BERI AKU KEHANGATAN
( Levi x Mikasa)
Shingeki No Kyojin – Hajime Isayama
Estelle Vaille-R Fanfiction
.
BERI AKU KEHANGATAN
( Levi x Mikasa)
Shingeki No Kyojin – Hajime Isayama
Estelle Vaille-R Fanfiction
^.^
^.^
.
Butiran putih yang dingin itu mulai berjatuhan dari langit dan menghampar di jalanan dengan begitu derasnya. Hanya dalam waktu setengah jam seluruh wilayah Trost sudah hampir di penuhi tumpukan salju dingin. Di cuaca yang dingin seperti ini banyak orang malas untuk keluar rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya. Namun hal seperti itu tidak berlaku untuk gadis bermarga Ackerman yang kini malah berada di sebuah rumah pondok kayu yang berada di pelosok Markas Scouting Legion. Mikasa Ackerman – gadis yang kini bekerja sebagai asisten Levi itu pun terpaksa memenuhi tugasnya memeriksa dokumen di hari yang begitu dingin ini. Mikasa duduk di ruang tamu di temani Levi dan beberapa tumpukan dokumen berserakan di meja dengan sedikit menggerutu. Pasalnya Levi memaksa Mikasa bekerja di hari liburnya membuat Mikasa jengkel bukan main, apalagi rumah heichounya ini berada di area paling belakang Markas Scouting Legion dan terlihat cukup jauh dari keramaian. Saking heningnya sempat membuat Mikasa mengantuk namun segera dia urungkan dengan membuat secangkir kopi hitam. Mikasa sempat berfikir mengapa atasannya itu memilih rumah dinas yang jauh dari markas pusat, padahal Mikasa yakin dengan jabatan yang di terima Levi, pria itu pasti mampu untuk membeli salah satu mansion elit yang berada di pusat kota Trost.
Mikasa mulai mengeratkan syal merah di lehernya, udara dingin mulai menjalar di sekitar tubuhnya. Pakaian Mikasa tidak cukup tebal membuatnya frustasi merasakan tangannya mulai membeku. Meskipun ada perapian di dalam rumah namun rasa dingin masih saja dia rasakan. Mikasa melirik pria tua namun berwajah muda disebelahnya yang terlihat sibuk menandatangani beberapa dokumen.
" Heichou." Panggilnya lirih,
"Hm?" Balas Levi singkat, matanya masih fokus membaca barisan tulisan di dokumennya. Entah sudah tanda tangan yang ke berapa Levi bahkan sudah malas menghitung saking banyaknya. Padahal kalau di pikirkan secara logika seharusnya ini merupakan pekerjaan Erwin dan sialnya malah di lemparkan padanya dengan alasan ada urusan mendesak di kerajaan. Mau tidak mau kali ini Levi memaksa Mikasa untuk membantunya. Levi yakin dalam hati Mikasa pasti sedang mengumpati namanya dengan lihai. Dari tadi Levi merasa ada aura tidak enak berada di sampingnya seolah ingin mencekik lehernya namun Levi tidak memperdulikannya.
" Apa kau sedang menganggur? kalau begitu coba kau periksa yang ini." Kata Levi kembali memberikan tumpukan dokumen pada Mikasa. Mikasa tentu saja semakin kesal di buatnya. Mikasa langsung menjatuhkan kepalanya pada tumpukan kertas itu dengan pasrah. Mikasa memperhatikan Levi dengan tajam membuat Levi langsung menoleh padanya.
" Apa yang kau lihat?"
" Memangnya saya melihat anda? Anda kepedean sekali."
" Memang kau pikir matamu melotot kemana?"
" Tembok ." ucap Mikasa kemudian mulai memeriksa dokumennya lagi.
Setengah jam kemudian
" heichou..."
" Ada apa lagi?"
" Apa anda tidak merasa dingin,heichou?"
" Tidak." Jawab Levi datar tanpa menoleh padanya.
Mikasa tiba-tiba menyentuh tangan kiri Levi dan menggenggamnya tanpa permisi. Levi yang terkejut segera melirik gadis itu dengan tatapan tajam.
" Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil mengkode Mikasa untuk segera melepaskan tangannya.
" Lepas."
Namun nyatanya Mikasa sama sekali tak menggubris ucapannya malah sibuk memperhatikan tangannya. Gadis itu tampak menikmati menautkan jemari tangannya pada jemari Levi membuat Levi semakin kesal di buatnya.
" Ternyata tangan anda begitu hangat,heichou." Ucap Mikasa bahkan kali ini berani menarik tangan Levi untuk menyentuh pipinya dan tersenyum. Kerutan demi kerutan muncul di dahi Levi membuatnya menarik paksa tangannya yang di pegang Mikasa dan beranjak berdiri berjalan menuju lemari.
" Dasar merepotkan." Levi membuka lemari dimana dia sering menyimpan selimut hangatnya. Levi mengambil sebuah selimut tebal bergambar tokek dan melemparkannya tepat ke atas kepala gadis itu. Mikasa memekik saat tertimpa selimut tebal. Gadis itu langsung memakai selimut yang di berikan Levi , namun sayangnya rasa dingin masih saja gadis itu rasakan. Mikasa kembali melirik atasannya yang kini lebih memilih memasuki kamar mungkin untuk istirahat. Mikasa segera menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk melihat salju turun dari balik jendela.
" Ah dingin sekali." Ucapnya frustasi sambil menghembuskan nafas dan membuat tulisan di sana.
.
Levi memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak di ranjang kamarnya. Berjam-jam berkutat dengan lembaran kertas membuat otak dan punggung Levi lelah juga. Levi kembali melirik pintu kamarnya saat mendengar suara Mikasa di luar sana tengah mengetuk pintu dan memanggil namanya beberapa kali.
Tok Tok Tok.
" Cih,mau apalagi bocah itu." ucap Levi malas kemudian terpaksa turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Levi melihat gadis itu tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan berbalut selimut tokek yang beberapa menit yang lalu dia berikan. Tampaknya gadis itu terlihat sangat kedinginan ,tubuhnya gemetaran sambil mencengkram selimut kuat-kuat menatapnya dengan tatapan memelas.
" Apa yang kau inginkan?" tanya Levi datar.
" Ano sir, sepertinya salju di luar sudah sangat lebat, saya tidak bisa pulang." ucap Mikasa.
Levi tentu saja tahu maksud ucapan Mikasa toh beberapa menit yang lalu dia juga memperhatikan ke arah jalanan dari jendelanya.
" lalu?" ucap Levi mengernyitkan dahinya.
" Apa saya boleh tidur di sini,sir?" kata Mikasa dengan mengedip kedipkan matanya.
" Memangnya untuk apa aku memberikan selimut itu padamu."
Mikasa melirik selimut di tangannya lalu memaksakan diri untuk tersenyum tipis.
" terima kasih sir, tapi-" kata Mikasa lagi
" Apa lagi?" sahut Levi cepat.
" Apa saya boleh tidur dengan anda?" pertanyaan Mikasa berhasil membulatkan mata Levi. Apa gadis ini sudah gila meminta hal seperti itu kepadaku.
" Aku menolak." jawab Levi dengan tatapan begitu menusuk.
Kali ini Mikasa terlihat lebih memohon padanya , " Plis, di luar sangat dingin sekali sir, meskipun saya sudah memakai selimut anda tapi saya masih kedinginan. Hatchu." Mikasa bersin membuat Levi segera mundur takut terkontaminasi. Mikasa mengumpat dalam hati saat melihat Levi mundur seolah Mikasa sebuah virus.
" Apa anda tidak punya hati membiarkan gadis manis seperti saya ini tidur di sangat dingin tangan saya yang lentik ini membeku heichou. " ucap Mikasa sok akting memelas sambil mengulurkan jemari lentiknya kepada Levi. Akting yang sangat hebat mungkin sebentar lagi gadis di depannya ini akan mendapat piala citra menjadi aktris berbakat. Levi tentu saja tahu kalau Mikasa hanya beromong kosong saja di depannya.
" Lalu kau ingin aku memberikan ranjang hangatku padamu?" tanya Levi membuat Mikasa langsung mengangguk cepat.
" Mimpi." ucap Levi datar sambil menutup pintu tepat di depan wajah Mikasa.
Brak!
Mikasa termenung sesaat, pria di depannya benar-benar membuat urat emosinya menjulang tinggi. Mikasa mulai menggedor gedor pintu kamar Levi lagi. Buang saja kesopanan di antara hidup dan mati ini. batin Mikasa mulai emosi.
TOK TOK TOK
" Heichou! Buka pintunya." tak ada sahutan di sana.
Mikasa semakin keras menggedor pintu Levi,
TOK TOK TOK TOK TOK
" aku sudah bilang dingin di sini biarkan aku masuk, aku terjebak disini memangnya kesalahan ,kau buka pintu! " teriak Mikasa penuh kekesalan. Di balik pintu Levi benar-benar ingin menutup telinganya menggunakan penyumpal. Mendengar teriakan gadis itu membuatnya semakin sakit kepala, Ijinkan Levi menyumpal mulut gadis bawel itu.
" Heichou apa hati anda terbuat dari batu, sebagai atasan tanggung jawab sedikit padaku, halo! hoi ! "
" Oi cebol!"
Krek!
Pintu itu terbuka Levi menatap datar Mikasa yang tengah membuka mulutnya, muncul kerutan di pipinya lagi. Mikasa mendengus kenapa harus membuka pintu saat dia mengatainya cebol sih. Marah tidak ya sepertinya marah sih lihat saja bentuk matanya yang runcing menatapku astaga lembut dikit kek. Mikasa langsung tersenyum seramah mungkin,
" hehe wajah anda tampan sekali sir , bisa kita melakukan negoisasi demi kenyamanan bersama." ucap Mikasa mengusap pipi Levi dan tak lupa mengedipkan satu matanya yang membuat Levi tak nyaman. Levi langsung menepis tangan gadis itu dan mendadak merinding. Untuk kedua kalinya Levi menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah gadis itu hingga membuatnya shock.
BRAK!
" Dasar cebol sialan. " ucap Mikasa datar dari balik pintu.
15 menit kemudian
Kreek!
Pintu kamar Levi kembali terbuka menampilkan Levi dengan piyama navynya keluar dari kamar. Mikasa hampir keceplosan tertawa melihat penampilan aneh heichounya itu.
Jadi seperti ini bentukmu kalau mau tidur sungguh aneh bin ajaib. coba ramah dikit senyum gitu pasti tambah manis. eh?
" Apa yang kau tertawakan ,brat?" Mikasa segera menggelengkan kepala, ini kesempatannya untuk bernegoisasi dengan Levi,jangan sampai Mikasa merusak segalanya.
Kau ingin hidup kan Mikasa jadi sabarlah.
" Mari kita bernegoisasi heichou." Mikasa tersenyum pada Levi sambil mengibaskan rambut hitamnya ke belakang, namun yang membuat Levi semakin tak paham melihat kaki Mikasa menahan pintu kamarnya.
" Singkirkan kakimu dulu." pinta Levi.
" Tidak mau nanti heichou tutup lagi memangnya anda tidak bisa merasakan suhu di sini, biar aku ajarkan kalau anda tak paham." ucap Mikasa berniat maju menarik tangannya namun dengan cepat Levi menghalangi kepala gadis itu.
" Aku tidak akan menutup pintu kalau kau bisa berhenti membacot dan bersikap lebih manusiawi. " ucap Levi angkuh. Mikasa ingin sekali menampar mulut Levi. Apa maksud pria itu aku bersikap seperti binatang begitu, uh pria ini sungguh tak waras.
" Di luar sini sangat dingin saya bisa mati membeku, kalau anda tidak mau memberikan ranjang setidaknya ijinkan saya tidur di sofa itu ." tunjuk Mikasa ke sofa ungu yang ada di pojokan kamar Levi. Levi melipat tangan di dada dan menatap wajah Mikasa datar .
" Lalu apa yang ku dapat? apa ada jaminan kau bisa diam di dalam dan tidak membuat keributan. waktu tidurku terbatas jika sampai aku tidak bisa tidur memangnya prajurit rendahan sepertimu bisa bertanggung jawab." Mikasa sukses membuka mulutnya mendengar penuturan Levi. Mikasa mengedip ngedipkan matanya tak percaya.
Rendahan? OMG!
" Kenapa diam? atau kau memang berniat menganggu tidurku?"
" Kalau aku berisik aku berjanji akan melakukan apapun yang anda suruh." ucap Mikasa tegas .
" Apapun?" tanya Levi memastikan kembali. Mikasa mengangguk penuh percaya diri.
" Apapun." ucap Mikasa lagi dengan menunjukkan V tangannya.
Levi terlihat menimang-nimang ucapan gadis itu,
" Please..."
" Baiklah kau boleh masuk." Levi akhirnya menyuruh Mikasa masuk kedalam, berdebat dengan gadis keras kepala seperti Mikasa hanya akan membuang waktu dan tenaganya. Setidaknya dia punya jaminan kalau gadis itu tak akan menyusahkannya. Mikasa dengan senang hati langsung berlari kecil masuk kedalam kamar. Kamar Levi terasa cukup hangat daripada di luar namun tetap saja gadis itu masih merasa sedikit kedinginan.
" Ada bantal di bawah sofa ,kau bisa pakai kalau kau mau." ucap Levi sembari menaiki ranjangnya berusaha untuk membaringkan tubuhnya . " Ingat jangan sentuh apapun atau aku akan benar-benar menyuruhmu tidur di luar rumah." ancam Levi kemudian mulai memejamkan matanya. Mikasa hanya termenung menatap punggung heichounya itu. Entah apa yang tengah di pikirkan gadis itu hingga menarik sudut bibirnya dan menyeringai mengerikan.
10 menit kemudian,
Levi terlonjak kaget saat merasa ada seseorang tengah menaiki ranjangnya dan tertidur di belakangnya. Levi segera menoleh mendapati Mikasa sibuk mengeratkan selimut menutupi kaki sampai ke atas bahunya.
" Oi bocah kenapa kau malah masuk kedalam selimutku?" Levi mulai menggila menghadapi gadis bermarga ackerman ini yang dengan kurang ajarnya malah menyentuh tiap inci tubuhnya. Mikasa dengan santai menjawab pertanyaan Levi dan membuat pria itu setengah mati menahan kekesalan.
" Apa kau buta heichou tentu saja aku mau tidur. selamat malam." ucapnya sebelum mulai menutup matanya tanpa dosa dengan posisi menghadap punggung Levi dengan tangan yang bergerilya mencari tangan hangat Levi.
" Menjauh dariku dasar bocah nakal." Levi kembali menepuk dahinya melihat kelakuan ajaib asisten barunya ini. Gadis ini mau apa lagi sih menempel padaku. batin Levi panas dingin.
" Heichou maaf tapi saya benar-benar bisa mati kedinginan." kata Mikasa dengan seenak dengkulnya kini malah memeluk pinggangnya.
" Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku. " pinta Levi semakin kesal saat gadis itu bukannya melepaskan pelukannya malah semakin erat memeluk tubuhnya bahkan tak segan mendorong dan mengusap kepalanya pada punggung Levi. Oh ya tuhan.
" Heichou saya tidak bisa tidur kalau saya kedinginan seperti ini." ucap Mikasa dengan kekehan pelan.
" Apa otakmu kau bungkus di dengkul, Kau bisa memakai selimut jika kau kedinginan,bodoh."
Mikasa menggelengkan kepalanya, " Tubuhmu lebih hangat di bandingkan selimut, Heichou." Mikasa membenamkan wajahnya pada punggung Levi, " sangat hangat, aku serius." kata Mikasa semakin menenggelamkan kepalanya pada punggung Levi.
" Apa kau sedang mabuk atau kejedot sesuatu?" tanya Levi memastikan Mikasa tidak habis minum alkohol. Kenyataanya gadis itu melakukan hal ini dengan waras. Namun efeknya bisa membuat Levi yang tadinya waras menjadi tidak waras sekarang.
" Aku tidak mabuk heichou, sebentar saja seperti ini." kata Mikasa lirih, tubuh Levi mendadak menegang. Sungguh dia tak habis fikir kenapa bisa keduanya berakhir seperti ini. Dari tadi batin Levi terus meracau agar dia tidak tergoda dengan bocah ingusan ini.
Damn! aku ini lelaki dewasa yang normal dan punya sejuta hasrat ,apa gadis ini tak takut memancing harimau tertidur dengan bersikap seagresiv ini padaku.
" Heichou saya tahu kalau anda sebenarnya orang yang sangat peduli dan baik hati." kata Mikasa mulai mengoceh a to the z .
Levi sepertinya tak keberatan mendengar ocehannya kali ini dia hanya diam mendengarkan.
" Saya baru menyadari kalau tempat ini cukup membuat saya nyaman. terima kasih selama ini anda sudah menjaga dan membantu saya." Levi masih diam mendengarkan ucapan gadis di belakangnya ini yang masih setia memeluknya.
" Terima kasih juga untuk pekerjaan ini - jangan katakan Komandan Erwin yang meminta karena saya tahu semuanya. pokoknya terima kasih untuk segalanya." kata Mikasa lagi membuat Levi terkejut .
" Berhentilah bicara omong kosong,brat. Jika kau tidak berkelakuan baik,aku akan benar-benar memukulmu." balas Levi dengan senyuman tipis meskipun tidak akan terlihat oleh gadis itu. Mikasa mencubit perut Levi dengan gemas sedangkan Levi berusaha menahan jeritan sakit di perutnya karena cubitan gadis itu yang terlewat bar bar.
" Anda sangat pintar merusak suasana." kata Mikasa sebal. Keduanya terdiam berusaha menyamankan diri .
" Bukannya ini termasuk melanggar negoisasi. Cepat menyingkir dariku kau membuatku tak nyaman." kata Levi mulai merasa tak nyaman mendengar degup jantung yang entah itu suara miliknya atau jantung milik Mikasa.
" Kalau begitu kau bisa berpura-pura tak melihatnya." Mikasa tertawa renyah, " Kau pasti sangat lelah juga kan sir." ucapnya lagi semena-mena , " Apa anda pernah merasa sendirian dan kesepian heichou?" tanya Mikasa tiba-tiba. Suara Mikasa terdengar sedih saat menanyakannya. Levi kembali terdiam , bohong kalau selama ini dia tidak pernah merasa kesepian. Sejak kematian ibunya , Farlan dan Isabel lalu anggota pasukannya dan juga Kenny dunia Levi benar-benar semakin gelap. Demi mencapai kebebasan umat manusia Levi harus hidup dan memperjuangkan segalanya. Dia tidak ingin menjadi orang lemah yang terpuruk dengan keadaan. Meskipun Orang-orang penting di hidupnya perlahan satu persatu pergi meninggalkannya. Kesepian? ya tentu saja Levi sangat kesepian.
" Apa ada yang mengganggumu, kenapa tiba-tiba menanyakan omong kosong ini padaku?" kata Levi berusaha merespon pertanyaan gadis itu. Mikasa menggelengkan kepalanya,
" Sejak pertama kali aku bertemu denganmu aku bisa merasakan kesepianmu, Levi. pasti sulit dan menyakitkan hidup di dunia kejam ini sendirian. " kata Mikasa informal perlahan namun menurut Levi gadis itu berbicara seperti mengerti bagaimana cara Levi hidup dulu sampai sekarang. Levi terdiam mendengarkan ucapan gadis itu yang entah mengapa membuatnya merasa nyaman akan pelukan dan sentuhan tangannya yang kini semakin erat menggenggam jemari Levi.
Shit! Sejak kapan jemari gadis ini bergerilya di tanganku, tangannya dingin sekali.
" Jangan khawatir,kau bebas sekarang. hiduplah sesuai apa yang kau inginkan." ucapan Mikasa barusan seolah terdengar persis bagaimana ibu dan pamannya katakan dulu. Levi terpaku dan serasa sesuatu menusuk masuk ke dalam jantungnya.
" Mulai sekarang aku janji akan menemani dan menjagamu,heichou. karena itu hiduplah ~" gumam Mikasa sebelum kantuk mulai menyerang matanya dan akhirnya gadis itu tak kuat menahan dan mulai tertidur dengan lelapnya.
" zzzzzzzzz"
Levi mengerutkan dahinya melihat gadis itu tertidur dengan kurang ajarnya di saat mereka melakukan pembicaraan serius. Namun tak lama Levi tertawa pelan dan membiarkan gadis itu tertidur memeluknya. Levi menatap langit-langit kamarnya dan berujar pelan.
" Besok akan aku tagih janjimu,brat." senyumnya mengembang dan mengusap punggung tangan gadis itu dan menciumnya lembut.
.
The End
.
.
Hai semuanya aku ngasih oneshoot lagi buat kalian . semoga kalian suka dengan ceritanya. jangan lupa follow dan biasakan vote dan tinggalkan komentar kalian biar aku semangat bikinnya. Makasih ^^
