Mungkin hanya sebatas ini, Frankenstein hanya bisa bertahan sebatas ini. Seluruh tubuhnya serasa mau hancur, tak memungkinkan untuknya tetap bertahan.
"Frankenstein, aku ... percaya padamu."
Suatu kenyataan kalau Frankenstein adalah manusia yang tak pernah menyerah.
Tiada Kata
By KunikidaDerai
Noblesse by Jeho Son and Kwangsu Lee
"Bagaimana jika ia tak lagi bisa bertahan, dan akhirnya jatuh juga."
Based Chap 436 in Webtoon.
Ada sedikit perubahan.
#BSRGugurBunga
Hope Enjoy
Mungkin bisa dibilang gila, walau memang sudah gila. Pria pirang itu meyakini bahwa tuannya masihlah ada.
Dan ia pun terus menunggu.
Jangan tanyakan kenapa, ia pelayan Cadis Etrama Di Raizel, sudah sepatutnya ia setia pada tuannya itu.
Ia terus menunggu, bersembunyi di antara manusia, membuat sebuah sekolah dan membuat dirinya menjadi kepala sekolah.
Semua ia persiapkan, demi menyambut tuannya saat kembali nanti. Frankenstein ingin, tuannya hidup normal layaknya manusia biasa.
Karena, itu lah keinginan Raizel juga.
Dan Frankenstein berhasil, penantiannya selama 820 tahun tak sia-sia. Tuannya kembali, walaupun banyak pertanyaan yang hinggap, namun Frankenstein terlampau senang karena tuannya kembali.
Lagipula ia yakin, Raizel akan menceritakannya nanti.
Tiada lagi kesenangan saat melihat tuannya menikmati kehidupan, berteman dengan manusia, tak perlu mengeluarkan kekuatan dan memikirkan sesuatu yang rumit.
Namun, entah mengapa hal itu hanya bertahan sebentar. Masalah muncul satu-persatu.
Munculnya M-21, DA-5, bangsawan lain yang membuat tuannya harus pulang ke Lukedonia, ketua Union, bahkan kepala keluarga yang berkhianat.
Semua rumit, berantakan, dan mengharuskan Raizel menggunakan kekuatannya.
Framkenstein berusaha sekuat mungkin, melawan semuanya agar sang Noblesse tak perlu turun tangan.
Namun ia hanya manusia, ada batas untuk Frankenstein bertahan dan melawan. Toh yang dilawan juga bukan manusia biasa, melainkan manusia modifikasi, vampire bangsawan, bahkan werewolf.
Melainkan ia hanya manusia yang mempunyai kekuatan gila dan menyakitkan.
Frankenstein hanya manusia yang memiliki batas, dan yang dilawannya adalah sosok yang melebihi batasnya.
Bukan, bukan karena ia tak bisa melawan. Namun, karena Dark Spear yang berulah.
Disaat ia sudah bersiap untuk menyerang balik, Dark Spear yang tak tenang membuatnya lengah dan terkena serangan fatal.
Membuat Frank tak sadar dan tenggelam dalam gelapnya Dark Spear.
Membuat ia lagi-lagi merasa putus asa dam ingin menyerah.
"Frank ..."
Namun suara itu.
"Frankenstein."
Suara itu membuat ia mendongak, menatap kaget karena tuannya masuk ke dalam Dark Spear yang seharusnya hanya ia yang bisa masuk.
"Tuan ..."
"Bisakah ... aku percaya padamu?"
Apa tuannya pun sekarang meragukannya?
"Apa-"
"Bisakah, aku percaya padamu. Untuk melawan musuh sedangkan aku menyelamatkan M-21?"
Sekarang ...
"Ya, Tuan. Percayalah padaku."
Musim gugur kan?
"Belakangan ini, aku sungguh teramat tersiksa."
Aura gelap mencekam seakan menyelimuti sekitar Dorant, Karias, dan Rael. Membuat tiga orang itu melirik ke asal aura dengan kaget.
"Senjata sinting ini terus mengangguku seperti anjing gila, tiap kali ada kesempatan. Tambah lagi, musuh yang kuat terus saja muncul ..."
Tampak kulit pria pirang itu berubah hitam, diselimuti Dark Spear yang memang ingin menelan penggunanya. Namun, Frankenstein membiarkan benda hitam itu menyelimutinya.
"Sekarang, keparat seperti itu muncul dengan kekuatan di luar nalar?"
Seringai layaknya iblis terlihat.
"Begitu menyentuh sampai aku jadi tertawa."
Aura terhempas, membuat orang disekitarnya menaruh lengan didepan.
"Aku tak bermaksud membuatmu khawatir, Tuan."
Dan seperti biasa.
"Seperti biasa ... aku percayakan semua ini padamu."
Dan mungkin, menjadi kepercayaan yang terakhir.
Karena, apa yang bisa di lakukan seorang manusia disaat sudah diujung batas? Frankensteim bertarung hanya karena tak ingin membuat Raizel khawatir, Raizel percaya dan selalu percaya pada Frankenstein.
Dan saat hubungan batin mereka kembali terputus untuk kedua kalinya. Setelah mengalahkan monster yang dibuat Ignes dan kaum werewolf.
Dengan cepat, ia melesat ke tempat terakhir Frankenstein berada. Walau tubuhnya serasa mau hancur, ia melesat. Tak lagi memperdulikan Ignes yang sudah pasti diurus Muzaka.
"Frank-"
Bruk!
"Tuan!"
Bukan, bukan Frankenstein yang membantunya berdiri saat terjatuh tadi. Bukan Frankenstein yang merangkulnya dan memanggilnya dengan tuan.
Itu Tao, bukan Frankenstein. Bukan pelayan setianya, bukan manusia gila yang mempunyai senjata gila. Bukan.
"Uhuk!"
Darah mengalir keluar dari mulutnya, bahkam dari mata, hidung, dan telinga. Sudah jelas keadaanya begitu parah.
"Raizel, kau-"
"Frankenstein. Aku ingin melihatnya."
Bukan Raizel jika tidak keras kepala, namun semua seakan menahan. Kenapa? Tak apa jika ia hanya melihat tubuhnya, toh Raizel percaya, Frankenstein selalu bertahan.
Pria itu selalu bertahan, selalu disisinya, walaupun Raizel hanya diam menatap jendela, ia selalu disisinya.
Tubuh itu jatuh berlutut, bersamaan dengan jatuhnya daun ke tanah. Raizel menunduk, menunduk sangat dalam.
Bukan menyesal, penyesalan itu perasaan yang terlalu besar baginya. Hanya saja ... apa yah?
Bahkan ia sendiri bingung menjelaskan.
Apakah ini kesedihan, yang di rasakan sesuatu yang berharga baginya pergi dan menghilang?
Namun ini bukan pertama kalinya, kan?
Ia membunuh saudaranya sendiri dengan tangannya.
Ia membunuh kepala keluarga yang berkhianat namun dulu dekat dengannya.
Bahkan lebih banyak dari itu.
Lalu, perasaan yang membuat dadanya bahkan lebih sesak ini disebut apa?
Disaat orang yang paling bertahan untuknya, pada akhirnya jatuh juga.
Apa ... darah yang mengalir dari matanya ini adalah air mata sebuah tangisan?
End
N.A
Gak tau, melenceng banget sial.
