada layar komputer. Saat membaca ulang e-mail yang telah kautulis, kau mengirimkannya, lalu menghela napas lega, merentangkan kedua tangan ke udara. Senyummu tertarik puas.

"I guess that's all for today."

"It's quite late, to be frank." Kau menoleh pada sumber suara. Tidak terkejut mendapati Ignis masih ada di ruang kantor. Sudut-sudut bibirmu semakin tertendang ke atas. Sinar jingga dari matahari senja masuk melalui jendela kaca besar di ruangan itu, membasuh wajah Ignis dengannya. Kacamatanya berkilau. Di saat yang lain telah pulang satu jam lalu, kau masih di sini, menyelesaikan pekerjaan terakhir.

"Yah—aku tidak mau membawa banyak kerjaan ke rumah," ujarmu jujur. Selain itu, aku ingin melihatmu lebih lama.

Oh. Barusan itu terdengar sangat klise. Kau menyadari senyum Ignis yang juga terpatri pada bibir tipisnya. Berikutnya Ignis menarik kursi, lalu duduk di sebelahmu. Kau membasahi kedua bibir—penasaran apa yang akan lelaki ini utarakan.

"Aku rasa perasaanmu sudah jauh lebih baik?"

Kau mengerjap. Ah—ini soal itu. Kau memberi anggukan. "Maaf, aku begitu mengkhawatirkan, ya?" tanyamu, diselingi tawa kecil.

"Yah, dua bulan lalu kamu tampak—ah, maaf, linglung. Aku hanya lega kamu sudah lebih bersemangat."

Kau menunjukkan cengiran. Menopang dagu dengan sebelah tangan, kau menatap lurus iris limau. Meski detak jantungmu kembali terasa riuh, kau berusaha untuk tetap tenang. "Aku sudah … berdamai dengan diriku sendiri, kurasa."

"Oh?" Ignis mengangkat sebelah alis. "Berdamai soal apa, kalau boleh kutahu?"

Kau memberi tawa kekeh. "Perasaanku," sahutmu. Berikutnya, kau menyahut cepat, "Kau sendiri tidak pulang, Ignis?"

Ignis memiringkan sedikit kepalanya. "Sebentar lagi. Oh ya—Kamu mengingatkanku, kurasa Noct dan yang lain akan datang ke rumahku hari ini. Miss Aranea juga—apakah kamu mau ikut?"

Kau menimang-nimang sesaat. Berikutnya, gelengan kauberikan. Kau mengatupkan kedua tangan dan berujar dengan nada bersalah, "Ah—maaf. Kurasa hari ini Agneta telah mengajakku pergi bersama. Tapi, masih belum tahu jadi atau tidak. Begini saja; aku akan menghubungimu—bagaimana?"

Ignis mengangguk. "Tentu. Aku tunggu. Berhati-hatilah pulang."

Kau sekali lagi mengirim senyum. Seusai beres-beres, kau pamit pulang. Meski begitu, kau tak bisa menahan senyum yang merekah pada bibir merah muda pucat. Hatimu serasa melambung dan begitu riang. Saat sampai di lift, kau tidak bisa menahan diri untuk membuka kunci ponsel, mencari kontak yang familiar, dan menekan "call" di sana.

Nada sambung berbunyi untuk sesaat dan ketika telepon itu sampai pada orang yang dituju, kau tanpa sadar berseru, "Agneta!"

"Astrals—ada apa? Kau mengagetkanku!"

"Dengar, deh," kau menggigit bawah bibir. "Ignis mengajakku hang out di rumahnya! Oh, Gods—aku deg-deg-an sekali! Yah, meski dia juga mengajak Sir Caleum dan yang lain."

"Haha! Congratz! Lalu, apa jawabanmu?"

"Kubilang, akan kupikirkan. Aku katakan padanya, aku ada janji denganmu. Tapi akan kuhubungi lagi dia."

"Lihat anak ini, kau sudah pintar."

"Gurunya, kan, lebih."

Kau melangkah keluar dari lift saat akomodasi itu telah mencapai lantai dasar. Kemudian, ingatanmu mengarah pada dua bulan lalu ketika kau datang ke apartment Agneta.

.

.

.

Aranea mengernyit ketika melihat ponselnya. Iris biru angkasa Prompto melirik. Sebuah nama terpampang pada layarnya—nama yang baru saja ia dengar barusan, ketika Ignis memperkenalkan dirimu. Aranea mengangkat ponsel pintarnya, "Halo?"

"Hei, Arrie? Kau tahu, kawanmu sedang menangis meraung di kamarku."

"Aku tidak menangis meraung!" sahutmu, kencang.

Aranea mengerjap—merasa bingung untuk sesaat. Berikutnya ia mengedarkan pandangan pada Ignis yang sudah kembali dari mengantarmu, lalu memutuskan untuk datang lagi ke bar. Ignis yang menyadari arah bola mata si wanita bersurai perak kini mengangkat alis.

"Oke, sebentar, ya, adikku sayang."

Aranea mengecup pelipis Prompto sebelum ia turun dari kursi, lalu membiarkan ujung sepatunya mengetuk pualam, melinjak lantai dan membawanya keluar dari ruangan. Gladio mengusap tengkuk—sedikit bingung.

"Memangnya Aranea mempunyai adik?"

Prompto hanya mengangkat bahu. Ia rasa ada alasannya mengapa Aranea menyamarkan fakta bahwa yang menelepon barusan adalah Agneta menggunakan ponselmu.

Di kamar Agneta, kau masih menyeruput teh manis hangat. Merasa konyol. Apa-apaan, ini? Mengapa juga Agneta harus menelepon Aranea yang tengah bersama yang lain di bar?

Saat sudah di depan ruangan, Aranea bersandar pada dinding marmer, lalu kembali bertanya, "Ada apa?"

"Dia menangis dan mengakui kalau dia menyukai Ignis." Sebuah pernyataan. Yang entah bagaimana, sangat tidak mengherankan.

"Aku tidak menangis …," kau berujar lirih. Tentu saja suara sengau tidak membantu pembelaan itu.

"Uh, okay. Lalu … ? Di mana masalahnya?"

"Dia atasanku, Aranea?"

Aranea hendak memijit pelipis. Jadi soal ini? Apakah pola pikir seorang perempuan harus serumit ini—kadang ia bertanya-tanya. Mengapa terlalu banyak hal yang seharusnya tidak dipusingkan malah jadi sumber masalah?

"Honey—kalau kau memang sayang padanya, ya usahakan saja. Kau juga seharusnya tahu, bila kau ditolak pun, Ignis bukan tipe lelaki yang akan menjauhimu atau pura-pura tidak kenal. Malah, ia akan berusaha untuk bersikap biasa dan menjadi temanmu bila kau menginginkannya."

Aranea Highwind mengenal Ignis dengan baik. Itu membuatmu bertanya-tanya, sebetulnya—sebagaimana hubungan persahabatan orang-orang itu? Mereka tampak akrab dan nyaman dengan kehadiran satu dan yang lainnya. Kau nyaris iri. Ah—bukan. Kau memang cemburu.

"Aku baru mengenalnya tiga bulan."

"Lalu? Ya sudah, undur aja—nyatakan satu tahun berikutnya kalau kau takut hal-hal remeh semacam itu."

Agneta memiringkan kepala. Aranea memang tidak pernah menahan kata-katanya. Sebagian besar hal yang wanita itu ucapkan benar, meski terasa jahat.

Kau melemaskan pundak. Benar—ketakutan ini sangat tak masuk akal.

"Lalu aku harus apa?"

Kali ini—Aranea menarik sebelah sudut bibir. "Goda saja dia. Serang."

Agneta tersedak udara. Memang, sih, dia yang waktu itu memprovokasimu—namun, jawaban ini entah bagaimana terdengar begitu … penuh skandal.

"Aku tidak bercanda," sahut Aranea, sadar bahwa ia tidak mendapat respon apa pun. "PDKT adalah bahasa halusnya. Bahasa jujurnya, ya—menggoda."

Kau menggigit bibir bawah. Sepertinya, kau sendiri frustrasi soal ini. Belum ada balasan baik darimu maupun Agneta. Namun, seusai beberapa detik terlewat dengan tak nyaman, ia bertanya, "Kalau begitu, menurutmu cara apa yang paling efektif?"

Kau mengerjap. Pertanyaan bagus.

"…. Yah, begini. Dengarkan aku …."

.

.

.

Kau menarik napas, lalu menghelanya perlahan. Jantung serasa hendak keluar dari rusuk—sungguh. Apa ini akan selalu terjadi bila memorimu mengirimkan gambar wajahnya? Kau menahan diri untuk memijit pelipis. Kau merasa seperti tipikal gadis jatuh cinta—di mana, yah, tidak salah. Hanya saja sedikit … corny.

Aranea melihat ke arahmu dari kursi penumpang di depan. Senyumnya terbit dan suara elegan wanita itu berkumandang, "Berhenti menggerakkan kakimu."

Kau mengerjap. Begitu sadar—kau menoleh ke arah lutut yang senantiasa bergoyang gugup. Prompto yang mengendalikan kemudi mobil tergelak.

"Dia hanya gugup. Kurasa akhirnya kau berhasil menghadapi perasaanmu setelah selama ini?"

Kau mengangguk. Bola matamu sempat memandang ke arah sebuah rumah pada komplek yang cukup mewah sebelum Prompto mengambil belokan pada tikungan. Kau pun, merasakan ada yang tidak kaupahami, bertanya, "Eh? Sejak kapan …"

"Terlihat jelas, kok!" Prompto menjawab. Ia berseru senang. Ketika Aranea sempat bercerita bahwa kekasihnya mirip seperti seekor golden retriever—wanita itu tidak membual. "Sejak Iggy membawamu ke bar dua bulan lalu, kau sudah tampak menyukainya."

Kau mengusap tengkuk. Malu. Namun Aranea hanya membalas santai, "Yah, ini pertarunganmu. Tenanglah—you have nothing to lose."

"Yeah." Kau berusaha menenangkan detak yang meliar kala mobil Prompto sampai pada sebuah rumah. "I hope so."

Setelah Prompto selesai memarkir mobilnya, kalian turun dari sana. Hanya untuk niat keusilan semata, Prompto mengetuk pintu Ignis dan berikutnya mengalunkan nada yang—ia pikir—penuh humor, "Iggy~! Main, yuk~!"

Ah, seperti anak taman kanak-kanak saja. Kau terkekeh kecil.

"Iggy!"

"Sebentar—Tuhanku, kau sangat berisik, Prompto."

Saat pintu terbuka, Ignis muncul dari sana. Kau termangu—melihat dirinya yang sangat kasual dengan surai pirang kusam jatuh pada sisi wajahnya dan hoodie abu-abu membalut tubuhnya.

Cakep. Manis—banget. Astaga. Nggak tahan.

Ignis melihatmu, lalu mengumbar senyum tipis. Ia tidak memakai kacamata untuk kali ini. "Selamat malam."

Kau membalasnya, menahan senyum yang terlalu jelas, serta barangkali wajah yang memerah, "Selamat malam, Ignis."

"Hanya dia yang disambut?" Aranea bertanya. Atas itu, Ignis hanya merotasi bola mata lalu mempersilakan kalian untuk masuk.

Kau melepas sepatu berhak rendah. Sepatu yang biasa kaugunakan untuk ke kantor—bukan apa, kau hanya menyukainya. Itu sangat nyaman bagimu dan rasanya cocok bahkan meski kau hanya menggunakan kaus dan high rise jeans, seperti sekarang.

Saat sampai di ruang tamu—orang-orang yang kausangka pun sudah ada di sana. Noctis, Lunafreya, ah—Gladiolus membawa seorang gadis. Kau bertanya-tanya apakah itu adik perempuannya, karena mereka memiliki mata yang mirip. Mereka menyambutmu—beberapa kaleng minuman telah terbuka. Tentu saja, kalian yang datang paling telat malam ini.

"Duduklah," Ignis berujar padamu, mendorong pinggangmu lembut. "Akan kuambilkan minum."

Kau mengangguk. Saat melabuhkan dirimu di ujung sofa, kau tersenyum tipis melihat kemeriahan yang mengisi suasana. Mengingat-ingat apa yang telah Agneta dan Aranea ajarkan selama ini. Meski, "pendidikan" itu kebanyakan adalah diskusi antar wanita yang sebetulnya tidak berguna, namun cukup untuk menjaga hatimu dan melangkah.

Kau terkekeh tipis bila mengingatnya. Aranea pernah bilang—lelaki adalah makhluk yang sederhana. Meski begitu, tentu tidak bisa diremehkan. Tarik-ulur diperlukan agar ia melihatmu sebagai wanita yang menantang. Kau tidak begitu paham, namun kau mengikuti saran itu.

Bilang "Tidak" sebelum "Ya", katakan "Ya" satu kali dan "Tidak" dua kali—teori yang membingungkan. Apakah mengadu nasib dan perasaan perlu rumus, kompleksitas, dan sistematika yang rumit? Namun, toh—tetap kaulakukan. Agneta juga pernah berkata, bahwa kau harus paham kapan waktu yang tepat untuk menggoda dan atau menyentuh lelaki. Misalnya seperti—

"Nih."

–sekarang. Ignis mengambil tempat tepat di sebelahmu, mengulurkan satu kaleng bir. Namun sebelum benar-benar diberikan, lelaki itu membuka tutupnya, dan kau mengucapkan terima kasih lalu menerima.

Setelah dua kali meneguk, kau melirik pada Ignis, menyadari kaleng yang berbeda. "White Claw?"

Ignis mengangguk. Ia menyodorkan kalengnya padamu. "Kau mau coba?"

Kau tediam sesaat. Berikutnya kau menggunakan sebelah tangan untuk menarik lembut pergelangan tangan Ignis, mengarahkan bibirmu pada kalengnya, lalu meneguk isinya sedikit. Ignis mengerjapkan pelupuk bertirai bulu mata. Tidak sangka atas tindakan itu.

Ia melihat ke arah bibirmu—lipstik merah muda sedikit mengenai mulut kaleng. Dari jarak sedekat ini, dan dari arah perspektifnya yang sedikit lebih atas dari kepalamu, ia bisa melihat tali bra hitam menyembul dari balik kerah kaus putih polos. Berikutnya kau menautkan alis sesaat dan berkomentar, "Sudah kuduga—Heineken sedikit lebih baik."

Ignis terkekeh tipis. "Preferensi saja."

Kau ikut mengulum tawa. Berikutnya kau mengangkat sebelah tangan, lalu menyentuh poni pirang kusam. "Kau tampak berbeda dengan rambut diturunkan."

Ignis meraih pergelangan tanganmu. Menariknya perlahan dari surai pirang kusamnya, bertanya rendah, "Benarkah?"

"…. Ya." Kau mempertahankan pandangan mata. Berniat melepaskan tangan, namun genggaman sang lelaki pada lenganmu jauh lebih kuat.

"Oh ya—Noct, aku request untuk penambahan tablet dan monitor dong, untuk divisiku," Prompto mendadak menyahut. Genggaman Ignis melemas, kau menarik tangan. "Ada beberapa yang mulai mau belajar design digital. Tapi kurasa kertas watercolour juga perlu, mungkin dibagi dua saja pembagian pekerjaannya?"

"Boleh," Noctis merespon. Ia memberikan segelas air putih pada Lunafreya. Wajah wanita itu yang semula berwarna krem cerah kini mulai kemerahan. "Bikin saja permintaan resminya, berikan pada Specs. Nanti ia akan teruskan padaku. Lalu kita bisa bahas di rapat berikutnya."

Ignis menghela napas—pasrah dan memaklumi. "Baiklah, nanti kubantu urus."

Gladio menggeleng-geleng. Ia menepuk-nepuk pelan puncak kepala Iris Amicitia yang tertidur pada pahanya. "Kalian jangan bahas kerjaan, dong—kalau lagi santai begini."

"Haha, mereka kan memang suka kerjaa …." Lunafreya tersenyum. Kau jadi ikut merasa ia manis—sudah jelas wanita itu sedikit melayang karena alkohol yang dikonsumsi. Noctis mendusel pipi wanitanya dengan sebelah tangan.

"Luna, kau mabuk, ya."

"Tidaaak?"

"Pulang, yuk?"

"Tidaaak."

Sontak, Aranea tergelak. Ia mendekati Luna, lalu berbisik sesuatu di dekat telinga wanita itu. Berikutnya—apa yang tidak disangka oleh insan yang lain, Luna mengangguk, tertawa kecil. Ia menoleh pada Noctis, lalu berujar, "Pulaang? Ayuk."

Noctis menatap Aranea heran—sekaligus kagum. Sejujurnya, Lunafreya juga adalah sosok yang keras kepala—sama sepertinya. Bila wanita itu sudah teguh akan sesuatu, maka tidak akan dilepaskannya. Noctis hanya tidak sangka Aranea bisa mengucapkan sesuatu yang membuat Lunafreya berubah pikiran.

"Sudah, ajak dia pulang, Direktur," sahut Aranea.

Noctis mengangguk. Akhirnya ia menggendong Luna dalam dekapan, kemudian berpamitan pada Ignis dan yang lain. Gladiolus juga mengikuti Noctis—adiknya sudah cukup lama tertidur dan ini bukan waktunya anak SMA untuk tetap hang out. Kau menyadari bahwa keriuhan mendadak memudar, karena kini hanya tinggal dirimu, Ignis, Prompto dan Aranea.

Aranea menarik lenganmu, kemudian memintamu mengikutinya. Kau kirimkan pandangan yang menuntut penjelasan, tapi tentu saja tidak ada eksplanasi dari si wanita bersurai perak. Saat melihat Ignis, lelaki itu hanya tersenyum tipis dan membiarkan Aranea menyeretmu untuk mengeksplorasi rumahnya.

Prompto juga tidak ambil pusing. Ia hanya membuka satu kaleng bir lagi, mengetuknya dengan kaleng bir milik Ignis, lalu meminum isinya.

Aranea membawamu pada kamar mandi, lalu menghadapkanmu pada kaca. Kau dapat melihat pantulan dirimu.

"Baiklah, sehabis ini aku dan Prompto akan pulang, jadi berusaha semampumu."

Kau terkesiap. Berbalik cepat dan memandang bola mata Aranea. "Kau gila?" desismu. "Apa yang harus kulakukan?"

Aranea mengangkat sebelah alisnya. "Kulihat kau tahu betul apa yang kaulakukan. Bagaimana kau menjelaskan tadi dengan halusnya kau memegang pergelangan tangannya untuk minum bir? Atau saat menyentuh rambutnya diam-diam? Kaupikir aku tidak sadar?"

Kau menggerutu dalam hati. Tetap saja—ini dan itu berbeda. Aranea mengetuk dahimu pelan. Ia mengeluarkan parfum kecil dari kantung celana, kemudian menghamburkan aromanya di balik telingamu dan pada klavikula.

Kemudian, ia mengajakmu keluar dari kamar mandi. Aranea membuka suaranya, memanggil sang kekasih, "Promp, pulang, yuk? Aku ingin menginap di rumahmu."

Prompto terkikik. Mengangguk senang, ia mendekati Aranea dan meraih jemari wanita itu, menghangatkan suhu tubuh yang dingin sejak masuk ke dalam rumah Ignis. "Tentu. Kau mau diantar?" tanya Prompto padamu.

Namun sebelum kau sempat menjawab, Ignis menggeleng, ia yang menyahut, "Tidak. Aku ada urusan dengannya."

"Oh? Begitu? Baiklah."

Lalu kini—detak jantungmu melompati satu interval. Urusan? Apa? Kau memang sedari awal berniat menolak tawaran Prompto—toh, memang Aranea dan lelaki bersurai pirang itu yang sengaja berbaik hati ingin meninggalkan kalian berdua. Namun kini kala Ignis yang buka suara, menyatakan mewakili dirimu, kau mengernyit bingung.

Saat Prompto dan Aranea kini betul-betul pergi, kau masih berdiam diri di ruang tengah rumah si pria beriris gulma. Rumah yang cukup besar, mewah—namun hangat di saat yang sama. Kau mengeratkan telapak tangan—menahan napas ketika Ignis melangkah mendekatimu. Untuk reflek yang terbentuk pada tulang belakang, kau mundur satu langkah.

Ignis menangkap tanganmu, menghujam bola matamu dengan iris limau miliknya. Kau terasa terkungkung—terbuai oleh harum sabun, oleh tubuh yang perlahan meretas jarak.

"Maaf kalau aku salah, tapi …," ia menggantung kata-katanya. "Aku mendapat impresi kau sedang berusaha menggodaku."

Ah—sialan. Kau kini menunduk. Sebuah kebohongan tak akan bekerja, sepertinya untuk sekarang. Untuk apa pula? Kau datang sejauh ini; mempersiapkan diri untuk yang terburuk, bukan?

"Maaf …."

"Kenapa?" pertanyaan itu begitu telak—tanpa basa-basi, hanya ingin kejujuran. Ya, ya—atau, sebut saja, pengakuan dosa.

Kau meneguk ludah. Jantungmu meliar. Entah sudah kali ke berapa kau merasakannya sejak bertemu pria ini. Entah sudah kali ke berapa kau meyakinkan diri sendiri untuk kalem—namun, tak berhasil sama sekali.

"Aku—menyukai Ignis."

Satu sekon.

Dua.

Tiga—hingga enam detik melaju, tidak ada jawaban. Kau mengerang dalam hati. Rasa sakit merayap perlahan hingga ke dasar dada. Kau begitu terhenyak. Menyatakan hati dan sepertinya kini begitu siap untuk ditolak. Kau mendongak, melihat wajah Ignis. Emosional merengkuh diri—oh, kalau bisa menangis, ingin dilakukan saja. Namun kau ke sini bukan untuk membiarkan diri dikasihani, bukan?

"Maaf. Aku tahu ini tidak pantas dan kau atasanku, aku juga—aku tahu kalau bersikap begini belum tentu akan membuatmu menyukaiku dan …"

"Hei," Ignis memanggil. Ia membiarkan telapak tangannya menangkup pipimu, membawa pandanganmu menemui miliknya. "Bagaimana kalau aku impulsif? Bagaimana, kalau—aku tidak menyukaimu, tapi menidurimu hari ini karena aku merasa tidak masalah mengambil kesempatan atas perasaanmu?"

Kau membentuk kurva pada bibir berbalut polesan merah muda. Oh—kau tahu jawaban yang tepat. Ini menyenangkan, seperti mengisi lembar soal jawaban kuis dengan sesuatu yang sudah kauyakini pasti.

"Apakah Ignis akan melakukan itu?" tanyamu balik. "Kau orang yang penuh kalkulasi, logika—tapi kau juga memiliki hati. Apakah kau akan dengan impulsif tidur dengan seseorang hanya karena dia menggodamu? Ignis yang kutahu … kau akan mengolah baik-baik perasaanku dan mencoba mengerti, dan kalau kau masih belum yakin—kau akan berpikir baik-baik dan memberi jawaban nantinya. Entah apakah itu jawaban yang kukehendaki atau tidak."

Ignis berikutnya terkekeh. Tawanya serupa lonceng lembut yang berdenting tertiup angin musim panas. Kau menghela napas lega. Mengalihkan mata pada pualam. Sampai di sini saja, ya?

"Aku … izin pulang," ujarmu pada akhirnya. "Terima kasih untuk hari ini, Ignis."

"Hmn? Aku tidak bilang kau boleh pulang."

Rahangmu terjatuh. Eh?

"Aku juga tidak bilang aku akan menolakmu."

Hmnn?

Kau termangu untuk sesaat. Rahangmu terbuka dan tertutup hingga akhirnya kata-kata keluar dari belah bibir, "… ah. Kau pasti mabuk, ya."

Ignis mendengkus. Ia menarik pinggangmu, membawamu merapat pada tubuhnya sendiri. Pekikkan kecil tanpa sadar kausuarakan. Ignis menenggelamkan kepala pada perpotongan bahumu, menghidu harum parfum yang berbeda. Meneduhkan.

"Kau tidak tahu berapa lama …," bisiknya. Kau tidak paham akan itu.

Namun, meski ada keraguan di ujung jari, kau mengangkat kedua lengan dan mendekap Ignis. Rasanya hangat—nyaman. Kau terkekeh tipis. Lega membanjur diri—seperti tak ada lagi beban sama sekali.

Ignis mendadak menangkup wajahmu. Kau tersentak. Lebih-lebih ketika ia memutuskan untuk melabuhkan bibirnya menemui dirimu.

Pelupukmu sontak tertutup. Ada lembab—serta rasa asing di ujung mulut, tapi tidak buruk. Saat belah bibirmu sedikit terbuka untuk mengambil napas, Ignis menyelipkan lidahnya. Mengeksplorasi di sana, memberi lumatan dan hisapan halus.

Kau menepuk-nepuk pelan dadanya. Saat Ignis melepaskan kuncian pada bibirmu, kau meneguk ludah, menatapnya panjang. Seluruh tubuh kini serasa panas dan Ignis tertawa kecil. Ia banyak tertawa hari ini—sudah kauduga, mungkin ini pengaruh alkohol.

"Kau mau lanjut? Kalau tidak pun—tak apa, sih."

"…. Kau ternyata usil, ya."

"Kenapa?" Ignis balik menantang, ia dengan cepat menggenggam tanganmu, lalu menuntunmu berjalan ke kamarnya. "Kamu suka, kan?"

"…. Iya." Sangat.

Entah sejak kapan, ya. Saat sampai pada sebuah kamar, kau berkedip. Harum—Ignis. Itu yang paling menjabarkan. Ignis menutup pintu, tidak repot-repot mengunci—tak perlu, tak akan ada yang masuk pula. Ia membawa dirimu ke arah kasurnya, menyuruhmu untuk duduk di atasnya. Kau menurut. Sesuai itu, ia menyalakan pendingin ruangan.

Apa yang semakin membuatmu merapalkan segala doa sekaligus makian dalam hati adalah karena Ignis melepaskan hoodie abu-abunya.

Oh. Agneta benar—meski tampak kurus, lelaki ini dipadati otot. Garis pada perutnya tampak tercetak jelas, v-line menonjol seolah dipahat hati-hati oleh seniman veteran. Ignis balik melihatmu yang terduduk kaku dengan bahu menaik. Ia merangkak ke atas ranjang, memegang ujung kausmu dan mengangkatnya ke atas. Tanganmu mengikuti, membiarkan kaus lepas melalui kepala dan akhirnya copot sepenuhnya, lalu berakhir di atas pualam.

"Ragu?"

Kau menggeleng.

"Malu."

Ignis melanjutkan pekerjaannya. Ia melepaskan kaitan pada bra, kembali mengempasnya ke samping bawah kasur. Kau mengeratkan kepalan tangan, menumpunya pada pundak Ignis.

"Berbaringlah."

Ignis lalu mendorong pundakmu lembut, membiarkan punggungmu jatuh menemui permukaan kasur yang halus. Kau menekuk lutut, sedikit terkejut ketika lagi-lagi Ignis mengecup bibirmu. Mengecap rasa dan menyuguhkan kecup-kecup kecil yang menuntut—begitu tak sabaran, tapi lembut keterlaluan.

Kontradiksi yang entah bagaimana menyertai segala tindakannya dan terasa sempurna. Kau bergidik pelan ketika merasakan tangan yang sedikit kapalan menelusuri tengkukmu. Turun hingga ke perpotongan leher, jari telunjuk menyeret pada garis tulang selangkamu. Kau menahan suara. Tidak bisa juga bila tengah dibungkam bibirnya—hanya hela-hela napas berat yang lolos dari kedua belah pihak.

Saat bibir itu terlepas, kau masih termangu, lalu menyentuh sudut bibir si iris limau dengan ibu jari. Tercoreng warna merah muda. Kewaspadaanmu mengendur sebelum sebuah tangan berlabuh pada salah satu buah dada, memberi remasan di sana.

Pinggulmu terangkat sedikit. Kau menutup mata, menggertak gigi. Entah mengapa begitu malu untuk meloloskan berbagai jenis suara yang pita suara bakal hasilkan. Namun—Ignis tidak setuju. Ia memberi pijitan, tekanan, serta memainkan jemarinya di sekitar lingkar puting. Kau mengembus napas berat, "Hng—"

Si surai pirang kusam mengecup perpotongan lehermu. Menggigit kecil. Lagi-lagi Agneta benar—rasanya dihimpit oleh Ignis dan dicicipi oleh lidahnya terasa memabukkan. Ada kompulsi yang membuatmu ingin segera bertindak impulsif, ikut menyentuhnya, ikut mengulum setiap sudut tubuhnya.

Kau mengerang lemah kala bibir Ignis akhirnya mengecup tonjolan lain pada buah dadamu. Tanganmu kini terselip di balik surai pirang kusam yang sedikit berantakan. Punggungmu membusur atas jilatan dan lumat yang dilaksanakan gemas, membuat tonjolan kecoklatan menegang dan memerah.

"Iggy—"

Saat nama kecil itu dipanggil murni dengan ketidaksengajaan, disertai napas yang memburu, Ignis reflek menggigit lembut tonjolan pada buah dada. Kau menggeliat. "Ah!"

Berikutnya kau menyadari kepalanya semakin turun. Kepalamu melayang—pandanganmu sedikit mengabur. Kau mendengar suara resleting celana diturunkan—milikmu sendiri. Ignis menarik jeans yang masih membalut pinggangmu. Kau membantu melepaskan, menghentak kaki hingga celana lesap seluruhnya dari sepasang tungkai.

Ignis teringat sesuatu. Ia membuka laci pada nakas di samping tempat tidurnya, mengeluarkan satu botol pelumas berbahan dasar air dan satu bungkus kondom. Kau melenguh tidak percaya. "Kau sangat penuh persiapan."

Ignis mengangkat bahu, menunjukkan cengiran tipis. "Ini rumah lelaki—kamu harus paham itu dulu."

Maka, ia menuang cairan pelumas ke atas telapak tangan. Menggosok jarinya sendiri, lalu melebarkan bukaan pada kakimu. Kau menarik napas tajam. Ignis menekan lembut klitoris yang masih dilapisi celana dalam—yang kini basah dan lengket menempel pada organ kemaluanmu.

"Gods—Iggy."

"Hn?"

Celana dalam itu akhirnya ditarik, ditanggalkan. Ibu jari masih memijit dan melakukan gerakan melingkar pada klitoris.

Ignis menahan kedua pahamu agar tetap terbuka, lalu ia mengecup bibir kemaluanmu. Kau meloloskan desah. Lidah Ignis masih nyaman berputar di sana, memberi gigitan. Ada hisapan dan decak yang ia lakukan pada pinggiran bibir kemaluan yang memerah. Berniat menyesap setiap rasa yang ada. Meraba setiap sudut-sudut yang tak pernah kausentuh sendiri. Ada getar yang hadir pada tubuhmu dalam setiap aktivitasnya—dan betapa kau tidak memiliki imunitas atas jilatan sederhana dari lidah itu.

"Iggy—fuck …."

Oke—itu pertama kalinya kau menyumpah di hadapannya. Digoda oleh organ tak bertulang yang basah dan menggeliat di bawah sana membuatmu gila. Ignis tersenyum tipis—ah, memang itu tujuannya. Kemudian jemarinya yang telah dibalut pelumas perlahan masuk.

"Ah!"

Ignis mengecup dahimu. Kau mengernyit, ada rasa nyeri yang kentara dari organ vitalmu. Berdenyut dan sangat—panas, mengocok perut. "Sakit …."

"Kau belum pernah … sama sekali—"

"Belum!" kau berseru kencang, tepat setelah jari kedua masuk. Kau mendengking lemah, meremas pundak Ignis tanpa sadar. Ada gerakan mengorek halus yang dilakukan kedua jari itu di dalam vagina. Kau melenguh dalam setiap tusukan dan tarik. "Ah—nnh. Nnh!"

Agak sulit kalau pertama, ya. Ignis mengusap dahimu yang dibalut keringat. "Should we stop?"

Kau menggeleng mantap. "Lanjutkan sa—ah!"

Air matamu merembes sedikit. Ignis perlahan menyelipkan jari ketiga. Punggung membusur. Kau mengoceh dalam hati. Kau juga pasti tidak mau berhenti, kan. Bukan berarti kau keberatan—sungguh.

Jari Ignis bergerak di dalam sana, melebarkan akses. Mengorek liang seperti tengah mencari harta utama dalam tumpukan emas. Kau menggigit bibir. "Nghh. Nnh—"

"Kamu cantik."

Kau mengembungkan pipi. Entah mengapa—begitu puas melihat wajah si surai pirang kusam yang kehilangan ketenangan, dipenuhi bulir keringat, serta gurat merah muda. "Aku tahu. Ah—Iggy!"

Tubuhmu menggelinjang di saat yang sama ketika orgasme terjadi. Kau menarik napas, mengatur tempo yang terputus-putus. Ignis menarik jemarinya yang dibalut likuid kental. Berikutnya ia turun dari kasur, menanggalkan celana beserta dalamannya. Dapat kaulihat organ kemaluan lelaki yang menegang, berkedut di ujungnya.

Ignis meraih kondom, lalu kau bangkit menjadi posisi duduk, berusaha mengambil alih dari tangannya.

"Sini."

Ignis membiarkan. Kaurobek bungkusnya pelan-pelan, lalu memasangkan karet itu pada kejantanannya. Ada lenguhan berat yang tertahan dari si Manager ketika ujung jemarimu menyentuh ereksinya, beserta pijitan lembut yang kaulakukan di sekitar sana.

Kau tidak pernah melakukan ini—tapi kau cukup dewasa untuk paham bagaimana caranya. Setidaknya, secara teori.

"Kemarilah," Ignis memanggil. Kau mengangguk, lalu membuka paha, duduk di atas paha Ignis. Ia menggunakan tangannya untuk mengarahkan ujung kejantanan pada belahan labiamu. Kau mendengar desisan ketika ujungnya masuk merisak. Kau menahan erang, sontak menancapkan kuku pada punggung yang tegap.

Sensual. Memabukkan. Berhati-hati. Penuh kalkulasi. Itulah Ignis Scientia—apa lagi? Selain kewarasan yang perlahan terbuang pada malam ini, sifat-sifat utama itu tak akan pernah runtuh. Hanya ada tambahan afeksi, kebutuhan primal manusia, serta rasa ingin menginvasi bagian terdalam.

Kau melengkungkan punggung. Buah dadamu tertekan oleh dada bidang Ignis. Kepalamu terkulai ke belakang ketika organ yang ereksi sepenuhnya menancap ke dalam vagina—mencari titik pemuas dahaga. Sontak kejantanannya terhimpit daging yang hangat, berkedut-kedut—membiasakan diri.

Kau melenguh panjang—sakit di saat yang sama. "Ahh—ah! Iggy, fuck, it hurts—"

Terkaman jarimu pada punggung Ignis tidak mengendur. Menetak di sana, meninggalkan bekas cakar. Meski nyeri menyelimuti daerah kewanitaan dan kaki nyaris mati rasa, euforia lain hadir, hormon-hormon seksual yang meluluhkan segala pertahanan diri, ingin meminta lebih.

Ignis mendesah namamu. Lidahnya kembali mengeksplorasi tengkuk dan menggigit daun telingamu. "Sabarlah."

Pandanganmu mengkabut. Kau pasrah dalam sepasang lengan yang mendekap—menopang tubuhmu. "Bergerak, Iggy," kau berujar. Tidak sadar itu bernada perintah—kau hanya sadar Ignis ragu untuk menggerakkan pinggul.

Ignis menarik senyum lembut. "Sure, my love."

Kau merasakan sengatan listrik pada seluruh syaraf. Panggilan yang betul-betul menyokong gairah. Kau tidak sempat mengapresiasi atas panggilan itu sebab Ignis kini mengempas punggungmu ke atas kasur, menggerakkan pinggulnya. Temponya tidak cepat, tapi setiap tarik-hujam yang ia laksanakan begitu bertenaga, merasuk ke dalam, menyentuh satu titik yang membuatmu terlena.

"Ah—ah! Iggy!"

Ignis menggeram. Ia mempercepat gerakannya, tidak membiarkan rentetan itu putus. Kau membuang kepala, menyakar punggung, mengerutkan jemari kaki—apa saja, untuk melampiaskan rasa yang kini membanjiri begitu intens. Begitu tanpa ampun.

"Hei, aku—" Ignis mengerang. Kau mendekapnya, membiarkan ia tetap berada di dalammu. Detik berikutnya, punggungnya bergetar—kau nyaris yakin klimaksnya akan dirasakan mengalir dalam bibir rahim bila saja ia tidak mengenakan kondom.

Kalian terengah. Ignis menggunakan sebelah tangan untuk mengusap helaian surai yang sengkarut menutupi wajahmu. Kau mendorong tengkuk si surai pirang, membawanya dalam satu kecup sederhana.

Iggy tersenyum mendusel dahinya dengan milikmu.

"Aku sayang padamu. Sejak lama."

Dan kau harus bertanya—soal itu. Namun untuk kali ini, tidur rasa-rasanya tidak buruk.

.

.

.

.

.

.

Hari itu adalah musim panas yang mengulang. Setiap tahun seperti sebelum-belumnya, LeSalle College* mengadakan education fair teruntuk para mahasiswa mereka. Dan seperti tahun yang telah repetitif berjalan, seperti robot dan algoritma tak terbantah, tahun ini pun—demikian.

Kehadiran Lucis menjadi company sorotan bagi para mereka yang memilih fashion design sebagai jalan hidup. Kebanggaan dan prestise yang terukir akan menjadi tidak terelakkan ketika berhasil masuk ke dalam bagian mereka.

Ignis Scientia memijit pelipis. Siang itu, ialah hari yang panas, dengan sinar matahari bersinar keterlaluan bersemangat. Ia harus memimpin presentasi dalam tiga puluh menit ke depan. Aula utama dipenuhi lautan insan—begitu ramai akan celoteh dan suara yang riang. Anak-anak muda yang sarat akan animo serta jiwa membara.

Ah—bukan berarti ia sudah tua. Ia hanya pria di awal umur 26 tahun, oke? Dia hanya sedikit lelah dan kurang tidur. Sekaleng Ebony memang telah ada pada genggamannya, tapi sungguh—ia ingin cepat-cepat menyelesaikan ini.

Namun, sepertinya para Astral tengah melembutkan hati dan hendak mencurahkan berkah. Kau mendatangi Ignis, senyum tipis terukir pada bibir. Melihat seorang lelaki berbusana rapi tak bercela, namun duduk bersila di balik panggung dan nyaris meringkuk—bukankah tampak ada yang salah?

Namun, kau juga paham bahwa staff lain mengacuhkannya. Bahkan orang-orang dari Lucis itu sendiri. Barangkali, ini memang cara si lelaki untuk mendapatkan kedamaian meski secuil sebelum penampilan besar. Namun—hati kecil menyuruhmu untuk mendekatinya, berlutut di hadapannya—maka itu yang kaulakukan.

"Nih." Kau mengulurkan satu kaleng Ebony dingin. "Kulihat para staff-mu ingin memberikan, tapi ragu."

Ignis mengerjap. Bola mata secerah gulma di padang rumput melihat sosokmu yang menendang sudut-sudut bibir. Suraimu agak sengkarut—hasil dari aktivitas seharian yang begitu melelahkan. Name tag bertuliskan "coordinator" tergantung pada lehermu. Ignis Scientia resmi—terpaku.

Entah apa yang membuatnya terdiam. Barangkali senyum yang disodorkan begitu tulus, semangat—meski sisa-sisa kelelahan ada pada gurat wajah. Atau mungkin, harum matahari yang menyertai gadis berkeringat ini. Kerja keras yang tampak dari penampilannya. Kaus putih yang melekat pada tubuh; sedikit lusuh dan kusut.

Tapi, terlebih itu semua—bisa jadi karena kau tidak ragu untuk mendatanginya. Di saat yang lain memutuskan mundur atau terintimidasi oleh titel yang dipunyai si pria berkacamata.

Bukan, Ignis membatin. Mungkin dia juga tidak tahu siapa aku sama sekali, malah.

"Hei?"

Ignis mengedip beberapa kali, menyambut Ebony. "Maafkan aku; aku melamun."

Kau terkekeh tipis. "Aku panitia di sini, kau bisa memanggilku kalau ada perlu. Habis ini presentasi, ya?"

Ignis mengangguk. "Ignis Scientia—manager dari Divisi Logistik di Lucis."

"Wah!" kau berseru. "Orang penting. Aku buruk dalam mengingat wajah dan nama seseorang—jadi aku tidak mengenalimu. Kuharap kau tidak marah aku lancang mendatangimu begini. Kulihat kau sendirian."

Ignis menggeleng. Tidak sama sekali. Kau masih mengulurkan senyum. Berikutnya, kau berujar, "Aku paham, aku juga mudah gugup kalau disuruh begini. Apalagi kalau tampil atau wawancara di depan orang! Aku bisa menangis karena takut salah."

Ignis lalu membalas ucapanmu, "Kau tidak perlu mengincar kesempurnaan setiap saat, kok."—Ironis. Padahal, entah bagaimana, ini adalah apa yang Ignis lakukan nyaris selama hidupnya.

Kau terkikik kecil. "Aku tidak. Aku akan berusaha semampuku untuk apa pun—tentunya. Baiklah, aku akan kembali bersama temanku. Semangat!"

—Dan kau melangkah menjauh. Ignis menatap satu kaleng Ebony dingin pada telapak tangannya. Tak sampai lima menit, Noctis mendatanginya, ikut terduduk di sebelah. Keluhannya mengudara, "Wah, panas banget, ya. Padahal pendingin udara sudah menyala kencang."

Ignis tersenyum tipis. Ah … ini terdengar klise. Namun, jatuh cinta memang tidak pernah tahu diri kapan datangnya. Tahu-tahu, tanpa mengetuk pintu masuk, mereka sudah bersiap menanti empunya rumah.

Mungkin ini juga terdengar seperti sebuah kelakar buruk di hari yang senja, tapi—Ignis merasa ia tidak bisa mengalihkan ingatan dari gambar gadis nyaris dewasa yang ceria. Gadis yang gurat pipinya berwarna merah muda, dengan kulit yang terbakar sinar matahari. Barangkali ia telah bekerja seharian penuh, bulak-balik ke sana kemari, menyusun acara dan memastikan kelancarannya.

"Noct …," Ignis memanggil.

"Yeah?"

"Aku suka anak itu."

Noctis tersedak udara. Ia menatap ke samping—membulatkan bola mata azure. "Maaf?"

Ignis menghela napas panjang, membiarkan jari telunjuknya mengarah pada sosokmu yang berdiri di sudut ruang, tergelak bersama teman-temanmu. "Apa kaupikir kau bisa membantuku agar dia masuk ke Lucis—bagaimana pun caranya?"

Noctis melihatmu, lalu menatap Ignis bergantian. Ia mengusap tengkuk. Ada rasa senang sebab temannya kini akhirnya menaruh perhatian pada seorang gadis—tapi, penuh penasaran dan ragu di saat yang sama. Namun begitu Noctis mengarahkan pandangannya pada Ignis dan melihat kilauan di iris itu—ia rasa, ini patut dicoba.

"Baiklah. Kurasa bisa."

"Kita tidak perlu langsung menawarinya."

"Aku paham. Akan kubantu mengoper-oper dia dari satu company ke company lainnya sebelum ke sini."

"Aku butuh bantuan Aranea."

"Ya—tentu. Kau ingin dia masuk Logistik?"

Ignis menggeleng. "Tidak pun tak apa. Itu preferensinya atas pekerjaannya—bagaimana pun. Tapi, aku ingin dia diwawancarai olehku."

Noctis menendang sebelah sudut bibir. "Kau serius, ya?"

Ignis menoleh pada atasannya, sekaligus kawan terbaiknya itu. Membetulkan kacamata, suaranya berdendang tenang, "Aku tidak pernah main-main."

Noctis mengirimkan senyum terbaik. Ia meninju pelan pundak sahabatnya. "Get her then, Ignis Scientia."

Dan, barangkali itulah awalnya.

END