Shuusei baru saja selesai menyapu taman belakang perpustakaan ketika sosok berhelai cokelat yang duduk di bangku dekat kolam menarik perhatiannya.
Masih ada sekitar setengah jam sebelum matahari terbenam. Shuusei mendekat.
"Shimazaki, nggak masuk?"
Yang ditanya menoleh. Salah satu tangannya yang bebas ia letakan di depan bibir. "Shhh."
"Eh?"
~o~
Kucing dan Musim Gugur
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
Cover belong to Bill LePere
For event #BSRGugurBunga
Happy reading!
~o~
"Kucing?"
"Uhm." Touson mengangguk.
Shuusei mengernyitkan dahi. Sapu taman yang ia bawa disandarkan pada sandaran kursi, sementara ia sendiri mengambil tempat di sebelah Touson, duduk menghadap kolam yang tenang. Di sana barulah ia sadar, seekor kucing berbulu putih-jingga sedang terlelap di atas pangkuan pemuda di sebelahnya, dengan kepala berada di atas lengan kiri Touson.
"Kucingnya Saisei-san, kah?"
"Aku rasa begitu." Touson mengusap perlahan kepala kucing di pangkuannya dengan tangan kanan yang bebas. Dengkuran halus terdengar dari si kucing yang tampak nyaman.
Beberapa penghuni perpustakaan tahu bahwa Saisei diam-diam memelihara beberapa ekor kucing di tempat ini—bersama Nakajima yang kadang-kadang turut merawat. Entah ke mana mereka ketika taman belakang sedang ramai, tidak ada yang tahu.
Shuusei bukan orang yang terlalu suka kucing—atau hewan lainnya, akan tetapi ia tidak membencinya juga, biasa saja. Namun, melihat hewan tersebut tertidur di pangkuan Touson membuat pemuda itu jadi iseng ingin mengelus. Tangan Shuusei pelan-pelan turut mengusap kepala si kucing, hanya usapan kecil sebelum ia menarik tangannya kembali.
Udara dingin khas musim gugur berembus perlahan. Dedaunan kering terlepas dari rantingnya dan tersebar ke beberapa titik.
"Nee, Shuusei."
Shuusei menoleh. "Ya?"
Touson melirik kucing yang ada di pangkuannya. "Menurutmu ... apa yang kucing ini lakukan selama musim gugur?"
"Hah?"
Dahi sang penulis beraliran naturalis berkedut. "Yang kucing itu lakukan?"
Touson mengangguk.
"Kamu nggak penasaran? Musim gugur udaranya dingin, dan kucing lebih suka tempat yang hangat. Apa yang mereka lakukan di luar selama beberapa minggu ini?"
Musim gugur sudah mulai melingkupi Jepang sejak bulan September. Sekarang sudah November, beberapa minggu dengan udara dingin—meski tak sedingin musim dingin—sudah terlewat dengan berbagai hal mengisi tiap lembaran harinya.
"Yah ... aku nggak tahu." Shuusei mengangkat bahu. "Coba aja tanyain."
"..." Touson mengerjap. Tak lama, ia menunduk, menghadap sang kucing putih-jingga. "Tuan Kucing, apa saja yang kau lakukan selama musim gugur ini?"
Gantian Shuusei yang spechless. "... Shimazaki, aku bercanda."
Touson terkikik. "Tahu, kok," kekehnya.
Shuusei tersenyum kecut.
"Tapi aku betulan penasaran." Touson mengelus kucing di pangkuannya lagi. "Apa yang mereka lakukan selama musim gugur?"
"... Makan dan tidur seperti biasa?" Shuusei memiringkan kepala. Memangnya apa lagi yang bisa makhluk berbulu itu lakukan selain makan, tidur, dan main dengan sesamanya?
"Tidur ..." Touson diam sejenak. "Apa mereka nggak kedinginan? Bagaimana mereka tidur? Malam-malam udaranya lebih dingin, kan?"
Bukan rahasia lagi kalau udara malam selama beberapa minggu ini lebih dingin ketimbang malam-malam pada musim semi apalagi musim panas. Gara-gara kucing yang ditemuinya Touson jadi bertanya-tanya, bagaimana cara mereka bisa bertahan di tengah udara yang mampu membuat tulang serasa beku itu.
Shuusei mendadak teringat salah satu buku yang iseng ia baca entah kapan. Tentang para kucing yang hidup liar di jalanan, dan rasanya karena itu ia jadi paham.
"Soalnya tubuh kucing itu hangat," jawab Shuusei singkat, sambil memerhatikan kucing dalam pangkuan Touson.
Touson memiringkan kepala. "Begitukah?"
Shuusei mengangguk. "Darah mereka hangat, tubuh dan bulu mereka juga. Aku yakin pahamu yang dia tiduri juga jadi hangat sejak ia ada di sana," ujarnya.
"... Benar juga." Touson baru menyadarinya. Pemuda itu mangut-mangut.
"Aku yakin dengan semua itu, mereka bisa bertahan di musim gugur—musim dingin juga." Shuusei berujar lagi. "Kalau mau tahu lebih lanjut, tanyakan saja pada Saisei-san atau Nakajima-san."
Touson mengangguk. "Hmm ..."
Shuusei melirik. "Masuk, yuk?" ajaknya.
Touson menggeleng. "Nanti," tolaknya.
"Eh?"
"Dia masih tidur." Kucing yang masih terlelap itu ditunjuknya dengan lirikan mata. Shuusei menghela napas.
"Angkat saja."
"Jangan ..."
"Tanganmu nggak pegal?"
"Pegal, sih ..." Mengingat ia sudah lumayan lama duduk di bangku ini dengan si kucing yang tertidur lelap. Namun pemuda itu tetap menggeleng. "Tapi nanti aja. Tunggu dia bangun."
Shuusei menghela napas lagi.
-end-
Aku nulis ini (selain gara-gara kepepet deadline :') gegara anak meong yang akhir-akhir ini sering mampir di tempatku. Ada secuil percakapan yg kuketik gegara inget sama chatnya Namari-san (Absen5) via WA juga di sana (ayo tebak yang mana, hehe).
Oiya, BSR (grup yang ngadain event ini) lagi opmem lho :D
BSR, Bungou Stray Roleplayer (meski udah jarang bat roleplay), gc yg isinya 19 member nirwaras, tapi asik-asik. Kalo mau join bisa tanya-tanya via PM. Ditunggu kehadirannya :3
Btw, makasih buat yang udah mampir ke sini :')
