Bagi Eijun, Kazuya adalah segalanya. Tetapi, bagaimana dengan Kazuya pada Eijun?

Eijun memandangi jam yang berdetak di dinding, tubuhnya perlahan merosot ke samping. Ia memeluk bantalan sofa dengan erat. Jantungnya berdetak tidak beraturan, kakinya bergerak gelisah. Matanya sesekali melirik ke ponsel yang ia taruh di meja, kemudian berpindah ke jam di dinding, kemudian menonton televisi yang menyala di depannya tanpa selera.

Ketika detik menjadi menit kemudian menjadi jam, ia tetap menunggu. Ruang kosong sekitarnya adalah temannya didalam kesepian. Angin dingin yang masuk dari jendela yang sengaja di buka tidak mengusiknya, justru semakin lama ia semakin akrab dengan kedinginan itu.

Ia tetap sabar menunggu sebuah notifikasi datang ke ponselnya, entah itu sms atau telepon. Atau apapun itu. Karena kerinduannya sudah melebar memeluknya, karena rasa gembira ingin menyambut seseorang yang ia nantikan, karena rasa sedih kenapa orang yang ia nantikan belum pulang juga. Hingga akhirnya, kedua matanya sedikit terpejam, lalu suara televisi adalah nina bobonya.

Kazuya memasang senyum pada istrinya, kedua tangan wanita itu melingkar di tangan kirinya. Angin dingin membuat kedua tangan istrinya semakin mengerat. Istrinya tertawa pelan kemudian mengoceh tentang apa yang akan mereka lakukan untuk liburan selanjutnya, sambil melompat kecil seperti anak-anak. Kazuya terkekeh pelan dan berusaha menahan ketika mereka hendak jatuh, mereka tertawa kemudian masuk ke dalam mobil yang diparkir Kazuya.

"Aku heran jarang sekali kamu membawa kita ke restoran, biasanya kamu larut dalam pekerjaan." ujar istrinya ketika Kazuya baru saja duduk.

Kazuya menoleh singkat kemudian tersenyum sambil memasang sabuk pengamannya. "Sesekali aku ingin mengubah suasana, Sayang," katanya dengan lembut. Ia memerhatikan istrinya yang memakai sabuk pengaman. "Bagaimana seharian ini? Apakah menyenangkan?" tanya Kazuya.

Yui mengangguk dan tersenyum. "Sangat hebat! Rasanya seperti kembali ketika kita pacaran," jawaban itu diakhiri kekehan geli. Kemudian ia memasang ekspresi serius. "Akhir-akhir ini aku selalu berpikir bahwa kamu tidak cinta denganku lagi." ia menerawang lurus ke depan.

Kazuya langsung menggenggam hangat tangan Yui. "Jangan berkata seperti itu, aku selalu mencintaimu." ungkapnya dengan tulus dan lembut.

Yui terkekeh, ia balik menggenggam tangan Kazuya kemudian mencondongkan wajahnya untuk mencium Kazuya.

Dibawah sinar bulan dan keheningan malam. Di dalam hangat dan di luar dingin. Keduanya seperti sepasang insan yang dilahirkan untuk bersama, saling mempercayai dan menjaga hati masing-masing. Dan sudah cukup bagi Kazuya untuk berpaling. Ia harus menjaga ketulusan Yui.

Ketika mobil melaju sesuai kecepatan standar, seiring roda berputar, Kazuya merasa dunianya melambat. Kegelisahan merambat di dalam hatinya. Ia bisa saja menyembunyikannya dengan baik dan mulus. Ia bisa saja mempunyai berbagai cara untuk membuat keadaan membaik. Tetapi ketika ia melangkah pun, ia masih mengingat senyuman seseorang yang selalu ia sayang selain istrinya sendiri.

"Kau belum tidur?" Yui bertanya ketika seberkas cahaya ponsel terlihat olehnya. Kazuya duduk menyender ke kepala ranjang dengan ponsel di tangannya. Wajahnya sedikit masam menatap layar ponsel. "Hei," Yui memanggil lembut pada Kazuya, sehingga suaminya menoleh langsung padanya. "Apa ini tentang pekerjaan lagi?"

Kazuya menggeleng secepat kilat, ia tersenyum kemudian mematikan dan menyimpan ponsel diatas nakas bersama dengan kacamatanya. Bergegas ia tidur di samping Yui dan memeluknya. "Tidak, bukan apa-apa. Hanya berita tentang yang terjadi akhir-akhir ini."

"Begitu banyak masalah di dunia,"

"Ya, benar." Kazuya menjawab seraya mengangguk pelan, ia semakin memeluk Yui dengan hangat. Ia bahkan bisa mendengar Yui terkekeh dan memosisikan dirinya senyaman mungkin di dada bidang Kazuya.

Pikiran Kazuya tertuju pada Eijun. Ya, ia harus melepaskan pria itu. Karena mau bagaimana pun, semua ini salah. Apa yang ia lakukan pada Eijun hanya akan menyakiti hati pria itu, ia tidak mau Eijun terjerat akan cintanya. Ia tidak mau Eijun kehilangan arah. Ia ingin melepaskan Eijun sehingga pria itu dapat bebas mencari seseorang yang baik untuknya. Jika Eijun bersama dengan Kazuya, Eijun mendapatkan merasakan rasa sakit yang luar biasa.

Satu notifikasi datang ketika Eijun bangun dari tidurnya.

Kazuya : Hai, kurasa kita harus berpisah. Bersamaku, kau hanya akan semakin terbelenggu. Kau harus menyaksikan dan masuk ke dalam dunia, Eijun. Biarlah semua masa lalu menjadi kenangan manis yang aku punya. Tidak ada dendam diantara kita. Meski kita berpisah, aku selalu menganggapmu sebagai teman terbaikku. Jadi, biarkan sayapmu mengepak ke angkasa luas diatas sana. Banyak orang yang menunggumu bersinar, Eijun. Selamat malam dan selamat tidur, dan selamat tinggal, kekasih gelapku.

Selamat tidur kekasih gelapku, semoga cepat kau lupakan aku. Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup melupakanmu. Selamat tinggal kasih tah terungkap, semoga kau lupakan aku cepat.

Sephia – Sheila on 7

.

.

.

.

.

.

end

.

mon maap saya lagi patah hati ini mah

:(

review?